Sangsi setimpal !!!
Sejak Senin, 30 Aril lalu, media gencar memberitakan dihentikannya bantuan dana penggulangan AIDS, TBC dan Malaria untuk Indonesia oleh Global Fund.
Salah satu media lokal, Kaltim Post Cyber News, tak ketinggalan mengulasnya. Konon menurut Dirjen P2LP Depkes RI, nominal dana bantuan yang dihentikan adalah 40% dari total dana sebesar 630 Milyar rupiah untuk penanggulangan 3 penyakit di atas.
Untuk kesekian kalinya sejak 12 tahun terakhir Depkes tidak mampu menunjukkan niat baik penggunaan Dana Bantuan. Quality Assurance (QA), SAF(special assistance fund), HWS, Global Fund, dan sejenisnya, bak kue manis untuk bancakan. Besaran dana dan hasil yang didapat sulit dikatakan berhasil. Mental menghabiskan dana dan ngarang, adalah sumber masalah utama.
Harap diingat, sebagian dana milyaran tersebut disalurkan kepada LSM terkait upaya penanggulangan AIDS, TBC dan Malaria. Sayang kita tidak tahu, apakah LSM tersebut menggunakannya untuk promotif (sosialisasi), preventif (pencegahan) atau kuratif (pengobatan), masih kabur dan mungkin tetap kabur.
Salah satu sayap penanggulangan TBC, yakni PTI di Kota kami, diketuai oleh istri wakil walikota. Apa kerjaannya ? Simak baik-baik, penyuluhan dan studi banding (baca: jalan-jalan). Penyuluhannya sih, sama dengan yang biasa dilakukan petugas lapangan di Puskesmas. Jadi mengapa harus mengeluarkan dana untuk pekerjaan yang sudah rutin dilakukan ? Merepotkan dan pemborosan !!! Paling-paling hanya masuk koran seolah pekerjaan maha hebat. Andaipun dana tersebut berasal dari Pemerintah Daerah, tetaplah minim manfaat mengingat tidak menyentuh pada esensi program TBC.
Nun di kehidupan sebenarnya, obat kurang !!!
KILAS BALIK
Sekitar 10 tahun lalu, penulis sempat bersitegang dengan petinggi Depkes RI yang berkunjung ke Puskesmas kami. Pasalnya, penulis menolak mentah-mentah perintah beliau untuk menghabiskan dana JPS BK (Jaring Pengaman Sosial bidang kesehatan). Lucu, seorang pejabat tinggi (sekarang beliau masih aktif) yang mestinya membimbing untuk berlaku benar dan bertanggung jawab, malah bersabda agar bawahannya menghabiskan dana hanya karena di daerah lain “berhasil memanfaatkan” dana tersebut. Jika beliau dan sebagian pejabat depkes lainnya mengukur keberhasilan sama dengan menghabiskan dana, maka menurut penulis beliau tidak cerdas walaupun saat ini beliau bergelar profesor.
Mengapa penulis menolaknya ? Berikut alasannya:
- Kegiatan atau program yang sudah berjalan rutin tidak harus memakai dana mentang-mentang ada dana.
- Kegiatan yang sudah mendapatkan dana rutin (walaupun kecil) tidak boleh tumpang tindih apapun alasannya, walaupun mudah untuk bikin pertanggungjawabannya secara administratif.
- Munculnya dampak non teknis para petugas lapangan yang nantinya gah mau jalan jika tidak ada dananya walau pekerjaan rutin sekalipun.
Dampak sabda sang petinggi, hanya 3 Puskesmas yang tidak mau menghabis-habiskan dana JPS-BK dari 20 Puskesmas di kota kami. Lainnya malah lantang berteriak kurang. Nah.
Kini, sebagian besar pns jajaran kesehatan, masih jua berpedoman bahwa jika tidak bisa menghabiskan dana dianggap tidak berhasil. Maaf jika penulis tega mengatakan pikiran tersebut adalah pikiran KONYOL.
