Salah seorang anggota DPRD Balikpapan pada berita koran hari Senin, 7 April 2008 melontarkan wacana pemberian Black Award DBD kepada Kecamatan yang tidak bisa menekan angka kesakitan Demem Berdarah (DBD) sebagai bentuk punishment dan pemberian reward bagi kecamatan yang mampu menurunkan angka kesakitan Demam Berdarah.
Tak ayal Kepala Dinas Kesehatan Balikpapan pun (masih kata koran)mengamininya. Entah, apa karena yang ngomong anggota DPRD ataukah sang kepala dinas memandang wacana tersebut sebagai salah satu langkah menurunkan angka kesakitan Demam Berdarah. Konon, kata kepala Dinas Kesehatan Balikpapan, pemberian Black Award dimaksudkan untuk mendorong peran serta masyarakat dalam upaya mencegah Demam Berdarah.
Ohhh, apakah itu berarti peran serta masyarakat selama ini dinilai kurang, seperti biasanya dimana masyarakat selalu didapuk sebagai kambing hitam ? Atau ada faktor lain dimana masyarakat mulai enggan berpartisipasi tapi gak mau ngomong ?
Hehehe, ntar akan ada yang komentar: ” jangan negative thingking dong, cak !”, atau “…ah, su’udzon lagi, nyebut cak!” …
Ok, ok, ok, mari kita kaji dari berbagai sudut pandang, dan gak perlu sungkan untuk beda pendapat.
Pertama: tentang Reward dan Punishment. Pada dasarnya apapun metode yang akan dilakukan, gak masalah , asalkan:
-
metode tersebut benar-benar diperkirakan dapat dipakai untuk mencapai tujuan, yakni menurunkan angka kesakitan Demam Berdarah, bukan sekedar seremonial belaka (seperti yang sudah-sudah);
-
dilakukan dengan jujur, misalnya: gak nutup-nutupi angka kesakitan Demam Berdarah hanya supaya gak dapet Black Award ataupun Reward, dengan kata lain tidak melakukan make-up data, dipupuri supaya nampak cantik;
-
ada cara baku penanggulangan Demam Berdarah berdasarkan epidemiologi dan keputusan kepala daerah sesuai masukan lembaga teknis dalam hal ini Dinas Kesehatan, misalnya: urutan prioritas penanggulangan Demam Beradarah di Kota Anu adalah: (1) gerakan 3 M sekian minggu sekali, (2) Abatisasi semua Rumah, Kantor (termasuk kantor Dinas kesehatan, DPRD..dll), Tempat-tempat Umum (sekolah, pasar, gedung bioskop, terminal, bandara, dll…dll) setiap 2-3 bulan sekali (yang rutin beneran lho ya), (3) fogging, walaupun tidak efektif namun secara psikologis tetap dapat dilakukan terutama di daerah endemis.
-
tidak dijadikan arena proyek (project oriented) yang pada gilirannya hanya menghamburkan uang rakyat.
Kedua: tentang Metode, ok…saya akan ulang lagi. Metode hendaknya dilakukan secara terus menerus mengingat sifatnya untuk memutus mata rantai nyamuk Aedes agypti dan kita tahu bahwa Demam Berdarah terjadi sepanjang tahun, kalo gak percaya silahkan tengok Rekam Medis. Artinya, Dinas Kesehatan dan jajarannya tidak hanya tergopoh-gopoh hanya saat media mengekspos berita Demam Berdarah.
Jika Abatisasi dianggap salah satu cara memutus mata rantai nyamuk Aedes agypti (seharusnya emang gitu kan?), maka pengadaannya haruslah sesuai kebutuhan dan dihitung secara cermat berdasarkan jumlah kontainer, sehingga benar-benar tidak ada lagi tempat potensi berkembangnya nyamuk Aedes agypti yang gak kebagian Abate. Jika masih ada kontainer (gentong, drum, bak, dan sejenisnya) yang gak ter-abatisasi, sama artinya dengan bo’ong. Lha dananya? yeahhhh …. apa sih susahnya, lha wong untuk jalan-jalan bertajuk study banding aja bisa istiqomah mengapa untuk kepentingan warga gak bisa ? Mohon direnungkan, Bos !!!
Contoh buruk adalah Kota Samarinda. Konon Dinas Kesehatan Kota Samarinda menyediakan 500 kg Abate, entah maksudnya untuk 2-3 bulan apa untuk 1 tahun, gak jelas, dan gak pernah dijelaskan. Mari kita hitung…
500 kg = 500.000 gram (mohon koreksi jika salah). Setiap drum (sekitar 200 liter) diperlukan 20 gram Abate, atau setiap 100 liter air diperlukan 10 gram abate. Berarti 500 kg atau 500.000 gram abate untuk 25.000 drum air.
Andai 1 rumah hanya punya kontainer (bak air, bak mandi, gentong, dll) setara 1 drum air, maka 500 kg Abate hanya untuk 25.000 rumah dan hanya untuk 2-3 bulan saja, bulan-bulan dan rumah-rumah (termasuk tempat-tempat umum) lainnya gak ada abate.
Bayangkan, Kota Samarinda konon berpenduduk sekitar 600.000 jiwa. Anggaplah jumlah rumah dan tempet-tempat umum sebanyak 100.000, lalu apa artinya 500 kg Abate ?
Artinya: Kota Samarinda tidak akan pernah sepi dari Demam Berdarah. Nasib-nasiban gitulah…Lalu gimana tuh Kepala Dareah, Dinas Kesehatan sebagai lembaga teknis dan DPRD sebagai lembaga wakil rakyat ? Entah kapan Kota ini dikelola oleh orang-orang yang benar dan dapat memegang amanah.
Jadi, jangan pernah menyalahkan masyarakat jika para penyelenggara teknis tidak pernah serius.
Ketiga: tentang Peran Serta Masyarakat. Kita tahu, masyarakat kita adalah masyarakat paternalistik, artinya cenderung meniru para panutannya. Lha kalo para panutan (dalam hal ini penyelenggara pemerintahan dan wakil rakyat) hanya bengak-bengok, sedangkan abate aja (salah satu contoh) gak terpenuhi, maka masyarakatpun akan apatis. Sayangnya, para panutan kita (termasuk di daerah tingkat II) tidak pernah belajar dari hal-hal sepele semacam ini. Alhasil, dalam evaluasi, nyaris selalu terlontar kalimat klise seperti:
” Demam Berdarah adalah masalah kita bersama, maka mari kita tanggulangi bersama-sama…bla…bla…bla “.
Nah, ketika kalimat indah tersebut terdengar oleh masyarakat yang tidak kebagian Abate, maka buih-buih ludah yang terlontar dari para panutan tersebut ibarat angin lalu….. hehehe, jangan marah ya Bos !!!
Berbeda jika upaya maksimal dan benar (ngitungnya) udah dilakukan tapi Demam Berdarah masih berlanjut, maka kita masih punya harapan untuk berpartisipasi dalam upaya penanggulangan Demam Berdarah.
Solusi: jujur, serius dan tidak korupsi. Loh, gak bisa …sulit…dll..dll. Ya udah, kalo gitu Demam Berdarah akan terus merenggut korban.
So, menurut saya Black Award hanyalah wacana yang penerapannya masih membutuhkan pondasi kuat agar tidak menjadi lips service belaka.
Semoga jadi renungan bersama, khususnya para penyelenggara pemerintahan wa bil khusus lembaga teknis.
Link Terkait:
:: :: :: posting menggunakan wlw :: :: ::





![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)

Wah wah wah… kalo ngarepin ngga korupsi rada susah Cak… Buat ngelunasin investasi pas pilkada sama pemilu aja masi belom kelar.. mana mungkiiiin? Hehehe.. ampun boss, saya cuman ikut2 cak Moki. Maklum pendherek lan bolo dupak.
Tapi serius nih, bener2 ga ada malu yah, pengadaan abate 500kg. It’s like blatant stupidity… Ah, malu rasanya (kok kita yg malah malu?)
@ DonnieYodha:
hehehe, jadi inget saat ini di Kaltim lagi menyongsong Pilkada Pemilihan Gubernur Mei mendatang …ada bisik-bisik dari kenalan yg ikutan Tim Sukses bahwa agar dapat diusung fraksi untuk maju jadi CaGub konon perlu angpao Milyaran (katanya ini uang beneran lho).. belum lagi untuk baliho dan asesori lain untuk menarik simpati. Dan itu semua katanya sih “demi kesejahteraan rakyat” …nah, mungkin Demam Berdarah apalagi cuman bubuk Abate tidak termasuk “demi kesejahteraan rakyat”.
Lha, tentang Abate 500 Kg itu dari berita koran *saya masih berharap salah cetak, mungkin 5000 Kg…halah* … dan saya khawatir waktu mengatakan 500 Kg, disertai pekik kebanggaan seolah 500 kg udah cukup untuk 2 tahun … hahaha
Saya tertarik dengan punishment dan reward ini Cak.
Saya pernah membaca teori belajar dari Thorndike dengan stimulus respon dan reward serta punishment nya.
Dikatakan pemberian punishment tidak efektif, sedangkan pemberian reward sangat efektif, sehingga lebih baik memberikan reward (dalam arti positif) walaupun belum memberikan harapan yang memuaskan dari prestasi yang dicapai seseorang.
Contohnya , untuk pemberian Black Reward DBD, ini sebenarnya adalah punishment tapi diperhalus dengan kata reward (jadi binggung). Jika ini diterapkan saya rasa masyarakat bukannya mau berubah menjadi baik tapi malah antipati dan resisten, apalagi kalo sampai dengar dana bantuan pencegahan dan promosi kesehatannya disunat dan dikebiri.
Alangkah lebih baiknya memberi reward yang positif untuk pencapaian prestasi masyarakat walaupun belum memenuhi harapan, dan untuk yang belum sesuai harapan maka pemerintah mendukung dan membimbing dan memberi contoh yang baik.
Maaf panjang juga komentar saya Cak, soalnya lagi menerapkan ilmu yang saya baca sehingga ngak lupa.
Sukses selalu Cak.
kemarin katanya adaproyek mbuat vaksin DHF di UNAIR…kabar-kabar sih..tapi emang bidang IKM harus menekankan PREVENTIVE MEDICINE ya Cak?
Maklum pendukung trias: AGENT-HOST-ENVIRONMENT *halah tenan’e?*
Jadi ingat joke waktu semester awal “Yen semua sehat dokter gak punya pasien dong?”
“Contoh buruk adalah Kota Samarinda. Konon Dinas Kesehatan Kota Samarinda menyediakan 500 kg Abate, entah maksudnya untuk 2-3 bulan apa untuk 1 tahun, gak jelas, dan gak pernah dijelaskan. Mari kita hitung…”
Nggak takut di grebeg cak?? *moga2 kebalik ya cak biar yang korup di grebeg KPK*
Saya juga khawatir seperti itu, Cak… Para petugas di daerah akan berlomba-lomba menutupi jumlah penderita yang sebenarnya. Nanti, begitu ada kasus yang bocor ke media massa, mereka bakal mencak-mencak dan kemudian menyalahkan petugas teknis di lapangan. Biasanya sih begitu yang terjadi
Padahal kan, petugas teknis itu hanya menjadi pelaksana perintah saja…
Dan, rakyat pula yang bakal disalahkan. Dibilang bodoh lah, apatis lah, dan … lainnya

*saporana, Cak… numpang melampiaskan kekesalan*
ngasih bubuk abate kok nanggung…
kenapa gak lebih banyak lagi ya cak?
bangsa kita memang tidak pernah bisa belajar dr pengalaman ya Cak, seingatku, sudah banyak sekali metode reward2-an seperti ini, tapi implementasinya apa? dari dulu sampe sekarang masih sama, utk mendapatkan sebutan terbaik (atau utk menghindari dicap terburuk), tak jarang dilakukan manipulasi (termasuk manipulasi data).
jadi menurutku metode ini sama sekali tidak akan efektif. duh gusti, kapan to pemerintah itu sadar dan pinter?
@ zulharman:
hmmm, saya sependapat untuk lebih memilih Reward dan bimbingan bagi yang belum bisa memenuhi harapan, ini lebih fair ketimbang punish membabi buta tanpa menghiraukan faktor penghambat. Mengedepankan punishment *bingung juga punish dinamakan award* menurut saya hanya kan menciptakan kebohongan dan tidak akan pernah bisa memecahkan masalah lantaran akar masalahnya disembunyikan.
Cuman ya itu, syarat dan rukunnya hrus dipenuhi: jujur, gak korupsi, gak dijadikan media proyek yg kebanyakan main mark-up.
@ sibermedik:
IKM salah satu cabang ilmu seperti lainnya yang lebih mengutamakan penanganan masalah kesehatan personal maupun komunitas secara komprehensif, ..konsep dokter keluarga secara umum juga begitu *halah, blethak-blethak*
Demo !!!
minta diliput tivi dan media, gampang kan …banyak yg mo nyumbang air mineral dan sego pecel … hahaha
@ suandana:
Sepertinya udah jadi lagu wajib Mas … petugas lapangan yg berkeringat dan rakyat hampir selalu jadi kambing paling hitam.
*nyara èatorè alampiasagi sè lo’ bênnêr …ta’ponapah Mas*
@ itikkecil:
kali dananya lebih diproiritaskan untuk
jalan-jalanstudy banding, mbak … mayan tuh, pesawat, hotel, makan-nakan dan oleh-oleh dibayari uang rakyat@ Fa:
manipulasi data… istilah kerennya “dipupuri” biar nampak cakep. Nah, pas daerah lain studi banding di saat bersamaan wabah ..huahahaha
#posting menggunakan wlw#
Hore! CakMoki sudah menggunakan salah satu dari 3 Alat Wajib Bloger.
deram berdemam… eh demam berdarah….
black award ntu seharusnya dikasihkan ke kepala dinas kesehatan, kepala daerah, sama menteri kalo perlu, kan kata mereka kalo dapet black award akan memacu dareah untuk emnuntaskan demam berdarah, sekalian aja mereka yang dikasih black award….
*cara terampuh pemberantasan demam berdarah : penjarakan semua koruptor, kembalikan uang terkorupsi kepada negara, pilih pemimpin dan wakil rakyat yang jujur, adil dan amanah pada pemilu mendatang….*
@ kombor:
makai beberapa Kang, yang ini kayaknya lebih sip, soale bisa insert tag tambahan, tabel, dll.
Turnuwun tutorial 3 alat wajib dan wlw pada posting terdahulu … Moga share ilmu Kang Kombor dicatat sebagai amal ibadah dan mendapat ridho-Nya. Amin
@ NdaruAlqaz:
eh, berarti penganugerahan Black Awrd kebalik ya …
sekalian dibikinkan pulau khusus, biar gak nular.
hehehe, gak terasa udah mo pemilu
hmmm, enake jadi rakyat, bisa ngeblog, mancing dan makan pecel di pinggir jalan
weleh weleh gak tau mao komen apa cak, semoga saja gak dijalanin tuh program.
@ Elyas
wacana doang kali, panas-panas “mie godhog” hahaha