INFORMASI-INFORMASI KELIRU DARI PETUGAS KESEHATAN
Mitos-mitos seputar bidang kesehatan bukan hanya milik masyarakat tapi juga beredar di internal petugas kesehatan kita, khususnya di daerah kami, yakni kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Di daerah lain tidak begitu kan ? *tidak dong … tidak ada bedanya, hahaha..jo nesu kang*
Maaf, saya menyebut mitos lantaran informasi-informasi yang pada akhirnya disampaikan kepada masyarakat, didapat oleh para petugas kesehatan secara turun menurun dari kaka-kakak mereka saat di pendidikan. Karena yang ngomong adalah kakak kelas yang dianggap banyak pengalaman dan serba tahu itulah maka informasi keliru tersebut melekat erat di benak mereka seolah informasi yang benar.
Celakanya, setelah lulus dan diterima sebagai PNS, mereka amat jarang belajar, atau bahkan gak pernah baca buku lagi kecuali ada pelatihan. Lebih calaka lagi manakala informasi yang keliru tersebut disampaikan kepada masyarakat setiap hari melalui pelayanan kesehatan di poliklinik, penyuluhan, Posyandu, UKS dan media lain.
Tak ayal bimbingan teknis oleh para dokter kepada para petugas kesehatan di jajarannya bak menabrak didinding tebal, terlebih jika sang dokter masih belia sedangkan para petugas kesehatan lebih tua.
LIRIK LAGU TURUN MENURUN
Di bawah ini adalah beberapa untaian kalimat yang sering diucapkan oleh para petugas kesehatan kepada pasien ataupun masyarakat. Mari kita simak bersama.
” Sampeyan kurang darah, tensi cuma 90 per sekian, ini saya beri obat tambah darah “. Maka muncullah Tablet Fe, dan lain-lainnya. Coba kita perhatikan, hipotensi dianggap sama dan sebangun dengan kekurangan zat besi.
Seorang pasien periksa tensi, hasilnya 130/90 (umpamanya). Petugas kesehatan kitapun melontarkan kalimat: “atasnya si gak papa, per-nya itu lho yang tinggi”. Salah sih enggak, cuman ada kesan seolah diastole (ukuran bawah tensi) sesuatu yang menyeramkan. Tidak mudah untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwa sistole (ukuran atas tensi) dan diastole (ukuran bawah tensi) adalah salah satu ukuran untuk menentukan kriteria hipertensi, bukan untuk menilai berat tidaknya penyakit. Lebih celaka ketika ukuran tersebut dikaitkan dengan keluhan si pasien yang bisa jadi gak berhubungan dengan ukuran tensi.
Seorang ibu membawa anak balita dengan keluhan gatal. Entah diperiksa atau enggak, tanpa ampun petugas kesehatan kita akan meluncurkan kalimat sebagai berikut: ” anak ibu gak boleh makan ikan, telor, …bla…bla…bla..”. Mereka menganggap bahwa gatal (kendati yang mengatakan gatal si ibu balita) identik dengan alergi makanan tertentu. Bisa dibayangkan bagaimana tumbuh kembang si balita tanpa protein dan lemak. Gak peduli gatal karena jamur, skabies, atau lainnya, pokoknya ™ gak boleh makan telor, ikan, dll..dll… hehehe, alhasil si balita hanya makan tahu tempe plus sayur bening doang, saking banyaknya larangan dari petugas kesehatan.
Ibu muda datang membawa bayi merah berumur beberapa bulan dengan bercak merah di pelipatan leher, selangkangan dan ketiak karena jamur (Pityriasis versicolor). Melihat si ibu masih menyusui bayinya, maka petugas kesehatan kita bersabda: ” ibu gak boleh makan telor, ikan, udang, kepiting, … bla … bla … bla …karena nyusui, ntar bayinya tambah gatal… “. Wuih, kesalahan koq diborong. *cari sendiri letak kesalahannya yaaaa* atau tanya ama dokter anak.
Seorang penderita asma datang ke Puskesmas dengan kondisi ngak-ngik, sesak banget… sambil tersengal-sengal si pasien berkata: ” asma saya kumat, biasa suntik di lengan kemudian suntik bokong, 5-10 menit biasanya udah lega “. Setelah mengukur tensi, petugas kesehatan menjawab:” obat aja, tensi sampeyan 160 per 90, bahaya kalo disuntik … “. Alhasil si pasien opname di RS, uang jutaan pun melayang. Bilang aja gak berani nyuntik ketimbang menyebarkan informasi keliru.
