Flek Paru, apa iya ?

Beberapa tahun belakangan ini, hampir dimana-mana istilah Flek Paru mencuat kembali. Sudah terlalu banyak anak dengan keluhan batuk lama didakwa sebagai flek paru dan berlanjut pada pemberian obat TBC selama 6 bulan, 12 bulan hingga 2 tahun.
Saking takut dan nurutnya orang tua, atau mungkin karena minimnya informasi, atau merasa tidak ada jalan lain, maka para orang tua manut saja si anak dijejali obat TBC sekian lama, plus embel-embel keharusan minum obat bangun tidur pagi.

IDAI sudah memperingatkan hal ini, yakni kecenderungan dokter mendakwa flek paru. Beberapa dokter tak tahan menggugat mempertanyakan keabsahan diagnosa flek paru, termasuk beberapa orang tua ikut meragukannya.

Tak soal jika memang TBC.
Bagaimana jika ternyata bukan ? Bagaimana jika ternyata asma ? Bagaimana jika batuk lain yang bukan TBC ?
Lagi-lagi, informasi menjadi salah satu kata kunci untuk menjawabnya.

FAKTA BERBICARA
Sejak sekitar tahun 2000-an di daerah kami, kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, perusahaan kayu lapis masih jaya-jayanya. Beberapa klinik Perusahaan menjadi ajang rebutan para dokter. Penulis nggak ikut-ikut kendati mereka (pihak perusahaan) melayangkan permohonan untuk menjadi dokter klinik perusahaan.

Saat itu ada kecenderungan, para dokter perusahaan menjalin “kerja sama” dengan dokter “tertentu”. Entah kebetulan atau booming, setiap anak dengan batuk lama dan pada pemeriksaan radiologis (rotgen) menunjukkan kesan: Bronkitis atau bronkopnemonia ditambah suspect (tidak menyingkirkan kemungkinan) TBC atau biasa disebut suspect spesifik, tak ayal si anak menuai hadiah diagnosa TBC dan disusul dengan pengobatan jangka panjang.
Tak peduli imunisasi lengkap, tak peduli si anak tak nampak sakit, tak peduli si anak lincah pencilakan, pokoknya ™ FLEK Paru dan minum obat jangka lama.
Tak hanya beberapa anak, tak hanya belasan anak, puluhan sodara-sodara !!!

Untungnya di kota kami hanya ada 1-2 dokter yang hobi mendiagnosa flek dengan pesan TIDAK BOLEH periksa ke dokter lain. *ahhhhh*
Di kota kelahiran penulis, Jember, ternyata sami mawon. Seorang anak tetangga yang menderita asma mulai kakek, dan ibunya, tak luput dari dakwaan flek dan sudah minum obat 18 bulan, masih juga batuk dan ngak-ngik saat malam tiba. (sekali nebus obat ratusan ribu)
Terpaksa penulis anjurkan untuk menghentikannya, ganti obat asma.
Dia tidak sendiri, dalam satu lingkungan, beberapa anak dengan batuk lama, rata-rata didakwa flek dan mendapatkan obat TBC.

Tetangga depan rumah di Palaran, kedatangan ponakan 2 balita dari Jakarta. Batuk lama, sembuh 2 minggu kumat lagi, kadang sembuh sebulan lalu batuk lagi sampai 1 minggu lebih. Keduanya membawa obat TBC. Keduanya juga didakwa menderita flek dan sudah minum obat setahun lebih.
Tante dan om-nya yang tetangga depan rumah, bertanya-tanya berobat setahun lebih koq masih botak-batuk, krak-krok, ngiklik.

R E L A S I
Beberapa kali penulis konsultasi dan mendiskusikan fenomena flek kepada seorang sejawat DSA di Surabaya, kakak ipar di Magelang yang juga DSA dan ahli paru di kota kami. Beliau-beliau hanya tertawa sambil mengatakan: “tidak semudah itu”. Dan tentu ada komentar serta pendapat yang kurang pantas dipublikasikan.

SIKAP ORANG TUA
Beragam ekspresi dan pertanyaan menggelayut di benak para orang tua ketika anaknya didakwa flek dengan keharusan minum obat selama 6 bulan.

  1. Pertama: orang tua bangga lega karena merasa sudah ketemu penyakitnya. Mereka rela membayar berapapun setiap bulan dan berapa lamapun berobat. Pada kelompok ini kadang ada sebagian pindah berobat ketika setelah pengobatan 2 tahun si anak tetap batuk-batuk.
  2. Kedua: orang tua terkejut, merasa tidak ada yang TBC di sekitarnya. Karena ingin sembuh, tetap nurut minum obat TBC selama 6 bulan. Ketika 6 bulan berlalu tetap batuk dan dikatakan belum sembuh tetap mau melanjutkan minum obat.
  3. Ketiga: orang tua setengah percaya setengah tidak percaya saat dikatakan flek dan harus minum obat TBC selama 6 bulan. Diam-diam mereka mencari second opinion untuk meyakinkan benar tidaknya si anak menderita flek (TBC).

URUN REMBUG

  1. Jika dakwaan tersebut menimpa anak atau kerabat , bagaimana sikap para pembaca?
  2. Apa saran pembaca terkait fenomena di atas ?

Semoga bermanfat

Topik Terkait:

193 Tanggapan ke “Flek Paru, apa iya ?”


  1. 1 juliach April 24, 2007 pukul 5:12 am

    Hi…hi…hi…

    PERTAMAX

  2. 2 juliach April 24, 2007 pukul 5:20 am

    Kayaknya aku termasuk korban diagnosa FLEK PARU, waduh waktu SD disuntikin terus 2X seminggu sampai 2 th (sampai-sampai sekarang phobi sama suntikan).

    Sekarang aku malah terheran-heran karena waktu bayi divaksin BCG kok masih terkena Flek.

  3. 3 juliach April 24, 2007 pukul 5:47 am

    Wah ngak bisa rembug. Soalnya waktu visit medical bulan ke-3 utk si Vicky, aku tanya soal vaksinasi BCG. Dokter bilang nanti jika sudah berumur 2 th saja atau mau dibawa ke negara yg beresiko anak terkena TBC atau sebelum masuk sekolah. Tambahnya lagi: ada kemungkinan dihapus wajib vaksinasi BCG.

    Ini ada cerita konyol (menurutku).

    Sebelum aku bawa si Ines ke Indonesia, sudah divaksin BGC & dicheck jika vaksinnya jalan. Tapi Bapakku selalu melarang dia bermain dengan anak-anak kampung, alasannya mereka itu batuk-batuk & ingusan. Nanti bisa tertular dan parahnya bisa terkena TBC.

    Hal ini menyebabkan pertengkaran antara Denis (eks-suami) & bapakku.
    Menurut Denis, engak apa-apa biar antibodi latihan bekerja & anak nanti kebal sendiri, tapi si Bapak tak mau tahu. Sehingga Denis menyebut Bapakku: RACIST!!!

  4. 4 cakmoki April 24, 2007 pukul 6:26 am

    @ juliach,
    wah, baru aja ngedit, sudah disambar pertamax.
    Hehehe, mencicipi pengobatan flek paru tempoe doeloe ya
    Sekarang entah dari mana asal-usulnya, kecenderungan itu muncul lagi. Pro kontra, biasalah lagu dalam negeri dan budaya ewuh pekewuh.

    Soal mulainya BCG tidak sama untuk negara maju dan negera berkembang, seperti indo yang memberikan bcg sejak lahir. Ada program: “The Global Plan TO STOP TB 2006-2015″. Negara maju mungkin sudah duluan bebas TBC. Bisa dimaklumi jika dokter Vicky menetapkan planning seperti itu.

    Tentang cerita konyol, keduanya sama-sama benar jika mengacu pada hubungan argumen yang dipakai. Berdasarkan perkembangan imunologi (kekebalan) anak, saya memihak Dennis, boleh kan ? hahaha

  5. 5 mariana silvania April 24, 2007 pukul 10:11 am

    pak..anakku juga di curigai kena TB.. udah dua kali suntik BCG (oya..dokter anakknya nyuntik BCG ankku di pahanya…bukan di tangan)..pertama suntik BCG usia satu bulan..trus di suntik lagi usia 9 bulan karena bekasnya ga muncul aja..
    Oya anakku juga lincahnya minta ampun..trus makannya banyak..tapi karena enggak gendut..orang dirumah pada curiga.
    di tunggu sarannya ya pak

  6. 6 evi April 24, 2007 pukul 11:18 am

    lah…masalah flek paru ini Dok, kadang bikin pusing atau bingung para ortu termasuk saya.

    kejadiaanya saya punya pengasuh dari Nasywa lahir, pokoknya dia ini is the best deh! saat saya mo ke apotik Mbaknya ini minta dibeliin “rifampicin”. Saya beliin juga, walaupun bingung krn kata Mbaknya ini obat batuk.

    Saya penasaran karena selama saya batuk belum pernah minum obat ini. besoknya saya langsung browsing internet penasaran dgn “rifampicin “, masya Allah…..ternyata obat TBC. rasanya mau pingsan, tau semua ini. Bagaimana caranya saya ngomong baik2 ke Mbaknya tanpa harus menyakiti, soalnya ini menyangkut nasib Nasywa.

    akhirnya atas saran DSA nya Nasywa, Mbaknya disuruh Rontgen kalo positif ya hrs berobat, tp dia memilih pulang.

    alhamdulillah Nasywa sehat, sempat jg sih diberi obat TBC sama DSA nya ktnya untuk pencegahan, tp tidak saya minum
    kan, lah Nasywa tiap bulan berat badannya naik dan makannya juga OK kok.

  7. 7 dwi April 24, 2007 pukul 12:00 pm

    dok, adek wi kemaren baru aja didiagnosis “flek paru”
    hasil rontgennya emang ada flek, tapi tes BTA nya (-) kok, trus dikasih obat sama dokternya yang harus diminum selama 3 bulan.
    tapi wi blum lihat salinan resepnya..
    nah klo BTA – artinya bukan TBC dunk??

  8. 8 n0vri April 24, 2007 pukul 1:39 pm

    Jadi gregetan ama dokter nakal (padahal adikku suami-istri dokter, kakak sepupu juga dokter, he he he)
    Menjawab tantangan cakmoki, kalo kerabat yang divonis Flek paru:
    - Langsung naik banding, cari info dari bebrapa dokter ahli lain (sesuai spesialisasinya)yang punya reputasi bersih, sekaligus bawa hasil tes lab dan radiologinya.
    - Saran saya, seperti yang pernah saya alami ketika divonis radang sinusitis, jangan langsung dituruti kalo harus mengalami pengobatan panjang begitu, balik ke poin di atas, mending cari second or third opinion. Kalo emang udah “banding” maupun “kasasi” masih diovonis flek, ya mesti berobat…

    Btw, pasien kayak saya, rewel ya dok?

  9. 9 mei April 24, 2007 pukul 2:00 pm

    ambil langkah yang ke3

    Ning juga gak gemuk2 amat, dan kebetulan mbak yang sekarang ini ringkih, sering batuk..dia juga cerita kalau suaminya pernah kena paru2 basah alias TB waktu d kampung. agak takut2 juga, cuman karena gak ada pilihan dan sepertinya dia gak batuk cekrah cekreh gt ya aku tetap pekerjakan.

    Lagian Ning juga maemnya mau khok, walaupun gak gendut tapi montok..hehe

  10. 10 xwoman April 24, 2007 pukul 2:02 pm

    ya mungkin mempelajari dulu gejala-gejalanya lebih detail terus jangan hanya berpegang pada satu opini dokter!

  11. 11 cakmoki April 24, 2007 pukul 3:09 pm

    @ mariana silvania,
    Kronologisnya bagaimana Bu?
    Kita perlu mengetahui maksud “dicurigai” TB. Maaf, saya agak berprasangka, jangan-jangan kata-kata “dicurigai” berlanjut dengan pemberian obat TB.
    Kecurigaan TB pada anak, diantaranya mengacu pada: gejala (gejala TB pada anak BUKAN didominasi batuk, melainkan panas naik turun, berat badan cenderung turun, kurang nafsu makan). Ada pula batuk yang tidak kunjung sembuh disertai panas naik turun dan BB menurun. Gejala di atas masih perlu konfirmasi dengan pemeriksaan Mantoux test (tes tuberkulin), Laju endap darah dll.
    Menurut saya, jika ibu meragukan, alangkah baiknya konsultasi dengan DSA lain. Atau sebelumnya silahkan lihat tautan topik terkait yang pertama. Semoga bukan

    @ evi,
    Saya ikut bersyukur Nasywa sehat. Sayang sekali mbaknya terlanjur pulang. Maaf nih, mungkin si mbak tersinggung. Bisa jadi mbak tersebut minum Rifampisin hanya karena ikut-ikutan saja. Toh obat TB bukan hanya Rifampisin, masih ada INH, Pirazinamide, Ethambutol dan B6. Inipun diminum sedikitnya 6 bulan.
    Jangan-jangan pengasuh Nasywa tidak menderita TB, soalnya dia titip Rifampisin saat ibu ke apotik dengan alasan untuk batuk, berarti obat tersebut tidak rutin kan ?
    Rupanya kasus semacam ini meluas ya. Perlu diskusi lanjutan nih

    @ dwi,
    Yang dimaksud adik itu usia anak-anak(kurang 12 th) atau dewasa?
    Hal ini penting lantaran manifestasi klinis (gejala) berbeda pada anak dengan dewasa. Itupun perlu dilihat secara klinis “nampak sakit” atau “tidak nampak sakit”
    Hasil rontgen memang ada flek, maaf itu tulisan radiolog apa memang nampak ada gambaran spesifik ?
    Kayakya usia dewasa ya, soalnya ada BTA. Anak kan nggak mungkin bisa ngeluarkan dahak. Jika BTA negatif atau meragukan, BTA diulang hingga 3 kali. Pada dasarnya, menegakkan diagnosa TB Paru tetap menggunakan kaidah kedokteran, yakni: anamnesa, gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (lab, Ro, dll).

    Pemberian obat 3 bulan tanpa penjelasan lain, saya meragukan karena pengobatan TB paru sedikitnya 6 bulan, menggunakan obat panduan WHO dan Depkes RI.
    Setuju, lihat copy resepnya dulu. Perlu juga dipertimbangkan second opinion.

    @ n0vri,
    aha, sip sharing pemikirannya. Moga dapat diikuti para ortu yang lain. Punya kerabat dokter malah enak dong, bisa diskusi panjang.

    Tentang pasien bertanya, sudah memang haknya. Idealnya dokter dan pasien atau keluarganya ber-sparing partner dalam hal pengobatan.
    Di praktek, para pasien kami biasakan bertanya, berpendapat bahkan boleh ngeyel. Ini penting untuk menjalin komunikasi dan transfer pengetahuan agar proses pengobatan berjalan sesuai harapan. Inipun seorang dokter hendaknya bersikap legowo, memberikan kesempatan kepada pasien untuk konsultasi dengan dokter lain yang lebih ahli.
    Bukan monopoli. Niscaya dokter demikian akan lebih dipercaya para pasiennya. Saya pribadi lebih suka jika pasien banyak mengerti tentang penyakit. Selama ini, walau pasien sudah tahu penyakitnya, nggak ngobati sendiri koq, masih tetap berkunjung, ehm … nganter shodaqoh. hahaha

  12. 12 n0vri April 24, 2007 pukul 3:42 pm

    Wah, ALhadulillah kalo ketemu dokter yang sabar mau dengerin pasiennya kayak Cakmoki. Beberapa dokter yang saya temui di Jakarta juga begitu, tapi umumnya udah senior.

    Sebagai pasien, saya juga sadar kompetensi saya, jadi saya hanya berusaha memastikan bahwa vonis yang diberikan dokter adalah murni vonis berdasarkan diagnosa medis, bukan diagnosa lainnya (apalagi diagnosa ekonomis, maaf ya dok :) ). Begitu dijelaskan dengan jawaban yang memuaskan, saya akan sangat patuh terhadap pengobatan dokter, kan dokter memang yang punya kompetensi mengobati. Minum obat berapapun banyaknya dan seringnya, tetap saya jalani, lha wong saya mau kembali sehat.

    Semoga dokter-dokter muda mau ikutan dokter ideal yang mau mendengarkan… hidup dr. Moko! :D

  13. 13 cakmoki April 24, 2007 pukul 4:17 pm

    @ mei,
    Paru-paru basah, istilah yang amat sangat sulit didiskripsikan. Apa betul yang dimaksud TB dan minum obat 6 bulan?
    Batuk sekali-sekali dengan interval cukup lama, belum tentu TB.
    Jika meragukan ngga ada salahnya Rontgen atau BTA. Kan bu Mei banyak relasi tho :D

    @ XWOMEN,
    Betul, setuju !!! *kayak kampanye* hehehe

    @ n0vri,
    Saya ikut gembira masih banyak dokter sabar, moga dijadikan panutan untuk yang lain khususnya saya sendiri.
    Mudah-mudahan pula nantinya para pasien dan masyarakat Indonesia tambah pinter, seperti di negara maju *menghayal dikit* :)
    DIAGNOSA EKONOMIS, hahaha memang ada dan nyata.

    Trims do’anya pak, semoga kami-kami senantiasa mendapatkan bimbingan-Nya

  14. 14 mariana silvania April 24, 2007 pukul 4:26 pm

    anakku belum di kasih obat TB sih pak..berat badannya alhmd naik terus..dan masih dalam ukuran normal(klo diliat dari Kartu kesehatannya).Sekarang lagi ga batuk (dulu pernah) ..jarang pilek. nafsu makannya bagus.ga mau diem alias aktif banget..
    di curigai tertular karena badannya ga gendut..dulu pernah batuk-batuk.pernah panas tinggi,waktu pilek. tapi trus yang bantu2 dirumah, keluarganya ada yang menderita TB (ada 4 orang anggota keluarga nya yang kena).
    klo tentang suntik BCG yang ga ada bekasnya itu gimana pak? udah dua kali disuntiknya..apa perlu imunisasi BCG lagi ?

  15. 15 cakmoki April 24, 2007 pukul 4:43 pm

    @ mariana silvania,
    Yang dimaksud bekas, ada jaringan parut kecil, kayak bekas luka.
    Menurut saya nggak perlu BCG lagi, kan sudah 2 kali.

    Pada umumnya, anak-anak mengalami batuk, adakalanya lama. Belum tentu TB. Kebanyakan karena virus.
    Bisa saja seorang anak tiap bulan sakit panas, batuk pilek karena ketularan sekitarnya atau sebab lain.
    Seiring dengan bertambahnya umur, daya tahan tubuh anak akan meningkat dan makin jarang sakit. Boleh dibilang proses pembelajaran mengenal penyakit sekaligus membentuk daya tahan tubuh.
    Syukurlah tidak minum obat TB walaupun sempat dicurigai TB.

    Soal berat badan biasalah, itu kan hasil rumpian ibu-ibu kalo pas ngumpul, atau merasa nggak enak sama ibu lain yang punya anak gendut. yang penting mau makan-minum, bermain, aktif dan sehat. Ya kan ?
    Moga si kecil tetap sehat. Sudah bisa minta adik belum? *bercanda* :D

  16. 16 calonorangtenarsedunia April 24, 2007 pukul 8:26 pm

    assalammu’alaikum..warahmatullah..wabarakaaatuh..!
    hadirin sidang jum’at yg dimuliakan Allah..
    *padahal skrg hari selasa*

    cak, ga bisa pake krim muka ya buat ngilangin flek di paru nya? hehe47x…
    *masih korslet abis UTS*

  17. 17 cakmoki April 24, 2007 pukul 10:40 pm

    @ calonorangtenarsedunia,
    UTS-nya bisa nggak ?
    Jangan-jangan belajarnya Sistem Kebut Semalam. hehe47x…

  18. 18 junthit April 25, 2007 pukul 3:42 am

    wah kasian yang nggak tau klo gitu…

  19. 19 grandiosa12 April 25, 2007 pukul 6:25 am

    kasian banget yah yang ’salah’ diagnosa.. melanggar kode etik ga dok?

  20. 20 manusiasuper April 25, 2007 pukul 12:01 pm

    Kalo paru-paru basah itu gimana pak?

    Saya kena waktu umur 6 bulan…

  21. 21 cakmoki April 25, 2007 pukul 5:25 pm

    @ junthit,
    ya pak, karena itulah kita berkewajiban menyampaikan informasi yang benar kepada khalayak dan saling berbagi, agar para pasien tahu akan hak-haknya, tidak segan untuk bertanya.

    @ grandiosa12,
    Enggak pak, bukan masalah etika namun lebih kearah teknis medis. Pada kasus tertentu, kesalahan tindakan medis bisa dianggap “medical error”. Mungkin suatu saat nanti perlu dibahas.

    @ manusiasuper,
    Paru-paru basah sebetulnya tidak dikenal dalam dunis medis. Bahwa seorang dokter mengatakan Paru-paru basah (apa ada yang kering?) mestinya disertai penjelasan tentang penyakitnya.
    Bisa saja istilah serupa dipakai agar mudah diingat, misalnya: “kerumut” sama dengan campak atau morbili.

    Di tempat kami ada juga pasien menyebut paru-paru basah. Saya berkewajiban menjelaskan sesuai hasil pemeriksaan sambil memperkenalkan penyakit sebenarnya. Hal ini penting agar pasien mendapatkan informasi yang benar, tidak bias.

    Jika pak mansup dulu pernah dikatakan menderita Paru-paru basah kemudian mendapatkan obat 6-9 bulan, kemungkinan yang dimaksud oleh dokter yang merawat adalah TB. Jika tidak diikuti dengan pengobatan di atas, mungkin paru-paru basah tersebut bukan TB. Lha, bias tho.
    Setidaknya dengan diskusi kecil-kecilan begini, kita ikut membangun wacana kesehatan.

  22. 22 peyek April 25, 2007 pukul 11:50 pm

    semoga bisa dilanjut tulisan njenengan soal ini cak, soale jadi momok para orang tua cak!

  23. 23 Kang Kombor April 26, 2007 pukul 1:54 am

    Aku ra moco, Cak. Mung arep ngandhani nek pindah omah.

  24. 24 cakmoki April 26, 2007 pukul 2:58 am

    @ peyek,
    Insya Allah pak. Saya siapkan artikel lengkapnya. Maturnuwun

    @ Kang Kombor,
    Nggih Kang, maklum koq, njenengan kan lagi sibuk.
    Jadi link yang ini ya. Atau tak masukkan semua aja dah, ben lengkap.
    Maaf Kang, nggak bisa ngewangi langsung. Mbantu do’a aja ya :)

  25. 25 calonorangtenarsedunia April 26, 2007 pukul 9:37 am

    bisa doooonnkk…
    hana gt loh!!

  26. 26 cakmoki April 26, 2007 pukul 1:06 pm

    @ calonorangtenarsedunia,
    Selamat :D Biasanya kalo bisa uts or us ada acara makan-makan.
    Mana, manaaa Han ?

  27. 27 calonorangtenarsedunia April 26, 2007 pukul 9:32 pm

    ah,,
    makan2 sih nanti aja kalo nikahan, cak…
    wakakak47x…

  28. 28 cakmoki April 27, 2007 pukul 12:59 am

    @ calonorangtenarsedunia,
    Makan sendiri aja ah :D

  29. 29 faiq April 27, 2007 pukul 4:01 am

    Kalau obat TBC diminum anak/orang yang tak TBC, dampaknya apa dok??.., Untung Cak Moki nggak ikut trend. Kalau semua dokter kayak Cak Moki, pabrik obat TBC kebat-kebit dunk cak?… he…he…he **langsung kabur…, terus tidur**

  30. 30 cakmoki April 27, 2007 pukul 8:32 am

    @ faiq,
    Dampak medis sangat individual. Ditinjau dari sudut farmakologi, membebani kerja liver (metabolisme) dan ginjal (ekskresi or pembuangan). Menanggulanginya dengan makanan bergizi dan banyak minum.
    Dari sudut biaya, buang uang yang tak perlu. Dan buang waktu.
    Anak-anak di indonesia rata-rata batuk 4-10 kali dalam setahun.
    Dalam sehari anak batuk-batuk yang berobat sekitar 5-10 anak. Kalo semua dituduh TB, Indonesia banjir obat TB. hahaha

  31. 31 mariana silvania April 28, 2007 pukul 9:32 am

    dok..klo test ICT TB positif tuh artinya positif TB ya ?

  32. 32 cakmoki April 28, 2007 pukul 12:49 pm

    @ mariana silvania,
    Nggak mesti, test tersebut hanya menunjukkan infeksi, bukan menunjukkan penyakit TB.
    Pemeriksaan tersebut tidak lebih baik dari test Tuberkulin (mantoux test) pada anak. Sedangkan pemeriksaan ICT pada dewasa menurut saya hanya buang uang dan waktu. Toh jika positif harus periksa Kuman Batang Tahan Asam (BTA) melalui dahak. Pembuktian ada tidaknya pengakit paru pada ICT positif adalah dengan membuktikan ada tidaknya kuman, dengan pemeriksaan BTA (dahak) atau biakan kuman.
    Jika ada gejala fisik yang mengarah ke TB, lebih efektif jika periksa langsung BTA (pada dewasa). Selain biaya murah, pemeriksaan tersebut (BTA) jika menunjukkan hasil positif, berarti TB.

