SAKIT BAK PETAKA BAGI BURUH RENDAHAN
Kamis, 1 Mei 2008. Di hari Buruh ini, ingatan saya menerawang menelusuri sisi selatan tepian Sungai Mahakam, dari wilayah Teluk Bajau hingga wilayah Kampung Ratah, dimana berjajar perusahaan kayu lapis dan penunjangnya, tempat para buruh mencari nafkah. Episode aktifitas harian mereka seakan terpampang di depan mata. Bagi mereka, siang dan malam tak ada bedanya, kerja dan kerja, 12 jam sehari untuk kemudian berganti kelompok buruh di giliran berikutnya. Tak bolek ada kata lelah, yang ada adalah target produksi. Tak boleh ada kata sakit kecuali terkapar tak berdaya.
Tepat di depan meraka, di tengah luasnya Sungai Mahakam, nampak potret lain seolah memperjelas kedudukan mereka, … para buruh rendahan. Yeahhh, mereka bak ikan-ikan kecil yang dilahirkan untuk santapan ikan yang lebih besar.
KETIKA BURUH ( PERUSAHAAN KAYU LAPIS ) SAKIT TANPA DAYA
Di mata para Tuan Besar, tak ada kata sakit bagi buruh kecuali nampak terkapar. Mungkin gambaran ini terlalu dramatis, namun itulah yang terjadi sesungguhnya. Bagi buruh, sakit bak petaka. Sejauh masih bisa beraktifitas, mereka belum sah dinyatakan sakit kendati tubuh panas, kepala berdenyut dan derita lain sebelum terbaring tanpa daya. Kalau perlu, mereka harus hadir untuk menunjukkan sakitnya dan wajib berbaring di tempat tidur klinik-klinik milik sang Tuan Besar.
Dokter-dokter Perusahaan (khususnya di Palaran dan tidak semua koq, so ga perlu meradang) yang diharapkan dapat membantu buruh manakala sakit menerpa, tak jarang mirip hamba sahaya Tuan Besar yang ikut menindas para buruh rendahan. Koq ??? Apa iya ???
Coba renungkan, apa ya pantes kalo misalnya buruh sakit panas dan batuk sampai terkencing-kencing hanya mendapatkan 4-6 biji obat, udah gitu istirahat cuman 1 hari. Esoknya, gak peduli masih panas, kleyengan, pokoknya istirahat 1 hari, sesuai titah Tuan Besar. Panggilan “kamu” kepada para buruh usia berapapun, gak peduli buruh usia paruh baya, makin mempertegas betapa rendahnya kedudukan mereka.
Seorang bapak yang pernah bekerja hingga usia 55 tahun berujar: ” makin lama buruh bekerja di kebanyakan perusahaan kayu lapis di wilayah Palaran, sesungguhnya makin kecil pilihan mendapatkan penghasilan lebih layak. Ibarat mesin, mereka harus segera berfungsi kembali. Bahkan masih belum berespun, asalkan mesin bisa jalan, harus segera digunakan untuk mengejar target produksi. Seperti itulah buruh … “.
Uniknya lagi, tatkala buruh perempuan hamil, sebelum usia kehailan lebih 3 bulan, mereka tidak bisa mengajukan giliran kerja netral. Artinya, wajib kerja malam juga, jam 7 malam hingga jam 7 pagi. Semalaman berdiri dengan masa istirahat 1 jam. Ibu-ibu itu lagi hamil muda lho, Bos !!!
KKB (Kesepakatan Kerja Bersama) bunyinya begitu. Ya iya lah, KKB bukan berarti gak bisa diubah kan ? Coba para istri pembuat dan pengesah KKB menempatkan diri sebagai buruh hamil kurang dari 3 bulan lantas berdiri semalaman sambil kerja. Apa bisa ? Paling baru 3 jam aja udah merengek minta kelon.
Lalu, siapa yang membela mereka, para buruh rendahan ? Gak ada !!!
Kalau mau, siapapun bisa ikut bantu sesuai bidang dan kemampuannya. Untuk para sejawat dokter tentu bisa bantu. Caranya ?
-
Memberikan surat ijin sakit sesuai penyakit yang diderita buruh saat itu. Yang penting bisa dipertanggung jawbkan berdasarkan integritas keilmuan (profesi) dan etika. Andai karena penyakitnya, perlu istirahat sedikitnya 3 hari, maka diberikan surat ijin sakit 3 hari. Kalaupun nantinya pihak Tuan Besar hanya memberlakukan 1 hari, maka segala resiko bukan lagi tanggung jawab dokter.
-
Bila pihak utusan Tuan Besar datang mempertanyakan surat ijin sakit, para dokter perlu menjelaskan sesuai etika dan profesi. Sekalian memberi penjelasan tentang resiko yang bakalan dialami pasien jika dipaksa masuk kerja. Trus gimana kalau pihak perusahaan tidak memberlakukan surat ijin sakit dari seorang dokter ? Biarkan aja. Emangnya kenapa?
-
Tidak memperjual belikan Surat Ijin Sakit atapun mark-up kwitansi. Ini mah bukan bantu, tapi menjerumuskan.
Semoga bermanfaat.
:: :: :: posting menggunakan wlw :: :: ::





![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)

menyedihkan sekali kisahnya pak dokter.
semoga kita memahami arti seorang pekerja di hari buruh ini.
kecil dan besar selalu tidak pernah berubah
entah kapan buruh bisa benar-benar sejahtera.
Hiks.. Hiks…
Emang kasian para buruh itu…
Cuman sharing aja biar imbang…. kalo pasien anak yg masuk Jamsostek obatnya lumayan bagus, banyak yg bermerek, infus yg bagus jg ada. Obat TBC yg bagus buat anak juga masuk. Pelayanan di RSU termasuk yg kelas 2 bukan kelas 3 kayak askeskin. Ada pabrik yg mengikutkan karyawannya pada program Askes sukarela obatnya juga lebih mending dibanding askes PNS. Itu cuman dari satu sisi yg saya lihat, melengkapi sisi sisi lain yg kita liat biar tidak melihat dari sisi yg kita mau aja……. Ijin menjaga anak yg sakit juga kadang jadi masalah yg cukup merepotkan,
Mungkin yang dimaksud Cak Moki n sering juga saya temui di praktek tuh buruh yang gak tercover Jamsostek alias buruh kontrak kali ya?
@ aRuL:
trims Daeng
@ almascatie:
homo homini lupus … eh bener gak Om ?
@ itikkecil:
Menurut para politisi saat kampanye Pilkada, para buruh “akan diupayakan” untuk sejahtera, mbak.
Wa akhirul kalamun, sama saja … wuaaaaa
@ Astri:
nulis wae mbak, pengalaman saat SAR, misalnya para buruh yang ikut kena banjir. Udah ngungsi, jatah mie masih dipreteli…ada yg gitu gak ?
@ dokterearekcilik:
iya Mas, saya tanya-tanya di sebagian wilayah Jatim dan lihat sendiri, lumayan bagus. Di sini, bargaining pata ts nampaknya lemah sehingga dibuat bal-balan diadu sama pasien. TS di sini ngeluh, tapi diam saja, …heran. Kalo saya emang gak pernah mau kerjasama dengan pihak ketiga walaupun ada yg ngiming-imingi dana stanby, kecuali ada yang bener-bener genah, baik dari segi obat dan sistem…hehehe
Persoalan Ibu nunggoni anak sakit kayaknya sama …apalagi kalo anaknya diare atau panas tinggi atau sesak, ibunya gak bakalan bisa tidur. Kalo esoknya kerja dijamin kepikiran dan gloyoran. Atas dasar pertimbangan tersebut, melihat, memahami, maka saya memutuskan: kasih ijin … hehehe. Ternyata di tempat kami, ijin nunggoni anak gak dikasih bayaran, hanya gak dianggap alpa …walah, podho ngenese
@ Astri:
Sebagian iya, … malah sebagian besar tercover juga lewat Jamsostek dan Layanan Asuransi lain, tapi katanya gak puas, masih nambah biaya juga, … mungkin tergantung dokternya dan tergantung sistem yang dipakai oleh pihak ketiga.
apalgi..kesehatan kerja buruh masih dikesampingkan..penggunaan safety gadget (APD=Alat Perlindungan Diri) masih dikesampingkan dari segi kualitas dan kuantitas dengan alasan meningkatkan cost.
