Bila si kecil sulit minum obat

Potret sebuah keluarga kecil kala buah hati sedang sakit.

Obat sirupBetapa sedihnya saat si kecil sakit, rewel, ogah makan atau minum, minta gendong terus, sulit minum obat lagi. Huhhh. Ahhh. Uhuhuhu huaaa
Tak jarang, para ibu ikut menangis, dalam hati ataupun linangan air mata. Jika bisa, ingin rasanya menggantikan sakit si kecil, ingin rasanya menjadi tumbal penderitaan si kecil.

Ketika si kecil sakit dan sulit minum obat, orang tua kalang kabut dibuatnya. Bekerja tak lagi nyaman, tidur tak lagi nyenyak, bahkan rela terjaga demi si kecil yang sedang dirundung lara.
Segala upaya sudah ditempuh, bujuk rayu dihembuskan. Apa mau dikata, obat yang dipaksa dicekokkan di mulut mungil si kecil, tetap berhamburan. Keluarlah obat dan isi perut si kecil bersama muntahan.
Apa yang akan dilakukan jika ilustrasi di atas menimpa anak kita?
Katakanlah si kecil sudah mendapatkan 3 jenis obat sirop berkenaan dengan sakitnya.
Mari berbagi.

Obat dan peralatan penunjang:

  • Obat dan sendok takar (bukan sendok teh atau sendok makan). Sekali lagi sendok takar.
  • Pipet plastik obat. Pipet ini bisa didapatkan dengan membeli vitamin atau obat penurun panas drops (tetes) yang ada pipet plastiknya. Usahakan jangan pipet kaca (kalau digigit, bisa pecah). Pastikan keberadaan pipet plastik dalam kemasan obat saat kita membelinya di apotik.
  • Gelas kecil atau wadah dari plastik agar tidak pecah saat tersenggol secara tidak sengaja ketika terjadi pemberontakan si kecil.
  • Nampan plastik atau kayu dan lap bersih, tissue atau washlap.
  • Minuman kesukaan si kecil untuk diminumkan selang-seling dengan minum obat. Misalnya sari buah atau apa saja.

Langkah-langkah minum obat:

  • Siapkan obat dan semua peralatan penunjang di atas sebelum meminumkan obat.
  • Kalungkan lap atau kain bersih pada si kecil agar tidak mengotori pakaian jika ada percikan obat.
  • Kocok botol obat hingga rata (homogen)
  • Tuangkan masing-masing obat sesuai takaran yang dianjurkan ke dalam wadah atau gelas plastik, lalu aduk hingga rata. Jangan dikurangi ya. Sekali lagi pastikan dosisnya tepat. Pesankan hal ini jika yang meminumkan obat orang lain atau nenek. (Pengalaman penulis, seorang nenek ada cenderung mengurangi dosis obat dengan alasan kasihan. Ini menurut penuturan mereka sendiri. tidak semua lho, hanya pesan doang)
  • Pegang kedua pipi si kecil diantara rahang atas dan bawah dengan lembut agar mulutnya terbuka, kira-kira cukup untuk menyelipkan pipet di sela kedua bibir.
  • Minumkan obat sedikit demi sedikit dan selingi dengan minuman kesukaan si kecil atau teh manis agar tidak mblenger. Boleh sambil menimang sebentar (nyanyi ndangdut, india, uyon-uyon juga boleh), lalu dilanjutkan minum obat.
  • Ulangi langkah di atas hingga obat habis.
  • Tuangkan minuman kesukaan si kecil atau teh manis ke dalam wadah yang mungkin masih ada sisa obat. Aduk dengan pipet plastik sampai rata, kemudian minumkan lagi hingga wadah obat bersih sih sih tanpa sisa.
  • Bersihkan sekitar mulut si kecil dengan tissue atau washlap.
  • Selesai.

Minum ObatLho koq mudah. Tidak. Tidak semudah ini, kadang sulit, bahkan tak jarang bujukan berubah bentakan, cubitan atau nakut-nakuti. Tak jarang si kecil dikeroyok sampai 2-3 orang, atau diperkosa.
Kesabaran, ketelatenan amat diperlukan saat minumkan obat bagi si kecil. *enak aja ngomong*
Bagaimana jika obat baru masuk, langsung dimuntahkan ?
Nah ini repotnya. Mau diulang khawatir kelebihan dosis, tidak diulang takut tidak sembuh.
Jika dimuntahkan semua, apalagi isi perut ikut terhambur, mau tidak mau diulang. Tentu pakai tenggat waktu, agar si kecil tidak muak.

Bagaimana jika sama sekali tidak bisa minum obat ?
Ini lebih repot lagi. Misalnya baru ngeliat botol obat sudah muntah. Baru melihat sendok obat sudah hoeekkk. Pendeknya, blasss nggak bisa masuk sedikitpun.

Tenang, sabar, sabar. *gimana bisa tenang, si kecil rewel je*
Jika panas, ganti obat minum dengan obat yang dimasukkan anus mirip peluru kendali mini, cara ini disebut supositoria. Supaya mudah diingat, obat lewat anus, gitu aja koq repot.
Obat anti muntah juga tersedia dalam bentuk supositoria.

Dengan adanya pilihan cara supositoria setidaknya dapat mengurangi jenis dan jumlah obat yang diminum.
Misalnya si kecil memerlukan obat antibiotika dan obat panas, maka penurun panas lewat anus sedang antibiotika lewat mulut.

Masalahnya, kebanyakan anak tidak suka dengan cita rasa antibiotika. Jika menghadapi kondisi demikian, para orang tua dapat minta bentuk lain, misalnya tetes (drops) sepanjang masih memungkinkan dosisnya dengan tetesan.

Intinya, para orang tua bebas dan boleh meminta sediaan obat sesuai kebiasaan si kecil. Misalkan si kecil lebih mudah minum sirup, maka boleh minta sirup. Demikian juga jika si kecil lebih mudah minum obat puyer, maka mintalah puyer.

Perlu diketahui bahwa dosis obat anak sebagian besar dihitung berdasarkan berat badan, bukan umur.

Contoh: Anak umur 2 tahun dan anak umur 1 tahun bisa saja dosis antibiotika sama jika berat badan dan penyakitnya sama. Paham kan ?

Masalah serius adalah jika semua jenis obat tidak bisa masuk, sedangkan obat tersebut mutlak diperlukan.
Misalnya anak sakit memerlukan antibiotika dan obat penurun panas. Penurun panasnya oke, bisa masuk cara supositoria, lalu bagaimana dengan antibiotika?

Di tempat penulis, ada beberapa anak yang seperti itu. Sampai usia sekolah masih tidak bisa minum obat. Obat sih kadang bisa masuk, baru sesaat sampai lambung langsung huek, hueeekkk. Piye ?
Mengutip istilah Gus Pur Republik Mimpi, gampang aja. Cublessss, suntik.
Kalau perlu, home care. Rawat di rumah si sakit, pasang infus untuk memasukkan obat, datangi 3 -4 kali sehari. Beres. Di tempat kami bisa dengan cara ini. Bukan hebat. Hanya karena yang diurus cuman 1 kecamatan.
Bagaimana di tempat pembaca? Halahhh, penulis kepingin yakin dan percaya, bisa dilakukan. Apa daya hati kecil bebisik setengah gak percaya. Jika ada dokter dan tim paramedis yang bersedia repot-repot melayani pasien sejauh itu, penulis ikut bangga.

Yah, itulah serba-serbi seputar minum obat bagi si kecil. Banyak cerita dibaliknya.
ingin berbagai cerita ? Monggo.

Untuk orang tua dan calon orang tua:
Sebaiknya sediakan obat di rumah untuk pertolongan pertama jika si kecil sakit. Setidaknya obat penurun panas, obat anti muntah atau obat lain yang sesuai dengan sakitnya si kecil. Jika bukan obat bebas, jangan segan minta resep dokter untuk persediaan, lengkap dengan petunjuk cara minumnya.

Contoh obat penurun panas supositoria ( lewat anus ):

  • Dumin Rectal Tube (125 mg/2,5 ml dan 250 mg/4 ml). Kandungan: asetaminofen atau parasetamol (podo wae)
  • Proris supp (ibuprofen 125 mg)

Penurun panas bentuk sirup atau tetes, silahkan pilih sesuai cita rasa. Adapun dosisnya, sesuaikan dengan etiket.
Obat penurun panas bisa diulang setiap 6-8 jam, maksimal 4 jam (jangan kurang dari 4 jam ya)

F A Q

  1. Benarkah obat diminum dengan susu khasiatnya jadi hilang ?
  2. Jika obat dimuntahkan, kapan bisa diulang ?
  3. Bolehkah ibu yang minum obat untuk si kecil yang menyusui ?

Silahkan mendiskusikan tiga pertanyaan tersering dari orang tua sebagaimana pertanyaan di atas.
Dimohon kepada sejawat (dan calon sejawat) yang lain untuk menjawabnya.
Penulis off aja ya :lol: gantian dong. Thanks

Perhatian:
Jika anak kita alergi terhadap salah satu jenis obat, hendaknya lapor kepada dokter dengan membawa obatnya. dokter akan memberikan selembar catatan alergi terhadap obat tertentu. jika tidak, orang tua wajib meminta. Hal ini penting agar tidak diberi obat yang sama dikemudian hari oleh dokter lain.
Ingat, alergi tidak sama dengan keracunan, berbeda. Misalkan seseorang alergi antalgin, walaupun minum secuil tetap alergi. Adakalanya seseorang yang awalnya tidak alergi antalgin, suatu saat timbul alergi. Gak perlu marah-marah, lalu ngomel: padahal dulu gak apa-apa koq sekarang jadi gatal. Hal ini bisa terjadi sodara, lantaran menyangkut faktor imunologi.
Obat adalah bahan kimia. Sekecil apapun efek sampingnya, bertanya kepada yang mengerti adalah langkah bijaksana.

Semoga posting pendek ini bermanfaat.

Lihat kolaborasi posting ini dengan office online di sini

About these ads

87 Responses to “Bila si kecil sulit minum obat”


  1. 1 Evy Maret 27, 2007 pukul 5:50 am

    pretamaax… melok2 arek2 iku, hehehe…
    kembali ke minum obat… anakku dulu susah banget si riri waktu bayi,sakit panas menter di balikpapan sendirian pula, klo minum obat udah masuk dimuntahin…aku nangis, dia ikut nangis… waah akhirnya minumnya pake puyer pisahin jadi 4 bagian, di campur madu, dikasihnya tiap 15 menit di gelontor air…cekokin lagi klo ga muntah .. begitu seterusnya jadi upacara minum obat 1 jam kali 3 = 3 jam… sambil ndungoo… mugo2 anakke ga muntah… pancen dadi ibu kudu sabar

  2. 2 cakmoki Maret 27, 2007 pukul 6:50 am

    Anakku biyen tak suntik 2x sehari, kesuwen. Wong ndelok obat, sirup, puyer podo wae, hueek, hueeek, byor :D

  3. 3 panca Maret 27, 2007 pukul 8:51 am

    cakmoki hatur nuhun atas tulisannya, mohon ijin untuk aku-print untuk ibu negara yang sedang hamil muda 3 bulan …

  4. 4 helgeduelbek Maret 27, 2007 pukul 8:55 am

    saya lebih beruntung cak… anak semua pada gampang minum obat, beda banget waktu saya kecil dulu. mereka dibilangin biar sembuh dan gak sakit biar bisa main2 langsung glek selesai deh.

  5. 5 antobilang Maret 27, 2007 pukul 9:09 am

    wah postingan tentang anak yah?

    *glek, menelan ludah*

    maap, ndak jadi komentar pak dokter…
    saya cari dulu ibu buat anak2 saya…

    *ngeloyor takut di jewer pak dokter*

  6. 6 kangguru Maret 27, 2007 pukul 10:04 am

    Setress cak aklo si kecil sakit
    Thx untuk infonya

  7. 7 grandiosa12 Maret 27, 2007 pukul 10:26 am

    alhamdulillah .. anak saya sekarang ga susah minum obat, dulu sih waktu bayi susah banget, udah besar makin ngerti sih..

  8. 8 ..:X W O M A N:.. Maret 27, 2007 pukul 10:32 am

    saya punya adik, tapi udah kelas 1 SMP. Dia sering sekali panas, kalo keujanan aja, bisa ga masuk sekolah sampe seminggu entah itu alasan untuk mbolos sekolah tapi memang badannya suka demam. Dan yang bikin kesal itu, disuruh makan, minum obat, ke dokter segala ga mau… tapi manjanyaaa minta ampun.
    Suka bingung harus gimana… Anak seusia dia susah untuk disabarin. Bagaimana tuh cakdokter? ;)

  9. 9 Lita Maret 27, 2007 pukul 12:09 pm

    Menjawab.

    1. Tergantung obatnya dong, ya. Beberapa antibiotik berkurang efektivitasnya ketika diminum bareng susu. Sementara banyak obat lain tidak terpengaruh oleh susu. Tanya ke dokternya, soale minum obat plus susu bisa jadi salah satu alternatif cara yang ‘enak’ buat anak.

    2. Setelah muntahnya selesai hehe… Kalau belum 5 menit (atau baru masuk sudah hoek), ulang dengan dosis penuh. Tunggu sampai efek muntah hilang. Maksudnya, rasa dan bau gak enak itu, lho. Dibikin nyaman dulu, diseling air putih atau yang enak lainnya.

    3. Lha yang sakit kan anak, yang minum anak dong. Sedikit sekali obat yang diminum ibu akan masuk ke ASI. Jadi ibu yang sedang sakit juga boleh minum obat tanpa khawatir anaknya kebagian obat. Tentu tergantung jenis obatnya, apakah aman diminum oleh ibu yang sedang menyusui atau tidak. Kalau tidak, minta ganti dengan yang aman lah hehe… (menyusui harus didulukan, dong).

    Jadi, saya dapet nilai berapa, nih? :D

    Soal obat, saya super beruntung kali, ya. Soale anak juarang sakit hehe… Jadi gak terlalu pusing dengan cara minum obat.

    Si sulung terakhir minum obat yang ‘serius’ itu pas diare (kapan ya? umurnya baru setahun kalau tidak salah. lupa, sudah lama sekali). Puyer antibiotik, disentri. Hiks.

    Si bungsu… kapan ya? Tahun lalu deh, waktu dia lagi rewel-rewelnya karena tenggorokannya meradang lalu sembuh sendiri. Cuma ta’ kasih parasetamol pake pipet (yang lihat pipetnya aja udah bikin dia marah-marah hihihihi).

    Buat saya, anak saya rada susah minum obat itu agak menguntungkan. Ibunya jadi mikir 10 kali sebelum ngasih. Pertimbangkan dulu 20 kali, indikasi apa yang bikin dia perlu minum obat (iya, bukan, iya, bukan… perlu, tidak, perlu, tidak… ) Walau mereka sudah demam 39 derajat sekalipun, diemin aja kalo masih main dan gak keliatan rewel atau kesakitan :p

  10. 10 mei Maret 27, 2007 pukul 12:11 pm

    anakku paling gak bisa mi puyer mas, bisane syrup. mungkin karena dia sangka vitamin. kalaupun ada syrup yang agak aneh rasanay, langsung tak kasih madu…dan habisnya dia pasti bilang…”nyakk!!!”-enak maksudnya..hihi

    -Benarkah obat diminum dengan susu khasiatnya jadi hilang ?
    -Jika obat dimuntahkan, kapan bisa diulang ?
    jawabanne ndi mas???

  11. 11 tukangkomentar Maret 27, 2007 pukul 12:47 pm

    Menurut saya, kita ini kebanyakan terlalu sering meresepkan obat sistemis untuk anak-anak, kebanyakan antibiotika dan obat penurun panas.
    Waktu anak-anak saya masih kecil, terutama si bungsu sering kena bronkitis, dan hampir tidak pernah kami beri obat telan. Selebihnya ya inhalasi (contohnya: dengan DMCG).
    Mengenai pemberian obat:
    1. Kami biasakan memberikan dengan menunjukkan kemasannya, supaya anak terbiasa (jadi kemasan tidak disembunyikan)
    2. Kami berikan campur dengan sari buah atau makanannya, yang perlahan-lahan kadarnya dikurangi. Sehingga lama-lama anak terbiasa minum obat cuma dengan air. Ada beberapa macam obat yang tidak boleh diminum dengan susu, karena kasiatnya bisa berkurang: antibiotika, obat yang mengandung zat besi atau fluor dan beberapa yang lain. Ada juga yang bilang, bahwa obat tidak boleh diminum dengan sari buah, karena bisa mempertinggi kadarnya di tubuh (ciclosporin contohnya). Tetapi menurut saya kalau sari buahnya dicampur air ya nggak apa-apa.
    3. Tidak dipaksakan (ya itu, karena menurut saya sebetulnya jarang sekali anak memerlukan obat telan betul-betul. kecuali dalam kasus-kasus tertentu/berat. Dalam hal ini mungkin lebih baik diberikan per infusionem di RS. Nah selama obat masih bisa diberikan di rumah, menurut saya perlu dipertanyakan, apakah mutlak perlu.). Menurut saya ya ini masalahnya. Kalau anak nggak mau dan nangis terus dipaksa, jadi bisa trauma.
    4. Kalau panas tinggi sekali biasanya kami berikan obat penurun panas dalam bentuk supositorium (dimasukkan rectal, seperti yang Mas tulis di atas) atau kompres.
    5. Kalau anak memuntahkan obatnya, menurut saya sebaiknya ditunggu dulu dengan sabar (agak lama), supaya anak jangan merasa dipaksa melakukan sesuatu yang nggak enak. Akibatnya bisa seperti di nomer 3.
    6.Obat untuk anak jangan diminum si ibu, karena: kadarnya/dosisnya berkurang banyak (dan tidak sesuai lagi dengan dosis yang diharuskan). Kalau yang diminum antibiotika malah bisa menimbulkan resistensi pada kumannya, kan?
    Perlu dipertimbangkan juga efek sampingan untuk ibunya.

  12. 12 evi Maret 27, 2007 pukul 2:44 pm

    dulu waktu msh bayi bgt, dan belum tumbuh gigi nasywa gampang pas minum obat. tp begitu gigi depan atas dan bawahnya tumbuh, kalo minum obat pasti sendok atau pipetnya digigit terus dimuntahin lagi.
    pokoknya simbok ama bapaknya harus ekstra sabaaar…….

  13. 13 juliach Maret 27, 2007 pukul 3:11 pm

    Dari bayi brojol, anak I ngak ada masalah dgn dokter, obat & suntikan. Disuntik, dijahit, diambil darahnya, gigi dibor, bueh ngak nangis sama sekali. Aku hanya duduk di depan meja dokter sedangkan dia sendirian diperiksa sama dokter tercintanya.

    Smoga anak II juga sama.

  14. 14 Alief Maret 27, 2007 pukul 5:52 pm

    Posting segitu dibilang pendek?! :) Saya mbacanya ntar aja kalo sudah punya anak kecil, gpp kan? :)

  15. 15 Titah Maret 27, 2007 pukul 7:30 pm

    anakku lebih gampang disuruh minum obat daripada disuruh minum susu atau makan nasi. dari umur 2 tahun pada lebih suka dikasih tablet/kapsul, 2-4 biji bisa sekali telan, cukup pake air putih. kalo obat sirup baru mencium baunya dah mo muntah, begitu juga kalo dibikin puyer.
    terpaksa harus ngeyel dulu sama dokter, soalnya dokternya suka gak percaya kalo anak sekecil itu bisa nelan tablet :-D

    mumpung omong soal obat, saya pingin usul, sebaiknya istilah “sendok makan” dan “sendok teh” diganti “sendok obat” aja gimana? kalo diganti “sendok takar”, tar kliru lagi sama sendok takar susu, sendok takar rinso, etc, hehe… ;-)

  16. 16 Kang Kombor Maret 27, 2007 pukul 7:36 pm

    Alhamdulillaah anak saya gampang minum obat. Akan tetapi, ilmu ini tetap bermanfaat bagi saya. Siapa tahu kalau saya dititipi anak lagi oleh YMK, dan anak itu susah minum obat, saya sudah punya rujukan.

  17. 17 Dani Iswara Maret 27, 2007 pukul 8:11 pm

    1. Benarkah obat diminum dengan susu khasiatnya jadi hilang ?
    2. Jika obat dimuntahkan, kapan bisa diulang ?
    3. Bolehkah ibu yang minum obat untuk si kecil yang menyusui ?

    1. benar utk obat2 tertentu spt telah dijelaskan di atas (bu lita dan dr. tukangkomentar)…

    2. jika langsung dimuntahkan, dpt diberikan kembali saat situasi mendukung dan taktik yg pas (madu, bubur, dll)…jika sudah terserap (melewati waktu paruh obat)..ya dosis berikutnya..tapi kl br setengah dari waktu paruh..gemana ya..?? Mis. dosis 3×1 (min obat tiap 8 jam dlm 24 jam [per hari]), nah kalo pas jam ke-empat (IV) muntah…??

    3. nanti ibunya yg sembuh… :) krg efektif..

    mbah dipo jg sempat nulis:
    tips minum obat cair

  18. 18 imcw Maret 27, 2007 pukul 9:43 pm

    syukurlah cak, anak saya nggak pernah susah diminumin obat…malah kadang kadang minta dibeliin obat…;)

  19. 19 peyek Maret 27, 2007 pukul 11:34 pm

    cak ijin tak kliping ya artikelnya, soale belum punya anak, matur sembah nuwun.

  20. 20 cakmoki Maret 28, 2007 pukul 2:46 am

    @ panca,
    Mangga pak, moga ibu negara dan yang di dalem tetap sehat.

    @ helgeduelbek,
    Enak tenan, mak glek … seperti minum es degan. hehehe

    @ antobilang,
    Cari calon ibu untuk anak? Masa sih gak ada satupun calon.
    Jangan bikkin banner cari calon ibu ya, ntar dikira biro jodoh.
    Saya punya ponakan manis hampir lulus drg, lho *halah*

    @ kangguru,
    iya itu yang dikeluhkan para orang tua. Kalau anak sakit, repot. Mana berobatnya pakai bayar lagi.

    @ grandiosa12,
    Alhamdulillah, udah ngerti tuh si anak, sambil dibujuk-bujuk lihat ikan hias di aquarium …

    @ XWOMEN,
    Kadang ada yang seperti itu. Kalau hanya panas boleh sementara diberi penurun panas bentuk sirop. Contohnya calapol sirup, per sendok takar isinya parasetamol 250 mg, rasanya manis. Untuk seusia smp, 3-4 kali 1,5-2 sendok takar. Atau kompres air hangat jika sama sekali tidak mau minum obat. Selalu ada cara untuk ngakali anak yang sulit minum obat. Dan tetap sabar, namanya juga anak sakit. Kalo nemui anak seperti itu biasanya saya godain dan bujuk-bujuk dikit biar mau minum obat. Ada juga yang sudah SMU tidak bisa minum tablet, maunya sirup.

    @ Lita,
    Wuihhhh asyik jawabannya.
    Di daerah kami, dulunya masih ada anggapan bahwa jika anaknya yang sakit, maka yang minum obat ibunya dengan asumsi obatnya menggelontor lewat asi. Sakit apapun. Entah darimana asal usulnya, tidak jelas. Waktu pertama kali datang ke kaltim sempat kaget juga. Misalnya bayi penuh bisul di kepala sampai meler keluar nanahnya, yang minum obat ibunya. Itu dulu. Di kecamatan tetangga ternyata masih gitu, yang nyuruh malah petugas kesehatan. Setelah cross-ceck, ternyata benar. Maka muncullah postingan ini.

    Nggantiin saya praktek aja ya, fifty-fifty dah. Saya tak ngeblog aja. hehehe. Nilai 100, hadiahnya minta bapaknya Daud aja: … huuunnn :D
    Daud itu bungsu to, kirain tempo hari mogok makan, minta adik *tuing*

    @ mei,
    Janjinya saya gak ikut-ikut njawab koq.
    Jawabane: sudah dibahas tuntas Bu Lita, pak tukangkomentar dan mas Dani.

    @ tukangkomentar,
    Maturnuwun pak. Ulasannya lengkap banget. Itulah dinamika seputar minum obat bagi para orang tua, khususnya kaum ibu di daerah kami. Mungkin juga di daerah lain di Indonesia.
    Hal-hal beginian kadang terlupakan di institusi layanan kesehatan.
    Sudut pandang pengguna jasa layanan kesehatan seolah terabaikan.

    @ evi,
    iya, moga tetep diberikan kesabaran untuk bu Evi dan suami tercinta. Dan mudah-mudahan Nasywa tetap sehat. Amin

    @ juliach,
    Enak dong, ibunya bisa tenang. Apa mungkin masalah kultur ya. Soale di prancis sih. Nurun ibunya kali. Maaf, hehehe

    @ Alief,
    Kira-kira berapa tahun lagi punya anak? Mungkin kelak postingannya berubah. Judulnya: cara praktis minum obat pakai remote :D

    @ Titah,
    hahaha, usulannya masuk akal. Bisa diusulkan ke Perusahaan Farmasi dan depkes. Yang ngusulken rumahkanker aja ya

    @ Kang kombor,
    Amin, moga si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan dapat adik ;D

    @ Dani Iswara,
    Iya, saya udah baca komentar mas Dani di tulisan Mbah Dipo. Minum obat sendok teh aduk. Ikutan komentar juga di sana.
    Saya mencoba menulis serunya minum obat dari keluhan para orang tua.
    Trims jawabannya :D

    @ imcw,
    Itu asli anak dokter. Ibu pasien ada yang ngeluhkan anaknya sulit minum obat gak?

    » ke atas

  21. 21 cakmoki Maret 28, 2007 pukul 2:49 am

    @ peyek,
    Monggo, diaturi

  22. 22 junthit Maret 28, 2007 pukul 5:13 am

    Dulu waktu si kecil panas susah banget minum obat karena dia masih bayi , bawaanya mingkeem terus…!
    kalau bisa keminum sedikit selang berapa detik langsung muntah .

    Trus disarani sama nyokap suruh ibuknya saja yang minum karena nanti si bayi juga minum asi , katanya nanti obatnya akan sampai juga ke si bayi .

    benar nggak gitu sih cak ?

  23. 23 mei Maret 28, 2007 pukul 9:49 am

    @ Bu Lita
    aku khok ndak se7 ya kalau anak panas sampai 39 tetap di biarin aja tanpa di kasih penurun panas. bukankah sebaiknya anak mulai di beri obat penurun panas bgt panasnya sudah 38’C? untuk menghindarkan terjadinya step*febris convulsi*.

    mi obat yang gak enak, bisa di campurkan dengan sari buah pepaya, selain menambah rasa juga khasiat buah pepaya membantu menurunkan demam pada anak.

  24. 24 ranu Maret 28, 2007 pukul 10:49 am

    Wah…infonya sangat berguna kalau saya punya anak nanti. Trims ya, Pa Dokter! Jadi ingat waktu saya kecil (sampai dewasa malah), yang susah banget minum obat. Lebih baik disuntik deh daripada minum obat! Baru tiga tahun ini, saya bisa nelen kapsul atau tablet, itu juga harus pake pisang. Sebelum itu sih, kapsul harus dibuka, tablet harus digerus. Repot banget pokoknya! Boleh juga tuh kalau Pak Dokter bersedia nulis sekuelnya: “Bila si dewasa sulit (juga) minum obat”.
    Oh ya, kalo mau curhat di rubrik apa ya, “Kotak Saran”, “Tanya Jawab”, atau via email (alamat Pak Dokter)? Soalnya kemarin tante saya hampir kena penipuan via telp. Pelakunya mengaku seorang dokter dari RS X (saya ada sedikit data & kronologis ceritanya, takut ga etis kalo dipulikasikan, walau mungkin belum tentu benar pelakunya bekerja di RS tsb). Saya ga habis pikir aja, ada orang-orang yang tega mencoreng citra profesi yang begitu mulia ini.

  25. 25 Lita Maret 28, 2007 pukul 11:21 am

    @ bu Mei:
    Kalau anak tidak punya riwayat kejang demam (bisa ditelusur lewat pengalaman keluarga juga), apakah kejang demam harus dikhawatirkan? Sepanjang yang pernah saya alami, dan diberitahukan pula saat konsul oleh DSA yang menangani anak saya, kejang demam tidak dapat dicegah.

    Bisa sih, hanya dengan jangan demam, yang berarti juga jangan sampai sakit, katanya (sambil disambut cengiran saya, anak kecil disuruh jangan sakit kan susah yeeee). Dan obat ‘anti-kejang’ yang ada, penggunaan yang tepat ya diberikan ketika kejang.

    Selain itu, bukankah demam adalah salah satu mekanisme tubuh untuk melawan infeksi? Dari yang saya tahu, virus akan melemah atau mati jika tubuh demam. Jadi dalam posisi ini, demam justru menguntungkan.
    Saya lebih memilih tidak memberikan antipiretik saat anak tidak terlihat kesakitan karena saya ingin tubuhnya dapat memberikan perlawanan maksimal.

    Tidak sampai 39 derajat pun saya beri analgesik jika ia terlihat sangat tidak nyaman (rewel).
    Biasanya pula, jika sudah mencapai temperatur tertinggi (bila infeksinya disebabkan oleh virus), demamnya akan menurun dan kondisinya kembali baik (pulih). Jadi ‘senjata’ saya yang utama adalah pengamatan dan insting ibu :p

    Tentu saja ini tidak berlaku untuk setiap anak, terutama yang memiliki riwayat kejang demam, seperti adik-adik saya. Ibu selalu sedia diazepam atau antipiretik anal. Jangankan 39 derajat, 37,5 saja sudah bikin ibu repot mengompres sana-sini sebelum kejang demam adik keburu mampir. Saya sendiri beruntung, karena sejak lahir tidak pernah kejang demam, dan tampaknya menurun ke dua anak saya.

    Tidak setuju juga tidak apa-apa, kok. Saya senang ada yang memperhatikan ;)

    @ cak Moki:
    Gantiin praktek? Hihihi… tapi yang dikasih ke saya cuma pasien yang selesma aja, ya. Tinggal suruh pulang, istirahat, makan, dan minum yang banyak. Minum analgesik atau antipiretik jika perlu, hidung mampet diatasi pakai uap air panas saja :p
    Keluhan berlanjut atau tidak berkurang, sila hubungi dokter hehehehe…
    Lha terus yang nggantiin saya ngeblog siapa, dong? :D

  26. 26 cakmoki Maret 28, 2007 pukul 4:41 pm

    @ junthit,
    Sebenarnya sudah dijelaskan oleh dokter tukangkomentar *beliau di Jerman*, dokter Dani dan Bu Lita.
    Tidak benar pak, sebab yang melalui ASI sebagian besar adalah metabolit obat, yakni hasil metabolisme obat yang tidak memiliki khasiat obat. Sedangkan bayi bukan miniatur orang dewasa, dosis obat sebagian besar dihitung berdasarkan berat badan.
    Ada sih yang dengan cara itu si bayi sembuh. Bukan berarti benar kan? Bahkan beberapa penyakit virus yang menimbulkan demam, dapat sembuh sendiri.
    Kalau nanti diberi titipan anak lagi, setidaknya ada pilihan untuk jaga-jaga, obat pereda demam dalam bentuk supositoria, lewat anus. Gak perlu lagi gulat dengan si kecil supaya tidak mingkem :D

    ranu,
    Bila si dewasa sulit (juga) minum obat. Emang ada walau jarang. Sekuelnya bisa jadi guyonan, ntar tips nya: minum obat pakai kuah bakso. hehehe
    Boleh. Kalau ada yang dianggap tidak layak untuk publikasi, bisa via email:
    cakmoki2006@yahoo.com

    @ mei & Lita,
    wooowww, saya senang masalah kesehatan didiskusikan terbuka. Ini tanda-tanda langkah maju. Di daratan *mbuh istilah opo sing bener* amat jarang ada share semacam ini.
    Oya, soal demam memang individual. Di daerah kami, saya menganjurkan para orang tua setidaknya punya obat pereda demam atau kompres air hangat sebagai pertolongan pertama di rumah. Yang punya riwayat kejang demam biasanya dapat diazepam rectal dari RS.
    Ada juga sih yang demam dikit sudah datang ke praktek, bilangnya puwas kalo anaknya ditutul-tutul. Mungkin mau shodaqoh sama saya kali. hahaha

    @ Lita,
    Gantiin ngeblog ?
    ya habis praktek dong :D
    uenak tenan *siul-siul*

  27. 27 mariana silvania Maret 28, 2007 pukul 5:00 pm

    klo di campur sama jus buah boleh ga dok ?

  28. 28 cakmoki Maret 28, 2007 pukul 6:03 pm

    @ mariana silvania,
    Boleh. Yang penting anak tidak tersiksa hanya karena minum obat. Bisa dibayangkan, anak udah sakit masih harus minum yang pahit-pahit, hiyyy :D

  29. 29 antobilang Maret 28, 2007 pukul 7:56 pm

    @ antobilang,
    …Saya punya ponakan manis hampir lulus drg, lho *halah*…

    ehm..ehm..*sambil membenahkan kerah baju*
    serius nih paman? wakakakka…

  30. 30 Lita Maret 28, 2007 pukul 11:00 pm

    Yak, itu dia. Kompres air hangat hehehe… Saya harus berjuang meyakinkan ibu karena kompres air hangat awalnya hanya beliau tanggapi dengan naiknya alis dan tatapan bertanya ‘maksud loe?’ :p

    Request boleh ga, cak?
    Apa aja nih yang sebaiknya dimiliki sebagai ‘koleksi’ pertolongan pertama di rumah? Selain antipiretik-analgesik (sedia dua macam dan dua rasa di rumah hihihi… ), antiseptik, ORS (dan pedialit), dan perlengkapan perban luka.
    Apa obat pemampet diare itu wajib ada, ya? Kok banyak ibu-ibu yang sharing kalo obat itu kudu ada di rumah. Dan saya malah kesian kalo pup-nya diempet :p

    Eh ini udah OOT ya. Maap :)

  31. 31 cakmoki Maret 29, 2007 pukul 12:36 am

    @ antobilang,
    hiks, jadi tua mendadak nih. Yang satu di fkg ugm, satunya fk unair, satunya lagi fkm unej. Itu cewek semua, usia 20-24 tahun, lain-lain usaha sendiri. Duhhh bahaya kalo mereka baca :D

    @ Lita,
    Pemakaian anti diare, masih kontroversial di kalangan para ahli. Ada yang berpendapat diare adalah reaksi yang bisa mengeluarkan toksin atau mikro-organisme, karenanya antidiare tidak diperlukan. Dan sebagian besar diare adalah non spesifik or virus.
    Pendapat lain menyebutkan perlu, karena diare dengan sebab apapun berpotensi dehidrasi, sedangkan anak diare belum tentu mau minum banyak untuk rehidrasi.

    Saya berpendapat perlu, minimal antidiare jenis absorbent.
    Setelah membaca argumen singkat di atas, pilihan akhir saya kembalikan ke Bu Lita.

    Perdebatan perlu tidaknya antidiare masih panjang.
    Saya lebih senang jika para ibu memilikinya. Jika saya diminta lebih tegas menjawab, maka jawabannya “perlu”.
    Argumennya saya simpan dulu ya, nunggu kalau ada yang berbeda. hehehe *jual mahal dikit*

  32. 32 jokotaroeb Maret 29, 2007 pukul 11:10 am

    Biasanya itu adik saya yang baru berumur 4 tahun dia sulit sekali minum obat sampe2 harus dipegangin dulu baru mau minum obat, tapi sekarang dia sudah mau minum obat karena suka di iming2 boneka hanya supaya dia mau saja.

  33. 33 manusiasuper Maret 29, 2007 pukul 1:34 pm

    CAkkkk…. Kenapa Anto yang ditawarin???

    Saya dari dulu menghiba-hiba sendiri di sini berkubang darah, mencari jodoh – kedua – pak…

    BTW, kalo untuk orang dewasa yang susah minum obat bagaimana pak? Calon *ehm* mertua saya kalo minum obat susahnya minta ampun! Harus diselipin di pisang atau buah lain, trus ditelan bulat-bulat bareng tanpa dikunyah, sampe bunyi AARRGG-AARGG gitu…

  34. 34 Fa Maret 29, 2007 pukul 3:44 pm

    saya numpang mbaca aja ya cak, kebetulan blom dikasih titipan anak nih sama Yang Kuasa :D

  35. 35 antobilang Maret 29, 2007 pukul 8:25 pm

    CAkkkk…. Kenapa Anto yang ditawarin???

    ehm..ehm..kamu mau??
    *sambil menghunus bayonet di leher man-sup*

  36. 36 Thamrin Maret 30, 2007 pukul 5:57 pm

    Dulu sewaktu kecil dokter saya selalu memberi pilihan, mau puyer atau suntik…. :) Jelas saya memilih puyer, karena tidak sakit walaupun pahit… ;)
    Terima kasih tipsnya Pak.

  37. 37 venus Maret 31, 2007 pukul 12:46 am

    weiii…rame nih, hehehe…

    soal ngasi obat buat anak, alhamdulillah anak2 udah gede2, jadi no probs laaahh.. tablet, sirup. kapsul, kaplet, ayo aja :D

    cuma satu uneg2 saya, cak. sebaiknya rencana njodohin ponakan2 sama si antobilang dipikirkan lagi9 untung ruginya. soalnyaaa… wakakakaka…

    saya minggat dulu sebelum dipisuhi si antobilang :P

  38. 38 passya Maret 31, 2007 pukul 1:39 pm

    buat calon orang tua…
    itu rudal jenis sup-supan boleh dicoba dulu sebelum implementasi buat anak…. :D

  39. 39 faiq April 1, 2007 pukul 8:09 am

    Alhamdulillah, semua anak saya gampang disuruh minum obat. Hanya karena terbiasa dengan sirup/puyer, malah disuruh minum pil dan sejenisnya selalu “kanthil” di mulut. Padahal si sulung sdh 12 tahun, tapi ndak bisa minum pil. Kalau yang begini, tips-nya gimana cak dr.??

  40. 40 huda April 1, 2007 pukul 9:39 pm

    puanjang buener tulisannya Pak..

    saya juga sama.. belum dikaruniai anak (halah..), tp sering ikut pengobatan massal n sering bantuin nyediain obat buat anak2x..

    adekku jg suka rewel klo disuruh minum obat, tp sebenernya bukannya gak bisa minum.. cuma bandel aja..

    ttg alergi, masalahnya untuk pasien2 di desa.. biasanya pada gak memperhatikan alergi apa nggak..

    ttg yg cubless…

    Halahhh, penulis kepingin yakin dan percaya, bisa dilakukan. Apa daya hati kecil bebisik setengah gak percaya. Jika ada dokter dan tim paramedis yang bersedia repot-repot melayani pasien sejauh itu, penulis ikut bangga.

    kayaknya emang masih jarang sampe segitunya ya dok.. apalagi untuk anak bayi.

  41. 41 huda April 1, 2007 pukul 9:51 pm

    puanjang buener tulisannya Pak..

    saya juga sama.. belum dikaruniai anak (halah..), tp sering ikut pengobatan massal n sering bantuin nyediain obat buat anak2x..

    adekku jg suka rewel klo disuruh minum obat, tp sebenernya bukannya gak bisa minum.. cuma bandel aja..

    ttg alergi, masalahnya untuk pasien2 di desa.. biasanya pada gak memperhatikan punya alergi apa nggak..

    ttg yg cubless…

    Halahhh, penulis kepingin yakin dan percaya, bisa dilakukan. Apa daya hati kecil bebisik setengah gak percaya. Jika ada dokter dan tim paramedis yang bersedia repot-repot melayani pasien sejauh itu, penulis ikut bangga.

    kayaknya emang masih jarang sampe segitunya ya dok.. apalagi untuk anak bayi.

  42. 42 cakmoki April 3, 2007 pukul 12:32 am

    @ jokotaroeb,
    Masih lumayan, mau dibujuk pakai boneka.

    @ manusiasuper,
    Jodoh kedua, berani ? Badai pms-nya manatahaaannn.

    Untuk calon *ehm-ehm* mertua, belum termasuk kategori sulit *minta ampun* koq, kan masih mau pakai pisang. Siapin aja setandan. hehehe

    @ Fa,
    Nggak usah numpang, langsung aja ikutan, boleh koq

    @ Thamrin,
    Pilihannya kurang kali. Mestinya, mau puyer, sirup apa traktir bakso

    @ venus,
    wuih hebat anak seumur itu bisa nelan kapsul dan kaplet.
    Mas Anto kayaknya nggak berani, padahal udah saya bisiki alamatnya. Apa sudah ada yang punya ? Kalau betul dan si dia ikutan baca bakal rame.

    @ passya,
    hehehe, orang tua or calon orang tua mau coba rudal sup-supan sudah keburu meringis duluan pak :D

    @ faiq,
    Untuk si sulung bisa pakai sirup Pak, cuman menyesuaikan dosisnya. Nggak masalah, yang penting masih mau minum obat.

    @ huda,
    Saya punya obsesi ada layanan home care, minimal di tingkat kecamatan. Kita bisa melatih paramedis, dan untuk teknis medisnya pakai panduan or protap. Memang sulit, tapi bisa dilakukan. Apalagi di daerah pinggiran, model home care sangat membantu masyarakat.
    Kegiatan pengobatan masal sebenarnya dapat dijadikan embrio layanan kesehatan yang lebih komprehensif.
    Mas Huda bisa memelopori hal tersebut, terlebih punya pengalaman kegiatansosial dan punya kelebihan pengetahuan informatika kedokteran.
    Masalahnya biasanya klasik, yakni komitmen daerah tingkat II.
    Sayangnya kita berjauhan ya

  43. 43 super kecil April 3, 2007 pukul 2:16 pm

    bapak dokter anak ya?
    faham skali tentang masalh anak

    gini pa…
    bukannya dalam membuat obat kan ada corrigen saporis, odoris, dan… (lupa yg satunya)
    jadi kalo buat anak kecil biasanya kan dibuat obat yang berwarna (tentunya pewarna yg aman dan ti menimbulkan reaksi yang antagonis dg zat aktifnya) jadi secara visual si anak melihat sperti sirup (maksa juga c)

    dan kalo menggunakan sediaan dalam bentuk suppo kurang nyaman sebenernya buat si anak.. (siapa lah yg ngerasa nyaman… lewat anus gt…)
    apalagi waktu terabsorbsinya obat dalam sediaan suppo sulit diramalkan… secara farmakokinetika sulit ditentukan…
    kecuali kalo asma…
    mau gak mau…. soalnya buat nafas aja sulit, so si anak bernafas lewat mulut.. kalo disuruh minum obat per oral akan lebih kasian…
    tapi mungkin kalo untuk bayi dengan bentuk sediaan suppo mungkin lebih mudah ya pak…

  44. 44 cakmoki April 4, 2007 pukul 12:20 am

    @ super kecil,
    Bukan. Saya dokter umum.
    iya betul, kemasan, sediaan, warna dan rasa biasanya menjadi perhatian para produsen obat untuk menarik perhatian, bukan saja untuk anak, untuk yang lain juga.
    Masalahnya, ada anak yang ngeliat botol obat aja sudah hueek. Demikian pula yang sirop, rasa coklat macam febrinex yang rasanya kayak es krim juga dimuntahkan. Itulah kenyataan yang kita hadapi di lapangan.
    Hal semacam ini sering kita abaikan, karena kurangnya komunikasi. Alhasil pemberian obat tidak optimal, lantaran anak atau orang tua tidak dilibatkan atau tidak ditanya.

    Obat supp tentu tidak nyaman. Obat yang dimuntahkan lebih tidak nyaman. Karenanya dipilihlah cara pemberian lain diantara pilihan yang tidak nyaman.
    Farmakokinetik melalui supp bagus, waktu paruh 1-3 jam dan 80% dikonjugasi dengan glucuronic acid.

    Ternyata dilapangan banyak pernak-pernik ya

  45. 45 b0cah Agustus 1, 2008 pukul 12:18 pm

    mohon ijin memuat salah satu gambar di blog anda, kepada situs kamu, trims sebelumnya..

  46. 46 cakmoki Agustus 1, 2008 pukul 2:17 pm

    @ b0cah:
    gambar yang mana?

  47. 47 Lika Agustus 14, 2008 pukul 3:57 pm

    Kulo nuwun Pak…
    Saya senang banget menemukan artikel dari blog anda ini. Saya browsing artikel tentang anak ga mau minum obat karena Putri kami memang sangat susah sekali minum obat. Saat ini dia demam (kemaren abis dibawa ke THT dan sama dokter di sedot dengan alat telinga anak saya). Namun kok sekarang malah panas. Mungkin kesalahan kami juga tidak meminumkan antibiotiknya (karena alasan sulit sekali minum obat. Tetes telinga pun juga sulit kami lakukan. Dalam kondisi tidur maupun terjaga ketika Putri kami akan kami tetesi, pasti langsung menangis ga ketulung dan lari menjauh dari siapapun. Umur putri kami 2 tahun 9 bulan. Sediiih banget deh.
    Cara yang anda sajikan diatas (dengan menggunakan pipet plastik maupun kaca) sudah pernah kami lakukan. Tapi mulut anak saya sudah terbungkam dengan kuat sebelum kami memegang rahangnya. Waaah, yang pasti kalo ada obat yang tidak diminumkan akan tetap saya pilih. Dokter yang saya temui jarang mau menyuntikan obat (karena dia bilang masih kecil). Terlebih anak saya ini sangat Trauma dengan dokter dan rumah sakit (dia pernah di opname di RS karena typus).
    Terimakasih atas infonya , dan mohon saran jika ada solusi dengan masalah saya ini.
    Saya juga minta izin untuk memuat artikel anda ini ke blog saya http://www.likarenza.multiply.com
    Salam
    Lika

  48. 48 cakmoki Agustus 15, 2008 pukul 6:30 pm

    @ Lika:
    Monggo pinarak, …
    Iya, kadang ada yang seperti itu. Kalo jelas-jelas ada infeksi, dalam hal ini infeksi telinga dan perlu Antibiotika, maka antibiotika mutlak diperlukan agar tidak terjadi penyebaran infeksi.
    Jika ga bisa lewat mulut dengan cara apapun, paling enak lewat suntikan. Umur segitu mah udah gede banget, …bukannya udah pernah disuntik saat imunisasi? Sama aja kan … bedanya, kalo imunisasi yang disuntikkan adalah mikro-organisme yg dilemahkan,sedangkan suntikan Antibiotika adalah obat untuk memberantas mikro-organisme. Sama-sama sakitnya … hehehe
    So, tergantung dokternya, mau repot dikit apa enggak dan tergantung para orang tua, tega apa enggak …
    Moga penjelasan singkat ini berguna…

    Silahkan link artikel ini jika dianggap berguna … trims :)

  49. 49 Varcity November 15, 2008 pukul 8:57 pm

    Numpang lewat,buat si buah hati nanti

  50. 50 cakmoki November 15, 2008 pukul 11:21 pm

    @ Varcity:
    Monggo, silahkan.
    Trimakasih udah lewat.

  51. 51 nA Januari 2, 2009 pukul 7:00 am

    Ini nih info yg saya butuhin.. Makasih y pak dokter.. Wah next time konsultasi kesehatan anak lewat blog boleh donk? Hehe…

    Salam kenal..

  52. 52 cakmoki Januari 2, 2009 pukul 2:52 pm

    @ nA:
    ya boleh… kita bisa berdiskusi di halaman ini.
    Salam kanal juga …thanks atas kunjungannya :)

  53. 53 us Maret 21, 2010 pukul 1:06 pm

    Bapak Ibu, anak saya kalau makan nasi atau minum obat sering muntah, sejam sebelumnya saya beri Vometa dari DexaMedica. Ini juga dapat dari dokter anak saya. Lihat dosis dan umur anaknya.

  54. 54 cakmoki Maret 21, 2010 pukul 9:35 pm

    @ us:
    bener… tapi maaf, ngitung dosis obat pada anak bukan dengan umur, tapi dengan berat badan :)
    Makasih

  55. 55 see Mei 8, 2010 pukul 11:18 am

    oh, ternyata artikelnya ada disini ya.
    segera dibaca, dihayati, dan diamalkan dok!
    terimakasih.

  56. 56 cakmoki Mei 9, 2010 pukul 5:28 am

    @ see:
    Monggo … :)

  57. 57 haem Juli 24, 2010 pukul 8:59 pm

    diskusi ini mencerahkan
    thanks

    bapak satu anak
    haem

  58. 58 cakmoki Juli 25, 2010 pukul 9:11 pm

    @ haem:
    thanks juga atas kunjungannya :)

  59. 59 mimin November 2, 2010 pukul 6:17 am

    aduh, cape deh, kumaha iyeu anakku susah bgt minum obat,makan,minum susunya sedikit. hmm. klo dikasi obat malah dimuntahin… puyeng deh.

  60. 60 cakmoki November 2, 2010 pukul 11:04 pm

    @ mimin:
    Kalo dengan obat oral gak bisa, dapat menggunakan obat supposituria (dimasukkan anus).. hanya saja tidak semua obat tersedia dalam kemasan Supposituria.
    Makasih

  61. 61 Djati Hultermans Desember 29, 2010 pukul 5:01 pm

    thanks buat artikelnya , semoga anakku mau minum antibiotiknya.
    saat ini saya campur dengan minumnya, belum berhasil

  62. 62 san Januari 4, 2011 pukul 4:43 pm

    Ikutan sharing nih……
    anak saya yg kecil umur 2 thn susah banget kl minum obat apalagi dia sakitnya bulanan (hampir sebulan sekali kudu ke dkt) udah gitu dikasih antibiotik lg kan kudu abis wah kebayang deh hrs minimal 5 harian repotnya. Kl kakaknya dl ga pernah susah minum obat jdnya ngehadepin yg kecil repot jg malah kadang jd emosi..
    Kl udah liat obat dituangin ke sendok dia suka ngumpet jdnya main kejar-kejaran. Saya campurin obat ama pemanis strawbery ‘sirplus’ di cangkir trs ngasihnya pake pipet plastik. Hrs ngakalin dl anaknya sih, biasanya saya keluarin barang2 yg jarang dimainin dia jd dia tertarik..lupa deh ama obatnya …akhirnya abis juga. Kl lg beruntung pas dia liat acara tv gitu sambil serius banget jdnya ga ngeh dikasih obat ga kerasa abis juga. Mudah2an sih minum obat susah lambat laun berubah jd mudah seiring ber+nya umur anak. Soalnya kl umur 2 thn gini msh susah dijelasin…belum ngerti kenapa hrs minum obat .
    Makasih yah…

  63. 63 cakmoki Januari 5, 2011 pukul 4:26 am

    @ Djati Hultermans:
    Moga selanjutnya bisa berhasil… :)

    @ san:
    wah, sip sip… :D
    Moga dibaca juga oleh yang lain, agar para ortu tidak pernah putus asa dalam mencari jalan meminumkan obat manakala anak-anak gak mau minum obat…
    Makasih telah berbagi :)

  64. 64 Reni Yuniati Januari 5, 2011 pukul 2:11 pm

    dok sy minta info ttg cara pemakaian pipet obat u/ anak, selama ini kalo saya pakai obat drops saya selalu tetesin kembali kesendok soalnya khawatir kalo lsng bersentuhan mulut sikecil nanti pipetnya terkontaminasi penyakitnya kira2 sudah benar nga ya dok ? padahal kalo lsng diberikan dr pipet lebih gampang ya dok tapi apa boleh pipet di bilas air hangat ?

  65. 65 cakmoki Januari 5, 2011 pukul 6:21 pm

    @ Reni Yuniati:
    Gak akan terkontaminasi dong… pipet aman digunkan untuk anak… tentu dibilas dengan air hangat setelah selesai :)
    Gak perlu cari yang repot, pake cara yang gampang aja
    Makasih

  66. 66 Ratih Putri Januari 5, 2011 pukul 9:01 pm

    Anak saya usainya 2 tahun 7 bulan dok…sekarang lagi kena diare. ini udah hari ketiga. pas hari pertama kemarin sampai lebih dari 10x diare cair. tinjanya yang keluar dikit2 en encer. bahkan sempat panas juga tapi cuma semalam. kemudian saya bawa ke dokter, en obatnya ada antibiotiknya juga. hari pertama obat bisa masuk dan perutnya udah gak sakit en tinjanya mulai memadat meskipun masih lembek. tapi hari ini tadi susah minta ampun cuma 1x aja obat bisa masuk. itupun mesti dipaksa2. jujur saya gak tega en gak suka banget maksa2 anak minum obat. tapi gimana lagi dok…apa obat untuk anak diare boleh dicampur susu, teh, atau jus buah apel?. sampai saat ini anak saya masih beberapa kali mengeluh perutnya sakit.mohon bantuannya dok….
    (menurut keterangan dokter anak saya diare karena minum susu coklat. mungkin benar, soalnya sewaktu diare kemarin terakhir dia minum susu coklat bendera untuk orang dewasa dengan takaran yang kental. sejak diare ini dokter menyuruh untuk mengganti susu coklat dengan susu plain atau strawberry. kata beliau susu coklat tidak baik untuk anak kecil. benarkah? sebelumnya anak saya mengkonsumsi susu bendera 123 coklat tapi tidak apa2, atau mungkin susu kemasan cair atau uht itu juga bisa menyebabkan diare?). maaf kalo pertanyaannya banyak…

  67. 67 san Januari 5, 2011 pukul 10:41 pm

    Maaf yah Cak, saya duluan menanggapi ceritanya Mbak Ratih…

    Mbak Ratih, saya cuma mau berbagi pengalaman aja nih bukan mau menggurui yah atau sok tau…soalnya anak saya juga umur 2 thn 2 bln udah bbrp kali kena diare dibarengi panas hari pertama. Tiap kejadian gitu hari pertama saya lgs bawa ke dkt..mnrt dsa langganan saya, anak saya kena diare krn kuman yg msk ke mulut. Emang sih kl kena diare diinget2 emang kayaknya ga mkn yg aneh2 gitu. Kl anak Mbak dibilang diare gara2 susu coklat mungkin jg ga cocok krn susunya buat dewasa atau susunya agak ‘kurang baik’ ,tp ga menutup kemungkinan ada kuman jg yg msk lewat mainan atau makanan. Oh ya, yg saya tau sih kl susu UHT plain buat dewasa (saya pakai ULTRA) bisa buat dinginin perut. Saya biasa campurin susu plain bareng susu bubuk buat anak kl anak saya susah BAB. Hslnya lumayan manjur 1-2 kali dikasih dah lgs BAB. Kl soal ngasih obat, mnrt dsa saya ga blh lgs dicampur susu tp diminum obatnya dl kmd blh lgs dikasih susu. Atau blh dicampur lgs ama juice apel, madu, kl teh sih saya ga tau.
    Semoga anaknya cepat sembuh yah…

  68. 68 cakmoki Januari 6, 2011 pukul 12:08 am

    @ Ratih Putri:
    wehhh saya seneng kalo ibu-2 udah mulai berbagi ;)
    Maturnuwun atas tanggapannya, mbak San :)

    Bener kata mbak San (santi ap santoso ? ) :P … bahwa sebagian diare disebabkan oleh mikro-organisme yang masuk mulut trus ke pencernaan melalui makanan or minuman or ngemut tangan …sedangkan sebagian kecil, hanya 6 %, diduga karena intoleransi bahan tertentu. Nah, untuk mengetahui intoleransi atau enggak, caranya mudah dan pake sedikit logika… andai anak minum minuman tertentu gak papa…trus suatu saat minum minuman yg sama lantas diare, bisa dipastikan bukan intoleransi, tapi kebetulan ada mikroorganisme yang ikutan masuk mulut bersama minuman. Kita tahu, semua anak diseluruh dunia sangat suka menghisap tangan or jari.
    Jika di suatu negara lagi ada kasus diare, seperti dalam 2-3 bulan terakhir ini, maka ada kemungkinan acara menghisap tangan suatu ketika terpapar mikro-organisme yang menimbulan diare. Mikro-organisme meliputi: kuman, virus, parasit, jamur, dll.
    Itu sebabnya anak mudah terkena diare.
    Bukan lantas susunya atau cklatnya yang disalahkan…itu sih namanya mematikan akal :D … maaf..maaf…maaf…
    Saya selalu memberikan penjelasan seperti ini kepada pasien dan masyarakat supaya benar-2 paham dan tidak menjadi korban iklan produk susu tertentu :P

    Berikutnya tentang mencampur obat dengan susu. Kita sudah terlalu lama dicekoki pengertian yang salah bahwa obat tidak boleh dicampur susu. Bahkan, masih ada petugas kesehatan yang bilang gitu…mungkin lupa sama pelajaran kuliah dasar.
    Yang benar: Susu tidak menetralkan obat.
    Obat untuk anak boleh diminum bersama susu. Boleh diminum bersama coklat, boleh diminuman bersama minuman yang lain, kecuali minuman beralkohol :D

    Emang ada obat yang absorbsinya (penyerapannya dalam lambung) menjadi berkurang ketika dicampur susu, bukan menjadi netral lho …misalnya tetracycline… namun, obat-2 tersebut tidak pernah diberikan kepada anak dibawah 8 tahun.
    Selengkapnya tentang : Susu Tidak Menetralkan Obat, silahkan baca artikelnya di Blog ini pada link berikut:

    http://cakmoki86.wordpress.com/2010/06/23/susu-tidak-menetralkan-obat/

    Ada kata bijak dari seorang ibu muda yang saya kenal via blog, bahwa panik adalah reaksi normal kalo anak lagi sakit, namun jangan sampai kehilangan akal sehat.

    Moga sehat selalu :)

  69. 69 Ratih Putri Januari 7, 2011 pukul 9:59 am

    terima kasih untuk mbak san dan pak dokter atas jawabannya… semoaga bukan susu coklat penyebab diare anak saya. Karena saya bisa lebih bingung lagi, karena anak saya susah minum susu, satu2nya yang doyan ya susu coklat itu.
    Tapi kenapa ya sampai hari ke-5 diarenya tetap ada, maksudnya masih sering bab walaupu dah gak encer lagi en masih lembek gitu. selain itu kadang juga masih mengeluh perutnya sakit. saya khawatir dengan asupan makanannya, jangan2 banyak yang terbuang daripada yang diserap tubuh. Biasanya berapa lama ya pak diare itu bisa normal kembali? Dan makanan apa yang bisa memadatkan tinja ?

  70. 70 san Januari 7, 2011 pukul 1:38 pm

    Maaf Cakmoki ngeduluin lagi yah..

    Mbak Ratih, kl anak saya diare dsa saya selalu menyarankan memberikan wortel, apel, pisang raja cere, dan jangan makan sayur yg berkaldu (ayam, sapi). Jd saya masak sayur ga pakai kaldu misal, tumis wortel pakai buncis atau tahu sedikit, muntahu (tahu dihancurkan pakai udang cincang).
    Terus susunya jg diganti pakai yg rendah laktosa seperti merk OLAC atau NL 33. Tp 1 kaleng 400gr hrgnya mahal jd saya ga beli lagian anaknya takut ga suka. Jdnya saya encerin susu yg biasa diminum anak saya kl biasanya 5 sendok takar jd cuma 3 sendok dgn ukuran air yg sama. Memang biasanya kl anak saya diare, hari ke 1,2 ga BAB. Hari ke 3nya agak lembek. Baru di hari ke 5 agak padat. Udah lewat semingguan gitu baru normal lg.

  71. 71 cakmoki Januari 7, 2011 pukul 2:14 pm

    @ Ratih Putri & san:
    Monggo silahkan berbagi :)

  72. 72 Ratih Putri Januari 7, 2011 pukul 2:23 pm

    heheh senengnya mbak san kasih comment lagi. wah padahal aku pernah baca daging bagus untuk memadatkan tinja. jadi aku beliin daging giling terus aku bikin jadi bakso2 an. untuk susu sekarang malah lagi gak tak kasih susu dulu…
    obatnya dah mau abis, jadi rencananya ntar mau balik dokter lagi. Tapi masih bingung ditangani sendiri atau ke dokter aja ya???. Anaknya sih ceria2 aja en tetap mau makan apa aja, cuma akunya yang khawatir ini itu boleh gak makan ini itu takut kalo encer lagi bab nya….

  73. 73 cakmoki Januari 7, 2011 pukul 3:31 pm

    @ Ratih Putri:
    Kalo boleh tahu, obat apa aja yang udah diberikan dari DSA ?
    hehehe.. ini aneh, wong anak diare koq gak boleh makan ini itu.. tapi bener juga sih, gak boleh makan “ini itu”, soalnya “ini itu” kan bukan makanan… kalo bakso, soto, dll .. barulah namanya makanan.
    Di ndeso kami, mungkin para ibu sudah sangat sedikit yang membatasi makanan or minuman tertentu pada anaknya yg sedang diare, yakni ibu-2 yang sangat jarang ke dokter.. kalo yg udah biasa ke dokter, makanan gak ada yang dilarang, yang penting bergizi dan bersih :)
    Maturnuwun

  74. 74 Ratih Putri Januari 7, 2011 pukul 4:42 pm

    obatnya puyer dok, tapi lupa kemarin gak minta turunan resepnya.hehehe yang saya tahu ada tiamfenikol nya juga. trus ada antibiotiknya jg (kata apotekernya)…yang 2 lagi lupa…

  75. 75 Ratih Putri Januari 7, 2011 pukul 4:48 pm

    oiya nambah info lagi, sekarang BABnya tiap hari juga masih 5x, kok lama ya ndak segera normal.apa perlu ke dokter lagi atau perawatan sendiri saja?

  76. 76 cakmoki Januari 7, 2011 pukul 11:38 pm

    @ Ratih Putri:
    Tiamfenikol adalah Antibiotika, Mbak. Berarti menurut pemeriksaan beliau, diare-nya karena kuman.
    Mestinya sih udah sembuh.
    Kalo boleh usul, gak ada salahnya ditambahkan anti-diare untuk menormalkan BAB, misalnya: sirup Neokaolana atau Sirup Neokaominal, diminum 3-4 x 1 sendok takar hingga BAB enjadi normal.
    Wah, coba dari kemarin-2 menceritakan obatnya, tentu sudah sejak awal saya rekomedasikan tambahan antidiare. :)
    Menurut saya cukup dirawat dirumah, kecuali kalo dehidrasi sedang hingga berat.. lha katanya anaknya main seperti biasa, berarti gak ada tanda dehidrasi.
    Moga segera sembuh

  77. 77 Ratih Putri Januari 7, 2011 pukul 11:59 pm

    terima kasih dok, besok saya coba untuk memberinnya sirup neokaolana. obatnya dari dsa dah habis sekarang. so, saya kasih sirup neokaolana itu saja yang dok. mohon doanya semoga putra saya segera sembuh seperti sedia kala.

  78. 78 cakmoki Januari 8, 2011 pukul 1:25 am

    @ Ratih Putri:
    Ya, pake itu aja cukup, soalnya ga ada keluhan lain.
    Moga segera sembuh dan segera sehat kembali
    Makasih

  79. 79 Ratih Putri Januari 9, 2011 pukul 7:47 pm

    Malem dok, anak saya masih BAB walaupun frekuensinya sudah berkurang. kemarin tidak jadi saya belikan obat anti-diare, tapi saya konsultasi ke dokter. Trus ada yang mengagetkan, anak saya katanya harus opname, karena saya bilang fesenya warna gelap. Katanya anak saya harus diinfus sebab obat tdk bisa bekerja lagi di usus. Haduh, saya kaget sekali. Apalagi kalau melihat anak saya masih tetap ceria. Dokternya pun tidak memberikan penenangan buat saya hingga membuat saya cemas. Akhirnya saya melakukan pemeriksaan feses ke lab sendiri, berikut ini hasilnya :
    Analisa Feces:
    Makroskopik
    Warna : Kuning
    Keadaan / bentuk : lembek
    elemen : darah:neg, lendir:neg
    Mikroskopik (Eosin/sudan III)
    Epitel : 2 -3 /LPB
    LEKOSIT : 2 – 3/LPB
    ERITROSIT : 4 – 5 /LPB
    PARASIT :
    – TELUR : TIDAK DITEMUKAN
    – LARVA : TIDAK DITEMUKAN
    – TROPHOZOIT : TIDAK DITEMUKAN
    – CYSTE : TIDAK DTEMUKAN
    SISA MAKANAN :
    – SERAT OTOT : NEGATIF
    – SERAT TUMBUHAN : NEGATIF
    – PATI : NEGATIF
    – BUTIR LEMAK : POSITIF

    Apa maksudnya pemeriksaan ini? sekarang frekuensi bab nya berkurang menjadi 3 x sehari

  80. 80 cakmoki Januari 10, 2011 pukul 11:29 pm

    @ Ratih Putri:
    Met malem,
    Maksud pemeriksaan tersebut adalah bagus, kecuali adanya eritrosit yang menunjukkan nilai 4-5…isu sebabnya feces menjadi hitam.
    Epitel positif adalah wajar karena sel epitel (sel permukaan) beganti setiap hari. Sedangkan lekosit 2-3 menunjukkan adanya peradangan ringan.
    Menurut saya, secara keseluruhan hasil lab ga papa tuh.
    Makasih

  81. 81 Ratih Putri Januari 11, 2011 pukul 6:38 pm

    berbahaya tidak ya kalo bab nya masih 4-5 kali sehari dan kadang warna nya ada yang kuning ada yang coklat gelap dan lembek…

  82. 82 cakmoki Januari 12, 2011 pukul 3:13 am

    @ Ratih Putri:
    Insya Allah gak bahaya

  83. 83 ervinaanugerahany@rocketmail.com Mei 1, 2011 pukul 12:30 pm

    iang dok, ke 2 anak saya , 8 th dan 9 bln seminggu batuk pilek dan sdh 2 hari panas, saya bawa ke DSA , diberi obat puyer:
    *puyer :
    – Urfamicyn
    -aspilet
    -ephedrin
    – ryzen
    -bisolvon
    -romilar
    -prednison

    *theobron syrup
    *mucopect syrup

    Sejak minum obat, ke duanya sulit tidur. Hampir tidak tidur siang dan malam, Tidur sebentar sudah bangun lagi, tapi kondisi mereka segar , tetap bermain dan tidak lemes. Pertanyaan saya :
    1.Apakah mereka sulit tidur karena efek samping dari salah satu obat tersebut? Bagaimana cara mengatasi sulit tidur? karena saya momong sampai capek.
    2.kata DSA tsb anak saya sering sakit ( ke dokter sebulan sekali)karena alergi (tanpa pake tes alergi sdh terlihat dari kulit anak yg bakat alergi) jadi anak saya hanya boleh makan daging sapi, ati sapi, sayuran kecuali tomat, buah hanya boleh pepaya, pir , apel, apukat. Kok susah banget ya bikin menunya? anak saya sampe bosen gak mau makan. Apakah benar bisa tau anak alergi tanpa melakukan tes terlebih dahulu?
    3. Yang bayi susah sekali minum obatnya sampai saya frustrasi, terutama yang obat puyer. sudah masuk dimuntahkan kembali. Kalau sudah masuk sebagian perlu diberikan ulang tidak? Kalau sudah 15 menit masuk kemudian muntah perlu diulang lagi tidak? takutnya jadi over dosis.

    Terimakasih dokter, maaf nayanya buanyak….

  84. 84 cakmoki Mei 1, 2011 pukul 6:30 pm

    @ ervinaanugerahany@rocketmail.com:
    Met sore,
    1) tidak bisa tidur atau kadang gelisah saat tidur adalah karena efek samping teobron dan sinergisme theobron dan ephedrin. Untuk meredakan efek samping tersebut, maka dosis theobron syrup diminumkan setengah dari dosis yang ditetapkan.

    2) batuk berulang bisa karena ketularan temennya atau sekelilingnya atau bisa juga alergi cuaca , debu dan polutanb lainnya tanpa harus tes alergi, sioalnya kalo tes alergi seringkali hasilnya ngaco, misalnya muncul alergi nasi, roti, daging, dll… tuh kan ?
    lagipula, anak pada periode tertentu seperti 6 bulan terakhir ini dimana cuaca ekstrim, anak lebih mudah sakit dan tak jarang harus ke dokter 2 kali sebulan.
    Bukan hal aneh sebenarnya kalo kita bisa memahami epidemiologi atau pengamatan penyakit dihubungkan dengan tumbuh kembang dan faktor lingkungan.

    3) kalo dimuntahkan dalam 30 menit, mestinya diulang karena obatnya habis dikeluarkan dari dalam perut… jika sulit minum puyer, dapat dicampur teh manis atau sari buah yang enak rasanya… dan hendaknya mengatakan kepada dokternya supaya diberikan sirup dengan cita rasa yang lebih disukai anak… jaman sekarang pasien or ortu pasien berhak memilih cita rasa obat dan dokter wajib memperhatikannya demi keberhasilan pengobatan.
    …. Saya juga bertanya-tanya… koq masih pake puyer sih ? :D …. *moga dobaca para TS DSA* … pisssssss :P

    Makasih

  85. 85 ervinaanugerahany@rocketmail.com Mei 2, 2011 pukul 5:17 pm

    waahh.. responnya cpt bgt….. *salut buat dokter* (mau manggil cak kok ya sungkan, mengingat sdh skolah dokter n sdh berpengalaman, hehehe…), Alhamdulillah anak saya yg besar sdh sehat, mau tanya lg nih..yg ini yg baby dokter, sabtu kmrn ke DSA ,obatnya spt yg sebutkan di email sblmnya, minggu sdh mendingan hari ini /senin pagi kok panas sampai 39 saya beri paracetamol syrup 0,6 ml(bayi 9 bln berat badan 8,6 kg) kok panasnya turun sedikit, kemudian naik lagi. Saya beri paracetamol tiap 4 jam karena kasihan rewel terus. sambil saya kompres, makan dan minum masih mau. cuma obat puyernya sampe hari ini masih habis dimuntahin terus. Tidak batuk tapi kok kedengeran grok2 ya dok..tidak pilek tapi kliatan bernapas lewat mulut. tadi pagi juga mencret 1 kali. bagaimana dok.. saya bingung.. whats wrong with my baby….apa yang harus saya lakukan, beli obat puyer lg yg habis dimuntahin atau balik ke DSA lg ( hiks ..DSA nya muahal..), ada yg bilang diuap aja..please help me Dok ASAP (As soon as possible)……Makasih…..

  86. 86 cakmoki Mei 2, 2011 pukul 11:09 pm

    @ ervinaanugerahany@rocketmail.com:
    panggil cak aja, seperti yang lain, lebih bersahabat :D
    Menurut saya belum perlu diuap. Wajar aja masih krok-2 dan masih panas soalnya antibiotik gak terminum akibat dimuntahkan.
    Sebenerenya bisa diganti dengan sirup yang manis.
    Untuk pengganti urfamycin dapat menggunakan sirup amoksisilin yang rasanya manis (misalnya produksi KF generik)…dosisnya minimal 3×1 sendok takar
    Adapun krok-2 karena dahak kentalk or sekret pernafasan kental..dapat menggunakan obat yang sudah ada.
    Sirup mucopect 3×1/2 sendok takar .. walaupun gak batuk tapi dapat untuk mengencerkan sekret pernafasan supaya ilang krok-2 nya.
    Sebagai pengganti uap, dapat menggunakan sirup theobron, dosinya 3×1/4-1/2 sendok takar.
    Moga segera sembuh dalam seminggu :)
    Makasih


  1. 1 Bila si kecil sulit minum obat « Ngobrol Kesehatan Lacak balik pada Agustus 9, 2008 pukul 1:50 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 4,957,185 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 559 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: