serial: pelayanan kesehatan tingkat dasar
Salah besar jika pihak yang berkompeten beranggapan bahwa pelayanan kesehatan tingkat dasar terutama di ndeso cukup diberikan apa adanya dan sangat sederhana. Pendapat demikian bertentangan dengan amanat UUD 1945 di bidang layanan kesehatan. Modernisasi menyeluruh layanan kesehatan dasar mutlak diperlukan. Apa bisa? Bisa !!! Dan harus bisa !!! … Mengapa tidak ?
* cak, bangun … bangun, jangan mimpi !!! *
Oahemmm *menguap* … ada apa ? modernisasi di ndeso ? Bisa !!! Dan harus bisa !!! *sambil ngusap mata* Mengapa tidak ?
Penulis mengatakan bisa karena memang bisa dan pernah mengalaminya. Jika ada yang beranggapan tidak bisa, penulis akan balik mengajukan sederet pertanyaan.
Mengapa tidak bisa, apa pernah diperjuangkan sampai poll dan dinyatakan gagal, bagaimana usahanya, apa saja hambatannya, bukti otentiknya mana dan … bla … bla … bla.
Secara garis besar, pelayanan kesehatan dasar meliputi 4 aspek yakni: upaya pendidikan kesehatan (promotif), upaya pencegahan (preventif), upaya pengobatan (kuratif) dan upaya pemulihan (rehabilitatif).
Agar lebih fokus, pembahasan kali ini dikhususkan pada upaya modernisasi UGD Rawat Inap di pedesaan (kecamatan) sebagai salah satu bagian kecil aspek pengobatan (kuratif).
FAKTA SEPUTAR UGD PUSKESMAS PERAWATAN
Dari belasan UGD Puskesmas Perawatan (Rawat Inap) yang pernah penulis kunjungi (bukan study banding dan tidak pakai anggaran negara
) di tingkat kecamatan (jangan bandingkan dengan kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dll … lho), menghasilkan catatan kurang lebih sebagai berikut:
- Kumuh, sempit, semrawut, sumuk, gerah, jorok, bau …
- Petugas kurang ramah, hobi marah, acuh tak acuh, lamban, kurang cekatan, suka tidur …
- Pasien tidak diperiksa, ditelantarkan, pelit informasi, obat mahal …
Tentu tidak semuanya begitu, ada sisi-sisi yang bagus namun jelek kurang bagus di sisi yang lain, atau mungkin emang ancur-ancuran. Bagi kalangan kesehatan ekspos fakta ini amat menyakitkan, seakan menohok batas ego. Bagi pengguna layanan medis (pasien) gambaran di atas adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri, coba saja dengarkan pendapat mereka.
TIPS MODERNISASI UGD
1. Fisik dan Tampilan UGD ndeso
- Untuk mendapatkan gambaran bagaimana UGD ndeso nan nyaman, tempatkan diri kita seolah-olah sebagai pasien yang sakit mendadak di tengah malam dan memerlukan pertolongan segera di UGD. (lebih bagus lagi sharing minta pendapat pasien)
- Tempatkan UGD di bagian paling mudah untuk keluar masuk kendaraan roda 4 agar penanganan pasien lebih capat. Minimal sekitar 4-5 meter dari pintu mobil menuju pintu UGD.
- Setting lorong UGD (selasar) selebar 4-6 meter agar nampak lega, dan tempatkan pintu UGD di salah satu sisinya.
- Siapkan minimal 2 kursi dorong dan 2 tempat tidur dorong (pilih kualitas nasional kelas 1) yang selalu ready di lorong (selasar).
- Sediakan minimal 2 tempat tidur periksa manual dan 1 cadangan di dalam UGD, lengkap dengan bantal dan sarungnya (dicuci setiap hari).
- Sediakan setidaknya 2 lampu sorot untuk operasi kecil dan 2 paket peralatan medis standar (pilih buatan Jerman, merk A**cu***)
- Semua lemari sebaiknya menggunakan lemari kaca (alumuniumnya kelas 1lho)
- Pasang 2 buah AC minimal 1 kw. (pilih yang ada layanan perawatan)
2. Pernak Pernik
- Cleaning service 2 kali action pagi dan sore. (nyapu dan ngepel pakai pewangi)
- Gorden, kelambu, selimut dan peralatan katun selalu bersih.
- Langganan cuci dan seterika setiap hari atau setidaknya 3 kali seminggu.
- perangkat meja kabinet (minimal 2 buah) dan kursi putar (minimal 6-8 buah) atau disesuaikan keperluan.
- Dua buah komputer (dan 2 printer) UGD, 1 khusus rekam medik dan 1 untuk lainnya.
- TV 21 inchi atau lebih untuk keluarga pasien (asal jangan ribut)
- Cairan pewangi cuci tangan dan pewangi ruangan (beberapa aroma supaya tidak bosan)
- Upayakan pengadaan obat dan bahan habis pakai secara swakelola agar lebih murah dan sesuai keperluan.
- Dan lain-lain (maaf, lagi sok sibuk)
Walah banyak banget, lihat Promonya (flash swf 69 Kb) di sini aja deh.
DOWNLOAD beberapa contoh perangkat penunjang (jika ingin tahu) di bawah ini:
- File: SWF | ukuran: 552 Kb | Site Plan (musik off)
- File: PDF | ukuran: 026 Kb | Ringkasan Peraturan Daerah tentang Pola Tarip
- File: SWF | ukuran: 007 Kb | Grafik Rekap Dana
- File: PDF | ukuran: 056 Kb | Anggaran Tahunan
- File: EXE | ukuran: 1,1 Mb | Galeri foto flip (maaf, jika ada foto guyonan yang dinilai syur gak usah ribut, delete aja atau tutup mata, gak sempat ngedit je, … gitu aja koq repot)
KESIMPULAN
Modernisasi layanan kesehatan untuk warga ndeso BUKAN MIMPI !!!
Mereka (warga ndeso) adalah saudara kita, berhak mendapatkan yang terbaik sebagai bentuk perhatian nyata, bukan sekedar menunggu realisasi janji kosong nan tak kunjung datang.
Maaf jika istilah modernisasi terdengar berlebihan, penulis menggunakan istilah tersebut hanya untuk kepentingan strategis, terutama saat hearing di hadapan DPRD, para petinggi Pemerintah Daerah dan Dinas terkait.
Siapa yang harus memulai ?
Bukan Kepala Daerah (kecuali punya janji), bukan DPRD, bukan Kepala Dinas Kesehatan, bukan Menteri Kesehatan, bukan pasien, bukan pula masyarakat (kecuali untuk menguatkan). Pemeran utama dari upaya ini tak lain adalah dokter Puskesmas yang bertugas di kecamatan. (dokter kepala Puskesmas dan atau dokter staf) *jangan pakai alasan kedudukan ah*
Semua rangkaian upaya modernisasi akan sia-sia jika ada salah satu komponen yang korupsi dalam bentuk apapun juga. Untuk menanggulanginya mudah, jangan korupsi !!!
HAMBATAN
Kendala utama upaya modernisasi layanan UGD (Puskesmas Perawatan) biasanya bersifat internal, artinya dari dalam kalangan kesehatan itu sendiri. Tidak mungkin masyarakat menolak upaya perbaikan kualitas layanan kesehatan kecuali kalau tanahnya dijarah tanpa ganti rugi memadai.
Pemeran utama, sesuai namanya memegang peran penting terwujudnya modernisasi. Perasaan dokter bahwa ia bertugas sebentar di daerah adakalanya ogah untuk repot-repot, belum lagi jika berhadapan dengan stafnya (paramedis) yang merasa terganggu periuknya dan bertambahnya beban kerja.
Dokterpun bisa punya perasaan yang sama. Jika ada anggapan bahwa upaya modernisasi akan mengurangi jumlah pasien sore di praktek pribadi yang notabene berada dalam jarak berdekatan (dengan UGD), maka jargon kualitas pelayanan kesehatan tak ubahnya omong kosong belaka.
Kadang kesinambungan upaya modernisasi menjadi penghambat jika seorang dokter sudah merintis upaya tersebut, namun tidak dilanjutkan oleh penggantinya. Bisa pula sang pengganti melanjutkannya dengan setengah hati. Asal jalan.
Faktor penghambat berikutnya adalah Kepala Dinas Kesehatan tk II. Biasanya berkaitan dengan jabatan, atau bisa jadi gak ngeh alias oon. Ini bisa ditanggulangi dengan jalan pintas yakni hearing di DPRD. Pada tahap ini seorang Kepala Dinkes yang cerdas memilih ikut mendukung dari belakang ketimbang nampak tidak populer. Belum pernah ada seorang dokter ndeso yang mengupayakan modernisasi dipecat atau dimutasi, belum pernah. Kalau takut sebelum bertanding sih banyak, dibumbui banyak argumen tentunya.
Bagaimana jika Kepala Daerah dan atau DPRD gak ngeh ? Publikasi !!! Berulang, berulang dan berulang. Atau manfaatkan masyarakat untuk menggelar temu DPRD di masa reses.
Gagal urusan belakang, setidaknya kita sudah berusaha. Biasalah, setiap upaya akan berakhir 2 kemungkinan, kalo gak berhasil ya gagal, gitu aja koq repot.
Kondisi keuangan daerah bisa jadi menjadi faktor penghambat jika Neraca Keuangan Daerah (ukurannya bukan PAD lho) tidak mendukung. Kendala ini dapat disiasati dengan pola bertahap serta berkesinambungan yang melekat dalam Rencana Pembangunan Daerah Jangka Menengah (5 tahun). Bahasa gampangnya giliran.
SARAN
Pendek aja: Niat, usaha, perjuangan dan do’a tanpa henti.
Referensi: *halah kayak makalah aja*
- *tidak korupsi*
- *tidak korupsi*
- *tidak korupsi* … hetriks euy
:: :: :: XTRA NOTES :: :: ::
- Mohon maaf kepada teman sejawat atas keterlambatan tayang request serial tempo hari (telat 3 bulan euy)
- Selamat kepada Bu Ani atas keberhasilannya mengembangkan Puskesmas Lempake menjadi Rawat Inap tahun ini. *terus berjuang Bu, …tosss*
- Kepada papi Bos Puskesmas Temindung nan megah, kapan dikembangkan atuh … sibuk ngurusi p3nyakit k3lamin di lokalisasi Bayur ya papi …
:: :: :: tips serial berikutnya nyusul (mbuh kapan) :: :: ::



















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)






oooh, puskesmas tu ada UGDnya toh?
*manggut-manggut*
ndak pernah tau aku..
seandainya kebanyakan puskesmas itu ‘memadai’, ada pengaruhnya sama tingkat kesehatan warga masyarakat ndak cak?
mengingat -mungkin nanti- masyarakat bakal merujuk ke puskesmas sebagai tempat pengobatan utama
*baca spesifikasi UGD modern*
cak, spesifikasi ini diajukan ke dinkes aja, ato ke pemerintah, ato kemanalah, supaya bisa terrealisasi..
*baca lagi pas bagian istilah modernisasi buat kepentingan strategis*
oalah, emang mo dipresentasikan ke DPRD toh?
pantes komplit abis..
sip, sip, keren cak!
bagusnya dikasih dampak positipnya pada topik2 yang bakal dilirik sama orang2 sono cak, macam jualan obat gitu
oiya, lupa bilang, sukses cak!
*manggut2 sambil mbayangin bentuk UGD idaman dengan spesifikasi begitu*
@ vend,
makasih
oh iya maaf, di postingan gak tertulis ya … sebenarnya ini udah terealisi. Adapun urutan langkah-langkahnya sebagai sharing, siapa tahu ada temen-teman yg semangat untuk memajukan daerahnya masing-masing… hehehe
Mestinya sih di tiap kecamatan (terutama di daerah) ada Tempat perawatan yang memadai, bersih, murah dan berkualitas.
Gunanya untuk membantu warga masyarakat agar kalo opname atau melahirkan gak perlu mengeluarkan dana jutaan.
Cak Moki, artikelnya komplit banget. Uenak ngebacanya. Tapi kok nggak dicantumin antisipasi pencegahan agresi di UGD. Apa nggak perlu disebutkan pula penempatan tenaga pengaman ( satpam ) di UGD ?
Banyak fakta ditemukan, bahwa sistem antrian di UGD itu ribet. Sistem antriannya sih sudah jelas. Tetapi masih terdapat perbedaan persepsi antar petugas dan pasien/keluarga.
Petugas UGD menolong pasien bukan berdasarkan nomor urut semata, melainkan melihat tingkat kegawat daruratannya. Persepsi gawat dan darurat inilah yang sukar dipahami oleh pasien dan keluarganya.
Tak heran, ada pasien atau keluarganya ( orang gedean ) yang marah -marah karena tidak ditangani cepat – cepat ( Padahal sih masih bisa nunggu ).
Akhirnya terjadi cekcok antara petugas dan pasien ( keluarga ). ini sering,lhoh. Bahkan di Jakarta pusat ( nggak usah disebutkan RS-nya ) seorang dokter wanita berdiri kayak ayam ketakutan karena ditodong pistol oleh pentolan kepolisian Bekasi. Akhirnya polisi tersebut meletuskan pistolnya didepan UGD agar karyawan ketakutan. Kasian, lhoh.
Anggaran kemanan karyawan juga jangan dilupakan, Cak. Biar petugas juga mampu memberikan pelayanan secara optimal dan tenang. Uwis, Jrijiku pegel. Aku ndongkrong nunggu tulisan liyane.
membayangkan, gimana seandainya cakmoki jadi menteri kesehatan ya?…pasti mantaps pembangunan bidang kesehatan di negeri acakadut ini…gambaran kesehatan yang saat ini pasien sengsara, petugas medis merana tentu tidak akan terjadi…
sama kayak mansup bilang… cakmoki for
magichealth ministerHal seperti ini bisajadi contoh untuk puskesmas di daerah lain. Gak tau cak, tapi menurut saya keharusan puskesmas untuk menyetor PAD ke pemda juga berpengaruh. boro-boro mau memperbaiki, wong dana yang ada aja disetor. CMIIW
Dan kalo berhasil, bisa jadi tempat
pelesirstudi banding daerah lainCakmoki…sharing juga dong langkah-langkah yang mesti dilakukan untuk menjadikan petugas kesehatan lebih empati sama pasiennya…
kombinasi yg selalu mujarab …
Menunggu HIS selanjutnya aja deh….
ayo ayo semua dukung cak moki jadi presiden!
SEMANGAT deh, Cak…!
Kalau saja Puskesmas di tempat saya seperti itu, mungkin bakal asyik ya… *membayangkan*
‘MANTAPS, HEBAT’
satu lagi untung cakmoki masih muda banget jadi impian untuk menjadi menteri kesehatan makin dekat.. hehhehehe
*tekan file-save as- save*
Kumuh, sempit, semrawut, sumuk, gerah, jorok, bau …
Petugas kurang ramah, hobi marah, acuh tak acuh, lamban, kurang cekatan, suka tidur …
Pasien tidak diperiksa, ditelantarkan, pelit informasi, obat mahal …
biasa Dok..bangunan gaya “kolonial” orde baru yg masih dipertahankan..makasih…doakan semoga generasi dokter “golongan muda” bisa mengubahnya jadi lebih baik..
BTW, maaaf…maaf bgt..pokoke sibermedik minta maaf bgt soal comment yg kmrn..maklum ngetik sambil nyambi “meriang” gara2 diajak YM ma rekan2 IT…maaf ya dok..maaf100x..
Kumuh, sempit, semrawut, sumuk, gerah, jorok, bau …
Petugas kurang ramah, hobi marah, acuh tak acuh, lamban, kurang cekatan, suka tidur …
Pasien tidak diperiksa, ditelantarkan, pelit informasi, obat mahal
biasa Dok..bangunan gaya “kolonial” orde baru yg masih dipertahankan..makasih…doakan semoga generasi dokter “golongan muda” bisa mengubahnya jadi lebih baik..
BTW, maaaf…maaf bgt..pokoke sibermedik minta maaf bgt soal comment yg kmrn..maklum ngetik sambil nyambi “meriang” gara2 diajak YM ma rekan2 IT…maaf ya dok..maaf100x..
apa UGD di Puskesmas juga perlu ATLS & ACLS dok?
Kalau modernisasi hal tsb gimana cak
BTW setuju dengan Pak dokter IMCW…
Dukung cakmoki sebagai menteri kesehatan supaya blogger dapat tunjangan kesehatan gratis
wah cak, saya rasa kalo ini semua disebut mimpi, ada benernya
juga sih.
banyak sekali puskesmas2 yang sebenarnya mampu tetapi
SDM nya itu lho Cak, banyak yang keenakan tidur sampe ter-iler-iler..
*maap2, gak semuanya lho*
Kapan ya??
Setau saya kalo di Jatim kalo posisi puskesmasnya di jalan besar (jalan antar kota) otomatis punya UGD.
Waktu CM di Mojo Agung dulu tanya2 ama polisi sudah jadi kesepakatan tidak tertulis kalo ada KLL di jalan, kalo pasiennya sadar dikirim ke UGD puskesmas n kalo gak sadar baru dikirim ke RS terdekat.
SO, maksudnya? gak ada sih cuma share aja…
@ Majalah “Dewa Dewi”,
Makasih masukannya mbak, …
Kebetulan kami berdekatan (satu kompleks) dengan Polsek dan Koramil, jadi setiap saat aman
Khusus Rawat Inap (plus UGD), kami rancang terpisah dengan Puskesmas, dibangun tersendiri, dipisahkan pagar tembok, agar tenang dan tertib.
Memang benar adakalanya rebutan, namun dengan pendekatan personal dan penjelasan, bisa ditertibkan. Sejauh ini tidak sampai terjadi keributan. Moga selanjutnya tidak.
Untuk anggaran keamanan petugas, … wah hebat nih, kayak di negeri modern ya … saran yg bagus, kami terima dg ucapan terimakasih.
hehehe, iya, masih ada beberapa serial koq, sabar ya…
@ imcw,
walah, … mari bersama-sama membayangkan sistem keseatan yg lebih baik
@ itikkecil,
Sektor pelayanan dasar sebagai sumber PAD, kurang tepat. Sebenarnya sudah ada Nota Kesepakatan antara Menkes dan Kepala Daerah se Indonesia th 2001 yg menyatakan bahwa sektor layanan kesehatan dasar bukan sumber PAD. Namun kenyataan bicara lain.
Kali Pemdanya belum baca atau jajaran kesehatan di daerah tsb takut mo ngomong, hehehe.
@ Shinta,
Tentang petugas … nyusul, sabar ya …
@ Luna Moonfang,
Maksih Teh, atas supportnya
@ omsulis,
hehehe, HIS itu kan ngeden mau melahirkan, … oke deh, HIS selanjutnya nyusul sampai sak mbrojolnya …
@ kw,
hihiks, koq jadi mengerikan gini …
@ suandana,
Makasih, tetap Semangat !!!
Saya ikut mendo’akan, moga di sana bisa lebih baik dari tempat kami.
@ almascatie,
yang ini sangat setuju *peluk om Boy*
@ sibermedik,
ya, semoga para dokter mendatang bisa memperbaikinya.
Soal komen yang lalu gak masalah koq, … sy wellcome terhadap kritik dan saran, … tenang aja Mas, …hehehe
ATLS & ACLS untuk petugas rawat Inap di tempat kami, dikemas dalam bentuk review berkala (pakai LCD Proyektor, beli sendiri). Selain itu, diadakan diskusi kasus setiap pasien sehabis visite. Bimbingan teknis (bimtek) oleh dokter berdasarkan Prosedur tetap yg sudah kami susun. Polanya semacam tatakerja Komite Medik di RS.
Kendalanya, tidak semua dokter mau melakukan bimbingan teknis bagi petugas paramedis.
@ deKing,
Tentang modernisasi petugas menyangkut ketrampilan teknis, sikap terhadap pasien dan keterbukaan manajemen keuangan, nyusul …. sabar ya Mas.
(seperti biasa, ada posting lain sebagai selingan)
@ gies,
iya tuh, SDM kita maunya santai.
Kalo di tempat kami, untuk Rawat Inap kami milih tenaga sendiri, tenaga baru, dilatih mulai awal dan dipisahkan dengan petugas lama supaya gak ketularan males, hehehe. Yg agak lama persetujuan dari walikota or bupati (soal tenaga khusus itu)
walah suip, sayangnya banyak yang ndak seide ya cak!
membayangkan semua dokter kayak njenengan cak!
@ Astri,
Koq lucu ya Mbak ? Berarti yg di dalem masyarakatnya gak keduman UGD dong …
Aha, sy juga pernah cm di Mojoagung tuh, (mojosari ding)…
Kenapa begitu mbak ?
@ peyek,
hehehe, jo ngono ah *pasang gaya tersipu*
Emang di internal kami, hal-hal kayak gini masih berat diperjuangkan cak peyek, konon gak dadi duwit, lha repot tho …
kalo gak salah yang di ploso – jombang ada UGDnya, tapi gak semua yang pelosok ada. mungkin kalo ada rawat inapnya baru ada UGDnya. kapan ya di seluruh indonesia ada pemerataan pelayanan kesehatan baik dari sarana ama SDM.
jadi inget waktu PTT dulu, kebiasaan paramedisnya kalo ada pasien apnea diresusitasinya cuma ditempeli oksigen nasal. Ambu bag? tersimpan dengan manisnya di lemari dan gudang farmasi. masih kinyis2 lho…
Jangan tanya nasib pasiennya
@ Astri,
itu juga yg sering menjadi pertanyaan dan harapan banyak orang.
Sayangnya beliau-2 nun di atas sana ga pernah bikin site plan berdasarkan alokasi waktu.
ambu bag gak dipakai? hahaha, itu sih terjadi di banyak tempat mbak. Untung gak resusitasi airway pakai kipas sate
cak album fotonya pake program apa?full versio g?
mau dong?
(bukan ceweknya lho)
@ Sibermedik,
Pakai deskTop Author, dikasih adik, dia beli via kantor, hehehe
kalo donlot versi trial kali
cobain deh gerilya softwarenya
eh sekarang PKM mojoagung dah bagus lho…kan dah jadi puskesmas Idaman tahun 2010 ntar jadi RS. Dah gak kaya’ dulu lagi yang PKM nDeso. Pokoke dah clean and clear
.
Kalo gak percaya mampir aja ya kalo lewat mojoagung…
Cak, Saya lagi nulis skripsi ttg Pelayanan Kesehatan ni, di Puskesmas Mojoagung, tapi lagi ada kendala.
saya harus mulainya dari mana ya? terus Kerangka Pemikiran untuk penelitian Pelayanan Kesehatan yang biasa dipake itu seperti apa?
Apalagi bulan Desember kemarin Puskesmas Mojoagung dapat sertifikat ISO 2000-9001 dari WQA. lha itu yang sebenernya pengen saya jadiin fokus penelitian. kan secara otomatis, kalo dapat sertifikat ISO, manajemen pelayanannya udah lebih bagus dari Puskesmas kebanyakan, terutama di daerah ndeso…
So, saya berharap Cak Moki mau dan sudi membantu saya.
Matur Suwun
rzky_frds@yahoo.com
@ intana:
*guyon*
wuaaaaa…sorry kelewatan
Selamat deh, …saya dulu pernah belajar di sana waktu co-ass.
Omong-omong, masih ada yang suka merengut gak ?
@ Rizky Firdaus:
Ambil salah satu item pelayanan saja, misalnya: Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif, atau layanan berbasis peran serta masyarakat seperti Posyandu.
Kalo masih terlalu luas, fokuskan lagi ke sub item.
Contoh:
Katakanlah mo ambil Pelayanan Kuratif (pengobatan), inipun ada 2 layanan besar, yakni: Rawat Jalan dan Rawat Inap.
Untuk Rawat Jalan masih dibagi: Poli Umum, Poli Gigi ..dll, trus alur layanannya seperti: pelayanan apotik (kamar obat), dll.
Pilih mana ?
Ok, sebagai gambaran, waktu sy masih tugas di Puskesmas, ada beberapa mhs S2 ambil penelitian untuk tesis, kalo gak salah judulnya:
1. ” Kemampuan Pembiayaan Masyarakat Dalam Pelayanan Rawat Jalan di Puskesmas Palaran “.
Nah, data penunjangnya mudah: total kunjungan (visit rate), jumlah yang bayar, jumlah yang gratis (gak mampu, UKS, Lansia, Askes, pasien progam semisal TBC, dll). Setelah dipilah ketemulah persentase yang mampu dan gak bayar (UKS, Lansia, Askes dan program dikeluarkan dari variabel pokok).
Trus wawancara (random sampling) pada pasien untuk mengetahui tempat berobat selain Puskesmas, misalnya kalo gak puas trus ke dokter praktek, matri, bidan, RS atau … mandi sauna *hehehe, yg ini guyon*
Kebutuhan Masyarakat terhadap Ketersediaan Rawat Inap
Data yang diperlukan: total kunjungan, jumlah yg dirujuk, alasan dirujuk (termasuk data dari dokter praktek setempat sebagai sampel, kalo ada).
Setelahnya, pilah rujukan karena alasan Perawatan Lanjutan (opname) non operatif dan kasus yang masih mungkin dirawat di rawat inap.
Ini kalo belum ada Rawat Inapnya dan masyarakat merasa memerlukan.
Banyak koq, bikin kerangka pikirnya dulu deh, kalo pelayanan kesehatan mah terlalu luas, ntar bingung.
Met nyusun skripsi, moga gak mumet dan moga sukses
Cak Moki…PKM Mojoagung udah punya blog juga lho (www.puskesmasmojoagung.wordpress.com) ….kita mulai berbenah di beberapa hal baik fisik maupun SDM. Makasih atas kritik dan saran yang membangun dari semua demi perbaikan. Kalo Cak Moki ingin tahu perkembangan lebih lanjut di Puskesmas Mojoagung ya silakan buka blog kami…dijamin kaget karena udah banyak perubahan. Kalo bisa kasih saran ya dan komentar ya. Makasih banyak . INTANA
@ Puskesmas Mojoagung:
Selamat, … saya udah lihat, tapi belum komen..ntar yaa
Puskesmasnya bagus … salut untuk segenap ts dan jajarannya.
Met ngeblog juga, moga sempat nulis di tengah kesibukan dan moga bermanfaat
wah ini mimpiku u puskesmasku.tx ya.mohon dana dari mana?operasional kami tak ada
@ nathanio:
Dananya dari Pemerintah Daerah dong…. kalo kita gak minta dengan ngotot, gak bakalan orang-2 atas memperhatikan hal-2 kecil begini… hehehe
Sedangkan untuk pemeliharaan, kita bisa memasukkannya dalam perencanaan operasional setidaknya 4 kali setahun dengan memanggil bagian service produsen AC.