Workshop di Institusi Kesehatan Pemerintah
Bulan-bulan ini (sejak juni) instansi kesehatan pemerintah biasanya sedang sibuk-sibuknya ber-workshop ria. Workshop-2 di instansi kesehatan pada umumnya dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Tingkat II, tingkat Provinsi dan tingkat Pusat.
Lalu, apa anehnya ?
Tidak aneh jika workshop memang benar-benar diperlukan, dalam arti untuk pengenalan program baru, petunjuk teknis kebijakan baru dan sejenisnya yang bermuara pada output atau outcome nyata.
Lho, kalau wajar kenapa dibahas?
Iya nih dibahas, habisnya workshop-workshop tersebut berpeluang dijadikan “lahan” menggerogoti uang. Bukan hanya berpeluang sih, malah ada yang menjadikannya sebagai media yang nampak legal untuk bagi-bagi dana anggaran. Uang-uang untuk workshop di instansi kesehatan tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tingkat I ataupun tingkat II, APBN dan bisa juga utang bantuan Luar Negeri.
:: :: :: ANGGARAN DAN REALISASI :: :: ::
Dana anggaran instansi kesehatan tingkat II (instansi lain gak tahu) dicairkan dalam 4 tahap, yakni triwulan I (januari-maret), triwulan II (april-juni), triwulan III (juli-september) dan triwulan IV (oktober-desember). Biasanya, dana cair setelah lewat triwulan I, kadang (seringkali?) pada akhir triwulan II. Sedangkan workshop dilaksanakan setelah dana turun. Artinya kegiatan (workshop) triwulan I (dan awal triwulan II) tidak dilaksanakan. Kalaupun dilaksanakan, menunggu setelah pencairan dana pada triwulan II.
Fenomena tersebut menggambarkan bahwa pelaksanaan workshop di instansi kesehatan banyak bohongnya dibanding benarnya. Lha gimana, wong pelaksanaannya triwulan II dipertanggung jawabkan sebagai pelaksanaan workshop triwulan I.
Kalau materi workshop menyangkut penyakit endemis (mudah menyebar dan menular), berarti pembahasan dilakukan setelah kasusnya lewat.
Huaaaa, bohong kan?
Ditinjau dari sisi manfaat dan output ataupun outcome materi workshop, seringkali masih berkutat pada pembahasan program rutin, yakni suatu kegiatan yang mestinya dilaksananakn sebagai bagian tak terpisahkan dari tugas pokok. Artinya bukan kegiatan yang memerlukan pembahasan khusus menggunakan dana.
Sebagai contoh, program pemetaan ibu hamil dari sub dinas Kesehatan Keluarga (Kesga) yang sebelumnya dinamakan Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA). Program tersebut mewajibkan pelaksana (Bidan) pemetaan ibu hamil melakukan kegiatannya pada awal atau akhir tahun sebagai evaluasi sekaligus perencanaan sasaran kegiatan tahun berikutnya. Kegiatan ini rutin, harus dilaksanakan sebagai salah satu tanggung jawab pelaksana lapangan tanpa dana khusus.
Jika kegiatan rutin semacam ini dikemas dengan selubung workshop akan berdampak pada 2 kerugian.
- Pertama, tentu pemborosan.
- Kedua, akan mendidik para pelaksana lapangan menjadi bermental mata duitan, hanya
mengangkat pantatberjalan kalau ada dananya, kalau enggak ada menjadi ogah-ogahan.
Sisi negatif lain dari workshop yang berorientasi proyek (project oriented) adalah tumpang tindihnya penugasan personil. Betapa tidak, mengingat pencairan dana pada triwulan II atau III akan memaksa pelaksana di tingkat II melaksanakan workshop nyaris berbarengan. Akibatnya petugas peserta workshop berurutan meninggalkan tugas rutin hanya untuk menghadiri workshop. Ini akan mendorong kepala instansi di bawahnya (kepala puskesmas) menggilir anak buahnya agar stabilitas layanan poliklinik tidak terguncang.
