Beberapa tahun belakangan ini, hampir dimana-mana istilah Flek Paru mencuat kembali. Sudah terlalu banyak anak dengan keluhan batuk lama didakwa sebagai flek paru dan berlanjut pada pemberian obat TBC selama 6 bulan, 12 bulan hingga 2 tahun.
Saking takut dan nurutnya orang tua, atau mungkin karena minimnya informasi, atau merasa tidak ada jalan lain, maka para orang tua manut saja si anak dijejali obat TBC sekian lama, plus embel-embel keharusan minum obat bangun tidur pagi.
IDAI sudah memperingatkan hal ini, yakni kecenderungan dokter mendakwa flek paru. Beberapa dokter tak tahan menggugat mempertanyakan keabsahan diagnosa flek paru, termasuk beberapa orang tua ikut meragukannya.
Tak soal jika memang TBC.
Bagaimana jika ternyata bukan ? Bagaimana jika ternyata asma ? Bagaimana jika batuk lain yang bukan TBC ?
Lagi-lagi, informasi menjadi salah satu kata kunci untuk menjawabnya.
FAKTA BERBICARA
Sejak sekitar tahun 2000-an di daerah kami, kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, perusahaan kayu lapis masih jaya-jayanya. Beberapa klinik Perusahaan menjadi ajang rebutan para dokter. Penulis nggak ikut-ikut kendati mereka (pihak perusahaan) melayangkan permohonan untuk menjadi dokter klinik perusahaan.
Saat itu ada kecenderungan, para dokter perusahaan menjalin “kerja sama” dengan dokter “tertentu”. Entah kebetulan atau booming, setiap anak dengan batuk lama dan pada pemeriksaan radiologis (rotgen) menunjukkan kesan: Bronkitis atau bronkopnemonia ditambah suspect (tidak menyingkirkan kemungkinan) TBC atau biasa disebut suspect spesifik, tak ayal si anak menuai hadiah diagnosa TBC dan disusul dengan pengobatan jangka panjang.
Tak peduli imunisasi lengkap, tak peduli si anak tak nampak sakit, tak peduli si anak lincah pencilakan, pokoknya ™ FLEK Paru dan minum obat jangka lama.
Tak hanya beberapa anak, tak hanya belasan anak, puluhan sodara-sodara !!!
Untungnya di kota kami hanya ada 1-2 dokter yang hobi mendiagnosa flek dengan pesan TIDAK BOLEH periksa ke dokter lain. *ahhhhh*
Di kota kelahiran penulis, Jember, ternyata sami mawon. Seorang anak tetangga yang menderita asma mulai kakek, dan ibunya, tak luput dari dakwaan flek dan sudah minum obat 18 bulan, masih juga batuk dan ngak-ngik saat malam tiba. (sekali nebus obat ratusan ribu)
Terpaksa penulis anjurkan untuk menghentikannya, ganti obat asma.
Dia tidak sendiri, dalam satu lingkungan, beberapa anak dengan batuk lama, rata-rata didakwa flek dan mendapatkan obat TBC.
Tetangga depan rumah di Palaran, kedatangan ponakan 2 balita dari Jakarta. Batuk lama, sembuh 2 minggu kumat lagi, kadang sembuh sebulan lalu batuk lagi sampai 1 minggu lebih. Keduanya membawa obat TBC. Keduanya juga didakwa menderita flek dan sudah minum obat setahun lebih.
Tante dan om-nya yang tetangga depan rumah, bertanya-tanya berobat setahun lebih koq masih botak-batuk, krak-krok, ngiklik.
R E L A S I
Beberapa kali penulis konsultasi dan mendiskusikan fenomena flek kepada seorang sejawat DSA di Surabaya, kakak ipar di Magelang yang juga DSA dan ahli paru di kota kami. Beliau-beliau hanya tertawa sambil mengatakan: “tidak semudah itu”. Dan tentu ada komentar serta pendapat yang kurang pantas dipublikasikan.
SIKAP ORANG TUA
Beragam ekspresi dan pertanyaan menggelayut di benak para orang tua ketika anaknya didakwa flek dengan keharusan minum obat selama 6 bulan.
- Pertama: orang tua bangga lega karena merasa sudah ketemu penyakitnya. Mereka rela membayar berapapun setiap bulan dan berapa lamapun berobat. Pada kelompok ini kadang ada sebagian pindah berobat ketika setelah pengobatan 2 tahun si anak tetap batuk-batuk.
- Kedua: orang tua terkejut, merasa tidak ada yang TBC di sekitarnya. Karena ingin sembuh, tetap nurut minum obat TBC selama 6 bulan. Ketika 6 bulan berlalu tetap batuk dan dikatakan belum sembuh tetap mau melanjutkan minum obat.
- Ketiga: orang tua setengah percaya setengah tidak percaya saat dikatakan flek dan harus minum obat TBC selama 6 bulan. Diam-diam mereka mencari second opinion untuk meyakinkan benar tidaknya si anak menderita flek (TBC).
URUN REMBUG
- Jika dakwaan tersebut menimpa anak atau kerabat , bagaimana sikap para pembaca?
- Apa saran pembaca terkait fenomena di atas ?
Semoga bermanfat
Topik Terkait:
- IDAI : Ikatan Dokter Anak Indonesia, soal Flek paru
- Sosialisasi TB Paru Belum Maksimal
- Suara orang tua
- Orang tua yang gundah
- TBC Dinkes DKI
- Diagnosis TBC pada anak
Hi…hi…hi…
PERTAMAX
Kayaknya aku termasuk korban diagnosa FLEK PARU, waduh waktu SD disuntikin terus 2X seminggu sampai 2 th (sampai-sampai sekarang phobi sama suntikan).
Sekarang aku malah terheran-heran karena waktu bayi divaksin BCG kok masih terkena Flek.
Wah ngak bisa rembug. Soalnya waktu visit medical bulan ke-3 utk si Vicky, aku tanya soal vaksinasi BCG. Dokter bilang nanti jika sudah berumur 2 th saja atau mau dibawa ke negara yg beresiko anak terkena TBC atau sebelum masuk sekolah. Tambahnya lagi: ada kemungkinan dihapus wajib vaksinasi BCG.
Ini ada cerita konyol (menurutku).
Sebelum aku bawa si Ines ke Indonesia, sudah divaksin BGC & dicheck jika vaksinnya jalan. Tapi Bapakku selalu melarang dia bermain dengan anak-anak kampung, alasannya mereka itu batuk-batuk & ingusan. Nanti bisa tertular dan parahnya bisa terkena TBC.
Hal ini menyebabkan pertengkaran antara Denis (eks-suami) & bapakku.
Menurut Denis, engak apa-apa biar antibodi latihan bekerja & anak nanti kebal sendiri, tapi si Bapak tak mau tahu. Sehingga Denis menyebut Bapakku: RACIST!!!
@ juliach,
wah, baru aja ngedit, sudah disambar pertamax.
Hehehe, mencicipi pengobatan flek paru tempoe doeloe ya
Sekarang entah dari mana asal-usulnya, kecenderungan itu muncul lagi. Pro kontra, biasalah lagu dalam negeri dan budaya ewuh pekewuh.
Soal mulainya BCG tidak sama untuk negara maju dan negera berkembang, seperti indo yang memberikan bcg sejak lahir. Ada program: “The Global Plan TO STOP TB 2006-2015″. Negara maju mungkin sudah duluan bebas TBC. Bisa dimaklumi jika dokter Vicky menetapkan planning seperti itu.
Tentang cerita konyol, keduanya sama-sama benar jika mengacu pada hubungan argumen yang dipakai. Berdasarkan perkembangan imunologi (kekebalan) anak, saya memihak Dennis, boleh kan ? hahaha
pak..anakku juga di curigai kena TB.. udah dua kali suntik BCG (oya..dokter anakknya nyuntik BCG ankku di pahanya…bukan di tangan)..pertama suntik BCG usia satu bulan..trus di suntik lagi usia 9 bulan karena bekasnya ga muncul aja..
Oya anakku juga lincahnya minta ampun..trus makannya banyak..tapi karena enggak gendut..orang dirumah pada curiga.
di tunggu sarannya ya pak
lah…masalah flek paru ini Dok, kadang bikin pusing atau bingung para ortu termasuk saya.
kejadiaanya saya punya pengasuh dari Nasywa lahir, pokoknya dia ini is the best deh! saat saya mo ke apotik Mbaknya ini minta dibeliin “rifampicin”. Saya beliin juga, walaupun bingung krn kata Mbaknya ini obat batuk.
Saya penasaran karena selama saya batuk belum pernah minum obat ini. besoknya saya langsung browsing internet penasaran dgn “rifampicin “, masya Allah…..ternyata obat TBC. rasanya mau pingsan, tau semua ini. Bagaimana caranya saya ngomong baik2 ke Mbaknya tanpa harus menyakiti, soalnya ini menyangkut nasib Nasywa.
akhirnya atas saran DSA nya Nasywa, Mbaknya disuruh Rontgen kalo positif ya hrs berobat, tp dia memilih pulang.
alhamdulillah Nasywa sehat, sempat jg sih diberi obat TBC sama DSA nya ktnya untuk pencegahan, tp tidak saya minum
kan, lah Nasywa tiap bulan berat badannya naik dan makannya juga OK kok.
dok, adek wi kemaren baru aja didiagnosis “flek paru”
hasil rontgennya emang ada flek, tapi tes BTA nya (-) kok, trus dikasih obat sama dokternya yang harus diminum selama 3 bulan.
tapi wi blum lihat salinan resepnya..
nah klo BTA - artinya bukan TBC dunk??
Jadi gregetan ama dokter nakal (padahal adikku suami-istri dokter, kakak sepupu juga dokter, he he he)
Menjawab tantangan cakmoki, kalo kerabat yang divonis Flek paru:
- Langsung naik banding, cari info dari bebrapa dokter ahli lain (sesuai spesialisasinya)yang punya reputasi bersih, sekaligus bawa hasil tes lab dan radiologinya.
- Saran saya, seperti yang pernah saya alami ketika divonis radang sinusitis, jangan langsung dituruti kalo harus mengalami pengobatan panjang begitu, balik ke poin di atas, mending cari second or third opinion. Kalo emang udah “banding” maupun “kasasi” masih diovonis flek, ya mesti berobat…
Btw, pasien kayak saya, rewel ya dok?
ambil langkah yang ke3
Ning juga gak gemuk2 amat, dan kebetulan mbak yang sekarang ini ringkih, sering batuk..dia juga cerita kalau suaminya pernah kena paru2 basah alias TB waktu d kampung. agak takut2 juga, cuman karena gak ada pilihan dan sepertinya dia gak batuk cekrah cekreh gt ya aku tetap pekerjakan.
