Trombosit memang bisa menggerombol, karena sesuai dengan fungsinya yang berperan dalam hemostasis.
Apa itu hemostasis?
Hemostasis adalah proses tubuh untuk mencegah adanya kehilangan / kebocoran darah. Ada 4 bagian proses hemostasis:
- sistem dinding pembuluh darah (endotel)
- trombosit
- faktor pembekuan
- mekanisme lisis
Bila ada kerusakan dinding pembuluh darah, misalnya tusukan jarum pada saat pengambilan sampel darah, maka pada tempat luka di dinding pembuluh darah akan terjadi proses sebagai berikut:
-
respon pembuluh darah adalah mengkerut untuk memperkecil kebocoran
-
adanya bahan kolegan, vWF, dll dari dinding pembuluh darah (terpapar karena dinding pembuluh darah terluka) yg menarik trombosit untuk datang ke tempat itu dan trombosit akan teraktivasi, menggerombol, yg berfungsi sebagai sumbatan (gumpalan) hemostasis yg menutupi luka tadi.
-
Setelah terbentuk sumbatan hemostasis, maka terjadilah proses selanjutnya yaitu kerja dari beberapa faktor pembekuan (prosesnya kompleks) yang berguna untuk memperkuat sumbatan hemostasis dalam membuntu kebocoran tadi. Perdarahan terhenti. Bila kita lihat maka di tempat tusukan jarum, sudah tidak keluar lagi darahnya.
-
proses penyembuhan dinding pembuluh darah berjalan beriringan, sehingga luka menutup dan dinding pembuluh darah tidak ada luka lagi.
-
Tubuh mempunyai mekanisme fibrinolisis yaitu proses selanjutnya yang berfungsi menghancurkan sumbatan hemostasis tadi yang sudah selesai tugasnya.
-
Hasil akhir, pembuluh darah mulus kembali, sumbatan hilang.
Catatan:
Pada keadaan dinding pembuluh darah normal, mulus tanpa catat, maka trombosit yg lalu lalang dalam pembuluh darah tidak akan teraktivasi. Tetapi pada keadaan dinding pembuluh darah yg cacat karena tekanan darah tinggi, kadar glukosa darah yg tinggi (Diabetes Mellitus) dll, trombosit dapat teraktivasi dan terjadilah awal sumbatan di dalam pembuluh darah dan atau di dinding pembuluh darah.
Pada saat pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium, terjadilah semua proses yang tersebut diatas, sehingga kejadian trombosit menggerombol, sangat mungkin terjadi, antara lain keadaan:
-
pengambilan darah yang sulit pada pembuluh darah yang kecil, terutama pada bayi dan anak, sehingga trombosit telah teraktivasi dan menggerombol
-
kasus individual yaitu trombosit pasien yang memang menggerombol setelah kontak dengan bahan anti pembekuan (supaya darah tetap cair dan dapat diperiksa dengan alat) yg dipakai dalam tabung penampung darah
-
kasus individual yang lain yaitu trombosit pasien sangat peka dengan kontak dinding tabung dan cenderung teraktivasi dan menggerombol
Apabila ini terjadi, maka saat sampel darah diperiksa dengan alat, jumlah trombosit terkesan rendah.
Semoga bermanfaat.
Gambaran sumbatan hemostasis, dalam format flash swf, silahkan download di sini.
Penulis: TH. *seorang sejawat yang tidak mau dicantumkan namanya.* … maturnuwun yo mbak
… ditunggu sumbangan informasi kesehatan selanjutnya.
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::




















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)





Kalo kekurangan trombosit, berarti kita sakit apa, Dok?
@ isnuansa:
Wah, pertanyaan pendek tapi perlu jawaban puanjang…
Kita ringkas aja ya Mbak …
Pertama, trombosit tidak dapat digunakan untuk menilai penyakit tertentu tanpa pemeriksaan klinis, keluhan dan komponen pemeriksaan lain sesuai kecurigaan seorang dokter terhadat penyekit-2 tertentu setelah memeriksa pasiennya.
Untuk itulah biasanya pemeriksan trombosit disertai pemeriksaan lain, misalnya: Hitung Jenis Darah, Enzym liver, Kematokrit, dll.
Kedua, secara umum disebutkan bahwa beberapa penyakit yg berhubungan dengan penurunan trombosit, diantaranya:
A. Penyakit-2 karena penurunan produksi trombosit, yakni: Defisiensi (kekurangan) vit.B 12 dan asam folat, Leukemia, Kegagalan Fungsi Liver, Sepsis (infeksi menyeluruh), Demam Dengue, beberapa penyakit herediter, Malaria, dll.
B. Penyakit-2 karena perusakan trombosit, yakni: ITP, TTP, Sindroma helmolitik uremik, Disseminated intravascular Coagulation (DIC), Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria (PNH), Systemic lupus erythematosus (SLE),
Demam Dengue (dengan pelbagai variannya, HIV, dll.
C. Penyakit-2 karena pemakaian obat tertentu dalam jangka panjang.
Trims
Wah knp nih cak kok temany skr ttg trombosit. Jgn2 msh nyambung sama kasusny bu prita ya cak,hehe…
Sebenarny ada perbedaan yg signifikan gak sih cak antara pengukurn trombosit scr konvensional (spt yg di pusksmas2 ndeso) dgn cara modern (spt yg ada d rumah sakit btaraf internasional).Mgk kl lbh murah iya,tp ada beda yg lainny gak cak.
Lamany wkt antara pengambilan darah hingga smp pd pemeriksaan trombosit apa jg menyebabkn trombosit menggerombol cak.
Terima kasih cak,tulisanny byk membantu.
@ Besan:
Artikel ini sumbangan dari senior sy… mungkin beliau menulis ini agar khalayak memahami bahwa nilai Lab tetep harus disesuaikan dengan kondisi seseorang dan konfirmasi deng hasil lab yang lain.
Perbedaan cara konvensional dengan modern selalu ada.
Ada sisi negatif dan postifnya. cara modern gak selalu mahal, kecuali menggunakan reagen yg mahal. Dan beberapa item justru bisa lebih murah karena dengan cara moderon, diperlukan reagen yg jauh lebih sedikit. Artinya, seandainya dg cara konvensional 1 botol reagen dapat untuk memeriksa 20 orang, dengan cara modern dapat untuk meriksa 40-50 orang, dan tentu lebih cepat.
Perbedaan lain, yg menurut saya perlu diperdebatkan adalah, cara modern mengguanakan mesin untuk menilai hasil Lab. padahal mesin tersebut gak meriksa pasien… sehingga dikhawatirkan diskripsi (bahkan diagnosa) hanya berdasarkan Lab justru mengaburkan diagnosa yg sesuangguhnya. dan masih banyak perbedaan lain…
ya, bener … lamanya waktu jeda dapat menyebabkan trombosit menggerombol.
Wih, bahasan ini koq jadu mendalam yaaa…. hahaha
Trims…
Kan nilai normal laboratorium untuk anak kecil kan berbeda dengan dewasa. Pada kertas lab kan biasanya tercantum nilai normal untuk dewasa. Perbedaan nilai normal ini lagi-lagi kebanyakan mengambil dari referensi orang bule yang berbeda iklim dll. apa ada pengaruhnya dengan kurang akuratnya pengobatan yang akan dilakukan?
@ necel:
Nilai Lab tidak selalu berbeda antara dewasa dan anak. Adapun nilai Lab normal masing-2 Lab klinik bisa berbeda parameternya bergantung pada referensi yang digunakan dan “faktor lain”.
Benar, sebagian nilai normal lab bergantung pada banyak faktor, diantaranya: ras, kultur, dll. Pengaruhnya bukan pada pengobatan tapi lebih pada interpretasi menilai hasil Lab dengan pemeriksaan klinis yang dilakukan seorang dokter. Karenanya, pemeriksaan klinis seorang dokter berperan sangat penting dim belahan dunia manapun dalam menegakkan diagnosa.
Trims