wuih, judul keren nih … mau ngomong apaan sih postingan ini?
Sebuah harapan, tepatnya batasan agar seorang dokter nantinya dapat memenuhi standarisasi yang telah ditetapkan oleh WHO.
Why not ? …. Harus bisa !!!
Bukannya mau bergaya, bukan pula suatu yang berlebihan dan bukan barang baru, mengingat batasan WHO tentang dokter masa depan adalah bagian dari kehidupan dan profesi seorang dokter.
FAKTA KASAT MATA
:: :: :: Gambaran Baik :: :: ::
- Duhhh, dokternya ramah, baik deh dan … murah *ini penting*
- Dokter telaten menjelaskan penyakit penderita …
- Bu dokter yang di sana itu sabar ya, mana cantik lagi …
- ehm … dokternya fren … yahud … banyak senyum, gak suka nakut-nakuti, orangnya baikan …
… sila ditambahkan …
… moga golongan ini makin banyak …
:: :: :: Gambaran Buruk Tidak Baik :: :: ::
- Dokter koq jutek ..
- Lagi BeTe kali, atau jangan-jangan PMS …
- Mahal … resepnya malah lebih mahal …
- Dokter Lupa Tersenyum
… - Hobi marah, senyumnya kecut, hiiiyyy … *padahal di rumah takut ama istri*
- Suka nakut-nakuti *supaya sering kontrol?* …
- Malaikat baju putih nan menyeramkan …
- Jarang ngomong … mahal informasi … *tapi waktu nyebutin tarip, sangat jelas dan gamblang*
- Kongkalikong dengan produsen obat, alat kesehatan, dll … bonus man, bonus …
- Ada juga yang ramah, sangat baik, pas nebus obat mahal banget, pakai antibiotika golongan sefalosporin generasi ketiga, padahal hanya flu … (yang ini termasuk gak ? ) … wow !!!
- Udah jelek, bergaya, narsis, pakai kacamata item lagi …
… sila ditambahkan …
… sayangnya golongan sering dikeluhkan …
:: :: :: BATASAN DOCTOR FUTURE :: :: ::
WHO menerapkan batasan bahwa dokter masa depan wajib memenuhi kriteria sebagai berikut:
- Care provider *jajan apa tho ini …*.
- Decision maker
- Communicator
- Community leader
- Manajer
Menurut penulis, batasan tersebut bukan barang baru, toh dalam pedoman kerja seorang dokter, depkes sudah menyusunnya dalam bentuk buku, lengkap sak contoh-contohnya.
Kurang apa coba. *kurang baca and kurang menjiwai kali*
Secara garis besar, batasan di atas dapat dijelaskan *ga jelas amat sih* sebagai berikut:
Care Provider.
Dalam memberikan pelayanan medis, seorang dokter hendaknya:
- Memperlakukan pasien secara holistik
- memandang Individu sebagai bagian integral dari keluarga dan komunitas.
- Memberikan pelayanan yang bermutu, menyeluruh, berkelanjutan dan manusiawi.
- Dilandasi hubungan jangka panjang dan saling percaya.
Decision Maker.
Seorang dokter diharapkan memiliki:
- Kemampuan memilih teknologi
- Penerapan teknologi penunjang secara etik.
- Cost Effectiveness
Communicator.
Seorang dokter, dimanapun ia berada dan bertugas, hendaknya:
- Mampu mempromosikan Gaya Hidup Sehat.
- Mampu memberikan penjelasan dan edukasi yang efektif.
- Mampu memberdayakan individu dan kelompok untuk dapat tetap sehat.
Community Leader.
Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seorang dokter hendaknya:
- Dapat menempatkan dirinya sehingga mendapatkan kepercayaan masyarakat.
- Mampu menemukan kebutuhan kesehatan bersama individu serta masyarakat.
- Mampu melaksanakan program sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Manajer.
Dalam hal manajerial, seorang dokter hendaknya:
- Mampu bekerja sama secara harmonis dengan individu dan organisasi di luar dan di dalam lingkup pelayanan kesehatan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasien dan komunitas.
- Mampu memanfaatkan data-data kesehatan secara tepat dan berhasil guna.
So, apa sulitnya ?
Syarat utama cuman 2, yakni belajar setiap hari dan friendly for all.
:: :: :: mohon maaf, posting ini bukan untuk menggurui, melainkan sebagai pengingat khususnya bagi penulis sendiri, … mo ikutan boleh, enggak yo wis :: :: ::
Ucapan terimakasih diucapkan kepada:
- dr. H. Emil Bachtiar Moerad SpP
- dr. Paramitha Swandari M.Kes
Atas segala support dan kepercayaan serta sharing materi sehingga ringkasannya dapat tayang sebagai media berbagi.
Tak lupa, penulis mohon maaf, tidak menyertakan download edisi flash swf lantaran terintegrasi dengan desktop publishing tools lainnya.





![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)

pertamaxcommment OOT aja
Pak DOkter sana ganteng banget ya kaya Pangky Suwito
syarat yg susah ga hanya ke dokter aja bahkan keseluruh pelayan orang banyak kali ya..
hmm cak mo tanya apa setiap dokter dalam menganalisa penyakit itu mempunyai kesimpulan yg berbeda? sebab kemaren kakak saya yg kebetulan sakit diabetes dan sedang hamil muda dikasih obat *nama obatnya lupa* yg masalah kakak saya itu alergi sama obat itu dan sudah dikasiih tau ke dokternya tapi sama dokterna tetep ngotot diberikan obat itu..

dan akhernya kakak saya terpaksa dirawat dirumah sakit gara2 mengkomsumsi obat yg diberikan oleh dokter tersebut.. apa memang setiap penyakit harus diobati dengan obat tertentu tanpa melihat riwayat pasien tersebut.. makasih cak
tambahan…

dokter harus ganteng biar bisa digebet pasiennya
@ almas,
ganti photo ah, biar gak ge-er
eh, belajar tiap hari susah ya ? hehehe, anggap aja baca komik, biar enjoy …
Pertama, saya menyatakan simpati kepada kakak om Boy sekeluarga, teriring do’a semoga segera sembuh dan ga terulang kejadian serupa.
Kedua:
Persoalan alergi obat dan rekam medik udah pernah kita bahas. Informasi alergi obat tertentu dari pasien udah disampaikan dan itu sangat membantu dalam menentukan pemberian terapi. Mestinya tidak boleh terjadi error semacam ini hingga pasien harus masuk RS.
Setiap penyakit harus diobati dengan obat yang sesuai berdasarkan kondisi penyakit dan riwayat alergi. Selalu ada pilihan jenis obat karena panduan pemberian obat ada urutannya.
Katakanlah seorang pasien memerlukan obat jenis A sebagai pilihan pertama, namun ternyata ada riwayat alergi terhadap obat golongan A, maka dipilih obat urutan berikutnya disertai penjelasan kepada pasien bahwa yang bersangkutan tidak dapat diberikan obat tersebut dan diganti obat lain. Mungkin khasiatnya lebih lambat atau tidak seideal obat A, namun ini akan menyelamatkan pasien. Secara ga langsung tercipta saling percaya dan edukasi yang berguna bagi pasien maupun dokter.
Berarti …. belum “doctor future” kali ya … “care provider” dan “community leader” harus mengulang 1 semester …
@ cK,
*chika kejaaammm*
agak ganteng ato menjelang ganteng bisa gak?
untung sy dah laku … kalo jadi syarat utama, bakalan masuk panti jomblo selamanya
“Dilandasi hubungan jangka panjang dan saling percaya” … hhmmmm….mirip obrolan mantan jomlo ya …
” Mampu mempromosikan Gaya Hidup Sehat ” ini harus cak…jangan sampai ada dokter ngerokok depan pasiennya.
Waaah….. bagus cak moki…….cuman kapan kita sampe kesana
Pemerintah juga mesti menghargai dokter, menghargai masyarakat dan sarana kesehatan. Sekarang RSU & Puskesmas kan hanya diperas untuk memenuhi PAD, kesiaaan …..semoga in the future bisa sesuai WHO semua dokter se Indonesia ini …….. Amin
@ shinta,
… perlu area khusus gak? …
@ dokterearekcilik,
walah … masih ada tho pemerasan berkedok PAD, dokter dijadikan alat dan masyarakat dijadikan obyek … kasiman
…berarti masih sulit dong ya … lha salah satu komponen seperti alat kesehatan dibelikan murahan mana bisa bermutu ?
saya tambah bersemangat mendengarnya, … amin
Tempat saya ada ahli Gizi, Di Rumah Sakit Ulin cak, beratnya hampir 100 kilo!! Lebih mungkin…
Kali aja cakmoki kenal, he…
(OOT) jika presiden RI seorang dokter.. apa jadinya negara kita ya?
maap sudah lama tak bersua
Pengennya semua orang si, dokternya baik, MURAH, dan jelasin ttg penyakit qt sejelas2nya.
Tapi susah euy nemuin dokter ky gitu.
Terakhir wi ke dokter senior yang juga dosen wi, professor pula, duh.. Uang konsultasinya mahal! Resepnya apalagi, dan hebatnya salah diagnosis pula!
*kecewa hiks hiks*
Seorang dokter memang sebaiknya membantu proses healing, bukan sekedar curing.
BTW cak, kalau melihat poin2 utama itu (care provider, decision maker,communicator, community leader dll) saya rasa bisa diterapkan untuk banyak profesi termasuk profesi saya sebagai seorang “baby sitter”.
@ manusiasuper,
duilah, jauhnya pang … ulun dikasih bagian yg beginian, tega banar.
*lirik calon anak menantu*
Koq tau beratnya segitu, pernah nggendong ?
@ Roffi Grandiosa,
menurut saya, gak bagus … ntar yg diurusin kesehatan doang
eh iya nih, lama gak jumpa … rasanya dulu pernah cerita september ini balik ke tanah air, … bener gak?
@ dwi,
kita bisa gak?
yang beginian gak bisa ditiru kali ya
@ d’King,
ok, … entah mengapa dalam aplikasi di lapangan tidak seperti yang diharapkan, paradigma tersebut seolah terlupakan.
bisa jadi, kali dasar-dasar provider emang gitu ya …
..tosss
Trus, saya kebagian “maiden sitter” ? … aha, asyiiiikkk
asal jangan terlalu “RAMAH” aja cak… palagi kalau dokternya laki-laki dan pasiennya perempuan, bisa berabe dan males kembali lagi ke dokter tersebut. Kecuali pasiennya sama ganjennya
:: :: :: Gambaran Buruk Tidak Baik :: :: ::
* Dokter koq jutek ..
…
* Lagi BeTe kali, atau jangan-jangan PMS …
* Mahal … resepnya malah lebih mahal …
* Dokter Lupa Tersenyum
* Hobi marah, senyumnya kecut, hiiiyyy … *padahal di rumah takut ama istri*
* Suka nakut-nakuti *supaya sering kontrol?* …
* Malaikat baju putih nan menyeramkan …
Emangnya dokter malaikat apa?? semua ada +/- nya cak,
yang penting mengubah orientasi “Costumer Satisfaction” dengan “God Satisfaction”…dengan kata lain “Kerja Adalah Ibadah”.. (Dikutip dari buku 8 ETOS KERJA -Jansen Sinamo-)
tuntutan terhadap profesi dokter semakin tinggi…susah juga ya jadi dokter…:(
jgn2 malah jd futuristik
yg ga kalah penting tuh obat jgn terpaku dari produsen tertentu
mentang2 bonus gede tapi jadi mahal ga karuan
samangat!!!! lanjutin sosialisasi future dokternya cak
keren tuh klo bisa gitu
Gak perlu area khusus cak…. yg penting sadar aja kalo dokter itu icon nya gaya hidup sehat…
@ xwoman,
pernah punya pengalaman buruk tentang “kerahaman”, rupanya
@ sibermedik,
emang bukan dan tidak akan pernah.
Bermanis muka, ramah, sabar … rasanya aplikasi tuntunan akhlaq.
Nah, terkait dengan “God Satisfaction”, suara pasien dan atau keluarganya sebagai pengguna jasa pelayanan medis adalah dalam kerangka “hablum minannas”
… so …ibadah juga bukan?
@ imcw,
hehehe …jadi dokter susah, … konon pasarannya tinggi sih
@ dani iswara,
eh … jangan-jangan iya ya
@ ‘K,
Posting tentang “produsen obat tertentu” akan dibuat secara khusus, siiip bosss
@ Shinta,
setujuuuuh mbak
‘masih ada tho pemerasan berkedok PAD, dokter dijadikan alat dan masyarakat dijadikan obyek’
PAD tuh apa sih cak?
benernya yg ditulis berlaku disini juga. dokter suka jutek. apa lagi kalo bau2 bedah. berhubung daku koleksi dokter & rumah sakit disini.. jadi ya berasa deh bedanya… ada yg ngga nemu foramen, trus yg ngasih tau cuma asistennya yg nyuruh balik lagi buat diobok2 nyari zygomaticofacial nerve. Emang enak! Ada yg baik banget, mau dengerin masalah kita apa dan usaha refer ke dokter yg juga cooperatif. Ada yg udah dibilangin alergi masih salah ngasih obat. mana bayar dokterkan mahal banget disini.
kok kayaknya saya tau dokter yang kayak gini….
*mengingat-ngingat…..* ah ya…. cakmoki…
tapi cakmoki kan ganteng…..
saya kok sebal sama dokter yang suka kasih antibiotik yang mahal itu… jadinya saya kan kebal sama antibiotik murahan……
niy kalo mo tau..d UNS masuk FK aja ada yg 100-250 juta..(walah mending tumbas sawah…)
@ triesti,
PAD adalah Pendapatan Asli Daerah. Dalam hal bidang kesehatan, uang retribusi atau apapun namanya disetorkan ke Pemerintah Daerah setempat. Tentu ada target, misalnya RS A targetnya … rupiah per tahun, Puskesmas … rupiah pertahun, Dinas Kesehatan … rupiah pertahun.
Sumber dana tersebut semuanya dibebankan kepada pasien or pengguna jasa layanan kesehatan.
kapan-kapan nulis dong mbak, tentang perbedaan layanan medis di sini dan di sana, agar kami lebih terpacu untuk berbenah.
@ itikkecil,
*joget-joget sampai ngiler*
saya ? ganteng?
Obat mahal konon (menurut penelitian oleh tim dari depkes) karena lebih 30% bukan biaya produksi.
Bahasa vulgarnya ada “kontrak” obat tertentu yangmana deal kontrak tersebut dibebankan kepada pasien.
So resistensi bisa jadi karena “memaksakan” pakai antibiotik jenis tertentu yg membabi buta …
@ sibermedik,
wooooowwwww …. *lihat angka lagi* … wuiiiihhhhh ….
Anu cak, saya mo nanya berkaitan dengan quote di bawah ini.
[quote]… narsis, pakai kacamata item lagi … [/quote]
Mangnya cak moki kalo di ruang praktek pake kacamata item terus yah? *penting banget yah gw*
hmmm harus jadi community leader juga cak….
*vote cakmoki for menkes*
Vote!!
ikutan kangguru
@ iamedel,
huahaha, ntar dikira pemijat …
@ kangguru,
minimal community leader untuk orang satu rumah
@ manusiasuper,
ulun kada umpat
*ikut kangguru dan mansup* !!
Ehm, fakta tentang dokter ya,
Sering dengar ada fakta yang kurang baik tentang dokter ini, tapi gak tau ya, selama ini dokter-dokter yang pernah jadi langganan itu baik-baik deh. Ibu dokternya juga lembut banget, jadi ngerasa nyaman aja. (halaah curhat)
Mudah2an target WHO nya bisa terwujud secara merata di lapangan ya Cak. Jadi pas misalnya nanti ditanya, “Gimana ya pelayanan dokter Indonesia pada umumnya”
“Waah, pokoknya memuaskan deh”. Padahal bisa jadi dia cuma berobat di satu tempat aja, tapi karena di hampir semua tempat udah kaya gitu, ke dokter manapun dia datang, kepuasan akan pelayanannya akan sama. Wuih, apa gak keren banget tuh.
*membayangkan*
@ jejakpena,
*
*ikut mbak yang baik aja deh, …dapet kiriman es krim…
siiip, say bisa niru tuh …
keren, saya ingin termasuk di kelompok itu juga lho.
Betapa menyenangkan kalo sebagian besar layanan kesehatan bisa memuaskan *mbayangkan juga*
ndak bosen2nya bilang :
vote cakmoki for mentri kesehatan!!
oiya cak, pernah baca di koran, katanya dokter wajib kasi penjelasan tentang masing2 obat yang diresepin, trus wajib kasi obat alternatip klo pasien keberatan (sama harganya). pertanyaannya, kenapa kok resep biasanya ditulis dengan tulisan tangan yang ruwet? -ndak nyambung, hehehe..-
Kriteria dokter masa depan itu sangat bagus. Mudah-mudahan semua dokter Indonesia bisa memenuhi kriteria tersebut dan menjadi dokter-dokter masa depan.
Eiittss….. jangan lupa, di masa kini Sampeyan juga dokter sehingga tetap harus memenuhi kriteria-kriteria itu.
ayo bang ciptakan “doctor future”
biar anak kecil ga takut lagi ma dokter
@ vend,
ya benar, seharusnya emang begitu, pasien boleh bertanya, boleh mengajukan keberatan soal biaya dan berhak mendapatkan informasi.
saya sendiri gak ngerti, mengapa koq “harus” jelek? …kalo yang emang aslinya jelek sih ga soal, lha bagus trus dibuat jelek…ada apa?
Ada semacam adekdot di kalangan medis *tapi jangan omong2 ya …
rahasia *
dokter menulis resep sejelk-jeleknya dan menulis kuitansi dengan tulisan sebagus-bagusnya
@ Kang Kombor,
waduhhh, berarti sebentar lagi saya jadi mantan dokter … hahaha… berganti blogger…
Oke Kang, siap melaksanakan tugas, … apa delapan enam gitu ganti.
@ super_kecil,
ho-oh Cil, … eh yang menciptakan kita semua dong, setuju ?
Ingat The five stars doctor , ingat 7 area kompetensi dokter Indonesia.
Tujuh area kompetensi tersebut adalah Komunikasi efektif; Keterampilan Klinis; Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran; Pengelolaan Masalah Kesehatan; Pengelolaan Informasi; Mawas Diri dan Pengembangan Diri; Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan pasien.
Dengan komunikasi efektif dokter tidak judes dan dapat berkomunikasi dan berempati dengan pasien. Dengan ketrampilan klinis dokter memiliki ketrampilan yang oke dalam mendiagnosis dan menterapi pasien. Dengan landasan ilmiah ilmu kedokteran, dokter tidak ngawur dalam mendiagnosis dan menterapi karena ada landasan ilmunya. Dengan pengelolaan Masalah Kesehatan maka dokter mumpuni dalam mengelola masalah kesehatan. Dengan Pengelolaan Informasi; Mawas Diri dan Pengembangan Diri; maka dokter terus mengupdate pengetahuan dan kemampuannya serta dapat mengelola informasi dengan benar serta penerapan IT. Dengan Etika, Moral, Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan pasien maka dokter dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi dirinya sendiri dan pasiennya.
Semoga kompetensi ini benar-benar dibekali oleh institusi pendidikan kedokteran buat lulusan dokternya.
@ zulharman,
wow keren
trims tambahannya mas
Moga sesuai harapan kita semua
mungkin masalah moral ini yang masih di dalam grey area…hehehe..
dokter kemaruk semakin merajalela, pasang plang praktek dimana2..
halo depkes/dinkes??
@ Wisnu,S.ked,
kali mirip dengan jualan bakso ya … cabang jl…ini, cabang jl … itu, cagang jl … mbuh … hahaha
Sedikit info, adik saya yang ,alhamdulillah, barusan keterima di FK UNS membayar untuk uang pembangunan plus biaya lain-lain plus SPP semester pertama sebesar 9 juta rupiah (agak nggak jelas sih, katanya karena perubahan sistem pembelajaran menjadi Problem Base Learning maka ada penambahan biaya untuk persiapan sarana dan prasarana) Uang SPP tiap semester sekitar 500-600rb (dibawah sejuta deh)
Pokoknya jangan takut masuk FK karena masalah biaya, ada banyak beasiswa kok.
Kalau ttg doctor as a community leader jadi ingat Mahathir Mohammad…
@ oddworld,
wow, lumayan juga ya …
kalo spp segitu sih murah
Sejauh ini, PBL ga ada biaya tambahan karena hanya perubahan sistem, yang tadinya konvensional menjadi studi kasus dengan skenario yg udah ditetapkan.
Gak murni PBL sih, kuliah konvensional tetap masih jalan.
Emang sebenarnya sekolah dokter di PTS gak mahal, kecuali yang lewat jalur extention.
saya jadi inget artikel tomorrow doctornya GMC. salutttt semoga dokter di indonesia bisa jadi dokter yg tak hnya pintar otak namun pintar sosial…
@ arya,
ya, semoga…kita sama-sama berharap…
http://luluch.blogspot.com
@ Luluch,
Thanks link-nya ya
ntar saya lihat