Swakelola Puskesmas Rawat Inap

inap120 Sesuai janji saya saat posting Wacana Puskesmas 24 Jam beberapa waktu yang lalu, kali ini saya ingin berbagi pengalaman ketika masih aktif mengelola Puskesmas Rawat Inap Palaran, Samarinda.

Beberapa sejawat dokter sudah sejak sekitar tahun 1995-an mewacanakan dan mencoba memperkenalkan swakelola ke internal jajaran Kesehatan dan jajaran Pemerintah Kota Samarinda sebagai salah satu model pengelolaan sebagian keperluan Puskesmas terutama untuk menunjang pelayanan medis agar lebih berkualitas dan lebih tepat sasaran, khususnya pengadaan obat dan Bahan Habis Pakai.

Sayangnya, tatkala pihak petinggi Pemkot telah setuju dan bersedia untuk memberi modal awal, hanya beberapa teman sejawat dokter Pimpinan Puskesmas yang menyatakan bersedia, sedangkan sebagian besar ogah mikir ruwet (alasan yang dilontarkan). Nah, lho.

Sering sudah saya ungkapkan secara terbuka bahwa upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan lebih kerap terkendala faktor internal, yakni orang-orang kesehatan sendiri dibanding kendala dari pihak lintas sektoral. Apa pasal ? Gak tahu !!!

Melalui diskusi panjang di milis kami, seorang teman (acc prof Monash tapi gak diakui di negeri dewe), staf ahli Menkes, yang biasa melanglang menjalin jejaring dengan pihak luar berujar:

… Mok, yang aku maksud tidak hanya pemikir meskipun kita tau pemikir di republik ini sering pake akal sendiri tanpa memperhitungkan sinergi dengan pemikir lain dan decision makers. Orang selalu bicara BLU tapi gak mikir apakah decision maker mau implementasi dan bagaimana implikasi penganggaran dan kewenangannya. Belum lagi konteks format kepegawaian. Orang bicara tentang family physician tanpa mikir sinergi dan sinkronisasi sistem kesehatan yang berjalan dan sistem UU yang ada. Mengapa family physician di Australia berjalan sempurna? Karena sistem kesehatannya mengatakan begitu, bahwa primary health care bermula dari family physician, yang juga ditunjang dengan struktur kemasyarakatan yang ada, seorang family physician bertangung jawab terhadap suatu neighborhood (mungkin seperti kelurahan disini). Seorang spesialis disana silahkan saja menerima pasien batuk pilek asal mau terima konsekwensi tidak dapat reimburse dari medical care, karena reimbursement medical care harus cantumkan provider number dari family physician alias GP.

Berangkat dari pengalaman masa lalu dan kesadaran bahwa begitu besar harapan pengguna jasa pelayanan medis untuk mendapatkan pelayanan yang berkualitas dan bersahabat, maka ketika permintaan untuk dibangunkan Puskesmas Rawat Inap yang memadai dipenuhi Pemkot Samarinda, kami (saya dan seorang sejawat dokter) berkesempatan untuk mengoperasionalkan Rawat Inap secara swakelola, khususnya obat dan Bahan Habis Pakai (BHP). Tentu setelah mendapatkan lampu hijau dari Kepala Dinas Kesehatan (kala itu) dan persetujuan DPRD melalui hearing.

Berikut ini adalah fakta beberapa faktor penghambat dan upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang sudah dilakukan sejak 24 Maret 2004 (so, harap dicatat: bukan ide, namun nyata dan sudah dilakukan).

Fakta 1: Gedung Rawat Inap.

Sejauh ini Gedung Rawat Inap jadi satu dengan Puskesmas Induk sehingga suka atau tidak suka, pasien dipaksa dirawat di ruang yang gaduh karena berdekatan dengan Poli-poli di Puskesmas Induk, terutama pada jam kunjungan Rawat Jalan. Kondisi demikian kami anggap sebagai salah satu hambatan yang harus diperbaiki.

Upaya Jalan Keluar:

Mengupayakan pembangunan Gedung khusus Rawat Inap yang terpisah dari Puskesmas Induk. Bukan hanya itu, tata ruang dan luas setiap ruang dapat kita minta agar lapang dan nyaman. Artinya, luas dan tata ruang tidak lagi bersandar pada standar Depkes. Kita dapat menggambar denah sesuai lalu lintas pasien, kenyamanan dan aspek psikologis serta keamanan. Selanjutnya, kita bisa minta tolong membuatkan detail gambar kepada insinyur. Kalo gak punya kenalan, mau gak mau bayar.

Kami dibuatkan 6 gambar pilihan oleh seorang insinyur (Ir. Smr) dan akhirnya kami pilih salah satu yang paling cocok senilai 2,5 milyar. Setelahnya, gambar tersebut kita ajukan kepada Kepala Daerah. Akhirnya, permintaan kami disetujui dengan perjanjian akan dibangun dalam 3 tahap.

Lho, koq mudah ? Sapa bilang mudah… Sungguh, orang-orang yang pertama tidak setuju dengan upaya tersebut adalah dari internal kesehatan, di Puskesmas dan Dinkes tingat II. Alih-alih mendukung, kebanyakan dari mereka malah mencibir.

Fakta 2: Obat dan Bahan Habis Pakai.

Ketika itu, pengadaan obat dilakukan melalui permintaan ke Gudang Farmasi setiap 2 bulan sekali. Jenis dan jumlah obat “disesuaikan” dengan pelbagai pertimbangan, diluar pertimbangan kepentingan penderita. Itupun sesuai Permenkes diwajibkan lelang. Hmmm, lelang … konon menurut cerita pihak PBF, harga obat bisa melonjak (dilonjakkan) beberapa kali lipat. Bisa dibayangkan berapa banyak uang negara hilang melalui proses tersebut.

Tentu situasi tersebut merupakan penghalang besar terciptanya pelayanan berkualitas dan murah.

Upaya Jalan Keluar:

Swakelola Obat, Bahan Habis Pakai dan Reagen Laboratorium. Modal awal sekitar 25 juta rupiah yang kami peroleh dari pinjaman. Sebagian obat kami bawa dari praktek (bersama dr. Ergia L yang saat ini menempuh pendidikan spesialisasi Anak … thanks Dr. Lia).

Cara pengadaan: membeli cash ke PBF melalui apotik.

