Saya percaya, para teman sejawat dokter yang pernah dan sedang bertugas di Puskesmas sangat paham dengan kondisi wilayah kerjanya, baik menyangkut geografi, demografi, kultur maupun berbagai hal yang berhubungan atapun tidak dengan tugas pokoknya. Sengaja menulis hal kecil ini sebagai media berbagi pengalaman yang mungkin nantinya berguna bagi sejawat dokter yang akan mengabdikan dirinya di Puskesmas.
Untuk Apa ?
Ketika seorang dokter menjejakkan kakinya di tempat tugas (puskesmas), lagu wajib pertama yang harus segera dilakukan adalah mengenal wilayah kerja, setelah mengenal internal Puskesmas tentunya. Ini sangat penting sebagai bekal dan pertimbangan manakala si dokter harus mengambil keputusan.
Seperti diketahui, tugas dan fungsi pokok Puskesmas adalah upaya promotif (penyebar luasan informasi), preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan) yang diuraikan dalam Upaya Pokok Kesehatan (UPK) dan diorganisir melalui sistem unit. (berdasarkan pedoman kerja Puskesmas, 4 jilid).
-
Promotif, adalah upaya penyebar luasan informasi melalui berbagai media. Metode penyampaian, alat bantu, sasaran, media, waktu ideal, frekuensi, pelaksana dan bahasa serta keterlibatan instansi terkait maupun informal leader tidaklah sama di setiap daerah, bergantung kepada dinamika di masyarakat dan kejelian kita untuk menyiasatinya agar informasi kesehatan bisa diterima dengan benar dan selamat. Penting untuk diingat bahwa upaya promotif tidak selalu menggunakan dana negara, adakalnya diperlukan adakalanya tidak. Selain itu, penyebaran informasi hendaknya dilakukan secara berkesinambungan dengan memanfaatkan media yang ada dan sedapat mungkin dikembangkan agar menarik dan mudah dicerna. Materi yang disampaikan seyogyanya selalu diupdate seiring dengan perkembangan ilmu kesehatan terkini. Kalau perlu diusahakan menggunakan media teknologi terkini seperti multimedia menggunakan LCD. Ehm … asyik.
-
Preventif, adalah upaya pencegahan semisal imunisasi, penimbangan balita di Posyandu dan upaya preventif lainnya. Kadang ada sekelompok masyarakat yang meyakini bahwa bayi berusia kurang dari 35 hari (jawa: selapan) tidak boleh dibawa keluar rumah. Menghadapi kondisi seperti ini kita tidak bisa serta merta memaksa masyarakat untuk mengimunisasikan bayinya pada usia seminggu misalnya. Diperlukan waktu dan kesabaran serta pemberian pengertian terus menerus agar masyarakat memahami bahwa imunisasi dini akan memberikan kekebalan bagi bayi sejak dini pula. Kalaupun tidak bisa, tak ada salahnya imunisasi diberikan setelah si bayi boleh keluar rumah. Resikonya, cakupan KN (kunjungan neonatus) menjadi rendah. Gak papa, tulis aja narasinya. Contoh lain, ketika kita menjumpai anak balita (1-5 tahun) kurang gizi di suatu desa terpencil, tidaklah bijak jikalau kita menganjurkan si ibu untuk memberi keju atau susu bagi balitnya, lha wong beli beras aja udah kembang kempis. Pun tidak pada tempatnya jikalau petugas kita sontak berkomentar sembari membelalakkan mata: ” lho, anak ibu kurang gizi … bla ..bla…bla “. Si ibu jadi malu, trus berikutnya ga datang nimbang lagi. Nah, salah siapa hayo !!!
-
Kuratif, adalah upaya pengobatan. Pengenalan wilayah dengan pernak-perniknya sangat mempengaruhi kita dalam memberikan jumlah obat maupun advis. Jika misalnya seorang pasien payah jantung (dekompensasi kordis) datang dari desa yang cukup jauh dan menggunakan ojek, alangkah bagusnya jika si pasien diberikan obat sebulan. Bayangkan jika hanya diberi obat seminggu, si pasien harus mengambil obat lagi seminggu sekali, resikonya si pasien bisa terlambat berobat lagi dan akhirnya sesak (menggeh-menggeh) karena terlambat minum obat, padahal obatnya ya itu-itu saja.
-
Rehabilitatif, adalah upaya pemulihan kesehatan, terutama bagi pasien yang memerlukan perawatan atau pengobatan jangka panjang. Sebagai contoh, jika penderita stroke dengan hipertensi datang, kurang bijak jika diberikan obat hanya 5-7 hari, ntar si pasien terseok-seok dituntun keluarganya setiap minggu ke Puskesmas, iya kalo ada yang ngantar, lha kalo enggak piye … Pun advis untuk hipertensinya, tak perlu melarang makan asin jika si pasien mengkonsumsi garam tak lebih dari 20 gram dalam kesehariannya. Hambar atuh … Dan ga perlu melarang makan daging jika si pasien makan dagingnya cuman setahun 2 kali saat hari raya, hehehe. Aneh kan jika kita melarang makan daging trus si pasien menjawab:” ..oalah dok, wong saya makan daging sak upil hanya hari raya saja …”. Walah …
Berapa lama sih waktu yang dibutuhkan untuk “mengenal” wilayah kerja ? Bergantung daerahnya, tapi jangan lama-lama ah, menurut saya 6 bulan sudah cukup, dijamin hapal, bahkan jalan tikuspun (maksudnya jalanan setapak or gang kecil) sudah bisa diingat sak jeroannya. Lha gimana untuk program PTT 6 bulan ? (denger-denger sih ada yang hanya 6 bulan)…wah yang ini ga tahu, tanya Depkes aja deh …
Banyak cerita seputar wilayah kerja dokter Puskesmas. Untuk para sejawat dokter, monggo berbagi pengalaman, suka duka maupun pengalaman lucu …



















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)






Kalau semua dokter puskesmas melaksanakan apa yang cak moki tuliskan,
dijamin panduduk Indonesia jadi sehat semua…
tapi untuk promosi gak perlu eo kan cak?
lha ayo nyumbang artikel pgalaman PTT! masak buku RINGER LAKTAT TUK REKAN SEJAWAT gak jadi2 niy? hampir 1thn brlalu..ayo dok nyumbang artikel pglmn PTT.
Kalau menurut pengalaman saya cak, mengenali wilayah yang kebanyakan penduduknya berkelas ekonomi menengah ke bawah atau istilahnya masih udik itu lebih gampang, karena biasanya penduduknya jg lebih welcome dan siap menjadi guide kita kemanapun kita mau diantar. Tapi yg susah justru mengenali daerah yang banyak perumahan elitenya karena orang2nya yg super sibuk. pernah saya ada program pencegahan peny filariasis dg minum obat DEC+Albendzol scr massal,ee… yg gak mencapai target mlh yg banyak perum elitenya,karena kebanyakan yg menghuni rumah mereka hanya PRTnya,yg punyanya mlh jarang pulang..
oohh .. jadi kalo ada dokter puskesmas yg sering jalan2 keliling kampung berarti lagi “mengenal” wilayah kerja ya cak…. nggak lagi tebar pesona kan …
Cak, gimana kalo misalnya kita bikin buku gimana cak, maksudnya gini, selama ini kan masyarakat tuh sebenarnya ga tau dokter tu gimana. Taunya cuma ketemu dokter di belakang meja, periksa , pegang-pegang sedikit, tulis resep terus dibayar. Kalau tulisan Cak Moki ini dibaca kan sedikit-sedikit masyarakat bisa tau kerjaan dokter tidak hanya mengobati. Nah, kenapa ga dibikin tulisan yang agak panjang (yang bisa jadi buku) berisi jadi dokter tuh gimana, pendidikannya, cara berpikirnya dan sebagainya… jadi kalo ada sesuatu ga langsung nyalahin dokternya aja, bilang dokter mata duitan dan sebagainya.emang sih dokter juga manusia, tpai itu lah esensinya… kenapa profesi lain jauh lebih banyak mendapat excuse ketimbang dokterr…
gimana cak?
Wahhh…rasanya seru juga jadi dokter di Puskesmas. Kebetulan waktu aq mau PTT, ada tawaran dari Menkes Suyudi untuk jadi dokter Brigade Siaga Bencana selama 3 tahun, setelah itu keterusan di RS … Jadi sampai saat ini masih jadi impian….
Dream….dream…dream…
Wahhh…rasanya seru juga jadi dokter di Puskesmas. Kebetulan waktu aq mau PTT, ada tawaran dari Menkes Suyudi untuk jadi dokter Brigade Siaga Bencana selama 3 tahun, setelah itu keterusan di RS … Jadi sampai saat ini masih jadi impian….
Dream….dream…dream…
@ cakbud:
…tapi ini di ndeso, kalo di kota beda kali
di sana gimana?
Padahal asyiik lho, mengenal lingkungan sambil silaturahmi, …selametan dikasih suguhan yg uenak, kondangan ditempatkan di depan (kayak bos aja), beli sayur dikasih murah, sarungan-pun tetep dimantuki orang
@ sibermedik:
..Gini aja, jumput semua tulisan para ts seputar pengalaman bertugas trus jadikan buku.
walah, tak kira bukunya dah jadi Box office
@ iindepok:
iya mbak … saya pernah 5 tahun bertugas di tengah kota, duuuhhhh …mirip seperti mbak iin alami itu, ketemu rumah berpagar tinggi doang, kadang kalo acara PKK yang hadir PRT dimake-up layaknya ibu pemilik rumah…hehehe
@ Shinta:
hmmm, ada inspirasi nih, kali suatu saat bisa sambil tebar pesona. Di tempat kami banyak lho perempuan yang manja, cubit-cubit, khususnya nenek-nenek … kalo yang muda ga ada …hahaha
@ boyke:
wah iya, ide bagus … setuju banget
Kira-kira ada yang sempat bikin ga ya, soalnya kebanyakan dari kita biasa nulis jurnal, artikel baku, panduan dan sejenisnya yang serba resmi. Andai ada yang bisa bikin buku berbahasa kayak novel, kali laris manis dan mungkin bisa lebih membuka image khalayak terhadap dokter yang tadinya terkesan wah …ga taunya masih juga doyan sego pecel, cangkrukan, mancing *halah* dan …nge-blog..hehehe
Berminat ? Saya dukung sepenuhnya
@ y3551ku:

semua pilihan ada untung ruginya sih
yang di Puskesmas senengnya bisa pul-kumpul dengan semua golongan masyarakat tanpa diribetkan memakai dasi dan jas putih *sarungan asyiiik* …sedangkan di RS lebih mudah akses ilmu terbaru dari para senior dan lebih kaya pengalaman perawatan medis … tapi dimanapun bertugas yang paling asoy adalah yang punya kesempatan nge-blog
ayo, cepetan bikin Blog…dream…dream…dream
Kalo cuma 6 bulan jadi dokter PTT di Puskesmas akhirnya fungsi kuratif aja yang menonjol alias dokternya akan ngendon terus di poli gak akan ke mana2.
Sekarang yang jadu Kapus dah jarang dokter karena turnover dokternya cepet banget
@ Astri:
yo mbak, bisa-bisa malah yang 3 bulan hilang untuk urusan admisitrasi, rapat, dll.
Emang ada fenomena kapusk bukan dokter (tak kira hanya di sini, kali merata ya), kalo urusan tanda tangan dan manajemen doang sih ga soal, masalahnya di pusk bukan urusan itu doang, makanya kalo mau jujur, program banyak gagalnya, kecuali kalo hanya nampilin angka-angka
tolong dong komentari aplikasi rawat jalan saya di http://healthsoftly.wordpress.com/.
@ andy:
ok, ntar ya
*link udah disimpan*