Beberapa pimpinan Puskesmas pernah mengatakan kepada penulis bahwa habisnya dana akibat desakan para stafnya. Sungguh argumen aneh. Harusnya pimpinan memberi tahu staf bahwa dana bukan untuk dibagi-bagi dengan menciptakan program aneh-aneh atau membuat pertanggung jawaban terhadap kegiatan yang tidak pernah dilakukan. Bila para staf ngotot, kembalikan saja ke Dinas Kesehatan diatasnya. Selesai.
Ataukah kepingin dianggap dermawan ? Ataukah pimpinan dan stafnya memang sama dan sebangun ?
Suatu ketika datang rombongan sebuah LSM berlabel kesehatan tingkat propinsi ingin menggelar kegiatan. Surat sakti yang dibawa tidak tanggung-tanggung, mulai Gubernur sampai Camat merekomendasikan agar Puskesmas membantu sepenuhnya kegiatan yang akan dilakukan. Rata-rata pengurusnya berlabel S2.
Penulis yang kala itu masih sebagai kepala Puskesmas sampai terpingkal mendengar uraian kegiatannya. Hanya penyuluhan, konon bernilai jutaan. Itupun nunut pertemuan rutin kader Posyandu. Bedanya mereka masang spanduk plus embel-embel bahasa Inggris.
Saking tidak betahnya menahan banyolan tersebut, penulis sempat menggumankan ungkapan satire.
Ketika penulis bertanya kepada para kader apakah mengerti apa yang disampaikan para “pakar” tersebut. Jawabannya: TIDAK alias mboten mudeng. Mengapa ? Karena kata-katanya aneh-aneh seperti pidato ala pejabat.
Mungkin tidak semua begitu, mungkin ada yang melaksanakan kegiatan nyata dengan benar dilandasi kebutuhan lokal. Meneketehe.
FAKTA DI LAPANGAN
Di Kota kami (Samarinda), jika petugas Puskesmas menemukan kasus TBC melalui serangkaian pemeriksaan, langkah selanjutnya adalah mengajukan permintaan obat TBC ke Dinas Kesehatan Tingkat II. Sepintas langkah tersebut seolah benar, melalui birokrasi administratif, surat resmi, datang ke Dinkes tk II, mengambil paket obat gratis, pulang ke Puskesmas dan menyerahkannya kepada penderita. Tentu proses tersebut tidak cukup sehari.
Jelas kebijakan ini ngawur. Bukti bahwa Subdin yang menangani program di jajaran Dinkes tk II tidak pernah membaca pedoman.
Siapa yang dirugikan ?
- Penderita TB lantaran harus bolak balik mengambil obat. Belum lagi resiko mis opportunity, artinya resiko penyebaran penyakit semakin luas.
- Keluarga penderita, mengingat adanya resiko penularan.
- Petugas. Bolak-balik hanya ambil obat dan beresiko hilangnya kepercayaan dari penderita. Belum lagi resiko diomeli penderita. Gembar-gembornya gratis dan mudah, ternyata indent seperti pesan hotel saat liburan.
- Kesinambungan minum obat. Tanpa disadari, rumitnya proses pengobatan suka atau tidak suka, cepat atau lambat akan mengurangi kepercayaan penderita yang sedikit banyak berdampak pada kesinambungan minum obat.
Sungguh aneh dan lagi-lagi tidak cerdas. Obat TB itu harus dan mutlak ready di Puskesmas Bung. Yang beginian cukup baca pedoman, tanpa harus repot seminar atau workshop jutaan rupiah. Mending uangnya untuk beli obat.
Pernah suatu kali beberapa orang pasien bolak-balik ke Puskesmas untuk mengambil obat yang hanya bisa dijanjikan dan informasi bahwa obat TBC dari Dinkes tingkat I kosong.
Alhasil penderita yang nota bene kurang mampu harus keluar uang ongkos ojek tanpa hasil. Saat tulisan ini dibuat, stok obat hanya 2 paket. Hebat ya. Jika begini terus, angan-angan Indonesia bebas TBC tahun 2050 hanyalah mimpi.