Keuntungan swakelola:

  1. Harga obat lebih murah dari Harga Netto Apotik (HNA). Sebagai contoh, jika harga netto apotik suatu obat semisal 10.000 rupiah, maka dengan sistem diskon dari PBF dapat diperoleh lebih murah, katakanlah 7.000 rupiah, sehingga harga jual ke pasien (dengan keuntungan sekitar 15-20%) dapat kita tekan menjadi di bawah HNA. Selain itu, jenis dan merk obat dapat dipilih sesuai kebutuhan sesuai penyakit pasien. Andai obat habis dalam seminggu karena adanya peningkatan penyakit tertentu, maka kita dapat membelinya sebelum obat habis. Dengan demikian, pasien selalu mendapatkan obat sesuai penyakitnya tepat waktu, dan murah.
  2. Bahan Habis Pakai (BHP), seperti: cairan infus, infus set, cath, spuit (suntikan), jarum suntik (needle) dan sejenisnya, dapat kita pilih yang kelas 1 dengan harga murah (diskon dan cash). Pasien sebenernya gak pernah tahu jenis dan kulaitas cairan infus. Kebanyakan dari mereka tahunya hanya diinfus dan netes. Namun, Bukankah tugas dokter untuk memberikan yang terbaik ? Contoh, kita bisa belikan cairan RD5, Asering dll … dll… dengan merk terbaik dan bertutup karet, bukan tutup plastik. Demikian pula cath, kita mampu beli misalnya Otsucath (merk ini biasa dipakai di RS swasta dan RSUD paviliun). Masyarakat ndeso berhak mendapatkan yang terbaik dengan harga murah bukan ?
  3. Reagen Laboratorium. Saat ini, Puskesmas Rawat Inap Palaran (ndeso ™ full) sudah mampu membeli sendiri Fotometri manual seharga sekitar 65 juta. Kalo minta ke Pemerintah, kayaknya gak bakalan dikasih deh …. hehehe. Bahkan sejak 2 tahun yang lalu sudah menggunakan Tubex TF untuk deteksi typhus. ( kata temen saya, seorang DSA di Surabaya, test Widal sudah saatnya ditinggalkan, itu mah jaman Ken Arok … kalau keberatan silahkan protes kepada beliau ). Namun kami masih menggunakn test widal untuk follow up. Contoh lain, untuk pemeriksaan sekret vagina bagi yang keputihan, hanya 22.000 dan selesai dalam 1 jam. Sekali lagi, semuanya menggunakan modal sendiri, termasuk mikroskop binokuler buatan Olympus seharga hampir 10 juta (kayaknya sekelas dengan milik FK).
  4. Pengembangan Obat dan BHP. Dengan swakelola, kami mampu menyisihkan sebagian keuntungan untuk pengembangan dan peningkatan kualitas Obat maupun Bahan Habis Pakai. Menurut bendaharawan, kekayaan saat ini mencapai ratusan juta rupiah.
  5. Pemerintah tak perlu repot. Belanja rata-rata Obat dan Bahan Habis Pakai sekitar 30-40 juta perbulan. Atau sekitar 360-480 juta per tahun. Artinya, Pemerintah Daerah tidak perlu lagi mengucurkan Anggaran senilai 360-480 juta per tahun. Dan itu berlanjut hingga tahun-tahun mendatang. ( sudah selayaknya Pemerintah Daerah memberikan reward yang layak kepada Rawat Inap … bener gak ? ). So, sungguh aneh jika uang jaga perawat dan bidan malah diamputasi. Koq tega ya?

Fakta 3: Tarip Perawatan.

Hasil sounding dan rasan-rasan masyarakat, konon umumnya biaya perawatan cenderung gelap gulita, tahu-tahu keluar kuitansi di luar perkiraan. Bukankah ini merupakan kendala yang harus diperbaiki ? Seorang teman yang kini bekerja sebagai pengelola IT di RSUD memberikan ilustrasi sebagai berikut: “ orang lebih suka makan di KFC dan sejenisnya, salah satunya karena taripnya jelas. Andai kita punya uang 100 ribu, kita akan tahu makanan dan minuman apa saja yang dapat dibeli dengan uang segitu”.

Upaya Jalan Keluar:

Untuk menjamin keterbukaan tarip perawatan, kami menyusun Perda Tarip Rawat Inap. Semuanya serba jelas dan terbuka. Contoh, biaya melahirkan, termasuk jahit (bagi yang perlu episiotomi), visit dokter, infus (jika diperlukan) dan obat senilai maksimal 420.000.

Saat hearing di DPRD, yang terpenting bukan itung-itungan njlimet, tapi jaminan biaya realistis untuk perawatan suatu penyakit. Presentasi cukup 45 menit (kalo kelamaan ntar anggota DPRD bosan lantaran mumet mendengar istilah aneh-aneh). Setelah itu diskusi sekitar 1 jam. Ketika kami hearing tentang Perda Tarip, tidak ada satupun item yang dicoret.

Fakta 4: Konsentrasi Petugas.

Sepengetahuan saya, petugas Rawat Inap masih dibebani tugas rutin Puskesmas seperti Posyandu, dan berbagai UPK (Upaya Pokok Kesehatan lain. Menurut saya hal ini akan menggangu konsentrasi petugas dalam merawat pasien di Rawat Inap maupun tugas UPK. Hampir gak mungkin kita menuntut kinerja optimal dengan tugas ganda di ruang perawatan dan UPK.

Upaya Jalan Keluar:

Saat itu kami mengusulkan (sebenernya maksa) perekrutan petugas khusus (perawat, bidan, lab, cleaning service, laundry, dll) dari wilayah kami sendiri (Palaran) agar tercipta koordinasi yang bagus dan tidak terkendala transport.

Dengan rencana 30-40 Tempat Tidur, kami memerlukan maksimal 25 tenaga khusus (perhitungan menggunakan Index Staff Need, bukan pake selera atau “titipan’) di Rawat Inap tanpa ada tugas lain. Sayangnya, karena kesalahan inventarisasi Bagian Kepegawaian Dinkes, tenaga yang dapat disetujui Pemerintah Daerah hanya 11orang (perawat, bidan dan Lab), plus 1 orang laundry honorer, 1 orang cleaning service honorer dan 1 orang catering kontrak.

Fakta 5: Jasa Petugas.

Kita tahu, seberapapun rajinnya dan seberapapun beban kerja serta seberapa pandaipun petugas, gajinya sama jika golongan dan masa kerjanya sama. Di sisi lain, kita ingin memberikan pelayanan berkualitas melalui optimalisasi kinerja dan konsentrasi full dari masing-masing petugas. Lantas, bagaimana untuk memberikan tambahan jasa bagi petugas dengan legal formal?

Sebagaimana prinsip dasar perawatan, petugas adalah salah satu pilar penting tercapainya pelayanan berkualitas. Tanpa reward yang memadai, mustahil cita-cita tersebut akan terwujud.

Upaya Jalan Keluar:

Lagi-lagi melalui Perda. Seperti halnya Guru, petugas perawatan Rawat Inap juga layak mendapatkan tambahan jasa sesuai dengan tuntutan kualitas pelayanan yang kita harapkan dari mereka. Dan pilihan yang paling masuk akal adalah jasa jaga dan jasa perawatan yang dapat dimasukkan dalam item Perda berdasarkan aturan yang berlaku.

Pertanyaan yang kami terima saat menyampaikan hal tersebut adalah: “ Bukankah pegawai sudah mendapatkan gaji dan bukankah merawat pasien adalah tugasnya?“.

Saya ingin memberikan ilustrasi sederhana. Coba bandingkan, seorang petugas rawat inap harus selalu siap selama 8 jam plus menangani pasien UGD, sementara petugas bukan Rawat Inap bisa nonton TV setelah tugasnya selesai sekitar jam 7.30 sampai jam 13.00. Bahkan adakalanya sudah bisa bersantai sebelum jam 13.00. Ditinjau dari sudut efesiensi waktu, jelas berbeda. Belum lagi dari tingkat stress dan bolak-balik dipanggil pasien yang harus dilayani dengan ramah.

Anehnya, pertanyaan yang bersifat keberatan (ataukah iri?) tersebut datang dari insan kesehatan, bukan dari lintas sektor ataupun masyarakat. Sebagai perbandingan, tidak ada satupun keberatan dari masyarakat ketika kami mengadakan simulasi tentang Perda Tarip bersama Camat, Lurah-lurah, stakeholder maupun instansi lintas sektoral.

Alhasil, usulan jasa petugas dalam item Perda Rawat Inap disetujui oleh DPRD dan Pemerintah Daerah. Bahkan salah seorang anggota DPRD menyarankan untuk meningkatkan besaran jasa jaga perawat dan bidan dalam jangka waktu tertentu jika menunjukkan kinerja yang bagus.

Segini dulu serial garis besar swakelola Rawat Inap (Palaran). Ntar akan disambung dengan Rekam Medik dan kesinambungan sistem swakelola serta hambatan-hambatan terutama oleh insan kesehatan sendiri. Kenyataan pahit, bahwa inovasi yang sudah terprogram jangka panjang kadang tidak berjalan sesuai alur manakala terjadi pergantian kepemimpinan. Terlebih ketika godaan “uang” dengan kemasan berbagai judul melambai di depan mata. Tapi kita harus berani mengurai kekeliruan agar mudah memperbaikinya jika ingin benar-benar memberikan pelayanan kesehatan berkualitas sebagaimana nasehat Dr. Bill Goulds. Kalo tidak, maka bersiaplah mengucapkan selamat tinggal kepada pelayanan berkualitas.

Semoga bermanfaat.

Silahkan berbagi.

Dokumen: silahkan download

:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::

About these ads

49 Responses to “Swakelola Puskesmas Rawat Inap”


  1. 1 sibermedik September 26, 2009 pukul 9:26 pm

    maturnuwun file-nya..ternyata walau sudah lewat Stase IKM selama 6 Minggu kok ya masih bodho soal manajemen Puskesmas ya? Padahal biasane dokter anyaran yo iso ujug2 dadi Kapuskes di daerah terpencil..Maturnuwun Cak…

  2. 2 sibermedik September 26, 2009 pukul 9:34 pm

    Btw, cara mbuat ebook .chm nya gimana tuh? jadi terinspiratif nih..

  3. 3 firawati September 26, 2009 pukul 10:42 pm

    tq pak…mantap…smkin sy liat smkin bnyk pertanyaan yg mo sy ajukan…knapa ga jd Kadinkes aja pak??mo tnya neh pak..brarti jasa pelayanan g disetor ke pemdanya ya pak?trus bpak punya ga peraturan ttg jumlah jam kerja petugas rawat inap??ex..cuti tahunan berapa utk yg shift,trus klu jaga pagi sj brapa jg haknya utk cuti..trus maksud STANDAR dlm rancangan tarif itu bwt apa pak?

  4. 4 triesti September 26, 2009 pukul 10:46 pm

    akhirnya… ditulis juga:) thx cak

  5. 5 Puskesmas Mojoagung September 27, 2009 pukul 1:04 am

    Menarik sekali ulasan Cak Moki. Bisa nambah ilmu nih …
    Kita di PKM Mojoagung saat ini sudah rawat inap dan swakelola bahkan bentar lagi mo di jadikan BLUD <– yang terakhir ini yang membuat pusing. Bukan cuman bingung prosedurnya, juga masalah managemen dan akuntansinya, tapi juga komputerisasinya. Sak pukesmas lumayan dibuat pusing. Padahal kita udah belajar ISO dan BSC. Ternyata banyak hal lain yang harus dipelajari.
    Belum lagi tentang protap / standar pelayanan medis di puskesmas yang sudah "plus-plus" tapi belum menjadi rumah sakit. Pusing juga sigh membuatnya karena belum ada contoh protap untuk puskesmas yang sudah semi rumah sakit (maksude dianggap puskesmas ya gak pantes, dikira rumah sakit ya apalagi tambah gak pantes).
    Ada saran dari Cak MOki ???

  6. 6 Kakaakin September 27, 2009 pukul 1:12 pm

    Kami di Puskesmas Sungai Siring juga berusaha memberikan yang terbaik bagi pasien kami dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kami miliki. Memang mengenai jumlah pasien, kalah jauh dengan yang di Palaran. Jadi pernah juga terjadi pasien UGD kosong dan yang sedang dirawat inap juga kosong. Beberapa teman dari Rawat jalan akan berkata “enak ya…kalian santai kerjanya…” karena memang saat itu yang mereka lihat adalah kami yang duduk2 sambil melipat kassa atau membuat kapas alkohol. Padahal mereka tidak menyaksikan pernah suatu ketika saat tengah malam datang rombongan pasien, sebuah bis jurusan Muara Wahau full penumpang diserempet truk. Untung saja penumpang hanya mengalami luka2 kecil akibat terkena pecahan kaca, tapi dengan jumlah sekian puluh orang yang masing-masing menginginkan dilayani terlebih dahulu, dan tenaga yang ada hanya 2 orang perawat.
    Hehe…jadi curcol… :) Memang sebaiknya gedung terpisah antara rawat inap dan rawat jalan, supaya nggak direcokin juga… :)

  7. 7 cakmoki September 27, 2009 pukul 6:14 pm

    @ sibermedik:
    Konon, merasa kurang adalah pintu masuk tambahan ilmu. Ntar kalo jadi Pimpus bakalan mampu dan bisa merubah ke arah perbaikan.
    Iyo, kadang meski gak di daerah terpencil iso langsung dadi pimpus. Gak masalah, lha wong manajemen kesehatan iku gampang, dinamis dan fleksibel. Sing penting nawaitune bener … bismillah… insya Allah maju :)
    CHM sing enak nggawe HelpNDoc… iso dileboni multimedia … :)
    Monggo, selamat berkarya :)

    @ firawati:
    kita bisa diskusi banyak hal melalui artikel pendek ini. Hmmmm, kadinkes biar diurusi orang lain aja, saya lebih suka mracang alias ngurusi toko kelontong…hahaha.
    Di sini emang salah satu model swakelola yang mungkin beda dengan yang lain.

    Tetap nyetor sesuai perda. Pada Pola Tarip tertulis STANDAR, itulah nominal yang disetor ke Pemkot/Pemda. Jika kita berhasil meyakinkan Kepala Daerah untuk gak nyetor, niscaya Rawat Inap bisa mbangun ruang VIP murah secara mandiri. Kami yg setor aja sebenernya mampu bikin ruang VIP sendiri, sayangnya waktu itu gak diijinkan.
    Dengan adanya pembagian kolom standar dll, maka pemilahan dan pertanggung jawaban keuangan menjadi mudah, dari segi admistratif, realize, audit maupun record dan record melalui rekam medik. Terintegrasi gitu. Dan gak harus bergantung pada operator.
    Peraturan jam kerja tetap mengikuti peraturan PNS, di setiap Puskesmas dikasih (kalo gak ada yang ngambil). Setiap shift 8 jam, 2 hari pagi, 2 hari sore, 2 hari malam dan 2 hari off. Cutinya sama dengan PNS lain. Kalo jasa jaga gak disunat, petugas biasanya males cuti, soalnya kalo cuti gak dapet uang jaga.
    Item Tarip pada contoh tersebut semuanya disetujui oleh DPRD dan Walikota, termasuk jam kerja dan pembagian shift.. Tapi bergantung kepada kepala puskesmas dalam meyakinkan DPRD saat hearing.

    @ triesti:
    Silahkan dikembangkan… met jadi konsultan yaaa

    @ Puskesmas Mojoagung:
    Maaf, tempo hari gak sempet mampir ke Mojoagung :)
    Ok, mari kita diskusikan … :)
    Banyak model dan pandangan tentang swakelola, begitu pula aplikasi BLUD/BLU. Swakelola yang dijalankan di sini merupakan pengembangan BLU/BLUD, dimana semangatnya adalah kemandirian. Bukan mandiri dalam mengelola uang setoran sebagaimana RSUD yang menjalankan BLU/BLUD. Namun mandiri dalam pemodalan hingga simpanan masa depan melalui koperasi.
    Sebenernya tidak sulit. Tapi jajaran kita sendiri yang kadang suka bikin macem-macem.
    BLU/BLUD pada dasarnya, menurut saya, adalah inovasi yang dituangkan dalam UU dan PP, untuk meningkatkan pelayanan medis. Bahasa sederhananya: mudah, murah, cepat dan berkualitas. Selebihnya hanya kosmetik, misalnya ISO dan segala tetek bengeknya.
    Penamaan Puskesmas Plus, Prima, ISO, dll… gak akan ada gunanya jika pelayanan lambat, mahal, gak mutu, jorok dan dokter serta petugasnya gampang murang-muring…. hehehe.
    Tapi kalo mau pake ISO, BSC, dll..tentu gak masalah, yang penting jangan sampe jadi Ca di kemudian hari. Dengan UU Otonomi dan desentralisasi, memungkikan kita untuk membuat model sesuai kondisi wilayah masing-masing.

    Untuk Protap, silahkan download contoh Protap yang disertakan pada artikel ini, dan mohon diperbaiki, udah lama banget gak diupdate .
    Ntar akan saya tambahkan juknis pengelolaan keuangan dll… sementara ini gak bisa upload soalnya file nya gede banget.
    Sayangnya, CD tinggal 1 biji… belum burning dan belum diupdate. Kalo mau, sebagai contoh, bisa saya burning dan saya kirimkan ke Puskesmas Mojoagung.

    Bicara swakelola dan BLU, akan banyak mengundang diskusi panjang. Untuk itu kita bisa melanjutkan diskusi sampek mblenger … :D sy sangat bersemangat kalo bicara soal beginian… sambil belajar.

    oiya, pengalaman salah seorang temen di Jember, ada sebuah Puskesmas Rawat Inap yang diubah menjadi RUSD karena alasan politis. Padahal udah ada lebih dari 1 RSUD. Apa yg terjadi ??? … tambah mahal … Malah menyedot anggaran kesehatan daerah…. menurut saya dan temen yang mengalami hal tersebut, lebih baik tetap bernama Puskesmas rawat inap tapi dengan layanan yang melebihi RSUD… lebih bermanfaat kan ?

    @ Kakaakin:
    Biasalah :) …. apalagi kalo petugas rawat inap lebih banyak mendapatkan jasa, misalnya, maka akan sering menerima sindiran iri dan cemburu.
    Sebenernya dulu saat mau dibangun pada tahun 2001-2002, andai Pimpusnya gak mau dibangun yang kayak sekarang tapi minta yang kayak Palaran atau lebih kecil sedikit, tentu bisa. Kalo gak salah tahun ini dapet bantuan 600 juta… seandainya saya masih aktif, dijamin punya ruang VIP ber-AC… hahaha….
    Met berjuang

  8. 8 firawati September 27, 2009 pukul 6:57 pm

    maksih ya pak pjlsannya… kami jg punya perda..tp cuma ada 2 ktegri sj..yaitu jasa sarana dan jasa pelayanan,tapi dua2nya disetor pak,hm..brarti yg STANDAR yg disetor ya pak.. mbaca jwban bpk terhdp pertanyaan dr yg lain,sptnya hmpir sm permaslhannya..rawatan santai org iri..he…

  9. 9 cakmoki September 29, 2009 pukul 12:31 am

    @ firawati:
    walah..lha koq masih pake sistem bruto ? :P
    iya, yang disetor hanya yang standar. Ketentuan tersebut dapat kita masukkan dalam narasi Perda. Kalo disetor semua, baliknya kapan ??? hehehe.

  10. 10 woro September 29, 2009 pukul 9:52 am

    wah… asyiknya puskesmas model begitu…. kirim ke depok dunk, cak….

  11. 11 sewa mobil murah September 29, 2009 pukul 11:45 am

    swakelola rental mobil gmn ya :D

    @ sewa mobil murah:
    boleh…. asal murah :D

  12. 12 cakmoki September 29, 2009 pukul 4:47 pm

    @ woro:
    Depok kan udah modern, mbak :D … mestinya kami yang di ndeso ™ niru Depok ^_^

  13. 13 Raharjo September 29, 2009 pukul 7:04 pm

    duhhhh…
    semoga saya ketemu lebih banyak orang di puskesmas seperti anda Cak … bener kata temen saya yang berharap semua dokter puskesmas kayak Cak Moki hehe…
    :)

  14. 14 Puskesmas Mojoagung September 29, 2009 pukul 9:14 pm

    Setuju deh sama Mas Jojok,
    Kalo semua dokter puskesmas sadar soal itu pasti aman deh Indonesia. heheheh :D

  15. 15 firawati September 29, 2009 pukul 11:08 pm

    alhamdulillah smpai skrg mang g pernah balik pak…akhrnya kami beli alat2 dr keuntungan nebulizer..trus beli handscoen sndri jg pak..jd uang keuntungan itu yg kami putar…selain obt2 yg g ada kami cb sediakan smmpunya..mkanya sy salut dgn puskms rwat inapnya bpk..bs mndiri…

  16. 16 cakmoki September 29, 2009 pukul 11:15 pm

    @ Raharjo:
    hahaha… pujian tersebut terlalu tinggi. Lha wong saya harus banyak belajar kepada temen-2 dan para senior yang berhasil. Dan diem-diem ngintip simpus sampeyan untuk belajar :)
    Met berkarya.
    Moga sukses selalu

    @ Puskesmas Mojoagung:
    yuk, kita sama-sama ngajakin teman-teman untuk memajukan Puskesmas. Gak payu gak papa… yang penting kita tetap berupaya tak kenal lelah … hehehe.
    Semangat !!!

    @ firawati:
    Tuh kan … :)
    Gak papa, bisa disusul melalui usulan Perda baru atau tambahan keterangan (narasi) tentang hal itu di komisi 2 bidang hukum) dan komisi 4 (bidang kesra) DPRD setempat.
    Kalaupun gak sempat, setidaknya upaya memutar dana dari sedikit keuntungan nebulizer dll, adalah upaya menolong sesama sekaligus menanamkan mental penderma bagi segenap kru rawat inap di sana. Saya ikut bangga :)

  17. 17 Raharjo September 30, 2009 pukul 12:10 am

    Weit.. ada yang ketinggalan Cak..
    mohon ijin disini untuk menyebarluaskan tulisan2 panjenengan ini ke beberapa teman di puskesmas yang belum beruntung untuk berkenalan dengan dunia internet hehe… Kebetulan banyak klien yang juga puskesmas rawat inap, saya yakin pengalaman manajemen puskesmas palaran sangat bagus…

    dan nyuwun sewu Simpus saya jangan di intip… malu haha…

  18. 18 cakmoki September 30, 2009 pukul 12:37 am

    @ Raharjo:
    Monggo, sipersilahkan kalo emang dianggap layak.
    Saya bangga sampeyan telah banyak membantu memajukan Puskesmas khususnya di bidang simpus yang merupakan salah satu pilar kinerja Puskesmas.

    Nuwun sewu, sudah terlanjur ngintip simpus …hahaha. Sekalian ijin link ya :) … udah saya link di halaman temans, bagian “jejaring”. Maaf, mendahului tanpa menunggu ijin … hehehe

  19. 19 Gunawan Wisnu September 30, 2009 pukul 1:45 pm

    weelah, palaran dah pake TUBEX TF?luarr biasa!! jogja aja jarang yg pakai..btw ngakak, widal modalitas dx dr jaman Ken Arok,wkwkwk…

    wah, seandainya sistem yg di australia diberlakukan di Indo, seandainya RUU rumah sakit nggenah, seandainya…lagi-lagi seandainya, memang kt ini rakyat dijadikan pemimpi…

  20. 20 cakmoki September 30, 2009 pukul 1:51 pm

    @ Gunawan:
    hahaha … masa sih di Jogja masih suka pake dx jaman Ken Arok ? :D
    Seandainya semua sistem nggenah …. niscaya hasilnya nggenah… lagi-lagi ini bukan mimpi asalkan kita mulai berbuat di lingkup paling kecil … perkara yang lingkup besar maunya sendiri, gak masalah…. gimana, enak tho…

  21. 21 firawati September 30, 2009 pukul 3:29 pm

    pgin tnya lg pak,..knapa hrs pake STANDAR??apa dsrnya?trus kegunaannya jg apa pak???ntar biar sy cb jg ksh srn bwt tman2…trus sm pimpus biar jg bs di usulkan ..

  22. 22 cakmoki Oktober 1, 2009 pukul 12:21 am

    @ firawati:
    STANDAR dimaksudkan agar dana visit, jasa pelayanan dan lain-lain dapat diterima langsung setiap bulan kepada yang berhak berdasarkan kinerja masing-masing.
    Kalo enggak, maka dana tersebut akan masuk ke Dinas Pendapatan daerah dan niscaya gak akan kembali.
    Dasar hukumnya adalah UU BLU tahun 2004 dan PP No.23 tahun 2005.
    Jadi, UU dan PP tentang BLU tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk memangkas birokrasi, sehingga memudahkan pelayanan dan memberikan reward secara langsung kepada kita para pelaksana pelayanan.

    Iya, sebaiknya pimpusk mengusulkan dan minta jadwal hearing ke DPRD Komisi 4, tanpa harus melalui Dinkes. Sebelum hearing, terlebih dahulu berkunjung ke DPRD Komisi 4 untuk diskusi. Hal ini dengan Desentralisasi Kesehatan, dimana Pimpus bertanggung jawab kepada kepala daerah dalam pembiayaan Puskesmas rawat Inap.
    Kalo kita diam aja, pihak berwenang gak akan tahu kebutuhan masyarakat. Karenanya kita wajib memberi tahu kepada DPRD dan Kepala Daerah.

    Teknisnya bisa kita diskusikan melalui Blog, supaya dibaca oleh banyak pihak agar Puskesmas Rawat Inap diperhatikan oleh pihak berwenang dan kita berkewajiban menumbuhkembangkannya.

  23. 23 Puskesmas Mojoagung Oktober 3, 2009 pukul 10:17 pm

    Setuju sama usulnya mas Jojok (Raharjo), di Mojoagung kita juga sudah ‘sosialisasi’ blognya Cak Moki inspiratif ini lho, dulu pas saya ada seminar internet dan blog saya sempat memprmsikan sebagai blog yang mengispirasi (apa manas-manasin ya :P ) PKM Mojoagung biar membuat blog. Dan sampai hari ini kita juga tetap jadi penggemar setia blog Cak Moki meskipun sudah punya blog sendiri

  24. 24 cakmoki Oktober 4, 2009 pukul 1:44 pm

    @ Puskesmas Mojoagung:
    maturnuwun… kita sama-sama saling mempromosikan agar temen-2 yang belum berkenalan dengan Blog lebih mengenal dunia internet, setidaknya biar terbiasa baca-baca. Syukur kalo berkenan bikin Blog. Saya juga suka memamerkan Blog Puskesmas Mojoagung kepada teman-2, supaya terinspirasi (terhasut kali ya…) untuk membuat Blog. :)

  25. 25 jipajip Oktober 4, 2009 pukul 8:59 pm

    ngomongin puskesmas dan BLU jadi ingat kakak kelas yang dapat proyek jadi konsultan 10 puskesmas besar di jakarta yang mau dijadikan BLU. ternyata ribet ya mengatur sebuah puskesmas.

    salam kenal aja deh!!

