Suntik. Sebagian orang sangat terbiasa mendengar kata suntik, bahkan ada yang merasa gak berobat kalo gak suntik. Hingga ada yang merasa perlu ke tempat lain (di hari yang sama) untuk suntik ketika dia minta suntik tidak dikabulkan oleh dokter sebelumnya, terutama pasien-pasien dengan penyakit tertentu, misalnya asma, yang merasa nyaman segera setelah injeksi. Sementara sebagian lainnya ngeri tatkala mendengar kata suntik. Baru mendengar kata suntik aja udah keringat dingin. Karenanya tak heran kata suntik masih suka digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil. “ Awas, disuntik dokter “ atau “ Awas, disuntik pak matri “. Terlepas pro-kontra perlu tidaknya suntik, tak dapat dipungkiri bahwa suntik merupakan salah satu cara pemberian obat melalui parenteral sesuai indikasi yang menyertainya.
Sumber gambar: Marcus M (Asia Images Collection)
Khalayak, terutama di pedesaan, mengenal suntik sebagai salah satu cara memasukkan obat ke dalam tubuh (kecuali imunisasi) dan dianggap sebagai bagian dari pengobatan, setidaknya untuk meredakan keluhan yang dilanjutkan dengan obat lain sesuai penyakitnya.
Di sisi lain, Depkes gencar mengkampanyekan kepada masyarakat untuk tidak minta suntik jika tidak perlu sejak tahun 1994. Kala itu, penulis mengikuti sosialisasi kebijakan tersebut yang dilatarbelakangi penghematan anggaran. Kemudian ditambahkan argumen rasionalisasi pada tahun 1996 seiring dengan dimulakannya program Quality Asurance (QA).
Atas dasar itulah maka kita kerap menyaksikan Pusling (Puskesmas Keliling) berlabel kampanye untuk tidak minta suntik jika tidak perlu di beberapa kota di Jawa. (mungkin juga di daerah lain)
JENIS SUNTIK
Berdasarkan cara masuknya, suntik terdiri dari:
-
Injeksi intramuskuler (dimasukkan ke dalam otot), lazimnya suntik di bokong bagian samping atas, paha dan lengan.
-
Injeksi intravena (melalui pembuluh darah baik), biasa dilakukan untuk mendapatkan efek terapi yang lebih cepat.
-
Injeksi subkutan (di bawah kulit), dilakukan pada keadaan tertentu untuk kondisi yang khusus, misalnya pada penderita status asmatikus, untuk meredakan sesak dengan cepat.
-
Injeksi intra-artikuler (ruang sendi), dilakukan untuk penyakit tertentu yang berhubungan dengan sendi.
-
Dan lain-lain.
Selain itu, suntik dilakukan untuk kepentingan imunisasi, kecuali imunisasi polio (melalui tetesan di mulut).
KETIKA PASIEN MINTA SUNTIK
Di daerah pedesaan (terutama), mungkin para dokter kerap menjumpai permintaan suntik dari para pasiennya dengan pelbagai alasan.
Bagaimana sikap dokter ketika si pasien minta suntik ? Jawabannya terpulang kepada masing-masing dokter untuk menjelaskan kepada pasien tentang hubungan antara suntik dengan penyakit yang dideritanya.
Sumber gambar: Blend Images
Menurut saya, apapun keputusan dokter, tidak memberikan suntikan ataupun memberikan suntikan, sepatutnya memberikan penjelasan yang rasional dan mendidik bagi para pasiennya.
Sebagai contoh, ketika pasien datang dengan status asmatikus yang memerlukan pertolongan segera dan pasien terbiasa dengan injeksi subkutan di lengan untuk segera meredakan sesaknya, sementara saat itu tekanan darah si pasien tinggi (hipertensi) dan dokter tidak berani memberikan suntikan, maka menolak memberikan suntik dengan alasan hipertensi bukanlah alasan yang tepat. Toh Prosedur Tetap menempatkan suntik subkutan sebagai langkah awal pertolongan pada kasus tersebut (selain langkah-langkah lain tentunya). Toh andaikata dirujuk ke RS (itupun kalo gak jauh dari RS), nantinya si pasien akan mendapatkan suntikan berulang kali, apapun kondisi si pasien.
KISAH NYATA
Ketika awal dioperasikannya Rawat Inap di ndeso kami, para perawat yang masih baru direkrut, mengalami kejadian yang sangat berharga untuk dipetik sebagai pelajaran.
Beberapa kali temen-temen petugas memberikan pertolongan kepada pasien dengan status asmatikus sesuai Prosdur Tetap. Namun, konon karena setengah panik melihat kondisi pasien yang masih megap-megap, diam-diam mereka merujuk pasien ke RS berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan di tengah malam buta. Maklum kebanyakan penderita asma mengalami sesak di tengah malam.
Apa yang terjadi ? Belum setengah jalan si pasien sudah gak sesak lagi. Wa akhirul kalamun, ambulance putar haluan untuk balik ke ndeso lagi. Gak jadi rujuk. Lha wong udah sembuh. Kala itu mereka mengaku merasa gak pede memberikan injeksi berulang sesuai Prosedur Tetap dan instruksi dokter. Eeealaaahhh.
Pada umumnya teman-teman sejawat dokter yang bertugas nun jauh di pedalaman relatif lebih trampil dan lebih berani mengambil keputusan tindakan medis untuk memberikan pertolongan kepada para pasiennya dalam keadaan tertentu lantaran kondisi geografis yang tidak memungkinkan untuk sebentar-sebentar merujuk pasien. Dan ini sangat bermanfaat bagi para dokter tersebut untuk memberikan bimbingan teknis kepada para stafnya, termasuk ketrampilan memberikan suntik manakala memang diperlukan sesuai indikasi.
Pertanyaannya: (bagi para dokter, perawat dan bidan)
-
Sudahkah para petugas kita berlatih saling suntik seperti tergambar di video dari institusi pendidikan kesehatan negeri tetangga ?
-
Jika sudah, seberapa sering melakukannya selama masa pendidikan ?
-
Jika tidak semua, berapa banyak yang tidak pernah berlatih saling suntik ?
Pertanyaan ini harus dijawab sebagaimana kita harus menjawab tantangan tuntutan layanan kesehatan di dunia nyata. (tapi, berkelit juga gapapa koq)
Akhirnya, betapapun perlu tidaknya suntik masih diperdebatkan di kalangan kesehatan (di Indonesia), para pasien dan masyarakat selayaknya mendapatkan penjelasan jujur dan rasional.
Semoga bermanfaat.
Link video injeksi:
-
Nursing injection (saling suntik)
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::



















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)






suntiiik???? kabuuuuuuuuuuuuuuuuur!
Waduh? Ada tukang suntik yang ga berani nyuntik ya dok? iki piye iki piye, tambah ga berani disuntik saya…
Oh iya, kalau di salon-salon yang melayani ’suntik vitamin C’ itu gimana dok? Harusnya kan ga sembarangan orang boleh nyuntik?
Soal kalo da disuntik berasa da berobat itu persis nenek saya. Tiap kali minta anter ke dokter trus ga disuntik, besoknya pasti ngeluh sakit lagi, minta anter lagi. Tapi kalau sudah disuntik, di mobil dalam perjalanan pulang dari dokter juga bilangnya sudah seger lagi
Padahal sama dokternya cuma disuntik vitamin….
@ woro:
hehehe…mungkin dulu waktu sekolah termasuk yang kabur saat imunisasi ya …
@ ManusiaSuper:
Itu rasan-rasan pasien lho, bener enggaknya gak tahu, lha wong ga ada yang membuat pengakuan …
Bener Cil, mestinya yang nyuntik di salon adalah orang-2 yang berkompeten atau perawat yang mendapat delegasi dokter. Emangnya pernah ke salon ya ?
Hahaha, sama dengan nenek saya. Kalo sy pas pulang kampung, beliau gak lupa minta suntik obat pegal-pegal, setelah suntik dijamin senyum-senyum…dan selanjutnya akan keluar suguhan kopi panas buatan nenek…
Btw, koq sekarang panggil dok, sih ? …harus panggil cak, biar ga kepohonan alias kualat.
Kalo ketemu pasien yang minta suntik memang repot, sebab kepercayaannya pada dokter hanya pada suntik itu. Jadi biasanya disuntik walaupun itu vitamin saja. kalau tidak ya… tak datang lagi lain kali…ironiknya dokter tak mau kehilangan pasien yang begini tak mau mengerti.
@ limpo50:
Gak masalah Pak. Jika keluhannya hanya kesemutan, kram atau gangguan otot dan saraf tepi (saraf perifer), suntikan vitamin (terutama vitamnin B1,6dan B12) dapat dibenarkan karena masih berhubungan dengan keluhannya.
Pada dasarnya, suntikan yang bertujuan meredakan keluhan, misalnya anti gatal, anti nyeri, dan sejenisnya, dapat dilakukan oleh dokter sesuai keluhannya. Hal ini tidak bertentangan dengan UU Praktik Kedokteran dan prinsip pengobatan dimana meredakan keluhan merupakan salah satu tujuan pengobatan.
Tapi kalo suntikan yang diberikan gak berhubungan dengan penyakitnya, perlu memberikan penjelasan kepada pasien. Sejauh ini, biasanya pasien bisa mengerti. Dan dokter gak bakalan kehilangan kepercayaan dari pasien… hehehe.
Makasih
Nenekx cak moki tinggal d jmbr ya? Brarti mintax 2 suntikn dong, p****t yg kanan n yg kiri sekaligus:-).
DISUNTIK takut pasienx kena alergi/syok. GAK DISUNTIK takut pasienx gak mau balik lg. Kl pasienx ngerti mgk enak ya cak,tp kl gak ngerti trus bgm cak??;-(.
suntik ??? denger aja anak kecil dah ngeri
@ Besan:
Hahaha, beliau mengerti gak harus 2 suntikan.
Kalo ada riwayat alergi obat tertentu, brarti obat yg bikin alergi gak disuntikkan. Sebelumnya bisa ditanyakan. Kalaupun sebelumnya gak alergi obat tertentu kemudian pada suntikan yg kesekian alergi/syok obat tersebut, maka dapat ditanggulangi dengan prosedur penatalaksanaan alergi/syok.
Adakalanya kita menjumpai pasien yg gak ngerti, tp jarang dan makin lama jumlahnya makin dikit asalkan kita selalu memberikan penjelasan.
@ catatan tukang:
hahaha, iya emang
saya termasuk yang tidak takut terhadap suntikan ..
jika sudah cukup lama menderita suatu penyakit, maka biasanya saya akan bilang, ‘Dok, suntik aja biar cepet sembuh..’ dan memang efek dari suntik lebih cepat dari konsumsi obat2an saja ..
Iklan Baris
@ Iklan Gratis:
Kadang emang efek suntikan lebih cepat terutama untuk meredakan keluhan (simptomatis).
Trims
Kadang emang pusing juga ngadepin pasien yang minta suntik. Di pkm saya ga jarang pasien datang, langsung mengatakan “suster, saya mau suntik”, kami menjawab “silakan masuk, Pak. Kami periksa dulu”
Waktu pasien kami suruh naik ke bed untuk diperiksa tekanannya…eh…ujuk2 tuh bapak udah melorotin celananya
‘kan jadi kaget!!
@ Kakaakin:
hahaha…sama, di sini juga. Rupa-rupanya hampir di mana-mana sama, termasuk di beberapa negara berkembang.
Met berkarya, moga sukses selalu.
samalah ma pembantu saya dulu…tiap sakit minta pulang kampung untuk nyuntik di puskesmas. ga pernah mau priksa dokter di kota…
alesannya dokter di kota cuman ngasi obat aja, ga komplit kayak dokter puskesmas di kampung yang pake plus suntik
@ nararya:
hahaha… masa sih di kota ga ada dokter yang mau nyuntik ?
Di sini masih tuh …. Mungkin dokter di ndeso selain nyuntik juga nggendong mbah-mbah … kayak lagunya Mbah surip … hahaha
wah pembahasan yang cukup panjang cak. sama seperti ayah saya sudah terbiasa kalo sakit maunya di suntik lebih percaya sama pak mantri ketimbang pak dokter..
.
mungkin ada sugesti juga kali ya… dalam diri ayah saya. kalo ke pak mantri lebih cezpleng …
Halahhhh….emang ada ya cak dokter, pasien yg selalu minta suntik kalo berobat ???
Kalau saya…potong rambut kependekan saja semaput (pingsan,alhasil pulang nyalon naik becak, padahal salonnya cuma beda 01 gang dari rumah) apalagi suntik…. hehehehehe…
Salam sehat,
Ria-Solo
* Yg pernah suntik dan pingsan di ruang praktek dokter…begitu pula waktu cabut gigi..semaput dan bikin gempar klinik,kira2 saat itu sdh umur 25 tahun..hehehehe*
@ Ihsan Prawoto:
iya, kebanyakan gitu, gak papa ke Mantri, yang penting puas, sembuh dan aman
@ Ria:
Masih banyaaaakkkk … sebagian masih gak marem kalo gak suntik.
Walah, ternyata pernah semaput tho…
Salam sehat