Seorang pasien datang dengan keluhan pegal, linu, kesemutan. Bak pendekar sakti mandraguna, petugas kesehatan langsung berkata lantang: ” … asam urat !!!”. Adegan selanjutnya si pasien membawa pulang obat non steroid anti inflamasi, misalnya: natrium diklofenat, piroksikam, ibuprofen or sejenisnya. Hmmm, kayaknya udah seperti lagu wajib ya, … emangnya linu, pegal, identik dengan asam urat ? Maka, jangan salahkan pasien ketika datang ke dokter dengan keluhan yang sama mengatakan menderita asam urat sebelum ditanya. Tak perlu heran pula saat ditanya kadar asam uratnya si pasien gak tahu.
Yang paling seru manakala seseorang datang berobat ke Puskesmas dengan keluhan demam, berasa pahit di lidah, … gak peduli demamnya baru 1 hari, 2 hari 3 hari 4 hari, tanpa ba-bi-bu, dengan amat yakin petugas kesehatan berkata:” …gejala typhus, … makan buburrrrrr … “. Nah … LB.1 (laporan Bulanan Kesakitan) akan memunculkan angka typhus yang tinggi. Ga peduli beberapa hari kemudian muncul cacar air (varisela), atau penyakit lain, atau bahkan udah sembuh dalam tempo 2-3 hari, pokoknya™ : gejala typhus™ … bubur™ … . Emang sih, sulit menentukan diagnosa pada awal sakit dengan keluhan dan tanda tidak spesifik, namun pukul rata gejala typhus™ sudah saatnya diperbaiki. Apa salahnya bilang ke pasien bahwa demam yang dialaminya masih perlu follow up, kemudian dianjurkan kontrol jika belum sembuh. Gak perlu malu dan gak perlu memaksakan diri menegakkan diagnosa jika belum jelas, ketimbang main tuduh. Saya rasa pasien lebih menghargai kejujuran daripada divonis menderita penyakit yang bisa jadi bukan seperti yang dituduhkan.
Ilustrasi di atas hanya sebagian kecil informasi keliru yang bersumber dari petugas kesehatan. Entah, kejadian semacam ini hanya ada di daerah kami ataukah terjadi juga di daerah lain, saya tidak tahu.
Bagaimana pendapat pembaca ?
ALTERNATIF JALAN KELUAR
Kita, terutama para petugas kesehatan gak perlu meradang. Anggap saja tulisan ini sebagai cambuk untuk berbenah diri, khususnya bagi saya pribadi. Membuka diri terhadap kemajuan ilmu pengetahuan (medis) rasanya lebih bijak ketimbang ngeyel sembari mencocok-cocokkan dengan logika tanpa dilandasi referensi yang jelas. Lantas bagaimana ?
Nah, kini saatnya kita mencoba mengurai benang ruwet.
Pertama. Kaji ulang sistem pendidikan kesehatan di Poltekes (atau apapun namanya) berlabel D-3. Kita bisa memulainya dengan mempelajari kembali materi yang diberikan, batasan kompetensi, metode pembelajaran, dll. Atau jangan-jangan pak dan bu dosen yang ngajari ya … hehehe. Eits, sabar … kita sharing lho.
Perlu kita ingat bahwa petugas-petugas kita adalah ujung tombak yang memiliki nilai strategis dalam menyampaikan informasi lantaran mereka setiap hari ketemu pasien. Sayangkan kalo ujung tombaknya gak dibekali dengan ilmu yang mumpuni?
Kedua. Bimbingan teknis oleh seoarang dokter mutlak diperlukan untuk senantiasa meng-update pengetahuan para staffnya. Oya, bimbingan teknis bukan hanya melalui rapat, minilokakarya, pelatihan, studi banding, itu mah gak banyak hasilnya. Lebih efektif melalui jalur informal, misalnya ngobrol santai tentang satu kasus penyakit sambil ngopi dan makan pisang goreng, atau di poli umum, misalnya. Tanpa suguhan apapun gak papa juga. *kebangetan*. Cara ini biasanya lebih efektif karena kasusnya masih hangat dan bisa pula diulang-ulang untuk satu kasus penyakit.