  33. 33 mariana silvania April 28, 2007 pukul 6:44 pm

    dok, anaku udah di test ICT TB. Hasilnya positif, leokosit tinggi : 10.400 .di foto torax menunjukkan sedikit bercak.

    aku juga udah di tes ICT, hasil nya degatif, Udah test BTA1, 2,3 hasilnya juga negatif atau tidak ada bakteri tahan asam.
    test darah normal.ro torax ; Hili kasar dengan corak paru bertambah. tidak tampak KP aktif ataupun kelainan Lain..

    gimana atuh ya anakku..harus di test mantux dulu ?

  34. 34 cakmoki April 29, 2007 pukul 12:06 am

    @ mariana silvania,
    Ok, ICT TB positif, menunjukkan ada infeksi, bukan lantas serta merta sakit TB. Leukosit naik nggak seberapa. Sayang foto rontgen nggak lihat sendiri. Tulisan bercak kemungkinan diskripsi radiolog di lembar diskripsi. Jika tidak didukung data klinis misalnya panas naik turun lebih 2-3 minggu, berat badan cenderung turun dan anak tampak sakit, terus terang saja saya meragukannya. Diagnosa TB tetap berangkat dari gejala klinis. Batuk lama, bukan tanda khas pada anak untuk mendiagnosa TB.
    Beberapa ahli anak menyebutkan kemungkinan lain misalnya asma (tidak selalu mengi), bronkitis atau batuk alergi. Keluhan ini seringkali didiagnosa TB.

    Test Mantoux boleh, untuk meyakinkan, acuannya tetap tanda klinis seperti di atas.
    Sedangkan hasil pemeriksaan ibu, jelas tidak ada apa-apa.

    Kalau boleh usul, rasanya perlu second opinion ke dokter lain. Bisa saja saya salah. Saya hanya menyayangkan apabila anak-anak yang bukan TB, didiagnosa TB.

    Semoga diberikan jalan terbaik untuk anak ibu.

  35. 35 mariana silvania April 29, 2007 pukul 12:42 pm

    makasih banyak ya dok…seneng deh bisa nge-blog sambil konsultasi.

    pagi nadya udah mulai di kasih obat..Abi-nya Nadya mutusin ngasih obat..:(( sedih sih liat dia minum, Nadya paling susah minum obat. ..tadi warna pipisnya merah…mungkin pengaruh obat ya.

    Tapi nanti aku akan bawa anakku ke spesilis paru anak .. sekalian test Mantux..mohon doa atuh ya dari semuanya…

  36. 36 cakmoki April 29, 2007 pukul 9:17 pm

    @ mariana silvania,
    Sama-sama Bu, saya juga senang bisa berdiskusi.
    Ya, warna merah pada air seni karena zat warna dari Rifampisin.

    Saya sependapat untuk konsultasi ke dokter paru. Jika dokter paru sebagai second opinion memutuskan minum obat jangka panjang, berarti itulah yang terbaik untuk Nadya.

    Semoga diberikan kesehatan bagi ibu sekeluarga

  37. 37 dwi April 30, 2007 pukul 11:00 am

    dok, ternyata oh ternyata adek wi dikasih rifampicin,, heran juga knpa cuma 3 bulan dan, knapa dikasih rifampicin padahal BTA – ??
    mohon pencerahan..

  38. 38 cakmoki April 30, 2007 pukul 11:30 am

    @ Dwi,
    Pemeriksaan BTA 3 kali dan hasilnya BTA – (negatif), bukan TB. Berarti tidak ada indikasi pemberian Rifampicin.
    Pemberian obat 1 (bulan) dimungkinkan jika ditujukan untuk profilaksis, misalnya bepergian ke daerah yang nyata-nyata endemis.
    Boleh koq nanyaken kepada dokter yang merawat alasan pemberian rifampicin (ada yang lain nggak, misalnya: IHH, etambutol, pirazinamid, vit B.6).

  39. 39 siNung Mei 1, 2007 pukul 2:31 am

    syahdan :)

    ada korelasi positf antara obat anti-TBC dengan ke-pikun-an (!)

    bagaimana nih boss ?

  40. 40 bulleballi Mei 1, 2007 pukul 7:05 pm

    wah … jadi takut juga nih …

    Soale anak saya 1,5 th dah 3 minggu batuk belum sembuh, sudah 3 kali difisioterapi karena dahaknya ga bisa keluar.

    terahir pindah dokter diinfoin Bronkitis
    ada dahak antara tenggorokan & dada …obat yg dikasi Citocetin,amoxine,Sirplus … ( klo kaya gini TB bukan dok? ) ….

    ditunggu pencerahannya

  41. 41 cakmoki Mei 2, 2007 pukul 5:50 am

    @ siNung
    Soal itu belum berani komentar deh, soalnya banyak variabel.
    Jangan-jangan obyek penelitian sebelumnya sudah pikunan, hahaha

    @ bulleballi,
    Mungkin benar bronkitis atau batuk alergi.
    Kalau dahaknya nggak bisa keluar biasanya agak lama, perlu dipertimbangkan tambahan pengencer dahak (ekspektoran) misalnya: sirup Ambroksol 3×1 sendok takar, disamping obat yang sudah ada.
    Moga si kecil cepat sembuh :D

  42. 42 siNung Mei 2, 2007 pukul 9:31 pm

    @41

    > GERIATRI
    > Buku Ajar Geriatri ( Ilmu Kesehatan Usia Lanjut )
    > Oleh : Prof. dr. R. Boedhi Darmojo, dr. H. Hadi Martono

    cmiiw
    :)

  43. 43 cakmoki Mei 2, 2007 pukul 10:43 pm

    @ siNung,
    Hahaha, ini instruksi ya.
    Ayo dong nulis, boleh dimuat di sini koq. Jadi author ya :D

  44. 44 tito Juni 22, 2007 pukul 2:22 pm

    salam sejawat dok..
    mau ikutan rembuk dikit..dari pengalaman pribadi,kadang emang susah susah gampang untuk menegakkan diagnosa tb paru, apalagi pada anak. ada pengalaman, pasien anak dengan x foto suspek spesifik proses, LED tinggi, BB gak naik2, batuk pilek berulang, nnll colli teraba & tidak nyeri,panas sumeng tiap malam..maksudnya supaya mantep saya rujuk ke Sp.A untuk kepastian diagnosa, oleh Sp.A di test Mantoux tapi hasilnya negatif..akhirnya ga jadi diagnosa Tb, tapi setelah di kasi obat oleh Sp.A tetap aja gak sembuh.Saya pikir reaksi anergi, akhirnya saya putuskan terapi TB, setelah 2 bulan evaluasi ternyata hasilnya baik. menurut dokter, apa memang mantoux test satu2nya baku emas diagnosa Tb? dari yang saya ketahui, bila dari tanda dan gejala sugestif Tb,kita masih bisa kasih terapi tb dan evaluasi dalam 2 bulan, bila membaik berarti tb, bila tetap/memburuk berarti bukan tb atau MDRT Tb.
    Repot ya dok,saya juga bingung kalo dapat pasien,yang katanya berobat ke dokter dibilang anaknya kena bronkitis tapi mesti berobat 6 bulan,kena paru-paru basah berobat 6 bulan ( apa yang dimaksud paru2 basah itu efusi pleura ya? :)
    eh dok, sebenarnya siapa sih yang bikin istilah2 flek paru, paru2 basah itu..waktu kuliah gak pernah diajarin kan ya? :)
    ok deh salam kenal..

  45. 45 cakmoki Juni 22, 2007 pukul 3:15 pm

    @ Tito,
    Salam kenal mas Tito, terimakasih telah berbagi.
    Menurut referensi dan panduan IDAI, test Mantoux tidak spesifik, begitu juga radiologis, kecuali milier.
    Beberapa kali diskusi dg ts SpA, klinis tetap memegang peranan penting.
    Memang ada pendapat yang pakai sistem evaluasi 2 bulan.
    Selama ini px yg mendapat tx TB (ada yg sampai 2tahun) sy konsul ke dr paru, tidak ada satupun yg TB, rata-rata asma. Beberapa bulan lalu ada dimuat soal ini di majalah dokter kita, cenderung asma.

    hehehe, kalo istilah flek saya gak tahu siapa yg memulai, rasanya udah lama sekali, termasuk paru-paru basah (kalo kering kripik paru ;) ). Yg saya ketahui pasien yg didiagnosa paru-2 basah mendapatkan terapi TB, berarti istilah lain untuk TB makin kabur. Ini pernah dikritik keras oleh Prof Iwan Darmansjah dan beberapa SpA senior.

    Sekali lagi maturnuwun
    ohya, saya biasa dipanggil cak oleh temen-temen blogger, gak pakai dok-dokan hehehe

  46. 46 paunk Juli 4, 2007 pukul 11:17 am

    Efusi pleura masif -> ini pengobatannya gimana ya klo boleh tau? adik saya TB Paru, udah jalan obat sekitar 4 bulan, tapi menurut dokter masih perlu ‘operasi’ -> doketr menjelaskan dengan istilah operasi, untuk mengambil nanah yg ’sudah mengerak’ yg dimaksud dgn operasi apakah pembedahan atu hanya diambil dengan jarum suntik?
    trim’s

  47. 47 cakmoki Juli 4, 2007 pukul 11:50 am

    @ paunk,
    Efusi pleura pengobatannya dengan aspirasi atau penyedotan cairan dalam pleura menggunakan jarum khusus.
    Untuk pengobatan TB Paru berarti kurang dua bulan lagi, biasanya akan sembuh stelah pengobatan 6 bulan.
    Moga jawaban singkat ini membantu dan semoga adik segera sembuh :)

    » ke atas

  48. 48 Ari Juli 11, 2007 pukul 3:37 pm

    Salam Dok
    tolong jelaskan keterangan hasil lab, karena dokter yang menangani saya tidak memberikan keterangan yang lengkap

    Thorax lateral:
    infíltrat di perihiller dan parakardial tdk tampak pembesaran KGB hilus, cor dlm batas normal, sinus kosto tumpul, kesan:TB tersangka dg efusi pleura kanan

    USG Thorax:
    Tampak anekoik dgn jaringan nekrotik di pleura kanan volume 500-750cc dgn kedalaman 3-4cm
    kesan:efusi pleura kanan

    apa yang dimaksud dengan LED? karena nilai saya 102 dan itu 10 kali lipat dari orang dewasa normal

    Hasil cairan yang sudah diambil, untuk keterangan gramnya tertuliskan “tidak terdapat kuman” apakah masih aman?

    kenapa cairannya tidak mencapai 500cc & sebagian tercampur dengan darah?

    berapa kali saya harus melakukan penyedotan?

    untuk gambar dapat dilihat di http://allabout.myself.web.id/rontgen/

    trima kasih

  49. 49 cakmoki Juli 11, 2007 pukul 4:39 pm

    @ Ari,
    salam,
    dokter yg merawat tidak menjelaskan secara lengkap kemungkinan agar tidak menimbulkan rasa cemas.
    Idealnya adalah perpaduan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (rontgen, usg, lab). Namun demikian saya akan mencoba menjelaskannya.
    Ok, gambar sudah saya lihat.

    Rontgen:
    Jelas ada cairan di pleura kanan. Efusi=cairan, pleura=selaput antara dinding paru dan dinding dada.
    Infiltrat maksudnya peradangan, perihiller=sekitar hilus, pericardial=sekitar jantung, KGB=kelenjar getah bening, cor=-jantung.

    Artinya:
    Ada cairan di pleura kanan dg tanda peradangan, hal ini diperkuat dengan LED=laju endap darah yg tinggi (ini untuk konfirmasi Rontgen).
    Adapun Jantung: normal.
    TB=TBC, di rontgen biasa ditulis gitu, maksudnya tersangka adalah agar tidak dikesampingkan penyakit TBC sebagai penyebab timbulnya cairan di pleura. Hal ini dicocokkan dengan pemeriksaan fisik pleh dokter yg merawat. Kalo mengarah ke sana kan diberikan obat selama 6 bulan.

    Cairan yg diambil harus diperiksa ada tidaknya kuman untuk melihat penyebaran kuman. Jika tidak ada kuman (dibuktikan dengan pemeriksaan Gram yg artinya deteksi kuman dg pengecatan Gram), maka cairan tersebut tidak ada kumannya. Kalo ingin lebih spesifik bisa saja cairan dibiakkan untuk melihat ada tidaknya mikroorganisme lain selain kuman. Namanya disebut kultur (pembiakan). Namun perlu waktu lama (sekitar 1 minggu).

    Jumlah cairan yg diambil tidak selalu cocok dengan prakiraan melalui rotgen, perhitungan melalui rotgen adalah perhitungan matematis yg banyak dipengaruhi oleh berbagai hal, sedangkan hasil penyedotan adalah angka riil. Biasanya akan diambil berulangkali selama masih ada cairan hingga cairan habis agar tidak sesak atau nyeri dada.
    Melihat cairan jernih kekuningan, sepertinya aman. Darah yg tercampur dg cairan tentu akan dianalisa oleh dokter, apakah karena darah dari bekas penyedotan atau berasal dari cairan pleura. Saya menduga darah berasal dari proses penyedotan (sepanjang tusukan jarum), karena jika dari pleura warna cairan tidak kuning tapi kemerahan dan homogen.

    Rasanya sudah terjawab semua ya, eh kalo merasa masih ada yg belum terjawab boleh dilanjutkan.

    Moga segera sembuh :)

  50. 50 Ari Juli 11, 2007 pukul 5:39 pm

    trima kasih banyak dok atas pencerahannya, semoga sukses selalu buat dokter

    salam

  51. 51 cakmoki Juli 12, 2007 pukul 2:00 am

    @ Ari,
    ok, sama-sama.
    trims juga atas supportnya :)

  52. 52 Ari Juli 16, 2007 pukul 4:13 pm

    Salam dok!

    sy udah minum obat dari dokter, knapa akhir2 ini tulang sy sedikit linu/ngilu, dan nadi sy detaknya sedikit cepat dari sebelumnya, dan berat tubuh sy jadi naik, knapa semuanya itu terjadi?, ato gara2 obat yg sy minum?,

    oh iya apakah penyakit sy ini disebut juga Pneumonia, seperti Post blogger terakhir di blog dokter?

    trima kasih dok,

  53. 53 Tanti Agustus 31, 2007 pukul 4:07 pm

    Cak, say acoba dibantu informasi, kata dokter anak saya, anak say ayang baru 11 bulan ini terkena flek dan diberi pengantar untuk ke lab cek darah dan rotgen, Anak saya memang nggak bisa naik berat badannya 11 bulan beratnya 6 Kg, berat lahirnya 2,6 kg, kalau pilek sama batuk mulai dari umur 5 bulan jadi pajak bulanan, cuma akhir-akhir ini dia batuk dan pilek nggak sembuh2 hampir 3 minggu ini. diberikan anti biotik amoxilin sama dokternya bisa sembuh tapi seminggu kemudian batuk2 lagi .. apakah ini gejala dari TB Cak ??
    mohon bantuannya
    Thanks ^^

  54. 54 cakmoki Agustus 31, 2007 pukul 9:47 pm

    @ Tanti,
    Bisa jadi dokter yg memeriksa berlandaskan pemeriksaan klinis (fisik).
    Tanda klinis TBC pada anak lebih didominasi oleh panas yang naik turun dalam waktu lama dan berat badan yg tidak kunjung naik, namun berat badan juga dipengaruhi oleh banyak faktor.

    Untuk lebih jelasnya, silahkan bertanya kepada dokter anak yg ngeblog, alamat beliau adalah: doktere arek cilik
    moga ananda segera sembuh

  55. 55 mita September 22, 2007 pukul 5:47 pm

    nama saya ana, baru-baru ini saya periksa ke dokter saya didiagnosa ada flek diparu2 saya tapi BTA negatif,saya juga ada penyakit bronchitis asmatis, tapi saya di beri obat yang untuk flek, saya masih bingung dok,apa sih flek paru2 itu?kalau BTA negatif apakah masih dibilang TBC apa bedanya dengan TBC?apakah ada hubungannya antara bronchitis yang saya derita dengan flek paru2 saya?apakah dengan pengobatan yang lama ini(6 bulan) batuk saya bisa sembuh total?terima kasih ya dok or cak

  56. 56 cakmoki September 22, 2007 pukul 11:41 pm

    @ mita,
    ok mita, pengobatan 6 bulan adalah pengobatan untuk TBC. Mungkin penamaan flek paru ditujukan agar tidak panik, namun sebenarnya menjadi bias. Kalo BTA positif, pasti TBC… kalo negatif tapi dokter masih curiga TBSC, maka BTA diulang hingga 3 kali dan kalo hasilnya tetap negatif berarti bukan TBC.
    TBC dan Bronkitis sih ga ada hubungannya, wong keduanya penyakit yg berbeda.

    apakah dengan pengobatan yang lama ini(6 bulan) batuk saya bisa sembuh total?

    Kalo TBC, biasanya sembuh total.
    Lha kalo batuknya karena bronkitis atau Asma, maka pengobatan 6 bulan gak ada pengaruhnya, artinya batuk akan tetap datang jika kena dingin, debu or asap…

    Moga berguna, dan semoga segera sembuh :)

  57. 57 mita September 29, 2007 pukul 4:50 pm

    terima kasih ya infonya, berarti kemungkinan batuk saya sembuh total jauh dari harapan dong karena saya ada asma dan bronchitis, saya sudah test BTA 3x dan hasilnya negatif, kalau bukan TBC, trus TBSC apa ya cak? kalau bukan TBC terus apa gunanya pengobatan 6 bulan cak? maaf ya banyak nanya abis saya masih penasaran. thanq so much

  58. 58 cakmoki September 29, 2007 pukul 6:41 pm

    @ mita,
    ok :)
    maaf mita, asma tidak bisa sembuh, namun bisa dikendalikan, gak perlu kecil hati, yang penting ready obat asma yang paling nyaman untuk mita.
    Kalo udah BTA negatif 3x dan jelas batuknya karena asma, bisa dipastikan bukan TBC.

    …kalau bukan TBC terus apa gunanya pengobatan 6 bulan cak?

    i dont know.
    Jika di praktek pribadi saya menemui kasus seperti ini, saya akan mengambil 2 langkah pilihan kepada pasien:
    1. Menghentikan obat TBC yang 6 bulan itu, dan
    2. Mempersilahkan meneruskan obat 6 bulan kalo pasien menghendakinya, disertai penjelasan bahwa penyakitnya bukan TBC …
    hehehe…ini hanya pendapat pribadi saya lho, selebihnya tentu saya menghargai dokter yg merawat mita :)
    So, its up to you

    Trims

  59. 59 mita Oktober 6, 2007 pukul 4:40 pm

    thank you so much for the info, tapi saya mau tanya lagi nih maaf ya cak, kemarin saya cek up ke dokternya saya tanya masalah ini beliau bilang flek ini tetap TBC meskipun BTA negatif, apa begitu dok? oya kalau saya teruskan pengobatan meskipun bukan TBC apa tidak ada efek sampingnya untuk saya, tapi kalau tidak ada efek sampingya utk saya akan saya teruskan,oya saya mau tanya memang ada ya penyakit paru-paru yang kerendem cairan tetangga saya ada yang menderita penyakit ini beliau juga menderita penyakit jantung apa karena penyakit jantungnya maka paru-parunya kerendem cairan? itu disebabkan oleh apa ya cak?trus apa sih itu broncheapnhemonia? apa itu juga disebabkan oleh flek paru?maaf ya dok pertanyaan saya karena disekitar saya banyak yang menderita penyakit paru-paru yang aneh?
    thanks a lot ya dok, maaf merepotkan…………………………..

  60. 60 cakmoki Oktober 7, 2007 pukul 4:43 pm

    @ mita,
    ok, bisa saja seperti itu, kalo emang dokternya yakin setelah melakukan pemeriksaan, karena pemeriksaan BTA emang sulit, walau nyata TBC belum tentu BTA-nya positif.
    Efek samping obat selalu ada, namun dengan banyak minum dan cukup makanan bergizi, efek samping dapat diminimalisir.

    Paru-paru kerendem cairan? Menurut saya, lebih tepat : ada cairan di paru, mungkin yang dimaksud efusi pleura yakni adanya cairan di pleura paru. Penyebabnya banyak, kebanyakan karena infeksi, di pleura ataupun penjalaran dari infeksi sekitar jaringan paru.

    Bronchopnemonia adalah salah satu infeksi jaringan paru dan saluran pernapasan…
    Penyakit paru jenisnya emang banyak, gak aneh-aneh koq, cuman mungkin karena kurang penjelasan…

    ok, sama-sama

  61. 61 jhal Oktober 7, 2007 pukul 4:55 pm

    waduh apa tuh penyebabnya “Flek Paru – Paru” pak…

  62. 62 cakmoki Oktober 7, 2007 pukul 5:23 pm

    @ jhal,
    Flek paru-paru, kalo yang dimaksud oleh si dokter adalah TBC, penyebabnya: bakteri or kuman :)

  63. 63 mita Oktober 9, 2007 pukul 3:36 pm

    terima kasih pencerahannya dok, tapi saya mau tanya lagi dok, ada kasus orang yang kena efusi pleura ciri-cirinya sesak nafas, setelah diperiksa ada cairan diparu-parunya,cairan pun disedot, setelah seminggu kemudian di periksa lagi dokter memvonis kanker paru stadium 4, tidak lama kemudian orang itu meninggal, kok serem banget ya, cairan itu darah, air or dahak dok? kalau flek paru itu bukannya diparu-parunya itu juga ada semacam cairan, apakah itu sama kasusnya dok?oya 1 lagi dok apakah kipas angin atau angin kalau sedang naik motor berbahaya untuk paru-paru dok, karena kalau habis naik motor or kipas angin saya suka sesak nafas,trus kalau kecapean juga saya suka sesak apakah itu ciri2 orang yang kena flek paru dok?tolong infonya ya dok, thanq so much……………..

  64. 64 cakmoki Oktober 9, 2007 pukul 10:30 pm

    @ mita,
    ya, cairan or efusi pleura hanyalah dampak or tanda, sedangkan penyebabnya macam-2. Tidak selalu kanker paru.
    Cairan tergantung penyebabnya. Kalo kanker biasanya berisi darah.

    Ini beda dengan Flek paru. Adakalanya pada flek paru terjadi juga efusi pleura jika ada penyebaran infeksi ke pleura. Jika tidak ada penyebaran, maka tidak akan terjadi efusi pleura.

    Tentang kipas angin dan angin saat berkendara sepeda motor, bisa saja menyebabkan seseorang sesak, terutama pada penderita asma atau bronkitis alergi… ini sih gak bahaya, cuman menjadi pencetus. Karenanya menurut saya kalo berkendara sepeda motor sebaiknya pakai pelapis di dada.

    Thanks too :)

  65. 65 wita November 8, 2007 pukul 8:37 pm

    sbnrnya, cuma oknum aj. dokter ga semua spt itu, dan jika memang yg terjadi spt itu, knapa gak mikir yg positif aja. masyarakat harus percaya kepada dokter yg diminta pertolongan. jgn lupa ya, terlalu nyari2 kesalahan itu..

  66. 66 cakmoki November 9, 2007 pukul 3:45 pm

    @ wita,
    bener, saya sependapat… hanya oknum, emang gak semua… apa saya nulis semua? enggak lah … Namun jangan sampai menjadi trend mengingat model beginian sudah hampir merata, walau gak semua … atau nunggu semua ?
    Dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) juga sudah memperingatkan para anggotanya secara online melalui salah satu tulisan dokter spesialis anak di situs IDAI.

    Perlu diketahui, koreksi or share antar sesama dokter sudah sangat biasa, terbuka dan dinamis. Dan ini sudah dibiasakan sejak masih pendidikan…. bisa dibilang “self assessment”, … kecuali yang takut dan lebih suka diam (ngikuti arus ?) :roll:
    Sayangnya, belum ada teman dokter yang membantah tulisan ini dan mendiskusikannya secara terbuka.

    Menurut saya, untuk mencari kebenaran tentu harus tahu kesalahan, kemudian menginventarisir, lalu mencari jalan keluarnya … apalagi menyangkut penyakit berpotensi endemis semacam ini.

    Maaf kalo berbeda visi ya … hehehe

  67. 67 wita November 20, 2007 pukul 8:24 pm

    maaf lo cakmoki, saya baru buka blog anda. saya disini ga mau berdebat dan ga mau jg dibilang ga sopan. jd saya skrg mau bertanya saja: menurut cakmoki, efek dari missdiagnosa tentang TB dengan overdiagnosa TB didaerah indonesia tercinta yg msh endemis ini, manakah yg paling memberikan efek buruk paling banyak?iya, saya juga tau efek samping obat TB. tp kriteria diagnosa TB memang ‘begitu mudah’ ditegakkan hanya dengan tanda2 klinis & pemeriksaan penunjang, dan semuanya ini memang membutuhkan ‘kebijaksanaa’ dari pihak tenaga medis. Saya juga senang ada orang spt cakmoki yg peduliiiiiii sekali tentang hal ini.tp.. gmn ya..(mengutip:’Tak peduli imunisasi lengkap, tak peduli si anak tak nampak sakit, tak peduli si anak lincah pencilakan, pokoknya ™ FLEK Paru dan minum obat jangka lama”.)hem,…

  68. 68 cakmoki November 21, 2007 pukul 12:56 am

    @ wita,
    boleh koq berdebat ataupun beda pendapat, gak perlu sungkan :)

    efek dari missdiagnosa tentang TB dengan overdiagnosa TB didaerah indonesia tercinta yg msh endemis ini, manakah yg paling memberikan efek buruk paling banyak?

    Menurut saya, secara umum overdiagnosa TB ya karena missdiagnosa, karena bukan TB didiagnosa TB … ini umum lho.

    Nah, jika yang dimaksud missdiagnosa adalah penderita TB tapi tidak didiagnosa TB, saya rasa tidak ada satupun yang berani membuat komperasi tanpa data akurat, kecuali jika hanya beropini. Inipun akan pro-kontra. Tentu keduanya memiliki dampak buruk.
    Yang pertama (missdiagnosa) beresiko penyebaran, sedangkan yang kedua (overdiagnosa) beresiko resistensi, selain biaya dan waktu pengobatan yang panjang.
    Keduanya tidak serta merta dapat dibandingkan karena variabelnya beda, kecuali dilakukan pendekatan statistik sebagai parameter.

    Dari beberapa pasien yang didakwa TB Paru dan saya rujuk ke Spesialis Paru di kota kami, tidak satupun yang TB Paru, so.. ;)

    Di luar itu, perlu diingat bahwa ada satu variabel penting yang sering dilupakan, yakni pasien (dan keluarganya). Mereka bukan obyek lho, melainkan makhluk hidup yang punya harkat.
    Apakah mereka layak begitu mudahnya didakwa TB Paru lantas “dipenjara” dengan masa pengobatan yang mestinya tidak mereka alami?

    beberapa kali ditemukan anak penderita asma diberikan obat TB 6 bulan, dilanjutkan lagi 9 bulan bahkan 2 tahun dan wa akhirul kalamun, setelah selesai dan dinyatakan sembuh, tak lama kemudian kambuhlah batuk dan sesaknya setelah ada faktor pencetus. Nah !!!

    Bagi sejawat yang tidak pernah bergaul dan bertamu ke masyarakat kebanyakan di kampung-kampung, mana tahu fenomena dan keluhan pasien terdakwa TB Paru yang seperti ini ?

    Oya, saya sudah sering mempertanyakan dan memunculkan masalah ini di forum terbuka yang melibatkan banyak pihak, bukan hanya internal kesehatan. Mengapa ? Supaya kejujuran, karena salah satu hakikat aplikasi ilmu kedokteran adalah “kejujuran” dalam arti jangan ada penipuan.

    Memang upaya seperti ini tidak mudah dan selalu banyak tantangan wa bil khusus dari kalangan internal medis.
    Namun itu hanya riak kecil, yang pada saatnya nanti jika masyarakat kita sudah pada pintar, riak-riak tersebut akan hilang dengan sendirinya.

    Maaf ini pendapat saya, yang merasa tidak hanya hidup di dunia hanya untuk mencari uang, namun ada saatnya kita dimintai pertanggung jawaban.
    Thanks :)

  69. 69 wita November 22, 2007 pukul 9:45 pm

    mengutip lagu dari seurius band: “dokter juga manusia,..”

  70. 70 cakmoki November 23, 2007 pukul 1:51 am

    @ wita,
    hahaha … ya kali :)

  71. 71 abyb Desember 13, 2007 pukul 2:24 pm

    Trim Cak atas infonya…saya lagi cari second opinion nih.
    anak saya (2,4 th, BB 12kg) sering pilek (tidak batuk), terus oleh dokter dimt test darah, tes manthoux & rontgen. hasil tes darah ada 3 yg ktnta tdk normal, KED/LED nya 35-70, segmen 40,limfosit 58. sedangkan tes manthouxnya negatif, hasil rontgent menunjukan bercak-bercak perselubungan peri bronchial (+) & peri hiller kanan (minimal, kelenjar lymphe hillus kanan menmadat, bronchial marking peri hiller kasar sehingga dicurigai PKTB, DD/Allergica bronchitis. melihat hasil ini dokter memvonis flek dan harus minum obat slm 6 bln, tapi tidak langsung saya turuti…karena anak saya nafsu makannya baik dan lincah. saya cari info ke dokter lain, kemungkinan tdk flek/TBC, tapi alergi. Gimana cak? apa hrs tes alergi? mhn sarannya. trim

  72. 72 hendy setyo mulyo Desember 14, 2007 pukul 7:25 pm

    Hallo,

    Mau tanya nih, saya kebetulan skrg dalam masa pengobatan flek paru (sudah 3 bulan). Saya dikasih obat TBC juga oleh dokter yg merawat saya. Dan memang manjur, sekarang saya tidak pernah batuk lagi, berat badan naik terus (dulu sebelum berobat 50kg, skrg sudah 58kg). Nah yang ingin saya tanyakan itu ttg bekas flek di paru2nya. Saya ingin tahu berapa lama bekas flek hitam di paru2 itu hilang? Mohon ada yg bisa menjawab. Makasih.

    Hendy

  73. 73 cakmoki Desember 15, 2007 pukul 12:02 pm

    @ abyb,
    gini, sebenarnya kunci menegakkan diagnosa paling utama adalah pemeriksaan fisik, barulah pemeriksaan penunjang lab, rontgen dll sebagai alat bantu jika dirasa meragukan.
    Kalo keluhan utamanya pilek, bersin atau kadang buntu sih, menurut saya bisa jadi Rhinitis allergica, pilek karena alergi yang sering dipicu oleh: debu, dingin, asap, dll.
    Kalo Rontgen sih gak spesifik untuk anak, apalagi Manthoux test negatif.
    Menurut saya gak perlu test alergi, untuk apa ? Ntar hasilnya bisa puluhan jenis, kan malah repot tuh kalo hasilnya alergi roti, nasi, tepung, gandum dll, bisa puluhan … hehehehe
    Coba ke dokter lain deh, atau beri obat misalnya: actifed syrup, minumnya kalo pas pilek aja.
    Moga berguna :)

    @ hendy setyo mulyo,
    Pertama:
    Obat harus sampai 6 bulan, full ..gak boleh berhenti walau merasa enakan.

    Kedua:
    Setelah 6 bulan dan dinyatakan sembuh, gak ada lagi bekasnya, kecuali kalo ketularan lagi oleh orang lain.

    Moga segera sembuh seperti sediakala :)

  74. 74 wanti Desember 29, 2007 pukul 10:24 am

    5 tahun lalu saya menjalani medical check up sbg syarat family visa disebuah kedutaan. waktu itu hasil/reportnya FAIL karena kata dokter di klinik rujukan kedutaan, dari hasil rontgen, paru2 saya dinyatakan ada flek nya. saya kaget banget karena waktu itu (s/d sekarang alhamdulillah), saya tidak merasa ada keluhan batuk2 atau gejala tbc lainnya.saya jelaskan ke dokter bahwa keperluan visa saya adalah untuk ikut tinggal dengan suami bukan untuk kerja dan menyatakan bahwa saya akan segera berobat sesampai dinegara tujuan, pada akhirnya dokter itu berbaik hati (mungkin gak tega juga karena dulu saya msh pengantin baru)dgn mengganti report saya menjadi FIT dan memberikan resep obat yg harus saya minum utk menghilangkan flek tsb. Tetapi sampai sekarang saya tidak pernah memeriksakan diri ke dokter disini ataupun sekedar mengkonsumsi obat yg diresepkan dokter tsb.alasan saya tidak pergi ke dokter, karena menurut info yg saya dengar dinegara tempat tinggal saya ini sangat ketat ttg kesehatan pendatang, penderita tbc atau paru2 termasuk yang “haram” untuk bisa tinggal disini, kalau terbukti berpenyakit ini maka akan dipulangkan.(gawat kan..jauh dari suami..)

    pertanyaan saya,
    1. flek paru yg tdk ada gejalanya apa ada kemungkinan tbc?dari info yg saya dengar, flek pada paru juga bisa berasal dari polusi asap kendaraan atau udara malam yg dingin, keduanya mungkin terjadi pada saya karena dulu saya pernah kerja dan kuliah malam hari.
    2. obat apa yg harus saya minum?(krn resep obat dari dokter yg dulu..entah terselip dimana..)
    3. apa sekarang saya harus periksa/rontgen lagi ke dokter waktu pulang ke indonesia?

    semoga pak dokter ngga bosen jawab pertanyaan2 dari saya…terima kasih ya pak dokter baik hati!

  75. 75 cakmoki Desember 29, 2007 pukul 4:00 pm

    @ wanti,
    1. Diagnosa ditegakkan atas dasar klinis (wawancara or keluhan or anamnesa dan pemeriksaan fisik). Jika curiga terhadap penyakit tertentu atau meragukan, barulah dilakukan pemeriksaan penunjang, misalnya: rontgen, darah, urine, kimia darah, biakan kuman, dll, dll.
    Repotnya, sebagian dokter kita masih ada yang hanya mengandalkan hasil pemeriksaan penunjang semata, terlebih jika menyangkut medical ceck-up.
    So, pemeriksaan fisik or tanda klinis tetap merupakan prioritas utama, kalaupun dilakukan pemeriksaan penunjang, tetap pada alur sinkronisasi.

    Jika yang dimaksud Flek Paru adalah TBC, maka penyebabnya adalah tertular oleh kuman Mycobacterium tuberculosa, bukan disebabkan dingin, polusi dan sebagainya. Faktor-2 tersebut hanya sebagai pemicu doang bukan penyebab.

    2. Kalau bukan TBC dan gak ada keluhan, gak perlu obat apapun. Dan jika TBC (ini dibuktikan dengan adanya keluhan dan pemeriksaan sputum), maka harus minum obat 6 bulan.

    3. Menurut saya gak perlu kalau gak ada keluhan. Lagipula, kita kan belum tahu diskripsi hasil rontgen-nya. Kalo bisa disalin ntar kita bahas, jangan-jangan hanya dugaan karena ahli radiologi kan memeriksa rontgen tanpa memeriksa pasiennya.

    Moga berguna … :)

  76. 76 Noora Maret 10, 2008 pukul 10:14 am

    Cak,
    Anak saya (11.5 bln,7.25kg/70cm bb lahir 3.2kg) belum didiagosa flek paru atau TB or penyakit yg lain. Kemarin konsul ke dsa ttg betapa BB nya sulit naik, kadang kepalanya anget2 ga jelas, makan sussahhhh bgt.
    Test lab darah (LED 15), urin (menyingkirkan kemungkinan ISK, hasil negatif smua) dan foto thorax (kesan : ada flek, trus infiltrat2 gitu deh n suspect PKTB).Behavior anak ttep aktif, daya tahan tubuh alhamdulillah jarang sakit meski sering travelling). Tidak ada batuk, pilek, bab sehari 1-2 kali tidak diare.

    Kira2 gimana ya Cak baiknya? kalo memang TB saya gpp pengobatan 6 bulan itu. tapi apa yang bisa menegakkan kalo itu memang bener TB?
    tks sarannya

  77. 77 cakmoki Maret 11, 2008 pukul 1:05 pm

    @ nora:
    berarti masalah utamanya BB sulit naik karena ga mau makan.
    Pemeriksaan rontgen pada bayi tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran walaupun menunjukkan ada infiltrat. Suspect artinya dugaan or tidak menutup kemungkinan adanya TB Paru, namun pemeriksaan fisiklah yang paling penting.
    Kalo dsa tidak mengatakan TB (setelah beliau memeriksa anak dan lab penunjang) berarti menurut beliau bukan TB Paru.
    Pemeriksaan penunjang lain kayaknya normal aja tuh.

    Tentang Berat Badan dan ga suka makan sering dikeluhan para orang tua. Menurut saya, anak ga bisa dipaksa makan. Bisa saja si anak sukanya hanya jajanan atau bahkan ga suka makanan apapun, sukanya malah mainan.
    So BB tidak naik belum tentu karena penyakit lho.

    Jika masih ragu dan ibu merasa bahwa anak ada gangguan, boleh second opinion ke dsa lainnya.

    Atau bisa juga konsul ke dokter spesialis paru, jika curiga TB paru.

    Di tempat kami, ada puluhan anak didakwa TB paru (flek paru) trus minum obat 6 bln hingga ada yang 2 tahun, setelah selesai tetep saja.

  78. 78 yanti Maret 18, 2008 pukul 1:05 pm

    Cak Moki,

    Mau curhat sedikit nih. Naila (4 thn) sudah 3 minggu lebih batuk2. Tanpa panas, tanpa pilek. Nafsu makan baik, anaknya juga tetap lincah. Kemarin2 ini batuk biasanya malam menjelang tidur dan saat bangun pagi. Tapi nggak pernah terbangun malam untuk batuk2, alias tidurnya nyenyak. Seminggu belakangan batuknya kira2 jam 8-12 siang (bukan malam lagi).

    Setelah 2 minggu diberi Cefat dan obat batuk oleh DSA langganan, saya ‘naik banding’ ke DS Paru2 Anak. Oleh beliau dicurigai asma karena saya punya riwayat asma. Tapi karena dengan Ventolin nggak membaik juga, akhirnya beliau minta Naila ditest PPD (mantoux), rontgen paru2 & lateral, dan test darah (darah rutin, morfologi darah tepi, IgE, dan SGOT/SGPT tanpa LED).

    Harilnya:
    - PPD negatif (0 mm)
    - Rontgen, oleh DS Radiologi ditulis terdapat bercak dan noda keras, suspect TBC
    - Nilai2 darah rutin normal, lekosit 6500, morfologi tidak terdapat sel lekosit muda, IgE cukup rendah dalam batas normal (saya lupa persisnya).

    Dengan hasil ini, DS Paru2 Anak nggak berani menegakkan diagnosa TBC. Kemungkinan alergi juga kecil karena IgEnya rendah. Beliau menyarankan untuk menunggu dua minggu, bisa jadi ini adalah infeksi virus dengan penyembuhan yg lama. Dan Naila hanya diberi puyer kombinasi Ventolin dan Mucopect.

    Tapi beliau minta, kalau 2 minggu ke depan masih tetap batuk2, kemungkinan besar terapi TB akan dimulai.

    Kalau sempat, saya minta tanggapan Cak Moki ya :) . Makasih banget sebelumnya…

  79. 79 cakmoki Maret 19, 2008 pukul 2:54 am

    @ yanti:
    iya, nampaknya tidak mengarah ke TB Paru.
    Bisa jadi emang virus. Bisa pula asma or alergi walaupun lab gak mendukung.
    Adakalanya anak mengalami batuk hingga berminggu-minggu dan pada pemeriksaan penunjang ga ditemukan kelainan apapun.
    Kita tunggu 2 minggu ke depan, moga sebelum itu Naila udah sembuh.

    Thanks share-nya :)

  80. 80 yanti Maret 24, 2008 pukul 8:44 am

    makasih juga ya Cak :) . yang saya rada penasaran, kira2 vlek & noda2 di paru2nya itu karena apa, kalau bukan TBC?

    @ yanti:
    Jika hasil follow up nanti ternyata bukan TB Paru, bercak atau noda-noda di paru bisa saja: dahak, peradangan lokal oleh mikrorganisme selain TB, gambaran peningkatan pembuluh darah, kelenjar getah bening, dll.
    Trims

  81. 81 hendy setyo mulyo Maret 29, 2008 pukul 3:01 am

    Halo Cak Moki,

    Skrg ini terapi TB saya sudah 6 bulan.
    Berat badan saya sudah naek 15kg dibanding saat awal pngobatan. Bulan lalu saya dirontgen dan tampak ada perbaikan meskipun bayangan vleknya belum hilang benar. Akhirnya oleh dokter saya disuruh melanjutkan pengobatan dan 2 bulan lagi saya akan dirontgen lagi untuk mengetahui perkembangannya lagi. Akan tetapi akhir2 ini saya merasakan adanya sesak nafas sedikit meskipun tidak pernah batuk. Jika saya berolahraga sesak nafas saya ini hilang, tapi jika tidak, maka muncul kembali. Apakah sesak nafas saya ini bisa dibilang normal, karena saya belum 100% sembuh total?
    Terima kasih sbelumnya.

  82. 82 cakmoki Maret 29, 2008 pukul 10:09 am

    @ hendy setyo mulyo:
    halo :)
    adakalanya keluhan sesak timbul walaupun sudah dinyatakan sembuh, ini karena “bekas” TB yg menimbulkan “gejala sisa” di saluran pernafasan.
    Kita tunggu hingga 2 bulan ke depan. Tapi kalaupun setelah sembuh total keluhan tersebut masih ada, gak papa.
    Moga segera pulih kembali
    Trims

  83. 83 wawan April 1, 2008 pukul 11:39 pm

    Malem cak ….
    mau cari 2nd opinion berbasis web :D ,
    Tadi sore mrikasiin si kecil umur 8.5 tahun. Udah batuk berdahak (tapi batuknya ngak sering2, ngak ngikil kata orang jawa). Kalo malem berkeringat (sejak kecil kalo tidur begitu, berkeringat). Setelah diperiksa ada benjolan di sekitar leher, paru-paru bersih (via rotngen). BB badang datar…. ngak naik juga ngak turun, anaknya lincah, main bola, renang dan makannya baik.

    kemudian diperiksa darah,hasilnya

    Hemoglobin 12,4
    Leukosit 7.400
    NETROFIL batang 2
    NETROFIL SEGMEN 47
    Limfosit 44
    LED 1 jam 10

    Kemudian dikatakan kemungkinan TB (Flek) dan diberikan obat,
    pronicylage
    salbutamol
    trilac
    mucopet
    aminophylin
    inoxin
    rifampicin

    Menurut cak bagaimana apakah sy perlu melakukan test BTA dulu sebelum memberikan obat

    terima kasih sebelumnya

    wawan-jogja

  84. 84 bunda lia April 5, 2008 pukul 2:06 pm

    salam kenal….
    setahun yang lalu anak saya Hatta (6 tahun) di diagnosa terkena flek paru ( dari hasil rontgen-ada bercak, test darah dan BB yang susah naik). Setelah 1 thn pengobatan, saya rasa kok tidak ada perubahan, masih sering batuk (terutama malam hari), BB tetap susah naik (saya sampai sering sedih melihat Hatta yg kurus sekali), saya hentikan pengobatan tanpa konfirmasi ke Dokternya, dengan pertimbangan saya kasihan dgn Hatta yg harus mengkonsumsi obat-obatan terus (dengan hasil yg tidak memuaskan )dan saya sangat mengkhawatirkan keadaan ginjalnya.
    Apakah Hatta terkena asma bukan flek paru? Apa ciri anak yg menderita asma? Apakah ada hubungannya antara asma dan BB yang susah naik?
    Menurut Cakmoki, apa yg harus saya lakukan? Terus terang saya sangat bingung dgn kondisi Hatta, saat ini saya hanya berusaha menjaga pola makannya(makannya lumayan,tp klo lagi sakit langsung drop) sehari 3 kali,memberi Vitamin (seven seas) dan susu.Tp saya masih ragu apakah flek parunya(kalau memang benar) sudah hilang(dgn melihat kondisi Hatta yg sedikit sekali perubahannya)?

  85. 85 cakmoki April 5, 2008 pukul 5:03 pm

    @ wawan:
    maaf ketinggalan :)
    Hasil lab dan rontgen tidak menunjukkan TB Paru.
    Sedangkan obat di atas adalah gabungan antara obat TB dan obat asama atau batuk berdahak.
    Pembesaran kelenjar leher (limfadenitis) tidak serta merta menggambarkan TB. Bisa karena sebab lain semisal: penjalaran infeksi saluran nafas atau reaksi infeksi.

    Dokter tersebut tidak salah karena beliau hanya mengatakan kemungkinan dan belum menetapkan skedul pengobatan.

    Saya sependapat, periksa BTA lebih dahulu untuk memastikan, namun harap diingat bahwa pemeriksaan BTA sangatsulit, apalagi pada anak.
    Semoga segera teratasi dn pulih seperti sediakala :)

    Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan jawaban ini.

    @ bunda lia:
    salam kenal juga :)

    Hail rontgen pada anak sangat sulit untuk menentukan diagnosa TB paru, …lagipula, bercak tersebut bisa disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya: gambaran infeksi, gambaran peningkatan vaskularisasi (pembuluh darah) yg biasa terjadi pada bronkitis dan asma.

    Menurut saya, dengan tidak adanya perubahan setelah pengobatan TB selama 1 tahun (mestinya 6 bulan udah bersih kalo emang benar TB paru), bisa jadi bukan TB Paru, dan tidak menutup kemungkinan perkiraan ibu benar bahwa anak menderita asma.

    Tanda asama bergantung pada gradasinya, jika berat akan terdengar suara khas (mengi) karena sesak terutama saat udara dingin semisal pada malam hari. Pada asma ringan, tak ubahnya seperti batuk alergi yang lain, yakni: sering batuk terutama malam hari, kadang nafas berat dan biasanya anak belum merasa sesak, namun dokter akan mengetahui tanda-tanda sesak ringan dengan melihat tarikan otot diantara iga dan waktu ekspirasi yang relatif lebih panjang dari normal (dengan pemeriksaan stetoskop).

    Adapun berat badan pada anak umur segitu adakalanya susah naik karena aktifitasnya relatif tinggi.

    Menurut saya tak ada salahnya konfirmasi ke dokter spesialis paru, sekaligus menceritakan bahwa anak sudah mendapatkan pengobatan TB selama 1 tahun (kalo bisa dengan copy resepnya)

    Moga penjelasan ini membantu, teriring do’a mudah-mudahan ananda segera sehat kembali :)
    trims

  86. 86 INDRA April 9, 2008 pukul 10:27 am

    Dengan Hormat,

    Saya adalah orang yang beraktivitas dari pagi hingga malam hari, sehubungan dengan pekerjaan dan studi saya. dalam keseharian saya menggunakan sepeda motor.

    2 minggu yang lalu, saya didiagnosa bronchitis acut. dari hasil rongent radiolog mengatakan “gambaran bronchitis. tak tampak aktif KP”. setelah membaca hasil rontgen dokter saya juga mengatakan bahwa tidak ada TBC. saya diberikan obat-obat sebagai berikut,
    5 hari pertama diberikan:
    1. Dexaflox, sehari 2 x 1 tablet setiap 12 jam ;
    2. Ambroxol, sehari 3 x 1 tablet.

    pada saat kontrol dokter menilai dahaknya masih “bandel”, saya diberikan obat sebagai berikut :
    1. Dexaflox, sehari 2 x 1 tablet setiap 12 jam ;
    2. 2 jenis obat lainnya yang katanya pengganti ambroxol (saya lupa namanya)yang katanya keduanya untuk batuk, hanya fungsinya yang satu untuk mengencerkan dahak, dan yang satu lagi untuk mengeluarkan dahaknya.

    yang ingin saya tanyakan :
    1. pada saat sakit saya berkeringat cukup banyak, apakah benar ini adalah salah satu gejala bronchitis ? saya takut ini adalah TB.

    2. Pada saat sakit kemarin, saya pernah mengeluarkan dahak berdarah tetapi hanya terjadi pada pagi hari saja (siang dan malam dahaknya biasa), darahnyapun tidak terlalu banyak (dahaknya lebih dominan) saya menduga ini akibat dari saya terlalu kencang berdahaknya. apakah ini juga bisa terjadi pada penderita bronchitis ? saya takut, karena setahu saya ini adalah salah satu gejala TB.

    3. Kemarin (8 April 2008) obatnya sudah habis, tapi saya masih mengeluarkan dahak berdarah, walaupun sekarang dahaknya hanya bercak saja dan frekuensinya sudah sangat sedikit. sayapun masih suka batuk terutama jika kedinginan, oleh karena itu jika tidur saya menggunakan jaket. apakah ini biasa dalam proses penyembuhan ?

    4. Kondisi badan saya sudah normal (tidak demam), keringat normal, aktivitas juga sudah lancar. dokter saya bilang kalau sudah tidak apa-apa tidak usah kontrol lagi. tapi saya masih mengeluhkan dahak dan sedikit batuk. bagaimana saran bapak ?

    5. Berat saya saat ini 97 Kg, nafsu makan juga normal (terus terang makan saya cukup banyak). dokter saya mengatakan dengan berat segitu, kemungkina TB sangat kecil. apakah benar demikian ?

    6. apakah benar orang yang menggunakan sepeda motor lebih rentan terkena bronchitis ?

