Negara bisa hilang dari peta, sandal bisa hilang di masjid, apalagi uci (pws)
uci Patmala, uciningsih, uciwati, ucie, uci Wardani, suci, … dll … hehehe, bukan ini ah. Mohon maaf kepada yang namanya mengandung suku kata uci. Local Area Monitoring atau Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) adalah piranti untuk mengetahui realisasi pencapaian imunisasi dalam rangka terwujudnya Universal Child Immunization (UCI).
Indonesia pernah membuat ukuran pencapaian imunisasi mulai desa (kelurahan) hingga Nasional menggunakan piranti PWS UCI untuk evaluasi imunisasi dasar. Parameter tiap daerah bisa berbeda bergantung kepada jumlah sararan riil dalam lingkup UCI.
Pakai contoh aja deh … *ho-oh*
Kabupaten A, menetapkan bahwa setiap kelurahan atau Desa mencapai UCI, jika Pencapaian Imunisasi sebagai berikut:
- BCG = 90 % (dari jumlah bayi)
- DPT.4 = 90 % (dari jumlah bayi)
- Polio.4 = 80 % (dari jumlah bayi)
- Campak = 80 % (dari jumlah bayi)
- HB.3 = 80 % (dari jumlah bayi)
- TT.2 ibu hamil = 80 % (dari jumlah ibu hamil)
- TT.2 calon pengantin = 80 % (dari jumlah calon pengantin)
::: sekali lagi hanya contoh lho :::
Keterangan:
- BCG memberikan kekebalan terhadap TBC.
- DPT memberikan kekebalan terhadap Difteri, Pertusis (batuk rejan) dan Tetanus.
- Polio memberikan kekebalan terhadap Polio
- Campak memberikan kekebalan terhadap campak (morbili, kerumut, gabak)
- HB memberikan kekebalan terhadap Hepatitis B
- TT memberikan kekebalan terhadap Tetanus.
Setiap bulan atau setidaknya setiap 3 bulan, pak camat didampingi dokter mempresentasikan pencapaian UCI di depan Kepala Daerah dan instansi terkait.
Metode ini cukup efektif untuk menganalisa berbagai faktor yang mempengaruhi realisasi pencapaian imunisasi (UCI). Ini berlaku untuk yang dianggap berhasil, yang kurang berhasil ataupun yang tidak berhasil.
Katakanlah, seorang camat (bersama dokter) membuat analisa berdasarkan pencapaian imunisasi di salah satu desanya dari 10 desa, sebagai berikut:
KENDALA:
Desa Nun Disana tidak mencapai UCI karena:
- Bu Lurah dan PKK jarang memberikan penyuluhan imunisasi, selama setahun ini hanya 2 kali, tapi kalo arisan 2 kali seminggu, demo masak 2 kali sebulan dan ngrumpi 2 kali sehari. *yang bilang pak camat lho*
- Tidak ada Puskesmas Pembantu dan tidak ada Bidan Desa.
- Posyandu hanya ada 3 dari 30 RT, karena daerah tersebut banyak jomblowati. Angka jomblowati mencapai 60 % dari jomblowati yang laik kawin (misal: usia 17 hingga 40 tahun). Kondisi ini menyebabkan sulit dibentuk Posyandu karena ga ada kader, sedangkan jomblowati ga mau jadi kader Posyandu lantaran sibuk
ngeblogbekerja. - Petugas imunisasi hanya mampu menangani 2 dari 3 Posyandu yang ada karena di Puskesmas hanya ada 1 sepeda motor butut, gudikan dan kalo nyerempet manusia bisa langsung tetanus saking jeleknya sepeda motor. Sementara permintaan sepeda motor tidak pernah dipenuhi selama 5 tahun belakangan ini. Jangankan dipenuhi, lha wong mau ketemu kepala dinas kesehatan saja sangat sulit karena sibuk
jalan-jalanstudy banding. - Sebagian masyarakat di kawasan industri ogah meng-imunisasikan bayinya karena terpengaruh milis berantai.
UPAYA JALAN KELUAR:
Setelah tarik napas panjang, pak camat melanjutkan:
Berikut ini adalah upaya-upaya jalan keluar untuk menanggulangi masalah tersebut:
- Mengusulkan kepada bapak kepala daerah agar berkenan mengganti
Bu LurahLurah denganBu LurahLurah yang baru, mengingat pendekatan persuasif yang kami lakukan hanya dipandang sebelah mata. - Mengusulkan penempatan Bidan Desa, sekaligus pembangunan Puskesmas Pembantu.
- Mengusulkan kawin masal jomblowati dengan jomblowan dari desa tetangga agar mau menjadi kader Posyandu *dikeroyok
pendaftar* - Mengusulkan tambahan sepeda motor baru *satu aja deh*
- Mengadakan penyuluhan imunisasi dan dialog interaktif di kawasan industri secara khusus sebulan sekali.
TANGGAPAN KEPALA DAERAH
Setelah menyimak paparan pak camat, kepala daerah bersabda:
Saudara camat dan pimpinan Puskesmas, kami ucapkan terimakasih yang setulus-tulusnya atas perjuangannya, teriring do’a semoga di tahun mendatang dapat lebih berhasil.
Sungguh, saya bangga, bahwa dengan segala keterbatasan masih bisa berprestasi. mohon hadirin memberikan aplaus …. plak plok plik pluk.
Adapun kekurangan dan kendala yang sudah disampaikan saudara camat, anggap saja sebagi tantangan. Niscaya akan kami penuhi jika pada pilkadal yang akan datang saya terpilih kembali.
Sekali lagi aplaus saudara-saudara … plak plok plik pluk.
Nah, selanjutnya mari makan siang bersama …
Sayangnya, Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi kini hilang dari peredaran. Apapun kekurangannya, PWS sangat berguna sebagai piranti evaluasi pencapaian imunisasi.
Koq bisa ilang ya ?
Jangankan PWS, lha wong negara Uni Sovyet saja hilang dari peta, berubah bentuk menjadi pecahan beberapa negara.
Sandal hilang dari masjid, apalagi hanya PWS imunisasi yang gak berwujud.
:: :: :: catatan :: :: ::
Untuk tanggapan dan pertanyaan terkait imunisasi silahkan bertanya langsung kepada dokterearekcilik *sorry, mas Rizal*



















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)






*maaf cak moki kapling posisi pertamaks dulu*
Busyet…ternyata gossip itu lebih penting dari kesehatan. Arisan identik dengan gossip kan?
BTW saya numpang nyampah dulu…mau kerja nich.
saya jadi ingat temen sayah cak..
seorang perawat puskesmas yg harus menangani 6 desa.. kalo desanya deket2 ama bisa naek motor sih ga masalah ini jarak antar desa 9 smape 15 kiloan naeknya perahu motor tempel [ketingting] cemana program yg dijalankan dinas kesehatan bisa berhasil ya kalo gitu…
cak, ini menarik nih.. ada tulisan resminya ngga? kalau ada mau dong, kemarennya saya sudah sempet email kan ke anda? apa terselip?
soalnya saya butuh alasan knp program tertentu bubar berdasarkan bukti.
btw, itu untuk keliling2 naik motor dibayarin toch bensinnya? dananya gampang keluar apa pakai di tunda2 turunnya?
‘Sebagian masyarakat di kawasan industri ogah meng-imunisasikan bayinya karena terpengaruh milis berantai.’
ini semua vaksin apa yg ber-merkuri & MMR saja? kirain cuma di kota besar saja yg kayak gini. kalau pakai pasta gigi berfluoride & tambal amalgam sudah ribut belum?
,blockquote>Sebagian masyarakat di kawasan industri ogah meng-imunisasikan bayinya karena terpengaruh milis berantai.
pengalaman saya cak, lebih mudah
menakut-nakutimemberi informasi yang benar kepada orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah.orang-orang dengan level pendidikan yang tinggi kalau sudah dapet informasi walaupun hoax, kadang suka gak mau denger kalo dikasih tahu yang bener…..
Ayo ke Posyandu sukseskan imunisasi ….
Karena lagi musim bagi-bagi hadiah, bagaimana kalau tiap bayi yang diimunisasi di kasih kupon untuk door prize? Hadiahnya? Foto bersama cak moki.
Sekarang Posyandu adanya cuma 6 bulan sekali , kalo mau imunisasi polio aja. Kenapa ya cak? apa karena warisan orba jadi dianggap gak bermanfaat?
Padahal yg sekarang jadi juara Olimpiade fisika itu dulu waktu kecilnya jangan2 imunisasi dan makan bubur kacang ijo nya di posyandu heheh….
Jadi kangen lagu nya ” posyandu menunggu setiap minggu, bila aku diare ibu selalu sedia pertolongan oralit …” hhmm.. lupa syairnya …
Lha, anak-anak gak di-imunisasi…
katanya mau jadi negara dengan ekonomi terkuat kelima di dunia di tahun 2030…
gimana ekonomi mau kuat, orang-orangnya penyakitan semua
Uci Uci Hotahe…
Lha kalau ternyata seperti ini, lalu data-data yang biasanya disebutkan pejabat itu dari mana datangnya pak?
Biasanya bu menkes ngomong data, pak SBY nyatut data, kepala dinas kesehatan mengklaim keberhasilan ini itu dari data dilapangan, gubernur memuji dinas kesehatan karena data…
Invalid data atau political data??
# manusiasuper
data mah bisa direkayasa…
# Cak Moki
Sepertinya, upaya jalan keluar yang ketiga (yang ada coretannya itu lho, Cak) harus segera dilaksanakan, Cak…
pernah dpt kasus lumpuh layu setelah vaksinasi polio g cak??
Causa primanya apa?? Trauma nervus pasca injeksi ato emang auto imun?
Btw, koment dong ttg Child Abuse d blog ku??
AWAS KALO COMMENT-NYA CUMA “SiiiiPPP” THOK!!!!!
@ almas,
ya Om, potret paramedis kita yg ada di wilayah pinggiran, kurang diperhatikan, kenyang janji dan hanya diberi setumpuk beban.
Bu Menkes perlu diajak naik ketinting kali ya …
@ deKing,
gak tau saya, gak pernah ikutan arisan soale …
met kerja ya …
@ triesti,
tulisan resmi pernah kami disampaikan di forum resmi mbak, sayangnya arsip sirna, … seiring dengan harddisk saya yg rusak
maaf, saya belum terima emailnya … bisa dikirim ulang?
milis berantai adalah sindiran
… di pedesaan belum sampai kena dampaknya koq mbak. lagipula mereka lebih percaya kepada petugas kesehatan dan dokter yg turun langsung.
fluorid pernah ibut bentar, trus keluar SNI (standar nasional indonesia), tapi saya akses ulang gak bisa … kayaknya situs SNI ngadat atau mungkin ada yg merusak.
@ itikkecil,
hehehe, maaf mbak ira, … itu sindiran kepada yang suka nyebar email hoax berantai …
Di wilayah kami, kawasan industri memiliki kepedulian yg bagus, mereka membiayai semua keperluan posyandu, makanan tambahan balitanya enak, ber-ac, … kadernya muda-muda (kayak saya, maksa), aktif, gesit, sip lah
@ kangguru,
siap bos … apalagi kalo kadernya geulis euy
@ Kang Adhi,
yauw, asyik Kang … kangen foto sama anak-anak
@ Shinta,
mungkin malu mengakui keberhasilan orba, mungkin juga sibuk bagi jabatan dan sibuk menghitung peluang pilkadal.
saya juga kangen …
@ n0vri,
anu pak, … petinggi kita emang suka bikin slogan dan visi (maksud saya virtual melulu)
Atau jangan-jangn yg dimaksud adalah “ekonomi terkuat di dunia kelima dari bawah”
@ manusiasuper,
udah dijawab Mas Suandana … dan diperkuat dengan “dugaan berdasarkan asas praduga tak bersalah” political data
@ suandana,
siap komandan … tinggal bikin Panitia, … saya siap jadi saksi
@ sibermedik,
gak pernah.
hahaha, maap … maap deh.
ini saya pulang sebentar ntar kembali lagi. Ada pengantar kuliah umum untuk mhs baru soalnya. Dan nyiapkan untuk tahun ajaran baru yg dimulai 3 september …
asli ini ciri khas…. yang mau post power sindrome hehehhe
cak, just sent u an email (to both of your add.) thx
Harga susu makin mahal, mbak UCI ga bisa dicapai…
Makin berkembang, eh?
@ kangguru,
kalo gini termasuk curi start gak?
@ triesti,
iya mbak, dah saya terima, trims
@ Mr. Lee,
mbak uci belum bisa produksi susu Gun, masih imudz sih
masa sih si uci hilang? wah, precil2 saya udh gede2 sih, imunisasinya udah lengkap, jadi gak denger kalo si uci hilang, wuehehehe…
uci yg mana fotonya yah??
upload dunk cak
hehehe
Zaman maju. Zaman reformasi tetapi semua urusan mulai dari tata negara sampai kesejahteraan rakyat terbengkalai. Semua sibuk ngurusin jabatannya sendiri-sendiri.
Di desa, Lurah sibuk menjuali tanah kas desa untuk mengembalikan modalnya njago lurah. Kapan mau bikin surat ke Puskesmas untuk minta penyuluhan soal imunisasi?
@ venus,
uci-nya belum hilang mbak … evaluasi terhadap “mainan” si uci yang ilang dari peredaran.
Gak nambah tho … *blethak*
@ ‘K,
ada tuh, yang mirip bollywood … ngeliatnya pakai kacamata 3 dimensi
@ Kang Kombor,
Bupati, walikota dan gubernurnya juga sibuk … mbuh sibuk opo
nasib negara kita gak karuan….. Btw emang kesehatan kan prioritas no 4 pada APBN…………mungkin pemerintah sekarang merasa rakyatnya gak perlu sehat
mangkeeeeeeeeeeeeeeeeeeel deh
@ dokterearekcilik ,
… atau sengaja dibiarkan untuk mengurangi penduduk
… tambah muangkeeelllll deh
Kalau UMI sama juga cak??
@ Ady,
Sama aja … M-nya gak dimasukkan soalnya sibuh shoping hehehe
berarti presentasinya jauh menurun ya cak
@ Heureuy™,
… so upaya pemecahan masalah yg melibatkan decision maker juga ga ada.
enggak terlalu Teh, … cuman media evaluasinya ilang
perlu di bikin milis tandingan cak
lha di tempat saya jarang banget ada imunisasi, bidan desanya sibuk urusan pribadi,
ibukepala desanya malah gak ngerti hal-hal begituan.@ andalas,
koq bisa ?
ga kebayang deh kalo sampai kondisi ini menggambarkan prototipe sebagian daerah di indonesia.
jangan-jangan ntar laporannya boong … huaaaaa
boleh gak diskusi tentang ini, project yang saya tangani tidak secara khusus menembak PWS, tapi salah satu puskesmas membuat terobosan PWS dengan sistem jejaring yang -walaupun masih terus harus diuji keberlanjutannya- diklaim mampu membantu kerja puskesmas. boleh japri gak?
sebetulnya apakah awalnya PWS itu memang untuk imunisasi atau ini semacam surveillance sih?
*caricari ym id-nya gak nemu euy*
@ melly,
boleh
japri, boleh juga. Tapi maaf, sehubungan saya menggunakan gprs connection style ndeso™ harap dimaklumi jika sewaktu-waktu disconnect.
Bagus dan salut jika ada Puskesmas mengembangkan inovasi PWS dengan jejaring. Tentu sangat membantu, lantaran pws adalah alat monitor dan evaluasi.
Maf, apa yang dimaksud dengan “keberlanjutan” ? Kesinambungan program atau konsistensi kepemimpinan dan kebijakan?
Memang, di Indonesia awalnya PWS dikenal sebagai alat monitor imunisasi, namun sebenarnya PWS bisa digunakan untuk survaillance, khususnya pada kondisi tertentu.