Ketiga. Monggo dilanjutkan … hehehe *tosss*
Semoga bermanfaat.
:: :: :: posting menggunakan wlw :: :: ::





![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)

Apa yang cak Moki ceritakan persis banget seperti yang saya alami. Waktu diangkat jadi kepala Puskesmas saya adalah orang termuda di Puskesmas.. sehingga kalau kita tegur kesalahan mereka secara langsung mereka akan ngomong : “Walah anak masih bau kencur aja kok ngandani wong tua” .Nasehat2 mereka yang kadang suka “asal” dan “menyesatkan” kepada pasien, saya bahas waktu kita ngumpul2 dan istirahat siang. Dengan sindiran2 halus yang berbau gurauan yang sama sekali mebuat mereka nggak seperti digurui ternyata sangat mengena, Padahal saya cuma mengatakan ke mereka bahwa “Kita ini Petugas Puskesmas loh bukan dukun yang nggak pernah sekolah” Lama kelamaan mereka akhirnya mau terima juga ilmu baru dari saya. Jadi disini ternyata tergantung cara pendekatan kita (dokter) cak.. Toss juga..!
pasien : akhir-akhir ini aNE suka susah bernafas … jantung kerap berdebar terkadang keluar keringat dingin … bahkan sesekali perut terasa kembung … bila sudah parah kepala bagian belakang seperti ditonjok-tonjok dan tengkuk terasa pegal dan ngilu menoleh pun berat bahkan beberapa menit kemudian seluruh tubuh terasa lemas bahkan hampir seperti lumpuh …
petugas kesehatan : eNTE sakit …
pasien : dan … sudah seminggu ini aNE gak makan … cuma minum doank … itu pun air sumur di belakang puskesmas … gak punya duit !
petugas kesehatan : @#$$%#&??)(*&^%!@@@>*&^
Cak, jadi nggak bener kalau tensi saya 160/110 itu diastolenya terlalu tinggi?
Tahun lalu kalau nggak salah bulan April (saya posting di kombor.com) saya tepar karena tensi saya 160/110. Dokter yang memeriksa saya bilang, “Pak, ini bawahnya tinggi banget. Ini bahaya. Yang berkaitan langsung sama penyakit jantung yang bawah ini.”
Karena yang ngomong adalah orang yang sudah ngrikiti bangku fakultas kedokteran minimal empat tahun saya sih percaya saja.
Eh, hari Senin yang lalu saya Tepar. Buyer tanpa kasihan sehingga nggak mampu bangun dari kasur. Karena sebelumnya bapak saya yang pernah mengalami seperti itu (vertigo) saat masuk angin dan tensinya 220 (sistole) maka saya tanya obatnya. Namanya unalium. Dari pagi sampai jam 4 sore saya tidak bangun. Setelah istri saya beli unalium baru saya mampu bangun. Hari Selasa saya ke RS Siloam dan tensi saya oke, 120/90 tetapi kok tegang di leher kiri dan rasa krekes-krekes di tengkuk masih ada.
Umur baru mau 34 tahun. Gimana, Cak? Apa benar 160/110 yang diastolenya berhubungan sama penyakit jantung?
@ iindepok:
wah sip mbak, lebih efektif daripada pelatihan dan workshop, irit praktis, dinamis … hehehe. Itu termasuk bimtek lho, kayaknya sepele tapi sangat bermanfaat… Semangat !!!
