Hore, Menkes Ceraikan PT. Askes

Askeskin: Menkes Memutus Kerjasama dengan PT. Askes

Kabar Gembira !!! Menkes RI berencana memutus “kerjasama” pengelolaan Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin (Askeskin) dengan PT. Askes. Mengapa kabar gembira, karena saya salah satu penentang berat “kebijakan” hasil lirik-lirikan tersebut sejak tahun 2004. Bahkan saya 2 kali menulis email sangat pedas saat dibukanya forum diskusi online pada bulan Maret 2004, sampai-sampai seorang sejawat dokter yang istrinya bekerja di bawah naungan PT. Askes mengolok-olok sembari bercanda bahwa saya provokator soal kebijakan tersebut saking kerasnya menentang, … hahaha, emang !!!

Antara 5 % dan 30 % dari Trilyun Rupiah.

Ayo Bu Menkes, putus aja, segera deh !!! Tunggu apa lagi ? Lha wong pengelolaan Dana Pemeliharaan Kesehatan bagi warga miskin melalui PT. Askes langsung hilang 5% (dari Triyun rupiah) untuk “dana pengelolaan”, wuihhh, itu besar lho rek !
Belum lagi “konon” ada ijin mengambil keuntungan yang “lagi-lagi konon” mencapai 30%, … kalo bener…uedan ! Untuk membuktikannya tentu harus melalui mekanisme yang lazim yakni pertanggung jawaban kepada publik. Kalo PT. Askes hanya ngomong bahwa mereka gak cari untung dan mengatakan “demi” ini dan “demi” itu tanpa pertanggung jawaban yang realize, itu sih sama dan sebangun dengan jualan di pasar. Membantah ? Boleh, buktinya mana ? Dikira kita gak bisa itung-itungan apa… bleh !!!

Maaf, kalo soal boong-boongan gini saya agak pedas walau terhadap keluarga sekalipun yang ikut terlibat di dalam permainan Askeskin. Dan, sori … saya gak pernah ikutan, gak mau ikut arus, gak mau terima insentif, honor atau apapun dari program Askeskin, … tidaaaakkk !!! Dan bagi teman sejawat yang dulu mencemooh saya, mana suaramu ? hahaha … ikut menikmati uang gak genah, pertanggung jawaban ngarang, trus klaim main-main, trus ngapusi pasien, hayo …ngaku rek :P

Ok, untuk lebih jelasnya, mengapa dan bagaimana saya menentang program Askeskin (yang dikelola PT. Askes), silahkan baca postingan sebelumnya di bawah ini:

  1. Presentasi (menentang kebijakan Walikota)

Tak pikir-pikir panjang juga posting pengomelan soal itu … hehehe

Jika Bu Menkes emang beneran memutuskan hubungan dengan PT. Askes terkait pengelolaan Askeskin, selamat !!!

Selanjutnya, menurut saya cukup dengan mengoptilkan dan revitalisasi ulang program JPSBK (Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan) dengan pengawasan yang lebih ketat. Melalui program tersebut dana langsung turun ke institusi pelaksana tanpa potongan apapun dan tanpa perantara, tidak banyak tangan, dan kontrolnya relatif lebih mudah. So gak perlu pakai nama lain lagi, ntar duitnya berceceran sebelum nyampai pada pemeliharaan kesehatan bagi keluarga miskin. Dan, jika ada penyelewengan yang melibatkan pimpinan institusi kesehatan seperti: Dinas Kesehatan, RS, Puskesmas, beri sangsi tegas. *mode kejam: On*

Sekali lagi, selamat kepada bu Menkes. *jingkrak-jingkrak*

UPDATE: Tulisan terkait masalah Asuransi Kesehatan, silahkan baca dengan mendownload di sini ( Tabungan Kesehatan Nasional, oleh: dr. H. Stefanus Lawuyan MPh )

 

About these ads

225 Responses to “Hore, Menkes Ceraikan PT. Askes”


  1. 1 fandi Januari 18, 2008 pukul 8:58 am

    akan lebih elegan kalo didukung oleh fakta!!
    kalo pake ilmu “kiro-kiro” bisa nyerempet ke fitnah
    Faktanya : Dari hasil penelitian UI terhadap RS di jkt bahwa 70-80% tagihan RS utk askeskin adalah Fraud alias di Mark Up.

  2. 2 simkes Januari 18, 2008 pukul 9:03 am

    Alternative nya apa ya CAK? untuk nangani masyarakat miskin ini. Saya berharap sih Bu Menkes telah memikirkan semuanya (dari policy sampai dengan detail teknis pelaksanaannya) dengan teliti tidak seperti yang sudah-sudah yang selalu memutuskan kebijakan dengan grusa-grusu (jw mode on) sehingga pelaksanaan dilapangan kacau balau.

    Sebagai contoh pelaksanaan Askeskin yang lalu sampai bulan Agustus 2007 kepesertaan Askeskin masih nggak karuan dengan mengijinkan pasien dengan SKTM sebagai askeskin, sehingga dilapangan terjadi distorsi yang luar biasa seperti :seorang yang “sangat tidak pantas disebut miskin” datang ke kelurahan ngasih salam tempel Rp. 50.000,- dapat sktm terus urus administrasi di RS dan gratis deh layanan di ICU yang menghabiskan biaya samapi 40-an juta rupiah (kalau pasien mati semoga Allah tidak mencatat kecurangan keluarganya itu kedalam rekening dosa pasien itu).

    Bu Menteri buat policy “mulia” tapi mbok ya dipikirkan sampai detail (mungkin bukan oleh Bu Menteri tapi stafnya) aturan pelaksaannya, koordinasi lintas sektoral, keadaan lapangan, dan sebagainya.

    Saya sebagai pekerja di rumah sakit negeri yang berhadapan langsung dengan pasien hanya bisa ‘ngelus dada’ dan berdoa semoga keputusan ini yang terbaik dan sudah matang sebab kalau tidak kami harus mulai bersiap-siap dari nol lagi dengan segala kekacauan baru oleh pengelola baru!!!!

  3. 3 Poer Januari 18, 2008 pukul 9:07 am

    Saya ga bela Askes atau Menkes..
    Kebetulan sy dari LSM yang sering terjun langsung dan mengamati langsung pelaksanaan. Saya kira pengelolaan oleh PT Askes Jauh lebih baik di banding PKPS BBM yang sebelumnya walaupun masih ada yang harus dibenahi…
    Saat ditangani PT Askes 2005 dan 2006 itu uang masih bisa tersisa dan digunakan untuk tahun berikutnya.. coba lihat anggaran klo dikelola pemerintahan mana ada anggaran yang nyisa .. bulshit tuh… pasti dengan cara apapun pasti diabisin…

    Anda bisa lihat ketika tahun 2007 klaim Askeskin dari Puskesmas tidak lagi melalui PT Askes, boleh di survey kepala2 puskesmas yang mengeluh, karena ternyata walaupun uang tinggal ambil tapi harus melalui ijin dinas kesehatan dan itu tidak full boleh cair ada potongan2 lain yang diambil oleh dinas kesehatan. Contoh untuk persalinan bidan di PT Askes diganti full 350 ribu rupiah tetapi setelah aturan baru 2007 melalui dinkes itu dipotong jadi 275-300 .. so saya lihat pemindahan pembayaran melalui dinkes itu cuma proyek aja biar dinkes dapat bagian… jangan2 bapak orang dinkes juga..:D

    Yang saya heran menkes kok ngomongnya kyk anak2..
    Coba kita liat aja klo setelah putus dari askes apa bisa lebih baik..?
    Klo ya.. sy turut bersyukur karena rakyat yang akan menikmatinya… klo malah makin kacau…? nah sapa lagi yang dicerta oleh menkes..:D

    Yang pasti saya lebih percaya klo ini dikelola oleh non pemerintah apalagi dinas kesehatan…

  4. 4 simkes Januari 18, 2008 pukul 9:23 am

    Tambahan Info:

    Tidak mbela PT. Askes tapi hanya menceritakan keadaan dilapangan…

    Sistem pelayanan yang dikembangkan secara tabrak sana tabrak sini antara Provider (Rumah Sakit) dan PT. Askes membutuhkan waktu hampir 2 tahun untuk menemukan bentuknya, sekarang ini sebetulnya bentuknya sudah lumayan baik tetapi dengan keputusan Bu Menteri yang seperti biasanya… di nisbikan lagi.

    Sekarang untuk verifikatur baru : baru direkrut sampai akhir januari, training dan pengenalan lapangan sampai 3 bulan, harap-harap cemas saja semoga Depkes telah memikirkan masa transisinya bagaimana?? toh pasien askeskin tidak lantas di STOP dulu kan???

  5. 5 suparman Januari 18, 2008 pukul 1:16 pm

    saya setuju dengan poer

    Jangan sampai semua dana askeskin yang triliunan rupiah ini hanya dikelola oleh Depkes/Dinkes saja, harus ada pihak ke 3. Di negeri yang korupsi sudah menjadi budaya yang mendarah daging seperti di Indonesia ini semua orang yang berkaitan dengan uang negara sangat..sangat…sangat mungkin menjadi koruptor, tidak terkecuali Ibu Menkes saya hanya berharap nahwa besok kalau pemerintahan ini sudah turun Bu Menkes tidak terus diseret ke pengadilan gara-gara dan askeskin!!!

    Sampai saat ini Bu Menkes masih menunjukan keberpihakannya kepada masyarakat miskin, terus berjuang Bu!! tetapi hati-hati jangan tergelincir !!

  6. 6 manusiasuper Januari 18, 2008 pukul 2:00 pm

    Saya malah cenderung mempertanyakan meningkatnya tagihan tunggakan ASKESKIN dari Rumah Sakit Cak…

    Tahun 2007 ini, Rumah Sakit Pemerintah di Kalimantan Selatan mengaku belum menerima bayaran dari PT ASKES sebesar 23 Milyar rupiah. Apa iya pemegang askeskin yang sakit sampai minta biaya sebesar itu? Itu cuma di Kalsel lho cak…

  7. 7 Poer Januari 18, 2008 pukul 2:18 pm

    Buat manusia super…
    Tagihan segede Itu sangat mungkin soale aturan dari menkesnya ga jelas and membuka peluang untuk curang.
    contoh diaturan di boleh kan yang belum punya kartu boleh pake SKTM, kemudian obat apapun boleh diluar generik selama ada protokol terapi…
    disinikan membuka peluang bisnis SKTM bagi aparat kelurahan/kecamatan dan juga pedagang obat non generik lebih gencar mendekati dokter agar meresepkan obat non generik, apa susahnya coba nanda tangan protokol terapi…:D
    kayaknya disini PT Askes cuma kena getahnya.. ga dapat untung apa2 karyawan jg ktnya ga dapat bonus apa2 dari pengelolaan Askeskin padahal dari pekerjaan itu yang paling banyak menyita waktu and paling ribet urusannya…kasian deh…:D

  8. 8 cakmoki Januari 18, 2008 pukul 5:32 pm

    @ fandi:
    itu salah satu fakta, betapa banyak penyelewengan yg ditimbulkannya, udah salah dari awlnya sih, lha UU koq nabrak UU tanpa ada UU yang menghapus UU sebelumnya :)
    Fakta lain, gak ada pertanggung jawaban publik dari pihak pengelola dalam hal ini PT. Askes… hehehe, beberkan aja kenapa sih, ntar kalo benar kan pasti diakui benar dan akan dipercaya. Siapapun boleh menanyakan itu lho, piye …

    @ simkes:
    iya, bener… jujur saja saya khawatir itu juga. Kemarin Bu Menteri udah menghubungi Dinkes tk II (kata berita koran) moga disusul oleh koordinasi dengan asosiasi RS se Indonesia.
    Moga pula gak bikin model baru dengan modus korupsi baru.
    Saya koq lebih cenderung revitalisasi JPS-BK, maksudnya memperbaiki infrastruktur yg pernah ada sejak tahun 1999. Waktu itu titik lemahnya kalo gak salah si sektor pengawasan internal RS dan Dinkes. Ini bisa diatasi kalo semua transparan, kalo ada yg mark up segera tulis di media … hehehe, ada yg berani gak ?

    Yang pasti saat ini dana akan diluncurkan langsung ke Institusi Pelayanan kayak dulu sebelum askeskin, yakni ke RS, Puskesmas gak melalui Dinkes lagi, soalnya kalo mampir adakalanya dipotong.

    Bu Menteri (di koran) juga menyatakan gak ada jeda, maksudnya jalan terus, dan dana segera diluncurkan. Semoga.

    @ Poer:
    lha terus bela siapa, bela diri sendiri ? :)
    Saya udah jelas kan, bela yg gak korupsi. Siapapun itu, pemerintah atau non pemerintah kalo korupsi sama aja.
    Yang jelas saya selalu memberikan pilihan solusi, solusi utama tentu “tidak korupsi”, gak peduli siapapun yang ngelola.
    Saya ? pernah belasan tahun di Puskesmas, gak pernah ngarang ataupun mark up…hehehe, tidak pernah bisa dipaksa oleh siapapun, baik itu dinkes atau kepala daerah, so kalo disuruh mark up, saya tentang !!!
    Makanya, baca dulu perjalanan tulisan-tulisan sebelumnya, ok?

    So persoalannya bukan melulu pemerintah atau non pemerintah tapi korupsi apa gak korupsi.

    @ simkes:
    saya juga khawatir, tapi lebih khawatir kalo masih dipegang Askes.
    Verifikatur yang jelas adalah pihak ketiga kayaknya, entah LSM atau perseorangan atau lembaga lain yg independen, yg ini juga gak jelas.
    Masa transisi rasanya gak disetop koq. Pelatihan dan rekruitmen tersebut masih dalam itungan 1 triwulan sedangkan biasanya dana untuk gakin masih ada dari tahun sebelumnya. Moga aja.

    @ Suparman:
    iya, menurut Bu Menkes akan ada pihak ketiga sebanyak ribuan orang di seluruh Indonesia yang akan memferifikasi setiap tagihan. Moga piha ketiga tersebut jujur, gak ikutan tergelincir :)

    Setuju !!!

    @ manusiasuper:
    makanya semua perlu verifikasi, mana yang benar. Beberapa bulan lalu, ada pengakuan dari Prof Urip dari RSUD dr Soetomo bahwa puluhan pasien terlambat operasi gara-gara gak dibayari oleh PT Askes, sedangkan peralatan, bahan habis pakai dan semua biaya sudah ada pagu-nya… emang repot.
    PT. Askes sendiri belum pernah terbuka soal ini … hehehe, banyak uang disitu lho.

    @ Poer:
    seruuuu !!!
    yang melakukan tawar menawar PT Askes dan pihak RS. Contohnya, PT Askes menawarkan sejumlah dana untuk sehari perawatan, so pagu sudah ditetapkan. Trus mereka (Askes) masih minta tambahan premi ke Pemda karena merasa kurang.

    Saya pernah jadi pimpinan Rawat Inap, tapi gak pernah mau dengan penawaran Askes. Kami pernah ditawari 20.000 untuk sehari perawatan, sedangkan kami ingin memberikan yang terbaik untuk warga miskin. Coba hitung, apa cukup 20.000 per hari untuk pasien DBD, Diare dll, …itu sih namanya penganiayaan.
    Ketika saya menentang dan menolak tawaran mereka, kami bisa memberikan lebih dari yang ditawarkan PT Askes kepada warga miskin. Cairan infus klas 1, infus set terbaik, bahkan suntikan juga yang terbaik. So ? … hahahaha, saya orang teknis, tahu betul seberapa biaya untuk orang sakit per orang per hari. Dan warga miskin adalah saudara kita, bukan obyek untuk tawar menawar.

  9. 9 cakmoki Januari 18, 2008 pukul 5:34 pm

    Lanjuuutttt, boleh beda pendapat ;)
    so mari kita diskusikan bersama, ntar akan saya olah jadi postingan baru…hehehe, siiiip

  10. 10 rajaiblis Januari 18, 2008 pukul 5:35 pm

    congratulations !

  11. 11 suparman Januari 18, 2008 pukul 7:28 pm

    Cak bisa ceritakan nggak penerapan INA-DRG/”case mix” di Samarinda? Saya kok memperkirakan Ibu Menteri akan menerapkan INA-DRG (SK Menkes Nomor 989/Menkes/SK/IX/2007) dalam pelayanan askeskin 2008. Penerapan ini akan memudahkan verifikator independent dalam melakukan tugasnnya karena tugas mereka hanya memeriksa no_medrec, data demografi pasien,lama dirawat dan diagnosis saja. Dengan data itu sudah ketahuan RS berhak mengajukan klaim berapa tidak seperti yang dilakukan PT. Askes lakukan memeriksa sampai detil layanan yang telah diberikan kepada pasien : kapitasi,biaya perawatan perhari,visite,laboratorium,darah,obat dan pelayanan sarana penunjang lainnya. Memang optimisme Bu Menteri bisa dimengerti.

    Tetapi masalahnya Cak,
    Saya meragukan metodologi penyusunan tarif dalam INA-DRG itu, saya pernah dimintai “beberapa puluh” data billing pasien dari team case mix lha kok ternyata INA-DRG tiba-tiba sudah jadi dan dikeluarkan SK menkes diatas, apa ya cukup data sejumlah itu dari RS kelas A seperti kami to Cak? apa penyusunan INA-DRG ini nggak sekedar “project oriented” saja? sementara hasilnya akan dipakai untuk pelayanan 76 juta rakyat miskin di Indonesia, Wallah…..

    Saya ini sedang mencari dan akan mempelajari clinical pathway dari 20 diagnosa tertinggi dalam INA-DRG tapi kok sulit ya Cak? kalau cak Moki punya mbok saya mohon dibagi cak.

  12. 12 Juliach Januari 18, 2008 pukul 7:40 pm

    Bingun juga ya memikirkan masalah kesehatan Bangsa Besar Republik Indonesia, hingga Ibu Menkes-nya saja juga mendhal-mendhul kayak pipinya yen disundul (karena Cakmoki, jadi pengin ngliat juga photonya Bu Menkes).

    Menurut info yg bisa dipercaya, th. 2006-2007 RI mengirim banyak utusan dari semua Departement berkunjung ke negara-negara maju untuk belajar/meniru sistem negara tersebut.

    Masalahnya bukan hanya ASKES yg harus dibenahi, tetapi semua Departement-lah yang harus direnovasi. Bak Indonesia seperti penderita kanker (mis: kanker tulang kaki), walau kakinya sudah diamputasi, tapi tidak ada perawatan jiwa (mental/moral), maka si penderita pun akan secepatnya mati. Bukan mati karena kanker, tapi mati karena dia tidak punya semangat hidup lagi, setiap hari dia hanya tinggal di atas tempat tidur dan menangisi kakinya yang hilang satu.

    Lihat saja di Perancis (halah, lagi-lagi), di sini kami punya Carte Vitale/carte sante (kartu kesehatan) yang sama dari gembel seperti aku ini sampai Sarkozy, lihat di sini http://fr.wikipedia.org/wiki/Carte_Vitale. Kartu ini berisi informasi tentang yg diasuransikan (berapa orang, dan datanya masing-masing) dan asuransi tambahanya (AXA, Mutuel de sante, …). Jadi setiap orang sama asuransi dasarnya, tinggal orang yg bekerja bisa mengambil asuransi tambahan yang sesuai dengan kantongnya. Jika mereka sakit, mereka berobat tentu saja mereka membayar dulu, dokter/RS/Apotik memberik formulir untuk pengantian biayanya.

    Kartu ini seperti kartu bank lainnya diakses langsung (on-line).

    Sedangkan orang yg tidak punya dan mahasiswa mendapat asuransi tambahan berupa CMU, jadi kalau mereka sakit, tidak perlu bingung. Mereka tinggal pergi ke dokter/RS dan mengambil obat ke apotik, tanpa membayar sepeser-pun.

    Kartu ini bisa didapat kalau :
    - mereka bekerja : ketika kita mulai bekerja, pastilah diminta mengisi No. Securite Social, jika tidak punya majikan akan memintakannya.
    - keterangan pembayaran pajak : jika seorang istri tdk pernah bekerja (asuransinya ikut suami) dan bercerai, dia hanya tinggal memberikan copy laporan pajak. Jika semua dokumen dibawa suami, dia tinggal ke kantor pajak untuk mendapatkan copynya (gratis), asisten sosial akan membantu dalam hal mengajukannya.
    - mahasiswa : dengan surat daftar sekolahnya dan keterangan dari kantor pajak kalau dia mahasiswa dan tidak membayar pajak.
    - anak yatim piatu : tergantung organisasi/orang yg mengurusinya.

    Di sini bisa dilihat kalau berkatian dengan banyak pihak : walikota, Depnaker, Departement Pajak, Sekolah/Universitas.

    Procedur berobat :
    - ke dokter Umum atau rumah sakit umum dulu, jika penyakitnya berat baru dirujuk ke dokter specialis/RS yg lebih tinggi.
    - kita bisa datang langsung ke dokter specialis (tanpa melalui dokter umum) : dokter gigi, dokter mata, dokter kandungan. Untuk dokter anak : semua orang harus bayar dulu baru diganti (kecuali kalau ada rujukan dari dokter umum, pemegang CMU gratis). Jadi kalau kayak aku ini, mending anak dibawa dulu ke dokter umum.

    Tarif dokter :
    - rata-rata hampir sama karena ada standard harga, cuman +/- 0.5 Euros – 5 Euros tergantung dengan lama kerjanya dan kota.
    - dokter specialis/klinik privat harganya vasiarasi tetapi jika kita punya asuransi tambahan yg gede, ya tidak jadi masalah.

    Tambahan : untuk gembel yg tidak punya domisili tetap, jika sakit tetap juga diterima, biasanya dikirim langsung ke RS Umum.

    Tentu saja di sini semuanya tercatat dari gembel, petani sampai president. Jadi semua orang terjamin kehidupannya.

    Sudahannya, info lain : para dokter yg pernah belajar di sini dimohon memberi tambahannya. Kalau tidak aku stop, bisa jadi 1 buku panduan untuk para Menteri RI. Enak aja mereka ke mari hanya nyengar-nyengir ke sana kemari sambil photo-photo. Ha…ha…ha…

  13. 13 Juliach Januari 18, 2008 pukul 8:50 pm

    Oh ya….ada yang lupa…jiwa-jiwa orang-orang RI juga harus dirawat supaya mereka tidak berjiwa korupsi, mark-up, aji mumpung, tukang nginjek, mata duitan dan konco-konconya…gitu loh.

    Kalo tidak Bangsa Besar Republik Indonesia bisa cepat mati juga seperti orang sakit kanker.

  14. 14 cecep_dadang Januari 18, 2008 pukul 9:31 pm

    SEMAKIN MENARIK!!!

    @ Juliach trim’s atas infonya.

    berkaca pada tulisan Juliach maka aku simpulkan bahwa yang dibutuhkan adalah lembaga penjamin(dalam hal ini mungkin asuransi) yang kuat dan memberikan hak yang setara dari rakyat jelata sampai presiden dan mempunyai kedudukan yang kuat secara politik sehingga tidak tergantung pada siapa yang mengambil kebijakan bahkan tidak tergantung dari siapa yang saat ini memerintah.

    Dalam kaitan diatas maka penunjukan PT. Askes sudah mendekati baik sebagai sebuah exercise yang pertama mestinya kalau PT. Askes gagal maka dibuat lembaga baru yang lebih kuat dan lebih kredibel dalam melaksanakan program penjaminan kesehatan bagi rakyat Indonesia ini bukan malah membuat bypass langsung antara pemerintah sebagai penyedia dana dengan provider pelayan kesehanan dalam hal ini RS. Pendekatan penyediaan dana penjaminan mestinya juga tidak bisa hanya karena pemerintah hanya punya 4,6 triliun maka ya harus dicukup-cukupkan untuk 76 juta rakyat miskin, lha ini standardnya bagaimana?? harusnya Menkes bisa meyakinkan komisi anggaran DPR atau meyakinkan kepada Presiden bahwa biaya penjaminan untuk masyarakat miskin itu kurang dan harus ditambah!!! Kalau dasar pemikirannya cuma seadanya dana seperti sekarang ini sebaiknya di rumah sakit selain dokter dan paramedis juga disediakan saja Ustad/pendeta sehingga pasien miskin diberi obat seadanya saja dan ditambah doa dari Ustad/pendeta tersebut.

    Menurut saya kalau sistemnya langsung seperti yang sementara ini diberitakan di media, maka ini adalah kemunduran!! dan Impian untuk adanya Badan/Lembaga yang berkesinamungan yang menjamin kesehatan rakyat Indonesia menjadi semakin jauh……….

  15. 15 Juliach Januari 19, 2008 pukul 12:21 am

    @ Cecep_dadang & teman-teman

    Securite Social ini asuransi tapi milik pemerintah, dia mengcover kesehatan, dokter pekerja, cuti tahunan selama 5 minggu/tahun, cuti hamil, cuti sakit, kecelakaan kerja, hari tua,dll. Dia menghimpun dana dari para pekerja dan majikan. Sayang dalam hal ini saya sudah lupa berapa bayarnya yang dipotong dari gaji (th. 1998-2001 waktu saya kerja, saya mengurusi hal ini). Jika kita kerja kita hanya menerima 75% dari gaji kita, yang 25%-nya untuk membayar Securite Social, Assedic (Asuransi ketenaga kerjaan), Formation (kursus/pendidikan untuk menunjang profesinya atau ganti profesi). Sedangkan majikan membayar 2X dari pekerjanya.