Lagian Ning juga maemnya mau khok, walaupun gak gendut tapi montok..hehe
ya mungkin mempelajari dulu gejala-gejalanya lebih detail terus jangan hanya berpegang pada satu opini dokter!
@ mariana silvania,
Kronologisnya bagaimana Bu?
Kita perlu mengetahui maksud “dicurigai” TB. Maaf, saya agak berprasangka, jangan-jangan kata-kata “dicurigai” berlanjut dengan pemberian obat TB.
Kecurigaan TB pada anak, diantaranya mengacu pada: gejala (gejala TB pada anak BUKAN didominasi batuk, melainkan panas naik turun, berat badan cenderung turun, kurang nafsu makan). Ada pula batuk yang tidak kunjung sembuh disertai panas naik turun dan BB menurun. Gejala di atas masih perlu konfirmasi dengan pemeriksaan Mantoux test (tes tuberkulin), Laju endap darah dll.
Menurut saya, jika ibu meragukan, alangkah baiknya konsultasi dengan DSA lain. Atau sebelumnya silahkan lihat tautan topik terkait yang pertama. Semoga bukan
@ evi,
Saya ikut bersyukur Nasywa sehat. Sayang sekali mbaknya terlanjur pulang. Maaf nih, mungkin si mbak tersinggung. Bisa jadi mbak tersebut minum Rifampisin hanya karena ikut-ikutan saja. Toh obat TB bukan hanya Rifampisin, masih ada INH, Pirazinamide, Ethambutol dan B6. Inipun diminum sedikitnya 6 bulan.
Jangan-jangan pengasuh Nasywa tidak menderita TB, soalnya dia titip Rifampisin saat ibu ke apotik dengan alasan untuk batuk, berarti obat tersebut tidak rutin kan ?
Rupanya kasus semacam ini meluas ya. Perlu diskusi lanjutan nih
@ dwi,
Yang dimaksud adik itu usia anak-anak(kurang 12 th) atau dewasa?
Hal ini penting lantaran manifestasi klinis (gejala) berbeda pada anak dengan dewasa. Itupun perlu dilihat secara klinis “nampak sakit” atau “tidak nampak sakit”
Hasil rontgen memang ada flek, maaf itu tulisan radiolog apa memang nampak ada gambaran spesifik ?
Kayakya usia dewasa ya, soalnya ada BTA. Anak kan nggak mungkin bisa ngeluarkan dahak. Jika BTA negatif atau meragukan, BTA diulang hingga 3 kali. Pada dasarnya, menegakkan diagnosa TB Paru tetap menggunakan kaidah kedokteran, yakni: anamnesa, gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (lab, Ro, dll).
Pemberian obat 3 bulan tanpa penjelasan lain, saya meragukan karena pengobatan TB paru sedikitnya 6 bulan, menggunakan obat panduan WHO dan Depkes RI.
Setuju, lihat copy resepnya dulu. Perlu juga dipertimbangkan second opinion.
@ n0vri,
aha, sip sharing pemikirannya. Moga dapat diikuti para ortu yang lain. Punya kerabat dokter malah enak dong, bisa diskusi panjang.
Tentang pasien bertanya, sudah memang haknya. Idealnya dokter dan pasien atau keluarganya ber-sparing partner dalam hal pengobatan.
Di praktek, para pasien kami biasakan bertanya, berpendapat bahkan boleh ngeyel. Ini penting untuk menjalin komunikasi dan transfer pengetahuan agar proses pengobatan berjalan sesuai harapan. Inipun seorang dokter hendaknya bersikap legowo, memberikan kesempatan kepada pasien untuk konsultasi dengan dokter lain yang lebih ahli.
Bukan monopoli. Niscaya dokter demikian akan lebih dipercaya para pasiennya. Saya pribadi lebih suka jika pasien banyak mengerti tentang penyakit. Selama ini, walau pasien sudah tahu penyakitnya, nggak ngobati sendiri koq, masih tetap berkunjung, ehm … nganter shodaqoh. hahaha
Wah, ALhadulillah kalo ketemu dokter yang sabar mau dengerin pasiennya kayak Cakmoki. Beberapa dokter yang saya temui di Jakarta juga begitu, tapi umumnya udah senior.
Sebagai pasien, saya juga sadar kompetensi saya, jadi saya hanya berusaha memastikan bahwa vonis yang diberikan dokter adalah murni vonis berdasarkan diagnosa medis, bukan diagnosa lainnya (apalagi diagnosa ekonomis, maaf ya dok
). Begitu dijelaskan dengan jawaban yang memuaskan, saya akan sangat patuh terhadap pengobatan dokter, kan dokter memang yang punya kompetensi mengobati. Minum obat berapapun banyaknya dan seringnya, tetap saya jalani, lha wong saya mau kembali sehat.
Semoga dokter-dokter muda mau ikutan dokter ideal yang mau mendengarkan… hidup dr. Moko!
@ mei,
Paru-paru basah, istilah yang amat sangat sulit didiskripsikan. Apa betul yang dimaksud TB dan minum obat 6 bulan?
Batuk sekali-sekali dengan interval cukup lama, belum tentu TB.
Jika meragukan ngga ada salahnya Rontgen atau BTA. Kan bu Mei banyak relasi tho
@ XWOMEN,
Betul, setuju !!! *kayak kampanye* hehehe
@ n0vri,
Saya ikut gembira masih banyak dokter sabar, moga dijadikan panutan untuk yang lain khususnya saya sendiri.
Mudah-mudahan pula nantinya para pasien dan masyarakat Indonesia tambah pinter, seperti di negara maju *menghayal dikit*
DIAGNOSA EKONOMIS, hahaha memang ada dan nyata.
Trims do’anya pak, semoga kami-kami senantiasa mendapatkan bimbingan-Nya
anakku belum di kasih obat TB sih pak..berat badannya alhmd naik terus..dan masih dalam ukuran normal(klo diliat dari Kartu kesehatannya).Sekarang lagi ga batuk (dulu pernah) ..jarang pilek. nafsu makannya bagus.ga mau diem alias aktif banget..
di curigai tertular karena badannya ga gendut..dulu pernah batuk-batuk.pernah panas tinggi,waktu pilek. tapi trus yang bantu2 dirumah, keluarganya ada yang menderita TB (ada 4 orang anggota keluarga nya yang kena).
klo tentang suntik BCG yang ga ada bekasnya itu gimana pak? udah dua kali disuntiknya..apa perlu imunisasi BCG lagi ?
@ mariana silvania,
Yang dimaksud bekas, ada jaringan parut kecil, kayak bekas luka.
Menurut saya nggak perlu BCG lagi, kan sudah 2 kali.
Pada umumnya, anak-anak mengalami batuk, adakalanya lama. Belum tentu TB. Kebanyakan karena virus.
Bisa saja seorang anak tiap bulan sakit panas, batuk pilek karena ketularan sekitarnya atau sebab lain.
Seiring dengan bertambahnya umur, daya tahan tubuh anak akan meningkat dan makin jarang sakit. Boleh dibilang proses pembelajaran mengenal penyakit sekaligus membentuk daya tahan tubuh.
Syukurlah tidak minum obat TB walaupun sempat dicurigai TB.
Soal berat badan biasalah, itu kan hasil rumpian ibu-ibu kalo pas ngumpul, atau merasa nggak enak sama ibu lain yang punya anak gendut. yang penting mau makan-minum, bermain, aktif dan sehat. Ya kan ?
Moga si kecil tetap sehat. Sudah bisa minta adik belum? *bercanda*
assalammu’alaikum..warahmatullah..wabarakaaatuh..!
hadirin sidang jum’at yg dimuliakan Allah..
*padahal skrg hari selasa*
cak, ga bisa pake krim muka ya buat ngilangin flek di paru nya? hehe47x…
*masih korslet abis UTS*
@ calonorangtenarsedunia,
UTS-nya bisa nggak ?
Jangan-jangan belajarnya Sistem Kebut Semalam. hehe47x…
wah kasian yang nggak tau klo gitu…
kasian banget yah yang ’salah’ diagnosa.. melanggar kode etik ga dok?
Kalo paru-paru basah itu gimana pak?
Saya kena waktu umur 6 bulan…
@ junthit,
ya pak, karena itulah kita berkewajiban menyampaikan informasi yang benar kepada khalayak dan saling berbagi, agar para pasien tahu akan hak-haknya, tidak segan untuk bertanya.
@ grandiosa12,
Enggak pak, bukan masalah etika namun lebih kearah teknis medis. Pada kasus tertentu, kesalahan tindakan medis bisa dianggap “medical error”. Mungkin suatu saat nanti perlu dibahas.
@ manusiasuper,
Paru-paru basah sebetulnya tidak dikenal dalam dunis medis. Bahwa seorang dokter mengatakan Paru-paru basah (apa ada yang kering?) mestinya disertai penjelasan tentang penyakitnya.
Bisa saja istilah serupa dipakai agar mudah diingat, misalnya: “kerumut” sama dengan campak atau morbili.
Di tempat kami ada juga pasien menyebut paru-paru basah. Saya berkewajiban menjelaskan sesuai hasil pemeriksaan sambil memperkenalkan penyakit sebenarnya. Hal ini penting agar pasien mendapatkan informasi yang benar, tidak bias.
Jika pak mansup dulu pernah dikatakan menderita Paru-paru basah kemudian mendapatkan obat 6-9 bulan, kemungkinan yang dimaksud oleh dokter yang merawat adalah TB. Jika tidak diikuti dengan pengobatan di atas, mungkin paru-paru basah tersebut bukan TB. Lha, bias tho.
Setidaknya dengan diskusi kecil-kecilan begini, kita ikut membangun wacana kesehatan.
semoga bisa dilanjut tulisan njenengan soal ini cak, soale jadi momok para orang tua cak!
Aku ra moco, Cak. Mung arep ngandhani nek pindah omah.
@ peyek,
Insya Allah pak. Saya siapkan artikel lengkapnya. Maturnuwun
@ Kang Kombor,
Nggih Kang, maklum koq, njenengan kan lagi sibuk.
Jadi link yang ini ya. Atau tak masukkan semua aja dah, ben lengkap.
Maaf Kang, nggak bisa ngewangi langsung. Mbantu do’a aja ya
bisa doooonnkk…
hana gt loh!!
@ calonorangtenarsedunia,
Biasanya kalo bisa uts or us ada acara makan-makan.
Selamat
Mana, manaaa Han ?
ah,,
makan2 sih nanti aja kalo nikahan, cak…
wakakak47x…
@ calonorangtenarsedunia,
Makan sendiri aja ah
Kalau obat TBC diminum anak/orang yang tak TBC, dampaknya apa dok??.., Untung Cak Moki nggak ikut trend. Kalau semua dokter kayak Cak Moki, pabrik obat TBC kebat-kebit dunk cak?… he…he…he **langsung kabur…, terus tidur**
@ faiq,
Dampak medis sangat individual. Ditinjau dari sudut farmakologi, membebani kerja liver (metabolisme) dan ginjal (ekskresi or pembuangan). Menanggulanginya dengan makanan bergizi dan banyak minum.
Dari sudut biaya, buang uang yang tak perlu. Dan buang waktu.
Anak-anak di indonesia rata-rata batuk 4-10 kali dalam setahun.
Dalam sehari anak batuk-batuk yang berobat sekitar 5-10 anak. Kalo semua dituduh TB, Indonesia banjir obat TB. hahaha
dok..klo test ICT TB positif tuh artinya positif TB ya ?
@ mariana silvania,
Nggak mesti, test tersebut hanya menunjukkan infeksi, bukan menunjukkan penyakit TB.
Pemeriksaan tersebut tidak lebih baik dari test Tuberkulin (mantoux test) pada anak. Sedangkan pemeriksaan ICT pada dewasa menurut saya hanya buang uang dan waktu. Toh jika positif harus periksa Kuman Batang Tahan Asam (BTA) melalui dahak. Pembuktian ada tidaknya pengakit paru pada ICT positif adalah dengan membuktikan ada tidaknya kuman, dengan pemeriksaan BTA (dahak) atau biakan kuman.
Jika ada gejala fisik yang mengarah ke TB, lebih efektif jika periksa langsung BTA (pada dewasa). Selain biaya murah, pemeriksaan tersebut (BTA) jika menunjukkan hasil positif, berarti TB.
dok, anaku udah di test ICT TB. Hasilnya positif, leokosit tinggi : 10.400 .di foto torax menunjukkan sedikit bercak.
aku juga udah di tes ICT, hasil nya degatif, Udah test BTA1, 2,3 hasilnya juga negatif atau tidak ada bakteri tahan asam.
test darah normal.ro torax ; Hili kasar dengan corak paru bertambah. tidak tampak KP aktif ataupun kelainan Lain..
gimana atuh ya anakku..harus di test mantux dulu ?
@ mariana silvania,
Ok, ICT TB positif, menunjukkan ada infeksi, bukan lantas serta merta sakit TB. Leukosit naik nggak seberapa. Sayang foto rontgen nggak lihat sendiri. Tulisan bercak kemungkinan diskripsi radiolog di lembar diskripsi. Jika tidak didukung data klinis misalnya panas naik turun lebih 2-3 minggu, berat badan cenderung turun dan anak tampak sakit, terus terang saja saya meragukannya. Diagnosa TB tetap berangkat dari gejala klinis. Batuk lama, bukan tanda khas pada anak untuk mendiagnosa TB.
Beberapa ahli anak menyebutkan kemungkinan lain misalnya asma (tidak selalu mengi), bronkitis atau batuk alergi. Keluhan ini seringkali didiagnosa TB.
Test Mantoux boleh, untuk meyakinkan, acuannya tetap tanda klinis seperti di atas.
Sedangkan hasil pemeriksaan ibu, jelas tidak ada apa-apa.
Kalau boleh usul, rasanya perlu second opinion ke dokter lain. Bisa saja saya salah. Saya hanya menyayangkan apabila anak-anak yang bukan TB, didiagnosa TB.
Semoga diberikan jalan terbaik untuk anak ibu.
makasih banyak ya dok…seneng deh bisa nge-blog sambil konsultasi.
pagi nadya udah mulai di kasih obat..Abi-nya Nadya mutusin ngasih obat..:(( sedih sih liat dia minum, Nadya paling susah minum obat. ..tadi warna pipisnya merah…mungkin pengaruh obat ya.
Tapi nanti aku akan bawa anakku ke spesilis paru anak .. sekalian test Mantux..mohon doa atuh ya dari semuanya…
@ mariana silvania,
Sama-sama Bu, saya juga senang bisa berdiskusi.
Ya, warna merah pada air seni karena zat warna dari Rifampisin.
Saya sependapat untuk konsultasi ke dokter paru. Jika dokter paru sebagai second opinion memutuskan minum obat jangka panjang, berarti itulah yang terbaik untuk Nadya.
Semoga diberikan kesehatan bagi ibu sekeluarga
dok, ternyata oh ternyata adek wi dikasih rifampicin,, heran juga knpa cuma 3 bulan dan, knapa dikasih rifampicin padahal BTA - ??
mohon pencerahan..
@ Dwi,
Pemeriksaan BTA 3 kali dan hasilnya BTA - (negatif), bukan TB. Berarti tidak ada indikasi pemberian Rifampicin.
Pemberian obat 1 (bulan) dimungkinkan jika ditujukan untuk profilaksis, misalnya bepergian ke daerah yang nyata-nyata endemis.
Boleh koq nanyaken kepada dokter yang merawat alasan pemberian rifampicin (ada yang lain nggak, misalnya: IHH, etambutol, pirazinamid, vit B.6).
syahdan
ada korelasi positf antara obat anti-TBC dengan ke-pikun-an (!)
bagaimana nih boss ?
wah … jadi takut juga nih …
Soale anak saya 1,5 th dah 3 minggu batuk belum sembuh, sudah 3 kali difisioterapi karena dahaknya ga bisa keluar.
terahir pindah dokter diinfoin Bronkitis
ada dahak antara tenggorokan & dada …obat yg dikasi Citocetin,amoxine,Sirplus … ( klo kaya gini TB bukan dok? ) ….
ditunggu pencerahannya
@ siNung
Soal itu belum berani komentar deh, soalnya banyak variabel.
Jangan-jangan obyek penelitian sebelumnya sudah pikunan, hahaha
@ bulleballi,
Mungkin benar bronkitis atau batuk alergi.
Kalau dahaknya nggak bisa keluar biasanya agak lama, perlu dipertimbangkan tambahan pengencer dahak (ekspektoran) misalnya: sirup Ambroksol 3×1 sendok takar, disamping obat yang sudah ada.
Moga si kecil cepat sembuh
@41
> GERIATRI
> Buku Ajar Geriatri ( Ilmu Kesehatan Usia Lanjut )
> Oleh : Prof. dr. R. Boedhi Darmojo, dr. H. Hadi Martono
cmiiw

@ siNung,
Hahaha, ini instruksi ya.
Ayo dong nulis, boleh dimuat di sini koq. Jadi author ya
salam sejawat dok..

mau ikutan rembuk dikit..dari pengalaman pribadi,kadang emang susah susah gampang untuk menegakkan diagnosa tb paru, apalagi pada anak. ada pengalaman, pasien anak dengan x foto suspek spesifik proses, LED tinggi, BB gak naik2, batuk pilek berulang, nnll colli teraba & tidak nyeri,panas sumeng tiap malam..maksudnya supaya mantep saya rujuk ke Sp.A untuk kepastian diagnosa, oleh Sp.A di test Mantoux tapi hasilnya negatif..akhirnya ga jadi diagnosa Tb, tapi setelah di kasi obat oleh Sp.A tetap aja gak sembuh.Saya pikir reaksi anergi, akhirnya saya putuskan terapi TB, setelah 2 bulan evaluasi ternyata hasilnya baik. menurut dokter, apa memang mantoux test satu2nya baku emas diagnosa Tb? dari yang saya ketahui, bila dari tanda dan gejala sugestif Tb,kita masih bisa kasih terapi tb dan evaluasi dalam 2 bulan, bila membaik berarti tb, bila tetap/memburuk berarti bukan tb atau MDRT Tb.
Repot ya dok,saya juga bingung kalo dapat pasien,yang katanya berobat ke dokter dibilang anaknya kena bronkitis tapi mesti berobat 6 bulan,kena paru-paru basah berobat 6 bulan ( apa yang dimaksud paru2 basah itu efusi pleura ya?
eh dok, sebenarnya siapa sih yang bikin istilah2 flek paru, paru2 basah itu..waktu kuliah gak pernah diajarin kan ya?
ok deh salam kenal..
@ Tito,
Salam kenal mas Tito, terimakasih telah berbagi.
Menurut referensi dan panduan IDAI, test Mantoux tidak spesifik, begitu juga radiologis, kecuali milier.
Beberapa kali diskusi dg ts SpA, klinis tetap memegang peranan penting.
Memang ada pendapat yang pakai sistem evaluasi 2 bulan.
Selama ini px yg mendapat tx TB (ada yg sampai 2tahun) sy konsul ke dr paru, tidak ada satupun yg TB, rata-rata asma. Beberapa bulan lalu ada dimuat soal ini di majalah dokter kita, cenderung asma.
hehehe, kalo istilah flek saya gak tahu siapa yg memulai, rasanya udah lama sekali, termasuk paru-paru basah (kalo kering kripik paru
). Yg saya ketahui pasien yg didiagnosa paru-2 basah mendapatkan terapi TB, berarti istilah lain untuk TB makin kabur. Ini pernah dikritik keras oleh Prof Iwan Darmansjah dan beberapa SpA senior.
Sekali lagi maturnuwun
ohya, saya biasa dipanggil cak oleh temen-temen blogger, gak pakai dok-dokan hehehe
Efusi pleura masif -> ini pengobatannya gimana ya klo boleh tau? adik saya TB Paru, udah jalan obat sekitar 4 bulan, tapi menurut dokter masih perlu ‘operasi’ -> doketr menjelaskan dengan istilah operasi, untuk mengambil nanah yg ’sudah mengerak’ yg dimaksud dgn operasi apakah pembedahan atu hanya diambil dengan jarum suntik?
trim’s
@ paunk,
Efusi pleura pengobatannya dengan aspirasi atau penyedotan cairan dalam pleura menggunakan jarum khusus.
Untuk pengobatan TB Paru berarti kurang dua bulan lagi, biasanya akan sembuh stelah pengobatan 6 bulan.