Gaji buruh tidak ekuivalen dengan nyawa…
BTW cak, sebenarnya kan WORKER DAY (HARI PEKERJA), berarti PEKERJA SEKS KOMERSIIL (PSK) masuk ASKES/JAMSOSTEK dong?
pengen nangis bacanya, hiks. pas mayday jg sempet liat foto buruh di jawapos pas kerja. mengenaskan pak
@ sibermedik:
iya, kesehatan masih nomer buncit, lha wong safety aja belum semua melaksanakan, kecuali perusahaan asing.
PSK ???? kupu-kupu siang malam ini mungkin udah masuk kelas Platinum
..di Solo homebase nya apa nama daerahnya ? pernah denger lupa … hehehe. Kalo di Samarinda para pelanggan konon menyebutnya dengan SMU 10 karena tempatnya di kilometer 10 jurusan Balikpapan…kali suatu saat para pelanggan akan menyebut Asrama Dara Semester 10 supaya lebih bergengsi …hahahaha
@ riza:
di sini saudara-saudara buruh gak libur, gak peduli tanggal merahpun kerja..kerja….dan kerja demi mencari tambahan. duhhhh
waktu saya ngeSAR saya kebetulan gak pernah ketemu langsung ma buruh yang jadi korban. Cuma bantuan makanan dari PMI emang kualitasnya beda ama yang diberikan dari tempat yang mberangkatin saya. Meskipun gitu, perlu diacungi jempol buat dedikasi tukang masak yang berkutat di dapur umum dari subuh ampe subuh lagi gak berhenti, sampe dia tidur di dapur umum. Trus anak2 PMR, ibu2 PKK yang diterjunkan buat bantu masak bergantian.
Lho kok ngelantur masalah bencana ya?
@ Astri:
Menilik pengalaman Mbak Astri yang langsung terjun di area tersebut berhari-hari, berarti berita-berita di TV seputar penanganan bencana gak berimbang dong… media menampilkan sisi buruknya saja sedangkan sisi baiknya cenderung diabaikan. Mungkin media bermaksud “mengingatkan” pihak berwenang agar lebih serius menangani bencana semacam itu. Tapi dengan tidak menayangkan yang bagus (gotong royong, masak, dll), daerah yg kurang bagus gak bisa belajar ke daerah yang bagus…
Mosok ngelantur sih, gak ah, konteksnya “menolong” mbak…hehehe
saya sedih kalau mendengar nasib buruh kerah biru itu
Kerja rodi ternyata gak cuma di zaman penjajahan…
@ anggara:
iya, di tempat kami kebanyakan pake sepeda ontel..pulangnya keringatan, mbuh aromanya seperti apa…
@ wulan:
hehehe, yang beda bendoronya kali mbak
sepi dok….
Ass …
… Blog Favorit saya …
Wasalam …
@ sibermedik:
apanya yang sepi??? .. ntar lagi rame di sini
@ chandra:
Wa’alaikum salam,
… Trims …hehehe *kepala saya serasa mo mekar*
wass
” Dokter-dokter Perusahaan (khususnya di Palaran dan tidak semua koq, so ga perlu meradang) yang diharapkan dapat membantu buruh manakala sakit menerpa, tak jarang mirip hamba sahaya Tuan Besar yang ikut menindas para buruh rendahan. Koq ??? Apa iya ??? ”
Kelakuan Dokter sama Tuan Besar beda-beda tipis ya cak….
” Panggilan “kamu” kepada para buruh usia berapapun, gak peduli buruh usia paruh baya, makin mempertegas betapa rendahnya kedudukan mereka.”
Ini diatur perusahaan juga?
Sebetulnya sudah harus ada cuti dibayar selama 5 minggu/tahun! Aku saja masuk pabrik (line produksi) paling kuat 30 menit lalu harus keluar ambil napas! Paling lama 3 jam/hari! Ngak kebayang mereka yg tiap hari di pabrik!
Hmmh…
Aku dari Kal Teng, tapi jujur aja, aku ga pernah menyelami kehidupan para buruh pabrik kayu…Ternyata kasian juga yah…
Yah, mau gimana lagi, mereka butuh uang buat makan….
Pemerintah melihat permasalahan itu tidak??
Atau ikut-ikutan tutup mata..
Tidak heran banyak orang kalimantan ngiler pingin jadi warga Malaysia..
Indonesia..Indonesia…Ck..Ck..Ck
@ Shinta:
dalam hal contoh di atas, iya
gak tahu mbak, kali ikut-ikutan…saling jajah gitu kali, akhirnya yg paling bawah lah yang paling sengsara
@ juliach:
hmmm, 12 jam sehari …malem juga lho mbak…di dalam pabrik yang panas, sumuk …berdebu, sumpek …dll … hehehe
Kayak gitu gambaran di sini.
@ Yudhi H. Gejali:
Pemerintah jelas tahu dong, ..tutup mata sih enggak kayaknya..eh gak tahu sih, mungkin buka saku untuk terima upeti kali…hehehe
Karena itu gak heran kalo warga kita di perbatasan tergiur jadi warga M’sia, soale di seberang pagar kelihatan beda banget taraf hidupnya
cakmoki,
kalo ada buruh sakit terus berisiko menularkannya pada buruh yang lain gimana? Tetep harus masuk kerja juga?
@ Shinta:
Saya pernah ketemu dg jajaran personalia salah satu perusahaan kayu lapis di sini.
Ketika itu mereka menanyakan:” mengapa istirahat lama? Kami hanya bisa menerima 2 hari”.
Padahal di surat keterangan sudah disebutkan nama penyakit atas seijin penderita dan kemungkinan menular ke karyawan lain.
Saat itu saya jelaskan penyakitnya dan dampak bagi ybs maupun temannya jika dipaksakan masuk dan tanggung jawab seorang dokter. Pun tak lupa saya ungkapkan kritik buat personalia. Akhirnya pihak personalia mengaku bahwa semua itu tekanan pemilik perusahaan. Katanya, personalia dan jajarannya akan ditegur kalo angka sakit meningkat. Pokoke ™ produksi…produksi … hehehe
Apa lacur, ijin sakit tetap hanya 2 hari, dan hari ketiga tetap diwajibkan masuk tak peduli geloyoran. Mereka-mereka dengan kondisi yg mirip ternyata disuruh tidur di klinik hanya untuk membuktikan si karyawan tak berdaya.
Ada lagi yg lebih parah. Di salah satu perusahaan kayu lapis, sakit apapun, ijin sakit hanya berlaku 1 hari, selebihnya gak dibayar (kecuali opname). Dampaknya, karyawan akan memaksakan diri masuk karena takut kena PHK dan tidak punya kesempatan lembur kalau dalam 1 bulan, ijin sakit sampai 2 kali. ARtinya, karyawan dilarang sakit 2 x sebulan dan penyakit dilarang hinggap ke tubuh karyawan 2 kali sebulan… hahaha
gak dilaporin ke polisi tuch perusahaan yang begitu ?
Cak, emang ada batasan jumlah hari istirahat yang boleh ditulis di surat sehat? Baik buat karyawan, buruh, atau pelajar? Perasaan gak ada ya? Tapi kok banyak yang blingsatan kalo aku nulis istirahat lebih dari 2 hari (baik dari klinik maupun tempat kerja atau sekolah)
padahal dalam undang-undang no 13 tentang ketenagakerjaan itu udha diatur tentang sanksi buat pengusaha.
cuma aja,memang mereka susah buat dijerat hukum sih sekalipun melanggar hak-hak buruh.
soalna kantong mereka tebal!
hukum pun bisa terbeli.
@ ardi:
gak bisa, karena para karyawan udah tanda tangan KKB (kesepakan kerja bersama) yang dibuat saat sebelum kerja. Dalam hal ini posisi karyawan sangat lemah, sehingga tidak pernah bisa menang jika berperkara.
@ Astri:
Dari sisi medis gak ada batasan, cuman dari pihak perusahaan ada batasan. Karena itulah mereka blingsatan, tapi gak berani berterus terang, makanya yang jadi korban karyawan.
Kalo sekolah rasanya aneh bila pihak sekolah blingsatan juga, kali UKS nya gak jalan mbak …
@ mataharicinta:
hahaha, iya mbak…ini emang kuci jawabannya