4 kali berobat 4 juta

Pagi-pagi sekali saat matahari belum terbit, bulik Tar mengantarkan cucunya berobat ke rumah karena panas tinggi dan muntah. Sekalian beliau minta obat asma euphyllin retard mite dan pencair dahak golongan bromhexin. Setelah itu beliau bercerita bahwa sekitar 6 bulan yang lalu opname karena diare di sebuah RS swasta di Samarinda selama 4 hari. Ketika pulang, dokter internis wanita yang merawat memberitahu bahwa beliau menderita komplikasi, kolesterol tinggi (196 mg%), asam urat tinggi (6,3 mg%), diabet, ginjal dan bla-bla-bla sembari dipesani supaya kontrol ke praktek dokter tersebut. Namanya wong ndeso ™, bulik Tar yang tadinya gembira saat akan keluar RS, akhirnya pulang membawa duka dan ketakutan manakala diberitahu menderita komplikasi …bla…bla…bla. Wajah sumringahpun menjadi layu.

Pengobatan Komprehensif

Yang dimaksud pengobatan (perawatan) komprehensif adalah pengobatan dengan pendekatan menyeluruh, menyangkut: penyakitnya, obat yang diberikan, keterjangkauan harga obat, kondisi psikologis, aktifitas sehari-hari, pekerjaan, peran keluarga, faktor lingkungan dll. Mengapa penting? Agar keteraturan pengobatan (kalau benar komplikasi…bla…bla…bla) dapat terjamin dan tentu tidak terlalu memberatkan penderita.

Lelakon Pasca Opname

Episode selanjutnya, bulik Tar merasa wajib kontrol ke dokter yang merawatnya (di kota) sesuai pesan saat mo keluar RS. Gak berani ke dokter lain, apalagi mo kontrol ke dokter ndeso ™, saking takutnya.

Kontrol pertama, biaya dokter, lab ulang dan nebus obat, … bulik Tar terperangah ketika lebih 1 juta melayang. Masih saking takutnya, bulik Tar melanjutkan kontrol kendati keuangan kembang kempis. Berdasarkan hasil lab, bulik Tar masih jua wajib kontrol, … komplikasi, kata dokter, … meski beliau ga ada keluhan apapun dan merasa sehat, saking takutnya.

Setelah kontrol keempat, bulik Tar tak datang lagi, udah ga mampu bayar. Total biaya 4 kali kontrol sekitar 4 juta.

” Sepeda motor dijual, uang simpanan habis, tidak jualan nasi lagi … “, ujar beliau sambil tersenyum pahit. Beliaupun pamit menggandeng sang cucu dengan mata berkaca-kaca.

Bulik Tar, yang dulunya jualan nasi, … adalah salah satu contoh. Benarkah komplikasi (meniru pertanyaan beliau) karena hasil lab menunjukkan angka mendekati batas normal dan lebih sedikit dari batas normal ? Entahlah … !!!

Contoh lain, seorang teman tergopoh-gopoh membawa hasil Lab setelah beberapa hari sebelumnya berobat dan divonis gejala hepatitis, karena ada beberapa item dilingkari, salah satunya SGOT dan SGPT menunjukkan angka sekitar 40-an. Si teman berobat lantaran merasa capek sepulang dari luar kota dengan berbagai urusan, pagi hingga malam selama 3 hari. Dia ragu-ragu untuk nebus obat, penasaran atas dakwaan gejala hepatitis sementara setelah istirahat 2 hari dia bugar kembali dan merasa gak ada tanda-tanda hepatitis. Si teman minta diperiksa fisik. Hasilnya, ga ada apa-apa.

” Obatnya, mas ?”, dia bertanya…. ” Ga perlu, lha ga ada apa-apa, seger gitu, … obate kelon bojo bar ditinggal beberapa hari … “, kamipun tertawa, setelah menjelaskan sedikit tentang SGOT, SGPT.

Dari kejadian di atas, ada beberapa hal dapat dipetik sebagai pelajaran.

Pertama. Sikap waspada sih boleh, bagus malah. Namun, vonis berlebihan hanya berdasarkan hasil lab, patut dipertimbangkan.