Walahhhh.
Lho, apa tidak diperjuangkan ? Tentu sudah friends. Gegeran dalam rapat resmi juga bukan tabu lagi. Itulah tembok tebal angkara murka bertopeng demi rakyat yang ada di hadapan kita.
KESIMPULAN
Tak perlu menyalahkan Global Fund. Tak perlu mengaitkan dengan isu tak benar. Tak perlu prasangka jelek kepada donor. Tak perlu menyangka adanya kolaborasi. Kesalahan utama terletak di sebagian pengambil keputusan jajaran Kesehatan di semua tingkatan.
Para sejawat pengambil keputusan, sadarlah. Mulailah jujur untuk kemaslahatan. Uang dari akal-akalan anggaran dan bantuan negara lain tidak akan pernah membuat puas. Sampeyan malah mempermalukan bangsa. Mempermalukan orang-orang yang tidak tahu apa-apa.
Penulis paham, himbauan ini tidak akan mampu merubah apapun tanpa bantuan-Nya. Tak akan ada artinya tanpa upaya sungguh-sungguh untuk memperbaikinya.
Mari kita berbenah !!!




















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)





wah “pedes” juga ni dok
moga2 didengerin ya sama petinggi itu, biar kualitas kesehatan masyarakat juga semakin membaik….
Yuhu!
cakmoki is back!
Hal demikian berlaku di semua jajaran pak. JPS itu, yg juga ada untuk pendidikan, tapi ya penyalurannya aneh aneh. Sekolah swasta yg kurang lebih ribetnya untuk bisa berdiri tegak seperti puskesmas. Indonesia ini “negeri minded” dan “uang minded” banget. Mungkin sariawan saya yg terlalu sering muncul ya karena jengkel soal beginian. Gimana ga jengkel kalo pihak pendonor yg menyerahkan ke diknas akhirnya tidak percaya pada pengelolaan uangnya karena dianggap si penerima (sekolah swasta) tidak mempergunakan sebagaimana mestinya. Lha wong nyampenya di diknas doang. Tobat deh…kapan minded ginian bisa sembuh. Ternyata ‘tempat menyehatkan orang’ dan ‘tempat mendidik anak orang’ punya problem yg kurang lebih serupa ya.
wah cak, baca tulisan njenengan bikin emosi naik, muntab nang mbun-mbunan cak!, bidang kesehatan juga diembatnya, bener-bener serakah!, untungnya njenengan orang sabar cak!.
cak, saya heran, kenapa ya ujung-ujungnya kita ini kok pesimis dan selalu merasa bahwa tulisan seperti ini ndak akan bisa merubah keadaan, ndak bisa ngureki kuping mereka yang dhublek nggak ketulungan itu, bahkan pendapat-pendapat yang kita sampaikan langsung sewaktu seminar atau dengar pendapat itu selalu hanya berakhir di kertas sewaktu pertemuan-pertemuan guyonan kayak gitu, nggak ada aksi nyata dari mereka.
karena itulah cak, saya pribadi nggak pernah sopan dan santun ketika menyampaikan kritik sama mereka, disopani malah keturon koyo kebo, saya kadang menguliti mereka sampai adem panas cak! he..he..he..
Apa memang mereka sudah layak untuk dihujat membabi buta? bagi bagi lho cak!
seharusnya dokter2 dan petinggi di negeri ini bisa kayak cak moki..
kemaren di sebuah dialog, seorang profesor ngomong sama kami, para mhsw..
sekarang, nikmatilah idealisme kalian..
saya dulu juga gitu kok..
tapi nti, baru kalian sadari kalo dunia ini ga ‘lurus’
.. ya smoga aja ntinya wi ga ikut2an ‘mencong’,, syukur2 si bisa jadi dokter idealis kayak cak moki hehe..
makin lengkaplah kehancuran negeri ini…negerinya sarang penyamun…speecheless…
makin hopless aja nih pak sama masa depan bangsa ini
saking kronisnya..masi ada obatnya gak ya.
Ihhhh ..gemes aku ama masalah bginian..
pengen tak kentut-i satu2 para petinggi berotak bobrok itu..
btw emang taun 2050 target indonesia bebas TB ya cak?
Kesehatan, pendidikan, dan daya beli masyarakat itu katanya buat naikin ipm, heran aku kok urusan segitu krusialnya hanya dipandang sebagai alat naikin ipm ( hdi ??? ), duit harus habis setelah habis gimana ??? ngutang lagi ??? hari ini hardiknas ngak kelihatan juga perbaikan di pendidikan. halah kok jadi ngak nyambung gini
*maaf lagi emosi cak baca tulisan diatas*
gille malu2in,ngobrol di mana2 bidang apapun, departemen apapun kok kasusnya semacam sih… bener2 udah sepsis dan MOF neh.. tinggal nunggu aja udah mengkis2 tuh… so sad
salut kepada cakmoki
bener kata bu dok Evy, di setiap departemen, deptan juga gila-gilaan mainannya!
ayo kita berbenah… mulai dari yang kecil, mulai diri sendiri, mulai sekarang…
“ayo kita berbenah… mulai dari yang kecil, mulai diri sendiri, mulai sekarang…”
ayo…!
misalnya… para blogger se-Indonesia nandatangani petisi ato rame-rame pasang banner mendukung pengangkatan cakmoki jadi menteri kesehatan. mumpung mo reshuffle nih!!
ayo, ayo!! *lhoh, ke mana si pertamax tukang banner antobilang ya?*
hiks..ciri khas birokrat endonesa….kalo bisa susah ngapain dibikin gampang sebagai motto utama..selalu, atas nama uang dan kekuasaan, rakyat sebagai korban
Jadi bagaimana, Cak? Menteri kesehatan perlu diganti nggak?
Karena semua berprinsip AKTIVA=PASIVA, makanya apa-apa selalu dihabiskan biar selisih AKTIVA dan PASIVA menjadi NOL.
Pokoknya agenda utama di akhir periode adalah penghabisan anggaran.
@ Tyas,
hehehe, masa iya sih. Menurut saya masih sedep koq, pedesnya didaratan, lebih afdhol.
Kadang perlu juga beginian, terlebih menyangkut kualitas pelayanan kesehatan.
OOT:
Copy-an tempo hari sudah saya cetak dan dibagi. Trims ya
@ n0vri,
kepalang basah pak. Udah diblacklist kali
@ Qeong Ungu,
Ada teman saya sariawan nggak sembuh-sembuh gara-gara kasus serupa. Bilangnya sumpek, ngempet gregeten.
Tetangga-tetangga guru juga sama, konon bantuan dipotongi oleh atasannya. Malah ada yang terang-terangan minta bagian.
Mbuh kapan bisa beres.
@ peyek,
Sabar opo ? Jan-jane wis getem-getem pak.
Sebenarnya, sedikit demi sedikit kita bisa mengadakan perbaikan di setiap daerah tingkat II, asalkan ada dokter yang berani berbicara dan berani membuktikan bahwa dirinya mampu berbuat benar. Nggak bakalan dipecat koq, paling pol diancam-ancam. Asalkan tidak ikut-ikutan arus korupsi, nggak perlu takut.
Soal sopan santun podo wae. Mungkin sayapun dianggap pedes kalo ngomong di pertemuan resmi, kadang ada guyonan juga biar nggak terlalu tegang.
Menghujat, saya rasa belum perlu. Ada cara lain yang lebih simpatik dan ampuh. Misalnya, menyangkut masalah kesehatan, setidaknya ada dokter yang berani menghadap Walikota/Bupati, sekda atau pimpinan DPRD untuk berdiskusi. Walaupun tidak semua berhasil, biasanya ada yang diluluskan. Saya lebih suka cara ini, pertemuan terbatas, santai, disuguhi kopi, uenak tho. Biarkan beliau-beliau kita tempatkan sebagai orang yang berjasa, kita cukup dibalik layar, kita buatkan matengannya, yang penting ada sesuatu untuk kepentingan orang banyak. Kadang sih gak mulus, perlu waktu 1-2 tahun atau lebih, biasa, tarik ulur koyok layangan. hahaha
@ Dwi,
Wah Profesornya udah mabuk kali. Hari minggu kemarin saya ikut seminar, pembicaranya seorang profesor sederhana yang menjungjung tinggi idealisme, malah beliau mengingatkan agar para dokter jangan kehilangan idealismenya di tengah gelombang berbagai iming-iming.
Saya tidak memproklamirkan diri idealis lho, hehehe.
Ok mudah-mudahan kita senantiasa mendapatkan hidayah-Nya.
@ imcw,
Lho lho lho, saya mengharap om Cok memelopori perbaikan lho.
@ mariana silvania,
iya nih. Otonomi dan desentralisasi nggak ngaruh juga. Masih untuk rebutan jabatan, bukan untuk kepentingan orang banyak.
@ Dani Iswara,
*ikutan pesimis*
Koq jadi agak pesimis nih. Ada obatnya koq, syaratnya para pemegang keputusan diserahkan kepada yang punya komitmen. Apa mungkin ?
@ chielicious,
Kentuti aja mbak, sebelumnya makan petai dulu
Soal bebas TB bilangnya sih begitu. Saya dan beberapa teman nggak yakin, soalnya pernah lama di barisan terdepan yang menjalankan program tersebut. Obat aja nggak lancar.
@ kangguru,
Mirip ya pak. Saya juga nggak mengerti, jiwa manusia seolah hanya untuk ladang uang saja. Ini belum seberapa pak. Kalau kita buka lebih lebar, wuih ngeri.
@ Evy palsu,
Bantuin mbak. Kalo punya teman di depkes tolong kasih tahu ya, atau langsung aja sampeyan semprot.
@ xwoman,
Hehehe, sebenarnya malu juga mukulin teman sendiri, abis sudah keterlaluan sih.
@ alief,
do’aken ya
Siap cak
@ Titah,
Ayo, ayo. Bannernya mana ya.
Eh, jangan-jangan reshuffle-nya berbau politis, tamnah parah deh.
@ oon,
Itulah yang terjadi. Depkes sama saja, yang mudah dibikin mbulet. Jangankan masyarakat luas, para dokter di lapangan saja sudah geregetan.
@ Kang Kombor,
Menurut saya perlu, soalnya beliau tidak berani membersihkan “mr.lobby” yang mengotori Depkes.
Beberapa dokter senior mengkritik keras kebijakan depkes yang tidak lagi berpihak kepada masyarakat.
Ada bocoran nggak Kang ?
@ deking,
Kalau sisa anggaran dikembalikan sebenarnya tidak akan mengurangi nilai nominal tahun anggaran berikutnya. Keenakan kali.
Kayaknya dimana-mana sama ya.
cak, jadi strategi DOTS itu tidak jalan ya? kok bisa sampe obat paket buat TBC habis di Puskesmas?
fyi
dari berita di situs bappenas,
insya Allah, akan dilakukan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional
(Musrenbangnas) Tahun 2007 (3-5 Mei 2007),
di Hotel Bumi Karsa, Komplek Bidakara, Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav. 71-93,
Pancoran, Jakarta Selatan-12870. Telp. 021-8379-3555
Bahan-bahan Musrenbangnas Tahun 2007 dapat didownload di :
http://www.bappenas.go.id/index.php?module=ContentExpress&func=print&ceid=2712
untuk membaca rencana di kesehatan, sila unduh di :
1. http://musrenbangnas.bappenas.go.id/xmedia/RKP2008/Buku2/Bab_27_-_Narasi.pdf
2. http://musrenbangnas.bappenas.go.id/xmedia/RKP2008/Buku2/Bab_27_-_Matriks.pdf
hasil musrenbangnas, nantinya, akan menjadi dasar/acuan penyusunan APBN dan APBD 2008
Hidup Indonesia !
kasus kasus..
cakmoki for menkes RI
he he he
pantesan tetanggaku berpenyakit TBC habis2an dana dibayarkan. padahal buat makan saja sangat susahnya.. anehnya si tetenggaku tetap tak memasalahkan penyakitnya tetap heppy. Sama persis happinya dengan sang birokrasi yang juga senang2 mendapat hujan duit… tak sadar merekapun akan menderita TBC = Terkubur Bersama Cacing….
masih belum sadar juga, biarlah cacing yang akan menasehati Cak…
obat TB itu harusnya adaa,, kesel deh,, vitamin A gratis (modalnya ga gede kok) itu penting,, pap smear gratis setaun sekali juga penting,,
banyak orang yang udah gila, sebagiannya cynical, sisanya harus gimana?? Ma ga mau hadi dua duanya,,
udah kronis, obatnya transplantasi,, (entah orangnya, sistemnya, apaan-nya,,)
Dwi, dosen siapa yang ngomong gitu??
temen saya yang banyak menangani bencana alam bilang, korupsi (istilahnya: biaya operasional) dana bantuan untuk korban bencana juga tinggi sekali, bisa sampai 80%. tak terkatakan geramnya.tapi tak mungkin rasa geram membuat dia marah lantas meninggalkan kegiatan itu. tambah kasihan kan, nasib korban?
maka yang dilakukannya adalah menjaga “yang penting saya dan grup saya tidak korupsi”. sikap itu ditanamkan pada anggota grupnya, dan semua anggota grup diharap menularkan sikap itu pada orang-orang terdekatnya. prinsipnya, melakukan kebaikan kecil lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.
yuk, kita melakukan kebaikan kecil juga yuk…
@ Mina,
Jalan sih mbak, lapor, minta dulu, baru dapet, itupun nggak jangkep.
Namanya jalan pincang kali ya. Kadang kosong, hehehe
Kalo pikiran waras, obat sudah disiapkan minimal sesuai prevalensi tahun sebelumnya. Itu kan kalo waras
So LB.1 (laporan kesakitan) dan LB.3 kayaknya sekedar kirim laporan, tak lebih dan tak kurang.
@ Roffi,
hehehe. Kasus kronis, cocoknya amputasi aja.
Apa perlu petisi ?
@ kurtubi,
iya pak, kalau kita-kita sudah nggak didengarkan, biarlah cacing yang menasehati.
@ Rizma Adlia,
Harusnya sih harus ada, stanby, mudah, gratis.
PAP smear setuju !!! daripada uangnya untuk studi banding-studi bandingan, mending mbantu masyarakat ya, gratis. satu kali studi banding cukup untuk pap smear 1000 orang.
Katanya (Tempo 1999) 50% dokter kehilangan idealisme, sisanya banyak yang diem. Moga para dokter mendatang bisa nggantikan.
Entah namanya apa. Sayangnya sebagian yang nggak genah itu sedang memegang kekuasaan.
@ Titah,
yang penting saya dan grup saya tidak korupsi.
Setuju !!! Minimal harus bersikap seperti itu dan mengajak yang lain.
Andai semua daerah tingkat II di Indonesia bisa begitu, kita yakin akan ada perbaikan.
setuju juga sama mbak Titah,,
jangan ampe ilang idealismenya cak,,
Kadang aku juga jadi malu jika ngobrol-ngobrol sama teman-teman bule-ku. mereka bilang, “Indonesia itu termasuk negara kaya, tapi kekayaan negara dipakai untuk memperkaya pejabat negara. Kemiskinan termasuk penyakit berbahaya, jadi harus dibasmi termasuk orang-orangnya. Jadi kalo orang miskin yg sakit dibiarin aja mati.”
Kali di Lombok itu banyak yg sakit TBC, ya? Kenyataannya iya.
Di sepanjang jalan menuju (sampai) pantai Kuta, orang-orangnya kecil-kecil & kurus-kurus. Hi…hi…hi… di situ ada hotel Novotel Coralia, punya siapa ya? Apa gerangan yg dipertontonkan utk turis asing? Rumah tradisional? ok dah, pantai dgn blue lagunanya? ok dah, masyarakat dgn pakaian tradisionalnya? ok, dah. anak-anak kecil yg kurus & terbatuk-batuk yg ngrubung turis saat turus dr otobis? ya… yg ini bisa dipergunakan pemerintah utk cari dana asing…
alhamdulillah, kesempatan korupsi sekarang jadi lebuh kecil di jajaran depkes
wah…indonesiaku. kapan sembuhnya ya, cak??
@ siNung,
Maturnuwun links-nya.
Sekilas tadi baca matriks, rasanya nggak jauh beda dengan sebelumnya.
Jujur saja, saya pesimis bisa berhasil.
Contoh, no.4 tentang layanan warga miskin di RS kelas III. Jika masih menggunakan jasa Askes nggak bakalan genah. Untungnya dari dulu saya tidak pernah mau terima jasa medis dari askes. Soalnya berlawanan dengan tujuan pelayanan berkualitas. Gimana mau berkualitas kalo ada pembatasan. Jelas cari untung kan ? Lalu gimana JPKM, mengapa tidak mengoptimalkan yang ini?
Contoh lain no.5: tentang penemuan DBD. Mestinya sudah sejak dulu Puskesmas punya “kamar hitung trombosit”. Ketika tahun 2002 kami beli alatnya (waktu itu saya masih ka pusk), otomatis incidens rate meningkat karena ketahuan sejak dini. Reaksi yang muncul dari Dinkes: DBD koq naik ? Saya jadi bertanya-tanya, mau menyelamatnkan jiwa apa mau nutup-nutupi kenyataan?.
Maaf, sebelum ada komitmen serius para pengambil keputusan dan pelaksana lapangan, saya tidak yakin program-program di atas bisa berhasil. Menurut saya, salah satu faktor penting agar berhasil adalah Tidak Mar-up. Agak pedas ya, hehehe
@ Rizma Adlia,
Siap mbak
@ juliach,
Nggak kebayang jawabannya kalo ditanya orang luar, maluwww.
Saya nulis ini sebenarnya juga malu. Walau saya yakin khalayak tahu wajah hitam kami-kami, setidaknya tulisan ini sebagai salah satu dokumen internal bahwa dunia kesehatan jauh dari harapan dan perlu langkah nyata untuk memperbaikinya.
@ (sindarumaleslogin),
hahaha, ini dia sindiran paling mantab.
Menurut salah satu lembaga anti korupsi, Depkes tahun lalu nomor 10 departeman yang korupsi, hebat ya. *mengerikan*
@ venus,
Gak ngerti Bu, nunggu njenengan suwuk
cak, rasanya gak cuma dibidang kesehatan yang terlatih bermain main (baca:mempermainkan) uang negara. Dibidang yang saya tekuni juga setali tiga uang. Kerap kali mereka berfikir keras mencari judul proposal yang tepat agar dana bisa mengucur, mereka gak perduli walaupun pekerjaannya tumpang tindih dengan kegiatan lainnya.
Siapapun dan sampai kapanpun Indonesia tidak akan maju selagi para pengelolanya hanya memiliki mental idealisme semu.
@ panca,
iya pak, di daerah sepertinya juga parah. Kalo lihat Neraca Keuangan APBD ngeri. Eksekutif dan legislatif sama saja. Bukan men-generalisir sih, kebanyakan gitu. Dibidang kesehatan kota kami, saya rajin mengkritik teman sendiri. Mungkin dianggap angin lalu.
@ Rizma
hohoho, bukan dosen kita kok ma, tapi dokter..
tar aja wi ngasih tw off air hehe
Malu ya indonesia sama lembaga asing kalo begini.
Padahal kita gencar banget mengkritik dunia barat dan internasional.
ah Cak, ternyata dimana2 podho ae yo? dulu aku sempet sering ke Bapekab karena urusan kerja, krn sering keluar masuk Bapekab dan banyak kenal sama org2nya, aku jadi merhatiin klo indikasi sukses atau nggak menurut ‘mereka’ adalah seberapa besar mereka bisa menghabiskan dana! Waktu itu aku mikir kok ajaib banget. Akhirnya mereka berlomba2 bikin kegiatan yang ‘mengada-ada’ spt kegiatan yg nggak ada yang dibikin seolah2 ada. Hebatnya lagi, mereka spt sangat terampil dlm hal menghabiskan dana (apalagi klo udah mau batas akhir masa anggaran). Sering terdengar “wah, jatah dana ini masih segini, sayang tuh klo nggak dimanfaatin”, klo dimanfaatin bener2 sesuai plotnya sih malah bagus, tapi ini dimanfaatin utk mereka2 sendiri *sigh*
Wes aku cuman bisa ndungo, smoga org2 kayak sampeyan semakin banyak Cak. Sudah saatnya ‘indonesian’ bicara, sudah saatnya orang2 pinter (dlm arti sebenernya) nggak diam saja. Makasih udha bikin aku lebih pinter
hebat cak.
di tulisan diatas, saya menilai anda setidaknya sudah berusaha di tempat yg benar. salut…
salam kenal.
@ anthonysteven,
itulah, kita senang mengkritik dan menyalahkan negeri lain, padahal sesungguhnya penyakit ada pada sebagian petinggi kita.
Moga kita-kita dan generasi mendatang bisa memperbaikinya.
@ Fa,
Hehehe, bener. Biasanya yang nggak mau ikut disingkirkan, atau kalo nggak kuat menyingkirkan paling pol dirasani. Bilangnya temen-temen, tulisan saya kepedesen, mosok sih, padahal sedep lho.
Monggo bareng-bareng berbicara, biasanya kera-kera ngalam lebih berani.
Maturnuwun do’anya
@ telmark,
Salam kenal juga pak, trims.
Hanya langkah kecil, sambil ajak-ajak teman seprofesi. Saya gembira mendapatkan support, tentu ini sangat berarti.
dari sabang sampai merauke, berjajar pulau-pulau
sambung-menyambung menjadi satu, itulah indonesia…
sekali lagi cak,
itulah INDONESIA…..
*sedih..dan terus lari*
@ mrtajib,
saya jadi teringat kata-kata Kyai Hasyim Muzadi, dalam kritikannya beliau menyelipkan: … itulah Indonesia …
Wah, lama tak jumpa nih. Sambang tulisan pak Tajib, akhir bulan April, kayaknya sibuk ya?
nambah kliping cak
dari Laporan Khusus jawapos,
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=284809
Jumat, 11 Mei 2007,
Jangan Berpikir Dapat Bantuan Terus
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=284810
Jumat, 11 Mei 2007,
Mencermati Penghentian Bantuan Global Fund untuk Penyakit ATM
Terpaksa Ambil Dana APBN
@ siNung,
Maaf, tadi ketangkep moderasi.
Sip, sudah saya print PDF.
Saya rasa APBN bisa menanggulangi hal tersebut, asallkan pengelolaannya benar
Setuju…Seharusnya yang dipikirkan tentang efisiensi dana bukan malah mikirin cara ngabisin dana lalu jadi bwt-bwt kerjaan yang sebetulnya kagak butuh dana berpuluh-puluh juta..Wuihh klo kya gini TB, Malaria dkk bakalan betah menguliti rakyat Indonesia, so yang resisten tuh apanya sih? meski dicariin antibiotik baru deh kaya’nya cak..
@ dyn:
hehehe, sayangnya sebagian para petinggi masih suka ngabis-ngabisin dana… itulah yg kita khawatirkan, penyakit-penyakit tersebut jadi betah…
Iya, kayaknya perlu antibiotik baru, atau setidaknya ngasihnya yg bener
Thanks