Kondisi tersebut suka atau tidak hanya menciptakan siklus rutinitas sepanjang tahun. Jangan ditanya hasilnya. Gak ada. Sekali lagi gak ada, selain hanya pertemuan di hotel berbintang, mendengarkan ocehan pembicara dari luar daerah (yang dibayar mahal) sambil terkantuk-kantuk, makan enak, ngrumpi, dapat uang saku dan foto kopian bundel materi workshop. Hanya itu? Ya iyalah ![]()
Eh ada sih, … simak: mengikuti workshop sama dengan menambah anga kredit untuk kenaikan pangkat. Ikut doang lho, ngerti tidaknya, dilaksanakan tidaknya, gak penting. Yang penting dana workshop sukses terbagi.
:: :: :: RENUNGAN :: :: ::
Workshop boong-boongan model gambaran di atas saatnya dihilangkan. Selain menghabiskan dana rakyat, manfaatnyapun patut dipertanyakan. Coba saja tanyakan kepada peserta workshop beberapa bulan kemudian, dah lupa tuh.
Pun demikian dengan mental menghabiskan anggaran, perilaku semacam ini harus dikikis habis jika ingin sebuah program bermanfaat bagi sesama. Kondisi keuangan yang kosong pada triwulan I menunjukkan bahwa semua dana tahun sebelumnya dihabisin, diperas tuntas hingga tak ada ampas. Karenanya tak perlu heran jika program kesehatan hanya jalan ditempat.
Untuk memperbaikinya tidak sulit. Hilangkan dulu mental menghabiskan anggaran menjadi mental efisien, gak perlu banyak argumen, gak perlu banyak alasan. Bosan !!!
Jika pelaksana workshop instansi kesehatan masih jua mengatakan sulit untuk memperbaiki dirinya, sebaiknya tak usah bikin program muluk-muluk, toh akan berakhir dengan siaran ulangan berjudul: menghabiskan anggaran.
Mari berbenah kawan !!!
:: :: :: moto: perbaiki mulai sekarang dan katakan: aku bisa :: :: ::




















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)





Wah lama gak mampir nich…
Ya begitulah budaya kita Cak…yang dipikir selalu hanya bagaimana cara membelanjakan anggaran yang ada secara menguntungkan.
Sepertinya beliau2 benar2 sudah menjadi penganut profit-oriented, tanpa mempedulikan esensi kegiatan yang dilaksanakan. Kegiatan yang ada seringkali terkesan dipaksakan, tetapi sekecil apapun pasti tetap ada manfaat dari workshop2 yang ada
kayaknya sama dengan di diknas cak
wakakakakak..pantesan sekarang gi rame-rame ngadain worseshop, eh workshop..emang ada aje ye Om orang nyari duit..
salam dari Malang dan sekitarnya Om..
wuahahaha,sama cak,intansi pemerintahan dimanapun seperti itu juga. POKOKE entek duite
hehe.. jadi cuma buat ngejar2 program kerja..? wuapik tenan…
ah, ada kok cak workshop yang betul-betul berguna, bahkan luar biasa, seperti yang saya ikuti minggu lalu. diadakan oleh instansi kesehatan tingkat III (baca: puskesmas), dengan dana dari DKK tidak lebih dari Rp 8,5 juta yang bahkan belum turun sampai acaranya selesai. eh, jangan-jangan motornya teman cakmoki? lihat foto dan baca ceritanya di sini cak: http://blog.rumahkanker.com/archives/31
Mungkin ini jawaban atas komentar para petinggi negara, khususnya menteri keuangan cak. waktu itu Ibu Menteri Ani bilang, penyerapan anggaran kecil sekali… jadi “program pembangunan” gak jalan…
*ngakak sendiri*
@ Wa’ wahu
benerjuga wa’ keliatannya kalo taun ajaran baru gini akan semakin tambah besar saja kebohongan dan perilakau nggak benerna. Mulai dari acara semacam workshop tadi sampai memanfaatkan ajang PSB untuk cari uang. Duh, uang uang, bikin orang kesetanan saja lu.
bnyk cara melegalkan kucuran uang. (bahkan study banding di anggota dewan-pun kabarnya spt itu).
wah, saya tidak sampei berfikir sejauh itu Cak…kalo ada seminar atau workshop gratis ya ikuttt…kalo bayar, pikir pikir dulu…:)
@ deking,
Mudah-mudahan masih ada manfaatnya *mode optimis on*
Kira-kira masih bisa diperbaiki kan? Maksudnya lebih mengutamakan manfaat ketimbang cari duit dari sana, hehehe
@ kangguru,
hahaha, sama dan sebangun dong
@ RS ngalam,
ini ceritanya buka dapur supaya khalayak tahu bahwa insitusi kesehatan (atau yg lain) bisa memperbaiki dari hal-hal kecil.
Kalo mau sih, kalo hobinya memang cari uang dari bikin workshop, repotlah.
Ok, salam juga untuk kera ngalam
@ Om Sulis Gak Login,
Dikuras resik ya? hahaha … parah
@ huda,
Di lapangan, maksudnya di dunia nyata itulah yg kita hadapi,apik tenan yo. Tenang aja, kita bisa merubah koq, walau banyak tantangan
@ Titah,
saya ikut bersyukur masih ada (moga masih banayak) yg seperti itu.
Bagus tuh pelatihan beberapa hari dananya gak sampai 10 jt, mana pembicaranya para profesor, siiip
Eh, ntar mbak, hahaha … itu emang temen saya, mbak Maya. Salah seorang dr pandai yg gak mau ambil spesialis malah krasan ngurusi pelayanan dasar di puskesmas, salut untuk beliau, padahal bapaknya profesor, mbak Mayanya pinter, mudah melanjutkan mestinya.
Ah, setelah lihat fotonya, ternyata masih cantik jua, kalau ketemu salam ya, salam cap cip cup …
@ n0vri,
*ngakak juga sambil melet*
Walah bu menkeu koq malah ngajari kayak gitu
sulit ya menerjemahkan: “penyerapan”, entah maksudnya “pemanfaatan”, “pemusnahan” atau kalimat lain dari “habisin aja”
@ anas,
hihihi, tulis rame rame yuk
@ telmark,
study banding-study bandingan niscaya lahan juga, percayalah. begitu sampai ke kota tujuan, basa basi, lalu pemaparan sebentar, selebihnya “shoping”, menyedihkan …
@ imcw,
Cocok itu Om, yg penting ikut menyerap ilmunya. Ikut senang ada yg dapat mengambil manfaatnya
yah, memang begitu pak kebiasaan yang terjadi di hampir semua instansi pemerintah di negara kita ini.
Kalau anggarannya nggak habis bisa kena tegiran & tahun depan dipotong , mana ada yang mau anggarannya dipotong. Yang terjadi akhirnya hal-hal yang benar-benar membutuhkan dana tidak bisa jalan karena dananya udah keburu habis untuk bagi-bagi, terkadang untuk menolak pun sudah tidak bisa tahu-tahu disruh tanda-tangan buat honor gak jelas..:(
@ Andi Vicky,
Maaf, ini pandangan yang keliru. Saya rasa tidak ada satupun kepala daerah atau kepala dinas yang berani ngomong begitu.
Justru kalo mau jujur, misalnya dana lebih dikembalikan ke kas daerah, niscaya akan dipercaya.
Kalo ada pimpinan yg ngomong bahwa dana harus habis & jika tidak habis dipotong, kepemimpinannya patut dipertanyakan.
Sy sudah membuktikan tuh, dana lebih gak dipotong, yang teriak kurang malah dipotong, hahaha
oya, kalo tanda tangan dana gak jelas, ya gak usah diterima dong. Sayangkan kalo keluarga dikasih makan dari dana gak genah, sementara di saat bersamaan berdo’a minta bahagia dunia dan akhirat. Lucu kan?
Akhirnya pilihan ada di diri masing-masing
Hadoooh lagi2 kasusna gak jauh dari korup..hu3..
@ chielicious,
iya Chie, deket banget …
saya banyak kerja sama dengan instansi pemerintah
that’s exactly what they are doing… gimana caranya ngabisin dana
begitu diminta untuk merencanakan program yang ada output yang jelas (bukan cuma dengan alasan ngabisin dana)pada binun….
Kalo dalam kasus ini (dana dari donor) menurut saya, donor juga kadang-kadang salah. Cuma mikirin biar dananya terserap tapi tidak melihat outputnya punya impact atau tidak…
@ itikkecil,
, tujuannya tentu mengacu pada asas manfaat. Dan itu bisa dilakukan koq, hehehe
ya saya maklum, ada yg baik dan banyak yg sekedar menghabiskan dana dengan output tidak sebanding dengan besarnya dana.
Lha sy malah orang dalam, bisa dibayangkan betapa besar tantangannya.
Efisiensi bisa dilakukan asal mau
Salut saya sama Cakmoki berani membuka aib dapur sendiri..
Belum tentu ada orang lain (termasuk saya.. ;p) yang berani melakukan hal serupa..
Btw Cak,
mau tanya, seandainya yang Cak buka ini aib instansi sendiri,
dan orang2 yg Cak ‘beberkan’ kebusukannya adalah notabene rekan2 kerja Cak sendiri,
yang setiap hari bertemu di kantor..
Bagaimana reaksi mereka terhadap Cak setelah membaca artikel2 yg Cak tulis semacam ini?
Bagi2 “tips untuk tetap PD-nya” dunk..
semoga nanti punya keberanian yang sama untuk melakukan hal serupa..
kalo anggaran dah keluar terus ada lebihnya katanya nggak boleh dikembalikan ya cak, harus dihabiskan biarpun mengada-ada hehehehe
kalo ngabisin anggaran harus sampai keluar pulau ya? gila…
Soalnya semalam liat ada spanduk workshop yang diadain pemkab se-NTT tempatnya di Surabaya. padahal, di koran Kompas, 6 Juli 2007, orang pemprov NTT sendiri sedang memprotes kenaikan harga tiket pesawat terbang ke surabaya n antar pulau2 di NTT yang makin mahal… Kalo gitu ngapain bikin workshop di Surabaya???
pantesan propinsi itu tetap miskin, habis anggarannya dihabiskan buat ngelencer sih… bukan buat mensejahterakan warganya (emosi mode: ON)
btw, cak banyak acara ilmiah kedokteraan lho bulan juli – agustus ini di surabaya… gak dateng ta… buat ngabisin anggaran
@ Lily,
eh, aib ya? hehehe … ini untuk perbaikan khususnya kalangan kami, kalo mau sih …, sebagian mau dan alhamdulillah bisa, … artinya penggunaan dana dah ada yg mau legal formal. Cuma belum berani terbuka, bilangnya takut dimusuhi
Soal sikap temen-temen gak tahu persis, sejauh ini baik-baik saja, bahkan di salah satu komen tulisan sebelumnya dapat dukungan
… selama gak ikut kayak gitu, aman, gak ada hambatan apapun.
Tulisan di artikel masih sangat lunak, biasanya ya ngomong langsung, di pertemuan resmi ataupun sehari-hari, lebih cespleng, huahaha
Diantara komen, ada juga dari teman di kota kami menggunakan nickname,
Ada koq di salah satu institusi yg benar-benar open, siapapun boleh ngubek jeroan, termasuk keuangan, gak ada yg ditutupi sedikitpun. Di tempat tsersebut para stafnya malah ceria karena mereka mengelola dana sesuai perda. Jadi apa yg mereka dapat, legal.
waduhh, maaf mbak, gak punya tips khusus, biasanya hanya pesan pada temen-2 berulang kali untuk menggunakan dana sesuai ketentuan, tidak usah menerima yg bukan haknya, gak perlu ngarang … berarti harus ngasih contoh, hehehe
@ peyek,
Kebalikannya cak, kalo lebih justru harus dikembalikan ke kas daerah menggunakan berita acara. Sejauh yg sy alami, tiap tahun ngembalikan dana lebih, misalnya: dana air, listrik, tilpon dan lain-lain.
Kalo ada pos lain yg kurang dapat mengajukan permohonan substitusi sebelum triwulan IV. Andai mau nyolong sebenarnya sangat mudah, wong tinggal otak-atik angka, atau mengada-ada program, untuk apa ?
@ as3pram,
NTT aja kayak gitu apalagi kaltim yg kaya raya mbak, top lah kalo urusan
workshopjalan-jalan keluar daerah.Jajaran kesehatan kaltim sami mawon, gak peduli obat TB kurang yg penting kluyuran *ngurut dada mode on*
sebetulnya juli ini ingin balik, kadang ikutan kalo ke Sby ada acara ilmiah, gak pakai anggaran, pakai uang sendiri, ilmune ben mancep
Work = kerja Shop = Toko. Workshop = kerja di toko. Hihihi… maaf ngombor dulu.
Daripada bikin workshop mending diberikan kursus kepribadian.
@ Kang Kombor,
setuju Kang
kursus kepribadian penting untuk petugas kesehatan agar ramah saat melayani pasien, gak ngamukan, hahaha
Setuju Cak! Jangan ngamukan.. hehehe.. ;p
Orang sakit klo diamuki ya tambah bingung.. ;p
Soalnya kadang mindsetnya ahli2 kesehatan itu ibarat dewa-dewi berjas putih tanpa sayap.. ;p
mo dibilang apa adanya, memang bo’ongan cak !
Salam kenal Cak !
saya aja setelah 2 tahun gak dibantu nyusun simkes, akhirnya saya putuskan untuk mundur, bisanya cuman nanya kapan selesai, bukan tanya gimana, ada kesulitan ?
Emang masyarakat bisa sembuh, tanpa implementasi ?
@ Lily,
iya mbak, sy pernah ditanya saat di dprd:” mengapa kebanyakan petugas kesehatan judes-judes”, saya jawab sambil guyon:
“mungkin honornya telat, atau habis bertengkar sama suaminya/istrinya”, huahaha
Di tempat sy gak ada yg takut tuh, malah anak-anak kecil suka ngerebut ballpoint, ada juga yg pangku, sayangnya yg pangku anak-anak precil
@ hastadi,
salam kenal juga Mas, wah rupanya tamu serumpun nih
Loh, simkes itu berat lho, mosok dibiarkan sih …
Mestinya atasan bilang gini: “kesulitannya apa? … ok, mengingat nyusun simkes rumit dan perlu waktu khusus, silahkan ajukan rincian dana, dan kalau perlu ajukan laptop untuk kerja dirumah, nanti saya tanda tangani. Dananya ambil di bendahara”.
hehehe, yg kayak gini biasanya sangat jarang.
Hehehehe…cakmoki…
Sebenarnya sih SIMKES itu sangat bagus dan sebenarnya tidaklah berat untuk menyusunnya. Yang saya harap waktu itu adalah cerita-cerita kendala di PUSKESMAS, di dalam lingkungan dinas kesehatan bersangkutan, dan apa butuhnya para pengambil keputusan di daerah itu. Wuuuaaaahhh saya waktu itu sangat berharap ada ceritaan macam begitu. Waktu itu sih ikhlas2 aja dibayar telat, tapi lama2 kog sansoyo gak di support. Wong atase kode penyakit aja, ndak dikasih, baru dikasih waktu saya minta.
Walah..opo ra jengkel.
Btw, saya cuman tukang buat aplikasi kog cakmoki.
Sedih loh cak, nek mikir kesehatan di republik ini.
@ hastadi,
iya … SIMKES sebenarnya salah satu tulang punggung untuk mengambil keputusan setelah analisa data dan self assesment unit pelayanan kesehatan. Namun tidak semua pengambil keputusan menyadari ini.
Sebenarnya, setiap tahun ada laporan tahunan yg memuat “kendala” di Puskesmas maupun Dinas Kesehatan, entah kalo ketiduran … hehehe
Lha njenengan aja sedih apalagi kami yg di dalam, lebih nelongso lagi
… Entah bagaimana nantinya kalo para penggede masih seperti ini.
Btw, saya udah mengunjungi link “berbagi dor net” … siiip