Moga jawaban singkat ini membantu dan semoga adik segera sembuh
» ke atas
Salam Dok
tolong jelaskan keterangan hasil lab, karena dokter yang menangani saya tidak memberikan keterangan yang lengkap
Thorax lateral:
infíltrat di perihiller dan parakardial tdk tampak pembesaran KGB hilus, cor dlm batas normal, sinus kosto tumpul, kesan:TB tersangka dg efusi pleura kanan
USG Thorax:
Tampak anekoik dgn jaringan nekrotik di pleura kanan volume 500-750cc dgn kedalaman 3-4cm
kesan:efusi pleura kanan
apa yang dimaksud dengan LED? karena nilai saya 102 dan itu 10 kali lipat dari orang dewasa normal
Hasil cairan yang sudah diambil, untuk keterangan gramnya tertuliskan “tidak terdapat kuman” apakah masih aman?
kenapa cairannya tidak mencapai 500cc & sebagian tercampur dengan darah?
berapa kali saya harus melakukan penyedotan?
untuk gambar dapat dilihat di http://allabout.myself.web.id/rontgen/
trima kasih
@ Ari,
salam,
dokter yg merawat tidak menjelaskan secara lengkap kemungkinan agar tidak menimbulkan rasa cemas.
Idealnya adalah perpaduan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (rontgen, usg, lab). Namun demikian saya akan mencoba menjelaskannya.
Ok, gambar sudah saya lihat.
Rontgen:
Jelas ada cairan di pleura kanan. Efusi=cairan, pleura=selaput antara dinding paru dan dinding dada.
Infiltrat maksudnya peradangan, perihiller=sekitar hilus, pericardial=sekitar jantung, KGB=kelenjar getah bening, cor=-jantung.
Artinya:
Ada cairan di pleura kanan dg tanda peradangan, hal ini diperkuat dengan LED=laju endap darah yg tinggi (ini untuk konfirmasi Rontgen).
Adapun Jantung: normal.
TB=TBC, di rontgen biasa ditulis gitu, maksudnya tersangka adalah agar tidak dikesampingkan penyakit TBC sebagai penyebab timbulnya cairan di pleura. Hal ini dicocokkan dengan pemeriksaan fisik pleh dokter yg merawat. Kalo mengarah ke sana kan diberikan obat selama 6 bulan.
Cairan yg diambil harus diperiksa ada tidaknya kuman untuk melihat penyebaran kuman. Jika tidak ada kuman (dibuktikan dengan pemeriksaan Gram yg artinya deteksi kuman dg pengecatan Gram), maka cairan tersebut tidak ada kumannya. Kalo ingin lebih spesifik bisa saja cairan dibiakkan untuk melihat ada tidaknya mikroorganisme lain selain kuman. Namanya disebut kultur (pembiakan). Namun perlu waktu lama (sekitar 1 minggu).
Jumlah cairan yg diambil tidak selalu cocok dengan prakiraan melalui rotgen, perhitungan melalui rotgen adalah perhitungan matematis yg banyak dipengaruhi oleh berbagai hal, sedangkan hasil penyedotan adalah angka riil. Biasanya akan diambil berulangkali selama masih ada cairan hingga cairan habis agar tidak sesak atau nyeri dada.
Melihat cairan jernih kekuningan, sepertinya aman. Darah yg tercampur dg cairan tentu akan dianalisa oleh dokter, apakah karena darah dari bekas penyedotan atau berasal dari cairan pleura. Saya menduga darah berasal dari proses penyedotan (sepanjang tusukan jarum), karena jika dari pleura warna cairan tidak kuning tapi kemerahan dan homogen.
Rasanya sudah terjawab semua ya, eh kalo merasa masih ada yg belum terjawab boleh dilanjutkan.
Moga segera sembuh
trima kasih banyak dok atas pencerahannya, semoga sukses selalu buat dokter
salam
@ Ari,
ok, sama-sama.
trims juga atas supportnya
Salam dok!
sy udah minum obat dari dokter, knapa akhir2 ini tulang sy sedikit linu/ngilu, dan nadi sy detaknya sedikit cepat dari sebelumnya, dan berat tubuh sy jadi naik, knapa semuanya itu terjadi?, ato gara2 obat yg sy minum?,
oh iya apakah penyakit sy ini disebut juga Pneumonia, seperti Post blogger terakhir di blog dokter?
trima kasih dok,
Cak, say acoba dibantu informasi, kata dokter anak saya, anak say ayang baru 11 bulan ini terkena flek dan diberi pengantar untuk ke lab cek darah dan rotgen, Anak saya memang nggak bisa naik berat badannya 11 bulan beratnya 6 Kg, berat lahirnya 2,6 kg, kalau pilek sama batuk mulai dari umur 5 bulan jadi pajak bulanan, cuma akhir-akhir ini dia batuk dan pilek nggak sembuh2 hampir 3 minggu ini. diberikan anti biotik amoxilin sama dokternya bisa sembuh tapi seminggu kemudian batuk2 lagi .. apakah ini gejala dari TB Cak ??
mohon bantuannya
Thanks ^^
@ Tanti,
Bisa jadi dokter yg memeriksa berlandaskan pemeriksaan klinis (fisik).
Tanda klinis TBC pada anak lebih didominasi oleh panas yang naik turun dalam waktu lama dan berat badan yg tidak kunjung naik, namun berat badan juga dipengaruhi oleh banyak faktor.
Untuk lebih jelasnya, silahkan bertanya kepada dokter anak yg ngeblog, alamat beliau adalah: doktere arek cilik
moga ananda segera sembuh
nama saya ana, baru-baru ini saya periksa ke dokter saya didiagnosa ada flek diparu2 saya tapi BTA negatif,saya juga ada penyakit bronchitis asmatis, tapi saya di beri obat yang untuk flek, saya masih bingung dok,apa sih flek paru2 itu?kalau BTA negatif apakah masih dibilang TBC apa bedanya dengan TBC?apakah ada hubungannya antara bronchitis yang saya derita dengan flek paru2 saya?apakah dengan pengobatan yang lama ini(6 bulan) batuk saya bisa sembuh total?terima kasih ya dok or cak
@ mita,
ok mita, pengobatan 6 bulan adalah pengobatan untuk TBC. Mungkin penamaan flek paru ditujukan agar tidak panik, namun sebenarnya menjadi bias. Kalo BTA positif, pasti TBC… kalo negatif tapi dokter masih curiga TBSC, maka BTA diulang hingga 3 kali dan kalo hasilnya tetap negatif berarti bukan TBC.
TBC dan Bronkitis sih ga ada hubungannya, wong keduanya penyakit yg berbeda.
Kalo TBC, biasanya sembuh total.
Lha kalo batuknya karena bronkitis atau Asma, maka pengobatan 6 bulan gak ada pengaruhnya, artinya batuk akan tetap datang jika kena dingin, debu or asap…
Moga berguna, dan semoga segera sembuh
terima kasih ya infonya, berarti kemungkinan batuk saya sembuh total jauh dari harapan dong karena saya ada asma dan bronchitis, saya sudah test BTA 3x dan hasilnya negatif, kalau bukan TBC, trus TBSC apa ya cak? kalau bukan TBC terus apa gunanya pengobatan 6 bulan cak? maaf ya banyak nanya abis saya masih penasaran. thanq so much
@ mita,
ok
maaf mita, asma tidak bisa sembuh, namun bisa dikendalikan, gak perlu kecil hati, yang penting ready obat asma yang paling nyaman untuk mita.
Kalo udah BTA negatif 3x dan jelas batuknya karena asma, bisa dipastikan bukan TBC.
i dont know.
Jika di praktek pribadi saya menemui kasus seperti ini, saya akan mengambil 2 langkah pilihan kepada pasien:
1. Menghentikan obat TBC yang 6 bulan itu, dan
2. Mempersilahkan meneruskan obat 6 bulan kalo pasien menghendakinya, disertai penjelasan bahwa penyakitnya bukan TBC …
hehehe…ini hanya pendapat pribadi saya lho, selebihnya tentu saya menghargai dokter yg merawat mita
So, its up to you
Trims
thank you so much for the info, tapi saya mau tanya lagi nih maaf ya cak, kemarin saya cek up ke dokternya saya tanya masalah ini beliau bilang flek ini tetap TBC meskipun BTA negatif, apa begitu dok? oya kalau saya teruskan pengobatan meskipun bukan TBC apa tidak ada efek sampingnya untuk saya, tapi kalau tidak ada efek sampingya utk saya akan saya teruskan,oya saya mau tanya memang ada ya penyakit paru-paru yang kerendem cairan tetangga saya ada yang menderita penyakit ini beliau juga menderita penyakit jantung apa karena penyakit jantungnya maka paru-parunya kerendem cairan? itu disebabkan oleh apa ya cak?trus apa sih itu broncheapnhemonia? apa itu juga disebabkan oleh flek paru?maaf ya dok pertanyaan saya karena disekitar saya banyak yang menderita penyakit paru-paru yang aneh?
thanks a lot ya dok, maaf merepotkan…………………………..
@ mita,
ok, bisa saja seperti itu, kalo emang dokternya yakin setelah melakukan pemeriksaan, karena pemeriksaan BTA emang sulit, walau nyata TBC belum tentu BTA-nya positif.
Efek samping obat selalu ada, namun dengan banyak minum dan cukup makanan bergizi, efek samping dapat diminimalisir.
Paru-paru kerendem cairan? Menurut saya, lebih tepat : ada cairan di paru, mungkin yang dimaksud efusi pleura yakni adanya cairan di pleura paru. Penyebabnya banyak, kebanyakan karena infeksi, di pleura ataupun penjalaran dari infeksi sekitar jaringan paru.
Bronchopnemonia adalah salah satu infeksi jaringan paru dan saluran pernapasan…
Penyakit paru jenisnya emang banyak, gak aneh-aneh koq, cuman mungkin karena kurang penjelasan…
ok, sama-sama
waduh apa tuh penyebabnya “Flek Paru - Paru” pak…
@ jhal,
Flek paru-paru, kalo yang dimaksud oleh si dokter adalah TBC, penyebabnya: bakteri or kuman
terima kasih pencerahannya dok, tapi saya mau tanya lagi dok, ada kasus orang yang kena efusi pleura ciri-cirinya sesak nafas, setelah diperiksa ada cairan diparu-parunya,cairan pun disedot, setelah seminggu kemudian di periksa lagi dokter memvonis kanker paru stadium 4, tidak lama kemudian orang itu meninggal, kok serem banget ya, cairan itu darah, air or dahak dok? kalau flek paru itu bukannya diparu-parunya itu juga ada semacam cairan, apakah itu sama kasusnya dok?oya 1 lagi dok apakah kipas angin atau angin kalau sedang naik motor berbahaya untuk paru-paru dok, karena kalau habis naik motor or kipas angin saya suka sesak nafas,trus kalau kecapean juga saya suka sesak apakah itu ciri2 orang yang kena flek paru dok?tolong infonya ya dok, thanq so much……………..
@ mita,
ya, cairan or efusi pleura hanyalah dampak or tanda, sedangkan penyebabnya macam-2. Tidak selalu kanker paru.
Cairan tergantung penyebabnya. Kalo kanker biasanya berisi darah.
Ini beda dengan Flek paru. Adakalanya pada flek paru terjadi juga efusi pleura jika ada penyebaran infeksi ke pleura. Jika tidak ada penyebaran, maka tidak akan terjadi efusi pleura.
Tentang kipas angin dan angin saat berkendara sepeda motor, bisa saja menyebabkan seseorang sesak, terutama pada penderita asma atau bronkitis alergi… ini sih gak bahaya, cuman menjadi pencetus. Karenanya menurut saya kalo berkendara sepeda motor sebaiknya pakai pelapis di dada.
Thanks too
sbnrnya, cuma oknum aj. dokter ga semua spt itu, dan jika memang yg terjadi spt itu, knapa gak mikir yg positif aja. masyarakat harus percaya kepada dokter yg diminta pertolongan. jgn lupa ya, terlalu nyari2 kesalahan itu..
@ wita,
bener, saya sependapat… hanya oknum, emang gak semua… apa saya nulis semua? enggak lah … Namun jangan sampai menjadi trend mengingat model beginian sudah hampir merata, walau gak semua … atau nunggu semua ?
Dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) juga sudah memperingatkan para anggotanya secara online melalui salah satu tulisan dokter spesialis anak di situs IDAI.
Perlu diketahui, koreksi or share antar sesama dokter sudah sangat biasa, terbuka dan dinamis. Dan ini sudah dibiasakan sejak masih pendidikan…. bisa dibilang “self assessment”, … kecuali yang takut dan lebih suka diam (ngikuti arus ?)
Sayangnya, belum ada teman dokter yang membantah tulisan ini dan mendiskusikannya secara terbuka.
Menurut saya, untuk mencari kebenaran tentu harus tahu kesalahan, kemudian menginventarisir, lalu mencari jalan keluarnya … apalagi menyangkut penyakit berpotensi endemis semacam ini.
Maaf kalo berbeda visi ya … hehehe
maaf lo cakmoki, saya baru buka blog anda. saya disini ga mau berdebat dan ga mau jg dibilang ga sopan. jd saya skrg mau bertanya saja: menurut cakmoki, efek dari missdiagnosa tentang TB dengan overdiagnosa TB didaerah indonesia tercinta yg msh endemis ini, manakah yg paling memberikan efek buruk paling banyak?iya, saya juga tau efek samping obat TB. tp kriteria diagnosa TB memang ‘begitu mudah’ ditegakkan hanya dengan tanda2 klinis & pemeriksaan penunjang, dan semuanya ini memang membutuhkan ‘kebijaksanaa’ dari pihak tenaga medis. Saya juga senang ada orang spt cakmoki yg peduliiiiiii sekali tentang hal ini.tp.. gmn ya..(mengutip:’Tak peduli imunisasi lengkap, tak peduli si anak tak nampak sakit, tak peduli si anak lincah pencilakan, pokoknya ™ FLEK Paru dan minum obat jangka lama”.)hem,…
@ wita,
boleh koq berdebat ataupun beda pendapat, gak perlu sungkan
Menurut saya, secara umum overdiagnosa TB ya karena missdiagnosa, karena bukan TB didiagnosa TB … ini umum lho.
Nah, jika yang dimaksud missdiagnosa adalah penderita TB tapi tidak didiagnosa TB, saya rasa tidak ada satupun yang berani membuat komperasi tanpa data akurat, kecuali jika hanya beropini. Inipun akan pro-kontra. Tentu keduanya memiliki dampak buruk.
Yang pertama (missdiagnosa) beresiko penyebaran, sedangkan yang kedua (overdiagnosa) beresiko resistensi, selain biaya dan waktu pengobatan yang panjang.
Keduanya tidak serta merta dapat dibandingkan karena variabelnya beda, kecuali dilakukan pendekatan statistik sebagai parameter.
Dari beberapa pasien yang didakwa TB Paru dan saya rujuk ke Spesialis Paru di kota kami, tidak satupun yang TB Paru, so..
Di luar itu, perlu diingat bahwa ada satu variabel penting yang sering dilupakan, yakni pasien (dan keluarganya). Mereka bukan obyek lho, melainkan makhluk hidup yang punya harkat.
Apakah mereka layak begitu mudahnya didakwa TB Paru lantas “dipenjara” dengan masa pengobatan yang mestinya tidak mereka alami?
beberapa kali ditemukan anak penderita asma diberikan obat TB 6 bulan, dilanjutkan lagi 9 bulan bahkan 2 tahun dan wa akhirul kalamun, setelah selesai dan dinyatakan sembuh, tak lama kemudian kambuhlah batuk dan sesaknya setelah ada faktor pencetus. Nah !!!
Bagi sejawat yang tidak pernah bergaul dan bertamu ke masyarakat kebanyakan di kampung-kampung, mana tahu fenomena dan keluhan pasien terdakwa TB Paru yang seperti ini ?
Oya, saya sudah sering mempertanyakan dan memunculkan masalah ini di forum terbuka yang melibatkan banyak pihak, bukan hanya internal kesehatan. Mengapa ? Supaya kejujuran, karena salah satu hakikat aplikasi ilmu kedokteran adalah “kejujuran” dalam arti jangan ada penipuan.
Memang upaya seperti ini tidak mudah dan selalu banyak tantangan wa bil khusus dari kalangan internal medis.
Namun itu hanya riak kecil, yang pada saatnya nanti jika masyarakat kita sudah pada pintar, riak-riak tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Maaf ini pendapat saya, yang merasa tidak hanya hidup di dunia hanya untuk mencari uang, namun ada saatnya kita dimintai pertanggung jawaban.
Thanks
mengutip lagu dari seurius band: “dokter juga manusia,..”
@ wita,
hahaha … ya kali
Trim Cak atas infonya…saya lagi cari second opinion nih.
anak saya (2,4 th, BB 12kg) sering pilek (tidak batuk), terus oleh dokter dimt test darah, tes manthoux & rontgen. hasil tes darah ada 3 yg ktnta tdk normal, KED/LED nya 35-70, segmen 40,limfosit 58. sedangkan tes manthouxnya negatif, hasil rontgent menunjukan bercak-bercak perselubungan peri bronchial (+) & peri hiller kanan (minimal, kelenjar lymphe hillus kanan menmadat, bronchial marking peri hiller kasar sehingga dicurigai PKTB, DD/Allergica bronchitis. melihat hasil ini dokter memvonis flek dan harus minum obat slm 6 bln, tapi tidak langsung saya turuti…karena anak saya nafsu makannya baik dan lincah. saya cari info ke dokter lain, kemungkinan tdk flek/TBC, tapi alergi. Gimana cak? apa hrs tes alergi? mhn sarannya. trim
Hallo,
Mau tanya nih, saya kebetulan skrg dalam masa pengobatan flek paru (sudah 3 bulan). Saya dikasih obat TBC juga oleh dokter yg merawat saya. Dan memang manjur, sekarang saya tidak pernah batuk lagi, berat badan naik terus (dulu sebelum berobat 50kg, skrg sudah 58kg). Nah yang ingin saya tanyakan itu ttg bekas flek di paru2nya. Saya ingin tahu berapa lama bekas flek hitam di paru2 itu hilang? Mohon ada yg bisa menjawab. Makasih.
Hendy
@ abyb,
gini, sebenarnya kunci menegakkan diagnosa paling utama adalah pemeriksaan fisik, barulah pemeriksaan penunjang lab, rontgen dll sebagai alat bantu jika dirasa meragukan.
Kalo keluhan utamanya pilek, bersin atau kadang buntu sih, menurut saya bisa jadi Rhinitis allergica, pilek karena alergi yang sering dipicu oleh: debu, dingin, asap, dll.
Kalo Rontgen sih gak spesifik untuk anak, apalagi Manthoux test negatif.
Menurut saya gak perlu test alergi, untuk apa ? Ntar hasilnya bisa puluhan jenis, kan malah repot tuh kalo hasilnya alergi roti, nasi, tepung, gandum dll, bisa puluhan … hehehehe
Coba ke dokter lain deh, atau beri obat misalnya: actifed syrup, minumnya kalo pas pilek aja.
Moga berguna
@ hendy setyo mulyo,
Pertama:
Obat harus sampai 6 bulan, full ..gak boleh berhenti walau merasa enakan.
Kedua:
Setelah 6 bulan dan dinyatakan sembuh, gak ada lagi bekasnya, kecuali kalo ketularan lagi oleh orang lain.
Moga segera sembuh seperti sediakala
5 tahun lalu saya menjalani medical check up sbg syarat family visa disebuah kedutaan. waktu itu hasil/reportnya FAIL karena kata dokter di klinik rujukan kedutaan, dari hasil rontgen, paru2 saya dinyatakan ada flek nya. saya kaget banget karena waktu itu (s/d sekarang alhamdulillah), saya tidak merasa ada keluhan batuk2 atau gejala tbc lainnya.saya jelaskan ke dokter bahwa keperluan visa saya adalah untuk ikut tinggal dengan suami bukan untuk kerja dan menyatakan bahwa saya akan segera berobat sesampai dinegara tujuan, pada akhirnya dokter itu berbaik hati (mungkin gak tega juga karena dulu saya msh pengantin baru)dgn mengganti report saya menjadi FIT dan memberikan resep obat yg harus saya minum utk menghilangkan flek tsb. Tetapi sampai sekarang saya tidak pernah memeriksakan diri ke dokter disini ataupun sekedar mengkonsumsi obat yg diresepkan dokter tsb.alasan saya tidak pergi ke dokter, karena menurut info yg saya dengar dinegara tempat tinggal saya ini sangat ketat ttg kesehatan pendatang, penderita tbc atau paru2 termasuk yang “haram” untuk bisa tinggal disini, kalau terbukti berpenyakit ini maka akan dipulangkan.(gawat kan..jauh dari suami..)
pertanyaan saya,
1. flek paru yg tdk ada gejalanya apa ada kemungkinan tbc?dari info yg saya dengar, flek pada paru juga bisa berasal dari polusi asap kendaraan atau udara malam yg dingin, keduanya mungkin terjadi pada saya karena dulu saya pernah kerja dan kuliah malam hari.
2. obat apa yg harus saya minum?(krn resep obat dari dokter yg dulu..entah terselip dimana..)
3. apa sekarang saya harus periksa/rontgen lagi ke dokter waktu pulang ke indonesia?
semoga pak dokter ngga bosen jawab pertanyaan2 dari saya…terima kasih ya pak dokter baik hati!
@ wanti,
1. Diagnosa ditegakkan atas dasar klinis (wawancara or keluhan or anamnesa dan pemeriksaan fisik). Jika curiga terhadap penyakit tertentu atau meragukan, barulah dilakukan pemeriksaan penunjang, misalnya: rontgen, darah, urine, kimia darah, biakan kuman, dll, dll.
Repotnya, sebagian dokter kita masih ada yang hanya mengandalkan hasil pemeriksaan penunjang semata, terlebih jika menyangkut medical ceck-up.
So, pemeriksaan fisik or tanda klinis tetap merupakan prioritas utama, kalaupun dilakukan pemeriksaan penunjang, tetap pada alur sinkronisasi.
Jika yang dimaksud Flek Paru adalah TBC, maka penyebabnya adalah tertular oleh kuman Mycobacterium tuberculosa, bukan disebabkan dingin, polusi dan sebagainya. Faktor-2 tersebut hanya sebagai pemicu doang bukan penyebab.
2. Kalau bukan TBC dan gak ada keluhan, gak perlu obat apapun. Dan jika TBC (ini dibuktikan dengan adanya keluhan dan pemeriksaan sputum), maka harus minum obat 6 bulan.
3. Menurut saya gak perlu kalau gak ada keluhan. Lagipula, kita kan belum tahu diskripsi hasil rontgen-nya. Kalo bisa disalin ntar kita bahas, jangan-jangan hanya dugaan karena ahli radiologi kan memeriksa rontgen tanpa memeriksa pasiennya.
Moga berguna …
Cak,
Anak saya (11.5 bln,7.25kg/70cm bb lahir 3.2kg) belum didiagosa flek paru atau TB or penyakit yg lain. Kemarin konsul ke dsa ttg betapa BB nya sulit naik, kadang kepalanya anget2 ga jelas, makan sussahhhh bgt.
Test lab darah (LED 15), urin (menyingkirkan kemungkinan ISK, hasil negatif smua) dan foto thorax (kesan : ada flek, trus infiltrat2 gitu deh n suspect PKTB).Behavior anak ttep aktif, daya tahan tubuh alhamdulillah jarang sakit meski sering travelling). Tidak ada batuk, pilek, bab sehari 1-2 kali tidak diare.
Kira2 gimana ya Cak baiknya? kalo memang TB saya gpp pengobatan 6 bulan itu. tapi apa yang bisa menegakkan kalo itu memang bener TB?
tks sarannya
@ nora:
berarti masalah utamanya BB sulit naik karena ga mau makan.
Pemeriksaan rontgen pada bayi tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran walaupun menunjukkan ada infiltrat. Suspect artinya dugaan or tidak menutup kemungkinan adanya TB Paru, namun pemeriksaan fisiklah yang paling penting.
Kalo dsa tidak mengatakan TB (setelah beliau memeriksa anak dan lab penunjang) berarti menurut beliau bukan TB Paru.
Pemeriksaan penunjang lain kayaknya normal aja tuh.
Tentang Berat Badan dan ga suka makan sering dikeluhan para orang tua. Menurut saya, anak ga bisa dipaksa makan. Bisa saja si anak sukanya hanya jajanan atau bahkan ga suka makanan apapun, sukanya malah mainan.
So BB tidak naik belum tentu karena penyakit lho.
Jika masih ragu dan ibu merasa bahwa anak ada gangguan, boleh second opinion ke dsa lainnya.
Atau bisa juga konsul ke dokter spesialis paru, jika curiga TB paru.
Di tempat kami, ada puluhan anak didakwa TB paru (flek paru) trus minum obat 6 bln hingga ada yang 2 tahun, setelah selesai tetep saja.
Cak Moki,
Mau curhat sedikit nih. Naila (4 thn) sudah 3 minggu lebih batuk2. Tanpa panas, tanpa pilek. Nafsu makan baik, anaknya juga tetap lincah. Kemarin2 ini batuk biasanya malam menjelang tidur dan saat bangun pagi. Tapi nggak pernah terbangun malam untuk batuk2, alias tidurnya nyenyak. Seminggu belakangan batuknya kira2 jam 8-12 siang (bukan malam lagi).
Setelah 2 minggu diberi Cefat dan obat batuk oleh DSA langganan, saya ‘naik banding’ ke DS Paru2 Anak. Oleh beliau dicurigai asma karena saya punya riwayat asma. Tapi karena dengan Ventolin nggak membaik juga, akhirnya beliau minta Naila ditest PPD (mantoux), rontgen paru2 & lateral, dan test darah (darah rutin, morfologi darah tepi, IgE, dan SGOT/SGPT tanpa LED).
Harilnya:
- PPD negatif (0 mm)
- Rontgen, oleh DS Radiologi ditulis terdapat bercak dan noda keras, suspect TBC
- Nilai2 darah rutin normal, lekosit 6500, morfologi tidak terdapat sel lekosit muda, IgE cukup rendah dalam batas normal (saya lupa persisnya).
Dengan hasil ini, DS Paru2 Anak nggak berani menegakkan diagnosa TBC. Kemungkinan alergi juga kecil karena IgEnya rendah. Beliau menyarankan untuk menunggu dua minggu, bisa jadi ini adalah infeksi virus dengan penyembuhan yg lama. Dan Naila hanya diberi puyer kombinasi Ventolin dan Mucopect.
Tapi beliau minta, kalau 2 minggu ke depan masih tetap batuk2, kemungkinan besar terapi TB akan dimulai.
Kalau sempat, saya minta tanggapan Cak Moki ya :). Makasih banget sebelumnya…
@ yanti:
iya, nampaknya tidak mengarah ke TB Paru.
Bisa jadi emang virus. Bisa pula asma or alergi walaupun lab gak mendukung.
Adakalanya anak mengalami batuk hingga berminggu-minggu dan pada pemeriksaan penunjang ga ditemukan kelainan apapun.
Kita tunggu 2 minggu ke depan, moga sebelum itu Naila udah sembuh.
Thanks share-nya
makasih juga ya Cak :). yang saya rada penasaran, kira2 vlek & noda2 di paru2nya itu karena apa, kalau bukan TBC?
@ yanti:
Jika hasil follow up nanti ternyata bukan TB Paru, bercak atau noda-noda di paru bisa saja: dahak, peradangan lokal oleh mikrorganisme selain TB, gambaran peningkatan pembuluh darah, kelenjar getah bening, dll.
Trims
Halo Cak Moki,
Skrg ini terapi TB saya sudah 6 bulan.
Berat badan saya sudah naek 15kg dibanding saat awal pngobatan. Bulan lalu saya dirontgen dan tampak ada perbaikan meskipun bayangan vleknya belum hilang benar. Akhirnya oleh dokter saya disuruh melanjutkan pengobatan dan 2 bulan lagi saya akan dirontgen lagi untuk mengetahui perkembangannya lagi. Akan tetapi akhir2 ini saya merasakan adanya sesak nafas sedikit meskipun tidak pernah batuk. Jika saya berolahraga sesak nafas saya ini hilang, tapi jika tidak, maka muncul kembali. Apakah sesak nafas saya ini bisa dibilang normal, karena saya belum 100% sembuh total?
Terima kasih sbelumnya.
@ hendy setyo mulyo:
halo
adakalanya keluhan sesak timbul walaupun sudah dinyatakan sembuh, ini karena “bekas” TB yg menimbulkan “gejala sisa” di saluran pernafasan.
Kita tunggu hingga 2 bulan ke depan. Tapi kalaupun setelah sembuh total keluhan tersebut masih ada, gak papa.
Moga segera pulih kembali
Trims
Malem cak ….
mau cari 2nd opinion berbasis web :D,
Tadi sore mrikasiin si kecil umur 8.5 tahun. Udah batuk berdahak (tapi batuknya ngak sering2, ngak ngikil kata orang jawa). Kalo malem berkeringat (sejak kecil kalo tidur begitu, berkeringat). Setelah diperiksa ada benjolan di sekitar leher, paru-paru bersih (via rotngen). BB badang datar…. ngak naik juga ngak turun, anaknya lincah, main bola, renang dan makannya baik.
kemudian diperiksa darah,hasilnya
Hemoglobin 12,4
Leukosit 7.400
NETROFIL batang 2
NETROFIL SEGMEN 47
Limfosit 44
LED 1 jam 10
Kemudian dikatakan kemungkinan TB (Flek) dan diberikan obat,
pronicylage
salbutamol
trilac
mucopet
aminophylin
inoxin
rifampicin
Menurut cak bagaimana apakah sy perlu melakukan test BTA dulu sebelum memberikan obat
terima kasih sebelumnya
wawan-jogja
salam kenal….
setahun yang lalu anak saya Hatta (6 tahun) di diagnosa terkena flek paru ( dari hasil rontgen-ada bercak, test darah dan BB yang susah naik). Setelah 1 thn pengobatan, saya rasa kok tidak ada perubahan, masih sering batuk (terutama malam hari), BB tetap susah naik (saya sampai sering sedih melihat Hatta yg kurus sekali), saya hentikan pengobatan tanpa konfirmasi ke Dokternya, dengan pertimbangan saya kasihan dgn Hatta yg harus mengkonsumsi obat-obatan terus (dengan hasil yg tidak memuaskan )dan saya sangat mengkhawatirkan keadaan ginjalnya.
Apakah Hatta terkena asma bukan flek paru? Apa ciri anak yg menderita asma? Apakah ada hubungannya antara asma dan BB yang susah naik?
Menurut Cakmoki, apa yg harus saya lakukan? Terus terang saya sangat bingung dgn kondisi Hatta, saat ini saya hanya berusaha menjaga pola makannya(makannya lumayan,tp klo lagi sakit langsung drop) sehari 3 kali,memberi Vitamin (seven seas) dan susu.Tp saya masih ragu apakah flek parunya(kalau memang benar) sudah hilang(dgn melihat kondisi Hatta yg sedikit sekali perubahannya)?
@ wawan:
maaf ketinggalan
Hasil lab dan rontgen tidak menunjukkan TB Paru.
Sedangkan obat di atas adalah gabungan antara obat TB dan obat asama atau batuk berdahak.
Pembesaran kelenjar leher (limfadenitis) tidak serta merta menggambarkan TB. Bisa karena sebab lain semisal: penjalaran infeksi saluran nafas atau reaksi infeksi.
Dokter tersebut tidak salah karena beliau hanya mengatakan kemungkinan dan belum menetapkan skedul pengobatan.
Saya sependapat, periksa BTA lebih dahulu untuk memastikan, namun harap diingat bahwa pemeriksaan BTA sangatsulit, apalagi pada anak.
Semoga segera teratasi dn pulih seperti sediakala
Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan jawaban ini.
@ bunda lia:
salam kenal juga
Hail rontgen pada anak sangat sulit untuk menentukan diagnosa TB paru, …lagipula, bercak tersebut bisa disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya: gambaran infeksi, gambaran peningkatan vaskularisasi (pembuluh darah) yg biasa terjadi pada bronkitis dan asma.
Menurut saya, dengan tidak adanya perubahan setelah pengobatan TB selama 1 tahun (mestinya 6 bulan udah bersih kalo emang benar TB paru), bisa jadi bukan TB Paru, dan tidak menutup kemungkinan perkiraan ibu benar bahwa anak menderita asma.
Tanda asama bergantung pada gradasinya, jika berat akan terdengar suara khas (mengi) karena sesak terutama saat udara dingin semisal pada malam hari. Pada asma ringan, tak ubahnya seperti batuk alergi yang lain, yakni: sering batuk terutama malam hari, kadang nafas berat dan biasanya anak belum merasa sesak, namun dokter akan mengetahui tanda-tanda sesak ringan dengan melihat tarikan otot diantara iga dan waktu ekspirasi yang relatif lebih panjang dari normal (dengan pemeriksaan stetoskop).
Adapun berat badan pada anak umur segitu adakalanya susah naik karena aktifitasnya relatif tinggi.
Menurut saya tak ada salahnya konfirmasi ke dokter spesialis paru, sekaligus menceritakan bahwa anak sudah mendapatkan pengobatan TB selama 1 tahun (kalo bisa dengan copy resepnya)
Moga penjelasan ini membantu, teriring do’a mudah-mudahan ananda segera sehat kembali
trims
Dengan Hormat,
Saya adalah orang yang beraktivitas dari pagi hingga malam hari, sehubungan dengan pekerjaan dan studi saya. dalam keseharian saya menggunakan sepeda motor.
2 minggu yang lalu, saya didiagnosa bronchitis acut. dari hasil rongent radiolog mengatakan “gambaran bronchitis. tak tampak aktif KP”. setelah membaca hasil rontgen dokter saya juga mengatakan bahwa tidak ada TBC. saya diberikan obat-obat sebagai berikut,
5 hari pertama diberikan:
1. Dexaflox, sehari 2 x 1 tablet setiap 12 jam ;
2. Ambroxol, sehari 3 x 1 tablet.
pada saat kontrol dokter menilai dahaknya masih “bandel”, saya diberikan obat sebagai berikut :
1. Dexaflox, sehari 2 x 1 tablet setiap 12 jam ;
2. 2 jenis obat lainnya yang katanya pengganti ambroxol (saya lupa namanya)yang katanya keduanya untuk batuk, hanya fungsinya yang satu untuk mengencerkan dahak, dan yang satu lagi untuk mengeluarkan dahaknya.
yang ingin saya tanyakan :
1. pada saat sakit saya berkeringat cukup banyak, apakah benar ini adalah salah satu gejala bronchitis ? saya takut ini adalah TB.
2. Pada saat sakit kemarin, saya pernah mengeluarkan dahak berdarah tetapi hanya terjadi pada pagi hari saja (siang dan malam dahaknya biasa), darahnyapun tidak terlalu banyak (dahaknya lebih dominan) saya menduga ini akibat dari saya terlalu kencang berdahaknya. apakah ini juga bisa terjadi pada penderita bronchitis ? saya takut, karena setahu saya ini adalah salah satu gejala TB.
3. Kemarin (8 April 2008) obatnya sudah habis, tapi saya masih mengeluarkan dahak berdarah, walaupun sekarang dahaknya hanya bercak saja dan frekuensinya sudah sangat sedikit. sayapun masih suka batuk terutama jika kedinginan, oleh karena itu jika tidur saya menggunakan jaket. apakah ini biasa dalam proses penyembuhan ?
4. Kondisi badan saya sudah normal (tidak demam), keringat normal, aktivitas juga sudah lancar. dokter saya bilang kalau sudah tidak apa-apa tidak usah kontrol lagi. tapi saya masih mengeluhkan dahak dan sedikit batuk. bagaimana saran bapak ?
5. Berat saya saat ini 97 Kg, nafsu makan juga normal (terus terang makan saya cukup banyak). dokter saya mengatakan dengan berat segitu, kemungkina TB sangat kecil. apakah benar demikian ?
6. apakah benar orang yang menggunakan sepeda motor lebih rentan terkena bronchitis ?
7. saya pernah membaca dalam dalam “cover” obat KONIDIN. disitu dikatakan bahwa KONIDIN dapat mengurangi batuk sisa-sisa bronchitis. apakah mungkin batuk yang masih “bandel” ini adalah yang dimaksud batuk sisa-sisa bronchitis ? lalu apakah minum KONIDIN juga adalah solusinya ?
Terima kasih, mohon jawabannya.
@ INDRA:
*
dengan hormat, * ehm, formal banget…santai aja ah
1. Enggak. Rata-rata jika demam akan keluar keringat banyak, apalagi dengan berat badan segitu. Pun demikian pula pada batuk yang berat. So, keringat banyak bukan berarti menunjukkan kedua penyakit di atas.
2. Keluar darah saat batuk bisa terjadi pada semua batuk yg kencang karena iritasi saluran pernafasan. Memang benar, salah satu tanda TBC diantaranya keluar darah saat batuk, tapi bukan berarti kalo batuk ada darah lantas disebut TBC. Lagipula hasil pemeriksaan fisik maupun Rontgen bukan TBC.
3. Ya, ntar batuk tersebut akan berangsur hilang, kadang hingga lebih seminggu atau bahkan 2-3 minggu seperti halnya batuk karena alergi. Gak papa, yg penting udah diobati dan bukan TBC.
4. Saran saya, teruskan obat pengencer dahak (ekspektoran), misalnya: ambroxol atau bromhexin atau carbocistein atau glyceril guaicolate. Dan minum air hangat dalam jumlah banyak sebagai ekspektoran (untuk mempermudah pengeluaran dahak)
5. Tidak. Semua orang (dengan berat tubuh berapapun) bisa kena TBC jika ada sumber penularan disekitarnya dan kondisi tubuh pas tidak sehat.
6. Benar. Karenanya dianjurkan menggunakan pelindung dada dengan kertas koran atau plastik atau jaket kulit yang setidaknya dapat mengurangi terpaan angin or embun secara langsung. Dan kalo perlu menggunakan pelindung wajah untuk menghindari debu.
7. Menurut saya jangan menggunakan konidin mengingat obat tersebut mengandung (salah satunya): dekstrometorfan yang bekerja menekan batuk dan di sisi lain menimbulkan penyempitan saluran nafas (bronkus), sehingga dahak gak bisa keluar, bisa-bisa malah sesak. Emang kebanyakan obat batuk (yang dilempar di pasaran) di Indonesia hampir selalu diembel-embeli klaim bisa untuk segala jenis batuk, namanya juga jualan…bahkan iklan beberapa obat batuk, sekali minum langsung sembuh….hehehe.
Moga penjelasan singkat ini bermanfaat, teriring do’a mudah-mudahan segera sembuh … thanks.
Terima kasih jawabannya pak dokter.
ada beberapa lagi yang lupa saya tanyakan.
1. Dokter saya menyarankan agar saya berolahraga renang. bagaimana mekanismenya sehingga renang dapat membantu menyembuhkan/mencegah bronchitis ? bukankah orang bronchitis harus menghindari dingin ?
2. apakah ambroxol, bromhexin, carbocistein dan glyceril guaicolate bisa dibeli tanpa resep dokter ? mana yang lebih baik diantara obat-obat tersebut ? lalu berapa kali sehari dan selama berapa hari ?
Terima kasih sebelumnya.
@ INDRA:
1. Benar. Renang adalah salah satu olahraga (berat) yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh karena semua anggota badan aktif bergerak. Ini akan memperlancar peredaran darah dan metabolisme dalam tubuh kita, sehingga daya tahan (terutama) paru-paru dan jantung akan meningkat dan otomatis menjadi lebih sehat. Hanya saja olahraga ini sulit untuk dilakukan secara rutin, namun jika bisa rutin tentu sangat menguntungkan.
2. Bisa. Sama aja koq, semuanya berfungsi mencairkan dahak dan memudahkan pengeluaran dahak, cuman cara kerjanya yang berbeda. Setiap orang gak sama,ada yg merasa enak dengan ambroxol, ada yg enak dengan bromhexin, dst…bahasa awamnya: cocok-cocokan.
Cara minum sama: 3×1 sehari, bisa diminum dalam jangka lama
Thanks
cak, mau tanya. kalau udah dinyatakan sembuh dari TB, apakah bisa muncul lagi?
teman dekat saya ada yang dinyatakan paru-paru basah kalau gak salah ada tambahan ‘kondisi seperti tbc’. dia dalam pengobatan dan katanya, obatnya mirip dengan obat untuk TB. kebetulan, 1 atau 2 tahun yang lalu, dia juga pernah didiagnosa tb. hari ini masuk bulan ke-5 pengobatan dari 6 bulan pengobatannya.
waktu dia masih sma dulu, dia cukup aktif merokok. tapi, menjelang masuk kuliah, dia sudah tidak merokok aktif lagi. hanya sesekali dan bisa dihitung dengan sebelah tangan dalam 4 tahun terakhir ini. tetapi, lingkungan di sekitarnya merupakan perokok aktif. ayah, kakak, kakak ipar dan beberapa temannya suka merokok. apakah ini adalah salah satu pencetus? karena setau saya, TB juga diakibatkan perokok pasif. kebetulan juga, ayahnya dulu pernah TB. apakah dia tertular oleh ayahnya? tapi, itu pun masa waktu dia smp atau sma. jadi udah lama.
waktu dia pertama kali tb, dia sbenarnya harus dirawat dan disedot cairan paru. tapi tidak dilakukan dan dibolehkan untuk rawat jalan. kalau gak salah setelah 6 bulan pengobatan gratis dari rmh sakit, dia dinyatakan sembuh.
lalu, waktu bulan november 2007 kemarin, dia merasakan gejala yang mirip dengan yang sebelumnya. setelah itu, dia kembali ke tempat dia berobat pertama kali, dan didiagnosa sama dengan penyakit yang dideritanya 1-2 tahun yang lalu.
karena gak percaya, dia cek ke dokter paru. kebetulan, di kota kami ada rmh sakit khusus paru. di sana di rontgent, bta, cek darah, dll. saya lupa hasilnya apa aja. yang pasti, diagnosis dokternya adalah seperti yang saya tuliskan di atas (kurang lebih yang saya pahami adalah begitu).
di awal pengobatannya yang sekarang, dia disedot cairan paru. setelah disedot, dia merasa enakan. napas gak terlalu sesak lagi. sekarang juga dah naik berat badannya. dulu itu, 56-an. tadi baru dicek, 64. batuk udah nggak. cuma katanya, dia merasa pada dada-nya masih terasa…apa ya? bisa dikatakan masih belum enak banget (kalo gak salah, ini waktu bulan lalu). waktu ditanyakan pada dokter yang merawatnya, katanya ‘karena masih pengobatan. gak apa-apa.’ tapi, dia masih khawatir.
akhir-akhir ini teman saya jadi cukup khawatir dengan tes kesehatan saat masuk kerja. apakah akan berpengaruh, cak? maksudnya, saat tes masuk kerja tentunya ada medical check-up yang tempatnya telah ditentukan oleh perusahaan tempat melamar. apakah dengan rontgent yang mungkin masih tergambar adanya flek pada paru atau bercak pada paru akan menghambatnya dalam melamar pekerjaan? eh, apa ini salah konsul ya? kalo gitu, minta pendapat ya…
maaf kalo banyak banget curhat-nya..
thx b4.
@ 91:
Kalo udah dinyatakan sembuh beneran (setelah minum obat 6 bulan) dan dibuktikan dengan hasil cek BTA, maka gak akan muncul lagi, kecuali tertular lagi dari sumber penularan di sekitarnya, ini dinamakan reinfeksi, bukan kambuhan….berbeda lho
Sedangkan adanya cairan (pleural effusion/efusi pleura) bisa jadi karena TB-nya yang menyebabkan penjalaran infeksi ke pleura dan timbul cairan sehingga emang harus disedot sampai habis agar dada tidak merasa berat dan sesak.
So, selain mengobati penyakit primernya (TB), dokter yg merawat juga mengobati “efusi pleura” dengan menyedot secara berkala sesuai hasil rontgen serta obat-obatan yg dianggap perlu oleh dokter.
Tentang melamar pekerjaan:
Jika sudah sembuh, gak ngaruh… sebaiknya pakai rekomendasi dokter Paru yang merawat, karena kalo rontgen ulang trus dokter perusahaan gak ngerti kronologisnya, bisa-bisa main vonis hanya berdasarkan rontgen baru yang gak selalu sama dengan rontgen follow up dari dokter paru.
Karenanya, sekali lagi mintakan rekomendasi hasil pengobatan setelah sembuh untuk kepentingan apapun, termasuk melamar pekerjaan.
Moga penjelasan singkat ini berguna…Trims
mmm…begitu ya…
terima kasih, ya, cak.
btw, tentang reinfeksi, apakah setelah masa pengobatannya yang sekarang ini -selama dia berada dalam ketahanan tubuhnya yang menurun- saat terkena atau berinteraksi dengan teman atau orang lain yang terkena tb, dia akan terkena tb lagi?
apakah perlu meminum suplemen makanan, seperti stimuno, supradyne atau semacamnya agar ketahanan tubuh tetap terjaga baik setiap hari?
apakah perlu adanya pemeriksaan berkala setelah masa pengobatan 6 bulan, walaupun udah dinyatakan sembuh oleh dokter paru, cak?
thx b4..
@ 91:
iya, kemungkinan re-infeksi hanya terjadi ada sumber penularan dan dalam kondisi seperti diatas. Itupun masih perlu dibuktikan dengan pemeriksaan fisik dan penunjang ( dahak, rontgen ).
Suplemen artinya konsumsi vitamin dan mineral. Jika kita sudah makan dan minum cukup gizi, mengandung karbohidrat, lemak, protein, sayur mayur, lauk pauk dan buah dalam jumlah cukup, suplemen tidak diperlukan lagi karena hakekatnya, suplemen yg dijual isinya sama dengan yg kita makan sehari-hari dalam makanan dan minuman.
Pemriksaan berkala tidak begitu diperlukan jika sudah dinyatakan sembuh oleh dokter sp paru, kecuali jika ada keluhan yang tanda-tandanya mirip dengan saat pertama kali menderita TB. Gak mesti mengarah ke TB lantaran seseorang yg sembuh dari TB kadang mengeluh sesak, batuk, nyeri dada, bahkan batuk darah ..dll..padahal udah sembuh. Keluhan semacam ini dinamakan sequelae atau “gejala sisa’, bukan berarti masih ada sisanya lho…ilustrasinya begini: kalo kita kena sayat pisau, lantas diobati hingga sembuh, tak jarang meninggalkan “sisa” or “bekas” luka, …seperti inilah yg dimaksud dengan sequelae.
Thanks
Oooh…begitu….
yup! saya sudah cukup mengerti sekarang.
terima kasih, cakmoki.
oya, maksud “tidak ditemukan kuman (atau basil ya?) TB” apa? apa berarti hasil bta (atau hasil lab penunjang lain) negatif?
thx b4…
@ 91:
betul
.. jika BTA (-) 3 x pemeriksaan, berarti ok
duh..ribet nih..curhat gpp ya..lg cari bahan tentang TBC..pusing..
gak lagi-lagi dah..
@ rezt:

hehehe, bukan di sini kalo cari bahan…ini mah menyangkut aplikasinya ke pasien dan masalah diagnosa terutama bagi anak.
Moga dapat bahan bagus di http://www.emedicine.com
Indra lagi nih pak dokter. manu nanya :
Frekuensi batuk saya sudah sangat berkurang. tetapi kenapa yah dahaknya masih saja ada, terutama pagi hari. bahkan pagi hari terkadang dahaknya sangat kental warnanyapun hijau dan kadang2 kemerahan. Apakah mungkin awalnya bronchitis lalu bisa merembet jadi TB ?
@ INDRA:
Enggak, kalo Bronkitis ya Bronkitis sedangkan TBC disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa. Keduanya adalah penyakit yang berbeda, lagi pula TBC adalah penyakit menular, so kalaupun seseorang yg tadinya misalnya menderita bronkitis lalu menderita TBC berarti TBC-nya karena ketularan dari orang lain entah di mana dan entah kapan terjadinya.
Ato, bisa pula ekspektoran di atas dikombinasi dengan bronkodilator, yakni obat untuk melebarkan saluran pernafasan agar dahak lebih mudah keluar. Obat ini biasa dipakai untuk asma, tapi bisa juga untuk bronkitis. Apalagi jika penderita bronkitis merasa berat or ampek saat bernafas.
Contoh: Euphyllin retard mite 125 mg, diminum 2-1/2 atau 2×1. Atau salbutamol 2 mg diminum 3×1/2 tablet (supaya gak berdebar)… hingga batuk berdahak hilang.
Berarti, dapat menggunakan salah satu dari bronkodilator (euphyllin or salbutamol) dan salah satu dari ekspektoran (bromhexin, ambrokxol, dll).
Catatan:
Semua obat bronkodilator memiliki efek samping berdebar or lemes, karenanya dosis yang saya anjurkan di atas adalah dosis rendah untuk menghindari efek samping. Jika dengan dosis normal gak mengalami efek samping, bagusnya pakai dosis normal.
Dalam praktek sehari-hari adakalanya digunakan kombinasi Bronkodilator, ekspektoran dan kadang ditambah dengan steroid.
Moga segera sembuh
sip!
terima kasih atas info dan saran-sarannya, cakmoki…
@ 91:
sama-sama…Trims
sekali lagi nih dok, bener deh setelah ini saya gak nanya lagi, he3.
waktu hari sabtu kemaren saya dites dahak, dengan sistem SPS (Sewaktu - Pagi - Sewaktu), karena kata dokter tes dahak lebih akurat dari rontgen. hari sabtunya diambil sampel, dan dikasih obat salbutamol 2×1 dan GG 3×1. sampel berikutnya diambil senin. anehnya pada saat hari senin pagi dahaknya malah gak mau keluar, begitu pula siangnya. yang keluar hanya dahak biasa, bahkan lebih banyak ludahnya. Petugas laboratorium malah berkata : “dilihat dari warnanya saja negatif pak, mungkin bapak cuma alergi, tapi tetap akan kami tes”. hasil tes itu belum saya bawa, mungkin besok baru saya bawa.
Anehnya lagi tadi pagi dan sore ini (sesaat sebelum saya menulis pesan ini), keluar lagi dahak yang mencurigakan. Mungkin karena faktor psikologis kali ya dok, pas mau dites malah gak keluar. yang membuat saya makin penasaran, saya selalu berkeringat malam (biasanya tidak sebanyak sekarang)
Untuk memenuhi rasa penasaran saya, adakah cara lain untuk mengetes TB selain rontgen dan tes dahak, misalnya dengan tes darah? dan biasanya biayanya berapa, jawab ya dok….terima kasih.
@ INDRA:
yaaaaaa … boleh dong…kita kan diskusi, tentu sangat bermanfaat bagi saya dan mungkin bagi yang lain.
Emang bener bahwa tes dahak (BTA) adalah tes paling akurat dibanding lainnya untuk memastikan TB Paru, so gak diperlukan Tes Darah … ntar malah buang duit yang gak ada manfaatnya.
Disamping keakuratannya, Tes Dah juga dikenal sangat sulit, karena gak mudah mengeluarkan dahak, seringnya malah liur, dimana-mana gitu dan itu juga disebutkan dalam referensi, walaupun udah dikasih ekspektoran seperti GG. Jalan lain, dosis GG nya ditambah menjadi 4×2, kalaupun masih sulit saat tes Dahak karena berbagai faktor, setidaknya ada hasil Tes Dahak walaupun tidak full SPS.
Adapun keluar keringat banyak pada malam hari, tidak serta merta mengarah pada penyakit tertentu, banyak faktor yang mempengaruhinya.
Ditunggu hasilnya ya <