SAJIAN AWAL APRIL: GERAH DI RUMAH RAKYAT
Alkisah, di sebuah negeri nan kaya raya, gemah ripah loh jinawi (tapi suka hutang dan korupsian), yang terletak di garis virtual median bumi, terbetiklah berita jenaka dari balik bilik-bilik Rumah Rakyat yang konon merupakan tempat berkumpulnya para cerdik pandai sebagai wakil-wakil pilihan rakyat. Betapa tidak, tingkah polah diantara beliau-beliau yang mestinya memperjuangkan kepentingan rakyat itu ternyata (kabarnya) sangat menggelikan.
KEJUTAN *yang tidak terlalu mengejutkan* DI AWAL APRIL
TiVi dan Media Cetak negeri tersebut menayangkan berita dari penghuni Rumah Rakyat sebagai kejutan (walau sebenarnya tidak terlalu mengejutkan) di awal April 2008, yakni dugaan kasus suap yang menerpa salah satu anggotanya dan rencana tuntutan atas sebuah grup musik rakyat yang mengingatkannya lantaran merasa dicemarkan nama baiknya sebagai wakil rakyat. *hik-hik-hik, lucu ya, wakil rakyat mo nuntut pada yang memilihnya hanya karena diingatkan*
Tontonan untuk Tuntunan
Di sebuah panggung terbuka, sebuah grup musik rakyat tampil melantunkan senandung pilu sebagai ungkapan keresahan hati rakyat dan tuntunan bagi para wakil mereka yang duduk anggun berbalut kemewahan di Rumah Rakyat. Tak ada yang aneh, mengingat para wakil rakyat yang kini selalu berpakaian mahal, bermobil mewah, mendiami rumah dinas dan segala macam fasilitas kelas satu tersebut mendapatkannya atas pilihan rakyat.
Apa lacur, salah satu wakil rakyat tak mampu membendung amarahnya ketika sesi dialog TiVi menayangkan persoalan seputar lyrik lagu yang isinya dianggap menyudutkan para wakil rakyat. Bahkan wakil rakyat berencana menuntut rakyat yang memilihnya hanya karena gerah (gak mau diingatkan). Entah hanya karena emosi sesaat atau karena sebab lain, tiba-tiba rencana gugatan sirna bak tertiup angin.
Tak ayal sebagian rakyat negeri nan kaya itu mengaitkan batalnya gugatan dengan peristiwa lain yang melibatkan salah satu penghuni Rumah Rakyat, yakni dugaan kasus suap. Mungkin para wakil rakyat tidak tahu bahwa gunjingan tersebut bukan melulu opini beberapa kalangan yang diliput media, namun merambah ke berbagai pelosok negeri.
Nikmatnya suapan
Siapa sih yang tidak pernah merasakan nikmatnya suap ? *nyaem-nyaem*
Betapa nikmatnya ketika seorang bayi menerima suap demi suap makanan yang diberikan kepadanya oleh seorang bunda sambil melantunkan lagu. Pun ketika seseorang menderita sakit, suapan demi suapan diterima si sakit untuk memulihkan kondisinya. Nikmat !!! Terlebih suapan dari kekasih diseling ungkapan mesra. Mie kuah ala kost-kostan serasa menu pilihan di restoran. Duhhh, nikmatnya ! Tak ada satupun yang merasa dirugikan, bahkan yang melihatpun ikutan tersenyum bahagia.
Sangat berbeda manakala suap dilakukan untuk kepentingan pribadi dan merugikan pihak lain, terlebih merugikan rakyat. Mungkin nikmat bagi penerima suap karena mendapatan “sesuatu” dan bagi penyuap karena tujuannya tercapai. Entah suapan itu nantinya berwujud Undang-undang ( rakyat negeri kaya tersebut memplesetkannya dengan Ujung-Ujungnya Duit …*hmmm cerdas* ) ataupun segala bentuk kebijakan yang berujung pada kesengsaraan rakyat yang diwakilinya. Siapa peduli !!!
BUKAN RAHASIA
Lelakon sejenis bukan lagi menjadi rahasia di kalangan rakyat negeri nan kaya raya tersebut. Sejak digulirkannya janji perbaikan sekitar sepuluh tahun lalu bertajuk “Reformasi”, realisasi perbaikan tak kunjung tiba. Yang terjadi malah sebaliknya, jumlah rakyat miskin meningkat, pejabat negara satu demi satu masuk bui, harga-harga kebutuhan pokok melambung, Demam Berdarah merebak tak pernah tertanggulangi dan segala potret kesengsaraan rakyat nampak jelas di depan mata. Maka tak perlu heran jika antrian panjang berebut minyak tanah, beras, minyak goreng … dll … nyaris terjadi dimana-mana bak sebuah negeri dilanda perang, sementara para wakil rakyat bergelimang kemewahan.
Masihkah dipungkiri ? Berita-berita tak pernah sepi terkait polah tingkah para penghuni Rumah Rakyat. Dana ratusan juta yang diterima partai (tempat wakil rakyat bernaung) saat Pilpres dari salah satu Departemen, aksi pengembalian uang para wakil rakyat di salah satu komisi yang membuat Undang Undang, dll … dll … dll… dan terkini adanya kasus dugaan suap yang melibatkan seorang penghuni Rumah Rakyat. Apapun bantahan dan alasan untuk berkilah, mungkin rakyat negeri tersebut sudah sangat sulit mempercayainya. Ehhh, entah ding … kali masih sangat banyak yang percaya dengan berbagai argumen tentunya. Siapa tahu ?
TUNTUNAN PUNAKAWAN
Ibarat lakon wayang, lyrik lagu grup musik rakyat mungkin mirip dengan pitutur para punakwan kepada bendoronya tatkala sang bendoro mulai berjalan tak sesuai pakem laiknya seorang panutan. Dalam episode dialog punakawan dan bendoro, pada akhirnya sang bendoro yang diidentikkan sebagai pemimpin atau panutan, dengan lapang dada menerima nasehat para punakawan yang diidentikkan sebagai rakyat. Budaya leluhur bangsa negeri nan kaya raya tersebut sebenarnya mengajarkan nilai-nilai luhur kepemimpinan dan pengejawantahannya dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, mengapa para wakil rakyat tersebut meradang ketika diingatkan oleh rakyat yang memilihnya ? *masih untung gak didemo massal kayak 1998*
Dan, mengapa pula para wakil rakyat negeri tersebut tidak membuktikannya dengan “berbenah diri” dengan serius bekerja sesuai amanah, tidak korupsi, jujur dan tidak menerima suap ketimbang sibuk berkilah dan marah-marah ?
Sayang sekali, sebuah negeri gemah ripah loh jinawi, yang mestinya hidup makmur dan sejahtera sebagaimana janji-janji para wakilnya, harus hidup dalam lembah kesengsaraan. Tak tahu apa dan siapa yang salah, …. para pengemudi dan wakil rakyat negeri tersebut tidak pernah merasa salah.
Ahhh, … entahlah.
:: :: :: posting menggunakan wlw :: :: ::





![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)

Pada alergi sama nasehat kali pak
dikasih nasehat langsung “meradang” 
satu hal.. kadang, rasanya di banyak negara Eropa yg tidak berazas Pancasila lebih Pancasilais negaranya. Apalagi bila diingat mereka negara sekuler, bukan berdasarkan agama.
@ wulan:
iya kali, obatnya gampang …antialergi..hahaha
@ triesti:
kira-kira beda gaji dan sabetan apa karena beda mentalitas ?
negeri nan kaya raya, gemah ripah loh jinawi (tapi suka hutang dan korupsian) … Indonesiaaaa. enak dibaca sampe saya save segala
Toto Tentrem Raharjo = Tentrem Korup nggak ketahuan.. :p
sayang gak kebagian .. nich, jd gak perlu ngeradang.. ^_^ he he he
itu karena rumongso pak

seakan2 aibnya ditelanjangi.
lha kalo gak punya aib kan mestinya gak usah meradang ya pak
Yang aku heran kok tumben bisa rumongso sampai meradang.
Lak biasane rodo budeg sitik, rodo gak rumongsoan hehehe….
PILIH CAK MOKI SEBAGAI BUPATI SAMARINDA:
ketik REGCAKMOKI kirim ke no hp cak moki..dijamin pulsa anda akan berkurang untk sms he5x..
Bingung………. Rakyat miskin makin banyak, tapi pejabat dan anggota legislatif makin makmur. Herannya, calon kepala daerah yang pande ngibul dan ngelawak walau penuh dengan “borok” malah disenangi masyarakat. Ya…. mbohlah, opo-opo larang pak…………
Tuhan bekerja secara ajaib, Cak. Ketika mereka sok tersinggung dengan lagu gosip jalanan milik Slank, tanpa diduga-duga Al Amin Nur Nasution ditangkap basah.
Mungkin karena itulah rombongan sirkus Senayan itu nggak jadi menuntut Slank.
Gimana mau menuntut kalau di depan mripate ditunjukkan bukti bahwa mereka memang seperti itu?
vote cakmoki for president!
Kenapa ya Cak… kok mereka serakah gak abis2. Imbasnya sudah kelewatan. Kabarnya kenek bis negeri kaya tersebut malah mau mengakuisisi (seperti biasa lewat konsorsium ini itu) pelabuhan jakarta buat dijual ke luar negeri .. setelah mendengar dari pimpinan pelabuhan kalo tahun lalu pelabuhan untung 1 triliun… huhuhu kalo dijual beneran saya makan apa Cak? Ya makan nasi tho ..
Yang mesak ke lagi .. di sepanjang jalan ke tempat kerja banyak banget liat orang antri minah. Suatu hari liat anak kecil kurleb 12 thn gandeng adeknya 3 th’an kakaknya bawa dua jerigen 4 ltr’an adeknya bawa 1 jerigen entah penuh apa enggak.. langsung mbrebes cak
@ riza:
copy-paste untuk belajar hidup ya
@ sibermedik:
hahaha, ono-ono wae
@ ardi:
sebagian dari “beliau-beliau” nun di sana konon mengembalikan “suap” …yg gini kebagian tapi ga ikutan meradang..hehehe
@ Gum:
… kan keliatan
iya kali, piye ga meradang … lha ditelanjangi je
anunyaaibnya .. ya gak..ya gak@ Astri:
… lek budeg sitik obate gampang mbak, tembel lem alteco
huaaaaa … jan wani tenan
@ sibermedik:
walah, kirim sms..mbok sekali-sekali kirim amplop
@ ksemar:
…
karena pinter berakting dan ngelawak itulah disenengi rakyat (mungkin)
iyo, opo-opo larang…beliau-beliau enak bisa beli apapun, gak tahu uangnya darimana …gak peduli juga dengan rakyatnya …mbuh
@ kombor:
iya Kang, herannya…koq gak malu ya ? atau mungkin sudah diimunisasi vaksin “antimalu”
@ itikkecil:
hahaha, ntar se indonesia nge-blog semuwa, lha kerjanya kapan ? …gak jadi vote
@ juli:
duh, iya mbak … bikin tambah nelonso aja. Bisa jadi kernet bis negeri nan kaya tersebut emang udah dipacaki make up anti nelonso, mulane gak peduli rakyat antri minyak tanah, beliau-beliau tetep rebutan numpuk pundi-pundi … melalui akuisisi segala macam aset …ntar lama-lama negeri ini dikontrakkan kali..lha kita tidur dimana? …yo di kasur …hehehe
Dak bisa komentar apa-apa lagi, Cak, soal kelakuan mereka itu…
Di kampung saya, sudah mulai susah untuk dapat minyak, sehingga Bu De sudah mulai pakai kayu bakar lagi karena beliau males antri…
Eh, mereka itu kok ya masih berkelakuan seperti itu. Anak PAUD di kampung saya itu aja, kelakuannya baik banget kok. Mau membantu orang lain tanpa diminta, mau bersih-bersih tanpa disuruh, bilang terima kasih setelah mendapat sesuatu dari orang lain, walaupun tetap saja mereka suka berebut perhatian.
Maaf, agak banyak…
@ suandana:
Sama Mas, di sini dah ketularan antri minyak, pagi sampai sore…gak bisa ditinggal makan, alhasil Maag kambuh
eh, anak PAUD itu siapa ? anggota DPRD ya ?
Makanya nih, perlu disosialisasikan lebih jauh ke rakyat jelata golongan menengah ke bawah supaya TIDAK MILIH WAKIL RAKYAT YANG TIDAK MUTU! Supaya ngga tergiur dengan sogokan sesaat sebelum nyoblos ataupun janji2 muluk pas pemilu!
Ayo mbikin blog buat mendidik para pemilih, Cak! Tapi rakyat miskin ngga main internetan yak.. huhu.. piye no?
Kira2 kalo Cak Moki jadi presiden, yang korup mau diapain, Cak?
@ Donnie Yodha:
Repotnya, kebanyakan masyarakat kita di pedesaan masih seneng diamplopi , gak peduli bagaimana mutunya.
Tapi belakangan, semua amplop diterima, mbuh nyoblosnya ..hehehe
Kalo saya jadi presiden ? *ntar mikir* …potong tangan !!!
Kebudayaan suap memang harus diberangus. Tetapi masyarakatlah yang menyuburkannya. MAsyarakat yang ingin maunya mudah terus, segala sesuatu mau ambil jalan pintas. Dengan alasan kawan, saudara, satu suku, dll. INilah yang tak ku suka, emangnya dengan suap kalian bisa tenang. Dijamin bakal bikin sengsara. Bagi birokrat juga jangan mempersulit urusan yang sebenarnya mudah (pungli_)
@ necel:
setuju !!! *sambil mengepalkan tangan*