Keluh Kesah Seorang Teman
Minggu sore, 9 September 2007
Tanpa diduga, seorang teman membuka obrolan seputar kualitas layanan medis. Entah mengapa, sontak semangat empat lima bergejolak ketika ada yang berminat membicarakan kualitas layanan medis. Terlebih saat si teman mengawalinya dengan kritik konstruktif.
Berikut kalimat pembukanya:
Berulang kali saya mendengarkan mas menyebut-nyebut pentingnya kualitas layanan medis yang mengedepankan kepentingan pasien. Kalau tidak salah intinya adalah: sistem, sdm dan minat. Selama ini saya hanya diam, menurut saya masih kurang mas. Anu, nuwun sewu, ada lagi yang juga penting, mungkin mas lupa, … faktor internal mas, maksud saya dukungan keluarga, eh … dukungan pasangan sih.
Walah gitu aja koq malu, ya udah sebutkan saja, nanti kita bahas bersama. *ada apa nih orang, mau ngomong gitu aja pakai wajah melas, -dalam hati-*
Sejenak si teman termenung, lalu melanjutkan dengan suara direndahkan.
Mas kan tahu, selepas PTT saya praktek pagi, siang dan malam, boleh dikata tidak ada jam-nya.
Ya gak papa tho, kalo memang pilihannya seperti itu, mengapa tidak?
Si teman menarik napas panjang sembari melanjutkan ucapannya:
Bukan begitu. Sejak awal saya ingin kalau pagi bekerja di RS atau Puskesmas, ingin memberikan sedikit pengetahuan saya untuk orang lain dan mungkin berbagi ilmu dengan teman sekerja. Tapi istri tidak setuju, saya disuruh praktek saja. Dia bilang urusan keluarga harus lebih diutamakan.
Hmmmm, gitu ya … berarti tinggal istiqomah aja deh. Kan bisa juga tho, memberikan pelayanan yang baik di praktek.
Wajahnya tambah sendu, suaranya makin lirih.
Itulah masalahnya. Inipun masih kurang. Istri menuntut saya untuk membantu urusan rumah tangga.
Hahahaha, kalo itu sih sama, biasa aja kan, anggap saja mengulang masa kos-kosan. Sekali-kali gak papa kan nyapu ruangan atau nyuci, … halahhh sekali-sekali aja koq. Kalo yang banyak bisa menggunakan jasa orang lain. Tuh di sana ada nyuci sama setrika, kalo ga salah 250 sebulan, sabun dan pewangi kita yang sediakan, gampang tho …
Sudah mas, masih dibilang tidak membantu. Dia sendiri yang mengatakan bahwa pakaian kami berdua harus dia yang nyuci, katanya kurang bersih kalau orang lain … dan lain-lain lah. Eeee, akhirnya jadi bahan undat-undatan (tuntutan*red). Katanya saya tidak mau bantu dan hanya nambahin anggaran. Kayak masih mahasiswa saja.
Saya juga pingin pasang ACseperti tempat mas, maksudnya sih supaya pasien enak dan saya juga tidak mudah capek, … dan kursi empuk untuk pasien dan untuk saya, … eh dia bilang ngenakkan pasien.
Parahnya mas, minggu yang lalu dia ke restoran sama anak, saya tidak bisa nemeni karena pas njahit luka. Pulangnya dia merengut seharian.
Nah, tadi siang saya benar-benar knock out. Selagi saya ngobati pasien, dia pergi makan di luar sama anak. Pulangnya saya dapat semprotan. Dia mengatakan bahwa saya tidak ngurusi keluarga, anaknya pingin makan sama bapak dan ibunya seperti keluarga lain di restoran, tapi saya dibilang lebih ngurusi orang lain.
Akhirnya merambat ke soal lain, semua masalah anak, menyangkut sekolahnya, belajarnya dan soal kendaraan … semuanya ditmpakan ke saya. Dia bilang itu tugasnya laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Setiap dialog selalu menempatkan saya di posisi yang salah .. salah dan salah. Waktu untuk keluarga selalu jadi momok bagi saya. Padahal mas kan tahu, saya praktek di rumah seperti mas. Berarti walaupun praktek tetap di rumah kan? Dan selalu ada waktu bercanda untuk mereka, kadang memang saya kelelahan, tidur. Apa memang saya yang salah ya ?
Kami berdua tercenung, hening …
Setelah berulang kali menarik napas panjang, si teman berujar:
Mungkin ini bukan hanya menimpa saya mas. Siapa tahu diam-diam ada teman sejawat mengalami hal serupa, kita hanya dituntut sebagai mesin uang. Mungkin kita sebagi dokter sudah terlanjur digambarkan banyak uang dan harus mencari uang melulu ….
Itulah mengapa saya mengatakan di awal bahwa untuk mencapai kualitas layanan medis masih ada hal lain selain yang mas sebutkan …. Tapi maaf mas, mungkin ini tidak benar, saya hanya ingin berbagi …
Ohhhh, … hampir 2 jam kami bicara, menjelang maghrib kamipun berpisah, senyum kecut mengiringi kepergian kami. Tanpa solusi, otak seolah buntu, hati tercekat …
Terlepas kondisi ini mewakili beberapa orang atau tidak, dia sudah mengatakan apa yang dialaminya.
Sungguh, sebelumnya saya tidak mengira. Selama ini selalu beranggapan bahwa upaya yang baik akan didukung setidaknya oleh orang terdekat, dalam hal ini pasangan, … istri ataupun suami.
Akhirnya, sementara ini saya hanya bisa mengajak merenung bersama, khususnya kepada para calon dokter atau dokter berstatus jomblo, jomblowan atau jomblowati, agar benar-benar menyampaiakan waktu yang terbuang untuk keluarga kepada calon pasangannya. Mungkin juga pilihan-pilihan tentang mana yang harus dinomor satukan dan mana yang mungkin sedikit berkorban.
Sementara seorang teman lain mengatakan bahwa ukuran kecukupan waktu dan perhatian untuk keluarga tidak sama bagi setiap orang, baik lamanya maupun bentuknya.
Dan bagi para dokter mantan jomblo, … hehehe, kayaknya kita juga perlu review nih, jangan-jangan ketika kita bertekat memperbaiki kualitas layanan medis, ada bara yang mendekam bagai api dalam sekam …. ahhhh.
Moga tidak.
Pertanyaan masih menggumpal, bernarkah faktor ini berpengaruh begitu dahsyatnya terhadap kinerja seorang dokter ? Entahlah.
:: :: :: *masih mikir* … bagaimana jika kedua kepentingan tersebut tidak dapat dipenuhi secara bersamaan ? … :: :: ::



















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)





uhm renungan yang sangat panjang
jadi keinget ungkapan ini cak
“dibelakang laki2 yang sukses terdapat wanita2 hebat’
*liat komen atas*
saya jadi mikir, kira-kira saya bisa jadi wanita hebat itu ga ya?
btw kenapa ya cak, rata-rata dokter meritnya sama dokter? apa karena mereka tahu dengan kondisi pekerjaannya masing-masing sehingga banyak kecocokan diantara mereka dan mereka jadi bisa menerima keadaan ini?
*ngarepin suami dokter*
cak, komenku ketelen akismet
jangan-jangan para wanita itu melihat para dokter-dokter sebagai mesin uang berjalan

Memang tidak semuanya seperti itu…. tapi saya terlalu sering melihat perempuan-perempuan yang mengejar-ngejar pria yang bakalan mapan misalnya dokter atau kayak di sini pria berseragam
mungkin saja saya terlalu curigaan…..
ya memang hal sperti ini sangat banyak ditemui, gak cuma di profesi dokter, sayapun menemui masalah yg sama [bidang teknik] sehingga sering dibilang ga mau sisihin waktu buat mantan pacar2 saya, huh.kapan ya mereka mengerti.
Dokter emang mesin uang, sekali berobat aja minimal 50 ribu.
eit lupa kalo dit4 ku 100 ribu blom termasuk suntik
*Ngacir, takut disuntik ama dokter*
Abis dulu dibilangin kalo punya suami dokter itu, masa depan terjamin cak. banyak duit gitu kali maksutnya
Kasian juga ya temen cakmoki…..
kira2 temannya punya niat ganti istri nggak? Uppss…. becanda…
Siapa cak yang menuntut dokter sebagai mesin uang? Masyarakat atau dokternya sendiri?
@ almascatie,
nawar boleh? … di sampinge laki-laki yang sukses, menggelayut wanita yang ehm ehm
Trus kalo wanita sukses gimana?
@ cK,
apa bisa jadi wanita hebat? … Bisa !!! *mode yakin: ON*
*bisik-bisik sambil berjingkat* … ada yang mengatakan: karena gak sempat dan ga bisa cari yang lain … hahahaha
Ada pendapat lain: witing tresno jalaran kulino, translate: tumbuhnya cinta karena ktemu sama yang itu-itu saja *bletak*
@ itikkecil,
hmmmm gitu ya. Trus taunya gimana dong supaya kita tahu, mau dijadikan mesin uang atau bukan ? Kan awalnya hampir selalu berbunga-bunga … kasih tips nya deh
@ ‘K,
hihihi, sama ngenesnya … usul: gimana kalo pangku-pangkuan di depan komputer aja ? enak kan …
@ kan,
lha kalo pasiennya “do-re-mi-fa-sol”, mesinnya macet kali ya
@ erma,
hahaha, iya kali. Supaya banyak duit gampang koq, uang 100 ribu dituker seribuan jadinya banyak, … kalo 2 juta udah jadi satu tas kresek
@ Shinta,
ganti ? huuuaa … boro-boro mo ganti, lha wong dia digitukan sama istrinya aja udah mau nangis …
seca umum saya tidak tahu, … dalam hal kasus di atas, yg menuntut adalah pasangannya
Wah Cak susah juga ya.
Saya juga memandang sebenarnya dokter wanita itu hebat karena mereka bisa melaksanakan banyak tugas yang bahasa komputernya multitasking, tapi jangan terlalu banyak nanti bisa hang juga.
Mungkin kita harus menerapkan konsep leadership dan manejerial dalam konteks keluarga, jangan hanya jago menerapkan konsep ini di tempat kerja.
Tapi kontradiktif sih ya kadang2 para istri.
Kasihan teman Cak Dok, di satu sisi dituntut paktek pagi-siang-malem. Di sisi lain dituntut suami selalu siap sedia di sisinya. Uhuhuh… Hebatnya lagi, selalu bisa menemukan setitik kesalahan yg (penting ya?) buat digede2in. Saya turut prihatin…
Lha saya kalo saya beda sih, cuman beda cara ngepel lantai aja bisa diganyang seharian… huhuhu, ngancem minta pulang
Bumbu2 oh bumbu2…
Temennya cak moki kesian yah, tapi istrinya kesian juga merasa diterlantarkan gitu. Saya pikir kalau seorang mengalah selangkah, misalkan suaminya menetapkan hari minggu libur, hari tuk keluarga, kemudian mindset istri di-tune dikit jadi berpikir “suami saya kek gitu kan demi saya dan anak2 juga”, pasti gak jadi ribut2 deh.
Btw, saya pernah baca dimana gituh, statistik menunjukkan rate perceraian paling tinggi terjadi pada pasangan yang suaminya berprofesi bidang IT. Alasannya karna pada suka lupa waktu kalau di depan komputer, pulang suka telat, istri dan anak dicuekin.
Well, moga2 temennya cak moki segera mendapat solusi yang solutif, eimen..
cak, kok komen saya lenyap?
cak, cover both sides donk?! sang istri perlu diwawancarai juga kayaknya. baru kita komen rame-rame…
Saya setuju ama Titah… Barang kali ada sisi lain yang tidak terungkap. Tapi biar bagaimanapun komunikasi itu pentiang. Ditambah pengertian tentunya dari kedua sisi.
Hal – hal seperti ini juga yang membuat saya memilih punya pasangan seorang dokter, paling nggak sama2 tau keadaannya dokter yang gak seindah dibayangkan orang luar. bahwa jadi dokter terutama yang lagi sekolah itu waktunya habis buat sekolahnya. pokoknya prioritas no 1 sampai 3 itu sekolah baru keluarga. terkadang pemasukan dari pasangannya dokter sangat membantu di saat pendidikan.
bahwa dokter kalo baru buka praktek itu gak bisa langsung kaya dan sama sekali bukan mesin uang.
Waduh kok jadi curhat ya??
ohaha….apaan ni pak dokter ? bentar saya baca dulu
Pokoknya, SEMANGAT!!!
# Mbak Ira
Ajarin tips & triknya untuk mengetahui sifat tersembunyi pasangan dong…
halah mesakne men cak kancamu…tapi kata teman juga kita menikah itu khan sudah satu paket, baik dan buruknya harus diterima. saat ada bentura-benturan saat setelahnya ya mau ga mau harus d omongin alias komunikasi alias ngobrol.
Teorinya emang gt, tapi prakteknya..huhu susyahhhhhh…ada masalah bawaannya nagmuk wae..hihi
met menjalankan ibadah puasa cak
@ zulharman,
hahaha, iya kali … multitasting dan multitheme, … repotnya kalo pas theme PMS cycle.
Soal leadership dalam keluarga ada cerita dari seorang prof yg menceritakan sesama Prof, beliau mengatakan:
@ Yandhie Dono,
huahahaha … ssst, jangan rame-rame, yg beginian konon banyak …
Btw, kalo diancam … berani gak, ngancam juga, misalnya: cari lagi *bletak … sapu dan lap pel-pelan melayang*
@ iamedel,
ntar saya lihat ya … ga login soale
@ Titah,
… tapi pas senin sore kami ada rapat IDI, nah saat istirohat saya coba-2 nyinggung masalah ini di sekumpulan dokter wanita … mereka mengatakan: ” kalo misua gak mau nurut … hmmm, …*sambil mencibir*
gak berani mbak
Sayang saya ga berani nanyaken arti cibiran dan arti “hmmm”
@ Astri,
iya kali, jangan-jangan ada “sesuatu” di balik itu.
Ada yg bilang, walau serumah, komunikasi bisa pakai sms atau surat … eh bener gak ? :-/
kalo sesama dokter, bisa lebih tahu kali ya … soale dah paham luar dalam ..hehehe. Apalagi masa sekolah PPDS, wuaaaaa masa-masa ngenes, bilangnya sih
@ pengemis,
baca dulu … hehehe
@ suandana,
Semangat Mencari !!!
di sini banyak lho, mau ?
@ mei,
hehehe iya mbak… bukan yg pertama dia omong gitu… kapan itu pernah saya guyoni, … jare bojone nesa-nesu, tapi koq hamil lagi … hahaha, jangan-2 nesunya minta tambah adik.
apa memang gitu tho mbak ?
Trims
lam kenal yah…
stlh pembatasan tempat praktik, nanti mungkin ada pembatasan jam kerja dokter
, pembatasan hari kerja dokter, pembatasan penerimaan pasien emergensi..shg kualitas pelayanan terjaga..yg buat ya istri, anak2 dan keluarganya dokter ybs..
Lha yang dokter saja begitu apalagi saya yang seorang guru…
Uppsss kok seperti kurang bersyukur sekali ya…
Saya tetap bersyukur dengan kesejahteraan yang seadanya…karena kalau dituruti sich manusia tidak ada puasnya.
Sekarang saya juga kadang nyambi sebagai cleaning service dan pelayan
@ ario dipoyono,
ok, trims … salam kenal juga
psikolog ya
@ dani iswara,
hahaha, udah mulai ada pembatasan belum ? … moga gak ada pembatasan ngeblog
@ deKing,
iya ya, kesannya gimana gitu *seperti kurang bersyukur*… mungkin terlanjur berharap atau memenuhi imaj bahwa dokter harus banyak duit ….
Mau punya istri dokter gak ?
Pasang banner iklan dong …
semoga bukan cuma “TOO GOOD TO BE TRUE”
Salam Kenal caK MOKI. Ya mungkin yg terbaik sih cari yg sama-sama dokter tapi nitu tdk menjamin 100% he….3x
@ sibermedik,
semoga
@ hadi,
salam kenal juga, trims … mana link-nya?
yang terbaik yang bisa saling mengalah kali ya …siapapun mereka …hehehe
sebuah cerita yang bagus Cak, sebagai bahan renungan.
Tidak hanya profesi dokter saja yang mengalami kondisi seperti itu, banyak profesi-profesi lain yang terkadang tidak mendapat dukungan sepenuhnya dari pasangan. Rata-rata karena masing-masing pihak kurang memahami pekerjaan pasangan dan kurang toleransi terhadap hal-hal yang dianggap penting oleh pasangannya.
Anyway, komunikasi itu memang penting, apalagi dengan anggota keluarga terdekat. Semoga temennya Cak Moki bisa menyikapi keadaan ini dengan bijaksana.
@ pratanti,
iya mbak, sayapun ikut merenungkan hal tersebut disertai harapan moga gak ngalami …hehehe.
Kalau boleh tahu, profesi apa yg paling rawan ? apa bener seperti komen sebelumnya bahwa bidang IT sangat rawan kurang dukungan, ataukah tidak terlalu ada pengaruh dengan profesi ?
Trims supportnya, ntar kalo ketemu akan saya sampaikan
profesi yang paling rawan tentunya bidang “pengangguran”
Kayaknya profesi tidak terlalu berpengaruh dalam kondisi ini. Kebeneran aja cerita di atas merupakan pengalaman seorang dokter. Bidang IT bisa jadi kurang didukung kalau terlalu rajin duduk di depan komputer. Bidang peneliti juga bisa seperti itu kalau terlalu sering berada di dalam laboratorium. Bahkan bidang jurnalistik pun bisa kurang didukung kalau terlalu sibuk cari berita daripada berada di tengah keluarga.
Hmm… topik menarik nih untuk jadi tulisan… cari bahan dulu ah, nanti kalau saya posting, ijin nge-link kesini ya Cak
Hmmm, kalau yang ini saya seperti berkaca cak. Tahun-tahun pertama memang hujan air mata, tapi seiring berjalannya waktu, saya jadi sadar,bahwa sebagai public figur, suami bukan hanya milik kita (keluarga),maka semua yang saya jalani bukan saya anggap sbg pengorbanan tetapi perjuangan. Kayaknya lebih enak begitu,bersama-sama berjuang dg suami.Saya berjuang di dalam rumah, suami berjuang di luar rumah. Mudah-mudahan bisa numpang dapat pahala juga…he..he..he
kebanyakan di luar nyari duit gak boleh … ribut …
kebanyakan di rumah, gak dapet duit … ngedumel …
kalo boleh saran …
bagusnya memang temennya cak disuruh ganti isteri aja …
@ pratanti,
yang ini bener sekali
…tiap hari bakal perang Bharatayudha deh
Jadi kuncinya di point “saling memahami dan toleransi” ya mbak?
Konon ini tidak mudah, mensinkronkan 2 kepentingan …
Sebuah pelajaran menarik, .. termasuk untuk saya …hahaha, merasa bahagia, jangan-jangan yg di belakang ada sekam
Ok mbak, monggo artikelnya segera dibuat, ntar saya ikutan belajar
@ wulan,
oh, indahnya mencapai titik tersebut ya … btw perlu berapa lama untuk bisa seperti itu mbak ? Bagi-bagi cerita dong, bagus tuh untuk kita semua
@ rajaiblis,
…walau bercanda sekalipun
hahaha, … saya gak berani menyampaikan Om
sini …
mana no HP, email, atau apalah …
ntar aNE yg bilang sama dia …
Kasihan si dokter itu, terjebak dengan istri yang tidak seiman. Semoga tuhan segera mengangkatnya dari neraka supaya penderitaannya tidak berlarut-larut.
@ rajaiblis,
senang kalo saya dijitak ya
@ Guh,
hahahaha, tadi buka puasa pakai menu apa mas …
gak masalah dijitak bozz … rela …
demi kebahagian umat …
wakkakakakaaaa …
@ rajaiblis,
hahaha, ya
met lebaran cak ^^
btw jd gatel pgn (sok) nyaranin nih.
emang ga gampang ternyata kl setelah nikah ternyata beda value ma pasangan. dan jadi lebih kompleks krn ga segampang pacaran yg bisa langsung putus. menurut saya, justru pd saat2 tsb kita diuji kesabaran dan kedewasaan. ya nggak pak??^^
-aku belon nikah tp dikit2 uda bisa ngrasain nih, hehehe-
soale, kl nurutin ego, maunya langsung pegat aja, ya tho ?? palagi kl nuruti emosi.
saran saya, menghadapi perbedaan spt itu, dikomunikasikan dl secara jujur dan terbuka. dan yg paling penting gimana caranya menyadarkan si istri untuk mampu melepas kacamatanya dan mampu melihat dg kacamata orang lain. kl di treining2 mah, pake game ‘lepas sepatu’ ^^
mungkin sang isri bisa diajak ke tempat praktek. ngedumel ?? merengut terus, jd gak bisa menghayati perannya sbg observer ?? role pay !!! suruh dia jd pasien dan berknjung ke dokter. minta dia untuk menceritakan perasaan dan kesannya. lalu coba untuk berbagi dg sesama pasien lain. lebih banyak sharing lebih bagus. palagi kl uda denger pasien2 sang suami.
intinya adalah mampu melihat dg kacamata yg lain. dan itu tugas sang suami dlm menjalankan diversity management.
woooow kok jd panjang gini yaaa^^
@ restlessangel,
trims banget sumbang sarannya … ntar tak copy dan segera disampaikan kepada yang bersangkutan, kebetulan kemarin kami ketemu lagi..
trims (lagi) ya…
maturnuwun kembali^^
kuncinya emang di komunikasi kok. bukannya sok tapi berdasar pengalaman aja, nggih mboten cak ?? ^^
*siap2 pindah profesi jd konselor man-woman relationship, hehe*
@ restlessangel,
iya ya … komunikasi sepertinya mudah tapi kenyataan sulit, … so, siap-siap konsul ke konselor nih
Bikin blog dong, ntar kita link dan … konsulnya gratis ya ..hehehe
sampun ngeblog kok pak….
panjenengan sudah saya link tanpa izin hehehe
kl konsul, 20 klien pertama dpt mug cantik hehehe
@ @ restlessangel,
masa saya harus ngasih sesajen ke mbah Google nyari Bidadari
wah curang
TidurGelisah..heheheNggih monggo dipun link sareng-sareng Bu
Konsul ke 21 dapet termos ya