Bagi-bagi cerita dong
@ rajaiblis:
hahahaha, adegan selanjutnya jangan-jangan si pasien ngeluarin “list sedekah” …
@ kombor:
Hehehe, jawaban untuk komen Kang Kombor bisa mewakili semua persoalan seputar tensi kayaknya
Hmmm, gini Kang… saat dokter tersebut mengatakan diastole-nya tinggi, bener aja sih. Artinya, untuk menentukan kriteria hipertensi: ringan-sedang-berat dan seterusnya, dapat menggunakan sistole maupun diastole. Jika diastole menunjukkan parameter lebih tinggi dibanding kalo menggunakan sistole, maka yang dipakai patokan adalah diastole. Begitu pula sebaliknya. Ini untuk menentukan kriteria dan menentukan jenis maupun dosis obat. So, tidak lantas serta merta menujukkan bahaya tidaknya, karena kalo mau ditelusuri…rata-rata gangguan di tubuh kita akan berujung pada satu kata: bahaya. Tapi, tentu ada cara untuk mengendalikannya kan? Lha wong naik motor di jalan aja juga bisa bahaya … hehehe
Contoh:
Seseorang saat diukur tensinya: 170/90. Jika sebuah RS membuat parameter sistole 170 masuk kategori Hipertensi sedang sedang sistole 90 masuk hipertensi ringan, maka yang dipakai sebagai diagnosa adalah : moderate hipertension, begitu pula sebaliknya, sehingga jenis obat dan dosisnya mengacu pada kriteria tersebut. Namun perlu diketahui juga bahwa obat bersifat individual, maksudnya obat A dengan dosis 2×1 sehari sudah bisa menormalkan tensi seseorang dalam tempo seminggu, belum tentu pas untuk orang lain.
Soal tegang leher dan keluhan kepala sebenarnya tidak selalu berhubungan dengan tensi. Kerja gak kenal waktu, melototin komputer hampir seharian, kurang istirohat…dll…dll, juga bisa mengakibatkan keluhan kepala dan leher. Cuman, sudah terlanjur jadi anggapan umum bahwa keluhan kepala dianggap berhubungan dengan tensi, dan ketika tensi normal, petugas kesehatan gak bisa jawab…hehehe
Seperti yang Kang Kombor contohkan, dengan unalium udah normal dalam tempo singkat, berarti kenaikan tensi tersebut bersifat insidental.
Karena itulah, seorang dokter seyogyanya menanyakan juga kegiatan dan kebasaan sehari-hari saat menjumpai tensi di atas normal agar dapat memberikan jalan keluar terbaik. Tidak lantas langsung mendakwa. Lha kalo wong ndeso yang gak punya kesempatan tanya ke dokter lain dan gak sempat menggunakan nalar, bisa-bisa malah stressss, gak bisa tidur, nangis..soale krungu kata-kata jantung.
Lebih 90% hipertensi adalah hipertensi esensial (primer), artinya gak diketahui sebabnya. Sisanya adalah hipertensi sekunder, maksudnya berhubungan dengan gangguan organ lain seperti: otak, jantung, ginjal, hormonal, pembuluh darah..dll..dll.
Jadi tidak berkaitan dengan sistole diastole-nya. Bisa jadi dokter tersebut punya pengalaman klinis seperti di atas, namun tidak bisa diberlakukan pada semua orang tanpa pemeriksaan cermat dan mendalam. Kalo ternyata seseorang yang diastole-nya tinggi, katakanlah 120 tapi saat pemeriksaan jantung ternyata jantungnya normal, piye hayo.
Maturnuwun share-nya Kang
Emang baca data penyakit di Ind mah aneh. segitu banyak data, tau brp yang bener, berapa yang jadi2an.
kalau disini kesannya GP tuh susah bener ngasih nama penyakit.
Jadi inget mantan temen serumah, M, kemaren curhat. kebetulan aku pernah ke GP dia jadi tau orangnya kayak apa. ceritanya sejak 2 bulan tangan M gatel2 merah kadang bruntusan, tapi ngga terus2an. Kata GPnya: kamu perhatiin sebelum gatel ngapain dan makan apa aja selama 3 minggu. coba pake sarung tangan kalo ngga. Tapi kamu bisa alergi karet, pakai yang latex bisa alergi juga, yang katun sama aja bisa alergi. Judulnya dia cuma disuruh observasi 3 minggu dan balik lagi.
kalo dia ke puskesmas dikasih obat apa cak?
@ triesti
eh, data jadi-jadian? ..enggak tuh!..enggak salah
Hmmm..kalo di Puskesmas tergantung dokternya. Biasanya dikasih obat steroid dan antihitamin dan steroid lokal kalo emang alergi. Adegan selanjutnya gak tahu … kalo kena dokter Puskesmas yang bagus, biasanya akan difollow up. Kalo enggak yaaaaaa, banyak pantangan kali …hehehe
semoga dengan adanya ujian kompetensi bagi dokter dan paramedis bisa ngerubah hal-hal ini cak.