    Anggap saja Securite Social dipotongkan dari gaji sebesar 10%. Bila :
    - seorang pembantu gajinya Rp. 300.000,-, maka dia harus membayar Rp.30.000 ,- dan majikan membayar Rp. 60.000,-
    - seorang pekerja pabrik dengan gaji Rp. 800.000,-, maka bayar Rp. 80.000,- dan pengusaha pabrik bayar Rp. 160.000,-
    - pengusaha yg punya masukan Rp. 20 jt, maka dia harus bayar Rp. 2 jt dan perusahaannya membayar Rp. 4 jt.
    - anggota DPR gajinya berapa ya? Rp. 30 jt? Anggap saja Rp. 30 jt, maka dia harus dipotong gajinya Rp. 3jt dan pemerintah membayar Rp. 6jt.

    Selain Securite Social, kami mempunyai asuransi tambahan pribadi. Untuk orang yang tak berpenghasilan (mahasiswa, orang cacat,orang miskin, pengangguran, dll), pemerintah memberikan dana tambahan supaya mereka memiliki asuransi complement (CMU).

    Ini untuk standard perawatan yang sama. Wah, perumpamaan di Indonesia susah karena kamarnya berkelas-kelas banyak sekali, saya ambil di Perancis saja.
    Misalnya : tarif dokter umum = 20 Euros, rawat inap di RS Umum di kamar kelas 2 yaitu 1 kamar untuk 2 pasien (sudah ada kamar mandi di dalam), ada kulkas kosong, ada TV dan telpon tapi untuk TV dan telpon harus bayar biaya tambahan. Semua orang standarnya sama. Untuk pemegang CMU/orang tanpa kartu sekalipun (karena ditemukan sudah klenger di jalan) dirawat di ruang ini, gratis tanpa dipungut bayaran. Untuk yg pekerja 65% dibayar oleh Securite Sosial dan 35 % dibayar oleh asuransi tambahannya (bisa secara langsung (karena sudah online) atau tdk langsung=pasien dulu yg bayar baru diganti, ini tergantung asuransi masing-masing).

    Mereka yg lebih kaya dan tidak mau di kelas 2 maka masuk kelas 1 yaitu 1 kamar untuk 1 pasien. Otomatis pasien di kelas 1 ini harus membayar lebih mahal (biasanya double sih harganya), nah asuransi tambahan yang mengcover.

    Yang lebih kaya lagi tidak mau di kamar kelas 1? Mau geblok semua lantai? Securite Social hanya membayar 65% dari kamar kelas 2, sisanya biar asuransi tambahan pribadi yang mengkover.

    Ini semua laporannya transparan, saya sebagi pemegang kartu Vitale ber-CMU, selain tidak dipungut biaya, saya dikirim acte pembayaran.

    Contoh nyata nih: Soeharto sakit, ya pemerintah hanya mengganti perawatan standard untuk orang Indonesia, kalau dia masuk di kelas VVIP Pertamina ya sisanya asuransi pribadinya dong. Enggak yg seperti dikabarkan di sini http://www.antara.co.id/arc/2008/1/15/sesuai-aturan-biaya-perawatan-hm-soeharto-ditanggung-negara/, ini keterlaluan. Sedangkan rakyat Indonesia masih ada yang meninggal akibat diare.

    Ironis sekali bukan?

  16. 16 cakmoki Januari 19, 2008 pukul 1:21 am

    @ rajaiblis: :)

    @ suparman:
    maaf, saya gak tahu persis penerapan “case mix” di Samarinda karena gak ada satupun teman sejawat yang mau membuka datanya.
    Di sini ada 2 RSUD, yg satu type B (milik Pemprov) sedangkan satunya milik Pemkot Samarinda, RSUD type C plus, cukup mewah untuk ukuran RSUD karena klas 3 nya saja ber ac dan hanya 5 TT (moga gak ditambah sampai berjubel).
    Menurut saya, jika rekam medik terintegrasi dengan billing system berdasarkan standar yang sudah ditetapkan, sepertinya kontrol menjadi lebih mudah. Semua item pembiayaan akan terekam dalam database, so verifikasi cukup melihat rekapitulasi masing-masing tagihan per pasien.

    Saya meragukan metodologi penyusunan tarif dalam INA-DRG itu, saya pernah dimintai “beberapa puluh” data billing pasien dari team case mix lha kok ternyata INA-DRG tiba-tiba sudah jadi dan dikeluarkan SK menkes diatas, apa ya cukup data sejumlah itu dari RS kelas A seperti kami to Cak? apa penyusunan INA-DRG ini nggak sekedar “project oriented” saja?

    hahaha, sama … saya pernah punya pengalaman buruk soal ini. Medio 2006 pernah dimintai tolong oleh Pemkot untuk menyusun sistem pengelolaan RSUD type C plus (yg ketika itu baru dibangun), lengkap dengan draft tarip per layanan dan draft Perda.
    Berita bagusnya, draft tersebut gak ada yang dirubah. Sayang, pelaksanaannya jauh dari harapan.

    Soal “project oriented” mah gak usah ditanya, lha wong sebenarnya ruh-nya disitu itu …hehehe, jangan pura-pura gak tahu ah. Inilah salah satu penyakit tidak majunya sistem layanan medis. Entah mengapa sebagian pengambil kebijakan di institusi layanan medis mengarah kesitu walau awalnya menggunakan jargon berbunga-bunga. Walah …

    Maksudnya 20 Penyakit terbanyak? haduhhh maaf, saat ini walaupun misalnya ada, saya kurang percaya karena belum menggunakan ICD 10, ntar yang muncul di 20 besar kemungkinan akan berbunyi begini: Obs DBD, atau malah Penyakit lain-lain.
    Konon, di RSUD (type B) AW.Syahrani di Samarinda disediakan dana puluhan juta per tahun untuk rekam medik, namun bentuk nyatanya gak tahu persis, dan konon kata salah seorang teman spesialis di sana, rekam mediknya gak berbentuk, entah apa maksudnya, kali “project oriented” (moga tidak).

    Sebaliknya, ada contoh RSUD yang sudah tertib menggunakan Rekam Medik berdasarkan ICD 10 dan terintegrasi dengan billing system gak?
    Mohon bagi-bagi dong :)

    @ Juliach:
    hmmm, lengkap banget :) … kita tunggu komentar petinggi Depkes … moga ada yg nyasar ke sini.

    Enak aja mereka ke mari hanya nyengar-nyengir ke sana kemari sambil photo-photo. Ha…ha…ha…

    lah .. itu kan tujuan utamanya ..hahaha, kayak posting tentang study banding itu ya …

  17. 17 dokterearekcilik Januari 19, 2008 pukul 7:16 am

    Kalo dari pengalaman emang lebih mending diurus Askes daripada lewat Dinkes. Kalo lewat Dinkes pasti lebih hancur, amburadul polll. Emang juga APBN mestinya memberikan dana lebih untuk masalah kesehatan, yang repot kan pemerintah ngotot pasien Askeskin digratiskan, dana dibatasi, kita disuruh memberikan pelayanan terbaik dengan fasilitas super kere…….gak masuk akal. Contoh nyata dalam pekerjaan saya, bayi kritis + kejang, perlu dapet infus D10% dan obat untuk megatasi kejang.Obat antikejang + infus D10% gak ditanggung askin, pasien harus beli sendiri. tapi pemda megeluarkan sangsi bila dokter menulis resep yang membuat pasien askeskin harus bayar…. jadi bayi kritis + kejang mesti saya apakan ??? kayak disuruh perang gak dikasih senjata……….jalan keluarnya ….keluarga saya panggil lalu saya kasih resep……….baca alfatihah 3 dd 10, surat yasin 3 dd 3………*mangkel pooool*

  18. 18 simkes Januari 19, 2008 pukul 11:10 am

    Benar kata Cakmoki memang PT. Askes alhi dalam hal tawar menawar. Ternyata Depkes bisa berubah pikiran Cak, Depkes nawarin 2,5 % dari 4,6 triliun hanya sebagai penanggung jawab tapi sudah tidak perlu lagi melakukan verifikasi hanya bertugas mengidentifikasi peserta saja! Wuih bener-bener gurih! baca Depkes berubah

  19. 19 SIM Januari 19, 2008 pukul 12:11 pm

    Sya pegawai Askes..
    klo secara pribadi saya lebih mending Askeskin lepas aja dari Askes klo aturan dan undang2nya masih ga beres..
    Sejak menangani Askeskin kerjaan lebih padat and super komplek dan ribet.. but kt ga dapat apa2, ga boleh dapat insentif dari pengelolaan Askeskin karena prinsipnya nirlaba.
    Bayangin petugas yang di RS yang selama ini cuma nanganin peserta PNS dan Askes Komersial jumlahnya cuma 15 jutaan sekarang ditambah askeskin 76 jutaan gimana ga extra kerjaannya but ga dapat apa2 cuma kerja sosial aja…, klo yang ikhlas ya dapat pahala yang ga garuk2 kepala aja deh hehe…
    mungkin orang liatnya askes dapat keuntungan besar dari Askeskin, bakal dapat bonus besar karena uang yang dikelola gede.. tapi gitulah kenyataannya…

    Menkes sering ngedumel bilang PT Askes ga bayar klaim, tp coba pikir apa yang mau dibayarkan klo dana dari pemerintah ga turun..? mau pake duit askes sendiri…? ga mungkin lah dah pengalaman nalangin klaim askeskin di tahun 2005 and saat itu PT askes turun peringkat dari sehat menjadi tidak sehat..
    klo emang dana tersedia pasti kita juga kerjanya cepat and klaim bisa terbayar.. boleh dibandingkan dengan klaim askes pns thn 2007 maksimal n+2 bulan berjalan rata2 dah terbayar.
    sekarang Askes cuma kena getahnya, masyarakat taunya PT Askes yang menahan dana klaim itu sampe berbulan2 ga dibayar karena pernyataan menkes yang menyatakan uangnya di depositokan lah, korupsi lah dll…
    padahal di kantor cabang tempat saya begitu turun uang dari pemerintah paling lama 3 hari udah abis dibagikan buat bayar klaim, maksimal 7 hari laporan dah dikirim.

    klo ada indikasi kecurangan rs atau apotik itu bisa jadi karena kelonggaran dari juklak yang dikeluarkan menkes, saat itu SKTM masih boleh tau kan dampaknya gimana..? semua obat jg boleh..diluar generik
    selain itu masih boleh ditanggung sebagai askeskin kalau ada rekomendasi direktur RS, dan askes tidak boleh menolak klo surat2 sakti itu ada…

    masalah pendataan dulu pake datanya dinkes, setelah kartu beredar berubah lagi berdasarkan data BPS, karena data bps tidak ada nama anggota keluarga sekarang berubah lagi berdasarkan pendataan pemda…pusing ga..?
    kyknya ga mikir yahh gimana ribetnya pendataan masyarakat…:D

    jadi saya kira emang rumit klo perencanaannya dan aturannya belum tertata bagus…

    sekarang sudah berjalan lebih baik, kita sudah punya sistem yang lebih tertata, punya sistem informasi yang cukup bagus, database kepesertaan walaupun blum 100 % karena emang data yang kita terima blum semuanya.
    klo diputus monggo aja..
    smoga rakyat selalu mendapatkan yang terbaik..:)

  20. 20 sibermedik Januari 19, 2008 pukul 1:08 pm

    kok cerai?talak 2 ato 3?knp g poligami aja?mksdnya slain askes,pmrnth mrgkul lmbga2 asuransi kshtn lain dlm 1atap..jd klaim kn g harus k ASKES,aplg skrg OTNMI DAERAH jstru depkes mnyrahkn kbjakn tiap daerah ttg SKTM n te2k bengeknya

  21. 21 Mia Januari 19, 2008 pukul 2:52 pm

    Salam..,
    Prihatin…deh orang indonesia emang pinter-pinter semua gelarnya es mambo ;-) , lha …mau membantu wong miskin ,startnya komersial ,institusinya komersial ,SDM nya komersial ,Systemnya ,obatnya Komersial semua ,generik dan OGB hilang dipasaran…he he he apa ini nggak es mambo gelarnya semua ?
    Dari selayang pandang aja udah nggak muuuungkiiinnn…;-)
    Salam mas terus berjuang

  22. 22 cakmoki Januari 19, 2008 pukul 3:43 pm

    @ dokterearekcilik:
    saya pernah menulis bahwa program tersebut hanya menempatkan dokter dan warga miskin sebagai “korban” … lawan !!!
    sayangnya khalayak banyak gak tahu bahwa ada “permainan” dibalik Askeskin yang memaksa dokter meresepkan obat lain di luar pagu demi keselamatan jiwa pasien, khalayak hanya melihat “resep” doang, tanpa mencari tahu mengapa mengeluarkan resep …
    Setidaknya pengalaman Mas Rizal menjawab pernyataan mas Poer … yang melihatnya dari resep dan protokol, lha wong protokolnya hasil itungan untung rugi, bukan demi keselamatan jiwa pasien, seperti contoh pasien kejang demam itu …

    @ simkes:
    hahaha, kemarin pagi kami rasan-rasan, jangan-jangan Depkes hanya melontarkan “bargaining” untuk ikutan… hmmm, dasar mental gak genah, tega-teganya menjadikan warga miskin sebagai lahan hijau … moga dicatat oleh malaikat … kira-kira nanti “di sana” bisa tawar menawar gak ya..atau termasuk yang digebuki sampai penyet ? *gemas mode: On*

    @ SIM:
    Hmmm, ini informasi yang menarik. Kalo emang gitu, mengapa gak dipublikasikan aja ? buka semuanya, ini akan lebih fair sehingga khalayak tahu siapa yang curang dan kemana saja arus dana tersebut. Siapa tahu 1 daerah cabang bisa menguak semuanya … Kalo emang PT Askes bersih, berarti ada pihak lain yang kotor … atau mungkin ada lagi pihak-pihak di luar PT Askes dan depkes yang ikut “bermain”.
    So, semuanya hanya bisa dibuktikan jika saling terbuka … pihak Askes pun boleh membeberkan fakta jika emang ada indikasi penyelewengan dari pihak pelaksana pelayanan, dalam hal ini pihak RS , Puskesmas, dll.

    Selama ini PT Askes hanya mengatakan tidak cari untung, nirlaba atau sejenisnya, tapi ini hanya omongan … bisa buka penggunaan Dana tersebut gak ? … hehehe

    @ sibermedik:
    halah, paling ntar juga rujuk lagi…apalagi ini kan menyangkut uang dalam jumlah banyak …kayak gak tau aja :P
    Kalo ingin fair mestinya buka lelang resmi, bukan main tunjuk lantas lirik-lirikan bersembunyi di balik UU.

    @ Mia:
    hahaha, cespleng deh … langsung menusuk ke sasaran. Sebenernya kalo mo jujur, kira-kira begitulah kejadiannya, kita kan ya punya nalar untuk mengetahuinya …
    salam juga, thanks supportnya :)

  23. 23 cecep_dadang Januari 19, 2008 pukul 3:46 pm

    @Mia

    Ita memang benar startnya memang kacau dan tidak terencana. Menkes mengeluarkan SK penurunan harga obat generik dan OGB, ujung-ujungnya produsen nggak mau produksi dan obat hilang dari pasaran.

    Sepertinya memang terjadi tarik ulur antara Depkes dan produsen obat, mudah-mudahan saja yang mendukung rakyat miskin yang menang. Kalau ternyata mereka kompromi dan mengabaikan kepentingan rakyat miskin, kita hanya bisa berdoa mudah-mudahan mereka semua masuk NERAKA (kalau itu ada…)

  24. 24 PEACE Januari 19, 2008 pukul 3:59 pm

    Hanya di Indonesia….(kayak tayangan nuansa Pagi RCTI….) orang-orang nya pada hobi berpolemik.. Senang saling hujat… tertawa ngakak bila ada tetangga yang lagi hadapi kendala…. MARILAH KITA TENGOK KEDALAM… SEBELUM BICARA…. Semoga Pikiran Baik Datang Dari Segala Penjuru…

  25. 25 cakmoki Januari 19, 2008 pukul 11:40 pm

    @ PEACE:

    Semoga Pikiran Baik Datang Dari Segala Penjuru

    ..pikiran baiknya mana lho ? sebutkan dong ;)

  26. 26 Astri Januari 20, 2008 pukul 2:04 am

    Gak komentar, getun ma Al Fatihah 3 dd 10 ma Yasin 3 dd 3.
    La, masak nggak ada obatnya gak boleh diresepin? Nek gak diresepin trus pasienne mati doktere maneh sing salah.
    Repot jadi dokter :(

  27. 27 cakmoki Januari 20, 2008 pukul 5:38 pm

    @ Astri:
    kalo gitu, al-Fatihah 3dd 33 ma Yasiin 3 dd 33

    iya itu, kalo meresepkan di luar ketentuan mereka dicela, maklum..mereka kan cuman modal kalkulator, gak pernah melihat bagaimana rasanya melihat pasien sekarat.
    Lawan !!! *halah* :D

  28. 28 Shinta Januari 20, 2008 pukul 5:39 pm

    PT Askes dengan Depkes itu hubungannya …. Benci tapi Rindu hehhe.. :)

  29. 29 cakmoki Januari 20, 2008 pukul 9:14 pm

    @ Shinta:

    PT Askes dengan Depkes itu hubungannya …. Benci tapi Rindu hehhe.. :)

    hmmm, ilustrasi yang nyaris tepat… *pura-pura* ogah tapi mau.. gedhe banget tuh duitnya… sekarang udah baikan lagi koq … :P

  30. 30 andi Januari 21, 2008 pukul 7:36 am

    PT Akses sudah seharusnya diceraikan soalnya ga becus, banyak duit yang masuk tapi sedikit yang dikeluarin.

  31. 31 sandi Januari 21, 2008 pukul 7:44 am

    ceraikan saja PT Akses udah ga becus.

  32. 32 dhena Januari 21, 2008 pukul 10:23 am

    pemutusan askeskin emg menuai byk kesan berbeda. klo ak sbg mantan verifikator askes,di satu pihak, senang karena kerjaan berkurang.masalah askes korupsi ato tidak, wallahu’alam, itu urusan orang atas, tapi sebagai peg kecil yg turun di lapangan, ak tau betapa susahnya mengurusi askeskin.menkes tidak memberikan wewenang pd askes utk memverifikasi eligibility SKTM, walopun jelas2 yg bawa SKTM itu pake hp keren dan bermobil, kita hanya bisa mngelus dada, soalnya ga berhak. RS dan Puskemas mark up klaim, kok yg disalahkan askes saja ya?? pelaku fraud tidak!! pdhl kita sudah berusaha mengendalikan fraud sampe banjir darah!! tp cakmoki, ak juga jingkrak2 klo askes diceraikan, tapi nasib pegawai kontrak Askeskin itu bgm ya? kerjaan berat, gaji kecil!! Entahlah……….

  33. 33 ardi Januari 21, 2008 pukul 2:18 pm

    huehue ..

    gimana gak besar tuch jumlah premi rp. 5.000,- an askeskin yang diminta pt. askes … lha wong .. seluruh … tindakan di tanggung.

    kalah tuch ama PNS yang besar premi nya sekitar 10 ribuan .. tp banyak yang gak di tanggung.

    kl mau ditanggun semua .. naekin tuch premi jadi rp. 9.000 an lebih … kalau perlu lebih gede dari … premi PNS

    menkes jg, .. program masih banyak celah … yaa pasti di manfaatin, misalnya .. masih boleh SKTM.

    sehingga …, jumlah yang miskin dadakan jd membengkak … sehingga pake itungan orang bodoh pun… bisa di pikir .. pastilah .. tu biaya yang diperlukan membengkak.

    kalau ada surat (berkas lengkap) askes gak dikasih hak gak untuk menolak yang pake surat miskin walau yang dateng pake mobil … hp terbaru.

    jangan cuman salahin pt. askes,.. sebelum komentar .. yang pedas … coba aja .. “3 bulan kerja di pihak askes” rasakan dulu, baru koment.

    kl koment tanpa pernah merasakan .. itu bull shit nama nya.

    udah bagus tuch … contoh .. “puasa dulu agar tau gimana rasanya jadi orang laper”

    coba aja dech menkes … bikin system yang bagus. lha wong … askes sendiri .. aja mulai nol… sampe sekarang belum mendapat yang terbaik dari segi pengelolaan nya.

    gimana yang baru ? .. mau mulai dari NOL lagi ?

    kasian rakyat yang bener bener miskin.

  34. 34 anggara Januari 21, 2008 pukul 3:21 pm

    sepertinya mau kawin lagi tuh cak?

  35. 35 suparman Januari 21, 2008 pukul 5:13 pm

    Gonjang-ganjing Askeskin ini menurut saya disebabkan oleh :
    adanya kebijakan-kebijakan dari depkes yang kontrakdiktif dan tidak matang :
    1. Semua orang miskin(atau mengaku miskin dengan SKTM) ditanggung tetapi hanya menyediakan dana yang terbatas.
    2. Sakit apa saja ditanggung tetapi membatasi jenis obat yang yang boleh diresepkan.
    3. Gembar-gembor berhasil menurunkan harga obat generik tetapi saat produsen ogah produksi obat generik diam saja.

    Yang dijadikan korban adalah : pasien dari masyarakat yang benar-benar miskin, Provider Kesehatan (RS), dan Pengelola Askeskin (PT. Askes).

    Depkes nggak yakin bisa menjadi pengelola Askeskin maka PT. Askes digandeng lagi, paling nggak bisa dijadikan kambing hitam kalau seandainya Askeskin 2008 tetap(bahkan lebih buruk) dari 2007.

  36. 36 bhogast Januari 21, 2008 pukul 5:54 pm

    Moga para pimpinan bangsa ini melihat dengan hati
    jangan hanya emosi sesaat,
    klaupun tidak menggunakan askes.,

    Biarlah semuanya melihat
    Siapa yang salah
    Askes.,Depkes (MENKES) atau PPK

    NB : – Mau di kemanain TKT!!!<–para tenaga honoren askeskin!!!
    Mereka telah babat alas
    Mereka tel;ah berjuang
    Mereka berkelahi dengan waktu

    Setetes kebahagian selalu mereka harapkan

  37. 37 cakmoki Januari 22, 2008 pukul 4:49 am

    @ sandi:
    hmmm, gono-gininya gedhe lho..
    paling ntar lirik-lirikan lagi … hehehe

    @ dhena:

    …tapi nasib pegawai kontrak Askeskin itu bgm ya? kerjaan berat, gaji kecil!! Entahlah

    …tapi bagaimana saudara kitaa yg miskin itu? kerjaan berat, gak punya gaji, papa, tanpa bisa kerkata, hanya jadi obyek belaka…entahlah..

    @ ardi:

    kasian rakyat yang bener bener miskin.

    apa gak kontradiktif nih, di satu sisi mengasihani rakyat miskin di satu sisi bicara premi … hmmm *ngelus dagu*
    Tolong jawab jujur, pernah mengunjungi rakyat miskin dan bergaul dengan mereka gak ?

    @ anggara:
    ya iya lah … duitnya gedhe lho mas…lagipula obyeknya kan rakyat miskin yang sudah pasti gak bisa apa-apa.

    @ suparman:
    hahaha, kali aja gitu
    kalo saya sih langsung tembak aja: rebutan duit !!! :roll: ..adapun warga miskin hanya obyek belaka…

    @ bhogast:
    tenaga TKT ya…

    ada satu bait lagi yang penting tapi dilupakan:
    Rakyat miskin, mereka hanya obyek
    Rakyat miskin, mereka hanya dijadikan demi..demi…demi
    Rakyat miskin, … jangan-jangan yg bicara menggebu-gebu gak pernah peduli pada mereka, gak pernah tahu bagaimana kehidupan mereka, gak pernah tahu dapur mereka, …bahkan gak pernah bergaul dengan mereka..

    mereka bukan lagi berkelahi dengan waktu dan babat alas, …mereka bergumul dengan kesusahan sepanjang hidupnya …

  38. 38 Stethoscope_guy Januari 22, 2008 pukul 9:27 am

    Aku bingung cak..dengan utang Pemerintah (DepKes) ke Rumah Sakit-Rumah Sakit..(banyak banged lhoh..)

    Kira-kira kebayar ga yah??

    Cak, mohon izin untuk nge-link ke situs ini ya..

    Regards.

  39. 39 cakmoki Januari 22, 2008 pukul 2:02 pm

    @ Stethoscope_guy:
    iya, khawatir gak kebayar.. tapi bagi kita yang penting dah bisa nolong warga miskin, entah siapa nanti yang bayar.

    ok, silahkan, ntar saya link juga ya…thanks :)

  40. 40 ardi Januari 22, 2008 pukul 2:12 pm

    yang punya tulisan bilang :

    ” apa gak kontradiktif nih, di satu sisi mengasihani rakyat miskin di satu sisi bicara premi … hmmm *ngelus dagu*
    Tolong jawab jujur, pernah mengunjungi rakyat miskin dan bergaul dengan mereka gak ? ”

    kl ngomong harus pakai realita …
    orang miskin berobat …. emang berobat gak pake duit ? …
    sedangkan duit yang sekarang aja .. gak cukup .. dengan jumlah premi yang ada, .. trus jumlah … masyarakat miskin bertambah. …

    lha wong .. cuci darah sampe pen .. aja di tanggung …. , emang nya mo hitung … Rp. 5.000,- ( cukup ???? )

    wajar kl askes menaikan premi nya jadi rp. 9.000,- an lebih…

    janga cuman ngelus elus dagu … ngelus elus dagu gak ada guna nya .. sekarang tdk diperlukan orang yang cuma bisa ngomong .. dan elus elus dagu …

    kl mo ada guna nya .. turun langsung ke lapangan … ikut serta dalam program askeskin .. mulai dari jadi pihak askes .. trus jadi .. petugas paramedis … setelah itu baru jadi pejabat nya menkes … baru anda bilang … “tepat atau tidak nya keputusan menkes”

    anda tanya kepada saya … ” Tolong jawab jujur, pernah mengunjungi rakyat miskin dan bergaul dengan mereka gak ? ”

    saya hidup di tengah orang miskin, saya tinggal di kampung, pinggiran kota … saya bergaul dengan masyarakat miskin.

    kalau anda cuman bertanya seperti itu pun.. gak ada guna nya …

    coba anda bantu ….
    coba anda naikan .. premi asuransi untuk mereka …
    coba anda pikirkan dan sumbangkan pikiran anda ke menkes gimana tepat nya program askeskin …

    jika program askeskin terhenti dari askes maka kemungkinan akan terjadi kemunduran bahkan mungkin bisa lebih jelek dari yang ada sekarang …. karena :

    1. SDM nya sudah siap apa belum ? … baru di lantik ? .. baru di training ? …

    2. SKTM dinyatakan tidak berlaku lagi, gimana tu nasib nya .. yang masih Rawat Jalan atau Rawat Inap ? … gimana lg nasib si miskin yang tiap minggu cuci darah ? … sedangkan mereka gak punya kartu askeskin .. yang ada cuman SKTM. Bagaimana nasib nya gelandangan yang jadi tanggungan rumah sakit ? (misalnya RS. Jiwa)

    3. Sistem Informasi .. yang sudah ada ? … masa di bikin ulang lagi …, mo sampai kapan .. jadi object “trial error” dari sebuah aplikasi yang baru di bikin. Sementara kerjaan semakin banyak … laporan .. semakin menumpuk dan terus berjalan. Ingat sistem informasi yang dibangun bukan cuman …pengendalian rawat jalan atau rawat inap .. tp jg pengendalian obat sampai dengan aplikasi keuangannya.

    4. Bagaimana sistem pertanggung jawabannya ? … mana petunjuk teknis nya ? .. sudah ada atau belum ?

    ———————–
    apa anda punya solusi ?

  41. 41 suparman Januari 22, 2008 pukul 10:43 pm

    @ ardi

    SIM GAKIN dari askes juga masih jauh dari sempurna, (1) daftar peserta yang dari BPS juga belum dimasukan ke database di PPK, (2) pengiriman data ke PT. Askes juga masih error kalau mau kirim RJTL saja RITL nya juga ikut terkirim mana proses kirimnya lama banget dan kalau error ditengah jalan tidak bisa diulang.

    Untuk pemeriksaan Lab dan sarana penunjang lain bila terjadi pemeriksaan serial misalnya pemeriksaan darah untuk pasien hemodialisa nggak bisa ditagihkan gara-gara terbentur primary key dari tabel datpelkesritl, bagaimana ini????

    Kalau fee nya nggak 230 milyar mungkin kita bisa maklum dengan ketidaksempurnaan itu tapi 230 milyar je… dan itu uang beneran

  42. 42 cakmoki Januari 23, 2008 pukul 1:34 am

    @ Ardi:
    hahaha, berarti belum paham maksud saya…ok..saya udah tuliskan link tulisan saya, so kalo sampeyan baca, tentu tahu solusinya :D
    Solusinya: Warga Miskin Gak usah diurusi Askes !!! … coba telusuri tulisan saya sebelumnya mengapa saya bersikap seperti itu dan saya sewaktu memimpin Puskesmas, tidak pernah mau mengikuti askeskin via Askes, paham ?
    Di dunia nyata, saya tidak pernah segan menyatakan sikap saya… hehehe

    Sebagian yang teknis udah dijawab Mas suparman

  43. 43 calonorangtenarsedunia Januari 23, 2008 pukul 1:40 pm

    papahku memang hebring!!

    kebenaran pada akhirnya selalu menang.

    tapi saya agak kurang suka sama bu menkes, walaupun dia membuat papahku bahagia. tapi ga ada hubungannya askekin.

    Pah, kalo ada askeskin kenapa masih banyak orang miskin yang meninggal karena ga dapet perawatan ya?

  44. 44 ardi Januari 23, 2008 pukul 3:25 pm

    utk bapak suparman :

    memang bener pak … aplikasi gakin sampai sekarang masih belum sempurna (100%)… itupun sudah dikembangkan beberapa tahun.

    coba nanti anda bandingkan .. dengan sistem informasi yang baru (jika ada), baru di buat.

    Moga aja sistem informasi baru yang … sebelum masa transisi .. antara askes ke menkes … bisa sempurna (100%) lebih baik dari sistem informasi punya nya askes yang sekarang.

    mungkin pak suparman basic nya bukan programmer / analist system, tp jika pak suparman basic nya programmer atau analyst system mungkin bapak bisa tau bagaimana susah nya membuat sebuah sistem informasi yang sempurna 100 %.

    utk pak cakmoki :

    maaf saya belum ngeliat link solusi yang anda katakan tadi.
    saya coba cari

  45. 45 ardi Januari 23, 2008 pukul 3:39 pm

    td ada yang komentar .. perlu pihak ke 3 dalam mengelola askeskin. apa hal itu lewat tender ? …

    dalam hal tersebut .. tender biasanya dicari yang penawaran nya paling kecil .. dan yang kwalitas nya paling bagus.

    harga yang ditawarkan lebih kecil ..dan kwalitas yang terbaik .. hal itu mungkin tidak ada. sebab kwalitas sesuai dengan harganya.

    program pemerintah tentang askeskin itu sudah bagus .. tp .. bagaimana pengelolaan nya yang paling bagus ? …

    mungkin ada yang mau… dengan penawaran menkes dengan ketentuan :

    - fee 2,5 %
    - dana di sediakan terbatas (kl gak salah cuman 4,8 T).. jika lewat dari itu .. maka tanggung sendiri.
    - bertanggung jawab dan mau di audit oleh BPKP.
    - jadi ujung tombak berhadapan langsung dengan masyarakat di RS / Puskesmas.
    - memiliki jaringan kesehatan di semua wilayah.
    - sistem informasi sudah siap.

    kira kira ada yang sanggup ? jika ada yang sanggup kira kira siapa ?

  46. 46 ardi Januari 23, 2008 pukul 3:53 pm

    untuk pak cakmoki

    saya coba cari link nya yang bapak katakan tp gak ketemu .. akhirnya saya sadar .. pak cakmoki dah ngejelasin dengan kata kata

    Solusinya: Warga Miskin Gak usah diurusi Askes !!! …

    jika emang keinginan semuanya seperti itu, moga aja akhir bulan ini askes gak usah lagi ngurusin askeskin.

    semoga saja mentri sudah siap mencover semuanya dan lebih baik dari askes selama ini.

    untuk pak suparman :

    maaf pak .. ketinggalan …, soal 230 milyar itu tidak di habiskan semua nya buat sistem informasi atau aplikasi. tp jg buat infrastruktur … dan juga gaji yang lain.

  47. 47 cakmoki Januari 23, 2008 pukul 6:29 pm

    @ calon mantu:

    Pah, kalo ada askeskin kenapa masih banyak orang miskin yang meninggal karena ga dapet perawatan ya?

    iya bener, cuma angkanya kita belum tahu, selain itu kita juga belum tahu apakah mereka meninggalnya saat dirawat atau dirumah. Mestinya dengan program pengobatan untuk warga miskin dapat menurunkan angka kematian. Namun tak jarang warga miskin yang sakit gak ke RS karena emang gak punya apa-apa, bahkan uang transportpun gak ada.
    Selain itu konon layanan perawatan terhadap warga miskin masih sangat kurang. Mereka cenderung kurang diperhatikan. Entah mengapa.
    Tapi papah ga gitu, siapapun mendapatkan layanan yang sama, so tenang aja ;)

    @ ardi:
    lha itu ada 10 link posting terkait askeskin di pertengahan tulisan :) gak usah dicari, tinggal klik.
    Inti dari posting ini adalah mengedepankan kualitas layanan secara teknis medis disertai penunjang yang terintegrasi dengan teknis medis.

    Sebagi contoh, untuk medical record, kami menggunakan MySQL dengan interface FoxPro…(ini soal selera, fleksibel). Dan tentu memakai biaya yang bersumber dari alokasi lain sehingga tidak mengurangi jatah warga miskin. Yang bikin bukan kami, beli or membayar jasa seorang programer.

    Jauh sebelum askeskin, program untuk warga miskin sudah ada (sejak tahun 1997). Ada kelemahan terkait rekam medik dan pengawasan, so untuk memperbaiki, menurut saya tidak perlu membuat program baru seperti askeskin. Ingat, askeskin dianggap dapat menjawab kelemahan program JPS-BK.
    Padahal kelemahan JPS-BK dapat dicover diantaranya dengan perbaikan dan penyempurnaan Rekam Medik memanfaatkan jasa programmer (beli or bayar) sesuai SP2TP ( Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu).

  48. 48 almascatie Januari 24, 2008 pukul 7:38 am

    jubile panjang2 banget commentnya

    cak.. waktu dengerin berita ini yang sayah inget adalah cak moki doang.. nget tulisan2 cak moki dan hanya kata sayah alhamdulillah :)

  49. 49 cakmoki Januari 24, 2008 pukul 1:09 pm

    @ alamscatie:
    hahaha, inget kalo kita ini bagian ngomel :D
    Moga menjadi lebih baik, thanks supportnya selama ini dan hingga mbuh kapan … :D

  50. 50 abizar Januari 24, 2008 pukul 1:58 pm

    Cakmoki ini orang hebat dan pinter, pemalas, Bigos, Omdo, ahli komputer…maklum orang2 seperti ini banyak uang bisa nya hanya komen yang ga penting… “kaya gak pernah makan uang masy miskin BULLSHIT klo ga pernah!!!”
    Nampilin rumah dinas yg super butut, tapi dikota lain rumah bak istana. CAKMOKI ini kya nya orang yang terbuang di pemerintahan atau kerjaannya dia.. yang tadinya basah ngurusin MASKIN ternyata di alihkan ke PT.ASKES dia jadi GIGIT JARI ga bisa korup kaya dulu lagi…waktu ASKESKIN belum dtanganin PT.ASKES ga ada sosialisasi ke semua masy, semua station TV pun ga pernah memberitakan apapun. karena sengaja tidak di ekspos besar2an,agar dana subsidi ini mengalir ke semua cabang. (SALAH SATUNYA) CAKMOKI INI.ini kan program 100 harinya ibu menkes jadi kental sekali muatan politiknya PROGRAM yang tadinya sudah ada dari dulu, ia jadikan andalan program dia dalam 100 hari kedepan.

  51. 51 suandana Januari 24, 2008 pukul 2:12 pm

    *baca komen terakhir* :lol:
    Setuju, Cak… Kita memang tukang ngomel… :lol:

  52. 52 suandana Januari 24, 2008 pukul 2:27 pm

    Aaah… keganggu abizar! *injek-injek*
    Maksudnya, komentar Cak Moki untuk almascatie itu lho…

  53. 53 abizar Januari 24, 2008 pukul 2:41 pm

    Suandana…
    ha..ha..ha.. itu juga yang aku maksudkan NGOMEL-NGOMEL

  54. 54 cakmoki Januari 24, 2008 pukul 2:42 pm

    @ abizar:
    bagus, ada yg berani begini :) … apa kita pernah ketemu?

    “kaya gak pernah makan uang masy miskin BULLSHIT klo ga pernah!!!”

    Gak Pernah !!! hahaha …
    Terbuang ? wuaaaaa, lha minta berhenti gak boleh, so gak perlu repot-repot membuang …hehehe, lucu

    @ suandana:
    hehehe, iya…harus ada yang berani ngomel Mas..
    abizar biarin aja deh, kalo didaratan paling bungkam :D

  55. 55 abizar Januari 24, 2008 pukul 3:15 pm

    whooooaa…ha..ha.. justru kalian be2 katak dalam tempurung.
    berani bicara tapi MAYA…?????
    atau kalian takut mutasi lagi kedaerah yang lebih terpencil
    HA..HA..HA…HA..HA..HA…
    PUAS BANGET AKU NGAKAKNYA…
    Teng kyu Cak aku bebas ngomel di blog ini.

  56. 56 abizar Januari 24, 2008 pukul 3:42 pm

    to Ardi:
    Selama kamu merasa masih jadi manusia, jangan gondok gitu.
    hewan aja yang ga punya akal pikiran bisa hidup, cari makanan buwat anak2nya.
    Keluar kerja itu biasa, gimana kebijakan Perusahaan..

  57. 57 ardi Januari 24, 2008 pukul 3:46 pm

    pak cakmoki86 wrote :

    lha itu ada 10 link posting terkait askeskin di pertengahan tulisan :) gak usah dicari, tinggal klik.
    Inti dari posting ini adalah mengedepankan kualitas layanan secara teknis medis disertai penunjang yang terintegrasi dengan teknis medis.

    jawaban saya :

    kalau yang link di atas saya sudah baca, dan maaf .. saya masih belum melihat solusi dari tulisan bapak. coba cek masalah presentasi kl gak salah sebab sudah saya kasih komentar.

    pak cakmoki wrote :

    Sebagi contoh, untuk medical record, kami menggunakan MySQL dengan interface FoxPro…(ini soal selera, fleksibel). Dan tentu memakai biaya yang bersumber dari alokasi lain sehingga tidak mengurangi jatah warga miskin. Yang bikin bukan kami, beli or membayar jasa seorang programer.

    jawaban saya :
    oke masalah .. mysql mungkin free jadi bisa sedikit mengurangi ..biaya .. tp tetap saja Foxpro sifat nya bayar. dan untuk apapun anda memerlukan aplikasi pengolahan data untuk medical record. dan sebagai catatan pak.. program askeskin itu tidak ada hubungan nya dengan medical record (berdiri sendiri).. itu semua adalah program punya rumah sakit.

    bukan bikinan anda, tp beli atau membayar jasa (tetap saja memerlukan biaya .. ) . .trus jika bapak pakai aplikasi medical record .. pasti bapak perlu juga .. menggunakan pencatatan (kartu) pasien., .. coba bapak liat lagi .. di tulisan bapak yang berjudul presentasi sedangkan disana bapak mengatakan kartu tidak perlu.

    pak chimoki wrote :

    Jauh sebelum askeskin, program untuk warga miskin sudah ada (sejak tahun 1997). Ada kelemahan terkait rekam medik dan pengawasan, so untuk memperbaiki, menurut saya tidak perlu membuat program baru seperti askeskin. Ingat, askeskin dianggap dapat menjawab kelemahan program JPS-BK.
    Padahal kelemahan JPS-BK dapat dicover diantaranya dengan perbaikan dan penyempurnaan Rekam Medik memanfaatkan jasa programmer (beli or bayar) sesuai SP2TP ( Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu).

    jawaban saya :

    sejak 1997, bapak bilang ada kelemahan di dalamnya, saya tanya berapa tahun program itu di bikin ? … memanfaatkan jasa programmer … beli dan bayar, jika program itu di beli .. mana pertanggung jawaban dari kesempurnaan nya (update priodik/perbaikan) ?

    … jika memanfaatkan jasa programmer … apa mau programmer nya yang dulu mau menyerahkan kembali source code nya untuk di kembangkan kembali ? …

    ingat yang di jual oleh programmer itu adalah program sudah jadi, bukan source codenya. kecuali anda negosiasi .. dengan programmer nya … tp andapun perlu programmer lagi untuk melanjutkan aplikasi tersebut …

    dan kerugiannya :
    - programmer yang melanjutkan .. harus memperlajari kembali source code mulai awal sebelum melanjutkan.
    - tiap programer pola pikir dan gaya nya berbeda, sehingga perlu waktu untuk menyesuaikan dengan source code awal.
    - setelah itu baru menambakan kembali bagian pengembangannya. dan itu pun harus ada trial error.

    kecuali anda sewa programmer untuk bikin program ulang, tanpa membeli kembali source code dari programmer terdahulu. dan itu pun perlu waktu lagi.

    sampai kapan menunggu ? .. jalan tidak … tp masih dalam proses

    pilihan nya ..

    apakah anda ingin kembali dari “NOL” lagi.. atau mengembangkan yang sudah ada.

    sedangkan .. waktu terus bejalan pak. masyarakat miskin sudah menunggu di depan, minta di layani.

  58. 58 ardi Januari 24, 2008 pukul 4:04 pm

    id simkes bilang :

    ” Benar kata Cakmoki memang PT. Askes alhi dalam hal tawar menawar. Ternyata Depkes bisa berubah pikiran Cak, Depkes nawarin 2,5 % dari 4,6 triliun hanya sebagai penanggung jawab tapi sudah tidak perlu lagi melakukan verifikasi hanya bertugas mengidentifikasi peserta saja! Wuih bener-bener gurih! baca Depkes berubah ”

    saya mo mengomentari …

    jika anda bilang pt. askes ahli dalam tawar menawar … itu memang benar .. apa anda lupa kl askes adalah orang orang asuransi. jika tidak mempunyai kemampuan itu ..berarti mereka gak profesional.

    dan saya pikir menkes itu bisa berubah pikiran … karena :

    - menkes baru tau gimana keadaan di bawahnya. (mulai dari RS, dinas sampai ke puskesmas ) .. bagaimana kesiapan SDM dan Sistemnya. apakah sanggup mengelola dana tersebut jika langsung diserahkan. bikin tambah kerjaan anak buah / bawahan lagi, bikin tambah beban pertanggung jawaban bawahan lagi. emang nya .. sekarang bawahan kekurangan kerjaan dan kekurangan tanggung jawab ?

    - menkes mencoba bekerjasama dengan pihak IDI, tp sampai sekarang belum ada jawaban pasti apakah ikut terlibat dalam verifikasi atau tidak.

    - jika ternyata uang yang disediakan tidak cukup, siapa yang akan membayar ? … apakah rumah sakit yang nanti nya akan di periksa jika terjadi kelebihan ? .. apa petugas verifikator yang akan bertanggung jawab untuk mencukupkan .. berdasarkan jatah anggaran ?

    kalau misalkan sanggup dan bisa, sejak dulu pastilah askeskin gak bakalan di kasih ke askes. ngapain balik lagi ke askes buat nawarin penawaran baru … lha wong .. dulu aja sudah koar koar yang isinya… “gak perlu pt. askes”.

    saya sendiri jika disuruh untuk emosi sesaat … pasti pengen nya :

    “askeskin gak usah lewat pt. askes lg, udah biarin aja menkes yang ngurus, pengen liat gimana hasilnya nanti”

    jika hasilnya lebih bagus dari pt. askes … saya akan langsung acung jempol.

  59. 59 Shinta Januari 24, 2008 pukul 4:40 pm

    hihihi…jadi bingung baca komentar2 nya…
    keliatannya harus ada penyamaan persepsi dulu antara cakmoki dengan ardi..terhadap kata ..”kartu” dan “program” .. :)

  60. 60 ardi Januari 24, 2008 pukul 4:53 pm

    bener juga kata mba shinta..

    saya memandang nya dari kaca mata seorang programmer, tentang fungsi kartu dan aplikasi untuk masyarakat miskin.

    mohon maaf jika salah.

  61. 61 suparman Januari 24, 2008 pukul 5:19 pm

    programmer PT. Askes pada ngamuk nih ceritanya?? he..he..he

    Sekedar tanya Pt. Askes itu mengembangkan sendiri atau menyewa programmer lain dalam mengembangkan sin-nya sih????

  62. 62 ardi Januari 24, 2008 pukul 5:28 pm

    untuk pak suparman :

    sebagai informasi, aplikasi askeskin itu dikembangkan sendiri oleh divisi informasi pt. askes.

    note :
    - saya bukan programmer dari pt. askes.

  63. 63 suparman Januari 24, 2008 pukul 6:25 pm

    @ardi

    Wo Pantas,
    Coba kalau dibuat oleh tenaga profesional, kayaknya hasilnya akan jauh lebih baik!

  64. 64 n0vri Januari 24, 2008 pukul 10:43 pm

    askes itu BUMN ya Cak?
    pantesan… ada mark up :P

  65. 65 cakmoki Januari 25, 2008 pukul 10:32 am

    @ abizar:
    bicara tapi maya ?
    bisa jadi, tapi saya tidak… buktinya saya tidak pernah mau menerima program tersebut selama memimpin institusi, dan saya selalu menolak jadi dokternya askes atau asuransi manapun. Oya di dunia nyata tidak pernah surut soal seperti ini … hehehe

    ok, monggo silahkan berpendapat … kita bisa ngomel di sini sampai puwassss :D

    Untuk komentar selanjutnya: Emangnya ada apa ini ? udah saling kenal ya :) … atau penilaian berdasarkan komentar ? … hehehe

    @ ardi:
    kayaknya gak nyambung :D …rupanya belum bisa menyerap perbedaan dan kaitan antara tulisan sebelumnya dengn Askeskin.
    Di tulisan Presentasi itu adalah masukan kepada Pemkot Samarinda di hadapan para pejabat Pemkot terkait, DPRD, Camat dan Lurah yang memaparkan perhitungan jika dikelola oleh Askes dan jika dikelola langsung oleh Bagian Keuangan Pemkot. Di situ mengungkapkan bahwa jika tanpa askes bisa menghemat dana hingga hampir setengahnya tanpa kartu-kartuan, artinya jikapun semua penduduk Samarinda berobat tanpa batasan melalui identifikasi kartu (baca: tanda kesertaan yg ditarwarkan askes berdasarkan kapitasi) dengan hitungan visit rate meningkat hingga 2 kali lipat, masih bisa berhemat hampir setengahnya. Coba bandingkan dengan tawaran askes yang dibatasi dan uangnya diserahkan semua. Jadi, jika tidak ada lagi batasan peserta dan bisa menghemat, kartu peserta tidak diperlukan lagi. Untuk apa? wong semua pengunjung bisa direkam. So saya dan hadirin waktu itu memandangnya secara komprehensif, bukan melulu kapitasi dan premi. Pantaslah anda belum bisa memahaminya karena anda tidak berhadapan langsung dengan pengguna jasa layanan kesehatan setiap hari. Dan sangat mungkin kita berbeda dalam memandang layanan medis bagi warga miskin.

    Bicara programmer, sayangnya tidak semua programmer seperti anda. Ada yang mampu berpikir secara komprehensif sehingga seperti di tempat kami, diserahkan semuanya (termasuk source code). Dan fleksibel sehingga bisa diubah sesuai perkembangan terkini menyangkut kode penyakit, harga obat, harga bahan habis pakai dan lain-lain.
    Siapa bilang semua programmer menjual bahan jadi ? Buktinya programmer kami tidak seperti itu, bahkan beliaupun ready jika sewaktu-waktu diperlukan.
    Tidak sulit kalo dilandasi dengan niat dan pelaksanaan yang baik. Ini sudah kami buktikan, bukan lagi sekedar opini.

    Mengapa pula harus menunggu? Wong tatalaksana layanan medis sudah jelas. Ada maupun tidak ada askes, penduduk miskin sebelum ini sudah gratis. hahaha

    Untuk komen anda selanjutnya saya hanya bisa menjawab:
    Cobalah melihatnya secara komprehensif. Niscaya akan paham kecuali jika anda merasa ada yang hilang, langsung ataupun tidak langsung.
    Penawaran, premi, kapitasi … duhhh ini lagi. Sudah ada Perda yang mengatur semua itu, lengkap. Kalo kurang, Pemkab/Pemkot akan ikut menanggulanginya seperti halnya saat Askeskin dan sebelumnya. Piye sih?

    Btw, apapun opini anda, tetap saya hargai :)

    @ Shinta:
    hehehe, ini biasa mbak. Gak perlu persamaan persepsi, kecuali dari awal punya konsensus yang sama yakni membela warga miskin dengan tulus. Tanpa itu, gak bakalan bisa nyambung. Kayaknya masih baru mengikuti posting blog ini. ;)

    @ suparman:
    ah ! beberapa temen yang baca komentar di psoting ini juga berpikir seperti itu, langsung ataupun tidak langsung … hehehe

    @ n0vri
    iya, halah jangan pura-pura gak tahu ah ;)
    Lagipula waktu pertama diluncurkan tahun 2004, gak dilelang secara terbuka kepada semua jasa asuransi, kalo emang pola pikirnya mau diasuransikan.
    Dari awal udah banyak keanehan pak …

  66. 66 SIM Januari 25, 2008 pukul 3:37 pm

    Kyakanya klo diliat angka 230 Miliar itu gede banget yahh..
    Tp klo itung2an dengan seluruh pegawai diseluruh indonesia, 33 Prop, berapa ratus kabupaten, tiap kab minimal 1 orang..
    Untuk gedung, gaji dan operasional apa uang segitu masih dianggap gede..?
    PT Askes bisa pake uang sgitu karena ngedompleng program askes yang lain artinya untuk kantor dan operasional misal kendaraan bukan murni ditanggung dr fee yang 5% itu..

    saya heran dengan menkes yang selalu berkata tunggakan “PT Askes thd klaim askeskin…”
    padahal itu uang ga ada kan karena emang lum cair dari pemerintah dalam hal ini menkes kan ikut tanggung jawab karena ini program menkes… mo dibayar pake apa…?
    keterlambatan proses verifikasi ga melulu salah askes, tp pihak rs/apotik jg.. coba deh apa yang mau kita verifikasi klo proses entry dan kelengkapan berkas dari RS terlambat jg..??
    boleh di survei keterlambatan pembayaran klaim apakah murni kesalahan askes atau dari RS, di kantor wilayah kami itu mayoritas keterlambatan dimulai dari RS karena tidak entry atau mengajukan klaim… ga tau kalau di daerah lain yahh..
    klo pt askes ga mengendalikan itu salah besar, karena klo program askeskin di biarkan loss tanpa pengendalian itu akan berdampak terhadap program lain like asuransi buat pns dan asuransi buat swasta karena dilapangan itu kan berjalan bersamaan… jd klo ada ditemukan fraud pasti akan dihandle agar tidak terjadi di program lain, karena dalam pelaksanaan program askes pns dan swasta askes kan cari laba…

    klo saya liat PT Askes cuma jadi korban atas buruknya perencanaan dari Menkes.. klo kita pengennya sekalian aja putus askeskin ga ditangani lg oleh askes, tp banyak dinkes daerah tenyata keberatan dengan keputusan menkes akhirnya tugasnya di bagi askes masih terlibat dlam penerbitan surat jaminan, verifikasi oleh dinkes … menurut saya makin ribet tp kita lihat nanti hasilnya…

    yah gimanapun keputusannya yang penting rakyat miskin tetap bisa menikmati… kita cuma slalu berusaha ikhlas melayani…

  67. 67 ardi Januari 25, 2008 pukul 5:36 pm

    untuk pak cakmoki :

    terimakasih atas pencerahan nya, maaf jika saya salah persepsi atau salah pemahaman. semoga saja apa yang anda inginkan dan utarakan bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.

    untuk pak suparman :

    bole tau kriteria profesional programmer menurut anda itu seperti apa ? … kalau bole bisa anda .. kasih tau contoh programmer di indonesia yang anda anggap profesional ?

    sekedar anda ketahui, para staf divisi informasi askes itu di terima cuman dengan test tertulis .. bulatan hitam dengan pensil 2B. ^_^

    memang mudah mengatakan sesorang tidak profesional, tp apakah kita sendiri sudah profesional di bidang nya ? mari kita sama sama berusaha membenahi … , agar bisa lebih baik.

