Ongkos Dokter

MENGUAK LACI KAMAR PRAKTEK DOKTER

Berapa sih biaya periksa ke dokter praktek ? Dokter umum, Dokter spesialis … di kota, di ndeso ™ or di daerah tertentu ?
Jawabnya tentu beragam bergantung pada tempat ( kota ), kawasan (elite, setengah elite, kumuh, dll … dll ), jenis spesialisasinya, ada kerjasama atau tidak dengan pihak ketiga ( asuransi, dll dll ), ada tidaknya tindakan medis tambahan dan masih banyak variabel terkait biaya periksa (atau ada yang menyebut konsul) ke dokter praktek.

Sejauh ini penulis belum menemukan referensi soal ini. Kalaupun ada IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Cabang (tingkat kota or kabupaten) yang mengatur biaya praktek dokter, masih bersifat insidental, dalam artian kadang ada kadang tidak. Belum lagi masalah kepatuhannya. Rumit deh.

Penulis tergerak mengangkat soal ini mengingat adanya keengganan para pasien untuk berobat ke dokter praktek, dengan salah satu alasan adalah biaya, disamping harga obat yang kalau ditebus di apotek mencapai ratusan ribu rupiah. Ini dapat dimaklumi. Bayangkan saja jika dua orang anggota keluarga sakit, lantas sekalil berobat memerlukan dana ratusan ribu rupiah, lha kalo 2 orang berobat plus nebus obat di apotek, huaaaaaaa … sereeem.
Kita tidak bisa menggunakan kalimat shortcut semisal: ” sehat emang mahal ” semata, namun ada hal lain yang perlu dipertimbangkan khusunya oleh para dokter.

Tulisan ini dimaksudkan mengajak peran serta aktif para pembaca untuk menyampaikan sumbangsihnya atau menyampaikan uneg-unegnya. Bukan untuk membuat kebijakan sih, sekedar menyampaikan uneg-uneg kan ya gak papa toh ? Siapa tahu suara hati para pembaca dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh para dokter yang kebetulan ikut membaca tulisan ini. Atau setidaknya akan dijadikan bahan pertimbangan penulis untuk ikutan membantu para pasien yang memerlukan jasa dokter praktek…ehm.

BISIK-BISIK BIAYA PERIKSA DOKTER PRAKTEK DI SAMARINDA

Berdasarkan hasil wawancara dengan para pasien dan temen-temen dekat, komposisi biaya periksa dokter praktek di Samarinda hingga saat ini adalah sebagai berikut:

  • Dokter Umum: di wilayah pinggiran, biaya periksa sak suntiknya berkisar antara 15.000 hingga 30.000 sekali datang. Sebagian ada yang memberikan keringanan biaya pada kunjungan berikutnya jika penyakitnya mengharuskan kunjungan beruntun 2-3 kali, atau jika 2-3 orang berobat bersamaan dalam satu keluarga. Sedangkan di wilayah perkotaan, biaya periksa sak suntiknya berkisar antara 25.000 hingga 50.000 rupiah sekali datang. Ada tidaknya keringanan sulit dilacak.
  • Dokter spesialis: ok, bergantung pada jenis spesialisnya, namun secara garis besar berkisar antara 60.000 hingga 120.000 rupiah sekali kunjungan. Ada tidaknya keringanan juga sulit dilacak. Sampai-sampai ada guyonan diantara para pasien kalo berobat ke kota harus siap uang 500.000 ribu sak nebus obatnya di apotek. Ada lagi yang mengatakan: ” sak dudulan (sekali colek) senilai 90.000 rupiah, belum obatnya ” … hehehe, ada-ada saja.

Catatan:
Di wilayah pinggiran yang jauh dari apotek, rata-rata dokter menyediakan obatnya sekaligus (dispensing) karena tidak mungkin harus nebus obat sejauh lebih 10 km melewati jalanan sepi nan gelap dan semak belukar di malam hari. Selain gak praktis, biayanya pasti lebih muahaaallll. Ini kata pasien lho :P

Pada dasarnya, pasien tidak pernah menawar biaya berobat, kecuali mungkin di ndeso ™ :P . Halo mbak Astri, di kota ada yang nawar gak? Mungkin bagi mereka yang paling penting adalah kualitas layanan dan tentu penjelasan seputar penyakitnya dan tentu pingin segera sembuh. Ada juga yang berguman: ” berapapun biayanya yang penting sembuh … “
…olala.

