BENARKAH OBAT RACIKAN LEBIH AMPUH ?
Setiap mudik ke Jawa, khususnya Jawa Timur, saya menyempatkan diri mengunjungi kerabat di beberapa kota. Ketika tiba saatnya ngobrol episode pengobatan muncullah beberapa dialog seputar “obat racikan” yang menurut anggapan sebagian dari mereka seolah merupakan obat mujarab.
Berikut di bawah ini adalah ringkasan dialog terkait obat racikan yang sempat saya ingat.
“… mas, saya kalo berobat selalu ke dokter A. Beliau ngasih obat racikan. Lumayan manjur, beberapa hari wis sembuh. Tapi mas, capsule guede-guede, hampir sak driji *jari* …”.
“… kenapa ya kalo habis minum obat asma racikan kok dadaku berdebar ? …habis minum obat jadi lega sih, sesaknya berkurang, tapi trus seluruh persendian terasa lunglai, gemeter… apa dosis tinggi ya ?…”.
“… anakku setiap ke dokter anak mesti diberi puyer, katanya obat racikan, padahal setiap minum puyer anakku muntah-muntah, obatnya gak masuk babar blas. Akhirnya tak belikan sirup penurun panas, waras-waras dewe …”.
“… koncoku ngasih rekomendasi agar berobat ke dokter B. Katanya sih resep obat racikan dari beliau ampuh. Halah… ampuh opo, udah obatnya gede, mahal, tiga kali berobat gak sembuh, … trus pindah berobat, dikasih 3 jenis obat, murah, waras …”.
“… anakku yang nomer dua berbeda dengan kakaknya, dia kalo sakit gak mau minum sirup, baru lihat botolnya aja udah huek. Saya bilang ke dokternya, trus sama dokternya dikasih puyer. Enak, begitu sembuh, obatnya saya hentikan, ntar kalo sakit lagi, sisa obat yang dulu itu saya minumkan, sembuh tuh …”.
“… mas, lha iya …wong hanya puyer sak iprit *sedikit-red* muahalnya ampun deh …apa gak ada tho obat yang murah meriah tapi manjur ?…”.
“… saya kalo ngeliat si kecil ngenes deh, abisnya sudah 1 tahun dia minum obat racikan untuk flek paru. Waktu kontrol dan rontgen ulang, kata dokter masih ada penyakitnya, disuruh nambah pengobatan 6 bulan lagi. Dia tuh kalo kena hujan pasti batuknya kambuh. Duhhhh, udah muahal, minum obat setiap pagi bangun tidur, kadang dimuntahkan … kasihan deh lihat mimik wajahnya seperti stres saat dibangunkan pagi-pagi untuk minum obat … trus sampai kapan dia minum obat ?…”.
“… anakku yang sekolah TK tempo hari sakit, panas trus kalo nelan katanya sakit. Oleh dokter diberi obat puyer racikan. Saya lihat isinya kalo gak salah eritromisin 200 mg, asetaminofen 250 mg, luminal 15 mg, sama singkatan-singkatan sing gak jelas, abis tulisannya jelek banget. Emangnya gak ada yang sirup ya ?…”.
Ungkapan para kerabat di atas gak sama persis dengan yang mereka ceritakan, tapi maknanya kira-kira seperti itu lantaran kami menggunakan bahasa Jawa.
Entah mengapa anggapan bahwa obat racikan lebih ampuh masih melekat di banak masyarakat kita. Ibarat gayung bersambut, para pasien merasa mendapat obat istimewa ketika dokter menulis resep sembari berujar:” …saya beri obat racikan ya …”.
Sungguh, bukan pekerjaan mudah untuk menerapkan pemberian obat rasional. Tantangan makin berat manakala dokter lebih suka memberikan obat beragam (polifarmasi) tanpa indikasi yang jelas dan di sisi lain masyarakat menganggap bahwa obat racikan adalah obat yang manjur.
Mas Rizal SpA (dokterearekcilik) salah satu dokter yang patut dijadikan teladan bagi para dokter, khususnya bagi saya yang lebih yunior. Beliau dengan terbuka berani menguak lapisan tembok tebal untuk memberikan pemahaman yang benar kepada kita semua seputar obat racikan melalui posting puyer pasti berlalu. *hehehe…koyok lagu ae*
Depkes RI melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Medik (1992) telah memberikan batasan sederhana terkait penggunaan Obat Rasional, yakni Tepat Indikasi, Tepat penderita, Tepat dosis regimen dan waspada terhadap efek samping obat.
Sedangkan WHO (1984), menetapkan batasan penggunaan obat rasional sebagai berikut:
-
Pemberian resep yang tepat
-
Penggunaan dosis yang tepat
-
Lama pemberian obat yang tepat
-
Interval pemberian obat yang tepat
-
Kualitas obat yang tepat
-
Efikasi sudah harus terbukti
-
Aman pada pemberiannya
-
Tersedia bila diperlukan
-
Terjangkau oleh penderita *tidak mahal-red*
Menilik batasan di atas, maka pemberian obat di luar batasan tersebut bisa dikatakan sebagai pola penggunaan obat yang tidak rasional.
Kendati pedoman ini sudah berlangsung belasan tahun dan para ahli berulang kali mengingatkan agar menerapkan penggunaan obat rasional, toh pada kenyataan sehari-hari penggunaan beragam obat (polifarmasi) dalam bentuk racikan yang dijadikan 1 capsul atau puyer masih marak.
Dalam Majalah Kesehatan Keluarga, Dokter Kita edisi 06 tahun III-Juni 2008, Prof. DR. Dr. Rianto Setiabudi, Sp.FK menyebutkan bahwa pemberian resep obat racikan (puyer) di luar negeri hanya 1%. Bagaimana di Indonesia ? … hmmm.
Argumen tentang pro-kontra terkait obat racikan di negeri ini masih berlangsung hingga kini. Terlepas dari apapun alasan yang dikemukakan para praktisi kesehatan, cuplikan dialog yang diomongkan penerima resep obat racikan di atas patut dijadikan renungan.
MENGUAK FAKTA
Tak bisa dipungkiri bahwa pemberian resep racikan berwujud puyer malah melambungkan harga obat yang harus dibayar pasien. Lha gimana, wong setiap bungkus puyer dan setiap tumbukan dibebani biaya yang harus dibayar pasien. *ada fee untuk dokternya gak sih…hehehe, guyon*
Kini, dengan makin lengkapnya obat paten dalam berbagai kemasan, sulit menerima alasan bahwa obat racikan lebih bisa disesuaikan dengan berat badan, mengingat dosis terapi setiap obat memiliki range dosis minimal dan dosis maksimal sesuai jenis dan berat ringannya penyakit. Apa obat jadi gak bisa disesuaikan ? Rasanya para pasien tidak sulit memecah obat menjadi beberapa bagian sesuai dosis yang dianjurkan dokter. Ini mungkin lebih mudah dan aman ketimbang menjadikan beberapa obat menjadi satu yang tidak bisa dijamin keamanannya dalam proses pembuatannya menjadi satu capsul atau satu bungkus puyer.
Coba kita bandingkan jika seseorang misalnya dianjurkan minum 1/2 tablet parasetamol (250 mg) lalu dia meleburnya dalam sendok air untuk diminum dalam sekali pakai dengan parasetamol 250 mg dalam bungkusan puyer atau dirubah bentuk menjadi kapsul demi label racikan. Adakah bedanya ? Tentu ada, yakni pasien harus manambah biaya numbuk parasetamol dan biaya membungkus puyer. Lha …
Lalu pertanyaannya, mengapa sebagian dokter masih suka memberikan obat racikan (beragam obat dalam 1 capsul atau 1 bungkus puyer) dan sebagian pasien masih mendewakan obat racikan ?
Terbersit dalam benak, seuntai kalimat di salah satu halaman pembuka buku Pedoman Penggunaan Antibiotika Nasional yang berbunyi: ” SAYA AKAN SENANTIASA MENGUTAMAKAN KESEHATAN PENDERITA “. Setidaknya kalimat ini menjadi pengingat bagi saya sendiri.
Semoga bermanfaat.
:: :: :: posting menggunakan WLW :: :: ::


















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)




Insya Allah bermanfaat Cak. Lama sekali saya tak berkunjung ke sini.
Saya memberikan obat racikan biasanya untuk pasien dengan berat badan dibawah 10 Kg, agak susah menulis atau mengatur pemberian untuk sirup pada berat badan demikian.
kalo yang ngaku ‘cespleng’ ya berarti ada kortikosteroidnya kan?
btw,obat racikan (baca:puyer) memang sering dberikan kalo pasien susah nelan padat (biasanya anak2),lha emang ada solusi lain?pengobatan ‘racikan’ kalo dhitung lebih murah daripada sirup..sosek pasien juga pertimbangan kan cak?pancen dilema..*bingung mode ON*
btw kok gak posting tentang kasus PERUT KAWAT?kan KALTIM ?
lha, pasien sendiri suka tersugesti Cak. Kalo gak dapet “racikan” katanya kurang afdhol. Padahal racikannya cuma parasetamol ditumbuk kan?
Atau malah placebo sekalian ?
Racikan…selamat tinggal? bagaimana sejawat spesialis dr Anak?
Numpang lewat dok, sekalian monggo kalo ada waktu jalan2 ke websehat(www.sehatgroup.web.id) nih, warga disini baik ibu/bapak yang ikutan milist bersama dokter2nya lagi gencar2nya saling meng-edukasikan diri perihal si puyer dan topik2 kesehatan lainnya terutama yang menyangkut kesehatan anak2…
Memang susah2 gampang buat memberikan pandangan yang benar tentang Rational Use of Drug ini ..
so tetep maju terus yah dok sampe akhirnya indonesia free of puyer..:)
Salam sehat
Tapi memang sulit terutama bagi TS di Puskesmas untuk berpaling dari puyer Cak. Lha wong Puyer Flu dan Puyer diarenya aja sdh dibuat sebelum pasiennya datang je…
langganan majalah Kontak ngga?
@ Nayantaka:
Maturnuwun Pak Dhe… wah, gak tau pakai rumah baru nih
@ imcw:
iya emang, untuk kasus dan berat badan mungil, kita kadang sulit menemukan yang sesuai…
@ sibermedik:
Gak mesti steroids sih, kadang antibiotik 3 macam …hahaha.
Ya jelas bayi gak mungkin nelan tablet, … seandainya perlu 1/4 tablet parasetamol, bentuk syrup ada tuh…atau kalaupun gak bisa sirup, seorang ibu tidak sulit membagi parasetamol menjadi 1/4 trus melarutkannya dalam sendok teh lalu diminumkan, atau membagi menjadi 1/4 bagian lalu menghaluskan sendiri dengan ujung sendok bersih lantas diminumkan, gak perlu bayar ongkos puyer…mana lamaaaa nunggunya di apotik.
Fakta menunjukkan bahwa puyer ternyata membuat harganya melambung kendati isinya hanya amoksisilin, parasetamol dan luminal… hehehehe
Kalo gak percaya, lihat copy resep apotik, taruhlah misalnya amoksisilin 100 mg, parasetamol 100 mg, luminal 6 mg… dijadikan 10 puyer… aslinya kan amoksisilin 500 mg 2 tablet, parasetamol 500 mg 2 tablet, luminal 30 mg 2 tablet …totalane gak sampai 10 ribu…lha begitu jadi puyer, byuh … bisa lebih 25 ribu tuh … dari segi sosek, makin mahal kan ???
Perut berkawat kayaknya akan ditangani oleh Tim Ahli RSUD A. Wahab Syahrani… kabar selanjutnya belum denger.
@ n0vri:
iya Pak… itulah salah satu kendala yg udah kadung mengakar…
Hahaha, placebo yaa?… kali bener
@ konsultasi kesehatan:
… lama-lama bisa …
Dukung, Mas…
@ Shanti:
Makasih atas infonya dan telah mampir kesini …
Ya, saya akan berkunjung ke sana … pernah ding ..
Moga sukses untuk Sehat Group.
@ iindepok:
Masih ada ya? …. tak kira masa-masa “puyer ISPA”, dll ..dll … udah berakhir…
Gak taunya masih menjadi lagu wajib yaaaa …hahaha
@ triesti:
enggak mbak …
Jadi intinya mbuat puyer masih boleh? niy kebetulan baru pulang baksos..tadi da resep puyer:
R/ amox III
ambroxol III
vit b plex III
S MFLA pulv XII
3 dd I
————-
Pye cak? ngulek2 he5x…
@ sibermedik:
iya lah … yang penting kan emang sesuai indikasi medis maupun pertimbangan lain. Mungkin ada yang perlu dipakai sebagai (semacam) pedoman bagi sejawat bahwa kalo mau ngasih obat hendaknya ditanyakan dulu kepada orang tua pasien obat kemasan apa yang bisa diminum oleh anak. Kalo anaknya dah bisa diajak ngomong, sebaiknya nanya ke anak, mo pilih sirup apa pil digerus sendiri apa puyer.. adil kan?
saya biasanya becanda sama anak-anak, mo pilih sirup rasa apa? … strawbery, rasa jeruk, rasa rose, rasa apel apa rasa bakso….
Puyer ISPA kuwi yo? pahit Om, ambune B plex…pahit tur langu, mbuh lek dicampuri vanili …hahahaha *guyon*
yg di sehat grup itu dr. purnamawati dkk (termasuk dr. arifianto) kan ya..selamat berjuang
walaupun ngga selalu lbh murah, obat racikan selama ini jg diragukan dari sudut standar peracikan obatnya (pembagian dosis, kebersihan, interaksi obat)..
tp dari sisi kepraktisan sptnya masih dibutuhkan scr selektif..cmiiw
yang perlu diubah paradigma kita sebagai dokter, udah terlalu lama kita di “brainwash” tentang puyer. Mulai dari sekolah FK diajari bikin puyer, liat di sekitar kita para senior bikin puyer, masyarakat juga sudah terbiasa minum obat puyer. Pada saat mencoba mengobati tanpa puyer emang gak mudah karena otak sudah terlanjur di setting dengan pembelajaran pengobatan memakai puyer, saya sendiri masih perlu waktu untuk merubah setting di otak saya + masyarakat/ pasien dalam hal ini. Menerangkan bahwa common cold hanya perlu obat penurun panas dan kalo perlu pelega hidung tersumbat saja ternyata gak gampang. Dokter sendiri merasa gak mantap dan takut pasien gak sembuh dengan cara itu.
Anyway ini awal dari perjalanan dan usaha yang panjang dan laaaaaama, pastikan saja diri kita mau memulai, tidak hanya memandang lalu memutuskan bahwa usaha ini akan gagal dan tidak akan pernah bisa melewatinya.
Kalo dibandingkan dengan Singapur, Amrik, Eropa ya emang jauh tapi jangan lupa Banglades, Pakistan, India dan negara asia lain juga udah jarang sekali pake puyer….. lha kita???
@ dani:
belum lagi cita rasa dan aromanya … kadang bikin bayi munek-munek… Pro kontra masih berlangsung, tapi saya yakin, dengan penyebar luasan informasi kepada khalayak terutama menyangkut standart peracikan obat, trend obat racikan lambat laun akan pudar seiring dengan makin meningkatnya pemahaman bahwa ada pilihan selain obat racikan … hehehe *mode optimis: on*
@ dokterearekcilik:
saya sendiri udah sekitar 10 tahun gak pake puyer.. awalnya emang berat, pasalnya di sebagian masyarakat udah terlanjur puyer or racikan minded.
Sekarang, di ndeso Palaran, kalo anak dikasih puyer, orang tuanya akan berobat ke tempat lain (kecuali yang emang ga mau sirup) sambil ngomel : ” … nopo, anak kulo diparingi puyer, kados teng Puskesmas …” … hahaha …
kita ???…masa kalah dengan Banglades dan Pakistan? *tolah-toleh*
waktu kecil kalo aku asma dokternya pasti ngasi puyer, nunggu obatnya di apotik lamaaaa, badan lemes, nafas ngiikk..nggiikkk, sementara obatnya masih di ulek2, trus dibikin kotak2 trus dibungkus…bikin tambah kesel aja, trus nangis deh trus tambah nggiikk..ngiiikk… tersiksa banget …
Sampai sekarang paling males tuuh nebus obat racikan di apotik..nunggu nya itu lho cak.nggakk tahaaannn….
Bersyukur banget kalo puyer segera berlalu
@ Shinta:
hikhikhik … sekarang gak nangis lagi kan ? … saya punya obat nangis mbak, … tissue …
Semoga … puyer dan racikan tanpa indikasi yang jelas segera berlalu.
kalo puyer berlalu,apa gak kangen nguleg2 nya?
Join dong…dari tadi gagal terus. Udah berhasil belom?? tes satu.. dua
Saat muyer, memang saya ragu sih sama ketepatan dosisnya…udah timbangan harganya blom terjangkau (jadi terpaksa diplototin lamaaaa…, udh sama rata apa blom yaa?), belom lagi yang nempel2 di ulekan atw di bungkusnya.
Tapi soal harga, selama ini menurut saya relatif sama dengan ga dipuyer. Malah harga sirup obat flu yang berpseudoefedrin lebih mahal dibanding tabletnya. Jadi buat menekan biaya, slm ini saya rela ngulek dst, habis pasien2 di sini kalangan bawah sih….alternatif lainnya apa?
Cak, kapan mbahas SKP?
solusi selain puyer kayaknya belum lengkap deh. Soalnya dosis tablet yang ada sekarang itu terlalu besar buat anak_anak. Terus syrup itu terlalu kecil buat anak di atas 20 kilo. Jadi menurut dokter gimana tuh baiknya
jadi belum tentu lebih “manjur” juga ya dok
pernah sakit, dikasih obat pabrikan.
dan sembuh juga heheh
@ sibermedik:
gampang ah, saling nguleg-2 anak mertua kan bisa … hehehe *husss*
@ binangkit:
ooo, paham saya.
Kalo dispensing sih emang iya, …. bisa menekan harga. Sayapun dulu melakukannya, sama dengan keraguan yang njenengan alami …
Tapi kini, diskonnya besar kok (asal bayar cash) sehingga kita bisa membantu pasien pake obat bentu syrup dengan harga terjangkau.
SKP belum mas, masih ngumpulin form dan penjelasannya, ada beberapa item yang belum pahami… maaf yaaa
@ mazrali:
lengkap ah … coba sebutkan obat apa, ntar lak bisa …
@ kw:
Belum tentu, tergantung isinya apa, …lha wong asal muasalnya juga obat pabrikan (ditules elek, kadang kode), trus apotik disuruh bikin dalam bentuk racikan ato puyer melalui resep … hahaha *ssstttt rahasia*
Di banyak apotik, puyer gak diuleg lagi cak, tapi diblender. Gak nempel di wadah, tapi begitu dibuka beluknya langsung miber… Berkurang berapa gram ya???
, tapi biasanya saya pisah2 gak dicampur jadi satu (banyak banget yang berbagai jenis obat dicampur jadi satu)
Kadang masih muyer tapi kalo kepepet, antara lain saat:
- Ortu pasien maksa meskipun sudah dijelaskan
- Harga obat puyer dibanding sirup jauh lebih murah (setelah biaya muyer diitung lho ya), sedangkan plafon obat pasien terbatas.
- Bikin nifedipine sub lingual
- Yakin racikan yang dibuat tidak ada masalah interaksi obat.
Cerita juga, di suatu pabrik di Sby dokter perushnya meminta untuk resep anak dipuyerkan karena ada kejadian oknum karyawan nakal yang menambah angka jumlah botol sirup yg diresepkan kemudian kelebihannya dijual. Jadilah puyer menjadi nyanyian wajib, meskipun dipisah2 per item (AB sendiri, Antipiretik sendiri, simtomatis sendiri)
Bukan bela diri tapi cuma buka kartu
jadi bisa tahu juga dari sisi penyedia layanan kesehatan kenapa bikin puyer… Biar gimanapun saya mendukung peresepan obat yang rasional.
@ Astri:
Upaya peresepan obat rasional banyak menuai benturan kanan-kiri, muka-belakang dan atas-bawah … hehehe, maju tak gentar membela yang bayar…eh keliru
Saya paham, begitu kompleks masalah beginian menghadang di sekitar kita. Kita sering mengalami hal-hal semacam itu.
Saya salut, dengan pemisahan setidaknya merupakan salah satu alasan logis agar tidak terjadi interaksi sebelum obat diminum… apalagi kalo bisa ikut mengontrol harga obat agar lebih terjangkau.
Udah merasakan beratnya sih…
cak .. bahas tentang ISK dong.. anakku kena ISK.. terakhir (kemaren) periksa ke lab lagi.. protein + 1 dan ada blood nya +3 .hasil lab itu ga berubah setelah 3x test urin
… sekarang sama SPA nya di kasih obat racikan.. ga tau isinya apa.. klo sabtu ini panas lagi.. harus di periksa darah katanya .. hiks..
@ mariana silvania:
udah tuh, coba baca-baca di ISK : Kencing Menetes …
Koq ga tau isinya, pake kode ato tulisannya
jelek bangetkurang bagus?ah, masa pada ga tau alasan muyer ?
simple saja lah
karena para dokter takut kalo kasih obat yang paten tuh dianggap cupu karena PASIEN BISA BELI SENDIRI DI APOTIK!
coba bayangkan kalo ada pasien anak2 pilek + batuk (ispa lah)
trus kita kasih N*O TR*AM*N*C (bukan iklan lho), dalam hati pasien dia akan berkata
“kalo cuma obat ini mah, aku juga tau”
coba deh ke apotik, trus tanya sama pegawainya, obat batuk apa ya ?
pasti diambilkan beberapa macam obat trus disuruh milih…
belum lagi fakta bahwa beberapa obat yang JELAS_JELAS ada tulisan “hanya boleh dibeli dengan resep dokter” tapi kalo kita beli di apotik pasti dilayani kec psikotropika. mis : AMOXICILIN anyonne ?
so sebagai seorang penyedia jasa, harus ada sarana untuk distinguish service seorang dokter dari seorang pegawai apotik, karena itulah dokter meracik obat yang biasanya simptomatis sesuai dengan dosis untuk anak2 atau simply beberapa jenis obat jadi 1 kapsul untuk dewasa supaya faktor compliance nya bagus…
apa sih bedanya resep PCT+CTM+DMP dengan D3C0LG3N ???
*so many things to say, but i’m afraid it would sounds as if i’m whinning… later on cakmoki,nice blog anyway”
@ dokterumum:
hahaha, ga usah kuatir, semua boleh nyampaikan uneg-uneg…
Bagi saya, kepercayan para pasien kepada seorang dokter dibangun atas kejujuran, … so ga perlu takut pasien beli obat sendiri karena pasien datang ke dokter bukan sekedar beli resep obat
Saya memaklumi jika para sejawat masih sulit meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia seorang dokter yang mampu memberikan layanan komprehensif.
Thanks supportnya
Alhamdulillah….
Akhirnya sedikit demi sedikit sudah banyak dokter yang sadar….
Semoga saja kesadarannya senantiasa bisa istiqomah.amiiin
wassalam,
bapakeghozan
@ bapakeghozan:
Alhamdulillah …
Maturnuwun supportnya
Wass
sy mau bagi cerita ttg puyer. jaman sy kuliah dulu sy rajin kuliah, tp utk pembuatan puyer tdk begitu detail diajarkan, hanya pas praktikum farmakologi saja diberikan contoh kasus soal.untungnya pas sy koas, sy punya dosen spesialis anak, sy belajar dgn beliau. selama hampir 25 thn beliau bekerja, cenderung beri puyer dan pengalamannya menunjukkan efektifitas yg relevan dgn kerugian puyer. jadilah skrg sy bekerja jg memakai sediaan puyer dgn terlebih dahulu menanyakan ke ortu pasien mau diberi obat puyer apa sirup?. ya untuk pasien yg terpenting adalah yg terbaik. drpd repot membagi dan menggerus sndr. selain itu tempat klinik sy kerja belum bnyk koleksi obat paten berisi macam2 untuk anak. kalo diklinik sy kerja tidak ada upah tambahan untuk membuat puyer, alhasil sy sering nyaman dgn puyer krn alasan murah (sekitar 6rb, kecuali pake antibiotik merk paten yg manis dan wangi itu,1 tablet bisa 2 rb itu). hahaha,2 hari kmrn baru sy ketahui ternyata bagian apotik sering berbuat curang (dia bukan apoteker tp sarjana pendidikan yg bekerja di apotik mini), curangnya dia males menggerus dan membungkus puyer (mungkin krn sibuk atau mungkin krn tdk ada upah menggerus dan membungkus), jadi sering dia memberi obat pil bulet-bulet dan minta ortu pasien buat membagi sndr, alhasil dia juga membuat dosis sendiri, karena parasetamol separo tablet hanya 250 mg, sementara pasien saat itu perlunya 350 mg. hahaha waktu sy tau secara ga sengaja, sy hanya tertawa dalam hati dan berharap sy jgn kesal lg, krn akhir2 ini sy sering kesal sndr..padahal dr awal pertama sy kerja di klinik, sy sering ke apotik (jika tdk ada pasien) untuk meracik sndr. hahah..kok baru ketahuan kmrn itu ya…embuh ah..
pdhl tiap kali ortu pasien minta puyer sy selalu menghitung dosis dgn sebaik2nya sambil mengajak ngobrol ngalor-ngidul, apalgi jika pasien keliatan kurang mampu secara finansial, drpada dia beli antipiretik seharga 18 rb, mending puyer sajalah yg hanya 6rb..selebihnya kan bisa buat yg laen.
memang ketulusan itu mahal harganya. sy tidak minta upah untuk ketulusan apalg penghargaan. krn arti tulus itu nanti jadi hilang. sy kdg jadi takut sndr,kalo sy berubah jd memburuk dan menjadi seenak udelnya dalam bekerja, apalg akhir2 ini. (harusnya mereka tidak perlu bertanya 2 kali untuk berbuat baik ya).hehe warna warni hidup…
@ wita:
Kita semua bisa memaklumi pertimbangan seorang dokter dalam memberikan pilihan bentuk obat bagi para pasiennya. Tentu sangat bagus jika menyertakan pendapat pasien terkait kemudahan minum obat. Dari sana dapat diambil jalan tengah tanpa mengurangi esensi tatacara pemberian obat dan pedoman yang telah ditetapkan WHO.
Di satu sisi kita ketahui begitu banyak pernak pernik seputar pemberian bentuk obat khususnya di negeri kita.
Saya sependapat, ketulusan (dan kejujuran) mahal harganya..
Trims share-nya ya…
Met bekerja, moga sukses selalu
waduh cak,dokter yg baik ya.coba2 dkter2 d tmpat aq sbaik n sebijak cakmoki.
@ kiki:
wah, kepala saya jadi mekar nih
makasih pujiannya
setuju! saya mendukung sediaan non puyer
tapi gak juga anti puyer looh
di t4 kerja saya juga hampir sama dgn t4 kerja wita, ngasih puyer ya dengn bermacam pertimbangan tsb.
sebenarnya untuk siapa to kita milih bentuk sediaan obat? untuk pasien kan? so ya orientasinya sesuai dgn kebutuhan pasien…
kalo ada pilihan yg lebih baik mengapa harus puyer (atau malah non puyer)?
Oks. blog yng bagus. Bisa untuk saling mengingatkan antar dokter dan komunikasi dgn pasien. Siip. maju terus Cak!
@ djjar:
Belakangan ini “puyer” jadi polemik, seru… sayang belum ada ts yang bicara di media, atau mungkin masih nunggu tenang dulu. Kita tunggu pendapat para ahli dan opini khalayak seputar puyer.
Thanks share-nya
Malam cak..
..mohon ijin untuk di copas ya..
@ Emmy Sumangkut:
Malam …
Monggo silahkan …