    7. saya pernah membaca dalam dalam “cover” obat KONIDIN. disitu dikatakan bahwa KONIDIN dapat mengurangi batuk sisa-sisa bronchitis. apakah mungkin batuk yang masih “bandel” ini adalah yang dimaksud batuk sisa-sisa bronchitis ? lalu apakah minum KONIDIN juga adalah solusinya ?

    Terima kasih, mohon jawabannya.

  87. 87 cakmoki April 10, 2008 pukul 4:11 am

    @ INDRA:
    dengan hormat, * ehm, formal banget…santai aja ah :) *

    1. Enggak. Rata-rata jika demam akan keluar keringat banyak, apalagi dengan berat badan segitu. Pun demikian pula pada batuk yang berat. So, keringat banyak bukan berarti menunjukkan kedua penyakit di atas.

    2. Keluar darah saat batuk bisa terjadi pada semua batuk yg kencang karena iritasi saluran pernafasan. Memang benar, salah satu tanda TBC diantaranya keluar darah saat batuk, tapi bukan berarti kalo batuk ada darah lantas disebut TBC. Lagipula hasil pemeriksaan fisik maupun Rontgen bukan TBC.

    3. Ya, ntar batuk tersebut akan berangsur hilang, kadang hingga lebih seminggu atau bahkan 2-3 minggu seperti halnya batuk karena alergi. Gak papa, yg penting udah diobati dan bukan TBC.

    4. Saran saya, teruskan obat pengencer dahak (ekspektoran), misalnya: ambroxol atau bromhexin atau carbocistein atau glyceril guaicolate. Dan minum air hangat dalam jumlah banyak sebagai ekspektoran (untuk mempermudah pengeluaran dahak)

    5. Tidak. Semua orang (dengan berat tubuh berapapun) bisa kena TBC jika ada sumber penularan disekitarnya dan kondisi tubuh pas tidak sehat.

    6. Benar. Karenanya dianjurkan menggunakan pelindung dada dengan kertas koran atau plastik atau jaket kulit yang setidaknya dapat mengurangi terpaan angin or embun secara langsung. Dan kalo perlu menggunakan pelindung wajah untuk menghindari debu.

    7. Menurut saya jangan menggunakan konidin mengingat obat tersebut mengandung (salah satunya): dekstrometorfan yang bekerja menekan batuk dan di sisi lain menimbulkan penyempitan saluran nafas (bronkus), sehingga dahak gak bisa keluar, bisa-bisa malah sesak. Emang kebanyakan obat batuk (yang dilempar di pasaran) di Indonesia hampir selalu diembel-embeli klaim bisa untuk segala jenis batuk, namanya juga jualan…bahkan iklan beberapa obat batuk, sekali minum langsung sembuh….hehehe.

    Moga penjelasan singkat ini bermanfaat, teriring do’a mudah-mudahan segera sembuh … thanks.

  88. 88 INDRA April 10, 2008 pukul 3:00 pm

    Terima kasih jawabannya pak dokter.

    ada beberapa lagi yang lupa saya tanyakan.

    1. Dokter saya menyarankan agar saya berolahraga renang. bagaimana mekanismenya sehingga renang dapat membantu menyembuhkan/mencegah bronchitis ? bukankah orang bronchitis harus menghindari dingin ?

    2. apakah ambroxol, bromhexin, carbocistein dan glyceril guaicolate bisa dibeli tanpa resep dokter ? mana yang lebih baik diantara obat-obat tersebut ? lalu berapa kali sehari dan selama berapa hari ?

    Terima kasih sebelumnya.

  89. 89 cakmoki April 10, 2008 pukul 4:32 pm

    @ INDRA:
    1. Benar. Renang adalah salah satu olahraga (berat) yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh karena semua anggota badan aktif bergerak. Ini akan memperlancar peredaran darah dan metabolisme dalam tubuh kita, sehingga daya tahan (terutama) paru-paru dan jantung akan meningkat dan otomatis menjadi lebih sehat. Hanya saja olahraga ini sulit untuk dilakukan secara rutin, namun jika bisa rutin tentu sangat menguntungkan.

    2. Bisa. Sama aja koq, semuanya berfungsi mencairkan dahak dan memudahkan pengeluaran dahak, cuman cara kerjanya yang berbeda. Setiap orang gak sama,ada yg merasa enak dengan ambroxol, ada yg enak dengan bromhexin, dst…bahasa awamnya: cocok-cocokan.
    Cara minum sama: 3×1 sehari, bisa diminum dalam jangka lama

    Thanks :)

  90. 90 91 April 14, 2008 pukul 3:18 pm

    cak, mau tanya. kalau udah dinyatakan sembuh dari TB, apakah bisa muncul lagi?
    teman dekat saya ada yang dinyatakan paru-paru basah kalau gak salah ada tambahan ‘kondisi seperti tbc’. dia dalam pengobatan dan katanya, obatnya mirip dengan obat untuk TB. kebetulan, 1 atau 2 tahun yang lalu, dia juga pernah didiagnosa tb. hari ini masuk bulan ke-5 pengobatan dari 6 bulan pengobatannya.
    waktu dia masih sma dulu, dia cukup aktif merokok. tapi, menjelang masuk kuliah, dia sudah tidak merokok aktif lagi. hanya sesekali dan bisa dihitung dengan sebelah tangan dalam 4 tahun terakhir ini. tetapi, lingkungan di sekitarnya merupakan perokok aktif. ayah, kakak, kakak ipar dan beberapa temannya suka merokok. apakah ini adalah salah satu pencetus? karena setau saya, TB juga diakibatkan perokok pasif. kebetulan juga, ayahnya dulu pernah TB. apakah dia tertular oleh ayahnya? tapi, itu pun masa waktu dia smp atau sma. jadi udah lama.
    waktu dia pertama kali tb, dia sbenarnya harus dirawat dan disedot cairan paru. tapi tidak dilakukan dan dibolehkan untuk rawat jalan. kalau gak salah setelah 6 bulan pengobatan gratis dari rmh sakit, dia dinyatakan sembuh.
    lalu, waktu bulan november 2007 kemarin, dia merasakan gejala yang mirip dengan yang sebelumnya. setelah itu, dia kembali ke tempat dia berobat pertama kali, dan didiagnosa sama dengan penyakit yang dideritanya 1-2 tahun yang lalu.
    karena gak percaya, dia cek ke dokter paru. kebetulan, di kota kami ada rmh sakit khusus paru. di sana di rontgent, bta, cek darah, dll. saya lupa hasilnya apa aja. yang pasti, diagnosis dokternya adalah seperti yang saya tuliskan di atas (kurang lebih yang saya pahami adalah begitu).
    di awal pengobatannya yang sekarang, dia disedot cairan paru. setelah disedot, dia merasa enakan. napas gak terlalu sesak lagi. sekarang juga dah naik berat badannya. dulu itu, 56-an. tadi baru dicek, 64. batuk udah nggak. cuma katanya, dia merasa pada dada-nya masih terasa…apa ya? bisa dikatakan masih belum enak banget (kalo gak salah, ini waktu bulan lalu). waktu ditanyakan pada dokter yang merawatnya, katanya ‘karena masih pengobatan. gak apa-apa.’ tapi, dia masih khawatir.
    akhir-akhir ini teman saya jadi cukup khawatir dengan tes kesehatan saat masuk kerja. apakah akan berpengaruh, cak? maksudnya, saat tes masuk kerja tentunya ada medical check-up yang tempatnya telah ditentukan oleh perusahaan tempat melamar. apakah dengan rontgent yang mungkin masih tergambar adanya flek pada paru atau bercak pada paru akan menghambatnya dalam melamar pekerjaan? eh, apa ini salah konsul ya? kalo gitu, minta pendapat ya…
    maaf kalo banyak banget curhat-nya..
    thx b4.

  91. 91 cakmoki April 14, 2008 pukul 5:48 pm

    @ 91:
    Kalo udah dinyatakan sembuh beneran (setelah minum obat 6 bulan) dan dibuktikan dengan hasil cek BTA, maka gak akan muncul lagi, kecuali tertular lagi dari sumber penularan di sekitarnya, ini dinamakan reinfeksi, bukan kambuhan….berbeda lho :)
    Sedangkan adanya cairan (pleural effusion/efusi pleura) bisa jadi karena TB-nya yang menyebabkan penjalaran infeksi ke pleura dan timbul cairan sehingga emang harus disedot sampai habis agar dada tidak merasa berat dan sesak.
    So, selain mengobati penyakit primernya (TB), dokter yg merawat juga mengobati “efusi pleura” dengan menyedot secara berkala sesuai hasil rontgen serta obat-obatan yg dianggap perlu oleh dokter.

    Tentang melamar pekerjaan:
    Jika sudah sembuh, gak ngaruh… sebaiknya pakai rekomendasi dokter Paru yang merawat, karena kalo rontgen ulang trus dokter perusahaan gak ngerti kronologisnya, bisa-bisa main vonis hanya berdasarkan rontgen baru yang gak selalu sama dengan rontgen follow up dari dokter paru.
    Karenanya, sekali lagi mintakan rekomendasi hasil pengobatan setelah sembuh untuk kepentingan apapun, termasuk melamar pekerjaan.

    Moga penjelasan singkat ini berguna…Trims :)

  92. 92 91 April 16, 2008 pukul 8:26 am

    mmm…begitu ya…
    terima kasih, ya, cak.

    btw, tentang reinfeksi, apakah setelah masa pengobatannya yang sekarang ini -selama dia berada dalam ketahanan tubuhnya yang menurun- saat terkena atau berinteraksi dengan teman atau orang lain yang terkena tb, dia akan terkena tb lagi?
    apakah perlu meminum suplemen makanan, seperti stimuno, supradyne atau semacamnya agar ketahanan tubuh tetap terjaga baik setiap hari?
    apakah perlu adanya pemeriksaan berkala setelah masa pengobatan 6 bulan, walaupun udah dinyatakan sembuh oleh dokter paru, cak?

    thx b4..

  93. 93 cakmoki April 17, 2008 pukul 1:36 am

    @ 91:
    iya, kemungkinan re-infeksi hanya terjadi ada sumber penularan dan dalam kondisi seperti diatas. Itupun masih perlu dibuktikan dengan pemeriksaan fisik dan penunjang ( dahak, rontgen ).

    Suplemen artinya konsumsi vitamin dan mineral. Jika kita sudah makan dan minum cukup gizi, mengandung karbohidrat, lemak, protein, sayur mayur, lauk pauk dan buah dalam jumlah cukup, suplemen tidak diperlukan lagi karena hakekatnya, suplemen yg dijual isinya sama dengan yg kita makan sehari-hari dalam makanan dan minuman.

    Pemriksaan berkala tidak begitu diperlukan jika sudah dinyatakan sembuh oleh dokter sp paru, kecuali jika ada keluhan yang tanda-tandanya mirip dengan saat pertama kali menderita TB. Gak mesti mengarah ke TB lantaran seseorang yg sembuh dari TB kadang mengeluh sesak, batuk, nyeri dada, bahkan batuk darah ..dll..padahal udah sembuh. Keluhan semacam ini dinamakan sequelae atau “gejala sisa’, bukan berarti masih ada sisanya lho…ilustrasinya begini: kalo kita kena sayat pisau, lantas diobati hingga sembuh, tak jarang meninggalkan “sisa” or “bekas” luka, …seperti inilah yg dimaksud dengan sequelae.

    Thanks

  94. 94 91 April 19, 2008 pukul 7:32 am

    Oooh…begitu….
    yup! saya sudah cukup mengerti sekarang.
    terima kasih, cakmoki.

    oya, maksud “tidak ditemukan kuman (atau basil ya?) TB” apa? apa berarti hasil bta (atau hasil lab penunjang lain) negatif?

    thx b4…

  95. 95 cakmoki April 19, 2008 pukul 2:23 pm

    @ 91:

    oya, maksud “tidak ditemukan kuman (atau basil ya?) TB” apa? apa berarti hasil bta (atau hasil lab penunjang lain) negatif?

    betul :) .. jika BTA (-) 3 x pemeriksaan, berarti ok

  96. 96 rezt April 22, 2008 pukul 7:04 pm

    duh..ribet nih..curhat gpp ya..lg cari bahan tentang TBC..pusing..
    gak lagi-lagi dah..

  97. 97 cakmoki April 23, 2008 pukul 1:07 pm

    @ rezt:
    hehehe, bukan di sini kalo cari bahan…ini mah menyangkut aplikasinya ke pasien dan masalah diagnosa terutama bagi anak.
    Moga dapat bahan bagus di http://www.emedicine.com
    :)

  98. 98 INDRA April 25, 2008 pukul 10:47 am

    Indra lagi nih pak dokter. manu nanya :

    Frekuensi batuk saya sudah sangat berkurang. tetapi kenapa yah dahaknya masih saja ada, terutama pagi hari. bahkan pagi hari terkadang dahaknya sangat kental warnanyapun hijau dan kadang2 kemerahan. Apakah mungkin awalnya bronchitis lalu bisa merembet jadi TB ?

  99. 99 cakmoki April 26, 2008 pukul 6:44 pm

    @ INDRA:

    Apakah mungkin awalnya bronchitis lalu bisa merembet jadi TB ?

    Enggak, kalo Bronkitis ya Bronkitis sedangkan TBC disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa. Keduanya adalah penyakit yang berbeda, lagi pula TBC adalah penyakit menular, so kalaupun seseorang yg tadinya misalnya menderita bronkitis lalu menderita TBC berarti TBC-nya karena ketularan dari orang lain entah di mana dan entah kapan terjadinya.

    Ato, bisa pula ekspektoran di atas dikombinasi dengan bronkodilator, yakni obat untuk melebarkan saluran pernafasan agar dahak lebih mudah keluar. Obat ini biasa dipakai untuk asma, tapi bisa juga untuk bronkitis. Apalagi jika penderita bronkitis merasa berat or ampek saat bernafas.
    Contoh: Euphyllin retard mite 125 mg, diminum 2-1/2 atau 2×1. Atau salbutamol 2 mg diminum 3×1/2 tablet (supaya gak berdebar)… hingga batuk berdahak hilang.

    Berarti, dapat menggunakan salah satu dari bronkodilator (euphyllin or salbutamol) dan salah satu dari ekspektoran (bromhexin, ambrokxol, dll).

    Catatan:
    Semua obat bronkodilator memiliki efek samping berdebar or lemes, karenanya dosis yang saya anjurkan di atas adalah dosis rendah untuk menghindari efek samping. Jika dengan dosis normal gak mengalami efek samping, bagusnya pakai dosis normal.

    Dalam praktek sehari-hari adakalanya digunakan kombinasi Bronkodilator, ekspektoran dan kadang ditambah dengan steroid.

    Moga segera sembuh

  100. 100 91 April 27, 2008 pukul 10:17 am

    sip!
    terima kasih atas info dan saran-sarannya, cakmoki…

  101. 101 cakmoki April 27, 2008 pukul 3:55 pm

    @ 91:
    sama-sama…Trims :)

  102. 102 INDRA April 29, 2008 pukul 6:35 pm

    sekali lagi nih dok, bener deh setelah ini saya gak nanya lagi, he3.

    waktu hari sabtu kemaren saya dites dahak, dengan sistem SPS (Sewaktu – Pagi – Sewaktu), karena kata dokter tes dahak lebih akurat dari rontgen. hari sabtunya diambil sampel, dan dikasih obat salbutamol 2×1 dan GG 3×1. sampel berikutnya diambil senin. anehnya pada saat hari senin pagi dahaknya malah gak mau keluar, begitu pula siangnya. yang keluar hanya dahak biasa, bahkan lebih banyak ludahnya. Petugas laboratorium malah berkata : “dilihat dari warnanya saja negatif pak, mungkin bapak cuma alergi, tapi tetap akan kami tes”. hasil tes itu belum saya bawa, mungkin besok baru saya bawa.

    Anehnya lagi tadi pagi dan sore ini (sesaat sebelum saya menulis pesan ini), keluar lagi dahak yang mencurigakan. Mungkin karena faktor psikologis kali ya dok, pas mau dites malah gak keluar. yang membuat saya makin penasaran, saya selalu berkeringat malam (biasanya tidak sebanyak sekarang)

    Untuk memenuhi rasa penasaran saya, adakah cara lain untuk mengetes TB selain rontgen dan tes dahak, misalnya dengan tes darah? dan biasanya biayanya berapa, jawab ya dok….terima kasih.

  103. 103 cakmoki April 30, 2008 pukul 3:42 pm

    @ INDRA:
    yaaaaaa … boleh dong…kita kan diskusi, tentu sangat bermanfaat bagi saya dan mungkin bagi yang lain.

    Emang bener bahwa tes dahak (BTA) adalah tes paling akurat dibanding lainnya untuk memastikan TB Paru, so gak diperlukan Tes Darah … ntar malah buang duit yang gak ada manfaatnya.

    Disamping keakuratannya, Tes Dah juga dikenal sangat sulit, karena gak mudah mengeluarkan dahak, seringnya malah liur, dimana-mana gitu dan itu juga disebutkan dalam referensi, walaupun udah dikasih ekspektoran seperti GG. Jalan lain, dosis GG nya ditambah menjadi 4×2, kalaupun masih sulit saat tes Dahak karena berbagai faktor, setidaknya ada hasil Tes Dahak walaupun tidak full SPS.

    Adapun keluar keringat banyak pada malam hari, tidak serta merta mengarah pada penyakit tertentu, banyak faktor yang mempengaruhinya.

    Ditunggu hasilnya ya :)
    Trims

  104. 104 INDRA Mei 2, 2008 pukul 9:15 am

    Ternyata bener dugaan sang laboran itu dok…
    hasilnya negatif…

    A : Sewaktu, Sputum, Negatif
    B : Pagi, Liur, Negatif
    C : Sewaktu, Liur, Negatif

    yang B dan C gak ada dahaknya tuh dok… cuma liur doang.
    apa dengan data demikian sudah cukup untuk menyimpulkan ?

    terima kasih

  105. 105 cakmoki Mei 2, 2008 pukul 2:18 pm

    @ INDRA:
    Menurut saya, kalo hasilnya seperti di atas dan setelah dicocokkan dengan penjelasan dokter, hasil Rontgen serta obat-obat yg beliau berikan, udah cukup untuk menyimpulkan.

    Terimakasih :)

  106. 106 hendy setyo mulyo Mei 3, 2008 pukul 1:48 pm

    Halo Cak Moki,

    Mau nanya lagi nih, teman saya setelah mengetahui saya kena TB dia langsung menanyakan apakah penyakit saya ini menular ato ngga. Tapi waktu saya diperiksa ke dokter 7 bulan lalu, dokter yg periksa saya bilang kalo TB saya ini ga menular. Yg ingin saya tanyakan, TB sperti apa yg menular dan ga menular? Soalnya kalo TB saya memang menular, berarti orang2 yg dekat dg saya sperti orangtua dan kakak2 saya serta keponakan saya jg bisa ketularan, namun nyatanya mereka baek2 saja hingga kini. Dan kalo penyakit saya ini bukan TB, tp saya sudah minum obat TB hingga kini kondisi badan saya makin membaek dan sudah hampir sembuh. Mohon pencerahannya.
    Makasih banyak :)

  107. 107 cakmoki Mei 3, 2008 pukul 3:05 pm

    @ hendy setyo mulyo:
    Halo,
    Ok, tempo hari udah kita bahas… dan setelah saya scroll ke atas ternyata jawaban saya emang kurang jelas, maaf ya :)

    Pada dasarnya TB Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa. Jika seorang penderita TB diobati (6 bulan) dan dinyatakan sembuh (dibuktikan dengan pemeriksan dahak dan rontgen), maka tidak akan menular lagi karena kumannya udah tidak ada. Kalaupun ada keluhan batuk or sesak, bisa jadi karena “gejala sisa” atau sequelle,…kayak orang yang kena pisau, lantas lukanya sembuh tapi masih ada guratannya, padahal udah gak infeksi,..seperti itulah ilustrasinya.

    Adapun penularan penyakit, dalam hal ini TB paru, dipengaruhi oleh:
    (a) daya tahan tubuh seseorang, artinya jika seseorang daya tahan tubuhnya bagus, maka kuman Mycobacterium tuberculosa tidak akan menyebabkan sakit kendati deket dengan penderita TB. Tapi sebaiknya semua anggota keluarga diperiksa untuk mengetahui tertular tidaknya oleh penderita.

    (b) kuman Mycobacterium tuberculosa. Jika jumlah kuman yang masuk tubuh sedikit dan daya tahan tubuh bagus, maka seseorang tidak akan tertular, demikian pula sebaliknya.

    (c) faktor linkungan. Kondisi lngkungan yang kurang sehat, misalnya kurang ventilasi, lembab, kumuh dan sejenisnya, maka akan memudahkan penularan TB paru.

    Ketiga faktor tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya.

    Pada umumnya, setelah 6 bulan pengobatan dan dinyatakan sembuh, seorang penderita akan sembuh kecuali ketularan oleh orang lain. Bisa saja udah sembuh total tapi masih ada semacam bercak sebagai “gejala sisa” or sequelle. ini bukan berarti masih ada penyakitnya, namun lebih kepada sikap hati-hati seorang dokter, sehingga adakalanya menambah masa pengobatan 1-3 bulan.
    Orang yang sudah sembuh dari TB bukan penderita TB lagi. Pernah sakit TB sih emang iya, tapi udah sembuh dan gak ada kumannya.
    Hanya sja di masyarakat kita, jika seseorang pernah menderita suatu penyakit menular, seolah-olah penyakitnya masih ada, kayak digembol terus dalam tubuhnya, ..hehehehe.
    ini makin diperparah oleh ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar di masyarakat kita.

    Contoh:
    Seseorang berkata: “Saya punya Tifus”. Padahal dia menderita Tifes misaknya udah 3-4 bulan yang lalu. Ungkapan gini kan seolah-olah tifes-nya kerasan dan masih ngendon dalam tubuh kita. Padahal dia seger waras.

    Moga bermanfaat :)

  108. 108 hendy setyo mulyo Mei 7, 2008 pukul 3:22 am

    Halo Cak Moki,

    Terima kasih atas penjelasannya yg benar2 jelas :D . hehe. Mau tanya satu hal lagi, bekas sisa sperti sesak nafas, batuk2 setelah dinyatakan sembuh itu akan berlangsung berapa lama ya? Apakah ada obat untuk menghilangkan bekas sisa itu?
    Makasih banyak.

    Hendy

  109. 109 DEWI ZAKIAH Mei 7, 2008 pukul 2:21 pm

    Mau nimbrung ni cak!
    Anak kedua saya sudah dua minggu ini mengkonsumsi obat TB. Karena hasil diagnosa (tes rontgen, tes mantoux)dikatakan bahwa anak saya positif TB. Tapi sy masih belum yakin bahwa anak saya positif TB, karena anak saya tidak mengalami panas yang turun-naik, trus nafsu makannya juga tidak masalah, cuma memang berat badannya dua bulan terakhir memang agak menurun, tapi menurut saya itu dikarenakan ia kurang istirahat (sekolah pagi-sore). Asal mulanya divonis TB adalah: 1 tahun yang lalu anak saya batuk2 dan di lehernya seperti ada kelenjar. waktu itu saya kira anak saya kena kanker KGB, kebetulan kakak ibu saya mengidap penyakit tsb. Namun setelah dibiopsi hasilnya adalah “kemungkinan gejala Spesifik (gejala TB)” trus setelah 2 minggu minum obat, saya tanya ke dokter lain dan saran dari dokter tersebut adalah “kalau masih bisa diobati dengan minum susu dan makan teratur, lebih baik diobati dengan itu saja daripada harus minum obat sampai 6 bulan, toh hasilnya masih kemungkinan gejala” waktu itu saya fikir saran dokter tersebut bisa diterima dan akhirnya saya tidak melanjutkan pengobatan. Nah pada 2 bulan terakhir ini anak sy kembali batuk-batuk, kemudian saya bawa ke puskesmas, pada dokter puskesmas saya ceritakan kasus 1 tahun yang lalu tersebut dan saya disarankan untuk membawa anak untuk tes mantoux dan foto. Hasinya adalah anak saya positif TB.Gmana menurut pendapat Dokter? sy jadi khawatir, karena menurut informasi yang sy terima bahwa obat TB memberikan efek samping yang buru kepada hati dan ginjal, benarkah itu? Trim’s sebelumnya.

  110. 110 cakmoki Mei 8, 2008 pukul 3:11 pm

    @ hendy setyo mulyo:
    ok, sama-sama.
    Gejala sisa gak mesti bisa dihilangkan, bergantung kepada bentuk dan keluhan yang menyertainya, adakalanya reversibel adakalanya kambuh jika terpapar faktor pemicu, misalnya: dingin, debu, asap dan sebagainya. Demikian pula lamanya keluhan akibat gejala sisa gak bisa ditentukan, namun bisa dikendalikan sesuai dengan keluhannya.
    Trims :)

    @ Dewi Zakiah:
    ok, setelah membaca kronologis sejak “diduga” TB Kelenjar, dan hasil pemeriksaan penunjang saat ini, emang sebuah dilema.
    Jika saat ini dasar diagnosa TB adalah berat badan yang agak menurun ditambah Mantoux Test dan Rontgen, sebaiknya periksa ke dokter lain untuk mendapatkan second opinion (kalau perlu ke dokter spesialis paru) dengan menceritakan ulang kronologisnya, membawa hasil pemeriksaan dan copy resep obat.
    Jika setelah diperiksa ulang oleh dokter lain ternyata emang TB, maka seyogyanya melanjutkan pengobatan TB. Demikian pula sebaliknya, jika dinyatakan bukan TB, sebaiknya pengobatan dihentikan.
    Moga bermanfaat
    Trims

  111. 111 nina Mei 9, 2008 pukul 3:17 pm

    Cak, anaku abis step cak… trus kata dokternya diindikasi kena flek. trus dikasih obat pyravit dengan dosis 1 sendok / hari. Tapi kemudian aku ke dokter yang lain katanya diagnosa TB nya salah atau harus ditegakkan??? Maksudnya apa ya???? Trus diminta tes LED lagi and darah lengkap dan ronsen ulang??? Piye ki cak?? Bahaya nggak untuk anak 1,5 th ronsen 2 kali dengan jarak 3 bulan??? Sedikit yang saya dengar dari konsultasi itu kalau emang TBC obatnya nggak itu tapi harus kombinasi. Maksudnya piye ya Cak?? Berhubung aku nggak begitu ngerti dan nggak paham jadi belum aku cek lab, or ronsen lagi (ronsen and cek lab kan ya mahal trus takut efek/resiko untuk anak ). Gimana cak??? tolong kasih pencerahan cak ………

  112. 112 cakmoki Mei 10, 2008 pukul 12:33 am

    @ nina:
    Step atau kejang demam dapat disebabkan oleh berbagai penyakit. Maksudnya, semua penyakit yang menimbulkan demam tinggi dapat mengakibatkan Step.
    Mungkin saja dokternya menduga TB sebagai penyebab demam yang berakibat Kejang Demam or Step.
    Kalo saat ini udah sehat, menurut saya gak perlu test apapun.
    Rontgen, kalo emang diperlukan, gak papa diulang dalam jangka segitu untuk anak umur 1,5 tahun. Tapi masalahnya bukan itu, tanpa indikasi yang jelas, sebaiknya gak usah Rontgen. Untuk apa ?

    Tentang Obat TBC, obatnya merupakan kombinasi antara:
    INH, Rifampicin, Ethambutol, B6, Pyrazinamid.
    Sedangkan Pyravit isinya cuman INH dan Vit B6 doang, so kalao hanya itu namanya bukan obat TB.

    Adapun yg dimaksud menegakkan diagnosa adalah rangkaian metode untuk memastikan penyakit atau setidaknya memperkirakan penyakit.
    Caranya adalah:
    1. Anamnesa (wawancara), yakni menanyakan keluhan dan tanda-tanda penyakit, misalnya: panas berapa hari, dll…dll

    2. Pemeriksaan Fisik, yakni pemeriksaan dengan: melihat (inspeksi), memegang (palpasi), mendengarkan dengan stetoskop (auskultasi), dll.

    3. Pemeriksaan penunjang: Lab (darah, urine, kimia darah..dll), Rontgen, dll…dll…dll.

    Pemeriksaan penunjang (Lab, Rontgen dll…dll) harus berdasarkan indikasi atau alasan yang tepat untuk menentukan penyakit.
    Lha kalo gak jelas untuk apa ??? Hehehe :)

    Sekali lagi, jika anak udah sembuh dari Step dan gak ada tanda-tanda ke arah penyakit TB, apalagi misalnya anak saat ini dalam keadaan sehat, maka segala anjuran pemeriksaan tersebut gak perlu dilakukan.

    Moga bermanfaat, trims

  113. 113 nina Mei 12, 2008 pukul 1:34 pm

    Ya, terima kasih atas pencerahanne cak. Anakku kondisine saiki sehat, makan bagus, asal dengan ikan, ayam, telor mau. Umur 1,5 th beratnya 12 kg. Trus sebenere piravit itu obat apa cak??? diteruskan apa tidak??? Kata doktere harus 6 bulan, 1 sendok/hari.

  114. 114 via Juni 22, 2008 pukul 3:51 pm

    siang dok. . .

    begini dok, saya divonis menderita flek paru dengan BTA negatif, saya telah menjalani pengobatan selama 9 bulan, tetapi setelah 9 bulan berat badan saya tidak begitu drastis naiknya,dari selama 9 bulan berat saya hanya naik 5 kg.setelah pengecekan terakhir tidak dirongent dan dokter langsung menghentikan pengobatan,tetapi saya minta cek darah. setelah di cek hasilnya laju endap darah saya 25 normalnya >15, kata dokter itu normal,dan tidak perlu minum obat TB lg. tetapi dok saya masih suka batuk kalau malam hari dan saya masih takut untuk menghentikan pengobatan, kira2 menurut dokter saya harus bagaimana, thanq b4

  115. 115 cakmoki Juni 22, 2008 pukul 6:19 pm

    @ nina:
    waduhhhhh…maaf, kelewatan … :)
    Kandungan Pyravit: INH dan Vit B6… ga papa diterusin
    Sekali lagi mohon maaf ya

    @ via:
    met siang (sore ding hehehe)
    Penyakit TB akan sembuh setelah pengobatan 6 bulan … dan diagnosa pasti adalah dengan BTA, kalo negatif diulang hingga 3 kali. Bisa saja dengan pemeriksaan klinis dan Rontgen, namun setelah 6 bulan biasanya udah sembuh.
    LED (laju endap darah) tidak serta merta menggambarkan penyakit tertentu, lagipula nilai normal tersebut adalah mean (rata-2) dari sekumpulan nilai normal, so peningkatan LED tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang menderita penyakit. Kondisi tersebut dapat terjadi juga pada orang yang sehat wal afiat.

    Menurut saya, kalo dokter udah memutuskan untuk menghentikan pengobatan, sebaiknya hentikan saja, toh batuk malam hari banyak penyebabnya, bisa karena batuk alergi, bisa karena bronchitis, bisa karena asma ringan dan lain-lain.

    Moga penjelasan singkat ini membantu… trims :)

  116. 116 Wahyu Hidayat Juli 14, 2008 pukul 4:53 pm

    Salam kenal Dok,

    Nama saya Wahyu Hidayat. Umur 24 tahun.

    Sejak kuliah saya lumayan sering begadang depan komputer, dan semenjak kerja saya lebih sering lagi bergadang dan sering pulang larut malam (lewat jam 12 malam) memakai sepeda.

    Seminggu yang lalu saya batuk2. Dan pada batuk2 tertentu keluar darah (dari mulut dan hidung) yang lumayan banyak (+- 1 gelas) kecil. Kemudian setelah diperiksa ke dokter, saya di rontgen dan ternyata saya divonis flek paru2 (TBC)

    Sekarang saya menjalani pengobatan dari dokter (di cek 1 bulan sekali) dan harus minum obat dokter setiap hari. Katanya selama 6 bulan.

    Yang ingin saya tanyakan:

    1.Selain pengobatan dokter, adakah pengobatan alternatif lain yang bisa mempercepat kesembuhan paru2 saya.

    2.Jika ada ramuan dari tumbuh2an tertentu, mohon penjelasan bahan2, cara membuat, dan aturan minumnya.

    3.Adakah makanan dan minuman yang bagus untuk saya konsumsi dan makanan minuman apa yang baiknya saya hindari.

    4.Betulkah, jika saya lupa 1 hari saja saya lupa minum obat dokter, saya harus mengulang pengobatan dari awal.

    Terima kasih banyak.

    Regards,

    Wahyu Hidayat

  117. 117 cakmoki Juli 15, 2008 pukul 12:57 am

    @ Wahyu Hidayat:
    salam kenal … :)

    1 @ 2 : sepengetahuan saya gak ada obat lain selain obat yang sudah direkomendasikan oleh WHO untuk pengobatan TB Paru, yakni menggunakan regimen Obat TB selama sedikitnya 6 bulan.

    3. Cukup makanan bergizi, yakni cukup karbohidrat, protein, lemak dan vitamin secara teratur. Makanan tersebut udah biasa kita makan seperti nasi, lauk pauk, sayuran dan buah serta susu (kalo bisa).
    Hindari minuman beralkohol karena mempengaruhi absorbsi obat dan metabolisme obat di liver.

    4. Tidak. Kendati demikian, sebaiknya jangan sampai lupa. sehari ada 24 jam kan? nah jika lupa pagi, bisa diminum di waktu lain saat ingat, yang penting dalam keadaan perut kosong. Emang dalam pengobatan TB Paru, dokter akan mendoktrin seperti itu supaya pengobatan tidak sia-sia, mengingat resiko penularan, resiko pengobatan makin lama dan tentu biaya makin besar … hehehe :)

    Thanks … moga pada saatnya nanti (setelah pengobatan 6 bulan), bener-bener sembuh.

  118. 118 Wahyu Hidayat Juli 18, 2008 pukul 5:42 pm

    Terima kasih dok atas jawabannya. Mau tanya lg dok :-)

    1. Ada yang merekomendasikan minum coconut, bagus ga dok?
    2. Selama ini saya minum obatnya setelah makan dok, apakah ada pengaruhnya?
    3. Apa bedanya flek pada paru2 dengan TBC?
    4. Apakah penyakit flek paru2 saya menular? Klo menular, melalui media apa aja?

    Jangan kapok ya dok jawab petanyaan saya :-)

    Trims

  119. 119 cakmoki Juli 19, 2008 pukul 12:18 am

    @ Wahyu Hidayat:
    sama-sama :)

    1. Coconut gak ada pengaruh terhadap penyembuhan TB
    2. Iya, penyerapannya kurang optimal, karena itu sebaiknya sebelum makan atau dalam keadaan perut kosong.
    3. Sama. Itu hanya beda istilah yang mungkin untuk menyamarkan aja.
    4. TB Paru adalah penyakit menular dan penularannya lewat droplets or hembusan nafas yg mengandung kuman Mycobacterium tuberculosa.

    Thanks :)

  120. 120 widya prasetyadi Juli 28, 2008 pukul 5:21 pm

    Tolonnnnng!
    aq cowok 28 tahun
    3 hr yl aq muntah darah trus aq ke RS disana aq divonis TB PARU dari hasil rontgen.
    tp stlh muntah yg ke3 aq sadar klo hal tsb krn mimisan yg tertelan.
    aq cek di internet gejala TB Paru salah satunya batuk2 dan ga doyan makan. nah untuk 2 hal ini kayaknya 100% ga bener deh soalnya aq ga pernah batuk n aq doyan bgt makan bahkan 1hr sampe 4kali.
    Aq DISURUH MINUM OBAT SAMPE 9BLN!

    ada yg bisa kasih pencerahan ga kirim ke emailku y?

  121. 121 cakmoki Juli 28, 2008 pukul 11:34 pm

    @ widya prasetyadi:
    Kalo emang meragukan hasil diagnosa di RS, ada baiknya cari second opinion dengan periksa ke dokter spesialis paru (ke prakteknnya aja dan ga usah kembali ke RS).
    Diagnosa pasti TB Paru adalah dengan pemeriksaan dahak (BTA=Bakteri Tahan Asam).
    Thanks

  122. 122 widya prasetyadi Juli 31, 2008 pukul 11:43 am

    yg aneh adalah:
    - saya ga pernah batuk (muntah darah tsb trnyta mimisan yang tertelan)
    - BTA saya negatif
    - Hasil rontgen,oleh radiolog tidak ditulis ada TB Paru
    - Leukosit normal (5,85)
    - Sy doyan banget makan
    apakah sy memang ada kemungkinan TBParu or salah diagnosa?
    mintak pencerahannya ya pak?

  123. 123 cakmoki Juli 31, 2008 pukul 2:55 pm

    @ widya prasetyadi:
    eh… udah saya jawab di posting “Nama Penyakit yang Rancu”
    menurut saya bukan TBC :)
    bisa jadi emang karena darah mimisan yang tertelan sebelum muntah darah. Sebagai patokan, darah yang keluar dari lambung warnanya kehitaman karena bereaksi dengan asam lambung, sedangkan darah yg keluar dari paru atau iritasi saluran napas atau dari mimisan yg ga sempat tertelan ke lambung, warnanya merah segar …
    Trims

  124. 124 susan Agustus 20, 2008 pukul 10:56 am

    waddduuuhhh…..
    keknya aq dah ketinggln bgt ya dok….??!!
    emang bener dech, kata swamiku…dokter itu ada yg lulus dgn IPK 3, ada jg yg 2, so..jgn cm percaya sm 1 dokter aja, palagi cm gara2 tuh dokter kliatan lariss…(hehehe just kidding lho dok)
    terusterang lg bingung bgt niyy,,
    anakku,umur 22 bulan,BB cuma 8,6kg. tapi anaknya lincah bgt, sampe yg ngeliatin aja cape…
    sekitar sbln yl, batuk berdahak tp gak ngiklik (bhs jawanya).
    trus, aq bw ke dsa langganan.diksh obt puyer+pengencer dahak plus disurh tes darah+ronsen.
    trus,setelah obt hbs, aq kesana lgi dgn membw hasl tes lab.
    yg ngegemesin…dsa tsb cm melirik sekilas hasil tes labnya, langsung memvonis TB Pulmo and dikash obt Rimcure yg warnanya merah banget (maksudnya apa ya?)

    krn kuatir salah diagnosa,aq lgsg nyari second opinion. nah, menrt dsa yg satunya ini, sblm memcvonis anak kena TB, hrs ada pemeriksaan lbh lanjut dl.coz, kasian anaknya klo dijejali obat2an selama itu…
    padhl scr fisik, anakku msh lincah pencila’an tuh dan badanya gak panas sama sekali
    so, dsa ini sementara berasumsi anakku bronchitis. diksh obt batuk,pengencer dahak,vitamin dan disuruh makan makanan yg bergizi + susu yg banyak.
    ditunggu sampe 2 minggu, klo nafasnya msh bunyi grok2 juga, baru di tes lab ulang.
    aduh dok, aq bingung bgt niy, sebaiknya anakku diapain ya??
    apa tes manthoux itu lbh akurat drpd tes darah+ronsen?
    apakah tes manthoux itu ckp efektif utk anak < 2th?
    apakah aq hrs nyari third opinion ke dktr sp paru anak?

    keknya aq mau deh, melakukan apppaaaa saja, asalkan anakku gak minum obt selama itu….( hiks )

  125. 125 cakmoki Agustus 20, 2008 pukul 10:27 pm

    @ susan:
    Secara umum, tanda utama TP Paru pada anak: panas lebih 2-3 minggu, lemah (lesu), berat badan menurun, adakalanya batuk berkepanjangan, …trus ada kecurigaan kontak sekitar anak sebagai sumber penularan.
    Jika ada tanda tersebut, masih ada beberapa kemungkinan, yakni: Bronchopnemonia, Bronchiolitis, TB Paru dll…dll.
    Pemeriksaan yang dianjurkan (gak selalu), meliputi: Tes darah, Rontgen, Test Mantoux… test-test tersebut dilakukan kalo emang perlu, kalo dokternya yakin bukan TB Paru tapi misalnya lebih ke arah Bronchopnemonia atau Bronchitis dengan infeksi sekunder atau lainnya, maka tes dan rontgen gak diperlukan.

    Tanpa mengurangi rasa hormat kepada dokter yang mendiagnosa TB Paru, saya lebih sependapat dengan pendapat dokter kedua yang mendiagnosa Bronchitis.
    Perlu diketahui, batuk berkepanjangan pada anak kebanyakan karena Bronchitis, Asma, batuk alergi (dengan berbagai pemicu yang sulit diketahui) … dan bisa berlangsung berminggu-minggu…ini (diantaranya) karena anak di bawah 6 tahun gak bisa ngeluarin dahak.

    Sebagai gambaran, di tempat kami (pinggiran samarinda) setiap hari rata-rata 10 anak datang berobat dengan batuk lama (lebih seminggu), bahkan ada yang 3 minggu lebih baru bisa sembuh…bisa dibayangkan kalo semua harus test macam-macam dan berakhir dengan TB Paru hanya karena ahli Radiologi menulis: suspect specific? … wuaaaaaa …bukannya meremehkan, tapi Rontgen dan test-test soal itu gak spesifik, …digunakan sebagai penunjang diagnosa, bukan satu-satunya diagnosa, lagipula pemeriksaan fisik oleh dokter dan wawancaralah (anamnesa) yang memegang peranan penting.

    Oiya, Test Mantoux untuk menunjang diagnosa juga. Misalnya hasil test mantoux lebih 10 mm dengan penebalan tertentu, maka kesimpulannya baru sebatas curiga, masih perlu follow up lebih lanjut untuk benar-benar menentukan apakah anak TB Paru atau bukan…

    Maaf, kita hanya share dan ini hanya pendapat saya… so keputusan ada pada setiap orang tua. :)

    Trims

  126. 126 susan Agustus 21, 2008 pukul 12:03 pm

    wah, tq bgt ya dok atas infonya. sayangnya, koq tugasnya jauh bgt sih dok…smp samarinda sgala.pdhal qt2 para ibu2 ini, butuh bgt lho..pencerahan dr dokter spt cak moki ini…
    coba klo msh di sekitar pulau jawa,bisa dijabanin smpe sana yaa…

    dok, saya mo tanya lagi nih.. (msh penasaran bgt sm yg namanya TB)
    1. nafas grok2 ato mengi, itu asalnya dr mn sih?
    apakah klo msh ada dahaknya, akan terus berbunyi spt itu?
    2. apakah BB anak itu ada kaitany dgn faktor genetik
    (klo ortunya kecil, ya anaknya jg ga bs gemuk) ?
    3. dari dsa yg kedua, anak sy diksh resep obat : amoxsan,
    selvigon,prednison,septrin paed,equal dan mucos.Masing2
    fungsi dr obat2 itu apa ya dok?
    4. klo sampe 2 minggu ini batuk anak saya msih ada(meskipun
    sdh jarang2),menurut dokter/cakmoki,sbaiknya sy recheck
    tes darah ato tes manthoux ato nyari third opinion ke
    dktr spes paru anak ato sy biarkan sj smpe sembuh sndri?
    5. klo di semarang sini, apakah ada ya dktr yg spt cakmoki
    (yg cakmoki kenal tentunya), yg tdk materialis, yg sgt
    peduli pd keluhan2 pasiennya….klo ada, saya bs minta
    referensinya?
    6. apakah ada hubungany, TB/bronchitis dgn binatang peliha
    raan? krn dirmh, sy miara burung kenari+kelinci

    tx be4 atas waktunya ya dok..

  127. 127 cakmoki Agustus 21, 2008 pukul 4:37 pm

    @ susan:
    hehehe, di sini juga banyak ibu-ibu :D … walau di kalimantan, kami biasa menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, …serasa di kampung sendiri.

    1. Nafas grok-grok ato mengi disebabkan oleh penyempitan saluran pernafasan karena adanya peradangan (inflamasi) dinding bagian dalam saluran nafas, sebagai akibat dari reaksi alergi (ato bisa juga infeksi). Perlu diketahui bahwa mengi (asma) akan timbul jika terpapar bahan alergen (bahan pemicu timbulnya reaksi alergi), misalnya: dingin, debu, angin, kelelahan, tepungsari, bulu binatang, dll…dll. Reaksi alergi tersebut (pada mengi or asma) mengakibatkan inflamasi saluran nafas sehingga saluran nafas relatif menyempit dan menimbulkan suara ngak-ngik…

    2. iya, salah satu yg mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah faktor genetik disamping faktor lain. Tapi tidak selalu begitu.

    3. Amoxan (amoksisilin) adalah antibiotik golongan penisilin untuk memberantas bakteri, Selvigon untuk pereda batuk, prednison adalah steroid untuk alergi, septrin adalah antibiotik golongan sulfa untuk memberantas kuman (bakteri), equal adalah gula rendah kalori dan mucos (ambroxol) adalah pengencer dahak.
    Jika anak mengi ato nampak sulit bernafas (sesak), menurut saya masih kurang obat untuk melebarkan saluran nafas (bronkodilator)..hehehe, maaf sekedar opini…. dan antibiotiknya kalo emang perlu, cukup satu jenis aja (salah satu dari amoxan or septrin paed)…tapi beliau (dsa) yg meriksa dan lebih tahu kondisi anak. :)

    4. Receck ato ke spesialis paru (gak harus spesialis paru anak).

    5. wahhhh, mohon maaf … saya gak tahu

    6. TB Paru disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosa yg ditularkan dari penderita lain sehingga gak ada hubungan dengan binatang piaraan. Kalo bronchitis alergica dan asma emang ada hubungannya karena boleh jadi bulu ato reruntuhan bulu yg menjadi debu akan memicu timbulnya batuk.

    Thanks

  128. 128 Naning September 2, 2008 pukul 8:50 pm

    DEAR CAKMOKI,
    anakku dua-duanya masuk rumah sakit, aq jadikan 1 kamar. yang besar usia 23 bulan dan yang kecil 9 bulan.

    yang besar :
    usianya 23 bulan.dalam 3 hari beratnya turun 1 kg, BB skrg 15 kg. dia punya riwayat multiple alergie, alergi protein susu sapi, dia paling sering opname. waktu usia 6 bulan kalo gak salah ingat dia terdiagnosa bronkopneumoni, tapi gak pengobatan flek/tbc. trakir opname +/- 2 bulan yang lalu karena febris, hasil lab semua bagus, tapi panasnya nyampe 41,3. gak kejang sih… akhirnya juga pulang tanpa diagnosa pasti. kali ini dia opname karena panas naik turun sejak sabtu 30/8/08, batuk sangat berat, sepertinya nafasnya juga rada sesak, setiap kali batuk dia sering “mblokek” ( kayak mau muntah ), tapi juga gak jarang jadi muntah beneran. bapaknya ada riwayat asma dan alergi.
    foto thorax 3/9/08 : jantung tak tampak kelainan, paru : hilus tak tampak kelainan, peri hiler kiri suram, diafragma dan sinus tak tampak kelainan. kesan curiga spesifik.
    hasil lab 3/9/08 : Hb 12,2. lekosit 4,1. limfosit 68, led 9, IGg dengue +, widal negatif. saya-nya takut kalo2 dia-nya di diagnosa flek. apakah juga ada kemungkinan kearah situ kalo diliat dari hasil lab n thorax-nya? saat ini dia dapat injeksi taxegram, cortidex, satu lagi apa ya? lupa…, oralnya cosyr syrup. opini nya donk dok… tx b4.

    si kecil usia 9 bulan. 2 kali ini opname. yang terakir 3 minggu yll, utamanya karena panas, muntah, batuk, pilek, dan hematoma kepala ( karena mgk jatuh) tapi kok gak ada yang tau ya???…hehehe.
    waktu itu batuk pileknya udah berlangsung 1 bulan. udah diobati oleh prof…. tapi gak sembuh juga, sampe akirnya opnam. udah IR juga. tetep gak ilang. sampai akhirnya kemarin sy bw ke DSPA lain, dan cek lab, thorax juga. untuk labnya sih rutin bagus, cuma sgot-sgptnya aja yang agak tinggi. sedang thoraxnya kesannya bronkopneumoni, infiltratnya cukup luas. nah dianya sekarang opnam juga, sebelahan ama kakaknya. cuma karena saking puyengnya ngrasain anak opnam semua, saya jadi pikun……nggak bisa inget 100% therapi dia. cuma kata DSPA-nya, setelah opnam ini nanti, coba kita evaluasi 1-2 mgg, apakah ada perbaikan atau tidak, jika hasil thorax nanti tetep aja gak ada perbaikan, kemungkinana bisa ke arah flek, baru dipikirkan untuk pengobatan flek-nya. setuju gak dok????? terus terang, terang terus..
    sayanya jadi bego, udah gak bisa mikir n nalar lagi. :( (((

    thanks before….

  129. 129 Naning September 2, 2008 pukul 10:10 pm

    dalam hitungan jam udah nyanya lagi. hehehehe…..
    barusan kedua anak itu dapat PYRAVIT…. yac ?! berarti harus pengobatan INH donk?? it’s mean…TBC?
    duh…jadi bingung, kalo diliat dari fisiknya kayaknya gak mungkin mereka terkena TBC. saya jadi ragu di minumkan gak ya pyravitnya??? disatu sisi jika emang diagnosanya tbc IT’S OK, TAPI KALO GAK???? KAN NGERUSAK HATI…
    gimana donk nich….. wise gak sih kalo saya pending-kan minum pyravit nya dulu, sampai bener2 yakin dengan diagnosanya. kenapa gak di test mantoux dulu ya??? LED-nya juga normal kok….
    ada masukan gak>>> semoga dapet reply cepet ya… tx b4

  130. 130 cakmoki September 3, 2008 pukul 5:09 am

    @ Naning:
    Kebetulan saya juga ngerawat pasien di rawat inap ndeso ™ … dalam 2 bulan ini angka kesakitan Bronkopnemonia meningkat yang ditandai dengan: panas tinggi (kadang naik turun), nafas cepat, batuk grok-grok sampe nungging-nungging, … rata-rata 3-5 anak perhari yg masuk opname karena gak mau makan minum dan kondisi lemah.
    Selama ini, saya tidak menganjurkan Rotgen pada anak dengan tanda klinis seperti di atas, kecuali untuk konfirmasi (itupun amat jarang, paling 2 anak dalam 1 tahun yg saya mintakan rontgen).
    Soale, kalo dirontgen … hasilnya hampir selalu: suspect spesific alias curiga TBC…. namanya juga curiga, lha wong asma aja hasil rontgen-nya bisa curiga TBC juga …

    Pendapat saya (dengan tetap menghormati para ahli):
    Saya cenderung Bronkopnemonia, acapkali batuknya berlangsung lama (hingga berminggu-minggu) walau panas udah turun.
    Ini artinya, saya gak percaya kalo kedua anak ibu menderita flek paru. …. hehehe, maaf.
    Lagipula, bapaknya ada riwayat asma … bisa jadi asma kan…(dengan sekunder infeksi sehingga ada panas)

    Soal Pyravit, kalo boleh berpendapat, gak usah diminum deh.
    Kalo emang konsekwen dengan diagnosa Flek (TBC) Paru, tentu obatnya adalah: INH (dan B6), Pyrazinamide, Rifampicin dan Ethambutol.
    Andai benar nantinya TB paru, toh akan diulang dengan pengobatan yang udah standar … tapi, saya masih tetep gak percaya.

    Trus Cosyr, adalah obat yang salah satu komponennya mengandung dekstrometorfan, yakni obat penekan batuk yg efek sampingnya makin menyempitkan saluran nafas dan dahak makin kental, …alhasil dahak makin sulit keluar, makin ampek…dan batuk makin lama.

    Sekali lagi, ini pendapat saya lho … mohon maaf jika saya keliru.
    Trims

  131. 131 susan September 12, 2008 pukul 2:27 pm

    cak, saya penasaran bgt nih..
    apakah semwa orang (tmsuk anak2) yg kena TB Paru, musti didului dgn gejala panas demam..??
    ato, ada gak sih..yg gak panas en ga demam, tapi ujug-ujug **bhs indonesianya apa?** langsung TB…?????

  132. 132 cakmoki September 13, 2008 pukul 1:02 am

    @ susan:
    Pertanyaan yang bagus nih :)

    apakah semwa orang (tmsuk anak2) yg kena TB Paru, musti didului dgn gejala panas demam..??

    gak selalu. Tanda ato gejala yang mengarah pada TB paru pada umumnya tidak berdiri sendiri. Kalo kita bicara “tanda”, selalu dimulai dengan tanda terbanyak, trus dilanjutkan dengan tanda-tanda lain sebagai konfirmasi dan kelengkapan informasi jika curiga ke arah penyakit tertentu.
    Dalam hal TB Paru pada anak, tanda terbanyak adalah panas or demam lebih dari 2-3 minggu disertai dengan penurunan aktifitas dan berat badan. Adakalanya disertai batuk berkepanjangan (jarang).
    Sedangkan pada dewasa, tanda terbanyak pada umumnya batuk lama, lemah, dll.
    Seorang dokter akan memeriksa dengan seksama dan kalo curiga terhadap penyakit tertentu adakalanya memerlukan pemeriksaan penunjang (lab, rontgen dll) untuk menunjang diagnosa.
    Dari sisi pasien, tentu berhak untuk bertanya dan mencari opini dokter lain jika diagnosa dokter sebelumnya dirasa meragukan.

    ato, ada gak sih..yg gak panas en ga demam, tapi ujug-ujug **bhs indonesianya apa?** langsung TB…?????

    Kemungkinan tersebut ada. Tapi jumlahnya dikit, dimana seseorang tidak nampak sakit tapi pada pemeriksaan dahak ditemukan kuman batang asam yakni kuman Mycobacterium tuberculosis. Penderita demikian disebut TB non aktif.

    Berikut di bawah ini adalah Kriteria Diagnosis TB Anak:
    (1) Pemeriksaan bakteri (+) / Patologi Anatomi (PA) (+)

    (2) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Rontgen (Ro) (+), Sumber penularan (sumber) (+) *artinya, di sekitar anak ada yang sakit TBC*, Gejala (+), BCG (-)

    (3) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada 1 tahun terakhir (anak dibawah 6 tahun): Ro(-), Sumber (+/-), Gejala (+/-), BCG (-).

    (4) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada anak dibawah di atas 6 tahun: Ro (-), Sumber(+/-), Gejala(+), BCG(-).

    (5) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (-), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(-).

    (6) Bakteri/PA (+), BCG(+).

    (7) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(+).

    Jika anak yang dicurigai TB memenuhi salah satu dari kriteria di atas, maka bisa didiagnosa TB aktif yang memerlukan pengobatan.

    Tanda ato gejala pada TBC Anak pada umumnya: sulit makan, berat badan menurun, demam lama, pembesaran kelenjar (leher).

    hihihi, 2 pertanyaan pendek jawabnya sak embrek … maaf kalo kepanjangan ya :)

    Thanks

  133. 133 NANING September 16, 2008 pukul 1:48 pm

    Lha kalo pyravit diberikan dengan alasan profilaksis gimana?

  134. 134 cakmoki September 16, 2008 pukul 3:13 pm

    @ Naning:
    Boleh aja … lagipula pengobatan Pyravit (INH dan B6) untuk sebulan gak akan berdampakj buruh seandainya ternyata bukan TBC.
    Trus, profilaksis terhadap apa ??? Bukannya anak-anak tersebut gak akan pergi kemana-mana (terutama ke daerah endemis TB) kan?
    Kalo masih bingung, Pyravit diminumkan sesuai anjuran dokter yang ngasih … ntar bisa evaluasi setelah itu.

    Logikanya, kalo pyravit dimaksudkan untuk profilaksis, ini artinya anak yang diberikan obat tersebut tidak menderita TBC. Karena kalo TBC tentu diberikan obat yang udah baku, sedangkan profilaksis diberikan kepada seseorang yang akan pergi ke daerah endemis TBC sebagai upaya pencegahan supaya gak ketularan.

    Alasan lain, seorang dokter diperkenankan memberikan Pyravit kepada pasiennya jika ragu-ragu atau sulit menentukan apakah TBC atau bukan berdasarkan kriteria yang tertulis di jawaban mbak Susan.
    Thanks

  135. 135 susan September 17, 2008 pukul 10:24 am

    makasih bangeeetttt…..cak, atas jawabanny.
    tapi sayang, aq gak mudeng…hiks..*maklum, wong ndeso*

  136. 136 cakmoki September 17, 2008 pukul 5:08 pm

    @ susan:
    hahaha, iya maaf… lupa gak njelaskan satu persatu…

  137. 137 erna-zakir Oktober 7, 2008 pukul 1:05 pm

    halo mas minta tolong dong, kami tinggal di kalimantan juga. Kami di Hulu Sungai Kalsel, rata2 anak di daerah kami bila batuknya kelamaan bakal divonis flek paru alias TB paru. Ihhh…. ngeri khan??? anak saya kadang batuk trus sembuh trus nanti batuk lagi tapi batunya agak lama…ya kami takut membawanya ke DSA karena ntar divonis minum obat 6 bulan. Wah gimana ya caranya, rata2 anak2 teman juga pada ikutan program 6 bulan, ya saya gak langsung percaya begitu saja tanpa mengetahui jelas… gimana baiknya ya???

  138. 138 ari satrya darma Oktober 7, 2008 pukul 4:35 pm

    Selamat sore cak
    salam kenal dari saya, gini cak saya mempunyai anak laki-laki usia 2,5 tahun, 1 bulan yang lalu tepatnya tanggal 28 Agustus 08 anak saya menderita batuk dan pilek, langsung saya bawa ke DSA di rumah sakit Honoris yang sekarang berganti nama Mayapada Hospital di Tangerang..oleh DSA itu setelah diperiksa anak saya di suruh tes Rontgen, saya mengikuti saran dokter tersebut dan ternyata setelah hasil rontgen tersebut ada iinfiltrasi halus flek di paru anak saya dan dokter Specialis Anak tersebut langsung memvonis bahwa anak saya tersebut positif TB (flek Paru) dan harus mengkonsumsi obat selama 6 bulan dan ini baru saya kasih obat baru 1 bulan, memang anak saya tersebut berat badannya tidak naik2 tetapi anak saya tersebut lincah dan hiperaktif dan setelah anak saya mengkonsumsi obat yang dari DSA itu obat TB yang berwarna merah untuk pagi dan sore berwarna putih itu berat badan anak saya naik sekitar 1 kilo yang tadinya 12 kg menjadi 13 kg…yang saya akan tanyakan cak apakah anak saya tersebut harus melanjutkan meminum obat tersebut mengingat sampai 6 bulan menurut anjuran DSAnya? dan anak saya tersebut blm saya tes mantaouk…saya mohon saran dari cak…terima kasih atas jawaban yang cak berikan

    –ARI SATRYA DARMA–

  139. 139 cakmoki Oktober 8, 2008 pukul 1:06 am

    @ erna_zakir:
    hahaha… gitu ya? …apalagi saat ini, sejak sebelum puasa hingga pasca lebaran banyak anak batuk berkepanjangan … :)
    Baiknya ke dokter yang gak hobi memvonis TB Paru.
    Sy yakin gak semua dokter mudah memvonis TB Paru pada anak yang batuk lama … :)

    @ ari satrya darma:
    Selamat malem :)
    Salam kenal ….. wow, begitu mudahnya ??? :(

    Saya salinkan kriteria diagnosa TB Paru yaa…

    Berikut di bawah ini adalah Kriteria Diagnosis TB Anak:
    (1) Pemeriksaan bakteri (+) / Patologi Anatomi (PA) (+)

    (2) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Rontgen (Ro) (+), Sumber penularan (sumber) (+) *artinya, di sekitar anak ada yang sakit TBC*, Gejala (+), BCG (-)

    (3) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada 1 tahun terakhir (anak dibawah 6 tahun): Ro(-), Sumber (+/-), Gejala (+/-), BCG (-).

    (4) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada anak dibawah di atas 6 tahun: Ro (-), Sumber(+/-), Gejala(+), BCG(-).

    (5) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (-), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(-).

    (6) Bakteri/PA (+), BCG(+).

    (7) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(+).

    Jika anak yang dicurigai TB memenuhi salah satu dari kriteria di atas, maka bisa didiagnosa TB aktif yang memerlukan pengobatan.

    Tanda ato gejala pada TBC Anak pada umumnya: sulit makan, berat badan menurun, demam lama, pembesaran kelenjar (leher).

    Nah, jika meragukan diagnosa terhadap anak bapak, ada baiknya mencari second opinion ke DSA lain dengan membawa hasil pemeriksan (dalam hal ini rontgen).
    Selain itu perlu juga bapak meminta copy resep ke apotik, apakah obat yang diberikan adalah obat TB Paru sesuai standar terapi ataukah bombandir berbagai macam obat …

    Maaf, saya tidak bermaksud mempengaruhi ataupun menghasut, namun keterbukaan dalam pengobatan penyakit menurut saya sangat penting dalam rangka mempertanggungjawabkan integritas keilmuan dan penyebarluasan pengetahuan bagi kita semua..

    Menurut saya, untuk sementara obat tersebut dilanjutkan sambil ke DSA lain hingga dapat dipastikan apakah TB paru atau bukan.

    Atau, bapak dapat berdiskusi dengan dr Rizal DSA yang nge-Blog di sini

    Moga bermanfaat … Terimakasih :)

  140. 140 Lusi Oktober 17, 2008 pukul 2:31 pm

    cak Moki salam kenal. artikelnya bagus, sekalian minta ijin boleh aku copy artikel2nya?
    Cak, tolong dong diulas tentang benjolan di belakang telinga pada anak-anak. ketika berkunjung ke saudara, banyak banget ketemui kasus seperti itu
    makasih ya Cak

  141. 141 cakmoki Oktober 17, 2008 pukul 4:03 pm

    @ Lusi:
    salam kenal, mbak… :)
    Monggo silahkan copy jika dianggap layak.
    Ya, terimakasih sarannya, ntar suatu saat sy posting tentang itu.
    Makasih

  142. 142 Yani Oktober 21, 2008 pukul 4:20 pm

    cak anak sya (3,8 thn) wkt 7 bln yg lalu pernah menjalani tes manteux, rontgen krn hasil lab darahnya LEDnya tinggi klo gak salah 100, berat badannya sih susah naik skrg 12 kg. Tapi pda dasarnya dia memang susah makan. Hasil tes manteuxnya negatif dan torax rontgennya bersih gak ada flek, jd DSAnya menyimpulkan bahwa anakku tidak TB, brt badannya susah naik krn pola makannya. Nah yg membingungkan saya kok bisa LED-nya tinggi? apa penyebabnya?.
    Belakangan ini dah ampir sebulan dia batuk pilek gak sembuh2, paling sembuh bentar trus kambuh lagi, dilehernya muncul benjolah2 kcil 2 bh. Nah kata DSAnya klo ampe obt batuk yang diberi ini gak sembuh, maka anakku hars menjalani tes manteux lg?… Haruskah anak saya tes lagi?.. apa kemungkinan anak saya terkena TB?
    Sebagai informasi, kami ada turunan alergi, ayahnya pernah asma sewaktu kecil, sedang saya alergi debu selalu bersin2 hingga sekarang.
    Trus anak kedua saya jg (8 bln) skrg jg batuk pilek ganti2an ama kakaknya, dia malah nafasnya kadang mengi, DSAnya bilang dia batuk alergi. Pertanyaan saya perlukah kedua anak saya menjalani tes alergi?… Bagaiamana tips2 untuk anak2 alergi. Trims sebelumnya…

  143. 143 cakmoki Oktober 22, 2008 pukul 11:26 pm

    @ Yani:
    Menilik kronologi di atas, salah satu kemungkinan adalah Asma atau bisa juga disebut batuk alergi, sama aja.
    Pada asma gak selalu disertai mengi, … pada asma yg ga berat biasanya batuk pilek lama, kadang ngikil (ngiklik…bhs jawa, hehehe)
    Adapun LED tinggi bisa dialami oleh siapapun yg batuk pilek lama.
    Sedangkan pembesaran kelenjar leher (limfadenitis) dapat terjadi oleh bayak sebab, misalnya: iritasi tenggorokan karena batuk lama sehingga memicu peningkatan produksi limfosit yg mengakibatkan pembesaran kelenjar leher, dan sebab lain termasuk TB (jika disertai kriteria diagnosa TB lainnya).
    Berikut di bawah ini adalah kriteria TB Anak seperti jawaban sebelumnya:
    (1) Pemeriksaan bakteri (+) / Patologi Anatomi (PA) (+)

    (2) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Rontgen (Ro) (+), Sumber penularan (sumber) (+) *artinya, di sekitar anak ada yang sakit TBC*, Gejala (+), BCG (-)

    (3) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada 1 tahun terakhir (anak dibawah 6 tahun): Ro(-), Sumber (+/-), Gejala (+/-), BCG (-).

    (4) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada anak dibawah di atas 6 tahun: Ro (-), Sumber(+/-), Gejala(+), BCG(-).

    (5) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (-), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(-).

    (6) Bakteri/PA (+), BCG(+).

    (7) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(+).

    Jika anak yang dicurigai TB, memenuhi salah satu dari kriteria di atas, maka bisa didiagnosa TB aktif yang memerlukan pengobatan.

    Tanda ato gejala yg mengarah pada kecurigaan pada TBC Anak pada umumnya: sulit makan, berat badan menurun, demam lama, pembesaran kelenjar (leher).

    Trims

  144. 144 Utami Taufiq November 14, 2008 pukul 3:52 pm

    Ass.wr.wb
    Cak,saya punya anak (sekarang 7th 1,5bl) yang divonis dokter menderita Flek Paru dan mesti menjalani pengobatan 6bulan.6bulan yang lalu,pengobatan 6bulan itu telah selesai,saya tidak lagi memeriksakan anak saya ke dokter,karena kondisinya yang (menurut saya) cukup baik.Anak saya ini sangat aktif,banyak/doyan makan,dan jarang sakit flu.Saya sering mendengar kalo terlalu banyak mengkonsumsi obat (apapun itu) dapat berpengaruh pada otak anak (menjadi kurang daya tangkapnya),Apakah benar itu Cak?? Itu juga yang menjadi salah satu pertimbangan saya,untuk menyudahi proses pengobatan ini setelah 6bulan berjalan.Bijaksanakah tindakan saya?? Apa yang seharusnya saya lakukan? Minggu ini,anak saya terserang batuk berdahak yang cukup menguatirkan,apakah hal ini karena masih adanya flek paru2 itu?

    Terima kasih sebelumnya,cak.

    Wss.wr.wb

  145. 145 cakmoki November 15, 2008 pukul 12:32 am

    @ Utami Taufiq:
    Wa’alaikum salam,
    Kalo emang Flek Paru (TBC), mestinya sudah sembuh dalam 6 bulan, kecuali ketularan lagi, kalo di sekitarnya ada penderita TBC.

    Saya sering mendengar kalo terlalu banyak mengkonsumsi obat (apapun itu) dapat berpengaruh pada otak anak (menjadi kurang daya tangkapnya),Apakah benar itu Cak??

    Tidak benar.

    Tentang menyudahi pengobatan TBC setelah 6 bulan adalah hak orang tua jika emang meragukan diagnosa TBC dan hasil pengobatan setelah 6 bulan.

    Jujur saja, saya juga meragukan diagnosa TBC (flek paru) hanya karena batuk berdahak yg lama dan hanya berdasarkan rontgen.
    Saya tidak bermaksud mempengaruhi orang tua yang anaknya divonis flek paru.
    Menurut saya, batuk berdahak lama bukan tanda utama Flek Paru. Kebanyakan batuk berdahak pada anak karena asma, bronkitis atau batuk alergi atau bisa juga bronkopnemonia.
    Argumen saya diperkuat dengan fakta bahwa anak-anak yang divonis TBC (flek paru) dengan pengobatan 6 bulan bahkan ada yang diobati hingga 2 tahun toh tetep batuk berdahak ketika disekitarnya ada yang batuk.
    Menurut para orang tua yang anaknya diobati 6 bulan, ketika kontrol trus rontgen, hasilnya: masih ada… ini berulang hingga 6 bulan berikutnya dan berikutnya lagi.
    Nah, setelah 2 tahun masih batuk berdahak, apakah logis jika anak tersebut divonis TBC (flek paru) ???

    Akhirnya, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para sejawat yang begitu mudah memvonis flek paru pada kasus batuk berdahak, para orang tua berhak untuk memeriksakan anaknya ke dokter lain sebagai second opinion.

    Terimakasih
    Wass, wr, wb.

  146. 146 bimbim November 16, 2008 pukul 9:55 pm

    Dok, ikutan nanya ya….

    Anak saya perempuan , umur 3 tahun , berat nya skg 12 kilo. Anak nya aktif, lincah, dan baru sakit flu sekali seumur hidup dia. Tapi memang dia makannya agak susah dan dikit.

    Ayah nya termasuk kurus, BMI ayah nya cuma 19.

    Setiap kalo kita ke dokter anak, mayoritas dokter bilang anak saya ini kurang gizi, kemungkinan TBC, enzim tidak bagus, dll.

    Ada dokter yang bilang juga kalo normal, mungkin genetik krn bapaknya juga kurus.

    Saya jadi bingung, dok..Ada saran???

    Thanks.

  147. 147 cakmoki November 16, 2008 pukul 10:53 pm

    @ bimbim:
    Penilaian Gizi tidak melulu dilihat dari Berat Badan. Menilik informasi yg ibu sampaikan, menurut saya normal aja tuh. Toh BB minimal untuk anak usia 3 tahun (36 bulan) yakni 11,5 kg, udah terlampaui. Bisa jadi karena faktor genetik mengingat bapaknya kurus :) .
    Ga perlu risau Bu, yang penting anak aktif dan sehat. Untuk makanan, anak ga bisa dipaksa-paksa, ntar ada saatnya doyan makan seiring dengan bertambahnya usia dan saat mulai sosialisasi dengan anak sebayanya. Kalaupun tetep ga doyan makan, ga papa juga.
    Kalo suatu saat terpaksa ke dokter, ga perlu datang ke dokter yg hoby memvonis TBC, (kecuali kalo ada tanda-tanda TBC diperkuat dengan adanya penderita TBC di sekitarnya)… hehehe …gak menghasut lho.
    Thanks

  148. 148 bimbim November 17, 2008 pukul 6:47 pm

    Lanjut nanya boleh ya Cak…

    Tadi siang anak saya ikutan ke dokter ngaterin adiknya imunisasi, trus sekalian nanya masalah BB nya….

    Dokter nya bilang gak ada gejala TBC, mungkin di masalah pencernaan katanya…

    Trus dikasih obat

    1. Racikan, isinya enzyplex dan Neptasan (atau Heptasan), agak susah bacanya.
    2. Curvit CL
    3. Imboost force.

    No 2 n 3 kan vitamin n penguat kekebalan tubuh ya? Yang no 1 saya liat2 di internet utk enzim n alergi.

    Menurut Cak gimana? aman gak ya mengkonsumsi vitamin sebanyak itu? Apa perlu cari second atau kalo perlu forth opinion? Hhehehe…

    Thnks ya….

  149. 149 cakmoki November 18, 2008 pukul 1:31 am

    @ bimbim:
    Mengkonsumsi vitamin di atas dalam jumlah banyak dan lama ga papa. Tapi ga perlu kecewa kalo ntar hasilnya ga sesuai harapan.
    Menurut saya, cukup curvit CL … gak perlu semua, hanya buang-buang duit… isinya mirip-mirip aja koq.

    Tentang klaim untuk kekebalan tubuh, sah-sah aja…wong namanya jualan, hahaha. Contoh: zinc dalam salah satu obat di atas yg diunggul-unggulkan untuk meningkatkan kekebalan, sebenernya zinc tersebut ada dalam susu, ikan, dll, dan itu udah cukup untuk memenuhi kebutuhan zinc dalam tubuh kita.
    Maaf, ini hanya pendapat saya :)
    Trims

  150. 150 medi November 29, 2008 pukul 2:44 pm

    Assalam Wr. Wb.

    Salam kenal dulu dok!
    Mo nanya nih…
    3 minggu yang lalu saya medical chek-up untuk ngelamar CPNS.
    Karena tidak lulus saya ambil hasil medicalnya dan hasil rotgennya tertulis:
    Diagnosa : Bercak kalsifikasi di apeks paru kiri.
    kesan : KP sinistra agaknya tenang.
    Maksud dua pernyataan di atas apa ya dok?
    Memang saya pernah menjalani pengobatan TB dan sudah dinyatakan sembuh.
    Apakah diagnosa ini merupakan “bekas TB” yang pernah cak tulis
    sebelumnya?

  151. 151 cakmoki Desember 1, 2008 pukul 2:45 am

    @ medi:
    Wa’alaikum salam,
    Mengingat bahwa pernah menjalani pengobatan TB sampai sembuh, bisa jadi “bekas TB”.
    Untuk memastikannya, sebaiknya periksa ke spesialis paru yang dulu merawat supaya ada semacam rekomendasi dari beliau.
    Trims

  152. 152 ahmad bajuri Februari 15, 2009 pukul 12:23 am

    Assalam Wr. Wb.

    Salam kenal dulu dok!
    Mo nanya nih…

    anak ku, noval umur 4,9 tahun berat badan 15kg, lincah, aktiv, agak susah makan. tapi kalau lagi mau, makannya banyak. normal gak sih.

    trims.
    ahmadbajuri

  153. 153 cakmoki Februari 15, 2009 pukul 2:58 am

    @ ahmad bajuri:
    wa’alaikum salam, wr, wb,
    salam kenal juga :)
    Kondisi tersebut Normal.

    Trims.. Wass

  154. 154 widodo p Februari 18, 2009 pukul 10:09 pm

    Cak Moki salam kenal,melihat penjelasan Cak Moki yg cermat n detail saya ingin konsul nih,2 minggu yang lalu tiba2 saja saya batuk trus muntah darah tanpa sebab,rasanya dari tenggorokan saya ngucur darah akibatnya saya batuk2, darah merah segar keluar cukup banyak kurang lebih 5 sendok makan,menurut dokter karena tidak ada tanda2 yang khas tb(saya merasa segar bugar gk sakit,nafsu makan normal, tdk merokok,tidak pernah batuk yg sangat lama) kemungkinan waktu batuk terlalu ngejan trus luka, lukanya mengenai pembuluh darah di tenggorokan jadi keluar darah banyak bahkan sampai keluar melalui hidung,saya sempat ngintip diagnosis dokter(diagnosis tidak dijelaskan kpd saya hanya bilang mungkin radang,padahal saya gk merasa demam) yaitu (1.)Faringitis akut,artinya apa ya cak? trus saya cari secon opinion,sama dokter no2 sy di rotgen(ket:normal,tdk nampak infiltrat,cor tajam,tulang tdk ada kelainan),1x BTA (-), diambil darah untuk tes TB dot (-)Dokter no2 memperkuat diagnosis dokter 1 kemungkinan luka di tenggorok, dan saya diberi obat untuk menghentikan pendarahan Transamin tranexamid acid,bronkis,dan antibiotik,akhirnya yang sy minum obat Dr 2,sampai hari ke 7 sya batuk masih keluar darah sehari 2x diawali rasa sangat gatal ditenggorokan trus keluar darah beku/menggumpal spt cacing diikuti keluar darah segar,lucunya setelah obat Dr 2 habis saya minum obat Dr 1,masuk hari ke10 darah keluar sehari 1x,hari13 waktu batuk hanya keluar sedikit darah yg beku/nggumpal, sekarang sudah memasuki hari ke 30 sudah tidak keluar darah tapi skrg jadinya saya sakit batuk kadang keluar dahak putih biasa kadang tdk keluar dahak,dada kadang terasa agak sesak dan cekit2 sebentar,(2.)kira2 kenapa ya cak?saya skrg tidak menkonsumsi obat apapun,(3.)klo rekomen obat yg cocok dgn keluhan sy skrg apa ya cak? dan sebenarnya saya sakit apa sih cak?,moga2 sih gk sakit apa2 he..he..,maaf cak konsul saya terlalu panjang ya..? terima kasih banyak sebelumnya cak

  155. 155 cakmoki Februari 18, 2009 pukul 10:50 pm

    @ widodo p:
    Menilik kronologi di atas, kedua dokter tersebut sebenarnya memiliki pendapat yang sama, yakni: bukan TBC. Hal ini dibuktikan dengan tanda klinis dan Rontgen serta dipastikan dengan pemeriksaan BTA (-).
    Adapun faringitis akut maksudnya infeksi tenggorokan yg mungkin terjadi karena iritasi akibat batuk sehingga mengeluarkan darah dan terjadi infeksi.

    Menurut saya, kemungkinan: bronkitis alergi atau batuk alergi atau bisa juga asma ringan, yang biasanya dipicu oleh: dingin, asap, debu, kelelahan.

    Obat yang dapat digunakan:
    1) Bronkodilator (melonggarkan saluran pernafasan sekaligus untuk meredakan sesak), misalnya: Euphyllin Retard Mite 125 mg, diminum 2×1.

    2) Pencair dahak, misalnya Ambroxol 30 mg (merk apapun) atau Bromhexine 8 mg (merk apapun), diminum 3×1.

    3) Steroid sebagaianti alergi, misalnya: Methyl prednisolon (lameson atau lexcomet, dll), diminum 2×1.

    Ketiga obat tersebut diminum setidaknya selama seminggu atau hingga sembuh.
    Catatan:
    Jika minum obat Euphyllin Retard Mite 125 mg merasa berdebar, lemas, maka dosis diturunkan menjadi 2×1/2 tablet. Adakalanya obat untuk melonggarkan nafas (bronkodilator) menimbulkan efek samping berdebar walaupun dosis yg saya rekomendasikan adalah dosis rendah.

    Jika dalam seminggu belum membaik, sebaiknya kontrol ke dokter.

    Semoga segera sembuh
    Trims

  156. 156 WIDODO Februari 20, 2009 pukul 11:57 pm

    Waduh respon Cak Moki cepat sekali neh,thanks Cak, kesimpulan Cak Moki emang tajem,memang sebulan yang lalu saya sangat kecapekan sekali,trus mondar-mandir luar kota (malang – blitar) pake motor cak ,tanpa pelindung dada yg memadai lagi+begadang ampe malam sama rekan2 kantor pokoknya schedule kegiatan padet banget,akhirnya stamina down, pas sakit kemarin tuh kayaknya saya stress banget cak,belum pernah batuk keluar darah kaya gitu,ampe gk bisa tidur+diare+pusing, sampe kemarin tuh,habis konsul ke Cak Moki, kena maag juga aku Cak, seperti diserbu penyakit, kayaknya sumbernya dari stress ya Cak? anyway terima kasih udah nerima konsulku Cak,salutt…!

  157. 157 cakmoki Februari 21, 2009 pukul 5:52 pm

    @ WIDODO:
    Iya, kayaknya kelelahan psikis maupun fisik …
    Met istirohat :)
    Moga segeara sembuh

  158. 158 Newton_13 Maret 31, 2009 pukul 9:38 pm

    Salam kenal cak….MAu berkonsultasi sedikit ini…

    Jadi begini ceritanya:
    HAmpir 3 bulan yang lalu saya MedCheck di sebuah untuk keperluan test masuk kerja…dan hasil rontgen bilang: “Proces specifik actief sinistra”…Alhasil saya gak lo2s test kesehatan tersebut dan di anjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter paru
    FYI, saya tidak memiliki gejala2 TB, seperti batuk2 berdahak yang lama atw nafsu makan berkurang, malah terbilang kuat makan :)
    Setelah berkonsultasi dengan dokter sp.paru (di rontgen lg), orang radiologi bilang :
    Dipuncak paru kiri terlihat kesuraman tipis, mencurigakan suatu gambaran fibrokalsofokasi proses lama. Kemungkinan fibroinfiltrat blm dapat disingkirkan”…trus di Mantoux jg, dan hasilnya positif (bekas nya memerah)
    Dan dokter paru tsb menyimpulkan bahwa saya dahulu pernah kena TB, trus gak diobatin— so (mungkin) si bakteri msh ngendap di paru2 kali???
    Jadilah saya di kasi obat RIMCURE 3-FDC bwt 2 bln (1x sehari,3 tablet)…dan beliau bilang mudah2n 2 bulan bisa bersih flek nya coz emang flek nya masih tergolong kecil dan tipis…serta obat nya pake yang bagus

    2 bln kemudian…
    saya dtg lg…ditimbang berat badan(naek 4 kilo se, maklum abis dibilang kena flek jadi rajin minum susu)…trus di stetoskop bentar…dan beliau bilang perkembangan nya bagus…..
    Tapi saya harus makan obat yg beda lg untuk2 bln kedepan…obatnya: Rimactazid & StarMuno….baru setelah itu akan di rontgen lg…

    Yang pengen ditanyain:
    1. Apakah saya bener kena TB??
    2. Apakah bener flek bisa hilang dalam 2 bulan (kurang dari 6 bulan)???KLo gak, berarti saya gak perlu ikut test kesehatan dulu selama masih minum obat…coz hasilnya akan sama2 aja???
    3. setelah divonis TB, saya rajin olahraga (lari pagi), dan dianjurin minum susu cair+ madu…is it help??

    Mohon Pencerahan nya CAk………dan Smoga sukses sll:)

  159. 159 cakmoki Maret 31, 2009 pukul 10:07 pm

    @ Newton_13:
    Salam kenal,
    1) Benar tidaknya TB paru dapat diketahui dengan pemeriksaan BTA Dahak sebanyak 3 kali saat pertama kali dicurigai TB Paru. Dan waktu tersebut udah berlalu… Selain itu, TB Paru pada dewasa dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik dan radiologis.
    namun yang paling akurat (sesuai anjuran WHO) adalah dengan pemeriksaan dahak BTA (Bakteri Tahan Asam).

    2) Secara medis, kuman Mycobacterium tuberculosa akan hilang dengan pengobatan 2 bulan pada kasus yang minimal. tapi secara program, wajib hingga 6 bulan. Hal ini untuk memastikan bahwa TBC benar-benar tuntas.

    3) ya … bener. Pada dasarnya memerlukan makanan bergizi.

    Trims

  160. 160 Newton_13 April 1, 2009 pukul 7:10 pm

    cak, tanya lg ya:)

    1. Tadi saya baca2 postingan yang ditas

    “4. Tidak. Kendati demikian, sebaiknya jangan sampai lupa. sehari ada 24 jam kan? nah jika lupa pagi, bisa diminum di waktu lain saat ingat, yang penting dalam keadaan perut kosong.”

    Berarti obat TBC itu harus diminum saat perut kosong kah???coz dokter saya bilang makan obat nya 1x sehari…that’s all, so saya berasumsi sendiri bahwa makan obatnya justru setelah sarapan (seperti obat laen pada umumnya)??

    2. Kategori kasus TB yang minimal itu seperti apa se cak???mohon penjelasan yang lebih spesifik???ada gak kemungkinan hilang dalam 1 bulan???

    3. Flek paru yang kelihatan dihasil rontgen itu sebenarnya merupakan gambaran dari koloni para bakteri TBC atau gambaran jaringan parut (klo gak salah) bekas luka akibat di grogotin ama si bakteri???

    Maaf ni cak jadi “nambah”

    Salam Sehat……Halah:)

  161. 161 cakmoki April 2, 2009 pukul 12:17 pm

    @ Newton_13:
    1) Mungin dah ada di etiket obat tulisan kecil “sebelum makan”, mungkin juga tidak. Gak papa. Bukan berarti obatnya gak berkhasiat, hanya saja penyerapannya di lambung gak 100 %. Ntar selanjutnya diminum dalam keadaan perut kosong.

    2) Lesi minimal, maksudnya hanya sedikit. Biasanya pada awal penularan atau bisa juga pada kasus TBC yang meragukan. Gak bisa sembuh dalam 1 bulan.

    3) Pertanyaan bagus nih… baru pertama ada yg nanya ini… :D
    Bisa keduanya. Pada kasus TB aktif, gambaran Rontgen merupakan koloni kuman sedangkan pada kasus TB yang udah sembuh adakalanya meninggalkan jaringan parut (sequelle).

    Trims

  162. 162 sumadi April 21, 2009 pukul 7:57 pm

    Dok, mau tanya. anak saya di vonis flek paru-paru karena hasil dari rontgen & Mantoux nya positif. Apakah dari hasil ini masih dibutuhkan second opinion dari dokter yg lain? mohon tanggapannya Dok. terimakasih
    Sumadi

  163. 163 cakmoki April 22, 2009 pukul 2:58 am

    @ sumadi:
    Bergantung pada keluhan anak dan keyakinan para orang tua.
    Yang dimaksud keluhan anak adalah mengapa anak menjalani pemeriksaan Test Mantoux dan Rontgen.
    Kalo merasa yakin anak menderita TB Paru, tidak perlu second opinion. Namun jika merasa gak yakin, maka tidak ada salahnya mencari second opinion.
    Terimakasih :)

  164. 164 Nita Yunita April 30, 2009 pukul 3:00 pm

    Ass…lam kenal cakmoki ak mau konsul nich anak ak sekarang usia 22 bulan,wt usia 0 sampe 1 tahun dia sering flu,sampe kedengeran ngorok banyak dahak di saluran pernafasannya,kata DSA saluran pernafasan anak sy sempit jadi klo flu lama harus sering dibawa renang..dia pun sempet bilang klo bb anak sy turun terus harus di rotgen..tapi alhamdulillah bb anak sy selalu naik n anak sy anaknya aktive..setelah lewat 1 tahun anak sy batuk2+FLU sy bawa ke DSA disuruh tes darah ma rotgen hasih rotgen bagus cuma udah ada kontak kuman hasil tes darah lednya 29…katanya led naik bisa dari radang, lalu disuruh tes mantoux juga hasil negative,begitu dokter tau sy pernah pengobatan tb(setahun yang lalu udah dinyatakan sembuh dengan led 12) anak sy langsung di vonis minum obat 6 bulan sy cari second opini ke dr laih (Spc paru2) katanya klo tes mantouxnya negative belum tentu Tb apalagi hasil rotgennya bersih..katnya itumah batuk biasa..lalu sy cari 1 dokter lagi n beliau pun berkesimpilan bukan tb..Alhamdulillah anak sy sembuh..selang be2rapa bulan anak sy batuk lagi..tanpa disertai pilek udah ke DSA 3x masih tetep sembuh bentar batu lagi..sy ganti DSA lain masih sama.bb anak sy turun 0.6 tadinya 11 jadi 10.4..anak sy aktive,tidur gk keringatan di punggung..tapi di kepala n itu sudah berlangsung sejak bayi..apalagi setelah mimi su2 kepalanya keringatan,makan agak susah..sekarang su2 juga gk mau maunya teh manis tapi sy ganti sama air+madu,be2rapa hari yang lalu selama 3 hari setiap malem badan anak sy panas tinggi tapi siangnya tidak,sy mau tanya apa anak sy mesti tes mantoux lagi? apakah rumah yang kurang sirkulasi udara n tidak terkena sinar matahari juga bisa jadi penyebabnya?.makasih cakmoki..di tunggu jawabannya

  165. 165 arumsaputra April 30, 2009 pukul 3:46 pm

    Salam kenal cak dokter,…..
    Selasa kemaren anak saya (11,5 bulan) divonis TBC dg pengobatan 6 bulan. Dengan catatan berat badan 7,8 kg hasil Rontgen suspect spesifik dan hasil labnya (yang menurut dsa menunjukan TBC) sbb:
    - lekosit 10.300
    - Limfosit 21
    - LED 30
    sedang hasil mantoux test, kemerahan sekitar 1cm (tanpa benjolan) saya tidak tau itu + atau -, karena dsa nya tidak ngecek lagi (hanya cek rontgen dan lab saja). kemudian anak saya diberi obat rifamtibi 90 mg. inh 70 mg, pza 100 mg, semuanya di racik bentuk puyer.
    Padahal saat itu kondisi anak saya baik2 saja (tidak sedang batuk, pilek dan panas). Awalnya saya kedokter hanya untuk konsultasi karena saat itu anak saya masih ASI dg volume mimik susunya pagi-sore 250 ml dan malam-paginya enen (saya bekerja). Saat ini anak saya paling senang makan nasi lunak dg lauk dipisah (kalo dicampur langsung dilepeh…).
    Sebenarnya saya agak terkejut dengan vonis dsa tsb, krn saya gak pernah terpikir bahwa anak sy TBC, awalnya sy hanya berfikir bahwa anak saya kurang asupan saja.
    Mohon masukannya cak Moki, hari ini sy mulai kasih obat ke anak saya, tp rencananya sabtu besok saya akan cari dsa lain untuk compare.
    Terimakasih.

  166. 166 elin April 30, 2009 pukul 4:04 pm

    cak ada satulagi yang ingin sy tanyakan,Tb Kulit sewaktu April 2005 sy sempet panas tinggi selama 10 hari wt itu dokter ber asumsi DB,baru ketahuan TB kulit september 2005 karena sy sering batuk sembuh n di betis sy ada semacam memar tadinya kecil trus membesar rasanya sakit jalan bisa tapi klo berhenti harus duduk karena gk kuat nahan sakitnya,klo shalat subuh gk bisa sujud karena kaki gk bisa di lipat n gk bisa berdiri lama juga n ilang..dokter memberi sy zanabet setelah minum be2rapa hari memar nya ilang n sy melanjutkan obat tb,namun setelah 4 bulan berhenti karena hamil tiap makan obat keluar lagi,setelah kandungan sy 7 bulan tiba2 keluar darah yang banyak saat bab sy ketakutan lalu di USG tapi bayi sehat2aj sy ke dokter katanya smbeyen dalam karena saluran darah kehimpit ma bayi,lalu sy juga cerita tentang pengobatan yang di hentikan n dokter sarankan di lanjutkan,wt itu sy periksa darah lednya 75..rotgen tidak karena lagi hamil..sy minum obat selama 1 tahun..lebih lama dari biasa karena sempet di hentikan..sy mau tany cak apa bedanya TB Kulit n tb yang biasa? apa mungkin menular ke bayi..wt sy selesai pengobatan anak sy usia 7 bulan

  167. 167 Nita Yunita April 30, 2009 pukul 4:13 pm

    Ass…lam kenal cakmoki ak mau konsul nich anak ak sekarang usia 22 bulan,wt usia 0 sampe 1 tahun dia sering flu,sampe kedengeran ngorok banyak dahak di saluran pernafasannya,kata DSA saluran pernafasan anak sy sempit jadi klo flu lama harus sering dibawa renang..dia pun sempet bilang klo bb anak sy turun terus harus di rotgen..tapi alhamdulillah bb anak sy selalu naik n anak sy anaknya aktive..setelah lewat 1 tahun anak sy batuk2+FLU sy bawa ke DSA disuruh tes darah ma rotgen hasih rotgen bagus cuma udah ada kontak kuman hasil tes darah lednya 29…katanya led naik bisa dari radang, lalu disuruh tes mantoux juga hasil negative,begitu dokter tau sy pernah pengobatan tb(setahun yang lalu udah dinyatakan sembuh dengan led 12) anak sy langsung di vonis minum obat 6 bulan sy cari second opini ke dr laih (Spc paru2) katanya klo tes mantouxnya negative belum tentu Tb apalagi hasil rotgennya bersih..katnya itumah batuk biasa..lalu sy cari 1 dokter lagi n beliau pun berkesimpilan bukan tb..Alhamdulillah anak sy sembuh..selang be2rapa bulan anak sy batuk lagi..tanpa disertai pilek udah ke DSA 3x masih tetep sembuh bentar batu lagi..sy ganti DSA lain masih sama.bb anak sy turun 0.6 tadinya 11 jadi 10.4..anak sy aktive,tidur gk keringatan di punggung..tapi di kepala n itu sudah berlangsung sejak bayi..apalagi setelah mimi su2 kepalanya keringatan,makan agak susah..sekarang su2 juga gk mau mesti dipaksa maunya teh manis tapi sy ganti sama air+madu,be2rapa hari yang lalu selama 3 hari setiap malem badan anak sy panas tinggi tapi siangnya tidak,sy mau tanya apa anak sy mesti tes mantoux lagi? apakah rumah yang kurang sirkulasi udara n tidak terkena sinar matahari juga bisa jadi penyebabnya?.makasih cakmoki..di tunggu jawabannya

  168. 168 cakmoki Mei 1, 2009 pukul 12:36 pm

    @ arumsaputra:
    salam kenal …
    Saya tidak terkejut dengan diagnosa tersebut, dalam artian udah gak sedikit para ibu yang tadinya memeriksakan masalah berat badan dan masalah makan anak tanpa keluhan lain, ujug-ujug periksa Lab, Matoux Test, Rontgen … alhasil berakhir dengan vonis TBC Paru dan harus minum obat 6 bulan, test lagi…minum obat lagi 6 bulan, dan demikian seterusnya sampe 2 tahun.
    Jika vonis TBC udah ditegakkan, konsekuensinya harus mencari sumber penularan. Dan sumber penularan terdekat pada usia bayi, tak lain dan tak bukan adalah keluarga terdekat (orang serumah). Jika punya pembantu, sy khawatir pembantu jadi terdakwa. iya kalo bener, lha kalo enggak gimana hayo :)

    Menurut saya, anak yang gak suka makan minum dan berat badannya sulit naik, tidak serta merta TBC dan tidak mesti ada gangguan. Bisa jadi hanya soal selera ato anak lebih seneng bermain ketimbang disuruh makan or minum. Tak jarang para orang tua dibuat kalang kabut oleh si kecil masalah makan dan minum. Apapun upaya orang tua seolah gak membuat si kecil mau makan atau minum.
    Langkah yang masih bisa dilakukan, diantaranya dengan memberi porsi kecil sesering mungkin.
    Cara lain, dengan sesekali mengajak si kecil ke tampat ortu lain yg punya anak suka makan. Dengan begitu, diharapkan anak meniru anak lainnya.
    Tapi upaya-upaya tersebut dan upaya membuat banyak variasi makanan belum tentu berhasil mengingat naluri bermain anak kadang lebih besar ketimbang makan dan minum.
    Upaya ibu dengan memisah nasi dan lauk udah bagus. Ditelateni aja, ntar ada saatnya anak sangat suka makan seiring dengan tumbuh kembang anak.

    Tentang vonis TBC dan keputusan meneruskan pengobatan TBC atau enggak, sepenuhnya berada di tangan orang tua. Tak ada salahnya minta pendapat ke DSA lain.

    Sejauh ini, hasil konsultasi saya dengan temen DSA di milis kami, cenderung gak sependapat dengan terlalu cepatnya vonis TBC hanya gara-gara BB sulit naik atau hanya gara-gara batuk berkepanjangan.

    Saya sependapat membawa anak untuk compare ke dokter lain.

    Trims :)

    @ elin:
    Pengobatannya hampir sama, yakni 2 bulan pertama fase intensif kemudian dilanjutkan dengan 4-10 bulan dengan regimen INH-Rifampicin.
    Kalo udah selesai dan dinyatakan sembuh, tentu gak menular.
    Makasih :)

    @ Nita Yunita:
    wa’alaikum salam dan salam kenal,
    Keluhan batuk atau disertai pilek berkepanjangan pada anak sangat sering terjadi, bahkan seringkali setiap 2-4 minggu batuk lagi, demikian seterusnya. Hal itu tidak lantas menandakan TBC.
    Terlebih dengan hanya panas 3 hari atau lebih. Banyak penyakit-2 viral yang menunjukkan tanda seperti itu.

    Test Mantoux sama atau lebih dari 1 cm, bukan memastikan TBC tapi kecurigaan terhadap TBC (kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan penujang lain) jika ditunjang dengan tanda lain atau adanya kecurigaan sumber penularan.

    Tentang keringatan (pagi, siang, sore atau malam), sangat wajar. Ini karena proses metabolisme anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Bukan menandakan penyakit tertentu.

    Jika saat ini anak masih panas, boleh periksa ke dokter. Bukan test Mantoux. Sangat banyak penyakit-2 yang mengakibatkan anak panas, sebagian besar penyakit oleh virus.
    Trims … Wass

  169. 169 naning Mei 6, 2009 pukul 4:18 pm

    halo dok….
    lama tidak masuk kesini lagi. saya mau konsultasi nih. si bungsu sekarang usianya 2,5 tahun. sebelum 1 tahun dia sering keluar masuk RS karena panas, bronchopneumoni, diare, alergi dll. sekarang beratnya 22 kg. mgk memnag termasuk gemuk. dulu susunya pake soya, tapi saya ganti susunya sejak usia 2 tahun menjadi sustagen. tidak ada masalah di pencernaan. yang jadi pemikiran saya sampe sekarang adalah, kenapa dari bayi pola pernapasan dia cenderung cepat seperti terengah-engah. apakah ada hubungannya dengan paru-paru atau asma atau alerginya??. bahkan tidak jarang jika dia beraktifitas terlalu berlebih, saking cepetnya nafasnya, bisa sampai muntah. saya sendiri mencoba mngkuti irama pernafasannya, dan gak nyaman juga rasanya. dia tipe anak yang pilih2 makanan, lebih sering yang sop-sopan. konsumsi sayur memang kurang menurut saya. saya sering kasian sama anak saya yang ini. mungkin ada saran saya harus bagaimana nih dok??. dan juga sejak lahir kalo dia tertawa sampai terkekeh2/ngakak2 selalu diakhiri dengan cegukan agak lama, itu terjadi sampai dengan sekarang. imunisasinya juga sudah lengkap. O iya. sejak lahir, kadar lekositnya selalu tinggi, 18.000. dia sering opname karena panas tinggi dgn suhu bisa sampe 41 derajat tapi tidak step, tanpa sebab yang jelas. tidak batuk, tidak pilek, tidak diare. kata dokternya karena virus, dan dia anak alergi dengan daya tahan tubuh yang lemah. mohon sarannya. tks

  170. 170 cakmoki Mei 6, 2009 pukul 10:22 pm

    @ Naning:
    halo :)
    Jika ada riwayat asma ataupun batuk alergi, napas terengah tersebut kemungkinan berhubungan dengan keduanya. Bisa juga berhubungan dengan berat badan, tapi gak selalu.

    Berikut ini parameter frekuensi nafas.

    Tabel: Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO)

    : Umur Anak :: :: Napas Normal :: :: Takipnea (Napas cepat)
    0 – 2 Bulan :: :: 30-50 per menit :: :: sama atau > 60x per menit
    2-12 Bulan :: :: 25-40 per menit :: :: sama atau > 50x per menit
    1- 5 Tahun :: :: 20-30 per menit :: :: sama atau > 40x per menit

    Jika termasuk napas cepat (takipnea) berdasarkan umur dan frekuensi nafas pada tabel di atas, gak ada salahnya periksa ke dokter. Kalo gak ada keluhan lain dan anak nampak enjoy, gak perlu ke dokter.

    Cegukan (reflux gastro-esofageal) bisa disebabkan banyak faktor. Jika hanya 1-2 hr dan gak ada keluhan lain, gak papa. dan gak perlu obat khusus, kecuali atas saran dokter yg meriksa.

    Lekosit tinggi, bisa jadi berkaitan dengan penjelasan dokter, yakni infeksi virus.

    Thanks.

  171. 171 CLOUD Mei 31, 2009 pukul 12:15 am

    Hi dok, nanya donk..
    kalau kasus 2 diatas yg dokter2nya sembarangan menganalisa dan mem-vonis seseorang terkena tbc sementara setelah dicek ke tempat lain (opinion ke dua ,ketiga,dsb) ternyata tempat lain tidak ada.
    ada tidak yah tempat untuk menuntut dokter yg sembarangan tersebut sehingga ijin prakteknya dicabut.
    soalnya saya ada beberapa teman yg kehilangan pekerjaan gara2 kasus tersebut.
    sementara agen tempat mereka bekerja tidak mau mengganti tempat medical check up lain, dan tempat medical check up tersebut tidak mau menerima second opinion dari tempat medical lain.
    ada tidak yah,misalnya seperti ikatan dokter indonesia, atau mungkin bisa meng-complain melalui dinas kesehatan atau sejenisnya.
    kalau seperti ini terus, kapan indonesia mau maju ditipu2 oleh para dokter yg semabrangan tersebut.
    seandainya kalau semua dokter seperti cak,pasti deh indonesia akan semakin bagus di bidang kedokterannya.

  172. 172 cakmoki Mei 31, 2009 pukul 7:26 pm

    @ CLOUD:
    Perbedaan interpretasi dalam mendiagnosa penyakit dapat terjadi dimana saja di belahan dunia. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor yg seringkali tidak berhubungan langsung dengan bidang medis. Contoh: “kerjasama” (dalam tanda kutip) antara dokter dg pihak lain. Bisa pula karena perbedaan pertimbangan sudut pandang, terutama antara sisi epidemiologis, klinis dan psikososial (termasuk pekerjaan). Idealnya, pandangan klinis dan epidemiologis serta psikososial mestinya sejalan. tapi seringkali jalan sendiri-sendiri. (di Indonesia)

    Perbedaan-2 tersebut (dalam hal ini dakwaan TBC Paru) tidak bisa dipakai landasan untuk mencabut ijin praktek lantaran perbedaan pendiagnosaan penyakit jamak terjadi di dunia medis.
    Karena itulah pasien punya kebebasan untuk mencari second opinion.

    Celakanya, perusahaan atau tempat kerja acapkali hanya berlangganan pada 1 atau dokter tertentu saja.
    Menurut saya, sikap perusahaan tersebut kurang tepat, karena sama aja dengan mengabaikan pendapat dokter lain. Di sisi lain, dunia medis bersifat dinamis yg terbuka untuk didiskusikan terutama jika menyangkut penyakit.

    Sepengetahuan saya, karyawan dapat megajukan keberatan ke pihak perusahaan berdasarkan rekomendasi atau hasil pemeriksaan second opinion dari dokter lain.

    Complain ke IDI atau Dinas Kesehatan tidak banyak berpengaruh. Hal ini karena perbedaan pendapat di dunia medis bukan termasuk pelanggaran.

    Mungkin yg paling berkompeten Insitusi Tenaga Kerja. Sayangnya saya tidak tahu persis sejauh mana Institusi Tenaga Kerja memberikan perlindungan kepada karyawan.
    Yg kita khawatirkan kalau-kalau Institusi Tenaga Kerja kalah dengan pemilik modal … hehehe.

    Trims

  173. 173 de2k September 3, 2009 pukul 10:19 pm

    pak dokter..telat nih nanyanya:) setaun lalu ada flek di paru2 saya. dokter pertama vonis bronkitis. krn keluhan sakit tdk berkurang 5 hari kemudian kembali ke rumah sakit, tp ditangani dokter berbeda. berat badan menurun 3 kilogram (tapi saat sakit itu saya ttp puasa ramadhan dok :D ) langsung divonis tbc deh. 3 hari kemudian, stlah minum obat tbc, terasa malah semakin sesak nafas. akhirnya kembali ke rumah sakit yg sama, lgsung dirujuk ke specialis paru.nah, dokter specialis ini melakukan tes TBA dan mantoux dua2nya negatif.akhirnya disarankan untuk foto scan. sebetulnya, apakah kelebihan foto scan ini dibandingkan rontgen biasa. dokter tetap menyarankan meneruskan minum obat tbc,tapi saya hentikan:)stlh tdk minum obat, malah batuk berhenti. tapi sekarang saya jadi parno sendiri dok, bagaimana kalo trnyata memang betul saya kena tbc:) trus, mungkinkan ga kondisi udara jakarta yg penuh asap itu menyebabkan flek paru? thx

  174. 174 Sri September 12, 2009 pukul 12:26 pm

    Salam kenal, mau nanya nih cak. Saat ini keponakan (4 th) dititipkan di rumah saya krn pengasuh pulang. Baru2 ini kakak saya memberitahukan bahwa anaknya ada flek paru. Dari hasil test mantoux positif, katanya msh sangat tipis krn normalnya 10, dia baru 12 (saya nga gitu ngerti maksudnya). Kakak saya mengatakan bahwa tidak mungkin menular dr anak ke anak, hanya bs nular dr org dewasa ke anak. Saat ini ia sedang minum obat sekitar 1bln. Yg jd pikiran krn saya punya 2 org anak (12 thn dan 10 thn),mungkinkah tidak menular dr anak ke anak mengingat ia menempel terus pd anak saya yg berusia 10th. Mohon beri penjelasan agar hati saya agak tenang. terima kasih.

  175. 175 cakmoki September 13, 2009 pukul 3:36 am

    @ de2k:
    Maaf, kelewatan …. :)
    Untuk memastikan diagnosa TB Paru adalah dengan pemeriksaan dahak BTA. tapi dapat juga dengan rontgen.
    Kalo ngeliat kronologisnya, kayaknya dokter paru gak yakin TBC.
    Foto scan memiliki kelebihan dapat mendeteksi lebih detail, tapi untuk TB paru gak lebih baik dari rontgen, kecuali kalo dokter tersebut bermaksud untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
    Mungkin aja bronkitis yang sebagian besar berhubungan dengan reaksi alergi yang dipicu oleh debu, asap, cuaca, dll.
    TBC disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosa, bukan oleh udara ataupun asap.
    Trims

    @ Sri:
    Salam kenal,
    TBC adalah penyakit menular yg disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosa yang dapat ditularkan dari siapapun juga kepada siapapun juga tanpa memandang umur.
    Jika seseorang tertular TB Paru, maka seseorang (mulai anak hingga orang tua) yg tertular tersebut bisa sakit, bisa juga tidak. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor.
    Pertama, bergantung pada jumlah kuman yang masuk tubuh.
    Kedua, bergantung pada daya tahan tubuh seseorang.
    Ketiga, bergantung pada faktor lingkungan.
    Model penularan tersebut berlaku juga pada penyakit menular yg lain.
    Masalahnya, diagnosa TB paru pada keponakan nampaknya masih meragukan.

    Perlu diketahui bahwa akhir-akhir ini banyak anak dengan keluhan batuk berkepanjangan didiagnosa sebagi TB paru (flek paru) hanya berdasarkan test Mantoux dan Rontgen. Sejujurnya, saya kurang percaya dengan cara diagnosa tersebut. Tapi entah mengapa, banyak orang tua yang lebih suka kalo anaknya didiagnosa TB paru dan minum obat hingga 6 bulan lebih, bahkan hingga setahun. Padahal, menurut saya kebanyakan batuk pada anak disebabkan infeksi pernafasan, bronkitis, batuk alergi, asma.
    Tapi ini hanya pendapat saya, keputusan akhir berada pada masing-2 dokter dan orang tua.

    Berikut di bawah ini adalah Kriteria Diagnosis TB Anak:
    (1) Pemeriksaan bakteri (+) / Patologi Anatomi (PA) (+)

    (2) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Rontgen (Ro) (+), Sumber penularan (sumber) (+) *artinya, di sekitar anak ada yang sakit TBC*, Gejala (+), BCG (-)

    (3) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada 1 tahun terakhir (anak dibawah 6 tahun): Ro(-), Sumber (+/-), Gejala (+/-), BCG (-).

    (4) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), kemudian pada anak dibawah di atas 6 tahun: Ro (-), Sumber(+/-), Gejala(+), BCG(-).

    (5) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (-), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(-).

    (6) Bakteri/PA (+), BCG(+).

    (7) Bakteri/PA (-), Mantoux Test (Mt) (+), Ro (+ luas disertai pembesaran kelenjar), Sumber(+/-), Gejala(+/-), BCG(+).

    Jika anak yang dicurigai TB memenuhi salah satu dari kriteria di atas, maka bisa didiagnosa TB aktif yang memerlukan pengobatan.

    Tanda ato gejala seorang anak dicurigai TBC, jika menunjukkan tanda berikut: sulit makan, berat badan menurun, demam lama (lebih 2-3 mingu) tanpa diketahui sebabnya, pembesaran kelenjar (leher).

    Demikian penjelasn saya, moga berguna.
    Trims

  176. 176 Sri September 13, 2009 pukul 12:27 pm

    Terima kasih atas penjelasannya Cak. Apa yg hrs saya lakukan jk memang ia adalah positif TB mengingat ia akan ada di rmh saya sekitar 1/2 blnan lg. Apakah saya jg hrs menyarankan kakak saya utk periksa ulang dan mencari 2nd opinion? Hal ini termasuk hal yg sensitif krn tdk ada org tua yg senang jk anaknya diketahui oleh org lain menderita TB. Terima kasih sekali lg.

  177. 177 cakmoki September 14, 2009 pukul 12:32 am

    @ Sri:
    Ya, ibu benar, saya sependapat. Sebaiknya mencari second opinion. Andai setiap orang tua bersikap seperti ibu, saya yakin masyarakat kita makin memahami masalah kesehatan dan secara tidak langsung ikut meningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat.
    Trims

  178. 178 cutey September 16, 2009 pukul 1:48 pm

    Dear Dok,

    Dok, saya mau tanya sedikit tapi rumit…

    apakah flek paru anak ( TB anak ) dapat menular dari anak ke anak??

    karena saya baca diatas, kata dokter dapat menular pada siapa saja tanpa memandang usia., tapi banyak dokter yang mengatakan kalau tidak dapat menular dari anak ke anak.. ( dan mereka sepertinya sangat yakin )
    saya jadi bingung nih dok…..??????

    apakah dokter ada literatur ( atau apa lah… ) yang bisa di check?? karena ini menjadi perdebatan sengit antara saya dan sahabat saya yang mengakibatkan kita sedikit bertengkar.. bila ada cataatn yang bisa dia baca, pasti dia akan lebih percaya..

    Maaf ya dok bila merepotkan..
    sebelumnya terima kasih banget..

  179. 179 cakmoki September 16, 2009 pukul 5:21 pm

    @ cutey:
    Calon sarjana ato sarjana gak boleh marah apalagi bertengkar hanya gara-gara beda pendapat…hehehe.

    Pendapat para dokter tentu boleh berbeda berdasarkan banyak faktor.
    Namun mari kita kembali ke referensi, di antaranya: Nelson Texbook of Pediatric, Clinical Tuberculosis (Crofton, SJ et all), dan lain-lain.
    Lagi pula, di dalam buku-2 ajar fakultas kedokteran di Indonesia rata-rata menyebutkan bahwa seorang anak dicurigai TB paru, salah satunya, bila ada sumber penularan, tanpa menyebutkan perkecualian umur. Ini artinya dapat ditularkan oleh semua umur. Kalaupun ada dokter yang mengatakan tidak dapat ditularkan dari anak ke anak, mestinya harus dapat menunjukkan referensinya, bukan malah sebaliknya.
    Mongo silahkan baca lagi bukunya :) … lebih baik kembali ke referensi daripada eyel-eyelan sama temen, setuju kan ?
    Makasih

  180. 180 Sri September 17, 2009 pukul 12:20 am

    ketemu lg Cak. Bener kt Cutey bnyk silang pendapat. Hr ini saya sempat rame dgn kakak saya mengenai hal ini. Ia tdk terima ketika saya mengatakan kemungkinan anaknya dpt menulari anak lain. saya membaca The New England Journal of Medicine dan saya terkaget2 membaca penularan yg sedemikian luas dr seorg anak yg berusia 9th. Ia menulari 20% dr jumlah org yg berkontak dgnnya menyebar dr keluarga, teman sekolah, supir bus smp org2 yg di sekitarnya. Memang itu adalah data th 99. Tetapi jk ada survey mengenai ini maka seyogyanya tdk ada keraguan ttg penularan dr anak ke anak bahkan ke org dewasa. Td pagi saya berkonsultasi dgn dokter anak saya dan saya menceritakan kondisi saya. Saran yg beliau berikan benar2 membuat saya seperti tertimpa dinding. Ia menyarankan anak saya jg dirontgen trus hrs minum obat profilaksis (yg ktnya bukan obat TB tetapi utk mencegah TB) dan yg plg fantastis hrs diminum selama keponakan saya minum obat TB (6 bln) krn sdh berkontak dgn keponakan sekitar 2mg. Mohon komentar dan sarannya Cak. Saya saat ini dlm dilema krn 1 sisi adalah kakak dan sisi lain saya berhadapan dgn suami. Terima kasih.

  181. 181 cakmoki September 17, 2009 pukul 8:15 pm

    @ Sri:
    Saya sependapat… sy tidak (belum) menemukan satu referensipun tentang penularan TB paru yg katanya tidak bisa ditularkan dari anak ke anak. Semua referensi yg sy baca dari tahun 1959 hingga saat ini masih menyebutkan bahwa sumber penularan tidak mengecualikan umur, artinya bisa dari umur berapapun.
    Sungguh, saya salut pada ibu yg ikut membaca jurnal. Di sisi lain, dokter wajib membaca jurnal secara berkesinambungan agar dapat mengetahui laporan kasus per kasus seperti yg ibu sebutkan, bukan hanya berdasarkan pendapat semata.

    Terkait dengan dakwaan TB paru pada anak, salah satu konsekuensinya adalah dampak psikologis, terutama ketika si penderita bermain bersama anggota keluarga yg lain.
    Inilah yg mestinya dipertimbangkan dokter dalam menegakkan diagnosa.
    Setahu saya, obat profilaksis hanya INH dg dosis 10-20 mg per kg berat badan diminum selama 1 bulan saat kontak dengan penderita TB paru, kecuali jika ada pertimbangan lain.

    Sy masih meragukan kebenaran diagnosa TB Paru pada keponakan ibu. Hal ini berdasarkan pengalaman selama ini dimana beberapa anak yg didiagnosa TB paru berdasarkan Rontgen dan tes mantoux, tidak ada satupun yg TB paru setelah saya konsulkan ke dokter spesialis paru terpercaya di kota kami.

    Menurut saya, bukannya ingin meremehkan kemungkinan tertular, namun sementara ini ibu gak perlu terburu-buru memeriksakan Rontgen pada kedua anak ibu.
    Kita lihat aja perkembangannya

    Sy sangat memahami posisi ibu dalam menyikapi persoalan tersebut, baik dalam keluarga ibu sendiri maupun kaitannya dengan orang tua kemenakan.
    Demikian pendapat saya, dan mohon maaf jika tidak memuaskan ibu. Teriring do’a semoga ibu sekeluarga sehat selalu.
    Terimakasih

  182. 182 Kevin November 2, 2009 pukul 1:43 pm

    Dok, sekitar 10 hari yg lalu saya mencoba untuk periksa darah dan rontgen karena batuk yg terus menerus selama 2 minggu lebih dan tubuh saya juga sering lemas..
    Dari hasil darah diketahui LED saya 45 dan pemeriksaan thorax menyatakan KP kanan saya aktif..

    Dokter umum menyatakan saya terkena TBC, dan saya berobat ke dokter spesialis paru yang akhirnya beliau jg menyatakan saya terkena TBC.. saya diberikan obat yg setiap hari harus diminum

    pertanyaan saya:
    1. Apakah saya masih boleh berolahraga dan fitness?? sampai sebatas mana??
    2. Saya sedang menjalani tes kerja di beberapa perusahaan dan BUMN. Berapa lama sampai setelah saya diberikan obat TBC tersebut, kondisi paru saya tidak terlihat penyakit TBC jika dilakukan pemeriksaan rontgen (agar saya bisa lolos tes kesehatan)??

    Terima kasih dok. Informasi dari dokter diatas sebelum message saya ini banyak membantu saya

  183. 183 cakmoki November 2, 2009 pukul 2:22 pm

    @ Kevin:
    1) Boleh tetap beolah raga sesuai kemampuan. Malah bagus untuk pemeliharaan dan meningkatkan kondisi tubuh secara umum, serta memperbaiki pernafasan dan peredaran darah.

    2) TBC pada umumnya sembuh setelah pengobatan selama 6 bulan. Untuk test kerja sebaiknya menyertakan rontgen dan keterangan selesai pengobatan TBC dari dokter paru. Hal ini penting mengingat bahwa adakalanya hasil rontgen pasca pengobatan menunjukkan gejala sisa dan kadang dinilai menderita TBC walaupun sejatinya sudah sembuh.

    Moga segera sembuh sesuai skedul pengobatan TBC (6 bulan).
    Trims

  184. 184 rina November 11, 2009 pukul 12:46 am

    Assalamualaikum pak dokter…
    langsung aja yah..
    anak saya usia 19 bulan BB/TB 10,5kg/85. sebulan lalu priksa ke dokter karena susah makan dan BB nya naik tp tidak signifikan.
    di test mantoux hasilnya negatif, di rontgen hasilnya bronchopnemonia(salah nulis ya;-) tapi dia jarang batuk dan pilek, cuma akhir2 ini kepalanya suka tiba2 anget, tp badannya biasa aja.
    mungkin kah anak saya TB juga?karena dokternya ngasih serangkaian obat TB. buat info aja, dia ada turunan asma dari ayahnya, mungkinkah BB yang susah naik sama susah makannya efek dari asma (kalo ada)?trus Dok, kalo susah makannya mungkin ga karena ada yang ga beres sama pencernaannya?perasaan nih ya, tiap ke dokter kalo curhat ttg BB susah naik pasti disuruh rontgen sama mantoux. ga ada tuh yang bilang buat skrinning saluran pencernaan. menurut dokter kalo mau liat saluran cernanya bagus atau ngga pake uji lab apa?oh iya, anak saya dengan susah makannya tetep aktif.
    makasih ya dok buat pencerahanya
    wassalam….

  185. 185 cakmoki November 11, 2009 pukul 3:14 am

    @ rina:
    Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut bisa dipastikan bukan TBC.
    Gak ada hubungan langsung antara asma dengan berat badan.
    Pada anak, acapkali berat badanya gak naik atau bahkan tetap karena berbagai faktor, bukan berarti lantas ada penyakit atau sesuatu yang gak beres di pencernakannya. Sejauh anak gak ada keluhahn dan tetap aktif, berarti gak papa, gak masalah.
    Umur segitu dengan berat badan 10,5 kg masih termasuk ukuran normal. Gak ada yng salah tuh… Kalo diperiksa macem-macem hanya karena gak suka makan malah menimbulkan banyak interpretasi yang berujung pada pemberian obat yang gak ada korelasinya dann bahkan membuat anak makin tersiksa. Belum lagi biaya yang dikeluarkan menjadi sia-2.
    Lagi pula, tumbuh kembang anak tidak dilihat dari berat badan semata, namun yang paling penting adalah aktifitas si anak.
    Asalkan masih mau minum susu atau jajan atau makan lain, gak masalah.
    Ada saatnya anak gak suka makan dan suatu saat doyan makan seiring dengan tumbuh kembang dan bertambahnya usia anak.

    Di sini banyak banget anak gak suka makan, gak ada satupun yang saya anjurkan rontgen dan mantoux kalo hanya masalah berat badan tanpa keluhan yang lain. Buang-2 waktu, duit dan hasil pemeriksaan lab serta mantoux bisa aja keliru.
    Ini pendapat sy, namun jika ingin periksa berbagai macam pemeriksaan, monggo … :)

    Trims

  186. 186 rina November 11, 2009 pukul 5:36 am

    makasih banyak ya Dok…
    terharu…dijawabnya cepet banget;-)
    kalo gitu mau nanya sedikit lagi…
    anak saya sulit minum susu formula sampe sekarang maunya ASI terus, alhamdulillah masih ada walaupun tdk sebanyak dulu
    tapi…kalo dikasih yoghurt mau, apa2 atau ga apa2 dok?satu lagi ya dok…adakah efek buruk jika anak diberikan vitamin yang terus2an?
    hatur nuhun pisan ya…;-)
    bangga neeh…punya dktr kayak gini..hi hi…

  187. 187 cakmoki November 11, 2009 pukul 5:52 am

    @ rina:
    Walau gak sebanyak dulu, ASI tetap paling bagus. Gak papa dikasih yoghurt asalkan anaknya mau. Demikian pula vitamin, dapat digunakan jangka panjang. Gak ada efek buruknya kecuali nambah anggaran… :)
    Perlu diketahui bahwa vitamin berfungsi untuk membantu metabolisme (pengolahan makanan dalam tubuh), bukan untuk menambah nafsu makan atau untuk merubah dari susu ke makanan.
    Moga sehat selalu.
    Hatur nuhun juga … ^_^

  188. 188 sisil November 12, 2009 pukul 2:17 pm

    Selamat siang dok,

    Mau tanya nih dok. Umur saya 39 tahun. Bulan lalu saya divonis ada flex paru, cuma sedikit kata dokter sambil menunjukkan hasil rontgen. Terus terang saya amat buta dalam hal membaca gambar rontgen. Hasil Test LED 75. Dokter memberi obat TB 4 macam : Rifampicin, TB Vit, Tibigon & Pyrazinamida, kontrol 2 minggu sekali lama pengobatan 6 bulan. Pertanyaan saya Dok, dengan flex yg katanya sedikit apa perlu pengobatan 6 bulan ? Apa bedanya dengan “Flex banyak”. Mungkinkah sekarang ini (berarti 1 bulan pengobatan) saya sudah sembuh dengan test lab. ulang barangkali hasilnya berbeda, mengingat saya sudah rajin minum obat dan banyak pantang makan.
    Sebagai informasi, riwayat keluarga saya tidak ada yang TB, demikian juga kantor, rumah bersih dan sehat.
    Mungkinkah flex saya dikarenakan saya sering mandi malam seteleh berkeringat deras ? Mohon jawaban, Terima kasih banyak atas bantuannya.

  189. 189 cakmoki November 12, 2009 pukul 4:03 pm

    @ sisil:
    Met siang,
    Flek paru (TBC) harus diobati selama 6 bulan, sedikit ataupun banyak sama saja. Pada umumnya akan sembuh total setelah pengobatan 6 bulan.
    Dianjurkan makan makanan bergizi, bukan malah pantang macam-2 makanan.
    TBC adalah penyakit menular yg ditularkan melalui droplets (percikan uap air dari hawa mulut dan pernafasan). Penularan dapat terjadi jika pernah berdekatan dengan penderita TBC dimanapun berada, misalnya di pasar, mall, tempat-tempat umum, dll.
    TBC bukan karena mandi malam setelah berkeringat deras ataupun tanpa berkeringan, namun sekali lagi adalah penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosa.

    Jika meragukan diagnosa dokter tersebut berdasarkan hasil rontgen, boleh mencari second opinion ke dokter spesialis paru yang lain.
    Trims

  190. 190 sisil November 12, 2009 pukul 4:10 pm

    Dok, trims ya atas jawabannya. Paling tidak saya ga bertanya-tanya lagi kok bisa kena TB (pasrah). Berarti saya harus sabar dan rajin minum obat. Sekali lagi trims ya dok. Sukses selalu untuk dokter dan keluarga.

  191. 191 cakmoki November 12, 2009 pukul 4:42 pm

    @ sisil:
    sama-sama, makasih juga atas do’anya. Moga demikian pula sebaliknya. :)

  192. 192 sisil November 16, 2009 pukul 12:34 pm

    Dokter, mau tanya lagi nih seputar di atas.

    Kalo penularan TBC sendiri apakah bisa menular kalo saya berciuman dengan anak misalnya. Udah gede sih dok, 9 tahun. Tapi kan bungsu, jadi hanya dia yang biasa diciumi (jadi curhat dah).

    Trus lagi dok, gimana hubungan dengan suami, apa masih boleh. Atau harus nunggu sampe sembuh (6 bulan ?).

    Jangan bosan ya dok jawab pertanyaan saya. Trims banyaaaaak banget.


  1. 1 Balada Penenun dari Lombok « AKU Lacak balik pada April 25, 2007 pukul 4:58 pm

Tinggalkan Balasan




Wong ndeso ™

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

KPK,informasi,anti korupsi,indonesia

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Yuk.Ngeblog.web.id

Speedy Udah Kembali Normal, setelah ngadat sejak 28 Mei s/d 31 Mei ... Makasih ya

Warga Bicara

Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

Waspada Demam Berdarah

Jangan Gunduli Palaran

INGA INGA INGA

Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

Blog Indonesian

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

My Google PR

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

TopOfBlogs

Health
webb hotell

Health Blogs - Blog Rankings

DigNow.net

Health Blogs

Health blogs

Blog directory

Search Engine Marketing, Search Marketing

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

Indonesia To Blog -Top Site

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 756,321 pengintip

Asal Usul

100 Blog Indonesia Terbaik