MENGAPA DOKTER OGAH DI DESA ?
Tulisan ini tidak terkait dengan postingan soal gaji, melainkan sebuah pandangan pribadi berdasarkan pengakuan beberapa teman sejawat seputar betah tidaknya seorang dokter tinggal di desa. *pengakuan bisik-bisik* dokter di desa atau Puskesmas itu gak bisa dibanggakan, paling kucluk, mau bergaya pakai jas putih ntar malah dikira mantenan, udah ndesit duitnya dikit.
Tidak seperti kebanyakan dokter di Jawa-Bali yang bisa betah bertahun-tahun di tempat tugas (tergantung desanya juga sih), di luar Jawa-Bali khususnya Kalimantan Timur rata-rata para dokter tidak betah tinggal di tempat tugas.
Ketika seorang dokter yang baru lulus harus memilih tempat tugas ( PTT ) antara Jawa-Bali atau luar Jawa-Bali, niscaya akan memilih yang pertama seandainya boleh memilih.
Kesempatan bertugas di Jawa-Bali tentu tetap ada, namun daya tampungnya sedikit.
Pilihan lain adalah luar Jawa-Bali, tinggal pilih sesuai (kata hati) minat dan rencana.
Seperti kita ketahui bahwa para dokter mempunyai beberapa kesempatan (pilihan) pasca masa tugas (PTT) ataupun setelah lulus pendidikan, yakni:
- Mendaftar sebagai PNS (pegawai negeri sipil), ABRI, POLRI.
- Bekerja di sektor swasta (Rumah Sakit Swasta atau lainnya)
- Melanjutkan spesialisasi.
- Melanjutkan jenjang S2 dan seterusnya.
- Bekerja mandiri (praktek, buka klinik, dll)
- Bekerja di sektor non medis
Setelah memilih salah satu diantaranya, masih berlanjut pada pilihan lain tentang tempat (kota), institusi dan lain-lain. Weleh, rumit !!!
Perlu disadari bahwa kebijakan pemerintah (depkes) soal penempatan dokter setelah lulus dari pendidikan bisa berubah-ubah. Kondisi ini (perubahan kebijakan) akan mempengaruhi pilihan para dokter untuk menetapkan masa depannya.
Kita tidak pernah tahu sampai kapan kebijakan PTT berlangsung dan bagaimana setelahnya (pasca PTT). Pengalaman sudah membuktikan bahwa kebijakan PTT boleh dikata berujung pada penelantaran para dokter (pasca PTT).
Kalaupun nantinya pemerintah (depkes) menelorkan kebijakan penghapusan PTT, seyogyanya ada sinkronisasi antara Depkes dengan fakultas kedokteran agar para dokter sudah tahu dan mempersiapkan dirinya sejak di bangku kuliah.
Mengapa para dokter ogah bermukim di desa ?
Para dokter akan memberikan jawaban beragam saat dihadapkan pada pertanyaan di atas. Setiap jawaban tentu mempunyai alasan (yang berbeda pula).
Berikut adalah daftar alasan-alasan yang (mungkin) dilontarkan para dokter ketika disodori pertanyaan di atas.
- Fasilitas pendidikan untuk anak tidak memadai.
- Kurang tersedianya (fasilitas) infrastruktur, seperti: air bersih, listrik, tilpon, jalan, pasar, dan lain-lain.
- Tidak jelasnya program penempatan dokter dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.
- Kesempatan menambah penghasilan (finansial) yang tidak menjanjikan.
- Serba tidak jelas
PENGABDIAN DAN PENGHASILAN
Sarjana bidang apapun akan bercita-cita menerapkan ilmunya dan berusaha mencari penghasilan yang cukup untuk hidup layak bagi dirinya sendiri dan keluarganya, tak terkecuali para dokter. Wajar kan? *emangnya tiap malem mau nabok nyamuk selama3-5 tahun, gitu penuturan dari para sejawat*
Idealnya di setiap kecamatan (terutama di daerah pinggiran) setidaknya ada seorang dokter yang bertempat tinggal dan memberikan layanan kesehatan di kecamatan tersebut. Bisa dibayangkan betapa kurang terurusnya layanan kesehatan ketika seorang dokter bertugas di Puskesmas di suatu Kecamatan namun ia bertempat tinggal dan praktek di kota. Selama ini sorotan utama sebagai kambing hitam adalah si dokter.
Apa benar ? Belum tentu !!! Kurang pengabdian ? Belum tentu !!!
Sebagai ilustrasi, di sebuah kecamatan ada sebuah Puskesmas, listrik kadang lupa menyala (byar pet), HP tidak ada signal, sarana air bersih gak jelas, mau ke kota sulit, sekolah hanya sampai SLTP, penghasilan masyarakat rendah, jalan entah ada entah tidak (kalaupun ada banyak kubangan) dan berbagai pernik style minimalist lainnya, bla … bla … bla.
Dengan setumpuk keterbatasan di atas tidak salah rasanya jika si dokter hanya mampu bertahan sekitar 5 tahun, selanjutnya memilih minggat pindah ke kota, menunggu digantikan oleh dokter pengganti atau memilih jalur lain.
Siklus ini akan berulang dan berulang.
Siapa sih sarjana yang mau mengorbankan anaknya sekolah di tempat ndesit kecepit, sementara menginginkan pendidikan si anak lebih baik dari orang tuanya?
Bolehlah seorang dokter memiliki kemampuan sebagai pionir membangun sebuah kecamatan, namun amatlah sulit menggapai tersedianya infra struktur yang memadai dalam waktu 5-10 tahun, sementara ia memiliki anak yang memerlukan pendidikan dan sarana lainnya.
Siapa suruh milih jadi dokter !!! Hah, masa gitu sih.
Akhirnya, kepada seluruh Pemerintah Daerah Tingkat II terutama di luar Jawa-Bali, berkenan kiranya mengarahkan pembangunan ke kecamatan dan desa-desa.
Jangan ngurusi mega proyek di perkotaan saja (bisik-bisik: ada fee 10% dari nilai proyek) sementara infrastruktur di kecamatan-kecamatan dan pedesaan kurang sentuhan. Maksudnya infrastruktur dasar adalah: air bersih, jalan, sarana pendidikan (jangan gampang roboh ya), listrik (bukan spec byar pet lho), sarana kesehatan dan lain-lain.
Gitu lho Bosss.
Mana janjimu? *halah, udah tahu banyak ingkarnya masih nanya jua, cak*
SELAMAT BERJUANG KAWAN !!!
Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar Benar.



















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)






PETROMAX dinyalain dulu baru koment
memang sulit ya pak kerja di desa, kalo kitanya nggak nrimo malah mangkel sendiri. saya juga punya kakak yang kerja di kalimantan, di perkebunan (tepatnya dimana saya lupa), gaji gede, fasilitas dari perusahaan oke, cuma ya itu, gak ada fasilitas memadai buat anak, makanya sekarang si anak di paketkan ke jawa buat sekolah di sini, tapi repot sekali.
sepertinya tidak hanya guru pak yang emoh kerja di desa terpencil, hampir semua orang emoh, kalo bisa pengennya kerja di tempat yang nyaman dan penuh sarpras.
tapi juga tak sedikit kan pak orang yang rela berkorban kerja di desa terpencil, mereka inilah pahlawan sesungguhnya bagi rakyat kecil.
ADA UANG ADA OBAT – ANDA SEHAT >>
ADA UANG ADA OBAT – ANDA SEHAT– TIDAK ADA UANG ANDA SEKARAT
Istilah Baru dunia kedokteran kita..
males login.. Net Lambat Salam kenal
hmmm … mengenaskan ya cak …
selamat berjuang deh buat para dokter ….
di desa udah ada apoteker?
kaya’nya belum ya?
Dokter… OH dokter… Selamat berjuang…
Btw, saya lumayan sering berobat ke puskesmas.. terus saya perhatikan beberapa kali ketika saya berobat kesana cuma di cek tekanan darah ma keluhan doang.. Trus mau tahu yang bikin saya terheran-heran pak dokter.. Jumlah jenis obatnya sama dengan jumlah keluhannya… He he he.. Trus saya pernah tanya-tanya fungsi dan guna obat satu per satu malah dimaki maki dan dibilang gak sopan.. akhirnya gak jadi periksa.. Mungkin terlalu berat ya beban seorang dokter ampe begitu… Selamat berjuang… Salut…
akhirnya dokter perlu ‘transmigrasi’ jg ya cak..
Banyak yang bilang jadi dokter enak. Banyak yang
maksamenyarankan Shan-in ambil FK habis lulus SMA ini… Tapi dasar Shan-in, nggak niat jadi dokterwalaupun dikataian tampang IPA.Ternyata jadi dokter banyak makan ati-nya juga ya…
*tersadar setelah baca manga/komik Say Hello to Black Jack dan entry ini*
Berjuang Pak!!
@ Shan-In,,
itu bukan ngomongin Ma kan,,
Cak, Ma ga tau nih bakal PTT atau ngga,, PTT tuh bener bener wajib ya??
tapi dokter jelas calon kaya cak, pelan tapi klakon!
kemarin ke Surabaya International Hospital njeguk teman, wah rumah sakit kok kayak hotel berbintang.
susah juga ya…kaya makan buah simalakama….
emg harus ada realisasi pemerintah ttg pemerataan pembangunan sih….
tapi buat dokter2 ato guru2 yg rela “ndeso” demi memberikan kontribusi, two thumbs up untukmu, pak!
PTT udah nggak wajib lagi Cak…coba baca Permenkes 512/2007, bakalan tambah sepi deh di desa…
PTT tidak dihapus tetapi tidak wajib…jadi dokter yang baru tamat bisa langsung mendapatkan SIP tanpa perlu melampirkan surat selesai masa bhakti…
waah Cak, di kampungku meski desa, dokter hidupnya pada enak…lah wong disamping harus nolongin para pesakitan… mereka juga suka dipanggil tahlilan, puputan, muludan, sunatan, kadang pula dipanggil ceramah… wis pokoke sibuk dan “rejeh” meyeh-meyeh….
Lain di Jawa lain pula di luar jawa ya dr.? Lha…, wong mantri di desa ortu saya saja larisnya bukan main, apalagi dokternya. Tapi BTW, di Malay sinipun sama saja, banyak juga guru yang ogah-ogahan ditugaskan di Sabah & Serawak, pinginnya pada dekat dengan pusat (bukan ‘udel’ lho cak dr.)…
@ cc Rizma: nggak tau juga ngomonging siapa ya~
Baidewei, jadi dokter di daerah bisa nggaet cewe nggak, Pak?
*dilempar truk*
padahal otonomi ya cak, kok masih terpusat aliran proyeknya
kenapa gak masa2 tua aja milih jadi dokter nDeso,.. klo lagi muda puas2in di kota
Coba Cak Moki Buat Artikel Lagi ? Kenapa Dokter Indonesia Ndak Mau Kerja di Luar Negeri, Padahal Banyak DIcari lohhh
Banyak jemaah haji butuh dokter Indonesia di Arab Saudi, Banyak TKI yang sakit di luar negeri butuh dokter Indonesia.
Jadi dokter ndeso di Amerika, Eropa, Australia, Timur Tengah, buat yang fresh graduate kan asik juga Cak. Daripada mesti nyogok2 untuk PTT, hitung2 cari pengalaman PTT di ndeso Kuwait asik juga lohhh
ada dokter dikampungku, lepas PTT pilih praktik mandiri dan rupanya hokinya disitu pasiennya ruar biasa ramenya…..
jadi kuaya sekali dia…..
@ ndarualqaz,



Seberat apapun beban pekerjaan *berat dan tiap tahun tambah program* mestinya tetap ramah, melakukan pemeriksaan, memberikan penjelasan dan support kepada pasien. Mungkin petugasnya habis bertengkar dengan istri/suami, hehehe.



Kebanyakan teman sejawat yg bertugas di tempat terpencil kebanyakan gitu mas, sang anak “dipaketkan” kepada simbah untuk sekolah. Ada juga yg istri & anaknya gak dibawa karena gak ada air bersih, jadi kalo kepingin … ehm … ehm cepitkan pintu *istilah kami*
Sebenarnya tidak perlu di tempat nyaman, yg penting (kalo bisa) ada fasilitas primer seperti air bersih dan sekolah memadai sudah cukup. Listrik mabuk gak masalah, masih bisa lampu teplok (saya punya petromaks lho).
Tanpa itu semua, toh kamipun berangkat jua, hehehe.
Iya betul, banyak temen-temen yg rela mengarungi belantara dan sungai minim fasilitas. Ada yg ke posyandu harus nginep, ngasih makan nyamuk, asyik
@ sofi,
wuih, menyeramkan. Mestinya dokter gak boleh gitu, apalagi untuk yg gak mampu, lupa ama sumpahnya kali
Beruntung di tempat kami pengobatan gratis, hanya saja belum tertata optimal.
Lam kenal (rasanya sudah) … salaman
@ jurig,
hiks, iya teh.
Support teh Jurig akan saya teruskan kepada teman-teman nun jauh di sana, di tepian sungai dan pinggir belantara. Trims
@ superkecil,
iya belum ada. Berminat? Asyik lho bisa mencicipi mandi air asem atau di sungai kalo mau, hehehe.
@ Suluh,
Betul, layanan Puskesmas seperti yg digambarkan Mas Suluh itu termasuk jurusan gak genah, layanan tidak bermutu. Eh kebanyakan memang gitu ya … ditanya doang, tanpa penjelasan, kemudian keluar obat
Siap berjuang, maturnuwun
@ Dani Iswara,
iya Mas Dani, ts nun di pedalaman tertunda S2 karena sulit cari pengganti. Kami-kami yg menetap di ndeso ™ dibilang TKI dalam negeri oleh teman-2, hehehe.
@ Shan-in Lee,
mmmmm … enak juga sih, yang gak enak ada juga. Disarankan masuk FK ya … sekolahnya 6,5 tahun, kalo IT sudah S2. Dari segi status mungkin dianggap gimana gitu, keluarga mungkin bangga.
Gaet cewek bisa, umur 60-an, hehehe.
ok Shan, trims.
@ Rizma Adlia,
Peraturan terbaru, PTT gak wajib lagi Ma. Bisa langsung praktek sendiri, setelah registrasi dan uji kelayakan. Entah nanti, soalnya peraturan berubah-ubah.
@ peyek,
Amin, trims do’anya cak. Kalo saya selalu bersyukur, buktinya bisa ngeblog, hehehe.
iya lah, SIH untuk golongan berduit, sementara pasien yg ndeso™ harus ada yg ngurusi. Penjaga gawang cak
@ 9racehime,
Buah simalakama-nya udah dimakan koq, rasanya sedep-sedep asem
Trims supportnya, kunjungannya juga.
@ imcw,
walah, teman di pedalaman bakal sulit cari pengganti. Jadi ceritanya yg di desa benar-benar ditasbihkan menjadi ndeso™ asli ya, asyik.
Terimakasih infonya.
@ kurt,
iya pak, bersyukur. Kayak saya, sering dapat kondangan, kadang kalo sempat ikut tahlilan, pakai sarung … isis dan praktis.
Rejeh meyeh-meyeh, istilah baru nih, amin.
@ faiq,
Memang yang dekat pusat itu enak pak, hampir semuanya ada, apalagi yang dekat “udel”. hahaha
@ iway,
ya betul. Sejak tahun 2006 daerah tidak boleh lagi menjaring pegawai di daerahnya, harus melalui pusat. Tambah ruwet.
@ alle,
wah enak dong kalo bisa gitu.
Lha kalo sudah pensiun di desa, trus dipanggil ke dusun piye? Semaput gak kuat jalan jauh, hahaha.
@ Nur Martono,
Lha iya, kenapa ya? Padahal bisa bolak balik naik motor mabur, gaji besar. Mungkin kendala bahasa atau gak boleh sama orang tua, atau dijodohin. Ok, ntar kapan-2 nulis soal itu.
salam untuk teman-2 di seberang pak
@ evi,
ya, harusnya berani seperti itu. Desanya di mana? Kalo di pedalaman Kaltim, hokinya kodok sama nyamuk *bilang teman di sono* hahaha
Tapi sebenarnya, asal istiqomah dimana-mana sama aja, paling beda fasilitas
Cak aku paling senang waktu PTT, ikan segar teruuss, yang di Bali harga 100ribuan disana cuma 5 ribu wah berat badanku naik 10 kg..
However… Lama kelamaan aku jadi ga betah, bayangkan listrik cuma dari jam 6 sore sampe jam 12 malam (kalo nonton Liga Champion ga bisa, pas waktu itu ada Piala Eropa cuma bisa gigit jari hiks hiks) trus kaloada pasien yang di rawat tengah malam harus Slanger Genset sendiri..
Tapi secara keseluruhan aku menikmati sekali masa2 PTTku seandainya ada PTT yang kedua aku ma lagi kok…
halo cak moki..apa kabar, lama nggak maen kesini, wah tambah top markotop nih!!
Cak, adikku waktu PTT di tempatkan di kalimantan barat bagian kemringet (lupa kbupten mana) dari pontianak harus naik perahu othok setngah jam..tapi begitu selesai PTT kok ya nggak kapo lho, pancet ae ndik kalimantan…tapi nggak gitu katro si..di Pontianaknya.biyuh..biyuh..warunge larisnya ngepol…
hidup dokter di ndesa….
jadi ingat dulu ada ada teman yang lulus spk, masuk D1 bidan desa. begitu lulus di tempatin di daerah bojonegoro(masih jawa timur tapi pelosok-sok).
dia kirim surat ke aku katanya…”huaduhh in, ra ono listrik, ra ono tipi…matek aku, hiburanku cuman radio butut sama jingklonge uakehhh, ra iso turu aku..trus yen babaran aku d bayari kangkung, bayem utowo tempe”
begitu lepas masa dinas, dia milih balik k jombang, dan sekarang dinas di rumkit abri d jombang..hehe
saya sih, bukannya gak mau PTT di desa, tapi nggak boleh sama ortu:(
@ super_kecil
Heu~klo aku gak mungkin bisa deh kayaknya tahan tinggal di desa *dengan listrik byar pet dsb* ampe 5 tahun .. *emang chie ini manja*
Kepada yang terhormat, seluruh
kacung-kacungPemerintah Daerah Tingkat II terutama di luar Jawa-Bali, kalian dengar titah cakmoki ?! Laksanakan!!!*kabur, sebelum digebuki satpol…*
hehe, sepupu saya senang2 saja PTT di Sumatra, yang memang tidak terlalu ndeso sih, bahkan ada yg di Flores, soale pada bisa ngakalin tuh!
Profesi mulia ya cak? Lebih mantabs kalau niat mulia disambut dengan baik oleh……itu, yg kata oom yg komen di atas, kacung-kacung. Ssst!
*
*kabur juga, takut dikejar Sekda, biar rada elit gitu, masa’Satpol sih?
dear cak moki
kali pertama saya kenal ini blog dari wadehel
salam kenal, nice to meet u. ( bagi linknya ya? Ya. thx:)
@ Ady,
Makan ikan terusss. Masih pakai nasi juga kan?
Jadi ikut inget slanger Genset, mana gak nyala-nyala, sambil tepuk-tepuk nyamuk. Heran juga ya, bisa menyenangkan, padahal kalo dipikir jauh dari mana-2. Selamat mengenang masa lalu, Mas Ady. Moga sukses di Aussie
@ laras,
Kabar baik Bu.
Hebat, masih krasan di sana. Biasanya kalo warung dan kendilnya ngebul jadi krasan, siiip.
Maturnuwun tambahan semangatnya. Hidup dokter ndeso ™
@ mei,
hahaha, balada bidan desa kecepit kuwi, bolo koq jingklong. Dulu dibayar sayur, moga sekarang dibayar pakai uang, walaupun receh mambu lengo klentik, tetep duwik. hehehe
@ gies,
Nggak boleh sama ortu apa gak boleh sama anak mertua, hayo
@ chielicious,
mmm … belum dicoba kali Chie, ntar kalau ke desa betulan bisa tahan lebih 5 tahun, apalagi berdua sama si aa ehm ehm
@ elpalimbani,
Huahaha, keren. Mudah-mudahan Kepala Daerah mendengar obrolan kita. Tenang Mas, satpol gak bisa ngejar, soalnya anggaran belum turun *halah*
@ Takodok,
hiks, di Flores kata temen lebih parah (di ndesonya), tiap hari makan ikan asin sama sayur kacang, dan supaya awet kuwahnya dibikin banyak.
Trims bantuan semangatnya, moga didengar beliau-beliau untuk membangun desa.
@ kw,
Salam kenal juga. Maturnuwun telah mampir.
Iya, akan saya link
ralat :
ADA UANG ADA OBAT – ANDA SEHAT– TIDAK ADA UANG ANDA SEKARAT
Istilah Baru dunia kedokteran kita..
================================================
Tidak semua Dokter pakai istilah seperti itu kok.
Justru daerah terpencil seperti saya yang ada hanya Mantri Suntik (istilah kami2) Pengobatan malah sering digratiskan.
Soalnya warga sekitar rata2 tetangga. Kalau di daerah kami rasa gotong royongnya masih tinggi. Berobat ke pak Mantri Suntik saja tidak bawa uang pun jadi. Dan bayarnya nanti setelah panen raya tiba. Lha kalau lupa? (sudah biasa : kata pak mantri suntik)
Dan Hidup di desa (daerah terpencil) harus mau susah dan bersahaja. Tidak seperti di kota. Mantri Suntik hidupnya bisa melebihi DOKTER..?
———
Øm kî†å kåñ $µdåh $ålåmåñåñ… $ålålåmåñ lågî jµgå gåk Þå Þå kºk
@ wargabanten,
Saya akui masih ada saja sejawat yang seperti istilah di atas. Gak papa koq, memang kenyataan, kamipun seperti terbelah dua kubu, biasa lah kebanyakan profesi hampir selalu ada pro kontra soal etika profesi.
Sebagian dari kami bertekat memperbaikinya meski harus berhadapan dengan teman sendiri. Sungguh tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa.
wah hebat tuh Pak Mantri di tempat bu Sofi. Di desa kebanyakan begitu ya, kadang memang gak punya uang, yang penting diobati dulu.
Hehehe, iya lah adakalanya lupa
Ok terimakasih salamannya
*terbungkam menatap kalimat mutakhir di artikel*
Bener banget. Membela yang bayar, maksudnya.
Doh…
Kemarin lihat arsip tulisan lama (1991) cak, ketika negara bagian Texas memajukan kasus tuntutan produsen susu formula terhadap AAP. Tentang promosi dan marketing. Lalu muncul artikel berjudul “Who would pay for breastmilk advertising?”.
Intinya, negara -entah sengaja atau tidak- tidak tahu (gimane carenye?!) bahwa hingga saat tuntutan diajukan, semua produsen susu formula (bayi) TELAH memasarkan produknya secara LANGSUNG melalui tenaga kesehatan -dokter, perawat, bidan, nutritionist, dll (yang seharusnya dilarang keras).
“Eh tanya kenapa ™ ?” DUIT.
*halah kampanye lagi yak
@ Lita,
Terakhir itu kelihatan terlalu satire ya
Wah, dokumen lama itu terjadi di negeri ini, berarti kita ketinggalan 16 tahun. Sekarang kiat produsen beda, produsen beralamat di US produknya di lempar ke sini. Kan konsumen sini mudah dibujuk rayu
Apalagi yg berbau “sayang anak” seperti susu Formula, walaupun di negeri asal produsen gak dipakai, yang penting ada label Luar negeri.
Iya tuh, ada dokter gitu. Kalo bidan malah lebih seru, pakai iming-2 bonus kalo bisa laku sekian biji. Dokter juga ding. Institusi tak ketinggalan. Bisa ditolak koq, kaloada yg berani maksa, wani gegere
Kayak lagu dangdut ya…: hanya karena rupiah …
(
Takut miskin kali. Hahaha *emang kita kampanye koq, melawan sistem*
@Kurt
itu dokter apa pengacara? kok ngurusi pesakitan?
@Cak Dokter
wis,,makanya jadi psikolog aja…ruwet kan jadi dokter??
wehehehehe47x…
@ Hana,
Hah ? Kuliah lagi … yeee trus ntar diledek ya
kalau dipikir2 lebih enak didesa laris manis,sabetan oke daripada di kota sepi , nggak ada sabetan..Persaingan dokter di kota lbh berat..
@ junthit,
Hahaha, dengan kata lain, murah meriah. Setuju !!!
yang enak sich penghasilan kota hidup di desa halah
tidak hanya dokter saja… yang wegah di ndeso..maksudnya sangat terpencil…
kalo punya anak dan keluarga… apakah tega menyekolahkan anak di daerah sangat terpencil..
nanti kalo pas kuliah sangat kentara sekali ndesoo super katrowk tenan…
semakin besar tantangan juga semakin besar pahalanya kalo dilakukan dengan ikhlas..
baiknya ada kebijakan WKD = Wajib Kerja Dokter agar mau praktik di ndesoooo…. selama ga usah lama-lama enam bulan saja… seperti masa tugas tentara di daerah pertempuran… setiap enam bulan bergilir…
@ kangguru,
Itu yang dicari pak, hidup di desa penghasilan kota. Kalo jalan ke kota pakai sandal jepit, bawa tas kresek tapi uangnya banyak, gak kentara, hehehe, asyik
@ yusuf SOLO,
Sarjana di ndeso (terpencil) umumnya camat, guru dan dokter. Cerita-cerita kalo pas ke kampung halaman, rata-rata ngomongkan anak-anak yang nampak ndeso and katro dibanding sedulur di kota, hiks.
Insya Allah ikhlas, hanya mau tertawa kalo cerita dokter per-ndeso-an.
WKD gantinya PTT? Asyik kali, kecuali bagi yang hamil tua, soale pas tugas kemudian cuti melahirkan, hahaha diskon
termasuk yang rela klo harus dilempar ke desa …
barusan balik dari desa bitahan baru di lokpaikat, tapin. punya pustu tapi gak pernah difungsikan
kami berkunjung (dan nginap) di sana malah disuruh tinggal seorang huehehehehehe…..
@ Vina Revi,
desa mana mbak?
Ah, saya gak bisa ikutan komen di Multiply.
Kayaknya harus punya akun di multiply juga ya
@ Mina,
sama Mbak. Pustu kadang kosong.
Hiks, nginap sorang … ngasih makan nyamuk, hehehe
Syahdan,ada pulau disuatu negara yg dicaplok negara lain karena ogah menempati. Shg terjadi kehebohan & saling menyalahkan
Syukur, msh ada dokterndeso, org2ndeso yg tinggal di ndeso&pulau2terluar.
semoga akses internet & listrik makin menjangkau (murah jg:) wilayah ndeso ndeso&pulau2terluar.
Amin yaa rabbal ‘alamin.
@ siNung,
Syahdan … kata halus dari kenyataan kali ya
Iya sih, sebenarnya kalo masyarakatnya kopen gak bakalan dicaplok tetangga. Di kaltim ada pulau yg seperti itu. Sadar ketika sudah kecaplok beneran
Trims supportnya.
Memang salah satu kendala bagi yg suka internet adalah maslah koneksi. Selain lambat, juga mahal
Pingin speedy unlimited aja gak ada kabel optiknya. Untuk bidang kita, akses tersebut luar biasa bermanfaat *pendapat pribadi*
Semoga Allah SWT membalas jasa para dokter yang dengan ikhlas bertugas di pedalaman dengan segala kekurangannya. Hidup dokter ndeso !
@ wulan,
Maturnuwun do’anya Mbak, supportnya juga
Artikel2 yang bermutu Cak! Senang bisa perluas wawasan. Salam kenal!
@ tiyokkpras,
Terimakasih support dan kunjungannya
niy..saya juga lagi posting di Sibermedik..ya nyambung dokter Ndeso…Curhat dokter Papua
buka..ya….
@ sibermedik,
ok maturnuwun, ntar saya lihat
ga semua gaji dokter PTT dikit kok,,tante saya bilang di daerah Jambi,tepatnya daerah kepulauan ga ingat namanya,gaji dokter PTT bisa sampai 6 jutaan gitu..
so tetap semangat buat dokter PTT..kan bisa ngembangin ilmu,n bisa ngerjain kasus2 yg mungkin di kota dokter spesialis yg ngerjain(dokter umum cuma ngerujuk aja…hiks..hiks..sedihnya..)susah belajar tapi ga bisa praktek-in
satu lagi,di desa masih banyak freshair n freshwater,ini adalah hal yg langka di kota..
trusss pasiennya ga cerewet2…
salam kenal buat seluruh anak FK se-indonesia
@ najmi,
hahaha, itu bukan gaji, penghasilan kali …lagi pula, artikel ini bukan keluh kesah, melainkan “bargaining”, ok ?
Lihat Jambi-nya kali, kalo di kota iya, lha kalo di ndeso katro yg gak ada listrik?
pernah ke pedalaman Kaltim ? … gambaran blockqute itu gak ada, dan seminggu di sini dijamin nangis deh …hahahaha, gak percaya ? silahkan datang kesini, air yg kecoklatan (ini diminum lho), udara tercemar debu batubara dan asap pabrik, hutan gundul, nyamuk …. entahlah kalo sinetron.
Pasien gak cerewet ? iya emang, tapi saya pernah dicegat pakai parang tuh, padahal untuk nolong orang sakit parah …jalan kaki … di jalan setapak, … belum lagi kalo harus operasi di kegelapan, …indah ya …hahahaha