  26. 26 cakmoki Oktober 5, 2009 pukul 1:25 pm

    @ jipajip:
    Kalo diproyekkan emang ribet … lha wong BLU justru dibuat untuk memangkas keribetan … :) Boleh jadi BLU tersebut hanya kedok untuk kepentingan “project oriented”, makanya jadi ribet…maaf..hehehe.
    Salam kenal juga…terimakasih kunjungannya.

  27. 27 firawati Oktober 5, 2009 pukul 3:32 pm

    mksh pak..br bc blsnnya..smlm kami br plg jd timkes terhdp bencana gempa dipdg, trs trg sy g tw bnyak ttg BLU serta PP nya..mgkn ada di tmpt tp sy jg g tw mo tnya sm siapa ttg BLu tsbt,yg ada sm sy perda terbaru di kota sy saat ini..biarlah sy cb pula spt yg bpk usulkan..

  28. 28 cakmoki Oktober 5, 2009 pukul 3:38 pm

    @ firawati:
    Moga bencana gempa di sana segera dapat teratasi dan kehidupan segera normal kembali.

    Sama, kami dulu juga gak tahu harus bertanya kepada siapa dan kalaupun ada yang ditanya gak ngerti teknisnya.
    Hingga kini masalah BLU dan tatalaksananya bergantung kepada inovasi masing-2 institusi sesuai kondisi setempat.
    Kalo berani mencoba tentu merupakan lompatan besar mengingat sebagian besar insitusi layanan medis masih lebih suka menunggu… menunggu petunjuk… menunggu instruksi…dll… hehehe.
    Saya dukung dari kejauhan disertai do’a moga sukses.

  29. 29 Besan Oktober 6, 2009 pukul 11:04 pm

    Byk yg mkeluhkn sistem “setor smua” krn puskmas tdk mdpt apa2. Shg dlm praktekx ada yg nekat mrekayasa hsl setorn shg gak smua msk k pemda. Ada jg yg keke ttp setor smua n bharap pd dana operasional pusksmas (pdhl turunx nyandet2 cak). Enakx ikut yg mana ya cak?:-).
    Kl BLU agak sulit cak,prh trlontar ide tsb tp cm sbatas wacana sj krn ada pihak2 yg kberatn. Alasn gak jls,ada yg khawatir nt pusksm jd gak pro rakyat lg krn arahx profit oriented,ada jg yg blng sbaikx pusksmas lbh konsen k program2 pusksmas drpd ngurusi rawat inap.

  30. 30 cakmoki Oktober 7, 2009 pukul 3:19 pm

    @ Besan:
    Ya, kita emang masih kerap bergelut dan bersilang pendapat masalah-masalah tersebut.
    Menurut saya, apapun bentuknya, pilihan terbaik adalah yang mengedepankan kepentingan masyarakat sesuai hakekat layanan kesehatan, yakni: mudah, cepat, akurat, murah dan berkualitas. Disamping itu, petugas teknis perlu “diperhatikan” secara layak sesuai dengan tuntutan dan beban yang kita berikan.
    Tujuan diundangkannya BLU ataupun inovasi swakelola adalah untuk memudahkan pelayanan kesehatan dan murah serta berkualitas. Lha kalo profit oriented, namanya bukan lagi BLU… ini emang benar terjadi, kami menyebutnya BLU-BLU an … hehehe.

    Pengalaman kami selama menjalankan swakelola, dengan memisahkan lokasi bangunan dan manajemen antara Puskesmas dan Rawat Inap, keduanya dapat bersinergi. UPK (Upaya Pokok Kesehatan) Puskesmas gak terganggu dan Rawat Inap bisa konsentrasi sepenuhnya untuk perawatan dengan berbasis komunitas serta epidemiologi.
    Tapi semua itu kembali kepada para nakhoda yang menjalankannya.
    Kalo si nahkoda termasuk golongan “resikan”, maka semua yang berbau uang akan bersih-sih… sampek ludes… :D

  31. 31 Besan Oktober 7, 2009 pukul 7:57 pm

    Cak moki prh mnempuh pndidikn S2 ya..:-).

    Oh iya slain alasn ribet kira2 alasn apalagi cak yg dkeluhkn olh TS shg beliau2 mnolak BLU/Swakelola.

    Dgn adax swakelola, kira2 pemkot/pemda mrasa rugi gak ya cak krn khan gak ada setorn lg dr puskms (uang setoran jmlhx besar lho cak,bs 2x lipat lbh byk dr jumlah obat hbs pakai)..:-).

  32. 32 cakmoki Oktober 7, 2009 pukul 11:39 pm

    @ Besan:
    Saya gak pernah mau untuk S2… :)
    Kalo alasan dari TS yang menolak dan pernah bicara terus terang, diantaranya: nambahi kerjaan … nyaingi praktek.

    Swakelola yang kami lakukan tidak merugikan Pemkot tapi justru menguntungkan sesuai uraian pada artikel.
    Keuntungan Pemkot, diantaranya:
    1) Setoran ke Pemkot tambah banyak.
    2) Kalo hanya Laptop, gak perlu repot minta ke Pemkot, udah bisa beli sendiri.
    4) Pemkot gak perlu lagi membiayai alat Lab dan reagennya. Dengan swakelola justru mampu beli alat yg bagus dan mahal.
    5) Pemkot gak perlu lagi ngurusi pengadaan Obat dan Bahan Habis Pakai senilai sekitar 400-500 juta rupiah per tahun. Artinya Pemkot gak perlu ngularkan Dana untuk keperluan tersebut. Nilai tersebut sama besarnya dengan jumlah retribusi semua hotel di kota kami.
    Selama ini Pemkot sangat mendukung model swakelola yang kami kembangkan, sehingga diberikan tambahan dana operasional.

    Yang ruwet adalah jajaran dan beberapa oknum kesehatan sendiri. Karena itulah saya pernah mengusulkan secara terbuka agar dokter, perawat dan bidan yang ditempatkan di rawat inap di ndeso kami harus diseleksi lebih dulu dan dilatih selama 6 bulan sebelum diputuskan layak tidaknya bertugas di rawat inap. Keliatannya serem ya… tapi ini emang era korporasi, dimana dokter dan petugas perawatan harus dipilih yg benar-2 memiliki visi dan misi mengedepankan kepentingan warga masyarakat. Dan terutama yang gak ngenthitan.
    Sy selalu memberikan doktrin kepada perawat dan bidan untuk menomor satukan pelayanan, niscaya uang datang sendiri. (tapi yg sekarang sy gak ikut nyeleksi. Kayaknya ada yg gak mutu masuk situ)
    Di dunia nyata, diskusi tentang swakelola selalu menarik dan saya bersyukur ada beberapa teman yang masih bersemangat untuk mengembangkan swakelola di rawat inap. Sayangnya mereka masih agak takut-2 untuk minta jadwal hearing di DPRD dan menemui Kepala Daerah…. padahal gak bakalan digigit :D

  33. 33 pathurahman Oktober 8, 2009 pukul 2:11 pm

    sosialisasikan sistem pengelolaan managemen rawat inap puskesmas ke seluruh puskesmas di indonesia,

  34. 34 Besan Oktober 8, 2009 pukul 6:49 pm

    Dr cara komentar n jwbn cak moki sy mbayangkn mgk dblkng nama cak moki ada embel2 MARS atau Mkes, tp trnyta gak ya cak..:-).

    Ada suatu daerah yg perdax mngatur biaya rawat inap px perharix 100-125 ribu, jd kl nginap 2 hr 200-250 ribu (brp n apapn obatx yg dberikn dlm 1 hr ya tarifx dpukul rata sgtu smua). Coba kl px yg dtng kasusx ringan atau anak2,tentu pemda akn dpt setorn yg byk. Dan pusksmas krn nyetor smua jdx gak dpt apa2. Mau ngambil dana operasional pusksmas trnyta kluarx nyandet2 n kdg jmlhx gak ssai yg dharapkn.
    Ada yg blng jk tenaga kontrak/honorer trll byk akn muncul mslh br yakni tuntutan utk jd pns ( beban moral bagi kapusksms),bnr gak sih cak.

    Maaf ya cak kl byk tny n byk komentar sy yg slh,maklum cak msh hijau/ingusan. Dan jg jgn panggil sy njenengan ya cak krn sy mmg bnr2 lbh muda dr cak moki..:-).

  35. 35 firawati Oktober 8, 2009 pukul 9:35 pm

    trs trg stlh sy cr informasi..pd g tw apa itu BLU,trus PP 23…kmana mo sy cr pak????bingung mereka…dan balik tanya sm sy…dimana bs sy dpatkan pak???

  36. 36 hastine Oktober 9, 2009 pukul 1:35 pm

    Andai semua bisa berjiwa besar…
    Semua mungkin tidak hanya sebatas pada wacana saja…

    Scholarship
    Parental

  37. 37 cakmoki Oktober 10, 2009 pukul 12:18 am

    @pathurahman:
    yuk ! :)

    @ Besan:
    Wih..embel-2 nya serem… sy gak punya embel-2 semacam itu.

    Iya, saya sependapat…kurang tepat jika sakit dilayani dengan sistem paket kayak gitu.. terlihat seperti berjudi dan seolah hanya memikirkan uang semata.
    Sebenarnya sudah ada perjanjian tertulis antara kepala daerah se Indonesia dengan Menkes bahwa Puskesmas dan RSUD tidak dijadikan sebagai sumber PAD…(kalo gak salah tahun 2001, …maaf lupa, soalnya bukunya dipinjam teman trus gak dikembalikan).

    Untuk tenaga honorer dan kontrak sudah ada pedoman kepegawaian yang mengaturnya.
    Masalah utama menurut saya adalah besaran pendapatn per bulan. Dengan swakelola, masalah tersebut dapat dipecahkan asalkan besaran pendapatan sama atau lebih besar dari pendapatan PNS setiap bulan.
    Selain itu perlu juga dibentuk koperasi yang menjamin masa depan mereka kelak, seperti yang kami lakukan di sini. Sehingga ketika mereka sudah memasuki usia pensiun, mereka punya tabungan yang layak, tidak seperti Taspen yang gak sampek 10 juta setelah bekerja lebih 20 tahun :D

    Kebetulan saya penasehat dari koperasi yang dibentuk untuk kepentingan tersebut (di ndeso kami).
    Sebagai gambaran, dengan koperasi tersebut temen-2 (perawat, bidan, analis, dll) mampu membeli elektro-fotometri manual senilai 65 juta, mikrokop binokuler Olympus kelas II senilai hampir 10 juta, laptop core 2 duo 2 buah dan pracangan yang menyediakan keperluan sehari-hari penderita dan keluarganya, seperti sabun, sikat gigi, dll..dll… termasuk nonton bareng ke kota untuk refreshing dan rekreasi … Kekayaan mereka saat ini ratusan juta rupiah (sejak 23 Maret 2004) dan terus berputar sebagai bagian swakelola.

    Saya juga masih hijau lho … hahaha
    Hihihi…diskusi kita tambah seru …sampai-2 ngebahas jeroan dapur .. :D

    @ firawati:
    Ada di bagian bawah artikel, silahkan download. Di dalam pasal per pasal emang gak dijelaskan secara detail, tapi kita bisa membuatnya sejalan dengan hakekat isi setiap pasal dan ayat UU dan PP tersebut sebagai payung hukum.

  38. 38 cakmoki Oktober 10, 2009 pukul 12:52 am

    @ hastine:
    Maaf… ini bukan wacana mas/mbak … :)
    Monggo dipersilahkan membaca lagi ….

  39. 39 Besan Oktober 10, 2009 pukul 5:44 pm

    Suka sayur2n ya mksd cak mokinya msh hijau..:-).

    Tp cak pnjanjian antara menkes dg kepala daerah se indonesia khan sdh jadul, skr sdh tjd pgantian menkes n kepala daerah pemerinthn yg baru,jd byk yg gak tahu dong (ato pura2 gak tahu):-).

    Wah sy salut dg cak moki n puksmas palaran yg mampu mandiri,inovatif,n profesional. Smg mjd slh satu pcontohn bagi pusksmas yg lain.

    Kl pusksmas dg pasien rawat inap do re mi ( jmlhx sdkt, rata2 1-3 pasien/hr) kira2 sistem swakelola apa jg bs dterapkn jg cak ?.

  40. 40 cakmoki Oktober 11, 2009 pukul 12:22 pm

    @ Besan:
    Mungkin pura-pura gak tahu … Di sisi lain, ketika GFK ngajukan anggaran obat senilai 1 milyar untuk setahun sulitnya minta ampun, sementara di saat bersamaan ada Pemda Tk II yang meluncurkan pengobatan gratis senilai belasan milyar.

    Menurut saya, pasien rawat inap do re mi tetap dapat menggunakan swakelola mandiri. Faktanya, kami mengawalinya dengan 1 orang pasien …tapi tetap pede tanpa harus promosi … hehehe :D

    Maturnuwun support dan do’anya… sayapun berharap moga sistem tersebut gak diorat-arit hanya karena uang.

  41. 41 yudi Juni 29, 2010 pukul 11:16 am

    salam kenal cak moki….walah kayanya saya telat nih mbaca blog ini……maaf cak moki,boleh sharing ya….saya sudah 3 bulan dipercaya untuk memimpin puskesmas rawat inap yang bener2 baru (diresmikan 2 januari 2010)……kami punya 8 bed dirawat inap, dan walopun baru 3 bulan rawat inap beroperasi pasiennya selalu penuh, bahkan beberapa harus dirawat di brangkar…..untuk saat ini pasien rawat inap berkisar antara 10 sampai 14 pasien perhari, saya tertarik dengan koperasi yang dikembangkan pkm cak moki, kalo boleh tau koperasi yang dibuat ini berbadan hukum atau informal saya, dan apa harus dengan persetujuan dinkes or pemda?

  42. 42 cakmoki Juni 29, 2010 pukul 1:39 pm

    @ yudi:
    salam kenal, mas Yudi…
    Koperasinya berbadan hukum … tanpa persetujuan Dinkes atau Pemda, malah ruwet, gak jadi-jadi soale kebanyakan teori …hehehe.
    Intinya, para dokter dan paramedis hendaknya jadi Ndoro untuk dirinya sendiri dan pelayan bagi masyarakat. Kalo pasiennya segitu perhari dan menggunakan cara swakelola, dalam 2 tahun niscaya bisa punya uang ratusan juta rupiah.
    Trims

  43. 43 yudi Juli 1, 2010 pukul 10:37 pm

    seandainya pemikiran para petinggi disini semaju cak moki, pasti puskesmas di bangka barat ini tidak jalan ditempat seperti sekarang ini, disini kepala puskes tdak pernah diberi kebebasan berkreasi, segala sesuatu berdasarkan instruksi dinkes, bahkan perencanaan puskesmas pun yang buat dinkes, jadi kami tidak tau apa yang dinas rencanakan utk kegiatan kami khususnya kegiatan promotiv dan preventiv yang notabene inti dr puskes. beberapa kali kami lakukan pendekatan tapi selalu hanya dpat janji,tolong cak moki kasih saran darimana saya harus memulai supaya puskes ini tidak jalan ditempat, saya sudah hampir 4 tahun jadi kepala puskesmas tapi tdk banyak yang bisa saya lakukan……trimaksih sebelumnya.

  44. 44 cakmoki Juli 2, 2010 pukul 3:18 pm

    @ yudi:
    Saya sampaikan apresiasi untuk Mas Yudi yang memiliki keinginan untuk maju dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
    Sebenarnya kendala kita sama, dimana-mana faktor penghambat terbesar adalah dari institusi internal kesehatan sendiri, terutama dinkes.

    Kamipun mengalami persoalan yang sama namun bedanya perencanaan di sini mutlak berada di Puskesmas yang langsung bertanggung jawab ke Pemda (dalam hal pertanggungjawaban keuangan). Ini sejalan dengan Desentralisasi Kesehatan yg mengacu kepada UU Otonomi Daerah.

    Mungkin ada baiknya kita share tentang Pengelolaan Keuangan (perencanaan-dst) dan strategi swakelola Rawat Inap.
    Langkah-langkah yang kami tempuh, adalah sebagai berikut:
    1) Sekitar 8-9 tahun yang lalu (2001-2002), beberapa TS Pimpus yg memiliki kesamaan visi, berkonsolidasi untuk menyusun Biaya semua keperluan Puskesmas dalam setahun, mulai gaji, operasional, pemeliharaan, BBM, Listrik, tilpon, alkes … hingga serbet, sapu, ATK, dll. Semua item dihitung berdasarkan cost yang ditetapkan oleh Pemda. Misalnya: harga obat nyamu merk A… sekian… harga kertas A4 merk bola dunia…sekian…dst..dst.

    2) Setelah itu, draft semua keperluan Puskesmas (saat itu rata-2 sekitar 110 juta per Puskesmas, di luar gaji) kami ajukan ke Kepala Daerah dan Dispenda, tanpa sepengatahuan Dinkes. (kebetulan sy dipaksa sebagai salah satu koordinator ngitung operasional).

    Hanya dengan beberapa pertemuan konsultasi terbatas dengan kepala Daerah (diwakili sekda), dispenda dan Ka.Bag Keuangan Pemda, usulan tersebut disetujui.
    Sudah barang tentu Dinkes tergaket-kaget ketika tahun berikutnya semua biasa diturunkan langsung ke Puskesmas melalui RASK dan DASK. (sekarang format dan namanya sudah berubah). Upaya Dinkes untuk menarik pembiayaan tersebut tidak pernah berhasil hingga kini, karena ga ada dasar hukumnya.

    3) Tentang swakelola Rawat Inap… caranya sama, yakni langsung ke kepala Daerah dan DPRD. Bahkan usulan gambar bangunan, draft Perda, semuanya dibuat Puskesmas dan diajukan ke Kepala Daerah dan DPRD tanpa melalui Dinkes.

    Seandainya di Bangka Barat ada 2 orang saja Pimpus yang agak bonek seperti di sini :D , niscaya cepat atau lambat akan diperhatikan Pemda dan DPRD.

    Selamat berjuang !
    Makasih

  45. 45 Puskesmas Ujungpangkah Desember 11, 2010 pukul 12:44 pm

    Boleh Dong Sharing, coz kta baru aja jadi Rawat Inap Nih……

  46. 46 cakmoki Desember 12, 2010 pukul 3:47 pm

    @ Puskesmas Ujungpangkah:
    Monngo :D … kuncinya harus berani mandiri .
    dari Lamongan ya ?

  47. 47 firawati Februari 3, 2011 pukul 10:39 pm

    brarti yagng standar di puskesmas palaran g disetor ya pak??dikelola mandiri gitu pak??thank’s sblmya

  48. 48 fardiansyah Maret 22, 2011 pukul 7:59 pm

    ass, numpang nanya, kebetulan saya diangkat sebagai kepala rawat inap di puskesmas tempat saya bekerja…. saya mau sharing nie langkah pertama yang saya lakukan apa, kebetulan saya baru lulus kuliah dan belum ada pengalaman tentang ini. makasih sebelumnya

  49. 49 cakmoki Maret 22, 2011 pukul 10:15 pm

    @ firawati:
    iya…standar disetor

    @ fardiansyah:
    Wa’alaikumsalam
    Langkah pertama adalah konsolidasi, yakni (1) menata tugas umum paramedis setiap shift, (2) meminta paramedis untuk menyampaikan berbagai hal terkait rawat inap kemudian menginventarisir dan segera mencari jalan keluarnya jika sebelumnya ada kendala.
    Selebihnya, secara rinci silhakan downlaod contoh protap pengelolaan rawat inap pada link berikut:

    http://www.box.net/shared/yvxp3324ty

    dan

    http://www.box.net/shared/p6g1iuyalu

    Makasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 4,968,551 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 560 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: