Pagi kemarin, Selasa 26 Agustus 2008, saya berkesempatan ikut mendengarkan presentasi temen-temen bertajuk “Dokter Masa Depan”. Topik ini menjadi salah satu agenda pembekalan bagi mahasiswa baru pada masa orientasi dengan tujuan unttuk memberikan informasi dan gambaran kepada mahasiswa baru FK Unmul mengenai apa yang akan dihadapi setelah menjadi dokter kelak, terutama tentang berbagai peluang kerja bagi dokter.
PILIHAN LAPANGAN KERJA
Banyak pilihan !!! … begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan panitia kepada para mahasiswa baru melalui narasumber dari berbagai insititusi maupun praktek mandiri agar nantinya adik-adik (calon dokter) gak bingung-bingung amat menentukan pilihan.
Singkat kata, mo pilih kemana ???
| PNS … keren abis | dokter TNI – Polri | institusi lain |
| Praktek Mandiri | dokter spesialis | dokter swasta |
| dokter ndeso *asli* | dokter terbang | dokter WHO |
Banyak pilihan !!! … (tentu ada yang banting stir tidak berprofesi sebagai dokter, tapi yang ini gak kita bahas) Meski kebijakan pemerintah berubah-ubah terkait penempatan para dokter, pilihan lapangan kerja sangat terbuka (lebar) menanti para dokter untuk memanfaatkan ilmunya bagi kepentingan layanan kesehatan. Pilihan ada pada masing-masing para dokter.
Gak perlu takut bersaing dengan sesama dokter atau dengan dokter yang udah duluan lulus, toh yang memilih adalah pasien. Ketika para dokter praktek sebagi dokter mandiri ataupun kelompok, maka yang menentukan banyak sedikitnya kunjungan tidak bergantung pada senioritas semata. Tapi (cepat atau lambat) lebih dipengaruhi oleh komunikasi yang bersahabat, ketepatan diagnosa dan pengobatan, informasi yang mudah diterima, dan bisa jadi dipengaruhi juga oleh faktor-faktor non teknis yang tidak selalu bisa kita duga sebelumnya.
SEKILAS PELUANG … SILAHKAN PILIH
PNS … entah mengapa jajaran korp pegawai pemerintah ini masih banyak peminat. Urusan ribet banget … yang males, yang rajin, yang suka jalan-jalan, gajinya sama aja kalo golongan kepangkatan dan masa kerjanya sama. Malah seringkali yang males lebih cepet naik pangkat, soale kerjaanya emang ngurus pangkat, sementara yang rajin gak kober ngurus pangkat. Tapi silahkan pilih kalo emang suka … *gaji plus segala tunjangan untuk dokter yang udah PNS golongan III awal, masa kerja 0-5 tahun sekitar 1,5-2 juta rupiah…udah naik belum sih?* Jalur ini dapat ditempuh melalui PTT atau langsung ikutan test kalo pas ada test penerimaan PNS Pusat ataupun Daerah.
MASIH PNS … gak selalu di Dekes dan jajarannya koq, bisa aja di Departemen Perhubungan, misalnya sebagai dokter pelabuhan… naik turun kapal asing, asyiiiik. Atau, ada yang tertarik bekerja di Departemen Kehakiman ?… itu tuh, bekerja sebagai dokter Rutan ataupun dokter Lapas. Konon masih banyak peluang, mungkin karena kurang informasi. Bagi yang hobi ngajar, silahkan balik ke kampus, di bawah naungan Diknas … dll … dll…
MILITER … tinggal pilih mau TNI AD, AL, AU atau Polri. Pangkat awal Letda atau setingkat. Konon masih banyak peluang… Kalo dokter wanita dijamin enak, tugas di kota besar, sangat dihormati, pingin kemana aja tinggal perintah bawahan. Repotnya, kalo dokter wanita tersebut berpangkat kapten, sementara suaminya berpangkat lettu, .. kira-kira saat mo adegan ranjang, sang suami harus hormat lebih dahulu:” … siap melaksanakan tugas, kapten … “… setelah usai:“… kewajiban sudah dilaksanakan, laporan selesai…”.
*asli guyon, masa sampai segitunya sih, enggaklah*
BUMN – SWASTA … di sektor ini banyak pilihan nih, Pertamina, RS Swasta, Bidang Asuransi, Bidang Farmasi, Bidang Riset, NGO (LSM), Perusahaan-perusahaan, … dll … dll.
LUAR NEGERI … hmmm, kalo soal gaji mah silahkan pilih mo ke Timur Tengah, semenanjung Skandinavia (pernah baca di Tempo, gaji sebulan di Swedia untuk dokter umum setara dengan 2 tahun gaji PNS), dll … ato ngikut WHO dan lembaga-lembaganya … Atau, kali ada yang berminat jadi dokter terbang di Kanada, Aussie dll …dll.
PRAKTEK MANDIRI … beberapa teman di Samarinda memilih praktek mandiri selepas masa bakti PTT. Bahkan seorang temen yang praktek pagi-sore gak jauh dari rumah, menolak mendaftar PNS ketika ada pegawai Pemkot datang menawarkan peluang jadi PNS. Ada juga yang keluar dari PNS lantas praktek mandiri *dokter merdeka penuh, nih* … bener juga sih, daripada nunggu pensiun, mending memanfaatkan usia setelah merasa cukup mengabdi selama lebih 10 tahun… kata temen yang keluar dari PNS, saatnya mengabdi untuk keluarga, gak betah lihat korupsi hampir dimana-mana … *sokong 100%*
Akhirnya, kepada adik-adik mahasiswa baru FK Unmul, saya titipkan pesan melalui tayangan frame terakhir: DOKTER JANGAN KORUPSI !!! … *pancet ae*
Ok, adik-adik tercinta … selamat belajar dan semoga sukses.
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::


















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)




karena sy tidak bisa mengejar gelar dokter lagi….
menjadi pendamping dokter juga boleh.
btw semakin hari semakin banyak perguruan tinggi menyediakan program kedokteran, apa tidak membuat beberapa lulusannya bejibun?
pertamax
setelah lulus mo sekolah lagi masuk yang mana ? Ini termasuk yang belum mau kerja kali yaa ..
atau ini .. setelah masuk PNS
nyesel, karena lihat banyak kebusukan didalamnyamau cepet-cepet pensiun dini? ini masuk termasuk peluang, ngga ? hehehe …keduax
termasuk banting stir : jadi artis, pedagang obat, wakil Tn. Matt, kyai apalagi yach ..
cuma agak menggok : jadi dosen di FK, peneliti, penulis .. wah mentok.
*dukung cak moki berantas korupsi*
Tidak cuma dokter, hayo2 yg lain kita perangi korupsi. The silent killer. Harmfull than disease. Dangerous than nuclear!
Harus sedia duit banyak cak mau jadi dokter apapun.
Buat ujian kompetensi, STR, ikutan ACLS, ATLS, Hyperkes yang rata2 disyaratkan untuk kerja di perusahaan, UGD. Pokoknya duit2 melulu…
Belum lagi minimal 250 SKP tiap 5 tahun untuk memperbarui STR
Sejawat kita yg di Jawa justru banyak yg milih PTT, walaupun di swasta dan nggak dihonor, yg penting bisa praktek mandiri, terus ngeruwel saking banyaknya yg buka warung.
Salam kenal. Saya setuju pesan moral berantas korupsi. Dokter harus berani jadi PNS untuk memberi teladan dengan menjadi biroktrat yg tidak korupsi.
molimo eh.. sing kelimo
ada jalan yang lain cak agak lebih enteng tapi uang jasa tidak terlalu banyak yaitu dengan jadi dokter jamsostek.itung-itung cari pasien buat klinik swasta kita
hehehehehehehhehehe
berantas koruptor di indonesia
@ aRuL:
beneran, Daeng ??? mau ama dokter ? … di sini ada beberapa dosen muda yang masih single, asyik tuh sesama S2, ntartiap hari berdebat … lha kapan nggol-senggolannya
Emang kalo semua lulusan dokter milih di kota akan nampak bejibun, tapi ratio dokter berbanding penduduk Indonesia benernya masih kurang banget, terutama di daerah-daerah di luar pulau Jawa-Bali-Sumatra … sebagian besar dokter maunya pul-kumpul di kota …
@ draguscn:
… mo milih politisi, bintang iklan ato nyaingi cak Matt ???
hihihi, iya … lagi seneng sekolah kali …
eh, saya ngajukan pensiun dini sulit banget tuh, … mo desersi aja deh
Emangnya mau banting stir jadi selebriti ya …
@ Nika:
Semangat !!!
@ Astri:
Byuhhhhh,yang disebutkan itu mbayar semua yaaa ??? *cek sorone rek*
Saya khawatir ntar SKP sama dan sebangun dengan SKP kenaikan pangkat PNS, … katanya mbayar *mbayar terussss*
Mbak, misalnya gak ngurus STR dan SKP dan syarat-syarat praktek lainnya, apa ntar dipecat sebagi dokter??? Sangsinya apa sih? … Sssttt, jangan bilang-bilang ya, saya gak mau ngurus begituan, lagipula saya gak pasang plang praktek, … kali gak dapet sangsi, soale dianggepsama dengan tukang pijet …
@ Cak Anam:
Hehehe, iya … buka warung penting dong … walau ngumpulin duit bau lengo klentik siang penting buka warung
Lam kenal juga Mas … Maturnuwun
@ nandar:
Sssst, kalo boleh tahu, berapa jasa yang diberikan oleh Jamsostek?
hihihi, apa gak lebih enak jadi dokter merdeka aja ???
Ya, berantas korupsi !!!
kemarin kamis (28-08-2008) d kampus ada sosialisasi perwira karir untuk dokter, saya malah terbuka bahwa menjadi dokter bukan akhir masalah tetapi justru awal masalah.
Jadi inget waktu kecil dtanyain om,tante,dll, “besok gede mau jadi apa?”
“mau jadi doktel..”..eh skrg malah bingung mau jadi dokter yg seperti apa?
hehehehe.sedikit sih.perhari selama 3 jam cuma 30.000.bener sih mendingan jadi dokter merdeka
)
nandar praktik dokter jamsostek ingin belajar memahami komunikasi dan perhatian ama pasien.habis itu kita embat untuk jadi pasien pada dokter swasta kita.hehehehehehe(bercanda
nandar bercita-cita pengen punya dokter keluarga.jadi setiap RW pada suatu kelurahan ada dokter yang bertanggung jawab untuk kesehatan di RW tersebut.la terus gmn biayanya
biayanya tiap satu keluarga urunan sekitar 30.000 perbulan untuk biaya jasa dan pengobatanya(persis kayak jamsostek cak).hehehehehehe
tapi itu cuma cita-cita aja kok cak.
tapi nandar belum punya formula untuk saudara kita yang kurang mampu,apakah jamkesmas mereka berlaku untuk dokter keluarga
Yang jelas sudah pasti kalau lulus program Kedokteran ya… jadi Dokter, bukan?
Duit semua tuh cak…
Pembaruan STR yang butuh 250 SKP tiap 5 tahun. Nek gak sampe 250 katanya (soalnya belum ada yang nyampe 5 tahun) harus ikut ujian kompetensi, untuk menentukan apakah dia masih kompeten buat praktek.
STR sendiri kepake buat ngurus SIP.
@aRuL
yakin mau ari pendamping dokter? Modalnya gede lho… ya buat bayar yangtadi saya sebut itu
@Astri
Ah nggak juga mbak..masih banyak akhwat-akhwat (calon) dokter yang mau rekoso. Nggak semua calon dokter wanita mirip Meredith Grey, Miranda Bailey, atau Christina Yang yang ada si Grey’s anatomy.
Fitrah sebagai wanita dengan karir itu harus sejalan.
@ sibermedik:
Konon di militer yang agak soro saat Letda, setelah itu katanya enak…beberapa temen yang udah perwira menengah kayaknya asyik, spesialis lebih mudah…cuma klo kembali ke ke RS jadi residen, alamat digodain TS, soale di lingkungan kita kan gak ada hormat-hormatan … kalo pas di mall, cukup senyum-senyum, orang dah gemetaran, kecuali anak mertua
Asalkan saat praktek gak bawa pistol.
@ nandar:
wuih, iya…enakan jadi dokter merdeka … 3 jam praktek lumayan, biasanya 6 bulan pertama naboki nyamuk, setelah itu ehm..ehm…
Dokter Keluarga gak harus pake sistem kapitasi atau berlangganan, tapi dokter praktek yang berorientasi komunitas, terutama keluarga dan lingkungannya…
Met berjuang
@ devry:
iya, gelarnya dokter … adapun profesinya adakalanya banting stir jadi pengusaha ato artis, asyik juga kan …hehehe
@ Astri:
hihihi…. saya kalo ikutan sosialisasi SKP dan STR kadang (baca:sering) kudu ngguyu …*ngguyu tenan ding*… banyak banget itemnya. Ntar kapan-2 mo nulis soal ini.
Kalo TS yang di pedalaman kayaknya sulit mbak, …mo ngikuti Seminar, Symposium, Workshop dll duitnya gedeeee, trus katanya harus ninggalin rumah beberapa hari.
Cek sorone rek …
@ @ aRuL:
kalo melalui saya, jangan lupa bawa sepasang ayam yaaaa, …syarat tuh
Cak, maksudnya modal gede buat bayarin ikut seminar, urus SIP, STR, bukan buat yang lain2. Dihitung-hitung butuh sekitar 5 jutaan per tahun, belum termasuk biaya2 transpor, penginapan, dll.
Emang yang di luar daerah bisa tepar semua kena kayak ginian
@ Astri:
Lumayan juga ya …
Lima jutaan bisa untuk UMPC …internetan dimana saja dan kapan saja.
Bener Mbak, yang di luar daerah dan prakteknya do-re-mi, klenger…
Lha? Kok ngga ada foto “dokter blogger” Cak?
@ Ratna:
Ada mbak, … tuh di kanan atas … hahaha *narsis poll*
CAk, katanya Depkes nyediain beasiswa gratis sekolah PPDS buat dokter umum yang mau ya? ada info gak?
@ kisahdoktermuda:
Maaf, saya ga tahu ada program semacam itu …
Ntar mau tanya ke TS di Depkes
@kisahdoktermuda
Betul, memang ada program seperti itu. Tapi rasanya pendaftaran ke-2 juga udah selesai. Soalnya kemaren saya cuma dikasih waktu satu hari kalo mau ngurus2..
Setiap propinsi biasanya ngasih ke dinas kesehatan kabupaten langsung disebarkan ke dokter puskesmas dan RS. Jadi lebih cepat kalo nyari info di dinkes kab/kota domisili. Semoga membantu.
waow….makasih bgt cak moki…
jad tambah semangat belajar ne,,,apalagi skr FK ud pake sistem PBL,huff…
milih praktek mandiri apa lagsung sekolah lg ya entar??
@ pakdejack:
sama-sama
Pilihan banyak koq, … kalaupun sekolah lagi, tetap bisa praktek mandiri… udah banyak contoh dokter yang buka praktek mandiri, dokter umum maupun spesialis yang gak terikat dengan instansi manapun.
saya kok belum bisa berkata ingin bekerja seperti apa, kerja di jogja wis kepenak gtu… walo cuma kerja di satu klinik.pengen spesialis, tp …yaaaa..duit ga ada..pengen dpt gaji yg memadai ato minimal gaji diberikan tepat waktu…. tapi engga jg.
ah gpp..
@ wita:
Selamat.. udah kerja di klinik
Koq gak praktek mandiri napa?
mnrt sy praktek mandiri juga perlu modal, walopun minim bbrp ratus rb untuk urus SIP. sementara saat ini di dompet sy hanya 26 rb rupiah, hehehe cepatlah besok krn mungkin benar2 gajian…entahlah untuk praktek mandiri nanti2 sajalah. Kasihan pasien kalo tidak mendapat pelayanan yg maksimal.
@ wita:
iya, bener…tetep perlu modal. Kemarin 26 ribu, kali sekarang udah lebih… tanggal 1 gajian kan, hehehe… yang penting udah ada niat, adapun pelaksanaannya bisa ditunda kalo udah siap lahir dan batin, hiks kayak mau kawin aja *blethak*
Moga sukses selalu ya…
praktik mandiri sih boleh saja ya, terutama untuk yang idealis dan sudah punya warisan cukup dari ortu atau mertua, kalo seperti saya, kuliah di fk negeri pun, karena ortu orang menengah ke bawah dan sudah meninggal, maka harapan satu2 nya adalah kerja sama orang, entah itu sebagai pns ato dokter rumkit/klinik swasta,bikin klinik mandiri sekarang paling tidak butuh minimal 30-40 jt,dalam jangka 1 tahun belum tentu bisa balik modal, apalagi praktek dokter lain sudah bejibun,yang kayak saya ini bisa punya penghasilan di atas umr saja udah alhamdulilah banget, gak mimpi bisa jadi ppds ato pns pemda yang katanya banyak kkn-nya, apalagi jadi staf pengajar yang notabene diutamakan anak/menantu konsulen,lagipula praktek mandiri juga banyak korupsinya kok, ngebo’ongin pasien, harga obat sekian dibilang sekian biar dapet untung
@ alpha ww:
Lho ??? … hayo semangat !!!
Tak critani ya …
Untuk praktek mandiri, tidak harus langsung buka praktek sendiri begitu lulus uji kompetensi dan mengantongi SIP. Perlu waktu (tapi jangan terlalu lama), untuk menambah jam terbang sekaligus ngumpulin uang melalui kerja di klinik, RS dan institusi layanan medis lainnya.
Selama masa kerja di atas sebaiknya mulai menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar, informal leader, dll.
Soal modal sangat relatif. Toh bisa dimulai sedikit demi sedikit, trus pelan-pelan ditambah fasilitas praktek secara bertahap. Gak harus puluhan juta gitu ah. Lha emangnya mau praktek dimana sampe segitu gede.
Tentang PPDS, staf, kkn, ngebo’ongin pasien … biarin aja. Itu semua gak ada hubungannya dengan praktek mandiri. Dan gak perlu diikuti, justru ngasih contoh supaya gak ikutan korupsi.
Maaf, saya bukan menasehati, hanya cerita … cerita nyata yang selalu saya sampaikan kpd ts dengan harapan agar bersemangat.
Akhirnya, pilihan ada pada masing-masing.
Trims