Saya pernah bercanda, seandainya lab atau penunjang diagnostik menjadi satu-satunya alat ukur dalam menegakkan diagnosa dan menentukan pengobatan, mungkin gak perlu lagi berlama-lama sekolah kedokteran hingga lebih 6 tahun. Cukuplah kursus penyakit 1-2 tahun dan kursus lab or pemeriksaan penunjang 1 tahun, selesai dalam 2-3 tahun…jadilah dokter.

Mungkin candaan saya dinilai sinis, ga papa. Saya hanya ingin mengajak merenung bersama bahwa ilmu kedokteran menyangkut manusia ( makhluk yang memiliki harkat, akal budi, kehidupan, keluarga dan lingkungan fisik maupun sosial ) dan berbagai aspek yang terkait di dalamnya.

Kedua. Komunikasi, walau nampak simpel, perlu dijalin untuk mengetahui kondisi pasien, bukan hanya penyakit yang diderita, tetapi juga faktor-faktor lainnya sehingga keputusan dokter dalam memilih pemeriksaan penunjang dan obat tidak menambah beban pasien.

Pun demikian pula bagi pasien, tak perlu segan bertanya, tak usah malu untuk menyampaikan kepada dokter jika faktor biaya menjadi kendala. Siapa tahu dokter dapat memberikan jalan keluar untuk mengatasinya.

Semoga bermanfaat :)

 

 

About these ads

31 Responses to “4 kali berobat 4 juta”


  1. 1 itikkecil Maret 13, 2008 pukul 4:25 pm

    kapan ya, para dokter di indonesia mau memberikan obat yang murah?
    soalnya saya pernah tuh dok, ngobatin bronkhitis saya dikasih obat yang harganya 300 rb sekali tebus.

  2. 2 zulharman Maret 13, 2008 pukul 4:48 pm

    Sekarang ini selain pasien dihantam dengan obat-obat mahal dan pemeriksaan laboratorium yang berlebihan juga ditambah lagi beban biaya sewa inap ruangan yang terlalu mahal. Kelihatannya ada konsep membuat ruangan inap seperti kamar hotel. Menurut saya kamar inap memang perlu dibuat nyaman, bersih dan asri tapi jangan terlalu sampai dikomersialkan sehingga biaya ruangan bisa memakan hampir separuh bahkan lebih biaya perawatan total. Gimana Cak tanggapannya?

  3. 3 Shinta Maret 13, 2008 pukul 5:43 pm

    dduuhh…kasihan Bulik Tar ya cak…..

    Biasanya kalo ke dokter praktek, sebelum dokternya nulis resep saya selalu minta obat yang murah tapi manjur, dokternya ngerti koq…

    jadi pasien memang gak boleh sungkan untuk bertanya, hak kita sebagai pasien untuk mendapatkan penjelasan tentang penyakit dan cara penyembuhannya dan kewajiban dokter untuk menjelaskan. Dibilang cerewet juga ..biaarinnn …

  4. 4 sibermedik Maret 13, 2008 pukul 6:32 pm

    bener cak..heran,masih ada TS yg konservatif melihat penyakt pasien sbatas abnormalitas fisiologis *mbalikin modal PPDS mungkin he5x*..bukan pendekatan holistik (psikoneuroimunologi n biopsikosial),kesannya kayak montir *jadi inget film PATCH ADAMS*

  5. 5 triesti Maret 13, 2008 pukul 6:43 pm

    gejala hepatitis, verdacht (diduga) tipus… intinya sama: NGGA JELAS, tapi bisa jadi ladang cari duit.

    Sering pasien bertanya, dokternya marah karena merasa lebih tau. Apalagi kalo pasiennya model (aku) yg dateng dgn pertanyaan sepanjang segala abad amin. Belum lagi riwayat masalah, plus foto, plus journal terbaru yg semua diprint. Yg ada dibilang hipochondriac.

    Kalo kayak gitu, cari dokter yg lain. Dokter bodo, sok tau dan mata duitan tuh pasti ada… tapi dokter pintar dan baik (walau jarang) masih ada.