@ Elias
ya semoga
Konon bulan lalu ada berita bahwa ujian komtensi dokter yang dinyatakan lulus cuman sekitar 40-60 % … hehehe
Yap Cak..
Di Bumi Parahyangan, Di Bandung…ada lagi yang aneh!
“Perianal abscess” dibilangnya apa, tau engga??
dibilangnya: “Rematik Bujur” (nama lainnya: rematik pantat)
Parah khan???!!!
kalau disini ‘gejala’ nyanyian merdu macam itu disebut IR (Indonesia Raya).
Filosofinya..lagu Indonesia Raya dari Sabang sampai Merauke itu sama..dari jaman Bung Karno-Pak SBY sama terus..jadi bahasa prokemnya Protap (Prosedur Tetap) di FK namanya IR.
Contoh:
Koas Paimin : Paijo, ujiannya dr.QWERT Sp.PD piye?
Koas Paijo : Halah..podo wae ben tahun..nggawe IR Interna, ada tuh di fotokopian dari jaman angkatan 9* sama terus.
Jadi ya kebiasaan ya bos…
@ Yudhi H.Gejali:
Hahahahahahaha …. Rematik Bujur ?… Rematik Pantat? ..hahaha, baru denger dan langsung ngakak beberan
parahhh…parahhh
Assalam Cak,
Salam kenal, Sya nemuin blog nya ‘kesasar; ketika surfing..
Good Luck,
Hardi
Saya lanjutin nih, Blog nya, Bagus, dinamis, Kritis dan aplikatif.
(Ini yg sya stuju Cak, kritis dan aplikatif dalam artian meberi solusi).Kalo nulis masalah-ma sudah banyak, yg nulis solusi baru sedikit..
Ngomong2 soal ‘nyanyian merdu petugas kesehatan’, saya setuju itu perlu kita ’selamat’ kan. Isilahnya, sekarang era ‘Evidence based-medicine,’ Berdasarkan fakta, ilmiah atau pengalaman empiris.. Dimana-pun posisi kita (dosen, puskesman, dinas, RS), perlu mengadakan pelatihan2 internal untuk para pelayan kesehatan terdepan.
Tidak mesti dalam bentuk pletihan yang bersifat formal, “Round table discussion” akan lebih efektif…
Wassalam,
Ones more ‘Good luck’ untuk Cak-Moki yg ‘telah & sedang’ memulainya..
(Hardi)
Concern saya sama petugas kesehatan kita adalah mudah sekali memberi antibiotika. Bukankan pemberian antibiotika itu mesti sangat selektif ya Cak?
@ sibermedik:
yaaaaahhh, masih ada gitu ??? …maksudnya, pak dosen out off date gitu ??? hehehe, tak kira lagu tersebut udah hilang dari peredaran.
@ Hardi:
Wa’alaikum salam
salam kenal juga
sependapat
.. moga para ts tergerak untuk melakukannya
Trims
@ n0vri:
Bener pak, harus selektif dan mematuhi prosedur tetap … jujur saja, malah ada penyakit ringan yang mutlak tanpa antibiotika malah disangoni Cyprofloxacin sak tas kresek.
Inilah potret nyata. Walau gak semua, kayaknya menjadi semacam trend dan diakui ataupun tidak, perilaku semcam ini sangat mengkhawatirkan terjadinya resistensi.
Mungkin tidak terkait langsung, berikut ini aku nitip link postinganku mengenai kasus Namru 2 :
http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04/30/apakah-menteri-kesehatan-bakal-dicopot-mundur-kompromi/
Terima kasih, dok.
Cak, baca ulasan ini, saya jadi teringat sesuatu… dan ingin menanyakannya…
gini, bbrp waktu lalau iseng iseng ngobrol dg teman yang istrinya itu seorang dokter (S-2). obrolan itu ttg cepat hamil & benih… katanya, menurut istrinya yg seorang dokter itu, jika wanita selesai mens, jangan langsung berhubungan paling tidak tunggu 3 hari, karena sel telur/sperma yang dihasilkan kualitasnya tidak bagus… kalopun berhubungan sebaiknya make karet.
saya yg baru denger itu bilang, kok baru denger ttg ini… dijawabnya karena saya khan nggak kuliah di kedokteran, makanya gak tahu.. . hehehehee…
lha yang mens khan yang perempuan, apa hubungannya dengan sperma ya Cak..??
kalo untuk sel telur saya pikir karena emang belum matang/siap untuk dibuahi aja ya jadi kemungkinan untuk terjadinya kehamilan kecil…?? bener gak sih…?
oh ya sekalian pendapatnya dong Cak ttg anggapan tidak boleh beli beli kebutuhan baby saat usia kandungan belum 7 bulan, pamali katanya…?? kalo beli efeknya apa ya..?? soalnya saya mo siap siap nih, mumpung ayahe si baby masih ada di indonesia.. hehehee, ntar kalo nunggu 7 bulan, sendirian la’an saya … capek deh…
matur suwun Cak..
-frida
@ Robert Manurung:
ok, dicopy gitu roger … hehehe
Makasih juga
@ frida:
Hehehe, *garuk-garuk kepala yg gak gatal*
Kalo mo mbela, bisa aja saya plintar-plintir agar masuk akal tapi jangan-jangan malah gak masuk akal. Jujur saja sayapun mumet mencari benang merahnya.
Eh, ntar…itu yg ngomong langsung, suaminya apa istrinya yg dokter?
Hmmm, iya…kualitas sperma gak ada hubungannya dengan mens. Emang ada wanita yang rahimnya (karena berbagai kondisi) menolak sperma dan dianggap sebagai antigen, tapi ini jelas topik yang berbeda. Lagipula, ovulasi dihitung berdasarkan mens yang akan datang.
bener..100 deh, ntar hadiahnya minta ama suami yaaaa
Soal beli kebutuhan baby, kapanpun boleh beli, gak ada hubungannya dengan usia kehamilan. Gak boleh beli kalo gak ada duit…hehehe
So, selagi suami ada di Indo, silahkan jalan-jalan beli kebutuhan baby, dan jangan lupa gandengan semesra-mesranya lho
Met berbelanja….Thanks share-nya
yang ngomong suaminya, Cak, berdasarkan pemberitahuan istrinya yang dokter…:D hehehehehe
@ frida:
hehehe … gak komen ahhhhh
Nimbrung…. Aku ketawa gak abis2 baca postinganmu Cak.. Aku ini pasien, SMA aja jurusan A3 = IPS=gak ngerti IPA blas.., jadi kalo ke dokter harapannya segunung. Gak usah ke puskesmas, ke rumah sakit yang guedenya konon paling top dan mahal di Jakarta aja, ternyata sangat sering mengesalkan hati. Beberapa bulan lalu aku merasa ada benjolan di payudara kanan, mau langsung konsul ke dokter bedah..eh disuruh ke dokter umum dulu katanya, hanya untuk mendapat surat rujukan ke bagian rontgen, edan gak? Nunggu dokter umumnya aja udah setengah hari, trus ke bag X-ray kira2 1 jam, trus utk dapet hasilnya kira2 1.5 jam, trus balik lagi ke dokter umum, trus apa katanya “Ibu saya rujuk ke dokter bedah ya” Ya ampuuunnnn! Jadi utk konsul ke dokter bedah itu aku melewatkan waktu seharian.. Jadi mikir, gimana kalo di daerah eyangku di Kediri sana ya? —jangan2 jawabannya “Ooo..ibu gak boleh makan telor, susu..hahaha”. Mbok ayo tho, ngajari rakyat jadi makin pinter..Bravo Cak!
@ Sandra:

hahaha, ketawa juga…mungkin makin besar RS makin rumit urusannya … ato kali menganut sistem birokrasi berjenjang … RS ibukota 1 hari, RS propinsi 3/4 hari, RS Kabupaten 1/2 hari, hanya untuk 1 lembar surat rujukan ke Poli Bedah yang nyata-nyata ada benjolan.
Lha saya malah kuatir kalau-kalu cerita tetangga benar bahwa periksa ke RSU, konon tanpa dilihat, tanpa diperiksa, dumadhakan keluar resep…byuuuuhhhh…sakti banget
Eh, tapi di Kediri minggir dikit, di RS Pare bagus lho
Tur nuwun
O iya..aku dulu pernah kok nganter eyangku (apa ibuku ya? lali) ke rumkit Pare itu.. Aku ndak tau kenapa waktu itu kok musti ke sana.. Mungkin ya itu tadi, dari jaman dulu sudah ada efisiensi di sana. Fyi, aku kmdn periksa ke RS Onkologi Surabaya (sudah eneg banget dg rumkit Jakarta critanya-dan nyari dokter yang bisa ngomong Suroboyan..halahhh), wuih disana tob banget. Aku sdh disarankan puasa, seandainya benjolan musti diambil, eh begitu nyampe, usg,cek darah, thorax, biopsi, sampai hasilnya kurang dari 1 jam!! Datang jam 8, jam 11 sudah di ruang operasi. Sebagai pemegang KTP JKT, terus terang aku uisiiiiinnnn…:)
@ Sandra:
ya ampyun, sama eyang dan ibu koq bisa lali, piye tho ?
hahaha, berarti gebyarnya metropolitan gak selalu berbanding lurus dengan kualitas pelayanan ya …
Yaa..harap maklum, wong aku masih umur kira7 tahun, ada eyang dan ibuku *ngeyel mode on*
@ Sandra:
woooooww, ya harap maklum juga…ternyata saat itu 7 tahun, … dah lama ya, 15 tahun yang lalu kali ..hahahahaha *guyon*
Hiksssss…anakku aja umurnya udah 11 tahun cak… //udah 30thn lebih lageee
(*tuwek.com* halah)
Mudah-mudahan segala macam kesalahan itu akan terhapuskan seiring sahnya saya menjadi seorang dokter. Mohon doanya. Semoga saya dapat menjadi dokter yang budiman
@ Sandra:
hahahaha, maaf-maaf-maaf … tak kira masih remaja kayak saya *blethak-blethak, bag big bug..bangun cak*
Tenang mbak, di sini kita semua sebaya koq
@ necel:
waoo…selamat ya *salaman gak pakai angpao*
Selamat berjuang, semoga menjadi dokter yang dapat memberi manfaat bagi sesama. Amin.
cak, aku salut marang sampeyan. kalo semua dokter kayak sampeyan pasti sueneng dadi pasienne. Aku dosen poltekkes, trims atas sharingnya. aku juga setuju perlu ada reformasi untuk pendidikan sejenis poltekkes. Tau gak cak ? yg namanya kurikulum ganti terus, sampe bingung !. Memang kalaw cuma D3 gak sering2 pelatihan ya susah jadinya. Tapi cak, bukannya ngobatin pasien itu kewajibannya dokter kt perawat/bidan menerima pendelegasian aja ? kalaw di daerahku dokter fungsionalnya sering gak ada ditempat (puskemas), dr yg plg rajin ya Ka. puskesnya.
ya semoga isu ini tidak hanya nyanyian cak di dunia maya, tapi juga seringlah bimbingan dan membagi ilmunya/sharing dengan paramedis lainnya. saya jg peyugas puskesmas juga merasakan adanya info yg gegabah kepada pasien, tapi karena latar belakang pendidikan dan bimtek yang kurang dari pihak yg kompenten. Ngomong tentang pengobatan kan hak mutlak dokter, tapi karena dokternya jarang masuk, apa kita gak mau periksa/anamnesa dan melakukan pengobatan….jadi dilema juga. sebagai warga negara perlu perlindungan dengan undang undang keperawatan dimana didalamnya paramedis juga diharuskan uji kompetensi sampai saat ini masih kita perjuangkan, sehingga dilema ini menjadi pemikiran anggota dewan kita yg terhormat. mohon dukungannya semoga cepat terrealisasi. Kepada semua petugas/nakes yg terlibat tidak saling “serang” dan saling menyalahkan, mari mulai dari institusi tempat kita berada….
@ INDRI:
hebat, dosen nih yeee … hahaha, ngomongkan kurikulum repot, terutama bagi pelaksana, sementara para “dewa” pembuat kurikulum bukan orang-orang …eh dewa ding…yang langsung kontak dengan mahasiswa, maka jadilah kurikulum kita menjadi semacam uji coba, trial and error, mungkin juga project oriented … para dosen bingung, mahasiswa tambah bingung … hehehe.
Itulah persoalannya. Udah ada beberapa artikel mengungkap masalah tersebut di blog ini. UU No.23 Tahun 1992 (kalo gak salah)menurut saya berjenis kelamin dua, lha piye … paramedis katanya gak boleh ngobati, tapi di Puskesmas Pembantu dan Poli Puskesmas wajib ngobati pasien, pun di format kenaikan pangkat melalui Angka Kredit, ada item untuk pengobatan. Repot kan ?
Belum lagi kalo sang dokter sering keluyuran
Kalo saya, daripada berjenis kelamin gak jelas, sekalian petugas diberi delegasi resmi dan bimbingan teknis secara berkelanjutan, itu baru fair dan insya Allah bermanfaat.
@ Limpapeh2007:
Iya bener … kita berharap seperti itu. Di beberapa tulisan sebelumnya, saya udah upload tentang “kewajiban dokter” dalam hal bimbingan teknis kepada paramedis, terutama di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Dokter hendaknya tidak pelit ilmu *ntar kalo pelit ilmunya membusuk* dan memberikan bimbingan teknis secara berkala dan berkesinambungan dengan ilmu-ilmu terapan yang praktis dan nyata-nyata digunakan tiap hari, misalnya tentang ringkasan Patofiologi, gejala klinis, tindakan dan dosis obat serta advis yang perlu disampaiakn kepada pasien dan cara-cara support kepada pasien.
Repotnya gak semua dokter mau berbagi ilmu. Lebih repot lagi kalo dokternya jarang baca-baca, malas belajar lagi … wuaaaa, kasian pasiennya.
Tentang tindakan medis (termasuk pengobatan) oleh paramedis, saya sependapat, daripada gak jelas perannya, UU melarang ngobati tapi realitas harus ngobati, mending sekalian diberikan delegasi resmi, entah itu UU ataupun penjelasan dari UU atau Peraturan lain yang lebih khusus dan mengikat suapaya ada perlindungan hukum.
Oya, sekedar pencerahan (versi saya), bahwa mengakui kekurangan dengan membuka diri terhadap masukan dari pihak untuk perbaikan bukan berarti saling menyalahkan, toh ada tawaran solusi untuk pertimbangan. Sikap demikian kayaknya lebih bijak ketimbang salah tapi ngotot … bukan sampeyan lho …hehehe.
Selamat memperjuangkan kopetensi dan selamat bertugas, moga sukses selalu. Amin
saat ini sy lg coba susun SOP tindakan dasar yang ada dipuskesmas, tp saya terbatas dengan referensi, kalau boleh saya dibantu bahan SOP tindakan dasar tersebut untuk perbandingan bagi saya, silahkan bahannya dikirim via email. kalau pendelgasian wewenang untuk tindakan medis saya udah buat sampai ke PUSTU. terima kasih
tambahan juga, anak aq pernah beberapa kali berobat ke spesialis anak…tp obat yang diberikan “kelas atas” tentu dengan harapan banyak dapat bonus, menurut saya juga dosis yang lumayan tinggi juga. karena aq khawatir, mending aq kasih obat puskesmas aja, alhamdulillah sampai sekarang tetap cocok dengan obat-obatan yang ada dipuskesmas… pesan untuk pembaca yang lain jangan dipelihara fanatik kepada dokter spesialis..toh obat yang ada dipuskesmas sudah sangat baik bagi keluarga semua….
@ Limpapeh2007:
Untuk SOP or Protap, silahkan unduh di halaman Download (dalam format CHM) … ada juga ringkasan dalam format Flash swf… ok, ntar saya coba upload via email, file gede sementara koneksi lemot..hehehe
Pesannya moga dibaca yang lain.
Yang penting, dalam tatalaksana penyakit, tepat diagnosa, tepat obat, tepat dosis dan terjangkau harganya (ini ketentuan WHO)
Boss, lacak balik yang dari other pieces of mine dihapus aja ..
@ draguscn:
kenapa ??? ga papa
maksudnya tadi mau kirim ke pkm.info, salah kirim ke OPM. yang di OPM udah saya hapus .. ini pasti kualat gara-gara bilangin orang doyan nyanyi-nyanyi .. jadi salah kirim ..
@ draguscn:
ooo, gitu tho…
ya ga papa… ga ada yg tahu juga … hehehe