Senin, 21 April 2008 kita memperingati Hari Kartini. Saya tidak akan menulis sejarah panjang perjuangan beliau dan para penerusnya dalam upaya menyetarakan harkat dan martabat kaum hawa di Indonesia. Pada hari yang bersejarah ini saya hanya ingin mengungkapkan sedkit uneg-uneg terkait peringatan Hari Kartini.
Pertama: Karnaval Kartini-an
Belakangan ini, di daerah kami tak nampak lagi karnaval Kartini-an. Senang rasanya menyaksikan barisan panjang gadis-gadis kecil didandani beragam pakaian daerah, terutama siswi TK dan SD, berjalan gembira melangkahkan kaki mungilnya. Celoteh mereka bak senandung merdu diterpa jeritan riang di bawah sinar mentari pagi. *halah sok puitis*. Senyuman Kartinipun (mungkin) mengembang menyaksikannya… Koq sekarang ga ada lagi kenapa ya ? apa di daerah lain juga gitu ? Ahhhh, pingin rasanya punya anak cewek
Kedua: Runtuhnya dominasi kaum lelaki
Pelan namun pasti, dominasi kaum lelaki mulai runtuh seiring dengan perkembangan jaman di hampir seluruh sendi kehidupan. Kini bukan lagi suatu keanehan melihat suatu insitusi dipimpin perempuan tanpa harus meninggalkan kodratnya. Bahkan negeri inipun pernah dipimpin presiden perempuan. *boleh jadi tahun depan ada capres perempuan, semoga*. Ini hanya salah satu contoh potret kesetaraan di antara banyak contoh lainnya. Senyuman Kartinipun (mungkin) mengembang menyaksikannya… *mikir: subtitel di atas mungkin lebih cocok berlabel: bangkitnya kaum perempuan. Eh?*
Ketiga: Saling sikut lelaki-perempuan
Hari gini, masih jua kita disuguhi berita Pelecehan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang korbannya adalah perempuan. Lebam biru, sayatan dan aneka bentuk penganiayaan menghiasi sekujur tubuh perempuan. Sedih !!! Mengapa begitu? Ahhh, airmata Kartinipun (mungkin) menetes menyaksikannya…
Di sisi lain, kadang kita mendengar betapa menakutkannya perempuan hingga membuat ciut nyali suaminya.
Dalam sebuah kesempatan di suatu simposium, Seorang Profesor pernah guyon:” …teman sejawat saya, seorang Profesor, sangat disegani karena keilmuannya. Baru dengar namanya disebut saja, para dokter residen dan mahasiwa sudah mundhuk-mundhuk, saking segannya. Pun saat sang Profesor lewat, .. mak serrrrr, tengkuk para murid beliau menjdi dingin, …saking segannya. Nun di rumahnya, sang Profesor hanyalah lelaki biasa. Baru dipleroki istrinya saja, sang Profesor keluar keringat dingin, gemetaran dan pucat pasi, gara-gara salah naruh sandal jepit dan lupa nutup kulkas, saking takutnya sama sang istri…”. Grrrrr, uhhh, tawa dan senyum kecutpun menyeruak di akhir cerita pendek balada sang profesor… *yang takut istri ngacung … hehehe, jadi inget highlight sinetron: suami-suami takut istri*.
Para sahabat Blogger, ada yang gitu gak? Kalo ada, bentuk aja Persatuan Blogger Takut Istri atau apalah namanya, bisa sharing tuh
Ehm, Kartinipun (mungkin) tersenyum simpul menyaksikannya…
:: :: :: Posting menggunakan wlw :: :: ::





![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)

Nggak adil, katanya emasipasi, lha banyak wanita nggak mau di POLIGAMI? Padahal kan Ibu Kita Kartini tuh Istri ke-2??
Hayo para wanita yang ngaku cinta perjuangan Ibu Kartini??
*Provokasi untuk Poligami*
#Sibercuti : udah nikah belum sih mas ?, kok udah pengin poligami
Di sini masih ada kok pak acara kartinian, lha ini anak wedok yg TK sabtu besok kartinian, umi nya yang sibuk nyari baju dan perlengkapannya
Persatuan Blogger Takut Istri = PBTI good idea
Anak wedok ngeri ngga sih njaganya, Cak?
Iya tuh, kekerasan rumah tangga, ngga kebayang deh apa perasaan lelaki2 itu saat menghajar istri2nya. Apa bangga gitu jadi lelaki, bisanya kok mukulin perempuan. Sini lawan saya saja! *sambil kabur*
Tapi saya mungkin tergolong yang takut istri ya… gabung deh nanti…
huahahaha….. cak, mau dikirimin formulirnnya gak?
selamat hari kartini … SUMPAH™
ga isa komen (ngakak mode on…. kasihan tuh profesor)
bagus juga tuh PBTI dan tentu saja bagaimana kalo ketuanya cakmoki sekalian sebagai konsultan mengenai masalah-masalah suami-suami takut istri hehehehe
cuma mau permisi…
dah lama gak mampir disini
rasanya rindu berat (halah!)
apa kabar cak moki???
semoga sehat selalu yaaaaa…!!!
bos yang mau tukeran link
@ sibercuti:
gak melu-meluuuuuuuu *tak bilangkan si dia lho*
@ wulan:
…kalo bajunya ga cocok, mewek ga?
duhhhhh, senangnya *mbayangkan repot punya anak cewek tapi seneng*
Ceritain dong mbak, suka
dukaacara dandan untuk si gadis cilik@ Ady:
Emangnya ada Mas ? *lirak-lirik para ibu*
Maksudnya dah ada calon ketuanya ga?
@ Donnie Yodha:
wah, gak tau Mas, lha sy ga punya anak wedhok je..kali diajari kungfu aja.
hahaha ketahuan, ngeblok ditungguin sitri nih
@ itikkecil:
huahahaha, bikin postingannya dong..lengkap dengan formulirnya, saya gak ikut daftar ah
@ Joerig™:
wuaaaaa, lama gak jumpa Teh, kemana aja?
Kangen, sumpah ™
@ Elyas:
Eh? koq malah saya jadi korban … hehehe
@ Tiesmin:
Rindu berat juga *halah*
Makasih mbak, kabar baik
Moga demikian pula sebaliknya
@ reviewcom:
ok, boleh Bos
lapor.. akhirnya aku punya “door duisternis tot licht” terbitan 1912:)
baru baca beberapa halaman.. ada bagian yang daku kecewa dgn pikirannya. trus ku tinggal… ganti baca max havelaar.. baru bbrp halaman trus ada kerjaan.. buyar deh.
@sibercuti:
emansipasi tuh ngga ada hubungannya dgn poligami.
btw, kenapa selalu dibilang kartini istri kedua ya, kan suaminya udah pernah beristri 3 kali sebelumnya, apa cerai?
@Triesti
yang ingin saya tekankan adalah sosok Kartini sebagai wanita sholihah,bukan pada poligami nya. Maaf kalau tidak tertangkap maksud saya.
Kalimat HABIS GELAP TERBITLAH TERANG sendiri merupakan cuplikan dari ayat Al Quran (Q.S IBRAHIM:1&5,Q.S AL MAIDAH:16) ‘..Minadhdhulumati ilan nur..’.
Kartini mengaji pada seorang kyai (saya lupa namanya) tapi sayangnya beliau meninggal sebelum khatam, kalau saja beliau sampai pada Q.S AL AHZAB:33 maka para perempuan indonesia akan lebih sopan dengan menutup aurat.
Gak punya anak perempuan gak papa cakmoki, nanti aja punya cucu perempuan lebih lucu lagi lho cak….
Bisa ikutan lomba Kartini kecil & eyang kakung hheheh
Di daerahku Kartiniannya rame, dari siswa TK sampai pegawai kantoran pada pake baju daerah. Kantorku juga karyawati pada pake kebaya terus karyawannya pake batik ….repot siyy tapi seneng hehehe….
hahaha…persatuan blogger takut isteri ? Subversif banget dok.
aku nulis artikel mengenai laboratorium NAMRU-2 milik Angkatan Laut AS yang markasnya di Rawasari, Jakarta :
http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04/22/as-menjajah-indonesia-lewat-namru-2/
Salam merdeka!
numpang trekbek soal NAMRU2:
http://sibermedik.wordpress.com/2008/04/23/tentang-namru-2/
*Akhirnya nge-blog lagi, kebelet sih??*
Nah iki cak ketemu juga sumbernya:
“Kartini yang banyak bergaul dengan noni-noni Belanda memang pada awalnya menganggap budaya Eropa/Belanda sebagai budaya yang tinggi dan patut dicontoh. Namun semenjak dia mempelajari Islam melalui Al-Qur’an, dia menjadi sadar, dan menganggap ideologi kebebasan yang digembar-gemborkan Eropa tak layak disebut peradaban.
Dalam salah satu suratnya kepada gurunya, Kyai Sholeh Darat, dia menulis, ”Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Qur’an yang isisnya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa? Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”. Subhanallah gals, hanya belajar satu surat saja, pemikiran Kartini langsung berubah, bagaimana ya kalau beliau sudah mempelajari Al-Qur’an sampai surat An-Nur dan Al-Ahzab. Mungkin gambar Kartini yang sekarang kita lihat bukan berkonde, tapi berkerudung dan berjilbab.”
http://www.islamuda.com/?imud=rubrik&menu=baca&kategori=7&id=486
pak.. pak.. tadi liat Takalar di Trans TV. ada kampung Jagung.. itu Takalar tempat bapak bukan ya?
HARI KARTINI = HARI POLIGAMI INDOONESIA = 21 APRIL ???
EMANSIPASI WANITA = EMANSIPASI SESAMA ISTRI (istri tua dan istri muda)???
Cakmoki mesthi gak kenal mbek aku nek aku nganggo jeneng asli.
Senyum kartini bisa membuat lelaki lupa istri-anak di rumah, Cak. Namun, yang lebih berbahaya adalah kiprah kartini. Yang terakhir ini bikin banyak kartono nganggur nggak bisa kerja. Setiap kartini senyum bos kasih kerjaan. Lama-lama laki-laki akan di rumah ngurus bayi.
Jadi bloger takut istri beneran deh!
@ triesti:
bagian mana yang mengecewakan ?…kasih tau dong
huaaaa, kerjaan terus, kapan santainya?
@ Shinta:
iya deh, nunggu cucu aja.
Masih ada ya ? ..asyik
@ Robert Manurung:
hehehe, moga gak diprotes para istri.
Ok, ntar saya lihat NAMRU2. Trims
@ sibercuti:
enggak tuh, justru para ulama menerjemahkan disertai hashiyah dalam bahasa Jawa…bukankah kitab-kitab klasik aqidah, fiqih, hadts, thoriqoh dll terbitan Jawa (pesantren) berbahasa Jawa? Dan itu udah ada sebelum ibu Kartini lahir. Ataukah yg beliau maksudkan huruf-hurufnya ? kalo yg ini gak saya tahu
@ mariana silvania:
bukan, tempat saya Palaran
@ Yudhi H.Gejali:
ha ???? kalo ketahuan anak mertua dijamin gak “diparingi” sebulan
@ arif:
kenal Kangggggg
di daerah kami rata-rata para istri menjadi karyawan perusahaan plywood (dulunya banyak, sekarang tinggal 2 aja), suami momong. Nah, konon saat istri lagi pingin adegan hohohihe (adegan ranjang) maka suami harus ready for used … pernah ada yg ga ready, sang istripun marah-marah sambil nendangi alat-alat dapur … hahahaha, untunge gak nendangi alat v*t**
Nah… Bagaimana sibercuti akan bersikap kalau begitu? Bukankah kata Quran itu arrijalu qowamuna alannisa. Aku ingat betul ayat ini karena waktu dulu Megawati nyalon Presiden si PPP ngangkat ayat itu. Eh, begitu Gus Dur dilengserin, Hamzah Haz mau jadi wakilnya Megawati. Payah itu orang Kalimantan, Cak! Kok mau-maunya mbalik ayat jadi annisa qowamuna alarrijal.
Glodhak! Wis ketularan bawa-bawa ayat.
@ arif:
… ketularan juga.
hehehe, mungkin tergantung kepentingannya Kang *tolah-toleh*
…gak wani nerusno
Cak, punya anak wedhok itu ngegemesin loh, ya tingkahnya, celotehnya, gayanya… pa lagi kalo lagi asyik megal megol ikut irama musik wah.. jian lucu buanget…:)
trus kalo dia tanya ‘mengapa’ kita jawab ‘karena/sebab’ dia tanya lagi dengan ‘kalo begini/begitu?’ wah wah wah… bisa panjang kayak sepur jawabnya ntar …. obrolan obrolan yang keluar dari mulut kecilnya itu loh, diluar perkiraan … wah…
kalo baju nya nggak cocok anak saya komen macam macam… trus bergegas ke lemari bajunya, ambil sendiri yang dirasa cocok… hehehehe.. saya mah tinggal manyun aja. lha piye , wong sudah susah susah dicariin padu padan baju eh… dikomen nggak cocok…
belum lagi kalo ada orang dandan… wah.. bisa bisa semua perangkat dandan emaknya dikeluarin dan dicobain sendiri depan kaca…:):)
ini sebagian gaya si kecil saya, tapi maaf loh dah lama nggak update blognya.. hehehe http://najwaalya.blogspot.com
dhuuuuhhhh … diiming-imingi, jadi tambah pingin anak wedhok.
Denger ceritanya …eh, baca ding … bikin ngiler *ngelap iler*. Untunge anak morotuwo wedhok … hehehe, ayu dhewe sak omah
ok, ntar tak kunjungi ya
aku kok gak yakin kalau dominasi laki-laki akan runtuh. kalau di telusuri lagi, cerita kartini penuh ironi. liat aja tulisan seorang blogger di http://www.sofyanr.com/mengenang-kartini-i.html. Bahasanya lumayan runtut dan mengena