Tadi ada gadis mungil usia 5 tahun berkata ke penulis: ” aku mau jadi dokter aja ah, enak…banyak duitnya “ … amiiinnnnnnnn.

So, bagaimana menurut pembaca ?

:: :: :: tulisan ringan menjelang lebaran :: :: ::

Blogged with Flock

Tags: , , , ,

About these ads

46 Responses to “Ongkos Dokter”


  1. 1 Astri Oktober 4, 2007 pukul 11:43 pm

    pertamax :D
    biaya periksa dokter itu sebenarnya fleksibel kok. Kita juga bisa merasakan kesulitan pasien… cuma bayar obat yang gak bisa ditawar. Kalo kita nggak kasih obat masih ada pasien yang heran, nggak dikasih obat kok disuruh bayar; kalo pas perlu dan dikasih obat generik complain, dikasih obat paten, lebih complain lagi :(
    Pusing jadi dokter jaman sekarang….

  2. 2 Astri Oktober 5, 2007 pukul 12:06 am

    Nawar sih nggak… Karena di tempatku (bukan praktek pribadi lho ya…) tarif berobat dipasang jelas-jelas… Pilihannya ditarik UP atau digratiskan. Kalo yang berobat satu keluarga UPnya gak dihitung dua atau lebih tapi harga 1 keluarga (30 ribu nek gak salah). Trus untuk pasien kontrol dalam waktu kurang dari 3 hari digratiskan.
    Nek aku sudah praktek sendiri mungkin akan mengambil policy yang kurang lebih sama seperti di atas.

  3. 3 almascatie Oktober 5, 2007 pukul 12:30 am

    perhitungannya beda bener ya cak.. *binun*

  4. 4 telmark Oktober 5, 2007 pukul 1:00 am

    gini deh cak….
    kalau saya menderita sakit pinggang akibat pembukuan yg banyak,(plus duduk terus “memposting” tulisan terakhir yg lumayan panjang) dan saya berobat ke Samarinda (jauh bener… ;) ), kira2 berapa saya kena charge utk sekali datang, yg kedua, dan kalau tak kunjung sembuh juga, berarti ada yg ketiga dan selanjutnya. dan berapa kira2 obat di apotik setempat. apa kalau tak kunjung sembuh juga, Dokternya kasih diskon ?

    itu hanya kalau “berobat biasa”. berapa kira kalau saya minta di scan utk daerah pinggang (bolak-balik plus menyamping kan ?)

    *lagi sakit pinggang… masih berpikir utk berobat ke Samarinda*

  5. 5 cakmoki Oktober 5, 2007 pukul 2:17 am

    @ Astri,
    itu di Surabaya apa Sidoarjo ? Atau mirip?
    kalo dikasih generik komplain, merk dagang juga komplain, kasih menyan aja deh :lol:
    …udah minggu depan praktek sendiri aja mbak, enak lho, bisa sambil kipas-kipas..hehehe

    @ almascatie,
    disana gimana Om ?
    sebenarnya gak njlimet koq, masuk..colak-colek, bayar … hehehe
    mungkin gak sama nominalnya aja

    @ telmark,
    ke Palaran aja deh, freeware…opensource …
    datang disambut karpet merah (bawa sendiri), pulangnya bawa oleh-oleh..hehehe
    Scan mahal, ratusan ribu…mungkin gak selalu perlu. Kalo untuk pinggang cukup rontgen depan-belakang dan samping.
    Tapi sebelumnya kasih obat anti nyeri dulu, kali hanya pengaruh posisi duduk yang lama *kebanyakan posting*

  6. 6 Fa Oktober 5, 2007 pukul 5:49 am

    hihihi…
    biaya dokter mahal sih mungkin masih wajar ya Cak (ini mahal utk ukuran siapa? pake ukuran saya saja yg pengangguran ya :D) soalnya dokter sekolahnya juga kan nggak murah (katanya begitu :p), tapi yg nyebelin itu kalau…

    Dokter: ngasih resep obat2 merk luar negeri
    Pasien: “bisa diganti yg generik nggak ya Dok?” atau “apa ada versi generiknya?” (harap2 cemas karena inget di dompet duitnya ada berapa)
    Dokter: “klo nggak sembuh saya nggak nanggung ya” (ketus pula)
    Pasien: “memangnya kalau yg ini pasti sembuh ya Dok?” (polos…eh bodoh banget kali ya? :p)
    Dokter: “ya dicoba dulu aja, nanti 5 hari lagi kalau nggak sembuh balik lagi”

    hihihi…

  7. 7 evi Oktober 5, 2007 pukul 8:48 am

    wah soal tarif ini yang menarik….

    di jkt, juga tergantung RS nya, klo pemerintah kyk fatmwati atao RSPAD msh agak mendingan maksudnya tarif dokter spesialis msh kisaran 100 rb-an.
    RS swasta juga tergantung, spt hotel ada bintang 3 ato bintang 5,
    spt dkt saya ada RS puri cinere tarif dokter spesialis tergantung pd spesialisasinya dan tingkat ke senioran dokternya.
    DSA senior 150 rb, DSOG senior dulu 2 thn yll 120 rb. itu blm termasuk administrasi.

    klo praktek di rumah spt DSA tetangga saya tarifnya 100 ribu.
    tp klo bilang pake kuitansi, ditulisnya jadi 150 rb hehehe….

  8. 8 itikkecil Oktober 5, 2007 pukul 10:07 am

    Ya itu dok…. ada kesan dokter itu kan mesin pencetak uang :mrgreen:
    Dan saya sebal kalo ada dokter yang langsung kasih obat paten yang harganya bujubune mahalnya.
    Bukankah ada medical record, kan ketahuan obat apa yang dipake sama dokter yang sebelumnya?
    Soal obat murah ini, saya pernah dibilangin sama sang dokter. Kalo mau cepet sembuh pake obat yang mahal. Tapi kan kamu minta obat yang murah. Jadinya sembuhnya lebih lama….

  9. 9 iamedel Oktober 5, 2007 pukul 10:31 am

    Saya pernah nganterin ibu saya ke dokter spesialis tulang di RS daerah Grogol. Dokter yang punya embel-embel Prof di depan namanya ini ini konon katanya bagus banget, nunggunya aja lama bener, udah kayak meet n greetnya Westlife pas dateng Jakarta.

    Dalam ruang periksa, lengan ‘dipegang-pegang’ selama < 45 detik saja dan disuruh bayar 250rb!(tanpa obat loh) Trus dibilang ini uratnya kejepit dan dikasih surat tuk rontgent.

    Minggu depannya ibu saya datang lagi, ngasih hasil rontgent ke dokter. Eh dokternya bilang, “Gak usah, disimpan ajah” dan operasipun dimulai.

    Ibu saya sembuh sih sembuh, tapi tarifnya itu loh aga-aga mencekik leher. Dan yang paling nyebelin adalah hasil rontgent ratusan ribu dilihat juga enggak -.-;

  10. 10 Astri Oktober 5, 2007 pukul 11:53 am

    Hai Cak…
    Itu yang dipinggirannya Surabaya dan Sidoarjo (baca: Waru). Praktek sendiri, mesti melancarkan rayuan pulau kelapa ama dokterearekcilik :D

  11. 11 Yandhie Dono Oktober 5, 2007 pukul 12:17 pm

    Andai semua dokter macam Cak Moki… Canggih, tanggap teknologi, open source, murah ilmu, fleksibel ‘tarikannya’, ah… Bukan memuji lho cak. Ini realita. Kalo bener sampeyan ngejar2 duit semata, mana sempet kan ngeblog bagi2 ilmu. Boro2 ngeblog, pasti udah segera ngungsi ke kota kalo bukan Cak.

    Semoga tetap istiqomah, Cak.
    Semoga juga walau ngga nguber2 duit melulu tetap diberi kecukupan rizki.

  12. 12 imcw Oktober 5, 2007 pukul 2:42 pm

    saya malah sering menggratiskan pasien…karena begitu habis nerima resep, si pasien langsung ngeloyor pergi…nggak enak juga kalo harus mengejar tuh pasien dan meminta bayaran…:)

  13. 13 juliach Oktober 5, 2007 pukul 3:31 pm

    Th. 2002, ada 1 titik kapiler Ines yg pecah (di wajah) dan menimbulkan titik merah yg makin lama makin mengelembung besar. Jika pecah darah mengocor banyak sekali. Aku bawa ke Sp Kulit RS Graha Medika, sak dudulan hanya 5 menit kerja, aku bayar Rp. 550.000,-. Untung sama Securite Social Perancis diganti rugi 100%.

    Aku pikir buat orang kita mahal ya?

  14. 14 Shinta Oktober 5, 2007 pukul 3:46 pm

    biasanya abis terima resep atau konsultasi dengan dokter saya cukup bilang “terima kasih dokter” (sambil senyum) langsung ngeloyor pergi . Berapa ongkos dokternya?….hanya dokter dan pihak kantor yg tau :)

    Konsultasi online sama cakmoki juga cukup bilang ” terima kasih cak..” trus beli obat ke apotik Rp.4500 saja (sambil takjub ada obat harga segitu) , sembuh deh keseleonya…sekali lagi terima kasih cakmoki…

    kalo ke dokter praktek saya suka risih mau nanyain ongkosnya langsung ke dokternya, lewat asistennya boleh nggak?

  15. 15 cakmoki Oktober 5, 2007 pukul 7:38 pm

    @ Fa,

    Dokter: “klo nggak sembuh saya nggak nanggung ya” (ketus pula)
    Pasien: “memangnya kalau yg ini pasti sembuh ya Dok?” (polos…eh bodoh banget kali ya? :p)
    Dokter: “ya dicoba dulu aja, nanti 5 hari lagi kalau nggak sembuh balik lagi”
    hihihi…

    dohhh, … mmm, mbak .. dialog ini saya copy lho, ntar saya jadikan highlight saat kuliah manajemen kesehatan dan Sistem Pelayanan Kesehatan…

    @ evi,
    kalo dokter umum rata-rata berapa mbak ?

    klo praktek di rumah spt DSA tetangga saya tarifnya 100 ribu.
    tp klo bilang pake kuitansi, ditulisnya jadi 150 rb hehehe….

    lha selisih yang 50 ribu ? … bagi dua ? …hahaha, maaf, guyon ;)

    @ itikkecil,
    hmmmm, … menurut saya sih, kesembuhan tidak ditentukan mahal dan murahnya obat melainkan (dari sisi medis) adalah ketepatan diagnosa dan ketepatan dalam memilih obat…
    Atau ada kontrak dengan produsen kali mbak *mode curiga:ON*

    @ iamedel,
    ha? … ha?…ha? *pura-pura terkejut walau pernah denger*
    saya gak bisa ikut mengomentari selain ikut ngelus dada :(

    @ Astri,
    mbak, komennya trackback ke dokterearekcilik dong … ;)
    gini aja, gak usah pakai rayuan pulau kelapa, langsnung todong: “kalo gak boleh praktek sendiri, …silahkan sahur dan buka puasa sendiri … ” hahaha *guyon ode: ON, sambil lirik mas Rizal*

    @ Yandhie Dono,
    amiiiinnnn, terimakasih banget do’a dan supprotnya.
    Alhamdulillah, tetap istiqomah dan rizqi melimpah (menurut saya)…buktinya bisa bayar biaya nge blog hahaha

    @ imcw,
    hahahaha, di kota masih ada yang gitu Om? tak kira hanya di ndeso™ seperti daearah kami … *asli, nulis ini sambil ketawa :lol: *

    @ juliach,
    periksa aja 550 ribu? wuiiih, mahal sekali…
    biasanya jasa dokter spesialis di Indonesia tidak lebih dari 150 ribu, …atau mungkin itu sudah termasuk jasa RS dll dll … atau karena tahu Ines dari Perancis kali …hehehe

    @ Shinta,
    kantor membatasi pemaikaian biaya berobat gak?
    sama-sama …hehehe sip, mudik lebaran gak pincang lagi :)
    ya, nanya ke asistennya boleh koq…

  16. 16 Imponk Oktober 5, 2007 pukul 11:12 pm

    nyari istri dokter ah… banyak duitnya :D

  17. 17 Astri Oktober 5, 2007 pukul 11:28 pm

    OOT
    masalahnya dia udah sering sahur dan buka sendiri (baru dari Bengkulu gitu loooohhh… belum pas PTT dulu, atau pas mudik ke Bandung), jadi gak mempan kena todongan kayak gitu… Gak praktek di rumah gak papa, yang penting acara jalan2ku jalan terus :D (sambil mbatin Kelud jadi mbledos gak ya???)

  18. 18 cakmoki Oktober 6, 2007 pukul 1:52 am

    @ Imponk,
    silahkan segera gerilya :lol: ntar kalo dah dapet lapor ya

    @ Astri,
    ohhh, ya udah bererti menunggu kemurahan hati beliau :)
    Emangnya ada rencana berita kelud mau mbledhos?

  19. 19 Shinta Oktober 6, 2007 pukul 1:58 am

    Biaya berobat ada batasan jumlahnya pertahun/orang, termasuk anggota keluarga karyawan. Jumlahnya cukup besar, sayangnya kalo masih ada sisa diakhir tahun, nggak bisa diambil mentahnya hehehhe..

    Kalo untuk dokternya, Dokter kantor (dokter umum) dateng setiap 2 minggu sekali ke kantor, periksa tensi, dll. Kalo pas nggak jadwal ke kantor ada karyawan yg sakit dokternya bisa di sms atau di telp. Berapa ongkos dokternya perorang perbulan saya nggak tau cak…yang pasti bukan 9800 … :) Berobat ke dokter lain diluar kantor diperbolehkan, tetapi biayanya diperhitungkan sebagai biaya berobat.

  20. 20 nrkhlsmjd Oktober 6, 2007 pukul 2:04 am

    ongkos dokter emang mahal…
    apa ini belas dendam? secara kuliah kedokteran dimana2 muahal bgt!!! :D
    kapan ya bidang kedokteran bisa opensource?

  21. 21 anas Oktober 6, 2007 pukul 2:16 am

    Kembali ke jamu aja kali ya :?
    Endonesa khan banyak jamu-jamuan
    diriin apotek aja di samping rumah :)

  22. 22 aRuL Oktober 6, 2007 pukul 3:08 am

    kapan ya bidang kedokteran bisa opensource?

    dasar orang komputer ngomongnya opensource mulu..

    @ cakmoki :: trus yang miskin gimana dong dok kalo mo berobat???
    apa mereka ngak perlu berobat?
    bayangkan aja untuk dapatkan 15 ribu sehari aja susah banget…

  23. 23 sibermedik Oktober 6, 2007 pukul 8:00 am

    kadang mikir Cak, gmn supaya praktek dokter tampak Elegan gimana ya?
    jadi ndak kesannya dokter nerima langsung uang dari pasien..coz mgkn sya belum jadi dokter, tapi pengalaman bantu jaga di klinik2 sosial juga tampak idem ama praktek pribadi…

    Tolong dong postingg gmn sistem pembiayaan kesehatan di negara maju??yang pake asuransi itu lho?Blazz aku ra mudheng..???!@#$%^&*

  24. 24 sibermedik Oktober 6, 2007 pukul 8:07 am

    Tambahan!!!
    diatas belum mbahas DOKTER KONSULTAN:

    Biasanya tarifnya 2-3x dokter spesialis..coz biasane dah profesor he5x…
    FYI,Kmrn abis pengajian ma dokter2, klo pake fiqih muamallah seharusnya para KONSULTAN kena zakat Profesi 20% dari pendapatan, coz pasiennya dapat dianalogikan seperti barang temuan (Rikaz). Lha wong dapet kasus lalu konsul ke spesialis lalu kosul lagi ke konsultan kan sama aja nambah2 biaya?

  25. 25 sibermedik Oktober 6, 2007 pukul 8:18 am

    dokter biasa (Umum+spesialis)tetep 2,5% perbulan..lebih ringan kn…mending bayar perbulan dari pada pertahun..biasane yen pertahun radha gelo..ikhlas’e kurang..he3x

  26. 26 alief Oktober 6, 2007 pukul 2:03 pm

    biaya untuk sehat memang mahal, tapi trus siapa yang harus menanggungnya? masak pasien aja?! Sudah sakit, disuruh bayar lagi :) Memnag tinggal d Indo gak boleh sakit cak :D

  27. 27 Schizon_fuad Oktober 7, 2007 pukul 3:16 pm

    ada salah satu jalan keluar untuk menurunkan pengeluaran berobat ke dokter, yaitu lewat situs-situs kayak gini :)
    cak oke

  28. 28 cakmoki Oktober 7, 2007 pukul 4:32 pm

    @ Shinta,
    ok…berarti perhatian kepada karyawan bagus tuh…
    Emang sisa dana gak mungkin bisa diambil karena dana tersebut termasuk aset, … kali lho … meneketehe..

    @ nrkhlsmjd,
    entah ya…apa emang balas dendam, soalnya menurut saya, biaya kedokteran gak terlalu mahal.
    Rata-rata SPP persemester sekitar 1,5-3 juta di PTN…malah di kota kami, biaya SPP Akper lebih mahal dibanding Kedokteran.
    Mungkin masalah lain, misalnya tuntutan status sosial, dll dll

    @ anas,
    Hahahaha …. mundur puluhan tahun dong :P

    @ aRuL,
    Yang miskin mestinya gratis berobat di institusi layanan Pemerintah. Sayangnya yang ini gak merata…
    Sejujurnya, saya belum punya gambaran yang bagus untuk para pasien miskin yang ingin berobat ke dokter praktek

    @ sibermedik,
    sebenarnya gak masalah sih dokter terima uang langsung dari pasien, anggap aja jualan pracangan, hehehe…
    Sistem pembiayaan yg bagus konon Singapore, mereka menggunakan Medical Save, gak melalui asuransi… pesertanya bisa berobat sampai taraf dan sistem rujukan manapun tanpa biaya tambahan…

    Konsultan, bergantung kepada sistem yg berlaku, soalnya yg bikin para person… itupun nanti bergantung kepada pelaksanaannya, dst dst…
    Zakatnya sama, saya rasa…tetap 2,5 % karena rikaz ada batasan khusus. 2,5% dari jumlah besar, ketemunya besar juga, …malah bisa-bisa eman-eman mo ngeluarin zakat…

    @ alief,
    hehehe iya, dimanapun enaknya gak usah sakit…siapa enaknya yang nanggung biaya?… ehm: mertua !!! …hahahaha

    @ Schizon_fuad,
    pakai webcam lebih bagus kali ya … :)

  29. 29 juliach Oktober 8, 2007 pukul 8:41 pm

    Itu mbumpetin kapiler yg pecah pakai laser (katanya). Jadi ongkos dokter ++ segitu. Memang hasilnya tak berbekas.

    Neng khan yo luarang banget kanggone wonge dewe. Opo wong Indonesia kuwi podho sugih-sugih B.E.

  30. 30 Lily Oktober 9, 2007 pukul 12:54 pm

    Saya pernah ke Dokter Spesialis Kandungan sekali pemeriksaan dengan USG Transvaginal sebelum pulang bayar 300rb kurang sedikit..

    Itu belum obatnya yg pas ditebus ternyata sampe 200rb,
    total ngeluarin uang kira2 setengah juga..

    Abis tu kapok kedatangan kedua ke dokter spesialis itu,
    nolak USG… (berharap lebih murah.. :p)
    Ternyata USG emang udah standar tapi bedanya kali ini USG di atas perut (abdominal ya klo gak salah..) dan gak semahal yg kemaren.. ;p

    Kapok aku, tau gtu pas pertama ke dokternya dan ditawarin USG Transvaginal ketika sedang di USG abdominal, nolak aja ya..
    Hasilnya kayanya gak beda jauh.. ;p

    Sekarang mau pap smear dan mammografi jadi takut neh Cak..
    Survey dulu cari yg murah2.. ;p

  31. 31 cakmoki Oktober 9, 2007 pukul 10:01 pm

    @ Juliach,
    woooo, pantesan mahal … ya emang, kalo sama lasernya segitu atau malah lebih mahal lagi… hahaha.
    Itulah mbak, salah satu tantangan kita semua…

    @ Lily,
    hehehe, iya ya… kira-kira bisa nawar gak ?
    yah, salah satu faktor yang dikeluhkan masyarakat adalah biaya.
    Seandainya orang kebanyakan, pulang periksa sampai rumah bisa pingsn kali ya :)

  32. 32 zulharman Oktober 15, 2007 pukul 8:20 pm

    Yang saya rasakan ongkos dokter spesialis terasa sangat mahal. Ini bisa dibuktikan kalau saya yang dokter ini juga berobat ke dokter spesialis wah sudah saya ceritakan kalau saya dokter juga tapi ya kena cas juga sama dgn pasien lain tanpa potongan atau diskon. Padahal kata pak hipokrates dalam sumpahnya sesama dokter itu kan saudara kandung mestinya ya dikasih gratis karena kan cuma menuliskan resep yang sebenarnya saya sudah tahu juga. Tapi dokter spesialis yang muda-muda sekarang ini udah pada pengertian karena lebih sering tanggap kalau teman sesama profesi ini berobat kepadanya mesti ngak bayar, walaupun saya cuma mengasih sinyal sedikit aja bahwa saya juga dokter walaupun dokter umum.

  33. 33 cakmoki Oktober 16, 2007 pukul 10:54 pm

    @ zulharman,
    dimana itu?
    saya masih belum percaya sesama dokter ngecas dokter lainnya … menyedihkan :(
    koq gitu ya … tulis postingannya yuuuk

  34. 34 zulharman Oktober 17, 2007 pukul 7:44 pm

    @ Cakmoki

    Terimakasih atas komennya Cak, oh iya Minal Aidin Walfaizin, Mohon Maaf lahir bathin ya Cak.

    Yang pernah saya alami di yogya sendiri. Kalau saya analisis dari pasiennya saya lihat beliau banyak pasien sehingga tidak akan rugi untuk membayar perawat yang jaga malam tsb bila tidak menarik bayaran dari saya. Kejadian ini juga dialami teman saya yang diyogya juga,ada yang bayar ful dan ada yang didiskon walaupun sudah tahu status sesama sejawat.

    Mungkin saya yang belum paham mengenai sumpah hipokrates, perbedaan profesionalitas dan etika profesi dalam hal memberi pelayanan kesehatan dengan teman sejawat sehingga saya berharap ada rekan-rekan sejawat yang dapat memberi pencerahan. Hal ini berguna untuk mempererat rasa kolegalitas kita sesama sejawat yang dirasakan semakin hari semakin terkotak dan ada gap.

  35. 35 cakmoki Oktober 18, 2007 pukul 2:52 pm

    @ zulharman,
    hmmm, saya rasa perlu diposting nih :roll: … mas Zulharman aja yang posting ya, ntar kita dukung atau link ke semua sentra RS Pendidikan, hehehe.

    Sampai saat ini, seorang dokter jika konsul atau berobat ke dokter ahli tidak pernah diminta bayaran. Namun saya pernah dengar, di Bandung hal seperti ini tidak berlaku, tetep bayar. Sekarang tambah lagi di Jogja, …wuaaaaa. Walau mungkin tidak semua, namun hal-hal seperti ini mestinya tidak perlu terjadi. Walau pasiennya dikit, tidak lantas narik bayaran dari sesama sejawat…. saya jadi ikutan gatel mo nulis.

  36. 36 Astri Oktober 19, 2007 pukul 2:04 am

    Cak… waktu aku DM di suatu RS, salah satu dokter spesialisnya curhat plus nggrundel, lha dia bawa anaknya yang sakit ke salah satu SpA yang katanya temannya, eh dia dicharge untuk pemeriksaan anaknya itu.
    Saya bisa merasakan kemangkelan sang dokter itu, yang mempertanyakan sumpah dokter sang sejawat itu… Bener2 mangkel dia… Saya juga jadi ikut mangkel. Eh, ternyata ada juga ya di Jogja… Mensch…
    Sama sesama dokter aja kayak gitu, gimana pasiennya yang bukan dokter ya… Jadi prihatin hiks2.. :(

  37. 37 cakmoki Oktober 19, 2007 pukul 2:15 am

    @ Astri,
    di Surabaya mbak?
    huaaa, ngeri … mungkin dokter yg nge-charge sama sejawatnya lagi gak disangoni mbak :(

    Nulis postingannya yuuk, ben rame :mrgreen:

  38. 38 ada deh... Oktober 19, 2007 pukul 2:52 am

    Lebih baik nulis postingan tentang waktu yang digunakan dokter untuk meriksa pasiennya. Pasti rame tuh tanggepannya…

  39. 39 cakmoki Oktober 19, 2007 pukul 10:26 am

    @ ada deh…,
    Boleh Mbak, kapan-kapan ya … survey kecil dulu hehehe

  40. 40 Juliach Januari 8, 2008 pukul 9:26 pm

    Di perancis ongkos dokter praktek ditentukan oleh pemerintah (Organisasinya: Securite Sosial). Dokter Umum = 20-25 Euros/pasien di tempat prakteknya atau 30-35 Euros kalo dipanggil datang ke rumah.

    Bagi orang-orang pemegang CMU(mis: mahasiswa asing/RMI (pengangguran)/ibu single parent/dll), ongkos dokter/pharmasi/laboratorium/RS gratis. Mereka (dokter dan konco-konconya)akan diganti langsung oleh Securite Social. Orang-orang pemegang kartu CMU ini juga tidak boleh ditolak.

  41. 41 cakmoki Januari 8, 2008 pukul 10:37 pm

    @ Juliach:
    wow, bukan main !!!
    Begitu teraturnya penataan layanan medis di sana … *terpana*
    di sini mah … ehm, dokter umum 25 ribu perak (rupiah lho) …hahaha.
    Sedangkan dokter yg kerjasama dengan pihak asuransi, konon penggantian sekarang dah naik menjadi 10 ribu per pasien, di tempat praktek. Tapi masih dibatasi, kalo gak salah, maksimal 3 jenis obat dan hanya untuk 3 hari, kalo lebih dari itu ya pasiennya bayar (katanya) hehehe … so, di sini gak mutu !!!

  42. 42 ria Februari 5, 2011 pukul 8:55 am

    nanya.. nanya..
    boleh nggak sih sebenernya pasang tarif di depan?
    *seingatku, bahkan ukuran papan nama aja kan ada peraturannya ya to? kalo salah ya mangap :P*
    soalnya sekitar setahun yang lalu,
    saat berkunjung ke bagian lain kota ini..
    sempet ngelihat ada klinik yang masang tarif gede2 pake spanduk gitu di depan kliniknya tentang berapa harga berobat disana..
    nek aku gak salah.. kurang lebih seperti ini:
    praktek dokter umum
    periksa+suntik = sekian puluh ribu (lupa) :P
    periksa = sekian puluh ribu
    periksa+obat= sekian puluh ribu
    dsb..
    ini etis gak sih?

    tapi kalo pengalaman saya waktu sakit jaman kuliah *tanpa ada yang tahu termasuk orang rumah* dan memilih untuk periksa di sudut laen kota biar gak ada yang ngenalin (parno banget ya? :D) ada (Sedikit) kecemasan sih memang terkait dengan tarif.. apalagi waktu itu saya periksanya ke Sp.JP yang saya tahu gak murah.. *maklum, baru kali itu seumur-umur ke dokter*
    dan aku pikir ini lumrah untuk dirasakan pasien pada umumnya

    kalo di instansi tempat saya bekerja,
    tarif memang di pasang meja tempat perawat..
    tapi kan itu instansi..
    kalo di praktik pribadi gimana ya?
    masa’ nanya sebelum masuk? :P

  43. 43 cakmoki Februari 6, 2011 pukul 12:25 am

    @ ria:
    Untuk praktek pribadi, gak etis pasang tarip di depan. Papan nama 60 x 40 cm sebagaimana tertuang dalam UU Praktik kedokteran maupun UU yg lama.
    Sebaliknya untuk instansi, wajib pasang tarip sebagai bantuk informasi dan kontrol agar tidak melebihi tarip yg ditetapkan.
    Untuk mengetahui tarip dokter, dianjurkan tanya-tanya ke sekitar or ke pasien lain :D

  44. 44 ria Februari 6, 2011 pukul 5:55 am

    60×40?
    wee.. rasanya sekarang banyak yang nge-langgar deh..
    *clingak clinguk*

    sanksinya apa ya? heheheh :D

  45. 45 cakmoki Februari 6, 2011 pukul 2:06 pm

    @ ria:
    biasanya diberi peringatan tertulis dari MKEK (Majelis Kode Etik Kedokteran) IDI Setempat


  1. 1 Telmark. Lacak balik pada Oktober 5, 2007 pukul 1:04 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 4,941,412 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 555 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: