PUYER DALAM SOROTAN
Sekitar seminggu (lebih) yang lalu, pembahasan seputar puyer kembali menghangat. Tayangan RCTI tentang puyer tak pelak mengundang beragam reaksi, baik yang pro, kontra maupun apatis. Wajar, layaknya setiap perbuatan ataupun pemberitaan, pada umumnya menuai 3 reaksi, yakni pro, kontra dan apatis. Terlebih topik yang ditayangkan emang melibatkan banyak pihak dan menarik untuk dibahas.
Dalam menyuarakan pendapatnya, masing-masing pihak mempunyai argumen berdasarkan referensi, penelitian,pengalaman pribadi, pengamatan langsung, opini, urun rembug atau bahkan sekedar meluapkan uneg-uneg menurut sudut pandangnya. Itu semua patut dihargai. Yang penting, menurut saya, adanya kesadaran dan langkah nyata untuk memperbaiki kualitas layanan medis khususnya terkait penggunaan obat yang rasional (dengan segala parameternya). Dan yang lebih penting lagi adalah tumbuhnya kesadaran bahwa masyarakat boleh mempertanyakan obat yang digunakan sesuai penyakit ataupun gangguan yg dideritanya. Mengkritisi, menolak, tidak dilarang, sesuai hakikat ilmu kedokteran yang terbuka dan dinamis seiring dengan perkembangan terkini. Apalagi dengan makin mudahnya akses informasi melalui berbagai media.
Andai masyarakat makin pintar untuk memilih, tentu merupakan harta tak ternilai sesuai SKN (Sistem Kesehatan Nasional) yang salah satu tujuannya adalah mengamanatkan penyebaran informasi kesehatan yang benar dan luas bagi bangsa Indonesia.
Tujuan tersebut bisa tercapai jika “tirai remang” yang menyelimuti dunia medis (dalam hal ini layanan pengobatan) diungkap dan mengurai benang kusut bersama-sama manakala dianggap terdapat ketidak wajaran. Kalo sudah begini, maka seyogyanya kita menanggalkan kepentingan lain demi kepentingan yang lebih luas. Kadang mungkin pedih, menjengkelkan, merasa ditelanjangi *ihhh, p0rn0*, merasa dirugikan, gak etislah, merasa kredibilitasnya diturunkan atau perasaan apalah … tapi, apa salahnya kita berbagi ?
SEKILAS KILAS BALIK
Mungkin masih segar dalam ingatan para praktisi kesehatan tentang gerakan (program) masif rasionalisasi obat yang dikenal dengan QA (Quality Assurance) yang dicanangkan oleh Depkes pada pertengahan dasawarsa 1990-an di seluruh Puskesmas dan RS menggunakan parameter yang ditetapkan oleh WHO. Salah satunya adalah rasionalisasi penggunaan obat, menyangkut indikasi, dosis, lama pemberian, keamanan (dan harga). Sangat disayangkan jika cikal bakal gerakan tersebut tidak dilanjutkan dan dikembangkan sehingga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Menurut saya, program tersebut sangat bagus lantaran dilakukan evaluasi berkala untuk menilai dan menindak lanjuti pelaksanaan rasionalisasi obat di lapangan. Sssstttt, koq gaungnya melemah ? Bagaimana Dinkes ? Bagaimana Komite Medik RSUD ? Ataukah program tersebut sudah dikalahkan oleh lambaian beraroma bisnis dari pihak lain ? Ayolah, crita dong …
ADAKAH YANG DIRUGIKAN ?
Hmmm, sungguh saya gak tahu … kalaupun ada yang rugi, … yang rugi apanya dan berapa kerugiannya ? Kalaupun ada dokter yang merasa dirugikan atau merasa kredibilitasnya diturunkan dengan adanya gonjang-ganjing puyer, bukan berarti mewakili semua dokter, buktinya saya enggak tuh, malah sebaliknya.
Kemarin dulu kami di milis ngobrol masalah “tayangan puyer”, enjoy, gak ribut. Sambil guyonan, seorang temen berujar: “… puyer iku yang bikin masalah adalah dokter yang membuat resep bermasalah…”, sementara yang lain berkata: “ … ada 10 % di situ, Mok … “. Tuiiiiing …
Bagi saya gak papa buka dapur. Pendapat pelanggan (pasien dan masyarakat) emang diperlukan kalo ingin masakannya nikmat dan sehat. Pun bagi yang merasa dapurnya gak boleh diotak-atik (dengan berbagai alasan), gak papa juga. Toh pada akhirnya para pelanggan (pasien dan masyarakat) akan memilih.
Sejauh ini, saya belum melihat ada masyarakat yang bingung terkait tayangan puyer (di ndeso tempat kami), entah di tempat lain. Kalaupun ada yang bingung gampang aja koq, … jelaskan ! Dan biarkan yang bingung mencerna penjelasan kita, beri kesempatan pula untuk mencari tahu dari sumber lain.
Mungkin ada yang menganggap bahwa tayangan Polemik Puyer ditunggangi pihak tertentu, ato mungkin ada anggapan persaingan bisnis, … gak ada yang ngelarang bagi siapapun yang mau berprasangka bersumpek ria. Kalo saya mending memperbaiki layanan dari hari ke hari, memperbaiki dan terus berupaya memperbaiki walaupun kita sadar seorang dokter tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang. *terutama saya sendiri, hehehe…semangat!!!*
HARAPAN
Mohon maaf, saya tidak menampilkan ulasan dari berbagai pihak terkait polemik puyer karena udah sangat banyak dibahas.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang pro maupun kontra dengan segala argumennya, saya (tidak mewakili siapapun) berharap rasionalisasi obat (dalam hal ini puyer) terus dibahas *sampe mblenger tuntas*
… agar tercipta formulasi dinamis rasionalisasi obat untuk kepentingan masyarakat luas dan tercipta pula komunikasi aktif antara dokter-pasien yang dibangun secara berkesinambungan, bukan hanya diukur dengan jumlah menit di ruang praktek ataupun di meja dokter-pasien.
Tentu tidak semudah membalik telapak tangan untuk memperbaiki sistem, namun saling mengingatkan bahkan oleh masyarakat awam tanpa kajian ilmiahpun patut dihargai. Sudah selayaknya kita memberi ruang bagi masyarakat luas sebagai pengguna jasa layanan medis untuk berpendapat.
Substansif ataupun tidak substansif, ga papa … Andaipun meluas kemana-mana hingga menembus ruang-ruang gelap layanan medis, gak papa juga … Yang penting, kita niatkan untuk perbaikan sistem dengan kepala dan hati dingin serta itikad baik, … tanpa hujatan … sambil guyon juga gak papa …hehehe… *sepakat, tosss*
Silahkan berbagi
… *saya mau leyeh-leyeh, ndengerin gending dari tetangga sebelah*
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::


















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)







pakdhe aku copy paste ke fesbuk ku boleh ya?
*bisik2: email pakdhe apa yaaaaaa? nanti ku add nya*
@ nika:
monggo silahkan
Boleh, Mbak
…ooooalahhhhh, tibake selain multiply ada yg di blogspot.. hehehe
cakmoki2006@yahoo.com
Ah cak moki,puyer aja dipermasalahin.Aku dulu dikasih puyer gak pa pa tuh..Malah kata ibuku aku tidur terus setelah dikasih puyer.
Tp begitu bangun sembuh lho..Hee..
Malem Cak….
Lama gak mampir, boleh nanya khan…
Puyer dalam kemasan kertas, yg beberapa tahun belakangan ini kemasan kertasnya sudah diperbaharui, agar lebih baik kali yeeeeeeee…
Lha terus klo sediaannya dalam bentuk kapsul, apa bedanya y??
Anak sy di usia 10 thn pun msh sempetnya dapet racikan obat dalam bentuk kapsul.
@ Andri Journal:
iya, hehehe… kalo udah menyangkut kualitas`layanan medis saya gak betah untuk tidak ngomong.
Sy dulu malah cukup dielus kepala saya oleh eyang putri dan disangoni, keluar pintu langsung sembuh … hahaha
@ Greeny:
Malem Mbak,
Sama aja … beberapa obat ditumbuk lantas dibagi-bagi trus dimasukkan capsul atau dibungkus puyer… ntar bisa-bisa capsulnya segede jari kelingking
Bisa koq minta yang terpisah sehingga obat yang gak diperlukan lagi dapat disimpan.
Halo Cak,kenelkan saya pelanggan baru.Saya sangat setuju dengan ulasan Cak,kita memang harus semakin menggalakkan gerakan melek
obat dan kesehatan pada masyarakat awam.Bravo buat Cak!
Malem lagi cak….
He eh .. setujuh, 8, 9, hahaha..
kapsul segede kelingking susah amat yak menelannya, iiiiiiiich..!!
sebenernya nih cak.. pengen tau…, apa memang semua jenis obat dapat dicampur bgitu aja?? *garuk2 kepala, binun* apa gak ada reaksi atas pencampuran obat tsb yang kadang2 lebih dari 3-4 macam obat dijadikan 1??
mampir ah, duh kakek.. gaul juga di dunia pemberitaan rupanya
iya nih akhir2 ini dibahas soal puyer mulu, kei sndiri pernah ko minum puyer atau kapsul.. (waktu jaman kecil) tapi skrg udh ga pernah tuh..
hehehe…
tapi perasaan ga knp2,, hahaha.. ga nyimak kei
klo sy sih g mau repot cak. hehehe…. klo cm dikasih penurun panas aja udah sembuh. ngapain kasih obat banyak banyak. hehehe… apalagi klo cm dielus aja kepalanya udah sembuh. eke jg mau. mgkn ini y yg bikin ponari jd laris……. (geleng- geleng)
iya Pak, bikin puyeng aja nih masalah puyer.
malah saya sempet dapat imel mengenai petisi penolakan puyer.
ntar ah, baca lagi kalo udh ada kesimpulan dari Cak Moki hehehe….
sekarang tak maksi dulu.
@ rimbun:
Halo … salam kenal juga.
Trims supportnya
@ Greeny:
Malem, Mbak
…sepuluh, 11…12.
Campuran obat adakalanya diperlukan untuk menguatkan efek obat satu dengan lainnya.
Secara umum, campuran 2 ato lebih jenis obat akan berdampak:
1) saling menguatkan (sinergis)
2) mengambat salah satunya (inhibisi)
3) gak ada efek apapun
Nah, dokter selalu mempertimbangkan efek-efek tersebut pada saat memberikan resep beberapa jenis obat. So, gak perlu kuatir soal tersebut, yg dipermasalahkan adalah rasionalisasi-nya.
@ keishka:
yaaaaaa, gaul lah
eh, sekarang dah gede tho?
@ irma:
iya bener…gak perlu buru-buru “nyumbang dokter” kalo hanya panas, kecuali kalo dengan penurun panas ga turun-2, mau gak mau deh … hehehe
@ evi:
ntar akan mengerti dengan makin banyaknya informasi seputar puyer.
gak perlu puyeng
Saya ga menyimpulkan karena udah sy tulis di posting sebelumnya … hehehe, ntar ah..mau nikmati kolak dulu
sebenarnya saya juga ndak suka pakdhe dikasih puyer.. mending dikasing sangu duit merah sukarno hatta, dijamin pasti sembuh!
mksdnya dah gede apa nih kek?? hahahaha, kira2 aja kalau kei masih minum puyer2.. kesannya ga bs nelen obat,,, hahahaha
yo opo Cak.
wis mulai lereb iki…lah kok mlah diobyak-obyak maneh…
ati-ati loh sampeyan ndak dikiro demi kepentingan tertentu..sengaja dihembuskan terus…ono udang dibalik mirong….yo enak ne udang…yo iki puyer Cak po ra tambah kliyengan.
gung liwang liwung mangans ego jagung…emoh ne Puyer….
lah terus ne puyer no 8…..wah kampanye ra enthok loh….
nuwun Cak,
http://puyer.wordpress.com
wah menyejukkan sekali tulisannya.
sempet ‘panas’ baca komen dari pihak yang defensif.
tapi setelah dipikir2 kenapa juga saya harus panas, anak saya ga pernah kena puyer, tinggal ga di indonesia, alhamdulillah dokter disini jg cukup rasional, anak saya diresepin parasetamol aja ga pernah
numpang posting di fesbuk ku ya pakdhe..
kalau menurut saya mau pakai atau gak pakai puyer itu bukan komsumsi media massa, tapi ada pada ranah ilmiah. jadi harus dikembalikan kesana. kalau memang mau tidak dipakai ya lewat jalur ilmiah, debat ilmiah antara kita praktisi, rekomendasi dari organisasi profesi, akademisi.
kalau nanti hasilnya, puyer mau dihilangin, ya ayo kita semua hilangkan. kalau tetap dipake ya ayo…
yang salah itu bila hal yang kita sendiri praktisi dan akademisi masih belum sepakat dilempar ke media massa dan orang awam. jadinya CHAOS, BIASnya banyak…
analog gampangnya gini: khitan saat ini metodenya banyak, ada yang dorsumsisi,guillotine, , dll. nanti kita kalau khitan bisa-bisa dilarang memakai metode khitan dengan guillotine,bila ada dokter bedah yang gak suka metode itu, dan memasukkannya ke RCTI…opini publik terbentuk, guillotine itu bahaya. Lha terus, yang seneng guillotine ngundang TV lain untuk menyuarakan pendapatnya. jadinya masyarakat bingung, tuntutan malpraktek disana-sini, padahal yang dikhitan gak papa. Gak lucu khan…mau jadi dokter atau politikus?
http://drbangkit.wordpress.com/2009/02/22/puyerpolemik-atau-politik/
@ nika:
wah, itu mah paling mujarab
@ keishka:
kalo yang gede racikan (sama dan sebangun dengan puyer dalam bentuk yang lain)
@ puyer:
hahaha, lha wong cuman dikiro kepentingan pihak tertentu aja koq takut … timbang kampanye, hayo…
@ freji:
beruntung tinggal di negara yang udah menerapkan rasionalisasi obat … di sini emang masih perlu perjuangan panjang walaupun harus berdebat dengan temen sendiri.
Monggo kalo mau posting di fesbuk, kita mempunyai kewajiban yang sama agar bangsa kita jadi pinter walupun jalannya berbeda.
Moga sehat selalu
@ drbangkit:
… tentu siapapun boleh mengungkapkan pandangannya dari berbagai sudut pandang, politik, farmakologi, komunikasi, psikososial, ekonomi bahkan uneg-uneg sekalipun.
Politik ??? hmmmm *ngelus-2 janggut*
Adapun dipecaya atau enggak oleh khalayak, maka waktu jua yang akan menentukan.
Tentang ilmiah, saya gak bisa komentar banyak, mengingat bahwa bidang medis bersentuhan dengan bidang lain bahkan dengan khalayak.
Saya hanya ingin menyampaikan kalimat sederhana bahwa Blog ini hadir tanpa belenggu label ilmiah. Cita-citanya sangat sederhana, yakni ingin berbagi dan berharap agar blog ini dapat memberi sedikit manfaat. Ternyata yang sederhana inipun sulit dicapai. Kalaupun cita-cita sederhana sy tidak tercapai, maka saya yang salah dan perlu lebih giat belajar
Lagipula, saya tidak mudah gegabah mengatakan “tidak ilmiah” terhadap publikasi kajian para ahli tentang kecenderungan tidak rasionalisasi peresepan puyer. Dan kajian tersebut disampaikan secara berkesinambungan di ranah publik sejak belasan tahun yang lalu.
Lebih dari itu, saya termasuk yang meninggalkan puyer lebih dari 10 tahun yang lalu, dilandasi kesadaran dan alasan-alasan yang saya tuangkan pada posting sebelumnya…. hehehe.
Met berkarya, moga sukses
Pagi cak moki, aku seneng baca tulisan2nya. Apa boleh aku minta ijin posting tulisan cakmoki di FB ku?hehe
Salam,
Mita
-ibuSiKembar&arekSuroboyo Juga-:P
Pagi cak moki, aku seneng baca tulisan2nya. Apa boleh aku minta ijin posting tulisan cakmoki di FB ku?hehe
Salam,
Mita
-ibuSiKembar&arekSuroboyo Juga-
aduh cak moki.. adem bener moco tulisan iki..
setujuuu…
tidak ada yang sia2 dari tayangan polemik puyer.. banyak mata yang jadi terbuka, banyak yang terkagetkan.. paling tidak, banyak konsumen kesehatan mulai belajar sedikit lebih sedikit.
biarlah polemik ini menjadi pintu gerbang untuk merubah pola pengobatan di negara kita ini yang masih sangat jauh dari rasional.
ndak papa juga kalau banyak dokter masih mau stay di comfort zone-nya.. tinggal konsumen yang harus pintar memilih kan?
dr bangkit,
soal puyer, yang akan menjadi korban kan umumnya anak2.. ya jangan didiskusikan sendiri doong.. biar kita para orang tua (sebagai wakil dari anak yang belum bisa mengambil keputusan sendiri) bisa belajar, dan kelak bisa mempertanggungjawabkan ke anak kita.
oia, satu lagi.. saya sempat baca ini di blog dokter
–quote–
Pikir saya: Terus kalau pasiennya cm datang konsultasi, mending pasien banyak saya kumpulin semua untuk disuluh bersama-sama. Spesialis sih enak, sekali konsultasi narik ratusan ribu, la yang dokter umum ini…
–unquote–
setau saya.. dokter itu profesi yang mulia.. pastinya gak bisa diukur dengan rupiah..
bukannya kalimat pertama dari sumpah dokter indonesia adalah “saya akan MEMBAKTIKAN HIDUP SAYA guna KEPENTINGAN KEMANUSIAAN”?
seneng banget waktu denger prof riyanto bilang di tv, bahwasanya kewajiban sorang dokter untuk memberikan edukasi ke pasiennya, dan bila perlu, mengembalikan pasien ke jalan yang benar kalau selama ini salah.
tapi… saya kecewa waktu ketua idi bilang bahwa hak pasien untuk menolak ke dokternya, tanpa menyinggung soal kewajiban dokter sama sekali
senangnya yang jadi pasien cakmoki.. gak dapat puyer.. bisa dapat ilmu.. bisa menikmati gending pula..
moco mawon ah……*sambil nyruput kopi panas*
Salam kenal Cak….
polemik puyer ini sebenernya buat saya adalah bahan pembelajaran….
pertama belajar kenapa negara kita masih menggunakan puyer utk pengobatan penyakit anak-anak, padahal negara-negara tetangga kita sudah tidak ada puyer ini, bahkan klo saya cerita ke teman saya yang di luar negeri (pake bahasa Inggris tentunya) saya harus menjelaskan proses pembuatan puyer biar temen saya itu ngerti, secara saya belum nemu bahasa inggrisnya puyer….
kedua saya jadi bertanya-tanya (sekarang sih sudah nemu jawabannya) sebenernya penyakit anak-anak yang seperti apa sih yang perlu obat sebegitu banyak?? pake digerus jadi satu, terus dibagi-bagi berdasarkan feeling si penggerus obat… klo penyakitnya penyakit umum seperti batuk pilek demam diare, tata laksananya bukan pake obat sebanyak itu… selain itu klo orang dewasa yang kena penyakit batuk pilek demam diare umumnya juga ga pake obat sebanyak itu…. lha kok anak-anak yang mesti mencicipi obat sebanyak itu klo sakit batuk pilek demam diare???
gitu dulu deh….
Cak, saya sebenarnya juga agak bingung, heran, marah, curiga, dan segala jenis perasaan lainnya. Maklum akhir-akhir ini opini puyer, apotek dan apoteker makin santer. Beritanya juga sepihak. Saya selaku apoteker juga sangat gerah. Sayang sekali tidak ada perwakilan apoteker yang benar-benar kompeten mau meluruskan opini “negatif” ini. Misalnya dari para profesor farmasi, ISFI, dll.Pihak farmasi seakan diam semua. Trus dokter yang di RCTI itu malah berkoar terus.Kok ujung-ujungnya ada pihak yang sangat dirugikan yaitu apotek dan apoteker
Kalo dari pihak apotek sebenarnya sih seneng-seneng aja gak ada resep puyer yang artinya kerjaan jadi tambah ringan. Tapi dari segi keefektifan belum ada bukti bahwa puyer tidak efektif dibanding obat jadi.(kuliah tentang puyer ada di farmasi). Kalau memang puyer dianggap tidak baik, mari kita buktikan secara uji klinis, dll. Saya buktikan sendiri pada anak saya yang saya beri resep puyer jadi lebih cepat sembuh dibanding sirup (parasetamol misalnya). Kenapa? Karena obat jadi dari pabrik tidak bisa menjamin dosis yang tepat secara individual. Misal sirup OBH, dosisnya 1 sdt untuk umur 3-8 tahun misalnya, apakah anak 3 sd 8 tahun itu dosisnya sama? Para dokter kan juga dapat ilmu tentang dosis kan? Begitujuga antibiotik.
Lalu jika digeneralkan puyer itu tidak baik apakah fair? seharusnya butuh peran semua pihak untuk memberi info yg benar pada masyarakat. Dari pihak apotek juga sangat diperlukan standarisasi pelayanan kefarmasian. Untuk dokter juga perlu meningkatkan pelayanan kedokterannya. (masih ingat berita tentang dokter yang bertanya mau puyer apa kapsul. Dokter melakukan dispensing bahkan tanpa diagnosa).Nah sayangnya opini memburuk di pihak apotek. Padahal banyak kekeliruan juga di pihak dokter, tau sendiri kan contohnya.
Akhirnya masalah-masalah seperti ini menjadi tanggungjawab semua pihak baik dokter, perawat, apoteker, dll. Bukan malah memperuncing kesenjangan dokter-apoteker. Oke selamat bertugas.
hmmmmm….. *sambil gheleng2 kepala*
@ Mita:
Met Siang mbak *soale njawabnya siang*
Monggo, silahken
Wah, si kembar lucu-lucu …serba pink, rek
ooo..tibake lagi sibuk nambah ilmu Sby-Jember ya
Moga sukses
@ ria:
Maturnuwun supportnya mbak
Saya juga senang masyarakat sudah berani menyampaikan pendapatnya, terutama para ibu, terkait masalah layanan kesehatan, lebih khusus lagi tentang obat rasional.
Sejujurnya, tantangan terberat kami bukan dari pihak eksternal bidang medis tapi justru dari dalam … hahaha.
Terimakasih pula telah mengingatkan mukadimmah Sumpah Dokter.
Semangat !!!
@ meilinpruwita:
nyruput kopi juga ahhh
@ Lita:
Salam kenal Mbak
Saya sependapat… mestinya kami-kami tidak perlu malu untuk memperbaiki diri, wong memang perlu perbaikan… hehehe.
Selain itu, pasien datang ke dokter gak harus dapet sak tas kresek obat yang mbuh untuk apa aja. Bisa jadi hanya perlu satu atau dua jenis obat atau bahkan gak perlu obat kalo setelah diperiksa emang gak diperlukan obat.
Maturnuwun share-nya… ini pembelajaran juga, khususnya bagi saya
@ lidya:
Salam kenal Mbak
Saya paham atas apa yang disampaikan dan pengalaman pribadi yg selama ini dialami.
Maaf saya berbeda pendapat. Dokterpun dididik praktek membuat puyer, namun esensi praktek tersebut terletak pada efek farmakologisnya (efek terapi, interaksi, dll..dll), bukan disuruh membuat puyer.
Kelemahan sistem kita, menurut saya, terletak pada egoisme sektoral, sehingga menjadi sulit berpikir tenang dan membuka diri terhadap pendapat maupun masukan pihak lain.
Lebih dari itu, sesuai sumpah dokter, pasien harus diperlakukan sebagai insan mulia yang patut mendapatkan layanan terbaik sesuai integritas keilmuan, bukan sebagai obyek hanya karena mereka butuh dan dianggap gak ngerti apa-apa.
Perbandingan Mbak soal syrup parasetamol dan puyer juga gak bisa dijadikan ukuran. Harus dilihat dulu penyakitnya dan isi puyer. Kalo isi puyer adalah parasetamol juga, barulah fair.
Lha kalo misalnya isi puyer mengandung antibiotika dan lain-lain, membandingkannya juga harus dengan obat jadi sejenis dengan dosis dan cara pemberian yang sama.
Selain itu, bukankah dosis terapi memiliki dosis maksimal dan minimal?
Tentang dokter dispensing, saya udah pernah nulis… menanggulanginya gampang banget. Silahkan para apoteker terjun dan mengabdikan diri di pelosok negeri (puskesmas-puskesmas sampai daerah terpencil) bahu membahu bersama sejawat dokter yang jauh dari apotik di kota.
Contoh, di kaltim, daerah ulu Sungai Mahakam, memerlukan waktu berhari-hari hingga satu minggu untuk nyampe ke sana.
Apa mereka dikasih resep untuk nebus obat ke kota?
Silahkan direnungkan…. kita tidak hanya bicara kalangan dokter dan temen-temen farmasi semata, tapi sudah memasuki kepentingan khalayak luas karena menyangkut banyak aspek. Bukankah kita wajib mendengarkan suara mereka?
Kalaupun merasa dirugikan, lebih fair kalo menyebutkan jenis dan jumlah kerugiannya, bukan perasaan yg dipicu oleh rasa gerah semata.
Andai mbak Lidya hidup dan tinggal di daerah seperti tempat kami atau lebih pelosok lagi, serta bergaul dengan masyarakat kebanyakan, saya yakin, pandangan mbak sedikit demi sedikit akan berubah.
Saya yakin, tersamar ataupun terbuka, polemik akan terus bergulir.
Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan memilih.
Sekali lagi mohon maaf jika sikap saya berbeda.
Tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi saya untuk terus mensosialisasikan rasionalisasi obat dan saya tidak khawatir praktek saya gak laku…. hehehe. Saya percaya, Tuhan Maha Pemurah.
Terimakasih telah berkenan menyampaikan uneg-unegnya di sini.
@ susan:
hmmm juga … *sambil senyum simpul*
Pak..Lam kenal…artikel/tulisannya sy copy ke blogku yach..coz infokesnya menarik…..yg pasti nama penulisnya tetap dicantumkan koq…
btw..pak punya facebook??
http://nimrodhambuako.wordpress.com
http://dinkesbanggai.wordpress.com
@Ria
quote:
setau saya.. dokter itu profesi yang mulia.. pastinya gak bisa diukur dengan rupiah..
bukannya kalimat pertama dari sumpah dokter indonesia adalah “saya akan MEMBAKTIKAN HIDUP SAYA guna KEPENTINGAN KEMANUSIAAN”?
terima kasih sudah diingatkan. Insya Allah saya akan selalu berusaha memegan sumpah itu.
quote:
soal puyer, yang akan menjadi korban kan umumnya anak2.. ya jangan didiskusikan sendiri doong.. biar kita para orang tua (sebagai wakil dari anak yang belum bisa mengambil keputusan sendiri) bisa belajar, dan kelak bisa mempertanggungjawabkan ke anak kita.
–> yang saya masalahin bukan masalah inti ini berbahaya apa ndak. kalo anda berkecimpung di dunia medis anda akan tahu tidak ada banyak hal yang bisa diseragamkan dalam penatalaksanaan medis. Banyak metode yang berbeda. seperti analogi saya pada kasus khitan.
Inti masalahnya bila sesuatu yang diperdebatkan di dunia medis harus dilempar ke media massa. Lha kalau yang nentuin bahaya tidaknya sesuatu adalah opini publik, buat apa ada para peneliti?
Saya sudah bilang kalau puyer mau dilarang, ayo. tapi caranya harus benar. Ilmiah, akademisi, menghasilkan putusan puyer bahaya, jangan dipakai lagi. Terus jangan lagi diajarin di kurikulum, adakan sediaan syrup yang murah dan beragam. Maka Insya Allah, puyer akan ditinggalkan oleh dokter-dokter di Indonesia. tanpa bingung-bingung. Sudah banyak kok ilmu medis lama yang ditinggalkan (tidak dipakai lagi)dan diganti metode terbaru dengan cara seperti ini. Gak ada bingung-bingung dan chaos.
@ Ihm hambuako:
Lam kenal
Silahkan… boleh. gak dicantumin nama juga gak papa koq…enjoy aja…hehehe.
Fesbuk saya gak aktif, wong dulu hanya ngikutin invite temen-temen dan saya gak ngerti cara penggunaannya.
Trims link-nya yaaa… ntar malam saya pasang
saya setuju dengan ulasan anda, thanks infonya
@ gamal:
Makasih kunjungannya
walah, caak…
ndak dong aku… jadi puyer or no puyer nih?
btw cak, penggerus obatnya itu steril gak ya?
apa ada kemungkinan sisa obat pasien sebelumnya bercampur dgn obat untuk berikutnya?
@ Viska:
mengko suwi-suwi dadi dong…
No Puyer !
Nah itu dia, steril dan enggaknya serta keamanannya patut dipertanyakan, hehehe. bagi yang suka puyer mungkin dijawab aman, bagi saya gak rasional
sebagai mantan AA, sebenarnya dulu sih waktu sekolah juga diajarin gimana buat puyer yang bener. mortirnya dipanasin dulu, cuci, bersihin pake alkohol, ditimbang per bungkus agar benar-benar merata. tapi kalo sudah di lapangan, sering ga sabar..terlewati semua prosedur itu. belum lagi kalo pasien ga sabar, teriak-teriak minta cepet jadi. walaupun maklum juga namanya lagi sakit. jadi..sabar aja untuk saat ini. sabar nunggu resep jadi, sabar ngerjain resep dengan hati-hati, dan sabar kalo lagi sakit. aduh… sok sabar mode ON :p
@ bune radya:
Setuju Bu
Sabar…. sayapun merasa perlu untuk terus berlatih sabar … hehehe
waduh, lega…
gak salah deh curhat kesehatan sama cak dokter…
hehehe…
waah, komentar jujur dari bune radya… kira-kira saat ini berapa ya persentase peracikan puyer di indonesia yang baik dan benar, steril dan higienis… kalo benar di lapangan demikian kejadiannya, kira-kira efeknya apa ya, cak, sama puyer-puyer yang diresepkan… kan entah obat apa-apa aja tuh yg udah nyampur. mana kebanyakan yg minum puyer bayi dan anak-anak lagi… *prihatin mode on*
@ Viska:
Sy belum nemu angka pemuyeran di Indonesia. Dari artikel yang saya baca kebanyakan sampel di beberapa daerah.
Efek yang kasat mata, makin mahal, dan gak tahu isi di dalamnya.. main telen aja..hahaha.
Bahasan singkat tentang puyer, silahkan baca di Euforia Obat Racikan