  68. 68 ardi Januari 25, 2008 pukul 5:37 pm

    maaf salah ketik :

    sekedar anda ketahui, para staf divisi informasi askes itu di terima cuman dengan test tertulis .. bulatan hitam dengan pensil 2B. ^_^

    seharunya

    sekedar anda ketahui, para staf divisi informasi askes itu di TIDAK terima cuman dengan test tertulis .. bulatan hitam dengan pensil 2B. ^_^

    lirik kiri kanan :

    * moga tdk dimarahin ama divisi informasi askes … maaf maaf .. maaf .. jika salah ketik *

  69. 69 cakmoki Januari 26, 2008 pukul 12:27 am

    @ SIM:

    yah gimanapun keputusannya yang penting rakyat miskin tetap bisa menikmati… kita cuma slalu berusaha ikhlas melayani…

    saya lebih suka quote ini, syukur kalo gak ada uang tercecer dengan berbagai judul, karena sama aja dengan merampas hak warga miskin.

    Namun demikian saya lebih memilih dana program tersebut langsung dikucurkan kepada intitusi pelayanan kesehatan dengan pengawasan ketat supaya gak mampir kesana-kemari.
    Infrastruktur untuk pembiayaan sudah ada yakni Perda Tarif di setiap daerah tingkat II (untuk RSUD Kab/Kota) dan tingkat I (untuk RSUD Prov). Ini sudah pernah dijalankan, dan sejauh ini dananya lebih bahkan bisa dipakai untuk tahun berikutnya.

    @ ardi:
    beda pemahaman dan persepsi itu biasa, gak papa … so sekali lagi trims atas share-nya :)
    Kita juga berharap dan berusaha agar layanan untuk warga miskin berjalan baik serta benar-benar dirasakan manfaatnya.

  70. 70 Karaeng Januari 29, 2008 pukul 4:08 pm

    Tolong dech dipikir lg lebih matang…..
    ga ngerti maksud gw?
    bingung plus pusing….?
    itulah kata Bijak hr ini.
    thanks tuk semuanya.

  71. 71 aufklarung Januari 29, 2008 pukul 7:24 pm

    panjang2 komentar berbalasan ini, masalahnya cuma kebijakan miskin dan tidak miskin. ini konsekuensi dari kebijakan parsial ‘hanya untuk si miskin saja’, maka jadi kisruh. hal ini jg yg terjadi di BLT, raskin, BOS, dan jenis2 kebijakan parsial ‘miskin saja’ lainnya.
    dengan kebijakan ini, secara subyektif setiap orang akan merasa miskin, wong ada iming2nya, pelkes gratis, beasiswa, uang BLT, beras, BLT dll.
    idealnya jaminan sosial memang untuk seluruh warga negara, dan bukan cuma kesehatan, jadi kalian (saya juga kepancing nulis disini) ; kita gak usah pada berargumen panjang2, seperti contoh di perancis itu….. TAPI, uangnya untuk BLBI 700 triliun habis dalam 5tahun gak kembali tuh. jadi kita harus merasa bahwa diri kita sendiri memiskinkan diri, bagaimana pun berlaku totem pro-parte dan pars pro toto, maksudnya uang 700triliun itu habis oleh manusia indonesia juga.
    kasarannya, kalo cakmoki dan para komentator ini orang jepang, tentunya mereka akan berkomentar dgn pola pikir jepang, dan menkesnya orang jepang juga, dan bangsa jepang tidak pernah kecolongan BLBJ 700triliun krn sistem perbankannya bobrok.
    kalo 220juta orang indonesia tukeran pindah ke jepang, dan org jepang ke indonesia, jelas kita akan merusak tatanan di jepang sana, dan jepang akan memulai pola hidupnya disini, karena kita tetap orang indonesia, dimana pun berada.
    contoh 700triliun itu cuma contoh potensi yang sebetulnya bs dialirkan ke sektor yg lbh tepat. jepangpun cuma contoh yg bisa dianalogikan dengan bangsa lain, yg mewakili ciri khas masing2 bangsa dn negara. karena sejak 1997, program miskin sudah berubah 7kali (bukan cuma kesehatan), dn itupun menjadi ciri khas bangsa-nya cakmoki.
    salut untuk cakmoki dan blog ini. saya tdk peduli dgn isinya yg kisruh, kalo bangsa-nya balung-kere, yowis kere blas *java mode ; on*

  72. 72 aufklarung Januari 29, 2008 pukul 7:31 pm

    kalo 220juta orang indonesia tukeran pindah ke jepang, dan org jepang ke indonesia, jelas kita akan merusak tatanan di jepang sana, karena kita tetap orang indonesia, dimana pun berada.
    ada yang mau naik shinkasen di atas atap kereta peluru?

  73. 73 triesti Januari 29, 2008 pukul 10:49 pm

    hmm sebetulnya pengen nulis poanjang tapi ngga sempat. yg jelas.. kalau mau dibandingkan dgn prancis. ya susah. di eropa sampe tukang sampah bayar pajak, krn memang semua terdata dgn cermat. identitas cuma 1, di Ind. orang bisa koleksi KTP bbrp daerah. belum lagi cuma sekian persen yg bayar pajak. pajaknya pun kecil bila dibanding di eropa yg minimal 30%-an dari pendapatan kotor. jadi boleh dibilang sumber dana mereka jauh lebih besar daripada RI.

    saya ngga tau banyak ttg prancis, tapi di Belanda, yg pegang peran ttg kesehatan adalah pemerintah sebagai pengayom, dokter, asuransi, dan pasien, jadi semua punya andil. perhimpunan dokter melansir tata laksana per penyakit, apa yg bisa dikerjakan & apa yg tidak. Dokter harus ikut pakem ini, boleh tidak bila keadaan tidak memungkinkan, misalnya pasiennya alergi thd obat yg ada. Di Ind. hal ini tidak diikuti dgn baik bila tata laksana tersebut ada, krn tidak semua ada tata laksananya. berbasis tata laksana kesehatan ini asuransi menerapkan plafon biaya per treatment. Ini juga hasil negosiasi semua pihak. pasien bisa turut andil krn ini menyangkut kesejahteraannya.

    Coba, pengamatan saya di Jakarta kalau dokternya mahal makin rame, mungkin krn gengsi. di Eropa semua tarif standard, semua referral jelas, ngga main nyelonong seperti di Ind yg pasiennya hobby shopping dokter, hari ini ke dokter A, besok ke dokter B krn disana belum sembuh. Di Eropa mana mungkin, semua ada jalur dan waktunya.

    selain itu hukumnya jelas.. tidak seperti hukum di tanah air di ind yg pincang. yg banyak loopholes yg tidak melindungi baik pasien maupun dokter.

    jadi prosesnya masih panjang di RI. harus satu2 dibereskan. tidak bisa instant!

  74. 74 cakmoki Januari 29, 2008 pukul 11:39 pm

    @ Karaeng:
    …siap !!! :)

    @ aufklarung:
    sepertinya udah terlalu banyak yg bobrok ya … trus piye ?

    @ triesti:
    iya mbak, metani satu persatu … kalo perlu mulai menata secara komprehensif. Entah ya, kayaknya maunya petinggi kita semua serba instan sehingga pondasinya ga mapan, belum lagi masih banyaknya celah di sana-sini … dhuhhh

  75. 75 dessy Januari 31, 2008 pukul 1:21 pm

    Setuju dg fardi, ngomong harus pake fakta. Bukannya mbelain askes, tapi dirutnya aja berani diperiksa kinerjanya. Membangun sistem memang tidak gampang. Depkes kerjasama dengan askes selama 3 tahun masih banyak kekurangan disana-sini harus diakui. Tapi kalo tiba2 “cerai” tanpa persiapan yang kasihan “anak depkes” sendiri, dalam hal ini Rumah Sakit & Dinas Kesehatan.
    Mau kemana????
    Bagaimana?????
    Siapa yang bayar????
    Trus ujung2nya pasien maskin bukannya mendapat pelayanan lebih baik, malah terlunta-lunta…
    Kacian dech….

  76. 76 fandi Februari 1, 2008 pukul 9:55 am

    Cak! tadi malem ada running text di Metrotv bunyinya (mudah2an ga salah kutip
    “Menkes Siti Fadilah mangatakan dengan skema asuransi kesehatan maskin yang baru Direktur RS haru bertanggung jawab terhadap hasil verifikasi”

    Kayaknya Menkes mulai ragu dengan skema yang disusunnya sendiri.
    Yang kasihan Direktur RS, dapet kerjaan baru ngatur para dr.spesialisnya. opo bisa toh? kemaren aku ketemu dr.spesialis di kaltim, dia bilang “ngatur tukang becak itu susah, ngatur pedagang k5 itu susah, tapi ngatur dokter spesialis itu ‘GAK MUNGKIN”. ha..ha..ha…
    Yang enak nanti verifikator yang baru, tinggal rekap aja, ongkang-ongkang kaki. Wong nanti kalo ada yang salah, mark up dsb, menjadi tanggung jawab direktur.
    kalo yang dulu, semua kesalahan dibebankan ke askes.

  77. 77 org kecil Februari 1, 2008 pukul 3:58 pm

    Bener Om fandi…..!!!! dari tadi ngomongin pogram apa gada yang mikirin SDM (TKT) yang di pake oleh PT. Askes, bagaimana nasib mereka, meraka sudah cape2 berjuang dari tahun 2005, salah satunya jadi verifikator, tapi bu Menkes dengan enak nya ngomong Verifikator itu mudah tingal catat medrek, Nama alamat dlll… kalo semudah itu biar aja Menkes sendiri yang verifikasi, bukannya kebijakan Menkes itu belum tentu lebih baik tap hanya menimbulkan masalah baru, dan maskin baru…karena banyak yang terancam tidak bekerja lagi…. nah loooh gimana??

  78. 78 cakmoki Februari 2, 2008 pukul 12:03 am

    @ dessy:
    udah baca link-link artikel terkait belum? :) …ketahuan kayaknya belum baca semua link ya …
    Baca dulu deh, ntar akan tahu simpul-simpulnya, termasuk latar belakang kerjasama dengan Askes.

    @ fandi:
    ya, setiap perubahan kebijakan akan ada perubahan yg menyertainya, … bukankah hampir semua begitu? Pun ketika mulai kerjasama dengan askes beberapa tahun yg lalu…ruwet. Sayapun maklum atas sikap Menkes karena beliau berlatar belakang klinisi, belum lagi orang di sekitarnya yg entah seperti apa sat ini.

    Soal anekdot dokter spesialis dari Kaltim yg ditemui bukan hanya di kaltim, itu anekdot dah umum di kalangan medis. Tapi bukan berarti ga bisa dikendalikan. Di RSUD A.W Syahrani pernah ada seorang direktur yg hebat (dr. H. Yusuf SK) yg kini menjabat Walikota Tarakan. Ketika beliau menjadi direktur boleh dibilang semua patuh pada sistem. Bukan berarti semua juga senang, selalu ada yg ga suka karena berbagai alasan.
    Menurut saya yg lebih tepat sebagai penanggung jawab emang Direktur RS, Ka Dinkes dan pimpinan institusi layanan kesehatan lainnya, ini seiring dengan desentralisasi kesehatan sebagai bagian Otonomi Daerah yang kini terus dikembangkan.

    @ org kecil:
    saya ga percaya anda mewakili orang kecil walaupun menggunakan nick name orang kecil, bukankah inti dari semua ini adalah warga miskin?
    Kalo TKT kan bawaan Askes yg mestinya siap jika sewaktu-waktu kerjasama tersebut putus karena berbagai hal.
    Mengapa ga mikirkan warga miskin ?
    Hmmm, jika ada diantara pembaca yg mengatakan bahwa ada orang-orang yg ikutan nebeng cari penghasilan dari dana gakin, jangan salahkan mereka …hahaha

  79. 79 fandi Februari 2, 2008 pukul 7:48 am

    Jangan terlalu sinis begitu dong Cak menanggapi “orangkecil”, nyebut Cak, jangan sampai terpeleset.
    Mungkin saja dia memang orang kecil yang kebetulan mendapat kerja menjadi TKT askes. Alhamdulillah mendapat rejeki yg halal. Jangan justru dituduh nebeng cari penghasilan dari orang Miskin.
    Buktinya dia sekarang gelisah, kalo2 jadi penganguran lagi. Jangan2 dia nanti jadi sadikin (maaf orangkecil).
    Bukannya dokter speseialis di Bau-Bau yang nebeng cari penghasilan dr org miskin. Itu yang perlu dibinasakan Cak (dosanya dunia akhirat). Kasusnya juga menghilang ditelan bumi, padahal dengan semangatnya ibu menkes bilang mau bawa kepengadilan. Atau karena sumpah dokter ya bahwa ”sesama TS itu saudara”, jadi ga mungkin dong saudara sendiri dipenjara. Rasa-rasanya (maaf pake perasaan bukan fakta) hati nurani dikalangan dokter sudah hilang.
    Tidak termasuk Cakmoki tentunya yg sdh kinclong.

  80. 80 cakmoki Februari 2, 2008 pukul 2:03 pm

    @ fandi:
    wah, dikira sinis ya :) …saya hanya ingin meluruskan bahwa ada yg lebih patut diperhatikan, yakni orang miskin yg bener-bener miskin dan tidak ada kesempatan untuk memilih pekerjaan. Ini berbeda dengan yg bisa internetan, dari kantor, dari warnet atau ikut orang tua, beda.
    Namun saya tetap menghargai apapun opini yg ingin disampaikan seperti sudah saya sampaikan sebelumnya. So, beda pendapat itu biasa, kecuali yg belum siap :)
    Saya percaya masih banyak dokter yg memiliki hati nurani walaupun pernah diulas oleh tempo bahwa hampir separo dokter sudah materialistik, tidak semua :) … mo dituduh semua juga boleh, bebas, tanpa ataupun ada fakta. Sayapun boleh dituduh begitu koq :) toh yg menilai adalah masyarakat dimana saya tinggal … hehehe

  81. 81 ade Februari 2, 2008 pukul 5:03 pm

    Bangsa ini belum dewasa, buktinya kok malah senang masyarakt miskin ditelantarkan begitu saja. coba kamu liat di lorong2 RS banyak pasien miskin yg butuh pertolongan.Kalau kita punya nurani bukannya kita berdebat siapa yang akan menjamin PT. Askes ataupun Dinkes yang terpenting bagaimana masyarakt miskin tidak menjadi korban dari perdebatan yang terus berkepanjangan.
    saya gak membela Askes, kalau kemarin saya lihat pasien berobat di rumah sakit masih agak senyum dikit, tapi mulai tanggal 01/02/08 banyak pasien yang murung tambah sedih.
    omong diomong kenapa sedih , susah sekarang gak bukan Askes yang jamin obat harus beli katanya gratis tapi gratis kalau ada uang. alias bayar sendiri. banyak juga kawan yang mau di rujuk ke RS luar daerah. tapi batal gara-gara RS gak berani kasih rujukan luar daerah sampai ada yang meninggal.Kalau masih ada askes masih tertolong walaupun masih banyak kekurangan.
    Jangan mencari nama diatas penderitaan orong lain. ciri ciri orang munafik senang kalau melihat keluarga/saudara susah dan gelisah kalau melihat orang lain senang. itu calon penghuni abadi Neraka. Kata pak ustad.

  82. 82 cakmoki Februari 2, 2008 pukul 5:24 pm

    @ ade:
    gak bela …hahaha
    coba baca lagi dan coba fokus pada isi posting :) bisa kan ?
    dan untuk menilai, baca juga link terkait, supaya lebih afdhol.
    Akhirnya, anda bebas berpendapat, yg menilai bukan saya, anda mengatakannya sendiri, yakni Yang Maha Mengetahui.

  83. 83 JuruKunci Februari 3, 2008 pukul 11:45 am

    Ga yakin klo pengganti PT Askes lebih baik, apalagi yang kelola Dinas Kesehatan yang sarangnya koruptor… klaimnya puskesmas aja dipotong apalagi klaim nya rumah sakit yang gede2…

    yang bener menkesnya diganti aja biar ga kyk kata megawati penari poco2..:D
    Ganti menkes yang ga mencla mencle, yang bisa bikin perencanaan dan perhitungan yang handal..
    ga kayak sekarang, ngomongnya aja mo mutusin askes SK nya tanggal 17 Jan, buktinya sampe sekarang ngegantung aja tuh…
    Kekisruhan mulai dari produksi obat oleh farmasi, pelaksanaan askeskin, pendataan peserta dst itu karena aturan dan kebijakan yang dibuat oleh menkes mencla mencle ga jelas arah tabrak sana tabrak sini.. dikit2 berubah.. banyak peluang untuk curang… kurang perhitungan dan amburadul deh..

  84. 84 ardi Februari 3, 2008 pukul 3:46 pm

    udah bulan februari nich pak cakmoki ..

    kemaren udah liat liat ke salah satu RS .. iseng tanya ke petugas disana katanya belum ada petugas verifikator dari menkes. kata salah satu petugas disana, belum ada surat pemberhentian kerja sama dari menkes terhadap askes. kata nya jg, sedangkan menkes di media udah ngomong “ini-itu”, .. rs pada bingung dalam bertindak.

    gimana ini ?

  85. 85 cakmoki Februari 3, 2008 pukul 6:00 pm

    @ JuruKunci:
    sebelum askeskin, dana langsung ke RS dan Puskesmas tuh. Dan kalo dana lebih bisa digunakan tahun berikutnya dan berikutnya.
    Emang kata beberapa sejawat ada yg via Dinkes, tapi itu gak bener, juknisnya ga gitu.

    yang bener menkesnya diganti aja biar ga kyk kata megawati penari poco2.. :D

    … setuju :D

    @ ardi:
    itu sudah diprediksi sejak maret 2004 oleh para dokter senior sebelum Depkes menggandeng Askes … awalnya dah salah :)
    Kita tulis rame-rame tentang kondisi riil di lapangan. Bagus tuh kalo ada sampel, tulis waktu dan nama tempatnya, lantas posting atau nulis di media. Ini yang dapat kita lakukan sebagai warga biasa yg ga punya kompetensi struktural. Diam-diam didenger koq.

  86. 86 fandi Februari 3, 2008 pukul 7:31 pm

    Mengidentikkan antara orang bekerja cari nafkah dengan org yang nebeng cari penghasilan dr gakin, itu yg aku ga setuju Cak.
    Kalo ada ormas/LSM yang mengeksploitasi kemiskinan utk mendapat bantuan dana/popularitas mungkin itu lebih cocok.
    Tapi kalo Menkes diganti aja, aku juga setuju Cak.
    Kayaknya “Mpok” Siti Fadilah S, SpJK. ga cocok jadi menteri atau jadi pejabat publik, cocoknya jadi preman jalanan.
    Kemaren nomongnya tenaga verifikator 2.644, hari ini jadi 7.000 yg diambil dr kader Riskesdas. Besok apa lagi?
    Jangan sampai seperti kebijakan obat seribu perak ???
    atau kebijakan nurunin harga obat, jadinya malah semrawut, pabrikan ga mau produksi obat karena rugi, beberapa obat generik kosong sampai saat ini.
    Apa kata dunia??????

  87. 87 cakmoki Februari 3, 2008 pukul 7:47 pm

    @ fandi:
    hmmm, boleh ga setuju koq :)

    Selebihnya saya sependapat dan udah banyak nulis soal itu.

  88. 88 ndutyke Februari 4, 2008 pukul 1:00 pm

    di Indonesia… di Depag saja rawan kasus korupsi (padahal judulnya saja sudah Departemen Agama), apalagi di sektor2 laen…

    ampun deh Indonesia…..

    salam kenal btw :)

  89. 89 johan Februari 4, 2008 pukul 1:20 pm

    Kebijakan Askeskin 2008 oleh Menkes sepertinya flashback ketahun sebelum 2005.. Amat disayangkan. Pengelolaan sistim asuransi bagi masyarakat miskin seharusnya lebih mengarah maturisasi program menuju amanat SJSN yang melindungi semua warga. Sudah saatnya Presiden membentuk lembaga kementrian khusus mengurusin Publik Services. Biar lebih Fokus.. Ingat semua warga negara memiliki hak yang sama dalam mendapat pelayanan sosial (termasuk kesehatan). Jadi semoga saja para pemimpin Bangsa ini lebih memikirkan kesejahteraan rakyat menuju Indonesia yang lebih baik, amien

  90. 90 cakmoki Februari 4, 2008 pukul 2:57 pm

    @ ndutyke:
    hehehe, iya
    salam kenal juga, trims :)

    @ johan:
    SJSN hingga kini sepertinya masih sebatas sebagai pemanis setiap kebijakan, sedangkan tatalaksananya mungkin belum.
    Ikut berharap, …semoga !!! Amien

  91. 91 tonick Februari 4, 2008 pukul 5:43 pm

    cak aku urun saitik wae…sing enak yo menurutku lho..
    1. seperti kata jurukunci”yang bener menkesnya diganti aja biar ga kyk kata megawati penari poco2.. :D”
    2. trus askeskin gak sama askes …biar depkes juga ngrasakno ,katanya, gimana “nikmatnya” ngurusin askeskin dari hulu sampe hilir.
    3. Pengawasan bener dilakukan secara profesional (hihih iso gak ya?)
    4. Libatkan Pemda
    5. Data BPS (Kalo dipake) kudu benar” valid
    wah bingung aku arep nulis opo…ribet banget seh

  92. 92 yahdi mayasya Februari 4, 2008 pukul 6:06 pm

    Pernyataan saudara Fandi “…Jangan justru dituduh nebeng cari penghasilan dari orang Miskin.
    Buktinya dia sekarang gelisah, kalo2 jadi penganguran lagi. Jangan2 dia nanti jadi sadikin (maaf orangkecil).
    Bukannya dokter speseialis di Bau-Bau yang nebeng cari penghasilan dr org miskin. Itu yang perlu dibinasakan Cak (dosanya dunia akhirat)….”
    SETUJUUUUUU…………!!!!!!!!!!
    TKT memang orang kecil, cari nafkah dengan cara halal buknnya kayak dokter2 yang di bau-bau,justru tanpa adanya TKT, askeskin tidak akan berjalan sampai sejauh ini, sebagus apapun sistem yang di buat tidak akan bisa teraplikasi dengan baik tanpa SDM yang memadai,,,
    pernyataan cakmoki yang terhormat”…yakni orang miskin yg bener-bener miskin dan tidak ada kesempatan untuk memilih pekerjaan. Ini berbeda dengan yg bisa internetan, dari kantor, dari warnet atau ikut orang tua, beda…” merupakan sebuah anggapan pesimis, orang miskin pun berhak menjadi TKT atau mendapatkan pekerjaan lainnya sesuai dengan kemampuan nya, jadi nyata nyata TKT pun sebenarnya adala korban dari permainan sistem, bukan sebagai perusak sistem.justru menkes lah yang menjadi sumber permasalahan.
    masalah SJSN butuh pelaksanaan secara jangka panjang, jadi askes belum bisa dinilai kurang dalam mengimplementasikan SJSN, tapi yang dilakukan askes selama ini adalah bagian dari proses menuju kesempurnaan yang tentu saja masih butuh banyak evaluasi dan perbaikan.

  93. 93 june Februari 4, 2008 pukul 6:07 pm

    kita lihat aja nanti… apakah menkes bisa merubah semuanya menjadi lebih baik ato tidak, ga ada yg sempurna di dunia ini..

  94. 94 purna Februari 4, 2008 pukul 6:21 pm

    nyaho teuuu…???kerjaan TKT maksimal tapi gajinya minimal,mangnya pegawai dinkes, udah gajinya gede kerjanya asal-asalan…kita liat aja gimana jadinya kalo askeskin diambil alih…..!!kasian bosss yang korban orang miskin….!!bukannya menciptakan lapangan pekerjaan, malahan menciptakan pengangguran baru!!berapa ribu TKT askes yang dirumahkan setelah askes di cabut???siapa yang tanggung jawab…??ngomong itu enak boss,tapi kenyataannya nggak seperti itu…!!!kalo sampe itu terjadi bukankah akan menambah jumlah orang miskin, sebab mereka akan kehilangan kerjaan buat menafkahi ank istri… menkes sendiri kan bilang,kriteria yang mendapatkan jaminan PJKMM itu kan;
    (1)orang yang mendekati miskin
    (2)miskin
    (3)sangat miskin
    mereka bakalan masuk kriteria no 1 bossss…ngga kasian apa tuh!!!

  95. 95 org kecil Februari 4, 2008 pukul 6:34 pm

    Saya setuju dengan Tanggapan Bapak Yahdi Mayasa dan Bapak Purna
    Pa Cakmoki saya bukan orang Kaya, atau banyak duit kaya Bapak,…. saya memang orang kecil… yang coba cari nafkah buat keluarga,.. kalo anggapan Bapak orang kecil tidak tau tekhnologi bapak Salaaah Besar…!!!! tukang ojeg aja sekarang punya HP. internet sekarang murah pak cuma 3000/jam.. bukan berarti saya punya fasilitasnya saya cuma numpang di warnet sambil cari peluang lain, kebetulan saya bisa sedikit ….. Saya juga memikirkan orang miskin pa.. (saya dan keluarga) kalo semua orang punya pemikiran kaya Bapak,Indonesia ga akan maju, kalo memang dianggap semua orang kecil harus dan pasti tidak tau tekhnologi, hanya saja kami orang kecil tidak seberuntung Bapak Cakmoki…!!!!!

  96. 96 cakmoki Februari 5, 2008 pukul 12:10 am

    @ tonick:
    wah, saitik tapi mantep tenan tur langsung menjurus ke pangkal persoalan, siiip … maturnuwun Mas Tonick :)
    Muga dimirengake karo poro penggede kesehatan.
    Kita sama-sama hanya bisa ikut urun rembug, keputusan ada pada yang mbaurekso di pucuk pimpinan … hehehe

    @ yahdi mayasya:
    bersemangat nih … :)

    @ june:

    … ga ada yg sempurna di dunia ini..

    ya, sependapat … ikhtiar ke arah sudah semestinya bisa kita lakukan.

    @ purna:
    siapapun yang masuk kriteria itu tentunya patut mendapatkan hak-haknya sesuai kriteria :)

    @ org kecil:
    baca seksama dulu ah…
    teknologi itu milik semua orang yang memang berminat dan mampu memanfaatkannya, gak ada perbedaan… siapapun mafhum soal itu.
    So, dah tahu beda tulisan di atas ?
    Apapun persepsi sampeyan tetap saya hargai koq :)

  97. 97 fandi Februari 5, 2008 pukul 11:54 am

    ada 4 tipe manusia
    1. Orang yang “Tahu” bahwa dia itu “Tahu”
    2. Orang yang “Tahu” bahwa dia itu “Tidak Tahu”
    3. Orang yang “Tidak Tahu” bahwa dia itu “Tahu”
    4. Orang yang “Tidak Tahu” bahwa dia itu “Tidak Tahu”

    Masih ada lagi ternyata, yaitu orang yg salah tapi ngotot. Tapi tipe yg ini masih sepupunya no.4.
    Mudah-mudahan petinggi kesehatan kita gak begitu. “Maklum aja dia orang klinisi” (ngutip Cakmoki)

  98. 98 cakmoki Februari 5, 2008 pukul 12:35 pm

    @ fandi:
    ye, semoga :) .. kita hanya bisa mendiskusikannya, mencoba menakar manfaat dan mudharat dari berbagai sudut pandang untuk menuju perbaikan, ..saya masih percaya itu :)

  99. 99 suparman Februari 5, 2008 pukul 6:33 pm

    Pelayanan Askeskin Pebruari 2008

    1. PT. Askes hanya bertugas memeriksa keabsahan peserta dengan membandingkan BERKAS PESERTA Dengan data BPS (manual – tulis tangan-TANPA SIM). Tugas PT. Askes jadi sangat ringan dan tidak memerlukan banyak orang. Tenaga kontrak dipecat, kerjaan tinggal sedikit tapi masih dapat fee 2,5 % dari 4,6 T sebesar 115 Milyar. Hebat PT. Askes malah tamhah besar untungnya. –Jan Gurih Tuenan!!!

    2. di RS masih belum jelas aturan main untuk Askeskin, verifikator belum ada, petugas PT. Askes nggak mau tahu kesulitan RS dalam pelayanan.

  100. 100 cakmoki Februari 5, 2008 pukul 7:05 pm

    @ suparman:
    wah, info menarik nih. Besok Rabo akan saya tanyakan ke teman, kebetulan ada rapat …sip, thx infonya Bos :)

    weleh-weleh…nampaknya para petinggi nun di sana udah pada “bancakan” sementara aturan mungkin dibuat belum jelas … jan gurih tenan !!!

    Btw, di kota mana gerangan ? ;) *ga wajib dijawab lho*

  101. 101 ardi Februari 6, 2008 pukul 4:42 pm

    sedikit tambahan pak suparman :

    3. Sampai menunggu sistem informasi IT menkes selesai dan rampung, pihak RS masih memakai / meminjam aplikasi G-1 askeskin milik pt. askes untuk jaminanan pelayanan dan verifikasi.

    saya dapet info dari temen yang kerja di RS.

    bertolak belakang dari ucapan menkes ..bahwa sistem informasi nya sudah di siapkan 6 bulan yang lalu dan siap dipakai pd tanggal 1 februari 2008.

  102. 102 SIM Februari 6, 2008 pukul 5:35 pm

    Yang buat kacau kan menkesnya…, jadi jangan salahkan askes atau rs yang menyebabkan pelayanan terganggu..

    dampaknya jelas … yang korban rakyat peserta askeskin….

  103. 103 tai'kucing Februari 6, 2008 pukul 7:16 pm

    rasanya sangat tidak pantas seorang seumuran anda berbicara seolah – olah anda sangat mengerti dan tahu semua tentang apa yg orang lakukan..dan dilihat dari segi umur anda bisa dikategorikan sudah “TUA”, seharusnya anda bisa bersikap yang lebih bisa dijadikan contoh oleh generasi muda …saya malu membaca blog anda…anda berbicara seperti perempuan yang melihat perempuan lain mendapat kejelekan…sama hal nya seperti supari yang sedang gondok-gondokan dengan ory. atau mungkin anda memang seorang laki – laki berjiwa perempuan (baca:banci)
    piye toh pak…anda sudah pantas dipanggil kakek…tapi kok ngomongnnya gitu….yang wibawa sedikit napa…jangan kya banci saling nuding banci lain…ga malu apa ….
    klo anda emang bisa mengelola atau mempunyai trik dan cara hebat untuk pengelolaan askeskin tersebut,,kenapa bukan anda saja yang menyodorkan diri ke DPR dan minta jangan kasih ke askes…
    anda menceritakan kejelekan askes…apakah anda sendiri sadar menkes itu juga punya beribu kejelekan…dan yang terpenting anda harus melihat keburukan diri anda terlebih dahulu sebelum mencari dan menceritakan keburukan orang lain.
    INGAT: jangan mencampuri urusan yang bukan porsi anda, dan jangan membiasakan memperkeruh suasana yang sedang keruh…karena yang biasa mengacaukan suasana adalah SETAn …
    terakhir saya komentari…anda tidak lah lebih baik dari seorang banci dan bajingan
    terima kasih…

  104. 104 tai'kucing Februari 6, 2008 pukul 7:23 pm

    replyy>>>> ardi
    Februari 6, 2008 di 4:42 pm
    sedikit tambahan pak suparman :

    3. Sampai menunggu sistem informasi IT menkes selesai dan rampung, pihak RS masih memakai / meminjam aplikasi G-1 askeskin milik pt. askes untuk jaminanan pelayanan dan verifikasi.

    saya dapet info dari temen yang kerja di RS.

    bertolak belakang dari ucapan menkes ..bahwa sistem informasi nya sudah di siapkan 6 bulan yang lalu dan siap dipakai pd tanggal 1 februari 2008.
    >>>>> jangan kan program G1…stempel dirumah sakit masih menggunakan stempel askes…..apakah ini yang dikatakan mentri kesehatan yang anda puja telah menyiapkan semuanya…seingat saya menkes anda itu baru menyiapkan kantong mayat sebanyak mungkin..itupun saat kejadian tsunami di daerah sunda sana….
    berapa sih anda dibayar untuk menjelek2kan askes????
    kya nya anda punya dendam tersendiri dengan PT. ASKES…
    menkes anda mengatakan dana tidak diturunkan pt. askes…anda perlu menanyakan ke pada nyonya supari…dana yang tidak diturunkan askes itu danan yang mana…apa ada menkes itu menurunkan dana kepada askes…ada juga askes yang nombokin pakai dana askes sosial alias askes pns…
    makanya kalo ngomong jangan seenak kontol lo dewe….mikir pake otak kecil….
    jijik gw liat poto lo..mendingan lo pajang pono shemale deh disitu..kya nya lebih pantes…

    “Sekali lagi, selamat kepada bu Menkes. *jingkrak-jingkrak*
    <<< persis seperti banci yang lagi kegirangan…….jingkrak sana sini sambil wadawwww…..hihihihihihi..geli gw…..amit-amit

  105. 105 cakmoki Februari 7, 2008 pukul 3:20 am

    @ ardi:
    Rabo, 6 Pebruari 2008, … usai rapat, ngobrol dengan para senior yg kerja di RSU AWS Samarinda.
    Saat nyinggung Askeskin, … para senior tersenyum getir: “…ah, insurance negeri ini tidak akan membantu gakin … “.

    @ SIM:
    ada ide ?

    @ tai’kucing:
    lho..lho..lho, tenang Mas/Mbak (ga jelas identitasnya soale) … ayo baca dulu, baca pelan-pelan ya… tautannya juga :)

  106. 106 yahdi mayasya Februari 7, 2008 pukul 3:30 pm

    Saya sangat senang ternyata pembicaraan masalah askeskin semakin ramai di blog ini, ini berarti masih banyak masyarakat yang memiliki perhatian terhadap permasalah ASKESKIN.
    Namun sangat disayangkan, kita hanya saling memojokkan antara askes atau menkes. Yang pasti SJSN memerlukan sebuah integrasi antara banyak pihak. tidak bisa dikatakan PT. ASKES telah lalai menjalankan askeskin selama 3 tahun ini. pihak RS, dinas kesehatan, departement kesehata dan pemerintah pusat dan daerah pun mempunyai andil yang sama dengan PT. ASKES.
    Lihat saja, jutaan kartu askeskin tidak terdistribusi dengan baik. salah siapa??? saya yakin ini bukan sepenuhnya salah PT. ASKES. karena dalam juklak dan juknis-nya, PT. ASKES hanya menerbitkan, yang mendistribusikan tidak lain dan tidak bukan adalah pemerintah daerah dan puskesmas beserta dinas kesehatan. Masalah ketelatan pembayaran pun, permasalahannya bukan hny di PT. ASKES, tetapi ketelatan pihak RS dalam menagihkan, dan ketelatan transfers pembayaran dari dinas kesehatan / departemen kesehatan pun menjadi kendala (kita tau betapa rumitnya birokrasi di dinas kesehatan), padahal PT. ASKES bertugas hanya memverifikasi berkas dan membayarkan klaim setelah dinas kesehatan menyetujui dan memberikan uangnya kepada PT. ASKES.
    Saya eprnah berbincang dengan kepala seksi JKPBI PT ASKES salah satu cabang di pulau Jawa, ketika itu adalah awal tahun, dan waktunya bagi ASKES membayar klaim yang “tertunda” selama 6 bulan sebelumnya. beliau mengatakan begini ” Alhamdulillah, malam ini uang untuk pembayaran askeskin akan ditransfers, besok pagi-pagi sekali saya akan ke BANK dan mentransfer ke rumah sakit, kasihan RSU itu….” begitu katanya. artinya PT. ASKES pun berharap bisa segera membayarkan utangnya kepada RS. sama halnya ketika kita berhutang, tentunya kita ingin segera bisa membayarnya kan???
    Mengenai fee 2,5% dan tugas yang ringan PT. ASKES, saya hanya bisa bilang, mengurus orang miskin se indonesia lebih sulit daripada mengurus puskesmas se Indonesia, kenapa??? karena tiap hari lahir orang miskin baru… coba renungkan kembali (buat bapak suparman)
    Saya juga turut prihatin atas komentar pesimistis para senior CAk Moki di RSu Samarinda. ternyata ada orang yang sangat tidak menghargai negeri sendiri. saya yakin bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai negeri sendiri,jika para petinggi bersikap seperti senior cak moki, maka bangsa ini akan selalu menjadi bangsa yang KECIL.
    Satu hal lagi yang saya ingin ingatkan, SJSN memerlukan waktu yang panjang untuk bisa berjalan lancar, bukan 3 tahun, 5 tahun, ataupun 10 tahun. German pun butuh sekitar kurang lebih 20 – 25 tahun untuk memantapkan SJSN di sana.
    Semoga cak moki segera diberi petunjuk oleh Tuhan, dan kembali ke jalan yang lurus (bukan jalan fitnah).

  107. 107 kadri Februari 7, 2008 pukul 3:43 pm

    Dasar pada bego… sibuk ngurusin urusan orang…

  108. 108 andi Februari 8, 2008 pukul 9:58 am

    Udah pernah ngurusin askeskin belum…?
    kalo belum pernah, jangan sok tau.
    lebih baik askes tidak ngurusin askeskin kalo menkesnya gila.

  109. 109 SHAF Februari 8, 2008 pukul 10:30 am

    Saya baca di Koran “Radar Banten” dengan judul “KEBIJAKAN ASKESKIN MEMBINGUNGKAN RUMAH SAKIT” inti dari isinya adalah
    1). Klaim Rumah sakit jadi terombang-ambing Askes sudah tidak boleh membayar, tapi Depkes juga ga mau bayar sebelum ada audit indepenence yang katanya sudah di persiapkan tapi sampai sekarang NOL BESAR
    2). Para pengurus Arsada (Asosiasi Rumah Sakit Daerah) dari Jateng, Jabar, Sumut dan kalteng tidak mau manjadi Bapel karena mereka merasa ruwet dan tidak pernal belajar pembukuan keuangan, salah salah mereka nanti di periksa KPK dan mereka mendesak agar Askeskin dikembalikan ke PT Aseks
    3). Anggota Komisi IX Keptusan Menkes mengambil keputusan tanpa berbicara dengan DPR
    4). Hasil keputusan rapat yang dibacakan Ketua Komisi IX Ribka Tjiptaning adalah mendesak Menkes tetap bekerjasama dengan PT Askes.

    Dilain Media di “Detik Com” saya pernah membaca di Semarang ada Pasien HD meninggal dunia karena terlambat di cuci darah, biasanya dia menggunakan Jaminan dari PT Askes, begitu ada perubahan dari “Menkes” Rumah Sakit tidak mau menjamin karena tidak memiliki biaya, akhir nya di terlambat di Cuci darah dan akhirnya meninggal.

    betapa hebatnya seorang “Menkes” dengan satu keputusan bisa membingungkan banyak orang, mungkin seluruh indonesia. kasian kan Rumah sakit dan orang miskin harus susah bahkan sampe bartaruh nyawa gara-gara sebuah keputusan yang terburu-buru dan seperti “Tong kosong nyaring bunyi”.

  110. 110 Iman Februari 8, 2008 pukul 10:52 am

    membaca blog ini saya cuma bisa bilang “Astagfirullahaladzim” kenapa semua orang pada menghujat dan memojokan. Terlepas dari siapa yang salah jangan pada nuduh sembarangan tanpa ada bukti nyata, terkecuali sudah ada bukti yang “kita semua tahu” baru dicarikan jalan keluarnya dan yang salah mudah2an diberi hidayah dan kembali ke jalan yang benar demi kepentingan bersama bukan untuk kepentingan pribadi

  111. 111 cakmoki Februari 8, 2008 pukul 12:02 pm

    @ yahdi mayasya:
    soal komentar para senior itu saya tidak berani menghakimi, karena saya kenal betul beliau sangat serius dalam hal pengembangan perawatan. Kalaupun ada nada getir, bisa jadi karena beliau-beliau merasa tidak mempunyai kuasa.
    Ada hal lain yg tidak saya tulis, bahwa salah seorang dari beliau mengatakan begini: ” … kebijakan para pengambil keputusan bisa berubah, namun kita sebagai “koki” harus mampu memberikan yang terbaik dan itu mampu kita lakukan … “ Itulah ajakan beliau yg menurut saya tidak menggambarkan sikap pesimistis.

    Saya juga senang makin banyak ide dan sumbangan pikiran serta berbagai informasi tambahan berharga.. dan berharap agar para petinggi mendengarnya sebagai bahan pertimbangan.

    Trims do’anya. Amin :)

    @ kadri:
    :)

    @ andi:
    …pendapat sampeyan tetap dihargai

    @ SHAF:
    tambahan info yang sangat berguna, mudah-mudahan pengambil keputusan nun disana dapat menjadikannya sebagai bahan kajian untuk menentukan kebijakan yang berpihak kepada warga miskin.

    @ Iman:
    Beda pendapat itu biasa :) … tergantung darimana memandangnya. Sejauh dapat mengambil manfaat darinya untuk kemaslahatan, maka perbedaan bukan sesuatu yang salah.

    Dan saya sependapat bahwa kepentingan bersama dalam hal ini warga miskin lebih diutamakan.

  112. 112 yahdi mayasya Februari 8, 2008 pukul 12:51 pm

    Aneh ya….????
    Semoga menkes diberi kesadaran dan pengampunan dri tuhan YME

  113. 113 andi Februari 8, 2008 pukul 1:08 pm

    menteri gila
    bikin keputusan gila,
    bikin banyak orang jadi gila,,,

    1. harga obat generik diturunkan: banyak obat generik hilang dari peredaran, produsen tak mau rugi krn harga terlalu rendah. tp di lain pihak dokter wajib tulis obat generik…

    2. Askes di putusin tp mekanisme dan penggantinya belum matang dipersiapkan (kayak bukan pejabat negara aja. bikin keputusan tapi gak pake mikir. saya org RS jadi bingung hadapin maskin yg datang.. serba gak jelas

    3. udah gitu harus jalan mulai 1 feb 2008. akibatnya RS pusing, maskin pusing sampe meninggal

    maap ya mbok siti…
    sampeyan lebih baik balik ke klinik aja lagi…

    makasih cak udh numpang curhat….

  114. 114 TKT Februari 8, 2008 pukul 2:41 pm

    Maaf klo aga melenceng, Barusan saya baca lagi berita, tadi klo ga salah di Media Indonesia Menkes bilang Askes ada kerjasama dengan Rumah sakit untuk memarkup tagihan, katanya klaim 2,5 Milyar setelah di periksa Depkes cuma 20 Juta,….. haaaa?????
    ga salah ngomong tuh Bu…. terus terang saya sangat sakit hati, angka tagihan keluar adalah berasal dari verifikator setelah di verifikasi dan di setujui oleh RS, saya mati2an memverifikasi tagihan berdasarkan pedoman pelaksanaan dan obat formularium dan formularium tambahan yang Depkes buat, jadi bagaimana bisa markup,….???? dan rasanya tidak masuk akal dari 2,5 M jadi 20 jt, …. 20 jt itu tagihan RS apa RSDB (Rumah Sakit Dukun Beranak), kalo RSDB saya percaya … kalo Rumah sakit..?????????????????????????
    dari pengamatan saya dilapangan tagihan membengkak setelah ada Askeskin itu dikarenakan kebijakan Menkes sendiri, dulu obat yang digunakan adalah Generik tapi Menkes memberi kesempatan bis diluar Generik asal ada protokol terapi, jadi dokter berlomba lomba ampir semua resep pasien ada protokol terapinya….. kemudian di ganti dengan formularium, dan kedua penggunaan SKTM yang tak terkendali, padahal yang mengeluarkan SKTM kan pihak kelurahan, semua orang bisa dapet SKTM mau kaya atau miskin, sedangkan askes tidak bisa menolak begitu saja kalo dia sudah pegang identitas miskin karena berdasarkan intruksi Menkes bahwa SKTM masih tetap berlaku, jadi harusnya jangan bgtu saja nyalahin Askes… ini terlihat bahwa Menkes hanya cari tenar dan lempar batu sembunyi tangan….

  115. 115 purna Februari 8, 2008 pukul 2:52 pm

    Kayaknya dunia ini dah mo kiamat,udah ngga ada lagi orang yang bener di dunia ini!!!yang kaya tertawa terbahak-bahak,yang punya kuasa semena-mena, yang miskin terbaring menunggu mati…….
    hai..orang2 miskin doakanlah semoga yang mendzolimimu di tempatkan di neraka jahanam…….

  116. 116 andi Februari 8, 2008 pukul 5:23 pm

    Berita media indonesia Jumat 8 Feb 08:

    kata menkes klaim 2,5 milyar setelah diperiksa depkes cuma bisa dibayar 20 juta.
    Aneh bin ajaib…
    hebat banget depkes, penolakannya bisa 2,4 M lebih. Pake tarif apa ya.?? Apa gak marah RS klo di tolak sebanyak itu?
    wah..wah..wah…
    Siapa yg goblok ya..?
    Verifikator Askeskah…?(akh gak mungkin)
    RS yg kelebihan tagihkah…? (masa sih!)
    Ohh…i see..
    Menkesnya yg goblok. Gak tau manlaknya sendiri.

  117. 117 dono Februari 8, 2008 pukul 5:25 pm

    huuuuuaaaaah…
    ngantuk niiii
    serah dah maunye ape…
    jangan ribut deeh terserah dia aja,lha wong duit,duitnya dia,
    dia juga menterinya, tinggal setahun lagi,
    waktu dipimpin pak muluk n pak ahmad suyudi ga keblinger kayak begini…
    mana ada menteri yang ngobrol sama ngundang bimbo???
    baru kesampean sekarang????
    ah udah ah tambah ngaco

  118. 118 cakmoki Februari 9, 2008 pukul 1:29 am

    @ yahdi mayasya:

    Semoga menkes diberi kesadaran dan pengampunan dri tuhan YME

    ..ikutan :)

    @ andi:
    monggo … :) diaturi curhat
    makasih juga telah mewakili beberapa teman yang menyuarakan hal serupa di dunia nyata.

    @ TKT:
    siiiip tambahan infonya. Kita perlu yang teknis-teknis macam ini.
    Menilik fakta di lapangan sesuai ilustrasi tersebut, kira-kira ada “sesuatu” di atas sana (jajaran elite) gak ? … soalnya koq korban-korbannya para pelaksana di lapangan dan gakin.

    @ purna:
    mungkin kita perlu menayangkan kondisi warga miskin yang terbaring tak berdaya. Trims dorongan idenya, ntar kalo ada waktu akan kita tampilkan. Gimana ?

    @ andi:
    saya juga baca… termangu.

    @ dono:
    bos sebelumnya, Prof Suyudi (sebelum pak Muluk) kalo gak salah pernah mengkritisi kebijakan ini, cuman saya gak kepikiran ngopi. Tolong dong kalo punya arsipnya :)

  119. 119 cobalahini Februari 9, 2008 pukul 2:04 am

    Gimana ya cara dinas kesehatan memverifikasi masyarakat miskin terlepas tetap mau pakai askeskin, gakin dibayar kas negara dll dll……bagaimana standarisasinya kalo orang dianggap miskin?….cak moki tahu nggak ya standarnya?

    selain itu juga saya pernah dengar kalo anggota DPR sakit… direktur/kas rumah sakit ikut nguruni ya…lha mereka kan bukan orang miskin……cak moki tahu alasannya?

    obat generik sering timbul tenggelam dipasaran, lha obat yg non generik kan mahal ya….buat yg miskin gimana ya…apa tetap blh diganti?

    ada yg tahu alasannya nggak kenapa hampir semua masalah ortopedi (bedah) ditanggung oleh askeskin sementara yg lain tidak ada yg diganti ada yg tidak?

    Pasien kusta dan jiwa yang menginap sampai tahunan dan keluarganya sudah meninggalkan mereka itu jadi tanggungan negara atau gimana ya dengan sistem baru?

  120. 120 JuruKunci Februari 9, 2008 pukul 11:09 am

    coba baca link ini http://www.padangekspres.co.id/content/view/1856/27/

    Klo ga salah dulu menkes kita bilang Sistem Informasinya dah running per 1 Feb kok sekarang tawarannya ke askes malah pengelolaan Sistem Informasi…??
    Dulu ktanya verifikator independen 2644 orang sekarang ternyata dari riskesdas yang merupakan bagian dari dinkes yang jumlahnya 7000 orang..
    Bener-bener nih mentri mencla mencle banget….Edan…

    Keliatan banget klo menkes dan jajarannya cuma mau merebut jatah 5 % yang diterima askes selama ini sebagai management fee dan bukan profit lho ternyata…
    Jadinya ya gitu deh nyalah2in orang melulu… bilang uangnya diselewengkan lah, management amburadul dst.. pdhal ktnya dari pemeriksaan auditor internal dan BPK blum ada temuan tuh penyelewengan.. paling kelengkapan administrasi aja…
    malah di satu daerah yang disuruh ganti rugi tuh pihak RS yang ternyata ketauan melakukan markup….

    Salut juga buat management askes yang ga mau frontal menghadapi tudingan2 menkes malah kerjanya normal dan makin bagus tuh…
    seperti kt pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu…
    mungkin ga berani kali yahh haha…. majikan jee…

  121. 121 fandi Februari 9, 2008 pukul 1:06 pm

    Kan ulun sudah katakan, Bu Menkes itu tipe orang no.4
    “Dia itu tidak tahu kalau dirinya tidak tahu apa-apa” alias ndableg
    Dia hanya mencari kambing hitam atas missmanagement yg dilakukan pd program Askeskin 2007.
    Makin seperti cacing kepanasan, yg setiap hari membuat berita yg justru makin memperlihatkan apa yg ada didalam isi kepalanya.
    Moga2 aja Bapak Presiden “Pak SBY” baca blog Cakmoki ini.
    (jangan GR yo Cak)

  122. 122 cakmoki Februari 10, 2008 pukul 5:46 pm

    @ cobalahini:
    duh, mohon maaf..saya juga ga tahu persis, setiap standar menuai kontroversi. Terlepas ada yg ngaku miskin atau miskin beneran, mungkin standar BKKBN (keluarga pra-sejahtera) bisa dijadikan kerangka lantas dilengkapi oleh parameter lain, sayangnya saya ga kompeten di bidang itu

    bisik-bisik santunan urunan untuk petinggi (direktur rs, dpr, dll) …hehehe, kali takut menjadi miskin

    3 paragraf lain, menurut saya sih warga miskin berhak mendapatkan layanan yg optimal, termasuk pasien overstay yg harus dirawat dalam jangka lama karena penyakitnya.

    @ JuruKunci:
    kali ada kaitannya dengan “program 100 hari” saat awal masa jabatan kabinet ya … atau apa gak lebih baik para petinggi yg terkait itu “buka-bukaan” aja biar semuanya lebih jelas?
    Atau, adakah kira-kira faktor lain yg sengaja tidak diungkapkan?

    @ fandi:
    hmmm, bisa jadi :)

    Moga2 aja Bapak Presiden “Pak SBY” baca blog Cakmoki ini. (jangan GR yo Cak)

    hehehe, kita hanya menyampaiakn berbagai pandangan dari beberapa aspek… kalaupun dibaca oleh para petinggi, yang berperan menyumbangkan pikiran ya piyan-piyan, bukan ulun :)

  123. 123 drbangkit Februari 11, 2008 pukul 1:54 am

    masih ingat omongan tentang kortikosteroid?
    kebijakan askeskin ini ibaratnya orang yang terus minum dexamethason tiap hari biar gak pegal-pegal, badannya kerasa enak padahal mukanya dah jadi moon face. begitu tahu dia keracunan kortikosteroid, dia coba pengobatan alternatif dengan minum jamu..
    ternyata isi jamu itu juga lagi-lagi cuma DEXAMETHASON yang ditumbuk dan dicampur rempah-rempah….hehehe…

  124. 124 yahdi mayasya Februari 11, 2008 pukul 1:50 pm

    gimana ya kalau seandainya PT. ASKES mencabut sistem informasi pelayanan rumah sakit milik PT. ASKes….??? pasti rumah sakit jadi kerepotan… lagi-lagi yang jadi korban rakyat miskin. dr. Siti Fadilah, SpJP(k) cuma bisa ngomong doang seh, nggak ada bukti. ngomongnya juga nggak pake mikir, asal jeplak kaya kentut. katanya sistemnya dah siap awal februari ini, mana buktinya…??????????????
    Udah deh kita demo aja bu menkes, bikin malu bangsa Indonesia……
    PErcuma tuh gelar doktornya kalo nggak bisa mikir. atau jangan2 gelar doktornya boleh nyogok kali…???

  125. 125 SHAF Februari 11, 2008 pukul 3:43 pm

    untuk kata-kata Yahdi Mayasa “gelar doktornya dapet nyogok.” lo kira main billiard disogok….!!!! yang mungkin dapet beli kali…. kan banyak tuh, sekolanya tau kapan, tapi tiba2 ada gelarnya, karena punya duit banyak…

  126. 126 ardi Februari 11, 2008 pukul 5:22 pm

    to :
    @yahdi mayasya

    gak usah di demo, … cape .. ^_^

  127. 127 SHAF Februari 12, 2008 pukul 4:29 pm

    Betul mas ardi kalo di demo beliau sih mungkin malah seneng… soale jadi lebih populer….

  128. 128 kutukupret29 Februari 12, 2008 pukul 7:38 pm

    ha ha ha …………………………
    pengen tau ngga? masalah perekrutan verifikator independent, ternyata DKK belum menyeleksi tapi malah menyerahkan ke rumah sakit untuk mengajukan nama-nama yang mau diusulkan jadi verifikator (RS yang nyari
    sendiri orang buat jadi verifikator). trus verif nya gimana ya ? mungkin semua tagihan disetujui oleh verifikator kali..(aneh kan……! sama aja bokong … eh bohong. mungkin verivikator perlu disumpah dulu sebelum menjalankan tugasnya… yah selamat buat verivikator independent..jalankan tugas mulia mu

  129. 129 aku Februari 13, 2008 pukul 10:18 am

    istigfar…..
    istigfar….
    temen temenku di askes….sabarlah… Ndu….
    Tuhan tidak buta…. dia akan tunjukan yang benar dan salah….
    Manlak yang ga jelas….kalian yang dimarah marahin….
    Obat generik ga dibuat…..soale harganya murah banget….
    kalian juga disalahkan….
    tagihan guede….karena sktm diloskan yang punya duit….
    kalian juga dimaki maki….
    sabar…. sabar….
    tunggu menkesnya di resuflle….
    amin….amin…1000000000000 kali

  130. 130 aku Februari 13, 2008 pukul 10:19 am

    jangan….. ntar kelamaan
    tunggu 6 bln kita simak dan evaluasi bersama…..ok…

  131. 131 talitha Februari 13, 2008 pukul 12:45 pm

    Tolong donk bilang SBY pilih menkes yang bukan lulusan TK…..

  132. 132 yahdi mayasya Februari 13, 2008 pukul 12:54 pm

    SELAMAT ATAS DITERIMANYA GELAR MM OLEH MENTERI KESEHATAN SEHINGGA GELAR MENTERI KESEHATAN MENJADI LEBIH PANJANG (Dr.dr. Siti Fadilah Supari, SpJP(K), MM)
    Bukan gelar magister manajemen, tapi “MENCLA MENCLE”….
    Gelar ini diberikan setelah ibu Siti Fadilah menyelesaikan tesis yang berjudul “SJSN : Sistem Jaminan Susah Ngelakoni”
    Mudah-mudahan dengan diterimanya gelar tersebut, menteri kesehatan semakin SADAR akan kekurang ajaran dan pembodohan yang dilakukan oleh beliau.
    Amiin…

  133. 133 anak orba Februari 13, 2008 pukul 1:11 pm

    ya kita semua udah ngerti deh. cak moki kalo nerima dari askes malu-malu tapi mau. nah…….. setelah askeskin kembali ke cara lama……..waaaaaaaaaa…. cak moki bisa menikmati lagi semua kenikmatan yg diperolehnya dulu krn kayak dapet proyek gitu lo. bagi-bagi proyek yg penting anggaran habis. eling cak… orang munafik ganjarannya neraka jahanam.

  134. 134 cakmoki Februari 13, 2008 pukul 2:51 pm

    @ drbangkit:
    akhirnya gagal ginjal … hehehe

    @ yahdi mayasya, @ SHAF, @ ardi, @ aku:
    lanjuuut .. :) siip

    @ talitha:
    udah ada yg bilang koq, tuh di komen sebelumnya :)

    @ anak orba:
    walah, ini mesti ga baca link terkait dan posting mengenai warga miskin… makanya, hayo baca dulu … hahaha, salah sasaran nih :D

  135. 135 SHAF Februari 13, 2008 pukul 3:55 pm

    @ anak orba
    Iya .ya.. bener kata anak orba,.. saya baru inget, saya juga pernah mengalami bekerja di Pemda selama 3 tahun, dan bener juga kalo ada kaya gitu pada seneng karena dapet proyek baru, dan yang saya alami dulu begitu kalo dah mau akhir taon tapi anggaran masih ada cepet2 cari cara agar anggaran abis mau bener apa engga yang penting duit abis semua kebagian SPJ lengkap…. (itu ditempat saya kerja dulu ga tau yang lain sih sama apa …)tapi ga tau kalo pemda di kasih Askeskin,.. apa seperti itu juga ?? ? atau malah ga mau takut nambah kerjaan aja…??? hanya Allah yang tau

  136. 136 Menkes Februari 13, 2008 pukul 4:49 pm

    Pada ngomongin aku tho yaa…
    kalian ini emang semua tidak becus, amburadul..
    Program saya itu kan bagus..
    Cak ini juga berani mengkritik saya yahh…?
    saya mutasi ke Papua baru tau rasa nih anda….:D

  137. 137 yudi_psrn Februari 13, 2008 pukul 4:53 pm

    WADUH.WADUH.. LAGI PADA RIBET MIKIRIN SOLUSI DAPET KESEHATAN GRATIS .. LHA WONG MULAI DULU DIKELOLA OLEH JPKM DINKES.. KAGAK BERES.. BTW BANYAK LAPORAN DANA YANG NGUAP.. NTAH KEMANA..

    SAYA INI ORANG AWAN.. CUMA BISA KASIH PANDAANGAN SECARA LOGIKA AZA.. COBA DECH PIKIR.. YANG PUNYA UANG MENKES.. YANG NGELAYANI JUGA DARI INSITUTUSI MENKES YANG VERIFIKASI TAGIHAN ORANG MENKES.. NTAR DANA BALIK KE MENKES.. KALAO GITU BUAT APA DIVERIFIKASI.. SAMPAI MEREKRUT TENAGA VERIFIKATOR RIBUAN ORANG BUANG DUIT AJA…. BOKKK.. MUSTINYA YG DIPERBAIKI ADALAH ALUR PENERIMAAN DAN PENGELUARAN DANA.. GIMANA NICH BU MENKES..

  138. 138 Guz Melanc Februari 13, 2008 pukul 4:57 pm

    To. Cakmoki

    Setelah saya menyimak postingan yang anda buat serta coment2 anda terhadap teman2 yang urun rembug, saya sangat salut dan angkat topi terhadap “berbagai upaya” yang telah anda lakoni. Hal-hal tersebut membuat saya berujung kepada kesimpulan dan saran buat anda.

    Saran saya adalah Segeralah anda berkonsultasi dengan Psikiater yang terdekat dengan singgasana anda, karena hasil diagosa saya menemukan bahwa beberapa urat sraf anda telah njeprut putus dan dalam jiwa anda ter-endap penyakit Schizofrenia type Paranoid.

    Semoga anda lekas sembuh agar tidak ada lagi ocehan-ocehan yang berburuk sangka, bicara tanpa bukti, su’udzon yang a’uzdubillah dan waham curiga yang teramat kental sebagai salah satu ciri khas penyakit schizofren.

    Semoga.

  139. 139 TKT Februari 13, 2008 pukul 5:06 pm

    @ Suparman
    Tanggapan saya mengenai kata-kata Suparman dan Cakmoki
    1). Data yang askes terima dari BPS hanya mencantumkan Nama Kepala keluarga tanpa nama anggota keluarga dan askes menerima data dari Pemda yang katanya sudah dilengkapi nama seluruh keluarga, tapi data itu berbentuk hardcopy dijilid dan tulisan tangan (mending kalo kebaca).. dan Askes mengentry memasukan nama-nama tersebut dengan susah payah ke dalam program kepesertaan yang disediakan di kantor bukan di RS, kalo di RS itu pake program untuk pembuatan SJP, dan temen-temen TKT sudah bekerja sesuai dengan intruksi Menkes hanya memeriksa keabsahan peserta….. dan tidak dipecat, sebagian diperbantukan di askes Sosial, dan yang ngatur masalah fee manajemet itu kan Menkes dan Depkes sendiri….. ko syirik.. apa ngerasa ga kebagian ?????? dan itu Manajement fee lohhhhhh… bukan profit…..

    2). Askes melalui TKTnya sudah membantu petugas RS tapi ko malah di bilang ga mau tau…. malah katanya Menkes per Februari SDM dan tehnologinya sudah siap, tapi RS masih menggunakan program punya Askes untuk buat SJP… masih dibilang askes ga mau tau ??@@%%$””##@*** kalo merasa jadi kesulitan bukan salah TKT atau Askes …!!! itukan yang suruh Menkes sendiri, salah sasaran Boss,.. kita juga maunya tetep kerjasama seperti dulu,.. tapi Menkesnya yang buat peraturan yang membuat kondisi dilapangan seperti itu… mencla mencle, omdo, tapi ga tau kondisi dan kesiapan anak buahnya dilapangan…..

    jadi kesimpulannya dari perkataan Suparman : dilapangan menandakan ketidaksiapan RS untuk mengurus maskin tanpa Askes,…… dan Suparman hanya bisa merendahkan orang lain

  140. 140 Guz Melanc Februari 13, 2008 pukul 5:31 pm

    @ Suparman

    Dalam cucian…..
    Ada ulat bulu….
    Kciaaan…. deh loe……!!!

  141. 141 saru Februari 13, 2008 pukul 5:46 pm

    setuju sama guz….
    cak….kl uangnya kurang buat berobat….
    pake sktm aza cak….
    kasih ke desa 25.000
    dapet sktm deh…mumpung masih boleh pake sktm…
    kl ntar ntar…
    menkes keburu bilang sktm ga laku lagi…
    tu sktm laku cak… di rsj berbulan bulan juga bisa….
    cepet sembuh ya…
    ntar kl udah clear mind and soulnya
    buka lagi blognya….

    i love u

  142. 142 SHAF Februari 13, 2008 pukul 5:58 pm

    Cak…cak… mana coment mu.. ko gada , bapak suparman mana…??? lagi sibuk apa ga bisa jawab atau males nanggapin atau kena azab dari Allah SWT (kalo anda muslim) ….. makanya jadi orang jangan senengnya nuduh sembarangan, so suci, ngerendahin orang….. inget umur …!!! apalagi mengatasnamakan orang miskin… saya baca coment cak untuk nickname “Orgkecil”, ko sinis, underestimate…. justru menurut saya dialah orang yang benar-benar memikirkan orang miskin, orgkecil bilang dia juga memikirkan orang miskin yaitu dia dan keluarganya… dia bekerja untuk menafkahi keluarga dan mungkin dengan menjadi tenaga kerja kontrak di askes dan berarti dia juga bekerja untuk orang miskin… beda dengan cakmoki atau suparman yang pinter,melayani orang miskin tapi sambil menuduh dan merendahkan orang….. percuma….!!!!!

  143. 143 yahdi mayasya Februari 13, 2008 pukul 6:19 pm

    Hehehe… tapi saya salut ama Cak Moki, berkat blog ini, saya jadi merasa perlu merekomendasikan Cak Moki yang pintar dan berwawasan luas untuk menjadi Menteri Kesehatan selanjutnya, sekaligus direksi PT. ASKES (Sanggup nda…????)
    Hidup Cak Moki….!!!!
    Btw, dari awal cak moki selalu membantah dengan senjata “link-link terkait” punya cak moki, yang saya tahu, validitas tulisan dalam media tidak selalu kuat, apalagi lagi yang berdasar pada pengalaman persepsional. jadi belum tentu link-link tsb benar. butuh dikaji lagi tuh….

  144. 144 maya Februari 13, 2008 pukul 7:11 pm

    hore juga
    emang enak apa ngurusin maskin?
    udah beban kerja nambah banyak cm dapet kritikan doang
    dari sekian banyak yg ngasih komentar ada yg mau diberi tanggung jawab ngurus maskin???????????

  145. 145 kutukupret29 Februari 13, 2008 pukul 7:12 pm

    http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.13.02135914&channel=2&mn=4&idx=4

    PT Askes Resmi Terima Penugasan Lagi
    Rabu, 13 Februari 2008 | 02:13 WIB

    Jakarta, Kompas – PT Askes secara resmi menerima penugasan dari pemerintah untuk menyelenggarakan Asuransi Kesehatan bagi Keluarga Miskin. Namun jajaran direksi badan usaha milik negara itu menghendaki pelaksanaan Askeskin dikembalikan pada pola tahun 2006.

    Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyambut gembira kesiapan PT Askes untuk kembali bekerja sama dengan Departemen Kesehatan dalam penyelenggaraan program Askeskin. ”Pagi ini surat resminya kami terima,” kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah, kemarin…..

    kaya artis aja..habis cerai trus rujuk..

  146. 146 Guz Melanc Februari 13, 2008 pukul 8:05 pm

    @ Kutukupret29

    Kecewa…!! Kecewa…!!

    Saya sebetulnya kecewa dan kurang setuju pengelolaan kesehatan masyarakat miskin kembali dipercayakan kepada Askes.
    Bukan berarti gak percaya ma Askes, tapi ingin coba beri kesempatan kepada yang lain, perusahaan asuransi lain atau organisasi lain terutama yang sudah terbiasa dengan “mulut besar” nya, mampu gak mereka..!!??

    Karena untuk menghujat ataupun memuji Askes (reward & punishment), harus meliat dulu pembandingnya. Kalao gini tetap aja kebaikan Askes gak terasa, malah akan tetap dihujat.

    Meskipun demikian, nasi sudah menjadi bubur, PT. Askes sudah ditugasi lagi. Dan saya yakin PT. Askes menerima kembali penugasan ini adalah sebagai bukti tanggung jawabnya dan care (kepedulian) terhadap negara, Pemerintah dan bangsa (terutama masyarakat miskin), karena sebagai BUMN ada ketentuan TIDAK BOLEH MENOLAK TUGAS YANG DIBERIKAN OLEH PEMERINTAH!!! apa boleh buat!!

    Buat Askes congratulation, we putting hopefully to you!!

  147. 147 simkes Februari 13, 2008 pukul 9:26 pm

    BENER-BENER POCO-POCO
    NGGAK MENKES NGGAK PRESIDEN
    SUKANYA POCO-POCO

  148. 148 cakmoki Februari 13, 2008 pukul 10:56 pm

    @ semua:
    maaf, lagi sibuk :)
    baik yang pro maupun kontra, silahkan berbeda pendapat, dan usahakan tetap dingin.

  149. 149 Virus TKT Februari 14, 2008 pukul 12:00 pm

    aduh…aduuuhhh!!! silih tuduh silih semprot. bingung nih bingung gmn nasib aku. Bu Menkes ini kasih keputusan ko cemplang cemplung,emangnya lg mancing!!!! klo mo di putus pikirkan jg nasib kita2 sebagai tenaga TKT, jangan sampai kita2 jd pengangguran. Gmn sih bu Menkes bukanya bikin lowongan sebanyak2nya malah bikin calon pengangguran baru. huh payahhh…..

  150. 150 aku Februari 14, 2008 pukul 3:04 pm

    yaaaaccccccchhhhhh………
    ko… sama askes lagi….
    nanti askes dimarahin lagi lho pa direksi……
    entar dimaki maki lagi………..
    Bu Menkes ko seneng ????
    cari institusi lain dong bu….pake sistem baru jangan tanggung tanggung….SIM BARU, VERIFIKATOR BARU,yang ngurus juga harus baru………kasih dinkes tuh bu….
    kaya ngga ada yang lain aja…….
    Apa memang cuma askes yang berkwalitas ???

  151. 151 Ceria Februari 14, 2008 pukul 5:27 pm

    Pada kemana nih?? kok sepibangett?
    Gak ada yang njorokin askes lagi, kangen oyy…!

  152. 152 yahdi mayasya Februari 14, 2008 pukul 6:11 pm

    Saya mau tanya saya yang punya nama nickname “aku” .. emang ada yang punya jaringan seluas Askes, sampe ke pelosok2 dan punya pengalaman selama Askes.. ??????? kalo dikasih Dinkes sih ama juga boong, kaya dulu lagi ntar di korupsi, banyak kebocoran ga jelas……. !!!!!

  153. 153 manusia bodoh Februari 14, 2008 pukul 6:16 pm

    manusia super cantik juga……..sun jauh dari manusia bodoh….!!!mmmmmuuuuaaaahhhhhh…..!!!!!!!!!

  154. 154 manusia bodoh Februari 14, 2008 pukul 6:20 pm

    Askes di gandeng lagi…cakmoki jingkrak jingkraknya jadi sia-sia…!!he..he..
    Oooiii… cakmokinya gi sedih jadi ga kasih komentar lg!!
    pura-puranya seh sibuk…….

  155. 155 yey Februari 14, 2008 pukul 6:43 pm

    Ya…..
    Dari pada bingung2
    baiknya sech….kelola dulu sistem jaminan yang diusulkan BU MENKES
    Jadi pengen tau….

  156. 156 kutukupret29 Februari 14, 2008 pukul 9:41 pm

    http://suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=516

    Menkes Dibatasi Seminggu Selesaikan Askeskin

    Jakarta, CyberNews. Panitia Ad Hoc III Dewan Perwakilan Daerah (PAH III DPD) RI mengecam
    keputusan pemerintah, dalam hal ini Menteri Kesehatan, yang tidak lagi menunjuk PT Asuransi Kesehatan sebagai penyelenggara Asuransi Kesehatan untuk Rakyat Miskin (Askeskin)……….

    Sekretaris Timja Askeskin Parlindungan Purba memberi deadline kepada Menkes satu minggu untuk menyelesaikan masalah. ”Kalau tidak bisa menyelesaikan, sebaiknya mundur saja,” tandasnya……….

    kita tunggu aja hasilnya …

    kepada warga miskin dan tkt, berdoa ya…

  157. 157 yahdi mayasya Februari 14, 2008 pukul 10:44 pm

    Seminggu… mana mungkin sanggup….
    Ngurus RUU Pengendalian tembakau aja nda kelar-kelar, apalagi ngurus askeskin dalam waktu seminggu..
    Yoo bu menkes, siap-siap mundur yo…
    Ya liat aja hasilnya….
    Jangan2 PAH III DPD juga cuma ngomong doank…
    Pliz deh…!!!

  158. 158 cakmoki Februari 15, 2008 pukul 12:38 am

    @ yahdi mayasya & @ manusia bodoh:
    wah, koq jadi 2 kepribadian gini … :)
    hmmm, awalnya “nampak” bijak, wajah lain menampilkan komentar ke arah personal. Diskusi apa …? koq jadi seperti beberapa komentator lain nih. O ya, biasanya blog ini jadi ajang diskusi, tukar pikiran, uneg-uneg bagi teman-teman atau pembaca lain yang punya identitas jelas, so kebebasan yang saya berikan hendaknya dimanfaatkan untuk tujuan tersebut.
    Maaf, jangan sewot ya … saya jadi kehilangan respek :)
    Saya harap kalo masih mau dilanjutkan silahkan sampaikan ide-ide untuk kita kaji bersama. Bisa kan?

  159. 159 aku Februari 15, 2008 pukul 8:41 am

    justru itu mas yahdi….
    aku maunya askes diem aza dulu
    nda usah ikutan ngurusin askeskin ini….
    lha wong orang askes udah kerja bener…
    SIM nya OK, sarana lengkap…mekanisme udah teruji
    verifikatornya udah terlatih…
    ( tiap taun mereka selalu ada pelatihan lho mas…)
    masih di bego begoin sama beliau…
    ck…ck..ck…
    biar dinkes dulu yang pegang…….
    ntaaaaar ga usah lama,… tunggu 6 bulan…. evaluasi sama beliau….
    aku yakin banget….PASTI ANCUR ANCURAN….trus…
    menkes pasti lebih sewot dari sekarang…
    trus… dia pasti bilang gini….
    ‘HIKS… AKU NYESEL UDAH LEPASIN ASKES…’
    trus…dianya di resuffle….hore…..
    makanya…ASKES JUAL MAHAL DULU DONG……..

  160. 160 ardi Februari 15, 2008 pukul 9:09 am

    cak ..

    menkes ama askes rujuk kembali tuch,

    denger khabar dari RS.. kalau tagihan bulan Januari dan Februari 2008 gak perlu di verfikasi .. jd langsung dibayar oleh menkes ke Rs… maret ntar baru di verifikasi (rencananya) setelah ada tim verifikasi independent (sampai sekarang belum terbentuk)

    dan bulan maret baru di audit oleh BPK langsung ke RS memeriksa tagihan untuk bulan januari dan februari 2008.

    ada temen di rs mengeluh jg sebab diminta untuk melaporkan tagihan setiap minggu… (mereka geleng geleng kepala), menurut mereka .. mereka siap menagihkan tiap minggu (agar bisa di verfikasi oleh tim independent)… itupun jika sistem informasi nya sudah siap.

    oh iya … menkes harusnya jg memperhatikan petugas RS yang bertugas untuk mengajukan klaim (“entry ke aplikasi”) sebelum di verfikasi sebab beda lho gaji petugas independent dengan petugas pengaju klaim RS.

    moga aja menkes mikir tentang hal itu .. sebab gak semua orang bisa di jejali dengan pikiran “bekerja melayani untuk rakyat miskin”, jika mereka merasa gak adil/tidak sesuai… “mungkin” sedikit banyak berpengaruh pada pelayanan lho.

  161. 161 cakmoki Februari 15, 2008 pukul 11:54 am

    @ ardi:
    ya, saya juga kecewa sejak awal diberlakukannnya perubahan layanan untuk warga miskin melalui UU tahun 2004. Para dokter senior dan pakar waktu itu sudah beda pendapat. Menurut beberapa peserta diskusi yg diarsipkan di situsnya “desentralisasi kesehatan” disebutkan bahwa kelemahan sebelum program askeskin adalah di sektor Rekam Medik, khususnya untuk kontrol. Ada pendapat kalo hanya itu bisa diatasi dengan melibatkan programmer untuk memperbaiki sistem.
    Adapun untuk entry data bisa menggunakan dana dari sumber lain, misalnya dana bantuan peningkatan SDM sebagai dana pelatihan.

    Keluhan pihak pelaksana sudah mulai sejak 2004, sekarang tambah bingung dengan kebijakan Menkes yg baru, dan saya khawatir ntar berubah lagi. Banyak temen di RS yg pusing, bahkan sejak 2004.

    sebab gak semua orang bisa di jejali dengan pikiran “bekerja melayani untuk rakyat miskin”, jika mereka merasa gak adil/tidak sesuai… “mungkin” sedikit banyak berpengaruh pada pelayanan lho.

    ya, saya sependapat … ini harus dibahas secara terbuka melibatkan pelaksana, yg nominalnya tentu gak sama setiap daerah.
    Bisa juga menggunakan komponen Perda. Sayangnya gak semua Perda mencantumkan Jasa bagi mereka secara terbuka.
    Kalo gak memadai, jelas berpengaruh, diakui atau tidak. Itu memerlukan kepekaan leader untuk antisipasi dan mencarikan tambahan dari sumber yang sah dan tidak melanggar.

    Coba baca postingan saya berjudul: Pasien Miskin ke Praktek dokter spesialis.
    Siapa tahu bisa sedikit memberi gambaran, betapa pentingnya keseimbangan antara layanan dengan reward jasa.

  162. 162 yahdi mayasya Februari 15, 2008 pukul 2:23 pm

    Thanks kritiknya cak…
    tapi boleh dong sedikit mengeluarkan individual opinion..
    Bukan bermaksud berwajah dua atau 2 kepribadian, tapi hanya menggambarkan sedikit respek saya terhadap askes dan rasa kecewa saya terhadap menkes…
    Mudah2an diskusi ini menjadi lebih bermanfaat dengan banyaknya opini baik yang apatis ataupun yang bersikap “bijak”. Ya to….???
    Cak kalau boleh kasih pendapat, kelemahan askeskin selama dipegang askes menurut saya cuma 1, yaitu SISTEM YANG TIDAK TERINTEGRASI. contohnya orang yang tidak miskin bisa mengakses jaminan askeskin melalui SKTM yang mudah didapatkan dari pemerintah daerah. Padahal instruksi menkes adalah memberikan jaminan kepada siapa saja yang memiliki SKTM. Sehingga membuat dana askeskin menggelembung dahsyat. PT. ASKES tidak bisa disalahkan, wong udah ngejalanin sesuai dengan instruksi menkes.
    Bener to…???

  163. 163 ttm Februari 15, 2008 pukul 5:36 pm

    boleh aj seh askes nrima rujukny menkes,CUMAN prosedur askeskin dibenahi,jgn asal bkin aturan dong,pake standar jgn segala macem diperbolehkan.bnyak org miskin yg kecelakaan naek mtor (hebat y ukuran org mmiskin itu spt ap???) trus ad ank di bawah umur kasus persalinan tanpa ‘bapa’ ap itu wajar? saya takut kl saya ikut berdosa!tp mu gimana lagi da mesti acc aj atuhhhhh
    akar ny dr mana?? y dari SKTM yg ngga tau juntrunganny.apa bu menkes tau kalo banyak PNS yang menggunakan SKTM biar berobat gratisan!!!
    saya tidak mau berurusan lagi dengan anggota dewan cuma gara2 SKTM

  164. 164 cakmoki Februari 16, 2008 pukul 1:45 am

    @ yahdi mayasya:
    Trims juga atas pengertiannya :)
    Kita tidak pada posisi menentukan keputusan, so berbagai penilaian dan pendapat-pendapat kita, moga dapat menjadi pertimbangan para petinggi *harapan lho*. Kalaupun pandangan kita dianggap tidak artinya oleh para petinggi, kita gak bisa apa-apa.
    Setidaknya kajian dari berbagai aspek, kekurangan atau kelebihan berdasarkan fakta ataupun opini dapat menjadi pelajaran bagi kita.
    Beda pendapat di sini tidak dilarang lho, lha wong beda dengan mentri aja ga apa-apa.

    Sayapun sengaja menampilkan salah satu sisi (secara berangkai) dengan harapan ada respon dari berbagai pihak, dan sangat berharap agar pihak-pihak yang terlibat secara langsung, berani membuka diri, dan sedapat mungkin jujur mengungkapkan kekurangan maupun kelebihan sistem yang digunakan selama ini. Syukur jika berkenan menayangkan langkah-langakh yang pernah dan sedang dilakukan walaupun dalam skala kecil.
    Kita menyadari, masing-masing sistem punya kelemahan, namun bukan berarti tertutup pintu untuk memperbaiki.
    Disamping itu, mungkin ada pihak lain yang ikut berperan di luar pelaksana teknis yang tidak ketahui … siapa tahu?

    Tentu saya sangat berterima kasih apapun pendapat yang disampaikan. Hanya saja saya kurang sreg jika perbedaan pandangan lantas dipakai sebagai alat untuk menyerang secara personal sesama komentator di postingan ini.

    Menurut saya, beda pandangan dalam hal askekin tidak serta merta menggambarkan seseorang secara utuh, apalagi trus dikaitkan dengan “aqidah”. Ini bukan sampeyan lho, sekedar mengingatkan bagi yang lain bahwa beda pendapat tidak berhubungan secara langsung dengan surga-neraka karena kita tidak berhak mengambil wewenang Tuhan.

    @ ttm:

    apa bu menkes tau kalo banyak PNS yang menggunakan SKTM biar berobat gratisan!!!

    eh, apa iya ? … yang ini saya baru denger. Bukankah PNS sudah ditanggung?

  165. 165 suparmana Februari 16, 2008 pukul 3:09 am

    Tentang PNS yang menggunakan askeskin itu memang terjadi cak, itu sebelum penerapan secara ketat penggunaan daftar BPS (saat ini rasanya nggak ada).
    Hal ini terjadi karena kenyataan yang menyedihkan bagi rekan-rekan gol I,II, dan IIIa hanya mendapatkan jatah rawat kelas III dan ‘coverage’ PT. Askes jauh dari mencukupi, sehingga mereka dikenakan banyak sekali cost sharing.

    1. Cost sharing itu macam-macam cak, misalnya tarif penggantian dari PT. Askes untuk banyak biaya LAB dan radiologi itu jauh dari mencukupi untuk sekedar menutup biaya dasar pun, sehingga mau tidak mau harus dikenakan cost sharing kepada pasien untuk menutupi biaya ini. Tarif PT. Askes ini sudah beberapa tahun tidak berupah padahal harga reagent dan bahan baku lain sudah mengalami kenaikan. Saya beberapa kali berusaha mengkomunikasikan hal ini kepada pejabat PT. Askes dan mereka menjawab dengan tangkas bahwa hal tersebut sudah sesuai dengan tarif yang disepakati dan sesuai dengan ketentuan Depkes. Saya kadang kesel dengan team medik dan team tarif RS kami sendiri (dan kepada Depkes) mengapa lemah sekali posisi tawar RS (dan tentu saja posisi tawar PNS sebagai peserta) terhadap PT. Askes.

    2. Belum lagi banyak pemeriksaan yang karena memang ada indikasi medisnya harus diperiksa secara serial dalam 1 hari, misalnya periksa trombosit untuk pasien DHF, pemeriksaan darah untuk pasien hemodialisa dan banyak lagi, PT. Askes hanya mau mengganti 1 kali sehingga sisa biayanya ya cost sharing.

    3. Kenyataan bahwa ada titah dari atas bahwa Askeskin tidak boleh dikenakan biaya apapun (tidak boleh ada cost sharing) membuat ada kesenjangan antara pasien Askeskin dengan rekan-rekan PNS gol I,II tersebut sehingga wajar bahwa mereka merasa mending menjadi “miskin” dari pada menjadi PNS yang harus bayar cost sharing.

    memang harus ada evaluasi yang menyeluruh dari pelaksanaan Askeskin dan juga menurut saya “perbaikan penjaminan PNS golongan kecil” sehingga masala ini tidak terjadi. Itulah kenapa saya lebih suka askeskin ini tidak dikelola PT. Askes karena sebagai pembanding ada program penjaminan masyarakat miskin yang tidak tercantum dalam BPS melalui dana APBD yang aturan penjaminannya lebih baik dari Askeskin.

  166. 166 cakmoki Februari 16, 2008 pukul 2:36 pm

    @ suparmana:
    wah rupanya sama-sama tukang melek nih :) *komen jam 3 dini hari*

    Ya, saya paham… cost sharing, hmmm … apa saat ini Pemda Tk II mau menanggulanginya sementara juga menerima sabda menambah kekurangan premi ?
    Beberapa tahun lalu saja, cost sharing masih tarik ulur. Di samarinda, saya pernah ikut rapatnya dan ada gejala keengganan dari Pemda walau akhirnya bersedia juga. Tapi itu dulu lho, dah lama sekali.
    Setelah itu gak tahu.
    Ada tetangga guru PNS yang gak mampu melanjutkan pengobatan karena gak mampu menambah biaya perawatan. COPD (PPOM). Rumahnya persis belakang rumah, dan beliau meninggal. Golongan III, satunya lagi gol II dengan kasus yg mirip.

    Kalo menggunakan sistem Unit Swadana dan dana APBD gimana ? ada pengalaman ga?
    Pertengahan 2006 kebetulan diminta pemkot untuk bantu bikin sistem pengelolaan RSUD type C plus, cuman dalam pelaksanaannya gak ngikuti lagi dan belum sempat tanya ke temen yg jadi direktur di RS tsb.

    waktu masih diberi tugas di Rawat inap, kami menggunakan swakelola dan untuk gakin mengikuti Perda. Dananya dari sisa luncuran langsung via bank. Postingannya di sini. Kalo ada waktu, mohon pandangannya ya … :)

  167. 167 ardi Februari 18, 2008 pukul 12:18 pm

    tuk pak suparman ..

    bukannya PNS gol 1,2 dan 3 itu jatah nya di kelas II utk rawat inap dan PNS gol 4 di kelas I untuk Rs. pemerintah.

    maaf jika saya salah ..

    ^_^

  168. 169 SHAF Februari 19, 2008 pukul 5:32 pm

    Maaf sekedar mau meluruskan perkataan Suparman setahu saya PNS untuk gol I, II, III itu sekarang di kelas II pak bukan Kelas III, betul kata ardi… , dan menurut pendapat saya PNS yang memiliki golongan I,II menggunakan SKTM secara pribadi gapapa, asalkan…. ada asalkannya kita liat sakitnya dulu apa, kalo sakit yang membutuhkan biaya berjuta-juta, ya wajarlah kalo mereka kesulitan biaya… dan saya rasa Pemda wajib membantu dalam hal ini karena mereka kan bekerja untuk pemerintah daerah, tapi jangan begitu saja menyalahkan Askes.. !!!! ini pendapat pribadi saya, .. tapi kalo itu dianggap suatu kesalahan, sapa yang salah.??? ya.. yang menerbitkan SKTM .. iya toh

  169. 170 ethaq Februari 21, 2008 pukul 1:04 pm

    wah kok sudah ga pernah ad komen lg???
    dah pada bosen ngomongin askeskin ya?????

  170. 171 SHAF Februari 21, 2008 pukul 3:04 pm

    Bukan pada bosen, sepertinya semua dah pada melek.. ?? ternyata akar permasalahan Askeskin bukan pada penyelenggaranya (PT. Askes) tapi biang masalahnya ada pada “Menkes”nya. dan baru saja saya melihat berita di detik.com, bu Siti dah bikin sensasi lagi tentang penerbitan bukunya, isinya menceritakan adanya konspirasi negara luar bahwa sample Virus Flu Burung dijadikan senjata biologis…ck…ck…ck. dan menurut berita bu Siti bilang pa SBY minta menarik bukunya, tapi dilain kesempatan bilang atas inisiatif sendiri.. memang MM (mencla, mencle) bu, .. bu jangan jauh-jauh dulu, masalah orang miskin aja tambah runyem dah bikin masalah baru. .. gimana cak.. kayanya masalah Askeskin ga akan beres kalo menkesnya belum diganti..

  171. 172 andi Februari 21, 2008 pukul 3:28 pm

    @ Suparman & Cakmoki
    salah satu upaya askes n menkes utk menghilangkan kecemburuan dari pns gol I dan II adalah menempatkan mereka di kelas II RS. kelas 3 khusus utk pasien maskin.
    cost sharing diperlukan agar adanya “sadar biaya” bagi peserta asuransi. bentuk cost sharing jg macam2. semua asuransi jenis apapun didunia ini punya cost sharing.
    utk peserta askes di rs memang bisa cost sharing, dgn catatan harus disetujui pemda. pemda yg baik tdak akan sembarangan menerapkan cost sharing di rs.
    utk mengurangi cost sharing peserta askes, bisa dengan menaikan tarif askes, utk mengimbangi tarif rs. sayangnya, banyak tarif rs yg tidak fair. Perlu kajian yg mendalam utk menentukan apakah tarif askes yg lbh kecil atau tarif RS yg terlalu tinggi. RS Pemerintah sewajarnya memiliki tarif rendah karena hampir semua biaya operasionalnya disubsidi.
    RS Pemda kok cari untung!!
    Perlu ditinjau juga Premi Askes yg cuma 2 (dua) persen dari gaji pokok + tunjangan keluarga.

  172. 173 cakmoki Februari 22, 2008 pukul 6:01 am

    @ ethaq:
    masih, ..silahkan kalo mo ikutan urun rembug…
    diskusi bisa dilanjutkan koq, yang perlu dijaga hendaknya diusahakan tidak menyerang personal agar nantinya bisa bermanfaat :)

    @ anak orba:
    mohon maaf, komen sampeyan terpaksa tidak bisa tayang karena sudah terlalu jauh dari topik diskusi.
    Boleh beda pendapat tanpa harus meradang. Pemikiran sampeyan akan dihargai jika mengarah pada upaya membuka cakrawala berpikir yang konstruktif.

    @ SHAF:

    gimana cak.. kayanya masalah Askeskin ga akan beres kalo menkesnya belum diganti..

    selain itu mungkin diperlukan keterbukaan semua pihak dan kajian mendalam dengan mengedepankan kepentingan warga miskin sebagai bahan pertimbangan untuk menelorkan pilihan-pilihan kebijakan …

    @ andi:
    Dalam hal tarif (secara umum), mix and match agar bisa “dijangkau” para pengguna jasa masih sulit terwujud, sementara pihak Pemda punya kewenangan untuk memilih sistem pembiayaan layanan kesehatan.

    Punya sample hitungan tarif RS untuk draft Perda gak?
    Kalo ada, kali bisa ditayangkan

  173. 174 anak orba Februari 22, 2008 pukul 3:47 pm

    justru itu cak, saya juga menginginkan komen yang muncul jangan hanya menjelekkan askes dan memuji emaknya sendiri. sejak awal saja judul yang cak buat sudah tidak menghargai askes,jangan memanfaatkan teknologi untuk melakukan pembunuhan karakter sementara rakyat banyak yang justru tidak senang dengan tindakan menkes tetapi tidak punya komputer untuk menyalurkan komennya tdk bisa berbuat apa2. jujur saja yang terjadi seperti itu khan?. Jangankan rakyat kecil, para dirjen disekeliling menkes saja bingung dengan tindakan menkes, hari ini ngomong putus dgn askes tapi besoknya menyambut gembira askes menerima tawaran. lucu khan… sampai ada yang memberi gelar MM (mencla mencle). Saya pernah ketemu org irjen depkes…dia ngomong kalo sekarang irjen itu turun modalnya hanya sms yang diterima menkes. setiap sms yg masuk ke menkes tanpa ada dasar apa2 langsung perintah irjen turun. apa jadinya negara ini kalo menteri aja kayak gini. udah gitu masih dibela lagi. aneh khan?. cakrawala ini yg harus dibangun cak……..bukan menggiring orang utk membenci askes hanya karena pengalaman pribadi. itu namanya egois.

  174. 175 anak orba Februari 22, 2008 pukul 3:55 pm

    Yang sy dengar, askes itu sebagai bumn selalu diaudit oleh BPK, BPKP, Kantot akuntan publik, dan Pengawas Internnya sendiri. dan sejauh ini tidak pernah ditemukan penyelewengan di askes. itu faktanya.
    yang ditemukan adalah penggelembungan tagihan olah rumah sakit karena tindakan medis yang berlebihan, itu diluar wewenang askes. lah kenapa askes yg disalahkan. apa ini yang namanya pemikiran yang konstruktif?. tagihan rs katanya 2,5M yang benar hanya 20Juta…apa iya seeehh..? tagihan apa dari rumah sakit mana, menkes sendiri sampe sekarang gak bisa membuktikan. apa ini yang disebut pembicaraan yang bermanfaat. Maaf juga….karena inilah FAKTA yang ingin DITUTUPI oleh oknum2 yang takut kehilangan jabatan.

  175. 176 ipunk Februari 22, 2008 pukul 4:37 pm

    KEMBALI KE ASKESKIN. ADA KEJADIAN YANG MENARIK TUAN2 & NYONYA2 SERTA BU MENKES YANG TERHORMAT.
    Di Pekanbaru ada pemegang askeskin yang butuh darah dan karena askeskin ditolak oleh pmi. Tapi hebatnya adalah begitu SKTMnya ditolak PMI, dengan tempo yang sesingkat-singkatnya keluarga pasien tersebut mengeluarkan uang untuk membayar tanpa perlu memprotes. Ini kira2 yang salah siapa ya? Askes kayaknya tidak menerbitkan sktm, pmi pun juga benar. bingung deh….. Tapi yang lebih mengherankan lagi yang dituduh menggelembungkan dana adalah Askes. Kasihan amat sih.
    Yth. Ibu Menteri Kesehatan RI, kalau memang sudah tidak suka dengan Askes, ya sudah diputus saja titik. Kenapa pulak kau kirim-kirim surat penawaran ke Askes lagi. Itu namanya ada udang dibalik bakwan. Kalau mau fair buka dong lelang askeskin untuk semuanya Jamsostek, Taspen, dll termasuk insurance swasta. Setelah itu bikin kontrak dan serahkan semua ke pemenangnya. Tapi jangan pulak kau ikut2 campur tangan lagi ngatur2 insurance nya kayak ke askes. Pas masalah Hak kau ikut campur, pas ketemu kewajiban lari. Tak mau tanggungjawab tapi banyak ngatur. Bah macam mana pulak lah kau siti.

  176. 177 ipunk Februari 22, 2008 pukul 4:47 pm

    Saya setuju dengan pak Shaf. Akar permasalahanya bukan di Askes tetapi di Menkesnya yang sudah mendapat ijazah MM.

    Untuk pak Andi.
    Pak jangan salah pak. Yang menempatkan PNS Gol I & II dikelas II itu bukan Askes dan Menkes. Setahu saya itu adalah murni kebijakan yang dibuat oleh Askes sendiri demi menaikkan kualitas pelayanan mereka. Kenapa pulak kau bawa2 menkes. Menkes tidak terlibat apa2 dalam kebijakan itu. Enak skali dia dapat nama. Bah jangan2 bapak kita satu ini juga tangan kanannya bu siti. bah……kacau…kacau……

  177. 178 andi Februari 23, 2008 pukul 3:23 pm

    @ anak orba n cakmoki

    kata menkes kan ada tagihan 2,5 M tapi setelah diverifikai hanya bisa dibayar 20 juta.
    kasus ini terjadi di salah satu RS di sulawesi. Dan yg menemukan adanya penggelembungan ini adalah….VERIFIKATOR ASKES yg ditempakan di RS. lalu oleh askes dilaporkan ke depkes. Jadi itu murni hasil kerjanya verifikator Askes. Menkes mungkin tidak tau / tidak mau tau ttg hal itu.
    Dan masalah Askeskin tahun 2007 sebenarnya adalah dana yg terbatas krn depkes salah menghitung anggaran. ditambah lagi kepesertaan askeskin yg bersifat terbuka (SKTM) dan kebijakn yg berubah2 terus dr menkes.
    PT Askes hanya menjadi korban Kepanikan Menkes dalam mengatasi hutang yg banyak ke RS.

  178. 179 andi Februari 23, 2008 pukul 3:38 pm

    @ IPUNK

    Bung jangan salah bung. Maksud saya bukan “Menkes” aja. Tapi perlu diketahui bahwa landasan hukum penempatan kelas perawatan peserta Askes minimal kelas II adalah perubahan atas SKB Menkes dan Mendagri, bukan SK Direksi PT Askes. Di dalam perubahan SKB Menkes dan Mendagri diatur bahwa kelas perawatan bagi PNS gol I, II dan III adalah di kelas 2, sedang gol. IV di kelas 1. Dan ini berlaku mulai pertengahn tahun 2005. Jadi bukan semata-mata murni kebijakan PT. Askes. Tidak. “Kiblat” PT Askes dalam pelayanan kesehatan kpd Peserta Askes baik mengenai pelayanan maupun kepesertaannya adalah SKB Menkes Mendagri.
    Mungkin betul ini inisiatif PT Askes, lalu dilegalkan dengan SKB tadi.
    Menjadi kaki tangan menkes…?
    NO WAY !!!

  179. 180 cakmoki Februari 23, 2008 pukul 5:08 pm

    @ anak orba:
    nah ini baru siip, kita membahas sistem yang otomatis berhubungan dengan institusi terkait. Info yang sampeyan sampaikan seputar kesenjangan di lingkungan depkes pernah saya posting dan sayapun menulis tajam soal itu. Demikian pula tentang buruknya layanan di RS bagi gakin, udah pernah saya posting.
    Kita mengharap keterbukaan informasi, untuk itu saya tulis dari 2 sisi menyangkut 2 institusi tersebut sebagai umpan agar ada tanggapan terbuka dari kedua petinggi sebagai pemeran utama terbitnya kebijakan askeskin. (kalo mereka mau)

    Yang saya maksud terbuka, misalnya: apa benar semua dana diserahkan depkes ke askes sebagai penyelenggara ? Jika terlambat, mengapa dan dimana hambatannya? Berapa persen dana askeskin yang diperuntukkan bagi gakin? Mengapa ada penggelembungan tagihan di RS ?
    Tambahan premi dari pemda apakah mencukupi atau lebih? Bagaimana jika kurang dan bagaimana jika lebih? Adakah pihak lain yang minta bagian ?
    Perlukah program tersebut “ditawarkan” kepada institusi insurance secara terbuka ?
    Banyak pertanyaan bagi kedua institusi yang tak terungkap.

    Lebih jauh mungkin perlu kajian ulang tentang kelemahan dan kelebihan program tersebut. Bisa saja tiap daerah ga sama kan…

    Sekedar info, saya memilih keluar dari depkes dan pemda karena tidak sesuai dengan nurani. Di sisi lain sebagai warga, saya membantu mereka di wilayah kami terutama dalam pengembangan teknis pelayanan.

    Trims pengertiannya dan saya hargai pandangan-pandangannya di dua komen ini, so pengalaman semua pembaca di berbagai wilayah ga ada salahnya diangkat untuk evalusi, mana yg bagus mana yg kurang. Menurut saya itu bukan hal yang buruk. Toh yang kurang bagus bisa mencontoh ke daerah yang udah bagus… :)

    @ ipunk:

    Kalau mau fair buka dong lelang askeskin untuk semuanya Jamsostek, Taspen, dll termasuk insurance swasta. Setelah itu bikin kontrak dan serahkan semua ke pemenangnya. Tapi jangan pulak kau ikut2 campur tangan lagi ngatur2 insurance nya kayak ke askes.

    pernah disusulkan pada tahun 2004… kayaknya wacana ini perlu dilontarkan lagi.

    @ semua:
    Sungguh, kita patut bersyukur dengan adanya berbagai pandangan dan pengalaman dari berbagai daerah. Kita berharap, para petinggi dapat memanfaatkan perbedaan pemikiran kita sebagai bahan pertimbangan dalam memilih “kebijakan”.
    Dalam konteks layanan kesehatan, semoga pula beliau-beliau lebih mengedepankan kepentingan warga miskin.

  180. 181 Jonik Februari 25, 2008 pukul 6:12 pm

    Sabar….sabar…. Pak/Bu/MAs/Mbak.
    Marilah kita kemukakan pendapat dengan serius tapi tetap santai. Penuh canda namun juga penuh makna. Setujuuuuuuuuu?

    Cak, ini ada sedikit info. Bukan gosip tapi tidak perlu juga dipermasalahkan kebenarannya.
    Mungkin kita masih ingat sejarahnya, bagaimana pada akhir tahun 2005 Bu Menkes dengan tanpa ragu-ragu langsung menunjuk askes sebagai pengelola askeskin meskipun akhirnya banyak yang protes terutama teman-teman dari Bapel-bapel JPKM. Tapi anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.
    Tahun 2006 hubungan askes-menkes semakin mesra. Tahun 2007 sampai bulan Oktober askes-menkes semakin bertambah mesra, namun bak petir disiang bolong pada nopember-desember 2007 tiba-tiba menkes mengamuk, menuduh askes korupsi, salah urus, tidak profesional dll. Orang-orang yg tahu sejarah tentunya sangat heran dengan perubahan 180 derajat ini.
    Nah disinilah menariknya. Cak mau tahu sebenarnya apa yang terjadi?.
    Ternyata berdasarkan info orang dalam, kisahnya bak cerita sinetron.
    Kita masih ingat pada medio hingga akhir tahun 2007 berkembang wacana resuffle kabinet yang akhirnya memang terjadi. Sejak isu resuffle kabinet berkembang, ternyata salahsatu menteri yang dianggap gagal oleh kalangan DPR dan independen yang harus diganti adalah Menkes. Baik DPR maupun kalangan independen menganggap Menkes adalah salahsatu menteri yang belum menunjukkan prestasi apa-apa. Memang askeskin berhasil tapi itu dilaksanakan oleh pihak lain (askes), sedangkan kasus flu burung bahkan sampai hari inipun tidak mampu ditanggulangi. Yang menarik adalah sosok yang dianggap mampu dan telah terbukti kemampuannya serta didukung baik dari kalangan parpol maupun organisasi independen untuk menjadi pengganti menkes, secara kebetulan adalah direktur utama askes DR.ORIE ANDARI SUTAJI, MBA yang kebetulan juga seorang wanita (juga berpengalaman di birokrasi krn pernah menjadi sekretaris menkes Adhyatma kalau tidak salah).
    Berita ini terus berkembang sampai akhir tahun sehingga sampailah ketelinga bu menkes. Bisa dibayangkan betapa marahnya bu menkes karena akan diganti oleh orang yang selama ini selalu mendampingi beliau seolah-olah beliau ditusuk dari belakang. Inilah awal mulanya menkes benci dengan askes tepatnya pernyataan pertamanya adalah pada saat rakernas kesehatan di batam. Benar apa tidak berita ini?…. Wallahu’alam.
    Namun yang pasti kalau ternyata benar, sangat kita sesalkan. Sebagai pejabat negara mestinya beliau bisa memisahkan antara urusan pekerjaan dengan dendam pribadi, apalagi ini menyangkut rakyat miskin. Apakah ini satu lagi bentuk kelemahan menkes kita?. Perlu kita renungkan dan menjadi pertimbangan bagi siapapun Presiden yang akan terpilih pada pemilu ysd.
    SJSN harus terwujud tahun 2009. Kita butuh Menkes yang hebat bukan hanya dalam kata-kata namun dalam tindakan nyata. Kita butuh bapel yang berpengalaman dan profesional yang benar-benar mampu memberikan jaminan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, bukan hanya orang-orang yang merasa sebagai pakar jpkm namun berjiwa proyek.

  181. 182 Jonik Februari 25, 2008 pukul 6:17 pm

    ada koreksi cak. maksudnya kejadian tersebut adalah pada akhir tahun 2006 (Nopember-desember 2006). terima kasih.

  182. 183 ardi Februari 26, 2008 pukul 1:09 pm

    hmmm…

    @Jonik

    info orang dalem siapa nich om ? (dari askes atau dari depkes ?)

    ^_^

  183. 184 SHAF Februari 26, 2008 pukul 3:33 pm

    @ jonik
    Waahh… akhirnya ada juga yang ngomongin …??? udah.. ini sih dah gada tawar menawar lagi ..!!! ganti Menkesnya…!!!!!

  184. 185 y3551ku@gmail.com Februari 26, 2008 pukul 8:20 pm

    Owwwalah….yang jonik bilang GOSIP ato Fakta??? Pastinya sejak Askes ganti Direksi, mpok siti sikapnya melunak dengan ASkes. Ada kabar kalo draf manlak sudah jadi…..Menkes memang rujuk dengan Askes….tapi setengah hati. Askes hanya disuruh ngurusi kepesertaan, mulai dari ngumpulin data sampe distribusi kartu. Info ini aq dapet dari pegawai Dinas yg kebagian draf dari Depkes. Setidaknya ini angin segar buat TKT ( batal jadi pengangguran)dan buat pegawai askes kerjaan jadi ringan. Beritanya penggantian INA DRG malah jauh lebih tinggi dari tarif sebelumnya, kecuali tarif Kebidanan.

    Piye fren???

  185. 186 cakmoki Februari 27, 2008 pukul 4:29 am

    @ Jonik:
    wah saya gak tahu ada “bisik-bisik” semacam itu. Konon ada juga sih berbagai kasak-kusuk di arena “arisan” para petinggi, cuman ya itu tadi, gak jelas.
    Ikut berharap moga gak melulu “project oriented”

    @ y3551ku@gmail.com:
    kalo gitu kita tunggu “kebijakan” final :)

  186. 187 SIM Maret 10, 2008 pukul 9:21 am

    So mana janjimu bu menkes..
    Katanya 1 Februari dan jalan, setelah itu 1 maret, sekarang ngomong 1 Juni.. gimana sih…?

    Isu ttg persaingan Menkes dengan Dirut Askes yang lalu yaitu Ibu Orie emang santer terdengar benar atau ga ya ga tau juga…

    Tapi klo bener ya begitulah karena dendam pribadi semua kacau…
    So ganti aja menkesnya.. walau cuma tinggal 1 tahun lg masa jabatannya….

  187. 188 SHAF Maret 10, 2008 pukul 3:07 pm

    seeppiiiii euy….???

  188. 190 ln Maret 13, 2008 pukul 10:06 am

    udah ah…enakan gini…..adem…
    ngga ngurusin yg macem2…

  189. 191 cakmoki Maret 13, 2008 pukul 5:11 pm

    @ SHAF, ardi:
    hehehe, mosok mau rame terus … biasalah beda pendapat kadang menghangat *apalagi beda pendapatan… :D *, yg penting tetap pada konteks :)

    @ In:
    …adem…siiip :)

  190. 192 fod Maret 25, 2008 pukul 11:07 am

    adem sih adem, tapi tetap aja rs sekarang lagi menderita. Ganti penugasan malah repot. Dinkes dati 2 aja pada bingung mau mulai dari mana. sedang pelayanan jalan terus, malah karena udah sekarat sekarang sistem pelayanan sudah berbalik. dulunya rsud biasa tempat penerima rujukan, eh sekarang malah pemberi rujukan. buktinya dulu dari rs swasta rujuk ke rsud,sekarang udah berbalik.lama2 dari rsud malah ngerujuk ke puskesmas karena kekurangan peralatan dan bahan habis pakai.

    sampai kapan kelar nih, malah dilapangan masyarakat miskin pada bingung, karena mau berobat kemana yang gratis lagi? pergi ketempat yang gratis, hanya ketemu dokter langsung pulang, tanpa bawa obat atau dapat pelayanan, karena rumah sakit sendiri sudah masuk dalam golongan rumah sakit miskin semua.(he..he… rumah sakit ikut tertular, layani masyarakat miskin malah jadi miskin.

    apa sih salah askes?(bukan ngebela lho) wong aturannya semua ditentukan oleh menkes sendiri.mestinya yang dipertanyakan itu menkesnya.apa maksud ngeluarkan aturan seperti itu.(sktm berlaku,obat luar generik bisa asal ada protokol terapi). malah verifikator sendiri kadang bingung, bagaimana mau memverifikasi, wong yang mau dikendalikan tidak ada. semuanya bisa dibuat sesuai aturan. liat pasien yang berada (kaya) mau dilarang eh pegang sktm,mau suruh pakai generik, ada aturan bisa yang bukan generik asal ada protokol terapi. yang salah sapa?verifikator askes? atau askesnya? yang kasi aturan dong yang dipertanyakan.

  191. 193 ardi April 4, 2008 pukul 11:05 pm

    adem .. adem … adem …..

  192. 194 cakmoki April 5, 2008 pukul 2:02 am

    @ ardi:
    udah gak menarik lagi untuk dibahas kali :)

  193. 195 suparman April 25, 2008 pukul 9:23 pm

    cak masih tertarik cerita pengelolaan Askeskin nggak? kalau masih ini saya ada “software?!” baru depkes untuk verifikasi tagihan askeskin (jamkesmas). Saya sebut “sofware?!” karena ini hanya berupa file ms excell + vba macro saja. Kalau tertarik saya kirim PM kemana ya?

    @ suparman:
    ok, tentu masih tertarik walau gak terjun langsung …hehehe
    Kalo berkenan, mohon dikirim ke:
    cakmoki2006@yahoo.com
    Maturnuwun :)

  194. 196 cakmoki April 27, 2008 pukul 5:35 pm

    @ suparman:
    ok, tentu masih tertarik walau gak terjun langsung …hehehe
    Kalo berkenan, mohon dikirim ke:
    cakmoki2006@yahoo.com
    Maturnuwun :)

  195. 197 NO NAME September 6, 2008 pukul 11:53 pm

    COBA KAJI KINERJA (*)”VERIFIKATOR INDEPENDENT” DEPKES!!!
    APA SUDAH LAYAK DIKATAKAN SEBAGAI (*)

  196. 198 cakmoki September 7, 2008 pukul 2:37 am

    @ NO NAME:
    Udah ada hasilnya ???
    Publish aja, ntar kita kaji bareng-bareng :)

  197. 200 cakmoki September 12, 2008 pukul 2:07 am

    @ andi:
    Hahaha, mengapa saya harus percaya pada PT Askes? … dan emangnya kalo ga sejalan dengan sampeyan trus saya gak ngerti gitu ya? … hehehe, maksa amat sih
    Sampeyan pernah nanya ke warga miskin dan ke dokter pelaksana gak??? Mereka bukan obyek kan?
    Akuntabilitas tidak diukur dengan Pertanggung jawaban diata kertas semata …
    Pernahkah mengungkapkan berapa persen sebenarnya dana yang digunakan untuk warga miskin ??? Emange 100 % ? Berapa persen hayo? Bukankan inti kejujuran ada pada realita?

  198. 201 Taufik Hidayat September 18, 2008 pukul 12:30 pm

    Cak melok gabung yo…

    Seru banget diskusine… tapi mbok yo ayo diskusi ke depan… ojo mbahas sing wes terus… Gimana cara meningkatkan kualitas kesehatan sudara sudara kito ndik negri ini… ngono lho cak..

  199. 202 cakmoki September 20, 2008 pukul 12:43 am

    @ Taufik Hidayat:
    Monggo Mas, silahkan :)
    Posting ini hanya salah satu dari sistem yang perlu dievaluasi untuk perbaikan, sedangkan pemikiran untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan (di Puskesmas, di RS, di Praktek) yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif udah banyak diposting, silahkan dicari di arsip. Sebagian posting merupakan pemikiran dan sebagian lainnya udah pernah dan sedang berjalan. Adil kan ?…hehehe
    Lagipula, kita gak perlu malu untuk mengakui yang kurang tepat agar dapat ditemukan jalan yang tepat … ngono lho Mas …

  200. 203 agung September 27, 2008 pukul 11:51 am

    cak,.. saya juga senang melihat jamkesmas yang sekarang… karena kartu dibatasi sehingga dana pemerintah jelas arahnya…

  201. 204 cakmoki September 28, 2008 pukul 12:53 am

    @ agung:
    Moga begitu…yang penting menurut saya, penggunaan untuk pelayanan warga miskin benar-benar tepat sasaran dan bermanfaat…
    Trims

  202. 205 Pak RT Oktober 29, 2008 pukul 12:31 pm

    Cak, sekarang ini warga miskin malah bingung kalau berobat, Apa sampean udah pernah nongkrong di RS melihat ini. Sekarang kembali lagi seperti dulu sebelum dipegang PT Askes. di RS banyak yang menawarkan bahkan jadi Calo untuk warga miskin. Jamannya di pegang PT Askes pasien berobat bisa Gratis … tis, sekarang boro boro gratis… tis, para petugas RS ( terutama RS Pemerintah ) selalu memungut alasannya macam macam. Cobalah lihat itu. Kalau anda menganggap PT Askes Korupsi kenapa engga dilaporkan aja sama KPK, Tempuh jalur hukum dong. Engga perlu gembar gembor kaya Kuwi. Malu dong kalau engga terbukti PT Askes Korupsi. Kalau terbukti Korupsi khan rakyat juga senang. Ayo dong yang realistis sarannya sama MenKes. Wargaku sudah banyak yang mengeluh kalau mereka sakit.

  203. 206 cakmoki Oktober 29, 2008 pukul 1:09 pm

    @ Pak RT:
    Pak RT, monggo dibaca lagi pelan-pelan :)
    Trus, coba juga (kalo bisa) menempatkan diri sebagai warga miskin dan kunjungi rumah mereka, serap keluhan mereka terkait layanan gratis sejak JPS-BK hingga sekarang…
    Kalo emang ada RSUD yang menurut penjenengan merepotkan warga miskin melalui program yang sekarang, sebutin aja nama RSUD nya, gampang kan…
    Tentang bagaimana bagusnya ke depan …monggo sumbang saran…saya kan udah tuh di alenia 2 dari bawah :) … beda pendapat ga dilarang
    Trims share-nya

  204. 207 kai November 25, 2008 pukul 9:45 pm

    pa RT adalah bagian dari masyarakat, mungkin beliau lebih tau mengenai keadaan d masyarakat,menurut saya ini adalah bagian dari dampak atas kebijakan yang grasak grusuk dari ibu menkes…!! sebuah program butuh waktu penyesueian untuk menuju ke arah yang lebih baik…dalam hal ini saat program askeskin ada dalam posisi tersebut,dan bukan berarti apabila ada sedikit kekurangan maka langsung di cut…berilah kesempatan pihak askes memperbaikinya, dan diawasi oleh semua pihak… sudah saatnya kita menjalankan SJSN, karen memang batas maksimal dalam udang-undang bahwa SJSN dan badan penyelenggaranya sudah harus terbentuk dan dilaksanakan maksimal tahun 2009, tinggal bagaimana keseriusan pemerintah dalam menjalankannya dan mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi dari “beliau” yang memiliki kewenangan supaya masyarakat indonesia terlepas dari dia miskin atau tidak, bisa merasakan nikmatnya hidup sehat, tanpa harus dibayangi oleh biaya kesehatan yang MAHAALLL….bagai mana bis mewujudkan Indonesia Sehat 2010 kalo lebih “beliau-beliau” masih saja lebih mementingkan ego pribadinya daripada memikirkan rakyatnya,mulai sekarang jangan melihat hanya melihat kejelekan suatu instansi saja (termasuk cak moki)mari kita mulai dari sekarang …. maju terus indonesia wujudkan indonesia Sehat tahun 2010…MERDEKAAAA

  205. 208 cakmoki November 25, 2008 pukul 11:20 pm

    @ kai:
    “ego” siapa ya? … menkes, askes atau siapa?
    Kenapa gak diserahkan langsung ke pelaksana di lapangan? Kalo bilang sampeyan kekurangan bisa diperbaiki dengan upaya yang sungguh-sungguh, sebenarnya mereka-mereka para dokter di lapangan (termasuk yang di pedalaman yang ke kota perlu waktu berhari-hari) udah pernah melaksanakan sebelum ada askeskin.
    Boleh saja sampeyan berpendapat hanya membandingkan askes dengan menkes. Trus warga miskin dan pelaksana di lapangan apa gak boleh berpendapat?
    Bukankah pelaksana lapangan dan gakin bagian dari program tersebut?

    Hahaha, kenapa sih alergi banget dengan evaluasi dan beda pendapat?
    Kami udah belasan tahun bergelut di lapangan, rasanya udah kenyang ngeliat segala muslihat berlabel program heboh. So saya sependapat untuk memperbaiki sistem dan pelaksanaannya, terlepas dari apapun nama programnya.

    Andai sampeyan melihat keluarga miskin yang anggota keluarganya hanya punya 2 stel pakaian kusam, panci pesok, lampu ublik tapi tanpa tersentuh database gakin… Yang beginian tidak sedikit, saya punya foto-fotonya.
    Mungkin dengan jalan-jalan (gak pake kendaraan) mengunjungi mereka, dialog dengan saudara kita yang gak berpunya, nun di pelosok pedesaan, bisa jadi pandangan sampeyan berubah.
    Gak cukup hanya dengan kunjungan kerja dikawal protokoler daerah, perlu blusukan berulangkali agar lebih memahami kehidupan mereka sehingga kita menjadi lebih peka, tidak hanya gegeran perkara besaran nilai dana tapi lebih kepada niat tulus untuk menolong mereka.

    Bagaimanapun pendapat sampeyan sangat berguna, moga dibaca para pengambil keputusan. Kita hanya bisa menilai berdasarkan versi masing-masing, dan itu bukan dosa. :D

    Merdeka !!!

  206. 209 MASKIN Desember 2, 2008 pukul 7:39 pm

    Saya tinggal di pedalaman kalimantan. Saya melihat dan mengalami berbagai hal masalah masyarakat miskin dari yang kartu sehat, sktm, askeskin dan jamkesmas.
    Ditempat saya tinggal saat pengelolaan askeskin saya rasa cukup lebih tertib ketimbang menggunakan jamkesmas. kenapa saya bilang begitu, karena pengelolaan jamkesmas mengharuskan pasien dari puskesmas baru dirujuk kerumah sakit. karena menkes berpatokan bahwa pasien miskin akan berobat kepuskesmas dulu baru kerumah sakit, makanya uang pengelolaan jamkesmas tersedia di rek puskesmas dan rumah sakit. karena menkes tidak pernah jalan kepelosok jadi menkes tidak pernah tahu apa semua itu akan terjadi. padahal di tempat saya jelas2 pasien lebih banyak berobat di rumah sakit ketimbang di puskesmas. jadinya dana jamkesmas bisa dipakai buat kesejahteraan pegawai puskesmas sendiri. sedangkan dirumah sakit menerima imbasnya. ga dilayani kasian dilayanitagihan menumpuk. dan tidak ada yang kelar satu pun.
    penglolaan askeskin yang sikelola pt askes lebih baik karena lebih terkoordinir dengan rapi. dan tidak terkesan semeraut. seperti sekarang. kalo saya boleh beri pendapat kepada ibu menkes bagaimana nama boleh apa saja terserah mau jamkesmas atau yang lainnya.cari lah beberapa lembaga yang khusus menangani kartu dan program dan masalah verifikator indenfenden. seperti misalnya kartu dieterbitkan tidak terlalu baku. dengan meminta semua daerah bekerja sama menjangkau tiap pelosok kota dengan hati nurani supaya tidak ada masyarakat miskin yang berceceran. kedua buat program yang lebih baik seperti program askes yang lama cuma program sekarang bisa membatasi penggunaan obat di sesuaikan dengan penyakit dan terapinya gunakan obat2 yang sesuai dengan ibu menkes inginkan jangan pernah ada obat yang keluar dari daftar obat menkes. yang ketiga jika obat terafi yang di berikan oleh dokter diluar daftar obat menkes jadi tanggung jawab pemerintah daerah begitu juga dengan alkes. keempat pegunakan verifikator indenfendent yang benar2 tepat. dipuskesmas juga tenaga verifikator yang ditempatkan secara khusus. biar bisa mengatasi kecurangan. verifikator bekerja untuk menkes dan bisa kapan saja diberi sangsi jika melakukan kecurangan

  207. 210 cakmoki Desember 3, 2008 pukul 4:11 am

    @ MASKIN:
    Moga didenger Bu Menkes :)

  208. 211 andi Januari 20, 2009 pukul 5:53 pm

    @ Cak:
    sampeyan kelihatannya orang hebat:
    menrut Cak, bagus mana pengelolaan yankes maskin?
    program Askeskin oleh Pt Askes atau
    program Jamkesmas oleh Depkes,,,

    thx ya cak…..

  209. 212 cakmoki Januari 21, 2009 pukul 12:10 pm

    @ andi:
    Jika perbandingannya dengan askeskin, maka akan dapat kita nilai setelah melewati periode (kurun waktu) yang sama.
    Kalo ternyata sama aja, kita kritik rame-rame dan kita usulkan untuk kembali ke JPS-BK dengan perbaikan pada sistem pengawasan menggunakan pengawasan model Jamkesmas.

    Menurut saya, pada prinsipnya luncuran dana langsung ke institusi layanan medis lebih bagus daripada melalui pos-pos lain yang bukan institusi layanan medis untuk mencegah kebocoran dana dan penggunaan yang bukan untuk layanan medis plus penunjangnya.
    Dan yang lebih penting lagi, dana tersebut dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh Keluarga Miskin tanpa kesulitan apapun.
    Thanks

  210. 213 cemrawan Maret 14, 2009 pukul 5:15 pm

    Mohon Bantuan ibu menkes
    anak saya lahir tidak memiliki anus dan mengalami infeksi di usus halusnya. kami di rujuk dari RSUD MASOHI MALUKU TENGAH ke RSAB HARAPAN KITA, sampai saat ini kami kesulitan biaya pengobatan dimana telah mencapai 28 juta lebih, anak kami bernama Harits Nashrullah Fersy dirawat diruang seruni, sedangkan kami baru membayar 15 juta belum termasuk resep yang kami tebus 8 juta, saat ini saya sudah tidak punya dana lagi. saya juga binggung kemana saya harus mencari pinjaman…
    Mohon pertolongan ibu menkes…

  211. 214 rain Agustus 28, 2009 pukul 9:45 am

    mas, antara dinkes yang notabene murni pemerintah dan dikelola oleh PNS yang adalah abdi masyarakat, dan PT. ASKES yang setengah pemerintah, walaupun dua-duanya makan duit masih DINKES dan PEMKAB yang jauuuuuhhhhhhhh lebih korup!!!
    PT. ASKES jelas-jelas udah minta sekian persen untuk administrasi. tapi kalo dinkes sama pemkab tilep-nya terselubung dan lebih guedhe ngambilnya!!! coba aja turun ke lapangan. jangan cuman liat persen-persen di atas kertas. lha wong urusan ktp aja ada biaya administrasi resmi kok. emangnya mas bisa bikin kertas sendiri ya? kan dibeli tuh!! apalagi sitem pendataan dan komputerisasi PT. ASKES yang jelas-jelas harus dipelihara. pake duit dari mana coba?? mas yang mo ngasih???

  212. 215 cakmoki Agustus 28, 2009 pukul 6:37 pm

    @ rain:
    siapapun itu, yang suka korup tentu gak bener.
    Sy orang lapangan dan hidup di desa, bukan pekerja yang hanya ngeliat persen-2 di atas kertas dan tidak suka tilap-tilep apapun alasannya.
    Jadi, apapun alasan sampeyan untuk pembenaran, adalah tanggung jawab sampeyan sendiri.
    Trims komennya :)

  213. 216 juzt passing by September 1, 2009 pukul 7:13 am

    @ cemrawan

    Program pelayanan kesehatan ditujukan kepada masy. tidak mampu, termasuk utk kasus2 tertentu spt benar2 kehabisan dana dan tidak mampu lg membayar dengan properti yg dimiliki (SaDikIn), dpt mengajukan permohonan ke Pemda biasanya sey dinas kesehatan melalui UPT Jaminan Kesehatan (klo ada). Stl verifikasi (tnp biaya), dinas akan memberikan surat untuk dibawa ke RS, kmd menjamin biaya pengeluaran atas pasien tsb (Program Pemda ttg pelayanan kesehatan selain Jamkesmas tergantung pada kemampuan APBD Pemda itu sendiri). So ga ada salahnya dateng ke Pemprov/Pemkot/Pemda ybs untuk meminta keringanan atau pembebasan biaya kesehatan (catatan : hal ini ditujukan kpd masy yg *benar2* tidak mampu),, gut luck.

    @ rain

    Smua pengenaan biaya harus didasarkan atas aturan yang melandasinya! Bila anda merasa ada hal yang kurang tepat atau siapapun merasa ada pengeluaran diluar koridor dan tidak tepat menurut hukum, anda dapat melaporkan hal tsb ke instansi berwenang dan tentunya akan lebih baik lagi jika anda membawa bukti hitam diatas putih (tertulis) atau lainnya terhadap hal tsb.
    PT Askes dalam membiayai program pemerintah, terutama jamkesmas telah dituangkan kedalam juknis tersendiri baik melalui joint cost maupun full costing. Dan dana tsb telah diturunkan scr berjenjang dari Pst-Reg-KC-.. sesuai dengan plafon dan RKA.
    Jadi sekali lagi jika anda atau siapapun dapat membuktikan tlh terjadi tindakan melawan hukum sebaiknya segera dilaporkan atau dipublikasikan lwt media massa dan tentunya dengan bukti yang cukup. smoga dpt membantu. hav a nis day

    @@ Juzt passing by @@

  214. 217 cakmoki September 1, 2009 pukul 1:21 pm

    @ juzt passing by:
    Makasih telah memberikan jawaban sangat lengkap :)
    Sy sudah agak males nanggapi komentar yang hanya murang-muring dan sumpah serapah gak jelas, kebanyakan tidak dilandasi kesadaran untuk membantu gakin tapi nampak jelas karena masalah “bagian”… hahaha
    Sekali lagi, maturnuwun

  215. 218 nuan Oktober 22, 2009 pukul 1:44 pm

    lha … kirain isinya apa… taunya opini opini pribadi tok… sama aja ngomentarin jengkol… yang doyan pasti bakal bilang jengkol itu enak… yang gak doyan, sampe mati bilang jengkol itu gak enak… mau askeskin, jpsbk, atau jamkesmas ya kalau dikelola dengan baik ya hasilnya baik. apa iya jpsbk gak ada yang korupsi, apa iya dana turun langsung gak ada yang korupsi… lha jangan gara gara nol koma sekian persen tidak terlayani trus berarti semuanya rusak…. semuanya opini tho.. sama seperti opini saya tentang tulisan cakmoki yang gak berisi, sampe mampus juga cakmoki akan membalas kalau opininya pualing mantep… ujung – ujung mnegedepankan opini dari fakta ilmiah… lha sama aja sama rumpian ibu ibu di depan gang

  216. 219 cakmoki Oktober 22, 2009 pukul 2:59 pm

    @ nuan:
    ga sependapat koq sewot sih ??? :D

  217. 220 landri Oktober 26, 2009 pukul 11:11 am

    ayo berantas korupsi !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  218. 221 cakmoki Oktober 26, 2009 pukul 2:43 pm

    @ landri:
    setuju !!!

  219. 222 intan Januari 28, 2010 pukul 1:00 am

    wih seru yah kalo semut diseberang laut kelihatan, tapi gajah di depan mata diucek-ucek juga ga berbentuk. Masalah Askeskin? terang aja banyak nyimpang Birokrasi ngejlimet tapi kudu transparant & sempurna. Coba mana ada produk manusia yang sempurna, udah ga usah bigos… mening introspeksi diri sudahkah aku bayar zakat? kaum yang repot nasi emang makin banyak kok, kita juga tutup mata. Kalo udah ada yang ngurusin jangan dibikin senewen. Lagian amal-amalan orang juga pas sakit itu cepet terlayani/malah dicuekin.
    Pengalaman saya sih orang yang punya sedikit info malah yang seneng perbesar masalah.

  220. 223 cakmoki Januari 28, 2010 pukul 2:36 am

    @ intan:
    loh… maksudnya apa tho? Silahkan beropini lebih terarah

  221. 224 cakmoki Maret 13, 2010 pukul 4:32 pm

    @ dd149:
    Saudara dd149 *kenapa takut menampilkan jati diri?*
    Perhatikan jawaban saya dengan seksama:
    Saya paling tidak suka ada orang berani mengancam saya dengan kata-kata : kena uu it dipenjara loo…
    Gaya anda ini hanya mengingatkan saya pada oknum-2 masa orde baru yang sok berkuasa. Saya sudah terlalu sering mendapatkan teror, dan saya tidak pernah surut … tidak seperti anda yang tidak berani menampilkan jati diri anda. Dari sini saja, sungguh, saya tidak ada respek terhadap anda. Boleh anda berbeda pendapat, tapi jangan pernah mengancam… Mengerti ?


  1. 1 Tambah atau kurang 1, Cakmoki ? « Pieces of Mind Lacak balik pada Februari 19, 2009 pukul 12:01 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 4,630,363 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 550 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: