Menilai Hasil Lab

Para dokter dibekali ilmu pengetahuan kedokteran secara bertahap, berkesinambungan dan sistematik, sejak di bangku kuliah hingga akhir hayatnya. Ilmu-ilmu dasar pre-klinik yang serba ruwet dan membosankan itu akan bermuara pada bagaimana menegakkan diagnosa, baik diagnosa klinis perseorangan, keluarga maupun diagnosa komunitas.

Dus,mestinya para dokter sudah pernah membaca berpuluh bahkan beratus texbook nan tebal plus jurnal-jurnal terkini (kecuali yang menganut aliran belajar handout fotokopian untuk ujian doang … hehehe sorry :P ). Inipun belum cukup tanpa aplikasi dan ketrampilan teknis medis di arena sesungguhnya (menghadapi pasien)

Pada posting sebelumnya sudah disebutkan urutan untuk menegakkan diagnosa,yakni: anamnesa (wawancara, jika bayi anamnesa melalui orangtuanya), pemeriksaan fisik (inspeksi or melihat, palpasi or memegang, perkusi or menepuk, auskultasi or mendengarkan) dan pemeriksaan penunjang (laboratorium, rontgen, usg, ivp, mri, ecg, eeg,ct-scan … walah banyak banget) jika diperlukan.

Menilik urut-urutan di atas, maka pemeriksaan klinis adalah prioritas utama, dan dilakukan pemeriksaan penunjang jika diperlukan untuk: membantu menegakkan diagnosa, memastikan diagnosa, menyingkirkan diagnosa banding.
Artinya, pemeriksaan penunjang akan dilakukan jika ada alasan-alasan tersebut. Namun ada pula pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk kepentingan lain, misalnya: ceck-up dan lain-lain.

Pada kenyataanya, ada sementara orang yang hanya memeriksa laboratorium lantas menilai atau mendiagnosa hanya berdasarkan hasil labotarorium. Tak apa jika semuanya dalam wilayah batas normal. Jika ada sedikit bias di luar angka normal, maka hebohlah dia.

Perlu diketahui bahwa sebagian kumpulan angka-angka laboratorium tersebut adalah sekumpulan nilai median dari sekumpulan angka yang bisa jadi tidak sama ukurannya pada masing-masing sentra RS atau Laboratorium Klinik.

Nah, atas dasar latar belakang pengetahuan itulah seorang dokter dituntut untuk memahami bahwa pemeriksaan laboratorium adalah pemeriksaan penunjang yang berjalan seiring dengan pemeriksaan klinis. Artinya, jika ada sedikit nilai bias di luar nilai normal tidak lantas serta merta mendakwa seseorang menderita penyakit tertentu trus nilai-nilai bias tersebut dilingkari warna merah disertai fatwa tidak boleh ini itu tanpa pemeriksaan klinis. lha kalo orangnya segar bugar piye,hayo !!!

Alhasil, penilaian hanya berdasarkan hasil laboratorium tak jarang memunculkan istilah rancu, misalnya: Gejala Demam Berdarah, Gejala Typhus, Gejala Asam Urat, Gejala Diabetes Melitus, Gejala mbuh apa lagi. *kalo diagnosa ini nyampai ke WHO, mungkin jadi bahan tertawaan*.
Hati-hati lho, penilaian yang tidak bijak justru bisa menyebabkan seseorang menjadi stress, gak bisa tidur, kepikiran akhirnya sakit saking khawatirnya.

Hati-hati pula jika menyangkut prasyarat penerimaan karyawan. Penilaian hasil laboratorium semata tanpa pemeriksaan klinis beresiko kesalahan interpretasi dan dapat berujung pada tuntutan. Lha …kan.

CONTOH KASUS:

Seorang calon karyawan, pada pemeriksaan laboratorium menunjukkan HBsAg (-), HBsAb (+) dan oleh dokter pemeriksa didakwa Hepatitis B, padahal orangnya segar bugar. Lantas dicoret, gak diterima. Ketika si calon karyawan mengantongi keterangan dari dokter lain yang menyatakan bahwa orang tersebut tidak menderita Hepatitis B dan penjelasan tertulis bahwa HBsAb menunjukkan adanya zat kekebalan, maka pencoretan urung, alias diterima. Beruntung tanpa tuntutan.

Masih banyak contoh-contoh lain menyangkut kadar kolesterol, asam urat, gula darah, dll..yang menyebabkan seseorang menjadi stress lantaran kurang bijak dalam menilai hasil Laboratorium.

Ada yang lucu. Seorang tetangga masuk RS dengan Diare trus diperiksa Laboratorium beraneka ragam, salah satunya disebutkan menderita Gejala kolesterol plus larangan makan jeroan, dll, dll ….panjang deh. Si pasien ketika pulang dari RS terkekeh karena dia makan jeroan nunggu kalo ada kondangan or selamatan, so tanpa dilarangpun dia gak bakal makan jeroan .. hehehe.

Karenanya, kepada para pembaca wa’ala alihi wa shohbihi ajma’in, jika ada sedikit penyimpangan hasil laboratorium, jangan keburu panik. Tak ada salahnya minta pendapat dokter lain yang dipercaya sebagai second opinion, kalo perlu minta pendapat beberapa dokter, gak papa, gak bayar (maksudnya di Blog) :D

Ringkasan Laboratorium Normal silahkan download di sini … perlu diingat bahwa nilai normal Laboratorium tidak mesti sama, so tenang aja deh.

 

 

 

About these ads

35 Responses to “Menilai Hasil Lab”


  1. 1 Fajar Rudy Q Januari 9, 2008 pukul 11:26 pm

    Kejadian yang disampaikan Cakmoki memang betul – betul membuat kita prihatin….
    Lab. klinik yang tumbuh bak cendawan di musim penghujan ( Cak…Jawa Timur banjir…)berusaha menyetir TS dengan ‘segebok’ pemeriksaan panel lab. Malah seperti yang disampaikan Dr. Untung Sp.PD kepada saya: …..”Di beberapa tempat cukup banyak pasien datang ke laboratorium tanpa membawa surat pengantar dokter , prosesnya juga cukup mudah dan tidak berbelit, sesampainya di laboratorium mereka tinggal menyebutkan jenis pemeriksaan yang di-inginkan dan petugas laboratorium dengan hikmat penuh hormat akan membantu pengisian lembar permintaan pemeriksaan dengan mencantumkan tanda APS ( Atas Permintaan Sendiri)”.
    Selanjutnya seperti yang dikisahkan cakmoki, kumpulan angka2 tsb menjadi justifikasi pasien…..tanpa melihat DP pasien tsb.

  2. 2 huda Januari 10, 2008 pukul 12:29 am

    Dokter lab/radiologi kan juga harus bertanggungjawab atas diagnosa lab nya.. jadinya untuk cari aman, mereka kayaknya lebih milih untuk menulis ‘suspect’, jadi klo salah tanggungjawabnya ada di dokter yg merujuk ya..? :D

  3. 3 Astri Januari 10, 2008 pukul 6:14 am

    soalnya pasien sudah merasa pintar :)

  4. 4 Warta Medika Januari 10, 2008 pukul 1:17 pm

    Menarik tulisannya Pak. Di Indonesia, jangankan pemeriksaan lab yang relatif tidak langsung menyebabkan efek pada tubuh, obat-obatan yang mesti didapatkan dengan resep aja (yang jika salah pake dapat menyebabkan efek negatif bagi penggunanya), gampang dibeli bebas. Percaya?! Silakan datang ke apotik atau toko obat (sebagian, gak semua), bilang aja lagi sakit pilek, dan butuh antibiotik, bakal dikasih. Atau lagi nyeri sendi karena asam urat, butuh piroksikam, bakal dijualin.

  5. 5 cakmoki Januari 10, 2008 pukul 2:28 pm

    @ Fajar Rudy Q:
    hmm, jadi emang sudah merata dan melibatkan banyak pihak saling terkait ya … kayak gurita, sulit mencari ujung-pangkalnya.
    Malah ada kalanya petugas lab juga ikut mendiagnosa …walah

    @ huda:
    hehehe, tahu aja :D … suspect dan DD, aman deh

    @ Astri:
    tapi seringnya ketakutan mbak :)

  6. 6 sibermedik Januari 10, 2008 pukul 5:37 pm

    halah cak…di indonesia itu unik..pasien Hb 6gr% aja masih bisa jalan2..”pusing pak?”..”mboten niku mas dokter” jawab pasien..

    kadang lab bisa menipu *dimarahi dosen PK niy*…spesifitas & sensitifitas alat+hasil diagnosis gak match ama penampilan klinis..

    HANYA ADA DI INDONESIA..*niru Seputar Indonesia*

  7. 7 sibermedik Januari 10, 2008 pukul 5:41 pm

    tentang Lab HBsAg(-) vs HBsAb (+) apa ndak dilihat HBeAg&HBcAg nya? siapa tahu masih Window period? apalagi penampilan klinis & anamnesis kan udah 70-80% diagnosa? pmx lab penunjang berperan 10-20%..

    Maaf gak ada maksud sok keminter..cuman pengen diskusi..maklum ilmu sibermedik masih sak jentik..he..he :-D

  8. 8 aRuL Januari 11, 2008 pukul 1:11 am

    jadi belajar nih di sini :)

  9. 9 fahroe Januari 11, 2008 pukul 2:35 am

    ralat

    misalnya: ceck-up dan lain-lain.

  10. 10 cakmoki Januari 11, 2008 pukul 2:35 am

    @ sibermedik:
    iya, makanya klinis sangat penting, (bukan berarti meremehkan lab lho) soalnya kalo melulu mengandalkan Lab, ntar kepekaan klinis hilang, kalo tugas di daerah bubar deh, bingung gak bisa diagnosa.

    Soal HBsAg dan HBsAb, hanya itu yg tertera di form penerimaan calon karyawan. Di atas udah tertulis, orangnya segar bugar, klinis yo gak ada apa-apa. Kulit virus or bagian lain yg gak patogen juga bisa menimbulkan reaksi imunologi lho, so klinis tetap jadi patokan utama.

    @ aRuL:
    ruwet ya :D

  11. 11 cakmoki Januari 11, 2008 pukul 3:54 am

    @ fahroe:
    lanjutan komennya ? :)

  12. 12 aRuL Januari 11, 2008 pukul 3:56 am

    *OL dini ahri nih ngebalas koment :D*

  13. 13 cakmoki Januari 11, 2008 pukul 5:50 am

    @ aRuL:
    hehehe, iya Daeng..lagi nunggu subuh sekalian :D

  14. 14 suandana Januari 11, 2008 pukul 11:05 am

    Kok jadi tambah takut mau pergi ke lab ya… :?

    Ada cerita di keluarga saya, tentang seorang anggota keluarga yang berangkat ke lab untuk cek darah dalam keadaan sehat walafiat, segar bugar, tanpa ada keluhan apapun. Tapi, begitu diberitahu hasil diagnosanya (istilah yang dipakai, gulanya tinggi ), langsung lemes dan pulangnya dak bisa nyetir sendiri (harus dibonceng). Sejak saat itu, kesehatan beliau terus memburuk dan tidak pernah lagi mencapai kondisi seperti semula sampai meninggalnya.

    Waktu rasan-rasan di kalangan keluarga sendiri sih, diambil kesimpulan bahwa itu karena sugesti…

    Nah, membaca tulisan Cak Moki, saya jadi teringat kasus tersebut. Jadi, saya mau usul… Bagaimana kalau hasil diagnosa lab itu disampaikan dengan bahasa yang tidak terlalu menimbulkan kekhawatiran pasien? Karena sugesti itu ternyata sangat penting dalam sebuah proses penyembuhan…

    *baca ulang* :roll:
    Walah… malah curhat… mohon dimaafkan… m(_ _)m

  15. 15 kangguru Januari 11, 2008 pukul 9:55 pm

    kalau ke dukun pasiennya ngak perlu dibawa pak, cukup bawa fotonya saja :)

  16. 16 juliach Januari 11, 2008 pukul 10:02 pm

    Kasihan ya di Indonesia kalau jadi karyawan harus sehat 100%, kena Hepatitis sudah ditolak kagak boleh kerja. Duh mak, semakin ruwet…

  17. 17 dokterearekcilik Januari 12, 2008 pukul 12:08 am

    Apalagi jarang ada lab yang mencantumkan nilai normal untuk anak, jadi deh ruwetnya.

  18. 18 cakmoki Januari 12, 2008 pukul 1:17 am

    @ suandana:
    beberapa kasus serupa saya jumpai di tempat praktek. Kalo sudah tersugesti karena cara penyampaian yang tidak bijak atau malah ngawur akan berakibat “psikosomatis” yakni sakit yang diakibatkan oleh “kecemasan”. Dan kalo sudah begitu sangat sulit meyakinkan bahwa sebenarnya gak ada kelainan, atau kalo toh ada kelainan bukan sesuatu yg serius. Namun meyakinkan orang yg sudah tersugesti tidaklah mudah.

    Ada seseorang dikatakan “gejala Kencing Manis” oleh seorang dokter, padahal Gula Darah “tidak puasa” menunjukkan 149 mg% dan itu artinya Normal. Apa yg terjadi? Orang tersebut stress berat, gak mau makan, gak bisa tidur sampai kondisinya melemah. Perlu beberapa minggu untuk meyakinkan bahwa hasil Lab nya Normal bin Tidak Ada Apapun …

    So saya sependapat, kalaupun ada kelainan, yang pertama diucapkan seorang dokter mestinya “support” lebih dahulu sebelum memberi tahu kelainannya, inipun harus melihat kondisi psikis yang bersangkutan, tidak main tembak aja.
    Trims masukannya Mas

    @ kangguru:
    katanya, Foto gak cukup pak, masih ada satu syarat lagi: Amplop :D

    @ Juliach:
    iya mbak, perlindungan terhadap karyawan, apalagi calon karyaman, sangat lemah. Emang gak semua begitu sih, namun kayaknya kecenderungan main hakim model begitu boleh dikata merata.

    @ dokterearekcilik:
    eh, jarang ? berarti ada yang mencantumkan kan Mas ? Perasaan sih saya gak pernah lihat nilai normalnya, khususnya untuk anak. So, makin ruwet … gimana di sana? di sini adakalanya petugas lab ikutan mendiagnosa sampai dokternya kalang kabut untuk mengkoreksi..hehehe

  19. 19 dwee Januari 19, 2008 pukul 3:09 pm

    pembimbing wi si bilang: dokter tu ngobatin penyakitnya, bukan hasil labnya. jadi teteup, klinis no 1. lab tuh sering menipu, suer deh, halah :p

  20. 20 cakmoki Januari 19, 2008 pukul 3:48 pm

    @ dwee:
    iya dwee, suerrrr juga deh :)

  21. 21 Stethoscope_guy Januari 21, 2008 pukul 11:00 pm

    Aku kepikiran, lama-kelamaan ada yang namanya doctor-robot. Dimana, nanti dokter itu hanya robot diprogram dengan software komputer yang dijejelin data soal gejala-gejala dan hasil-hasil lab.
    Jadi pasien datang, langsung ketak-ketik aja gejalanya apa, hasil labnya apa, trus..

    eng..ing..eng..

    Keluar secarik kertas (seperti dari mesin ATM), berisi Diagnosis PLUS resep therapinya. He..He.Bisa ga tuh..
    Makanya dengerin Pak Guru bilang: “Kedokteran itu seni (art), ga bisa diganti ama robot”

  22. 22 cakmoki Januari 22, 2008 pukul 4:04 am

    @ Stethoscope_guy:
    udah dijawab sendiri tuh, hehehe :)
    ya gak mungkinlah, kecuali kalo pasiennya juga robot

  23. 23 Stethoscope_guy Januari 24, 2008 pukul 7:49 pm

    Cak..ada yang aneh lagi nih..
    Diagnosis pake iris mata: iridologi.
    Saya dah bikin artikelnya di blog saya. Judulnya:
    “Iridologi: Suatu Kebohongan”.

    Main yah kapan-kapan.
    wwww.indonesianmedical.blogspot.com

    Regards

  24. 24 n0vri Januari 24, 2008 pukul 10:49 pm

    Makasih Cak…
    jadi inget udah saatnya general check up lagi…
    nanti hasilnya boleh konsultasi cakmoki kan?

  25. 25 cakmoki Januari 25, 2008 pukul 1:47 am

    @ Stethoscope_guy:
    iya…berarti sakti kalo pakai jurus itu :)
    saya dah baca, cuman gak komen…sip

    @ n0vri:
    wah hebat, rajin juga nih :)
    ok, ntar kita diskusikan bersama

  26. 26 appung78 April 28, 2009 pukul 1:48 pm

    Iya mass, aku juga pernah mengalami hal yang sama. Waktu mau studi di Saudi thn 2002, aku divonis menderita hepatitis B oleh salah satu medical cek di bilangan Tebet Jakarta. Tapi ketika aku cek ulang ke Rumah Sakit Cipto, hasilnya negatif. Tapi apa boleh buat, pihak medikal gak langsung terima dan aku-pun ketinggalan romnbongan hingga sampai saat ini gak jadi berangkat kesana. mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi kita.

  27. 27 cakmoki April 28, 2009 pukul 11:26 pm

    @ appung79:
    Ya… mudah-mudahan gak terjadi seperti itu. Karena itulah diperlukan cross ceck ke Lab lain untuk konfirmasi jika hasilnya meragukan.
    Makasih sharingnya ya … :)

  28. 28 krommmmmod Mei 12, 2009 pukul 3:29 am

    masalahnya saat ini hasil lab selalu menjadi suatu patokan akan perkembangan penyakit pada individu. sebagai contoh ; teman saya sangat kritis akan kondisi penyakitnya. saat dia demam selama 4 hari dia masuk RS, dan di rawat inap. pada hasil lab dia “didakwa” typus. makanya dia khawatir akan kondisinya dan dia tidak mau pulang dari RS jika hasil lab typusnya masih positif. padahal untuk menuggu hasil typus itu negatif membutuhkan waktu kurang lebih 1 tahun. karena kuman salmonella typosa hidup pada lingkungan yang lembab, sedangkan usus kita bukan hanya lembab bahkan basah dan banyak makanan.tentu saja jika ingin cepat menghilangkan kuman itu kita harus minum racun. nah disini yang penting bukan hasil lab yang jadi patokan tapi kita harus bisa membedakan rasanya saat sakit dan ketika kita sehat. wasssssssssss

  29. 29 cakmoki Mei 12, 2009 pukul 12:08 pm

    @ krommmmmod:
    wah, bener-bener udah salah kaprah… :)
    Silahkan baca lagi posting tentang widal dan tifus pada link berikut:
    1) Tes Widal Untuk Tifus
    2) Dok, saya punya gejala tifus
    Termakasih… wasss

  30. 30 paimin Mei 22, 2009 pukul 11:40 am

    pada ngomongin apaan sih……… ribet bgt…
    mau tulis suspek r ga tgt sikontolpanjang(situasi kondisi toleransi pandangan dan jangkauan)
    liat2 dulu lha, kl dbd ya mestine ditulis suspek….. wong virus kok…… kl cuma dari hasil cek trombosit kan blom tentu dbd…….
    biar who tertawa juga ga papa, kl mau who mestinya bantuin tuh bikin lab2 disluruh tanah air, jadiin indonesia dokternya digaji pemerintah semua dgn standar gaji dunia,pake sistem asuransijuga, ga boleh ambil duit dr pasien yg bole cuma gaji dr pemerintah tok(tp standard internasional). gaji kta pns tuh 1,7jt alias 170 dollar, plus tujangan2 (tki ja bisa diatas 1000 dollar tanggung jawab ringan, dokter tanggung jawb berat, gaji kecil, kerja usaha sebaik2nya, masi dimaki2 ga ada trima kasih, karepe opo) standar lab di plosok ga ada, maunya minta perfect, mana bisa

  31. 31 cakmoki Mei 23, 2009 pukul 3:02 am

    @ Paimin: :) koq nampaknya pesimis sih … ayo bangkit.
    Tak ada yang bisa berubah tanpa perjuangan. Mending kalah terhormat ketimbang sambat dan menggerutu … gimana ?
    Met berjuang :)

  32. 32 cakmoki Januari 5, 2010 pukul 5:28 am

    @ WakWau
    soei_lucky@yahoo.com
    202.152.243.162:

    Maaf Mas, komen anda saya berangus, tidak layak tayang. Lagi pula anda tidak punya cukup keberanian untuk menunjukkan jati diri :) … sebaiknya ganti email lagi untuk komen yang elegan.
    Trims

  33. 33 Maul Mei 12, 2011 pukul 12:57 pm

    cak Moki, saya mau konsultasi hasil lab dong…
    Anak saya terkena campak dan disuruh tes lab sama DSA. Hasilnya sbb:
    Hemoglobin 12.3 g/dL
    Eritrosit 4.4 jt/UL
    Hematokrit 35%
    MCV 80fL
    MCH 28 pg
    MCHC 35 g/dL
    Lekosit 4.820/uL
    Hit Jenis: EOS 1%, Baso 3%, Stab 0, Seg 27%, Limf 64% dan Mono 5%
    Trombosit 185.000
    LED 27-52

    Urine
    warna kuning
    kejernihan jernih
    berat jenis 1.010
    pH 6.5
    Protein, Glukosa, Keton dan Bilirubin : Negatif
    Urobilinogen Normal
    Lekosit Negatif
    Darah Negatif
    Nitrit Negatif

    Minta tolong dijelaskan maksudnya apaan ya cak..terutama yg keluar dari range normal.
    trimakasih

  34. 34 cakmoki Mei 12, 2011 pukul 1:29 pm

    @ Maul:
    Hasilnya ga papa .. gak ada yg perklu dicemaskan
    Pada penyakit campak tidak diperlukan pemeriksaan alb karena akan sembuh dalam 1-2 minggu .. ntar hasilnya suka ngaco sehingga kerap menimbulkan kepanikan pada penderita atau keluarganya soalnya kalo ada nilai di luar nilai rujukan dikira ada apa-apa.. padahal, kalo sedang infeksi, walaupun hanya campak, hasil lab bisa tidak sesuai dengan nilai rujukan (range normal)… semenatara itu, kalaupun ada yg gak sesuai dg nilai rujukan (range normal), toh akan normal dengan sendirinya seiring dengan penyembuhan campak dan pemulihan kondisi tubuh.

    Makasih


  1. 1 Menjaja Laboratorium « cakmoki Blog Lacak balik pada Januari 15, 2008 pukul 2:48 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 4,943,510 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 555 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: