Posting ini tidak membahas hipertensi karena artikel seluk beluk Hipertensi sudah ditulis oleh teman sejawat om imcw (dr. I Made Cock Wirawan, S.Ked )
Penulis tertarik membahas sisi lain seputar tatacara minum obat antihiperteni di kalangan masyarakat luas (bukan survey lho). Khalayak pada umumnya menghubungkan hipertensi dengan keluhan kepala, seperti: sakit kepala, kaku kuduk, tegang otot kepala, migrain dan sejenisnya. Demikian pula sebaliknya, keluhan kepala dihubungkan dengan tensi atau tekanan darah (tinggi ataupun rendah).
Anggapan demikian perlu diluruskan mengingat akan berkaitan dengan cara minum obat apabila seseorang menderita hipertensi. Mari kita mundur sejenak, mengamati ungkapan dan anggapan seputar keluhan kepala dan pengukuran tekanan darah.
Si A merasakan tegang otot leher menjalar ke kepala, keluhan ini berlangsung lebih 3 hari. Karena sudah tidak betah dan menurut teman-temannya ada kemungkinan hipertensi (biasanya tensi 120), maka periksalah ia ke dokter. Hasil pemeriksaan tensi: 130/80 … normal. Loh … Mengapa ?
Si B mengalami keluhan yang sama dengan si A. Setelah diukur tensinya menunjukkan angka: 170/90 … hipertensi sedang. Di benaknya tertanam keyakinan bahwa jika keluhan tersebut muncul dia akan menganggap tensinya naik. Pun jika setelah makan obat antihipertensi plus pereda nyeri kemudian keluhannya hilang, dia menganggap tensinya turun dan menghentikan obat antihipertensi.
Si C mengeluh nggliyeng, kepala terasa melayang-layang, pandangan gelap. Ketika diukur tensinya menunjukkan angka: 90/60 … hipotensi. Maka bergumanlah dia, ohhh pantesan … Jika suatu saat muncul keluhan serupa, dia menganggap tensinya turun. ( ada yang mengkonsumsi tablet tambah darah lantaran menganggap dapat menaikkan tekanan darah … korban iklan !!! )
Si D mengalami hal yang sama dengan si C. Saat diukur tensinya ternyata 120/80 … normal. Padahal kata si C dan kata tetangga, keluhan si D adalah tanda-tanda hipotensi. Pokoknya Hipotensi !!!. Koq normal, apa salah ukur ?
Si E mengalami batuk pilek setelah beberapa hari kehujanan. Berobatlah ia ke dokter lantaran batuknya tak kunjung reda ( sampai terkencing-kencing, … criiit ). Betapa terkejutnya ia ketika diukur tensinya, dokter mengatakan hipertensi, 180/90. Loh, padahal gak merasa sakit kepala, tidak pula kemeng di leher seperti yang sering ia dengar jika seseorang menderita hipertensi. Koq bisa ya, ah jangan-jangan tensi dokter rusak, atau jangan-jangan dokternya ngantuk … kebanyakan ngeblog kali
:: :: :: PEMAHAMAN :: :: ::
Memang benar bahwa salah satu keluhan hipertensi berhubungan dengan keluhan kepala, ini bukan berarti setiap keluhan kepala lantas dianggap hipertensi.
Sebaliknya, seseorang yang mengeluh nggilyeng, melayang-layang, pandangan gelap, tidak serta merta dianggap hipotensi …. lantas mengkonsumsi obat penambah darah seperti iklan di tivi yang pantatnya samlohay. … jangan tanya ukuran lingkarnya lho
:: :: :: KESALAHAN CARA MINUM OBAT :: :: ::
Anggapan-anggapan keliru seputar hipertensi dan keluhannya, tak pelak berdampak pada kekeliruan pola minum obat, khususnya para penderita hipertensi.
Tak jarang penderita hipertensi menghentikan minum obat antihipertensi setelah keluhan yang dianggapnya berhubungan dengan hipertensi (misalnya sakit kepala, dll) berangsur reda. Penderita hipertensi tersebut menganggap bahwa tensinya sudah normal kembali atau turun jika keluhannya hilang.
Ada apa harus kontrol tensi, wong gak merasa apa-apa. Begini biasanya ungkapan yang sering kita dengar terkait hipertensi.
Kehebohan akan terjadi tatkala seorang penderita hipertensi mendadak lunglai separo bagian badannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, … STROKE. Iya lah, para anggota keluarga heboh, wong sebelumnya gak ada keluhan … koq tiba-tiba stroke.
Coba kita amati, kebanyakan penderita stroke, tidak mengalami keluhan di kepala beberapa hari sebelumnya. Ini membuktikan bahwa hipertensi tidak selalu disertai keluhan di kepala.
Setelah pulang dari opname-lah biasanya para penderita patuh untuk kontrol tensi. Terlambat ? … ah enggak koq, cuman sedikit telat !!!
:: :: :: S A R A N :: :: ::
Bagi penderita hipertensi dianjurkan kontrol tensi secara berkala bergantung kepada berat ringannya hipertensi dan penyakit lain yang menyertainya. Pada hipertensi berat dianjurkan kontrol tensi seminggu sekali dan seterusnya hingga tensi dapat dikendalikan menjadi normal atau mendekati normal. Selanjutnya adalah follow up agar tensi tidak naik.
Seandainya masalah biaya menjadi kendala, penderita dapat membeli tensi dan stetoskop untuk belajar mengukur tensinya sendiri. Harganya tidak mahal koq, tensi dan stetoskop sekitar 60-75 ribu perak. Caranya mudah, 15-30 menit niscaya bisa mengukur tensinya sendiri. Adapun jenis obat dan dosisnya, mau tidak mau berkonsultasi kepada dokter. Jika inipun dianggap berat, penderita dapat datang ke Puskesmas.
Mohon maaf, kali ini penulis mengambil contoh ekstrim (stroke) bukan bermaksud menakut-nakuti. Penulis ingin memberikan penegasan bahwa hipertensi adalah salah satu gangguan yang memerlukan kesabaran agar tensi dapat dikendalikan menjadi normal kembali atau setidaknya mendekati normal.
Semoga bermanfaat.
UPDATE:
Ringkasan Hipertensi (edisi review presentasi): file flash swf | ukuran 246 Kb berjudul kardiovaskuler, silahkan unduh di halaman download atau di sini.
*maaf, backgroundnya Aiswarya nan cantik, dilarang protes
*
Blogged with Flock





![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)

Hmmm berarti secara logika matematika bisa dikatakan begini ya cak:
Jika hipertensi maka sakit kepala
Sehingga dari pernyataan tsb maka secara logika kita tidak bisa mengatakan jika sakit kepala maka hipertensi
BTW thanx atas informasinya Cak
keduaxx!
sakit kepala berdenyut= masalah tekanan darah.
sakit kepala tdk berdenyt= bukan masalah tekanan darah.
saya dulu diajarin gitu bener nggak cak?
kita nih terlalu lama hidup dalam anggapan kayaknya ya.. sampai2 kita bisa berpikir secara normal lagi, hanya sekedar mendengar apa kata orang yang belom tentu benar.
btw saya harus baca postnya ulang lagi dulu nih, belom terlalu nyambung.. masih butuh pendalaman lagi.. sekali lagi, makasih oi banyak oi atas informasi yang sangat berguna oi lagi.
Adapun jenis obat dan dosisnya, mau tidak mau berkonsultasi kepada dokter. Jika inipun dianggap berat, penderita dapat datang ke Puskesmas.
Masalahnya cak, ada juga orang yang suka sok-sokan jadi dokter sendiri dan menentukan sendiri obat apa yang harus diminum

euh…. OOT ya
keenamxxx
om dokter, aq malah kurang darah
lemah ga berdaya, sering pusing … skalian mo konsultasi trus boleh ga konsultasi via ym 
Pak dokter Cakmoki, kalo penderita hipotensi mungkin nggak terkena stroke?
@ deKing,
bener mas, hehehe … bikin postingan dong, … serial matematika dan kesehatan, banyak tuh. Mo kolaborasi ? Tosss
@ junthit,
Enggak.
Dulu ketika SMA sy pun pernah mendapatkan logika pelajaran kurang tepat, mungkin hanya pengantar atau alasan lain. Eh, bukan dulu banget sih, … maksudnya beberapa tahun yg lalu *lirik mas ari*
Contoh ekstrimnya:
Mancing ikan layang memakai umpan serpihan kain.
Serpihan kain adalah makanan ikan layang, … lha, bukan tho ?
@ almascatie,
… maaf om, saya berusaha menyederhanakan bahsan, sayangnya belum bisa, hehehe
moga berguna oi
@ itikkecil,
sama koq mbak, ditempat kami juga begitu, mungkin di daerah lain juga (Indonesia). Meski sulit, tak ada salahnya kita bersama-sama memperbaikinya.
@ Anang,
@ gadis,
boleh mbak, monggo.
Om? … hehehe, boleh juga putra-putrinya manggil om
@ Shinta,
Bisa mbak/Teh/Bu …
Stroke tidak melulu berhubungan dengan tekanan darah tinggi seperti yg disangka banyak orang.
Masih ada beberapa penyebab Stroke, misalnya: gangguan faktor pembekuan darah, gangguan pembuluh darah, emboli (masuknya udara ke dalam pembuluh darah), tumor dan lain-lain.
Artinya walau seseorang hipotensi namun ada faktor pencetus stroke lainnya, maka orang tersebut dapat mengalami stroke.
sing paling mbencekno, kalo pasiennya atau malah tetangganya kemeruh, nyetop obat dhewe, trus tensine naik. bilangnya dokter kok ngasih obat gak manjur, padahal yo disetop dhewe.
Moro2 tensine munggah dadi 200/120. Aku sing cemut2.
Btw, cara minum obat misalnya sebelum makan terkadang memberi penurunan tensi yang bermakna lho cak..
obat hipertensi harus diminum seumur hidup…saya sering menanamkan kata kata ini pada pasien saya…ditambah dengan sedikit menakut nakuti tentang komplikasi yang bisa terjadi bila tensi tidak terkontrol…memang sangat susah menjaga kepatuhan pasien terhadap obat anti hipertensi (gratis sekalipun, karena kebanyakan pasien saya kerjasama dengan jamsostek)…
kok daah “dr” tapi “S.Ked” masih ditulis???
Lha JNC VII gak ngefek ya di Indonesia?
kebanyakan HCT+CAPTOPRIL jadi gak mempan ngontrol HT…
Behavioral medicine perlu ditinjau sbg sarana Rehabilitasi Medik..bukan hanya farmakoterapik aja…setuju g?
jadi ingat bapak saya, jika tekanan darah atasnya 170 aja pasti mulut mencong lah, sikat gigi ga bisa balik lagi atau pernah juga mata sebelah kiri tidak bisa liat serta tangan kiri juga tidak bisa di gerakkan.
sehingga pas tensi atas 200 terjadilah stroke yang tidak ringan lagi, penyumbatan otak sebelah kiri jadi badan sebelah kanan lumpuh, itu 3 tahun yang lalu.
Alhamdulillah sekarang beliau sudah bisa jalan tanpa tongkat lagi, yah…berkat keinginannya yang besar untuk segera sembuh serta kedisiplinannya berlatih jalan dan tetap rajin minum obat.
hmmm…suwun cak, jadi nambah pengetahuan saya yang juga masih bengkok-bengkok kalau ngejelasin sama teman yang kemeruh..(halah wong aku yo ra ruh khok..hehe
Terima kasih Pak dokter,
Tanya lagi ya ( mumpung bisa konsultasi online & gratis )
Kalo seumur hidup minum obat hipertensi apa ada pengaruhnya terhadap organ tubuh yang lain? Ibu saya kalo minum CAPTOPRIL tekanan darahnya turun tapi jadi batuk-batuk, kenapa ya pak dokter. Terima kasih lagi…
Hipertensi termasuk penyakit keturunan gak ya…. maaf pertanyaannya ndeso..he..he
Sering makan bawang putih mentah, juga baik untuk menurunkan gangguan penyakit jantung dan pembuluh darah.
aiswarya yang dari india itu ya?
mana-mana?
*tengok kanan-kiri*
he..he..
@ Astri,
Kita memang didapuk gitu kali mbak, walaupun sudah menjelaskan sampai ngiler seringkali pasien lebih percaya pada omongan tonggone. Nek tensi gak mudhun doktera gak manjur, hahaha. … kompak dulu … Tosss
Bener mbak, pola minum obat menjadi tantangan bagi kita, obat sebelum makan misalnya captopril masih sering diminum sesudah makan. Mungkin masih ada anggapan bahwa minum obat kudu mangan dhisik.
@ imcw,
Doktrin penngertian dasar adakalanya sangat membantu agar pasien tidak mudah terpengaruh omongan tetangga. Jika bisa seperti itu, hebat om. Mungkin penanaman pengertian semacam itu dipengaruhi sosiokultural ya …
Jamsostek ? Askes ?
Arrrrghhh, saya gak pernah mau
diaturkerjasama dg mereka. Kasian pasiennya …@ sibermedik,
Sy kopi paste dari about beliau. Mungkin memiliki bidang keahlian tertentu. kalo gak ada klarifikasi dari om ck berarti bener.
Kita pakai texbook dong, adapun jurnal dll sebagai tambahan informasi.
Captopril masih ngefek koq, bergantung pada berbagai hal. Idealnya dalam seminggu tensi bisa diturunkan 20 mmHg. Jika tidak memberi respon sesuai harapan, bisa dinaikkan dosisnya, atau diganti jenis lain.
Posting ini sebenarnya membahas Behavioral medicine, hanya saja dikemas dalam bentukdialogis. Dalam aplikasinya kita dihadapkan pada sosiokultural, farmakoterapi, epidemiologi, dll. Pendekatannya saja yang mungkin sedikit berbeda.
@ evi,
Alhamdulillah beliau sudah pulih kembali.
Makasih telah berbagi, moga beliau (ayahanda) diberikan kesehatan. Amin
@ mei,
Tenang mbak, podho bengkoknya, kita saling meluruskan. Bahasan kita kali ini memang di luar konteks medis, namun saya anggap penting untuk keberhasilan pengobatan.
@ Shinta,
Jika manfaatnya lebih besar dibanding resikonya, kenapa tidak ?
Iya bener, salah satu efek samping captoril adalah batuk, selain berkurangnya rasa pengecapan lidah. Gpp mbak … efek sampingnya ringan aja koq
mmm, … koreksi dikit ya … saya biasa dipanggil cak, atau cakmoki, … kalo dipanggil pak dokter entah mengapa kuping saya berdenging, … hehehe
Moga ibunda sehat selalu.
@ wulan,
Faktor herediter adalah salah satu faktor pencetus mbak. Artinya jika orang tua kita hipertensi, bisa jadi salah seorang diantara putranya beresiko hipertensi. Tidak selalu koq …
@ Majalah ” Dewa Dewi “,
waduhhh mbak, mohon maaf, yang ini saya tidak bisa memberikan tanggapan secara spesifik.
Andai ada yang meneliti dan ternyata mengandung komponen antihipertensi, alangkah bagusnya jika dapat dipisahkan, dikaji kandungannya, cara kerja dan efek lain berkenaan dengan sifat komponen tersebut.
Penyakit jantung banyak jenisnya. Tidak bisa untuk semuanya kan ?
Pun hipertensi. Sangat kompleks. Tidak sesederhana yg kita duga.
Lagipula pemilihan jenis obat mempertimbangkan banyak hal. Apakah kita menggunakan antihipertensi yang bekerja di enzim anak ginjal (kelenjar adrenal), di pembuluh darah, di sistem keseimbangan cairan, di otot jantung dll, dilandasi dengan hasil pemeriksaan fisik secara keseluruhan dengan mempertimbangkan efeknya pada organ tubuh lain. Pilihan ini harus terukur demi keselamatan pasien dan keberhasilan pengobatan.
so ? hehehe … pilihan ada pada masing-masing
makasih mbak
@ klikharry,
eh, bukan …. Aiswarya dari Solo, hahahaha
Tossss
cak,, sekarang udah dipake blom sih A2RA buat gantiin ACE-I?? kan lumayan buat ngehindarin efek samping kaya batuk batuk gitu,,
wah masak di matematika.
hipertensi belum tentu sakit kepala, sakit kepala belum tentu hipertensi he he he he
ilmu pasti tidak sama dgn ilmu belum tentu pasti
ilmu matematika tdk sama dengan ilmu kedokteran we ke ke ke ke ke….
di kedokteran, bisa jadi 1 + 1 = 4 anak kembar
@ Ma,
semua jenis antihipertensi dapat dipakai bergantung kepada kasusnya dan kondisi fisik penderita. Side effect tetap ada Ma, makanya dalam aplikasi klinis, pilihan obat masih harus mempertimbangkan berbagai variabel. Efek samping ringan seperti batuk bisa diatasi dengan ekspectoran jika itu memang pilihan terbaik dibanding antihipertensi lainnya. Disinilah pentingnya penilaian klinis pasien, disamping penjelasan tentunya.
@ Nearz,
ya, bisa jadi
Bener banget A2RA gak mesti gantiin ACE-I,tergantung keadaan penderita dan yang jelas A2RA mahal
Matematika memang nggak sama dengan Kedokteran tetapi gak bisa dibilang kalau kedokteran itu belum tentu pasti dan Matematika itu pasti. Semuanya kembali pada apa pengertian pastinya. Dalam Matematikapun ada yang tidak pasti(dalam arti susah didefinisikan) yaitu berkaitan dengan Infinitesimal dan bilangan tak hingga. Dalam kedokteran ada yang pasti(dalam arti batasannya jelas) misalnya Mati batang otak adalah tanda pasti kematian, begitu menurut saya
Salam kenal Mas
@ secondprince,
ahaaa thanks tambahan penjelasannya.
salam kenal juga *salaman*, makasih udah berkunjung
Pak Dokter,
Ukuran tensi yang normal tuh berapa sih..?
saya pernah dengan ukuran 150/110, hidung saya udah mimisan. Setelah dikasih dokter obat Amdixal 10mg 1×1
ditambah minum peresan seledri, tekanan saya jadi 120/80.
Itu pun jadi keleyengan.. karena mungkin biasa dengan tensi tinggi. Nah, ukuran yang ideal tuh berapa sih Dok.
Terima kasih.
Doni