  6. 6 almascatie Maret 13, 2008 pukul 8:16 pm

    pasien jga manusia.. dokter juga manusia, maka marilah sama2 percaya pada kemanusian kita bukan pada mesin2 buatan manusia
    hehehhehehehe

  7. 7 NdaruAlqaz Maret 13, 2008 pukul 9:07 pm

    pesen buat yang di diagnosa hepatitis, cukup minum temulawak satu gelas 3 kali sehari, dijamin SGOT dan SGPT langsung turun….

    gak tau kenapa, dokter sekarang sepertinya bukan lagi menoong pasien, tapi malah mbuat bingung sama nakut-nakutin pasien…

    Ada ibu baru ngelahirin, eh, anaknya malah disuruh minum susu formula, yang harganya, wow, luar biasa…

    Cak, request, saya pengen tahu (dan mungkin juga sebagian besar orang), apakah pentingnya kita minum susu, dan apakah susu itu wajib untuk kita minum, atau apkah ada alternatif lain…

    terima kasih Cak Moki…

  8. 8 suandana Maret 14, 2008 pukul 11:19 am

    Sepertinya, pengumuman itu perlu dipajang di setiap kamar praktik dokter dan lab-lab, Cak… Jadi, pasien yang datang bisa langsung tahu bahwa hasil uji lab itu bukan vonis mati

  9. 9 cakmoki Maret 14, 2008 pukul 2:09 pm

    @ itikkecil:
    300 ribu sekali dateng and nebus ? wowww, seru…makanya dateng ke Palaran …hehehe
    Sebenernya ada panduan bahwa pemberian obat harus mengacu pada: tepat indikasi, aman dan murah.
    Cuman kadang ada pasien yg merasa ga manjur kalo murah. Menurut saya, tepat, manjur, berkualitas, aman dan murah :)

    @ zulharman:

    Menurut saya kamar inap memang perlu dibuat nyaman, bersih dan asri tapi jangan terlalu sampai dikomersialkan sehingga biaya ruangan bisa memakan hampir separuh bahkan lebih biaya perawatan total.

    saya sependapat. Kalaupun pangsa pasar menghendaki RS mewah, hanya untuk kalangan tertentu saja dan tetap tidak menghilangkan fungsi sosial.
    RSUD pun bisa dibuat mewah tapi murah, toh yg mbiayai negara. Tergantung pihak manajemen, kalo mau berkualitas dan murah tentu bisa.
    Di Samarinda ada RSUD type C plus baru yg kebetulan sistem pengelolaan dan perda-nya saya ikutan bikin (dimintai tolong pemkot). Klas III ber AC isi 5 bed (moga ga berubah), so gakin bisa menikmati fasilitas itu.

    @ Shinta:
    bagus tuh, mestinya semua pasien gitu … pasien boleh milih dan dokter wajib menjelaskan…setuju !

    kalo saya sih, pasien cerewet ga masalah…yg penting waktu pulang gak lupa bayar …hahaha

    @ sibermedik:

    *mbalikin modal PPDS mungkin he5x*

    … gak melu-melu :D
    atau kali patofisiologi dan pendekatan holistiknya pas lupa, yg keinget bonus … :D

    @ triesti:
    enak banget dokternya kalo pasien bawa print-printan lengkap, gak banyak mikir lagi, bayarnya tetep sama … hehehe.

    iya, cari yg lain, yg baik dan murah. Sayangnya wong ndeso udah keburu takut duluan mbak. Makanya waktu orang-orang seperti bulik Tar kita kasih saran seperti kata mbak Tries, jawabnya: wah pun kadung …

    @ almascatie:
    hehehe, ini filosofi baru yang belum pernah saya denger. Kayaknya perlu disosialisasikan nih

    @ NdaruAlqaz:
    tullll, derivat curcuma dengan berbagai merek, berbahan dasar temulawak…

    gak tau kenapa, dokter sekarang sepertinya bukan lagi menoong pasien, tapi malah mbuat bingung sama nakut-nakutin pasien…

    ar-rizq minal nakut-nakuti…dari nakut-nakuti itulah dapet uang *guyon* :D

    untuk ibu melahirkan inisiasi aja deh, boleh koq nolak paksaan susu formula merk tertentu dari RS *dan sponsornya* … kalo nolak ga bisa, langsung kabur tanpa bayarrrr …ini saran serius bagi para ibu.

    wah, requestnya belum bisa dipenuhi saat ini mas ;) …tapi tetep diperhatikan.

    @ suandana:
    Mestinya begitu dan dokter juga wajib menjelaskan kepentingan Lab, indikasinya dan harganya juga … tapi, konon (pernah saya tulis di sponsorship) dari situ dokter dapet ceperan … hehehe *blethak*

  10. 10 habibie arifianto Maret 15, 2008 pukul 9:13 am

    Jangankan di praktek swasta cak, dirumah sakit aja kadang orang patologi klinik main-mainin lab. Kadang gak perlu pemeriksaanya malah ditambah-tambahi dewe…Wis pokoknya ada baiknya masuk sekolah kedokteran harus dapet penataran rohani apa gimana ya cak..Selain sekolahnya dibikin murah, biar mind set nya ga balikin modal aja..

    P.S: no offense buat TS pat.klinik… kenyataan di rumah sakit kadang “begitu”. Walau spesialis lain lebih sering “begitunya” huehehe..

  11. 11 n0vri Maret 15, 2008 pukul 11:09 am

    lha, itu jangan-jangan yang dulu saya istilahkan “diagnosa ekonomis” Cak. Mungkin istilah itu perlu di TM-kan ya :lol:

    However, itu sepertinya lazim terjadi di kota besar lho Cak; sesama dokter no offense yah. Bulan lalu saya tambal gigi kena 2,8 juta, padahal dokternya bilang itu tahap pertama dari 3 sampai 4 tahap. Tahap pertama itu cuma untuk “merawat syaraf gigi”. Lha ngerawat syaraf jebulnya mahal banget tho :P

  12. 12 cakmoki Maret 16, 2008 pukul 5:21 am

    @ habibie arifianto:
    mungkin indikasinya minal bonusi, mas ..hehehe

    Wis pokoknya ada baiknya masuk sekolah kedokteran harus dapet penataran rohani apa gimana

    saya jadi inget, seorang pasien emoh-emoh tenan dirujuk untuk operasi, ketika ditanya kenapa ga mau, pasien tsb menjawab: ” operasinipun mboten ajrih, dompete niku sing kobol-kobol diedhel-edhel”
    Duhhh, imej dah segitunya ya

    @ n0vri:
    hehehe, setuju pak, Diagnosa Ekonomis ™ kayaknya pantes terutama untuk yang narik 2,8 juta “hanya” tahap pertama … wuihhhh, ngeri banget… banget… banget. Saya baru denger, agak mengerikan.
    Saya di Surabaya, pas berlibur sekalian nembel cuman 50 ribu tuh, satunya rawat syaraf 50 ribu, total 100 ribu, padahal ama yg terkenal bagus dan rame, ramah, sabaaarrr…padahal lagi, di kartu berobat ditulis wiraswasta. Kali di Jakarta emang segitu ya…amit-amit deh

  13. 13 zulharman Maret 16, 2008 pukul 11:33 am

    Di Samarinda ada RSUD type C plus baru yg kebetulan sistem pengelolaan dan perda-nya saya ikutan bikin (dimintai tolong pemkot). Klas III ber AC isi 5 bed (moga ga berubah), so gakin bisa menikmati fasilitas itu.

    Wah menarik sekali konsep RSUD plusnya Cak. Kapan-kapan boleh dong dipublikasikan rancangan RSUD plusnya Cak, biar dapat menjadi rujukan bagi institusi atau perorangan yang ingin membangun RS seperti itu. Terimakasih.

  14. 14 cakmoki Maret 16, 2008 pukul 5:08 pm

    @ zulharman:
    ok, akan saya posting … tunggu aja :)

  15. 15 n0vri Maret 16, 2008 pukul 6:50 pm

    saya kesasar itu cak, mestinya gak kesana :(
    temen saya yang dokter gigi aja kaget setengah mati, lha wong pasarannya di Jakarta kalo nambal paling mahal 300 ribu satu gigi. Makanya untuk perawatan selanjutnya saya cai yang murah meriah sehat aja :lol:

  16. 16 cakmoki Maret 16, 2008 pukul 8:07 pm

    @ n0vri:
    biaya nyasar 2,8 juta :D
    Setuju…cari yang murah meriah dan sehat aja :)

  17. 17 Shinta Maret 19, 2008 pukul 11:56 am

    kadang-kadang ada juga cak ..pasien yg kebablasan… mentang2 merasa punya hak untuk bertanya dan sudah merasa bayar “mahal” mulai deh..segala riwayat penyakit dari zaman balita diceritain detail …. bukan kasian sama dokternya lho..tapi kasian pasien lain kelamaan nunggu.

    Kalo ketemu pasien yang lupa empati sama pasien lain..enaknya ditimpuk aja pake roti.. puuukk…. :)

  18. 18 cakmoki Maret 19, 2008 pukul 3:01 pm

    @ Shinta:
    bener mbak :) … ada yg gitu, jarang juga sih, tapi emang yg lain jadi ngomel.
    gak ditimpuk koq…ntar pelanggan hilang satu …hehehe

  19. 19 frida April 9, 2008 pukul 2:24 pm

    Wah…
    ngomong ngomong ttg pergi ke dr Gigi, jadi keingat lagi, suami saya sebulan lalu pergi ke dr gigi di salah satu RS swasta di jkt, dengan alasan gigi ngilu..
    dotkternya sih, katanya senior buanget, melihat dari usianya ya… ;)
    sesampai di kasir, merogoh kocek 650 rebu (belum sampai sebesar 2,8 juta sih….)
    saya tanya apakah giginya ada yg lubang sehingga perlu ditambal? jawabnya enggak…
    saya tanya lagi, apakah diresepin obat obatan, jawabnya enggak juga…

    lha terus, nematus seket itu buat apanya dong? jasa dokter doang??
    masyaallah… cik larange rek…:(

  20. 20 cakmoki April 10, 2008 pukul 4:19 am

    @ frida:

    ha terus, nematus seket itu buat apanya dong? jasa dokter doang??
    masyaallah… cik larange rek… :(

    jadi sak dulitan “nem atus seket” ya :roll: … hahaha, jan larang tenan … banget…banget *kali pakai kurs Euro*

  21. 21 Tiniz Oktober 27, 2008 pukul 12:04 pm

    Mo ikutan curhat boleh yaa….ini pengalamanku berobat ke RS Internasional di selatan Jkt minggu lalu. Milih ke situ jg karna rujukan asuransinya disitu.

    Hari I: keluhan anak I, bbrp hari kuping kirinya budeg
    kayak klo naik pesawat, hasilnya diminta
    fisioterapi 5x, aturan RS wajib konsul dokter
    fisioterapi dulu.
    BIAYA: THT 175rb, fisioterapi Dr. & tindakan 220rb,
    obat rp. 364.472,7 (12 Lizor 500mg, 15
    sanexon 4mg, 15 vectrine 300)
    keluhanku,kuping bagian dalam suka ngilu dan bbrp
    kali vertigo (tau hubungan vertigo dan infeksi
    telinga berkat cak Moki….suwun Cak!)
    BIAYA: THT 175 rb, obat rp. 492.604,7 (1 nasonex NS
    140, 20 sibelium 5mg, 20 aldisa SR 50)
    TOTAL BIAYA Hari I: Rp. 1.427.076

    Hari II: fisioterapi, 125rb

    Hari III: fisioterapi, 125 rb

    Hari IV: fisioterapi, 125rb (lanjutan anak I)
    keluhan anak ke II, mata panas & berair, badan
    demam ke SpA, diberi resep imunos dan rujukan test
    darah serta antibiotik dgn cttn klo sampe hr
    minggu msh demam.
    BIAYA: SpA 175rb, obat 61.875 (1 imunos 60ml)
    TOTAL BIAYA Hari IV: Rp. 361.875

    Hari V: fisioterapi, krn sdh yg terakhir wajib kembali
    konsul ke dokter fisioterapi, 245rb

    TOTAl BIAYA keseluruhan Rp. 2.283.951

    karna ada selisih dgn limit asuransi, 390rb bayar pribadi, sisanya dibayar asuransi….nek gak vertigoku isok kambuh!!

    ceritanya blum selesai nih….krn anak II dikasih imunos aja kayaknya gak ada hasil dan dia mengeluh sesak napas akhirnya bawa lagi ke klinik langganan….(jd bayar SpA 175rb gak ada gunanya….nek imunos yo aku iso tuku dhewe gak perlu nang SpA dhisik….) Trus waktu nebus obat di apotik langganan iseng2 nanya harga…imunos yg di RSInt rp. 61.875 di apotik 49.000, nasonex NS rp. 267.712 di apotik 222.000.

    KESIMPULANKU: nek gak dibayar asuransi, ojok coba2 nang RS Internasional, soale ojok2 mari ngono gak iso mangan…steak… hehe…

    opo maneh mari moco postinganne cak Moki tentang gaji pak/bu Dokter….RS tuh mestinya pindah dibawah Menpera kali yaa…kan sejalan, Menpera hanya mampu membangun RS dan RSS sedangkan Rumah sakit bisa membuat pasien hanya mampu tinggal di RS dan RSS….

  22. 22 Tiniz Oktober 27, 2008 pukul 11:05 pm

    Ralat….

    opo maneh mari moco postinganne cak Moki tentang gaji pak/bu Dokter…. RS tuh mestinya pindah dibawah Menpera kali yaa…kan sejalan, Menpera hanya mampu membangun RS dan RSS sedangkan Rumah sakit bisa membuat GAK CUMA PASIEN TAPI JUGA DOKTER hanya mampu tinggal di RS dan RSS….

  23. 23 cakmoki Oktober 28, 2008 pukul 3:52 pm

    @ Tiniz:
    hahaha …. iki mestine dadi 1 postingan, dijamin rame…
    Saya baca sambil tenger-tenger … mbayangin, kira-kira kalo pasien pas-pasan masuk sana, pulang langsung semaput trus gak tangi-tangi *amit-amit*

    … RS tuh mestinya pindah dibawah Menpera kali yaa…kan sejalan, Menpera hanya mampu membangun RS dan RSS sedangkan Rumah sakit bisa membuat GAK CUMA PASIEN TAPI JUGA DOKTER hanya mampu tinggal di RS dan RSS…

    … ssttt… jangan banter-banter ngomongnya, ini rahasia … :D

    Maturnuwun share-nya yaaaa :)

  24. 24 Tiniz Oktober 29, 2008 pukul 3:47 pm

    Nimbrung lagi…ada yang klupaan mo ditanyain. Apa memang wajar ngresepin antibiotik tanpa obat penunjang? maksudku, (ada kaitan dgn share diatas) anakku yg batuk, pilek,demam dan sesak hanya diresepkan imunos dan antibiotik (Claneksi?…mbuh tulisane gak jelas)yg disuruh ditebus 3 hr kemudian klo msh panas, klo banyak lendir di dadanya pasti panas khan?.

    Jujur ae Cak, aku punya pikiran iki sengojo, supaya anakku sampai Minggu msh panas …trus aku kudu balik nang RS, trus cek darah (surat pengantar sdh dibuat dr hr kamis)…ujung2nya kudu opname…

    Astaghfirullah ampuni hambaMU yg sudah shuudzon ini ya Allah, mudah2an pikiranku salah ya Cak…. dan tidak ada dokter di bumi kita tercinta ini yg menjadikan pasiennya sebagai proyek….

    oh ya dr biaya THT/SpA diatas 25rb admin, sisanya tertulis jasa dokter…tapi apa sebesar itu yg diterima dokternya? klo gak kecian jg dokternya karna yg disumpahin pasien khan dokternya….taunya jasa dokternya mahaaaaaaal…

  25. 25 cakmoki Oktober 30, 2008 pukul 12:16 pm

    @ Tiniz:
    hihihi… pertanyaan yg menggelitik. Secara umum saya akan mengatakan bahwa wajar tidaknya hal tersebut bergantung pada penilaian masing-masing dokter.
    Kalo kita kembali pada paduan, maka pengobatan ditujukan untuk: (1) eradikasi (pemberantasan) penyakit; (2) mengurangi ato menghilangkan keluhan; (3) meminimalisir kecacatan; (4) rehabilitasi (terutama untuk penyakit-penyakit yang memerlukan perawatan jangka panjang, misalnya stroke, payah jantung, dll).

    Nah, merujuk panduan umum tersebut dan keluhan diatas, maka saya sependapat dengan penjenengan bahwa selain antibiotika (claneksi) dan imunos, perlu obat untuk mengurangi keluhan, yakni obat untuk meredakan sesak (bronkodilator), pengencer dahak, dll…dll. Kita dapat memilih obat yang sesuai dengan keluhan an penyebab penyakitnya sekaligus meringkas obat agar ga terlalu banyak tapi tepat sasaran, misalnya: obat penurun panas yang juga mengandung obat pilek dan pengencer dahak (penekan batuk tidak dianjurkan mengingat batuk merupakan refleks alami tubuh kita untuk ngeluarin dahak), ditambah obat sesak dan antibiotika. So, hanya perlu 3 botol syrup aja.

    Satu lagi, pada pemberian obat dianjurkan untuk: tepat indikasi, tepat dosis, tepat lamanya pemberian, dan harganya terjangkau alias jangan mahal-mahal.

    Tentang biaya (125 ribu), maksudnya: 25 ribu untuk biaya administrasi RS, 100 ribu untuk kantong dokter. Apakah 100 ribu tersebut diterima dokter secara utuh ato masih dipotong sekian persen untuk manajemen, saya gak tahu … hehehe.

    Mestinya para pasien dan ortu pasien juga punya pandangan seperti ini. Dengan demikian pasien ato ortu paham alasan pemberian obat dan sekaligus sebagai alat kontrol bagi para dokter.
    Share ini pelajaran berharga khususnya bagi saya… hehehe.
    Maturnuwun

  26. 26 Tiniz Oktober 31, 2008 pukul 9:10 am

    “Tentang biaya (125 ribu), maksudnya: 25 ribu untuk biaya administrasi RS, 100 ribu untuk kantong dokter. Apakah 100 ribu tersebut diterima dokter secara utuh ato masih dipotong sekian persen untuk manajemen, saya gak tahu … hehehe.”

    Wah, dikorupsi seketewu….hehehe, sing bener biaya 175 ribu, 25 ribu admin, 150 ribu Wallahu’alam.

  27. 27 cakmoki Oktober 31, 2008 pukul 3:56 pm

    @ Tiniz:
    scroll ….*tuinggg)
    wah iya… maaf…salah lihat… hahahaha
    Maturnuwun koreksinya.

  28. 28 Tiniz November 5, 2008 pukul 7:58 pm

    Cerita berlanjut….wah udah kayak Ko Ping Hoo aja, gak habis2 critanya. Terakhir khan anakku aku bawa ke SpA langganan (Jumat,24/10),

    Minggu kelopak matanya bengkak…pastinya khan gak ada dokter mata praktek jd coba tanya ke apotik pertolongan pertama dikasih apa, disarankan cendo xytrol ointment. Sempat diolesin 2x tp di kelopaknya bukan didalam mata. Senin mo ke SpM ternyata dokternya lg gak sehat.

    Selasa baru ke SpM, berhubung minggu sblmnya kakaknya sakit mata jg brobat ke SpM yg sama dan obatnya masih ada jd disuruh pake obat kakaknya, Tobroson dan Hialid….

    Rabu malah makin bengkak dan kelopak yg kanan jadi merah banget, malemnya kembali ke klinik yg sama, ternyata SpM nya beda, Hialid tetap dikasih, Tobroson stop, ditambah Gentamicin dan Tarivid…

    Kamis pagi agak kempes, sore tiba-tiba sisi kiri hidungnya bengkak, langsung aja sy bawa ke SpA, ditanya kronologisnya…akhirnya dikasih obat minum, puyer racikan anti alergi, anti virus dan Hialid diminta stop, kesimpulan SpA….alergi obat!!

    Jumat, bengkak dihidung sdh menghilang,yg di kelopak mata juga mulai kempes…

    skrg blum sembuh bener tapi Alhamdulillah progresnya kelihatan, udah gak ngeluh ada yg ngganjel dimatanya dan kelopak mata udah hampir normal.

    Boleh special request gak? boleh yaaaaaa….posting tentang alergi obat ya Cak, pleaseeeee……

    Selain itu pengen tau, aturan mainnya gimana kalo kita diminta stop pake obat yg diresepin dokter sebelumnya? apa kita sebagai pasien sebaiknya tanya dulu ke dokter yg bersangkutan atau gak perlu? soalnya saya sempat bingung jg waktu itu…apalagi spesialisasinya berbeda pula….yg ngasih resep SpM yg nyuruh stop SpA.

    Makasih udah mo nanggapin curhatku….Pengeran sing mbales yo Cak, smoga kehidupan Cak Moki dan keluarga makin berkah umur, berkah sehat dan terutama berkah rejeki…Amin.

  29. 29 cakmoki November 6, 2008 pukul 1:10 am

    @ Tiniz:
    Pertama, semoga ananda tercinta segera sembuh.

    Kedua, *ikut-ikutan kayak Kho Ping Hoo* terimakasih atas support dan do’anya, demikian pula sebaliknya. Amin.

    Ketiga, monggo bincang-bincang sejenak sambil santai … :) eh, serius ding *hihihi, sy wedhi didukani*
    (mereka-reka kronologis) …
    SpM pertama memberi (menganjurkan pake obat kakak) Troboson (steroid, digunakan untuk alergi) dan Hialid (untuk mencegah agar mata tidak terasa kering).
    Mungkin beliau melihat pembengkakan kelopak mata karena alergi.

    SpM kedua nampaknya melihat pembengkakan tersebut karena infeksi bakteri sehingga memutuskan stop Troboson lantas menggantinya dengan Gentamicin dan Tarivid (keduanya adalah antibiotika)

    SpA mungkin melihatnya sebagai infeksi virus, terbukti dengan memberi anti virus (mengapa harus racikan ?). Sedangkan anti alergi diberikan karena beliau menganggap ada alergi obat (mungkin lho). Logika saya gitu, kalo salah mohon dimaafkan :D

    Sebenernya saya bertanya-tanya, dari ketiga dokter tersebut udah mendiagnosa apa aja ? …
    Jangan-jangan sejak awal pembengkakan tersebut karena alergi (entah oleh apa) yang adakalanya memerlukan waktu pengobatan hingga seminggu dengan masa puncak 3-5 hari. Ato sebab lain yang belum kita ketahui, soale gak disebutkan diagnosanya … hehehe.

    Andai DSA benar ada alergi obat, mungkin pembengkakan di sisi kiri hidung beliau anggap sebagai akibat alergi obat, sedangkan pembengkakan kelopak mata (penyakit primer) mungkin menurut beliau adalah infeksi virus.
    Kita berharap beliau memberikan catatan alergi obat kepada mbak (cukup di kertas resep) agar tidak menggunakan obat sejenis di kemudian hari.

    Maaf, saya hanya mereka-reka .. hehehe

    Tentang request, udah ada yang nulis lengkap (bersambung juga lho). Link tulisan tersebut ada di postingan berikut: Catatan Alergi Obat
    Monggo diaturi membaca kalo ada waktu.

    Maturnuwun

  30. 30 cakmoki November 6, 2008 pukul 9:06 pm

    @ Tiniz:
    Maaf, ketinggalan … *amnesia, mode:on* :D
    Tentang ganti ato stop obat, gak ada aturan main khusus.
    Pada dasarnya dokter akan memutuskan pengobatan (stop atau ganti) berdasarkan kronologis dan hasil pemeriksaan terkini.
    Adapun bagi pasien, boleh bertanya kepada dokter lain jika dirasa penjelasan dari dokter kurang memuaskan dengan menyertakan riwayat pengobatan seperti yang penjenengan tulis agar tidak terkesan mengadu domba dokter.
    Di kalangan medis sendiri sebenarnya sudah terbiasa demokratis sejak masa pendidikan.
    Maturnuwun

  31. 31 sutisna,S.Pd Maret 5, 2010 pukul 3:16 pm

    jangan begitu sin ko orang banyak ngomong di timpuk dikasi pengertian dong masa pasien kaya gitu ditimpuk! aneh? skalian suntik mati biar ga ngomong2 lg bereskan!


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 4,981,226 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 558 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: