P r o l o g
Tulisan ini dimaksudkan menghimpun ungkapan-ungkapan dokter atau petugas kesehatan lain yang menakutkan mencemaskan pasien dan atau keluarganya.
Sebagian sudah penulis himpun berdasarkan pengakuan para pasien. Mungkin tidak seluruhnya benar alias subyektif dan sudah dipersedap bumbu-bumbu versi pasien, mungkin juga memang benar sesuai penuturan pasien.
T u j u a n
Rangkuman ungkapan yang tidak (kurang) menyenangkan dari sudut pandang pasien dan pembaca, setidaknya dapat dijadikan bahan agar para dokter khususnya penulis lebih bijak dalam memilih kalimat agar pasien tidak tambah cemas.
Untuk instrospeksi gitu lho.
Dengan demikian, diharapkan ada semacam titik temu yang dapat menyenangkan kedua pihak tanpa mengurangi substansi tujuan pelayanan kesehatan, baik pelayanan promotif (penyampaian nformasi), preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan) maupun rehabilitatif (pemulihan).
Sudah sering kita mendengar ungkapan-ungkapan dokter (disadari atau tidak) yang tidak menyenangkan pasien atau bahkan menakutkan. Demikian pula keluhan terhadap layanan kesehatan dalam hal komunikasi antara dokter-pasien masih sering terdengar. Sikap yang tidak ramah, wajah kaku, mahal senyum, cerewet dan sejenisnya adalah sebagian dari gambaran yang disematkan para pasien kepada dokter.
Belum lagi istilah-istilah bias tanpa penjelasan yang justru menjadi istilah umum yang sebenarnya kurang tepat. Sah-sah saja memudahkan istilah medis menjadi istilah lain dengan tujuan agar mudah diingat dan mudah dipahami. Penulispun sering melakukannya. Namun hendaknya istilah tersebut tidak terlalu jauh menyimpang dari istilah yang sebenarnya.
Penulis menyadari adanya kesulitan kalangankesehatan dalam memperkenalkan istilah medis menjadi istilah umum dengan maksud agar pasien menjadi bagian dari komunikasi layanan kesehatan itu sendiri. Untuk itulah penulis memerlukan masukan para pembaca untuk perbaikan.
Sekali lagi, untuk perbaikan.
FAKTA BERBICARA
Di bagian ini penulis mencoba menghimpun beberapa ungkapan dokter ataupun pelaku kesehatan yang tidak menyenangkan pasien dan istilah-istilah yang menurut penulis masih kurang tepat atau bias.
Ungkapan yang tidak menyenangkan: (istilah tidak persis, tapi tak beda jauh)
Berdasarkan hasil pemeriksaan, penyakit bapak/ibu/saudara diperkirakan tidak lebih dari 3 bulan.
- Dokternya saya atau anda !!!
- Mau sembuh apa tidak, kalau nggak nurut ya sudah !!!
- Namanya melahirkan ya sakit, kalau enaknya nggak bilang-bilang, melahirkan teriak-teriak.
- Semua obat nggak enak !!!
- Anda nggak nurut sih, sudah dibilangi kan ? Nggak boleh makan daging, telor, ikan, jeroan, sayur ini itu dan makanan ini itu … *ih banyaknya, mau makan apa nih*
- Tidak boleh makan nasi, harus makan kentang !!!
- Anak ibu flex, minum obat harus subuh sebelum makan apapun. Pokoknya pagi sebelum makan apapun.
- Anda hipertensi, tensinya 200, kalau nggak kontrol bisa stroke.
- Operasi !!!
- Tensi atasnya sih hanya 150, bawahnya 100 ini lho yang bikin bahaya.
- Liver anda sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
- Oh anak ibu alergi, nggak boleh makan ikan, telor, bumbu masak, ayam, coklat, susu, kacang-kacangan dll. *tambahan penulis: sak supermarket sekalian gak boleh dimakan*
- Anak ibu flex, minum obatnya 6 bulan. Kalau masih batuk tambah 6 bulan. Kalau itupun masih batuk, tambah 6 bulan lagi, kalau perlu sampai 2 tahun. *hahhh*
- Sakit maag, tidak boleh makan keras-keras, tidak boleh makan … bla bla bla.
Dan masih banyak lagi.
Mungkin tindakan atau advis yang diberikan memang betul berdasarkan alasan medis, namun alangkah baiknya jika disampaikan dengan bijak.
Bagaimana pengalaman pembaca ? Apa pula harapan pembaca ?
Silahkan disampaikan, bila perlu diberikan contoh-contoh ungkapan yang menyejukkan ditengah derita pasien.
Istilah-istilah, hasil laboratorium dan pemberian obat yang bias:
- Flex (fleks?). Istilah ini dipakai untuk (mungkin) memperlunak istilah TBC.
- Paru-paru basah. (apa ada yang kering seperti krupuk paru?)
- Gejala liver (setelah hasil lab menujukkan nilai SGOT/SGPT lebih dari normal)
- Typhus (berdasarkan test widal)
- Gejala Asam urat (berdasarkan kadar asam urat menunjukkan nilai ambang atas)
- Usus terlipat (mungkin yang dimaksud ileus)
- Tablet tambah darah (biasanya diberikan oleh paramedis pada hipotensi)
- Ibu hamil tidak boleh suntik.
- Wanita haid tidak boleh suntik.
- Dan lain-lain, dan lain-lain.
Walah, masih banyak. Suatu saat penulis akan menambah pernak-pernik seputar salah kaprah di dunia kesehatan, baik salah kaprah yang dihembuskan khalayak maupun oleh para pelaku kesehatan sendiri.
Kepada para pembaca:
Mohon masukan, saran dan pengalaman seputar istilah-istilah yang mungkin masih membingungkan, kemudian bersama-sama kita upayakan untuk memperbaikinya.
Untuk sejawat dokter, bidan, perawat dll:
Jangan keburu marah ya. Suara-suara pasien dan khalayak perlu didengar juga kan ?
Mari kita perbaiki mutu layanan dari hal-hal yang paling kecil.
D I S K U S I
Penulis mengajak semua pihak untuk mendiskusikan berbagai hal terkait materi postingan ini. Jika ada istilah-istilah yang karena suatu hal sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia, setidaknya bisa dipilih cara lain untuk menjelaskannya.
Mungkin ada yang beranggapan bahwa apa yang kita bahas bersama ini tidak bisa merubah apapun, namun penulis percaya bahwa dengan semangat berbagi, kita bisa memberi manfaat bagi sesama. Setidaknya pembelajaran bagi penulis.
Insya Allah.





![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)
Ya betul dok, wong anak saya aja diVonis Flex… padahal TBC ya?
kita khan pasien, mayoritas awam…
Terus penjelasan rincinya gimana tuh dok? perihal penyakit tsb dan pengobatannya?…
suwun
@ Biho,
Belum tentu ah (bahasa halus dari tidak percaya). Kebanyakan karena virus atau batuk alergi yang kadang bisa berlangsung 2 minggu.
Ok, Pak Biho, penjelasan ada di halaman Tanya Jawab.
ini pengalaman saya pribadi 6 bulan yl.
ibu mertua saya habis menjalani operasi colostomy karena kanker rektum, untuk persiapan kemoterapi disuruh periksa macam2, salah satunya foto USG. ketahuan ternyata di liver sudah ada banyak nodul. dokter radiologi menyatakan, berarti sudah stadium 4 (tadinya dikatakan stadium 3B).
dari RS Haji Surabaya tempat dirawat semula, ibu dirujuk ke RS Dr. Soetomo. sebagaimana di RS pendidikan lain, saban periksa ketemu dokter (PPDS) yg berbeda, yang advisnya berbeda-beda, kadang bertentangan, bahkan konsulennya (eh, konsulen apa konsultan ya?) juga memberi pendapat yang berbeda lagi! buingung deh pokoknya.
karena takut, saya cari upaya alternatif lain. datang ke sebuah klinik TCM yang diawaki dokter-dokter medis. walah… maunya cari harapan baru, lha kok di sana malah ditakut-takuti, “bu, kalo sudah stadium 4 itu biasanya cuma bertahan 6 bulan lho!” matik aku! mungkin maksud dia biar saya takut trus beli obatnya yang harganya betul2 aduhai itu….
saya sih antara percaya dan tidak percaya, soal umur kan rahasia Tuhan. tapi ibu kandung saya sendiri, 22 tahun lalu setelah menjalani biopsi diketahui kena kanker hati stadium 4, dan dokternya bilang terus terang pada bapak, “pak, umur ibu kira-kira tinggal 3 bulan lagi…” ramalan dokter itu tidak meleset satu hari pun! persis!
trus lagi, dokter lain di klinik TCM yang sama cerita, bahwa ibunya dulu juga kena kanker kolon, sempat menjalani operasi tiga kali, kemudian… meninggal hanya dalam jangka waktu setahun sejak penyakitnya diketahui.
wadoww… ternyata banyak nih dokter yang HORORis causa
tapi alhamdulillah ibu mertua saya sampai sekarang masih bisa menjalani hidupnya dengan baik tuh….
Kalau jawab pertanyaan seadanya. Tidak mau menjelaskan panjang lebar. Menghindari bahasa ilmiah / idiom kedokteran. Periksa pasien kelihatan sekedarnya. Wah, kalau di list masih banyak list-nya dari apa yang saya tidak sukai dari type dokter yang seperti itu
Btw, OOT. Saya berkunjung ke blog ini dari blognya Dani Iswara dan membuat Search Engine untuk mencari artikel/opini hanya dari blog-blog para dokter yang ngeblog saja.
Andai semua bisa bertutur yang sopan dan santun, enak didengar, mungkin banyak pasien dan keluarga pasien lebih tenang dan sedikit lebih tabah.
BTW di kedokteran khan sudah diajari tata krama toh CAK.
» Helgeduelbek:
ada pelajaran etika pak guru, bhs Indonesia jg.. tp ya gitu itu..rasa empatinya mungkin blm mengena pas..
Yang tak kalah ‘jleb’ adalah tidak adanya tanggapan alias si dokter diam saja, tidak menjawab pertanyaan kita. Yey.
Istilah: gejala tifus, radang tenggorokan (tenggorokan merah: he? semua tenggorokan merah kaleeee… ), gejala demam berdarah, rahimnya turun (sudah pernah disinggung cak Moki juga), kolesterol (kenapa kolesterolnya? hihihi… ), lapar mikronutrien (percaya atau ngga, temen di milis beneran ada yang anaknya dibilang begini sama DSAnya, sampe bingung). Banyak, cak. Bisa dibikin posting tersendiri
Kalau masuk angin dan panas dalam gimana? Hehehe…
Flek -selain untuk ‘memperlunak’ TBC- juga seringkali digunakan untuk ‘diagnosa’ radang paru-paru (pneumonia, mungkin maksudnya?).
Pengalaman pribadi nih pak…
Saya pernah kena typhus dan dokternya “cukup rewel”. Setelah kurang lebih 5 hari, obat yg diberikan dokter itu habis tapi demamnya nggak turun-turun. Waktu datang ke dokter itu lagi, dia bilang :
Dokter : anda istirahat nggak sih ?
fertob : istirahat dok, total malah….
Dokter : makannya sesuai anjuran kan ?
fertob : iya dok, pake bubur, bla-bla-bla….
Dokter : koq nggak sembuh-sembuh juga ?
fertob : lho… )*8$*^%*%^)*_(& (meneketehe)
(dalam hati : situ yang dokter koq…!!)
Terus dikasih resep obat baru lagi dengan pesan-pesan yang makin banyak. Mungkin dianggapnya aku anak SD yang suka membandel. Tapi karena sudah keburu “gondok” dan “sebal”, saya akhirnya pergi ke dokter lain, dan resep dari dokter yang pertama saya abaikan (malah saya buang). Mahal memang tapi kalau sudah nggak sreg obat apapun pasti nggak bisa menyembuhkan. Faktor psikologis yg terpenting.
Dokter yg kedua ini lebih bersahabat. Dokternya sudah agak tua (rambutnya sudah beruban) dan suaranya lembut. Dia berikan resep yg, menurutku, hampir sama dengan resep obat yang pertama.
Alhasil 3 hari kemudian sembuh total dari typhus.
*sorry pak jadi curhat nih*
Alhamdulillaah belum pernah mengalami yang seperti itu tapi saya pernah sebel sama dokter waktu dulu zaman tekanan darah masih suka tinggi (zaman kuliah dulu). Dokternya sih cantik tapi saya sebel karena setelah memeriksa tensi saya dia tidak mau memberitahu berapa tensinya. “Pokoknya tensinya tinggi. Kamu nggak usah tahu, nanti malah kaget.” “Yang punya tensi itu saya apa dokter? Kok bisa-bisanya dokter bilang saya akan stres?” kata saya waktu itu. Lalu saya mulai deh kumat bawelnya sehingga akhirnya dokter cantik itu ngalah dan ngasih tahu tensinya. 150 / (lupa). “halah… segitu aja tinggi. nakut-nakutin saya saja.” “Untuk orang seumuran Kamu, segini sudah tinggi.” Ah… yang jelas saya nggak stres.
@ Titah,
Kita prihatin masih ada (banyak?) dokter yang senang nakut-nakuti bin hororis causa.
Kalau toh memang bisa memperkirakan umur seseorang secara medis(saya tidak percaya), menurut saya tidak bijak mengatakannya. Pasien tambah terluka dan keluarga ikut stress. Support rasanya lebih baik.
@ MaIDeN,
Tidak perlu sungkan, dilengkapi aja list-nya, sebagai bukti nyata bahwa masih banyak ungkapan yang justru membuat pasien tidak nyaman. Saya akan menginventarisir, agar hal itu bisa dihindari oleh para dokter, termasuk para mahasiswa kedokteran agar nanti jika sudah menjadi dokter tidak mengulang kata mutiara tak sedap.
Jangan kuatir, identitas tidak ditampilkan koq.
Di praktek saya, pasien boleh protes dan saya terima dengan enjoy.
Terimaksih ya, telah berkenan mencatumkan search Blog dokter di sidebar MaIDeN Life.
Saran dan kritik ditunggu untuk perbaikan layanan, setidaknya pembelajaran bagi saya
@ Helgeduelbek,
Soal tatakrama, sudah terjawab oleh Mas Dani, Pak Guru.
Di internal IDI sering ada guyonan: ngatur dokter umum lebih sulit daripada ngatur kambing, sedangkan ngatur dokter spesialis nyaris tidak mungkin. Bukan ungkapan pesimis, hanya menggambarkan betapa tidak mudah ngatur sekumpulan manusia yang kebetulan diberi anugerah sebagai dokter.
@ Lita,
Ada pertanyaan yang pasti dijawab.
Pasien (keluarga pasien): “berapa dok ?”
dokter: “lima puluh ribu” (yang ini dijamin sangat jelas dan mantab)
Saking banyaknya istilah “aneh” bisa dibuat daftarnya ya, kayak daftar bahasa slank itu lho.
Saya sudah nyiapkan postingannya Bu, masih perlu edit agar tidak terlalu pedas karena menyangkut “konco sendiri”.
Masuk angin ? Apa masih ada tho dokter bilang begitu, lantas anginnya masuk dari mana ? (mungkin begitu lanjutan dialognya)
Panas dalam malah jadi iklan, diperankan oleh orang berbaju dokter, maka lengkaplah kesimpang siuran istilah medis di negeri ini.
Flex sepengetahuan saya untuk TBC, terbukti obat yang diberikan adalah obat TBC selama sedikitnya 6 bulan. Bila untuk pneumonia obatnya kan hanya beberapa hari, kecuali jika si dokter mengatakan kepada pasiennya bahwa yang dimaksud flex bukan TBC tetapi pnemonia.
Menurut saya Pnemonia tetap diperkenalkan sebagai Pnemonia karena tanda-tanda luarnya mudah dilihat. Apalagi kalau dicetakkan gambarnya, dilaminating lalu ditempel atau dibuat album.
Atau ada pendapat dan saran lain?
@ fertobhades,
Huahaha, saya terpingkal baca “meneketehe”, apa sih artinya ? Bahasa India apa bahasa “nggondok” …
Benar Pak, di kedokteran sebenarnya diajarkan membangun “empati” seperti disinggung Mas Dani di atas.
Sikap bersahabat, sabar, memberi support, banyak berpengaruh terhadap kesembuhan pasien, karena pasien menjadi lebih bersemangat untuk sembuh, paling tidak bisa mengurangi keluhan. Bahkan kalau perlu, minta maaf jika kesembuhan menjadi lebih lama dari perkiraan, pasien akan menghargai koq.
Dulu semasa saya baru jadi dokter juga pernah merasa jengkel di dalam hati saat ada pasien ngeyel, tetapi tidak sampai terlontarkan karena segera sadar bahwa yang lebih mengerti wajib memberitahu yang kurang mengerti.
Ternyata komunikasi pasien-dokter banyak pernak-perniknya.
Saya gembira bisa berdialog terbuka
@ Kang Kombor,
Terbayang dalam benak saya adegan masalah tensi antara Kang Kombor dengan si cantik. Saat itu (mahasiswa) masih bujangan tho, nah coba ketika itu Kang Kombor nanyanya sambil menyentuh lengan si cantik, maka si catik akan menjawab: ” anu Mas, nggak seberapa koq, hanya 150/lupa, minggu depan kontrol temui saya ya, bisa kan … bla bla bla “. *sambil menyibakkan rambut*
Eh iya, salah kayanya. Pneumonia seringnya dikatakan sebagai ‘paru-paru basah’, dengan penjelasan bahwa ada cairan di paru-paru.
Entah bagaimana, yang terbayang kok ya paru-parunya terendam cairan, gitu. Dan solusinya cuma ‘membolongi’ rongga dada supaya cairannya bisa dikeluarkan lewat selang (eugh…).
Padahal pilek atau infeksi virus biasa juga bisa ‘memunculkan’ cairan itu kan ya, cak? Mohon luruskan kalau salah.
Masuk angin dari ‘angin duduk’, mungkin. Hehehe… ayo cak, jelasken.
Waktu saya konsultasi ke internis karena IgG HBV [+], dia meresepkan saya beberapa vitamin.
“Untuk mengobati hepatitisnya”, katanya.
Saya bengong.
“Lho, dok, kalo karena virus bukannya cuma bisa dengan antivirus? Itupun tingkat keberhasilannya kecil, kan? Lagipula mahal sekali. Bukankah cukup dengan pola makan sehat?”
“Iya betul, karena itu… [gak inget lagi, pokoknya mengesankan supaya hepar saya lebih sehat, saya sebaiknya minum vitamin-vitamin yang diresepkan, yang kalau tidak salah dari keluarga vitamin B semua]“.
Saya diem. Gak logis. Penjelasannya dimentahkan sendiri. “Iya, tapi…” itu bukan frase yang baik untuk dijadikan argumen oleh dokter. Iya ya iya, ngga ya ngga, ngga pake ‘tapi’.
DSOG saya malah cuma berpesan untuk jaga kesehatan dan cukup istirahat plus jangan mikirin penyakitnya. Gimana sih ini.
*lho curhat*
Kecil kemungkinannya dokter -yang bilang flek- akan menjelaskan yang dia maksud itu apa: TBC atau pneumonia.
Lha kalau pasiennya kaget lalu bertanya (dengan nada panik), “Apa, dok? Flek? TBC, maksudnya?”, dijawabnya ya, “Baru gejala, bu [atau 'bukan, bu']” (ini lagi-lagi sharing di milis). Lak ya pasiennya cemas campur bingung.
Tapi obatnya flek ini ya kok belum tentu obat TBC, cak? Ada yang dapet obat TB (yang 6 bulan itu), ada yang dapet obat asma, ada lagi yang dapet antibiotik untuk pneumonia, ada pula yang dapet obat anti alergi, macem-macem. Ikutan bingung gak, cak? Hayoo… Hihihi…
Meneketehe itu ’slang’ buat ‘mana kutahu’, cak. Saya dengernya dari artis-artis Extravaganza
*Habis baca novel trus gak bisa tidur jadi main ke sini*
@ Lita,
Cihuy, mulai ketemu benang merahnya. Kita berkewajiban menguraikan benang kusut bersama-sama walaupun dalam wilayah kecil dan menghadapi banyak tantangan.
Saya merasa didorong untuk membuat postingan 3 (tiga) istilah di atas sebagai pintu diskusi, perasaan aja koq, hehehe *betapa teganya*
Menimbang dst, mengingat dst, mempertimbangkan dst, maka dengan ini memutuskan: berupaya menampilkan postingan tersebut untuk didiskusikan bersama dengan harapan bermanfaat. *halah*
Adapun PR dimaksud adalah:
efusi pleura (tindakan pengobatan: membolongi rongga pleura pakai selang), pnemonia, Flex (TBC)
Angin duduk itu istilah yang dipakai untuk serangan jantung, infark miokard (postingan juga?). Bisa saja dalam perkembangannya istilah “angin duduk” menjadi bias.
Ig HBV sudah terjawab oleh DSOG.
Flek, …inilah yang paling seru.
Kebanyakan pasien yang didiagnosa Flek pada kenyataannya terangkum di alinea 2 dari bawah komen Bu Lita.
Copy resep yang ditunjukkan berisi superlengkap, obat TB, Antibiotik di luar obat TB, obat asma, anti alergi, penekan batuk, antihistamin, plus bumbu penyedap lain, dijadikan satu paket pengobatan flek, dan itu semua dicekokkan kepada seorang penderita.
Ada juga yang bangga ketika seorang anak minum obat 6 bulan. Rasional ? Dengan segala hormat saya katakan TIDAK.
Mengapa cara tersebut menjadi ngetrend ? Pangsa pasar ?
ah… meneketehe
yang lebih tidak mengenakkan itu ketika harus disuruh rawat inap dengan menyelesaikan biaya administrasi berjuta-juta
@ passya,
Betul Pak, harusnya kita punya RSUD representatif, berkualitas dan murah. Biaya “non medis” masih tinggi, dan itu dibebankan kepada pasien, ironis ya. Belum lagi kalau bolak-balik kontrol. Hiyyy
alhamdulillah belum pernah ketemu dokter yang bicaranya tidak menyenangkan. maksimal ya dibilangin begini: “kan mama udah bilangin, nggak percaya sih sama mama..”
tapi pernah berobat ke dokter yang … kalau meriksa tenggorokan, dilihat dari jauh sambil mengarahkan senter ke mulut pasien yang terbuka. dilihat dari jarak sekitar 1.5 m gitu deh. ya, kaya’ “neropong” gitu. menurut bapak, gimana?
tante2 saya menganggap itu … nggak etis ..
kadang dokter pake bahasa kedokteran biar keliatan ‘lebih’ dibanding pasiennya, entah untuk alasan apa..bingung juga saya
padahal sekarang selalu didengungkan bahwa posisi dokter sama pasien sama, bahkan sekarang ada hak pasien-kewajiban pasien vice versa
hak pasien juga termasuk mengetahui dan mengerti penyakit yang dideritanya
mengutip dr.bahar azwar (sekarang beliau jadi kaya’ pengacaranya pasien utnuk kasus2 yang ‘diduga malpraktek), kalo satu aja hak pasien dilanggar oleh dokternya, maka si dokter udah melakukan malpraktek.
tapi sayangnya, sampe sekarang pasien g tau haknya, malah diem aja walo kena marah dokternya…(mungkin dokternya bertampang sangar…heheh)
@ kikie,
Anak dokter ya
Meriksa pakai senter 1,5 meter, pendapat saya sama dengan tante, nggak etis, kurang menghormati pasien. Kesannya kayak takut ketularan, dan yang keliatan kan cuman gigi doang. Ya nggak ?
@ grapz,
Hak pasien sebenarnya sudah sering didengungkan sejak dulu kala.
Soal malpraktek, kalau benar dr. Bahar Azwar mengatakan demikian, saya tidak sependapat, karena malpraktek menyangkut “kelalaian” tindakan medis, itupun masih ada rinciannya, sedangkan “hak mengetahui” lebih ke arah etika, paling banter pelanggaran etika.
Saya sependapat bahwa pasien berhak untuk mengetahui informasi penyakit dan rekam mediknya.
Mestinya dokter yang pro aktif memberikan penjelasan, bukan nunggu pertanyaan pasien.
Melalui forum ini kita bisa ikut memberikan pemahaman kepada khalayak bahwa pasien berhak untuk bertanya. Gimana, setuju nggak ?
saya pernah dibilangi dokter kulit waktu kenal gatal-gatal di kaki karena ekzim(ma’af kalo salah tulis, artinya apa itu cak?) kemudian saya tanya, “dok saya nggak boleh makan telur sama ikan laut ya dok?” tanya saya, dokterpun menjawab “enggak bohong itu, kamu boleh makan semuanya kecuali racun” he..he..he.. dokter yang punya sense of humor yang tinggi.
@ peyek,
Ekzim atau eczema dermatitis adalah salah satu dari penyakit alergi, penyebabnya belum tentu makanan.
Betul kata dokter kulit (& kelamin) itu, selain sense of humor biasanya dimaksudkan untuk penekanan bahwa tidak semua penyakit kulit berhubungan dengan makanan.
Saya juga suka guyon seperti itu, misalnya pasien yang sudah akrab tanya: pak dokter, terosipun mboten angsal nedo ulam nggih ?
Saya sambil guyon njawab: nggih mboten angsal dahar ulam mentah
Katanya sih peran dokter sebaiknya lebih banyak healing daripada sekedar curing.
Mungkin kalo curing kan lebih bersifat fisik, yaitu mungkin cuma memberi obat bla…bla..bla
Sedangkan healing tidak hanya fisik saja tetapi juga psikis, jadi tidak hanya memberi obat tetapi juga memberi motivasi kepada pasien untuk sembuh..
Benar gak cak?
bincang pasien appendix
dokter : loh, anda sudah pernah ke dokter anu ?
pasien : betul dok. ini buat perbandingan diagnosa
dokter : jadi anda gak percaya sama diagnoasa dokter anu
pasien : bukan gitu dok, buat memastikan apa memang itu penyakitnya !
dokter : sudah periksa ke lab ? check darah ? urine ?
pasien : sudah … dan memang hasilnya positif !
dokter : lantas maksud anda ke sini ?
pasien : tadinya dikasih obat … biar gak perlu operasi !
dokter : baik, kamu skrg check lagi di lab … saya tunggu hasilnya !
3 jam kemudian …
dokter : ya betul … kamu positif appendix. kita coba kasih antibiotik, bila masih berlanjut dalam waktu 6 hari ini, maka harus dioperasi. bila tidak nyawa anda melayan …
pasien : wadouuueee … $%#$@*&^%$#@@@@!!! ???
wakkakakakaaa …
Makanya saya nggak pernah ke dokter!

Kalau sakit? Minum wedang kopi campur jahe!!!
Serius: masalah ini memang global kok. Di mana-mana sama saja.
Pasien dianggap nggak ngerti, tapi daripada memberi penjelasan sedemikian, supaya ngerti (pakai bahasa normal), eh, pakai istilah latin lagi.
Contoh:
Pasien: Dok, sebetulnya saya ini sakit apa?
Dokter: Anda menderita tachyarrhythmia absoluta dengan kelemahan jantung akibat tachypathy.
Pasien: hmm, gitu ya, dok.
Dokter: Iya, nah, untuk mengobatinya kami coba dulu dengan digitalis dan betabloker. Selain itu kita aharus memberi anda antikoagulasi untuk mencegak emboli.
Pasien: Hmmm, terus, dok?
Dokter: Nah, kalau konversinya gagal, anda harus kembali lagi 4 munggu lagi dan kita harus mencoba dengan defibrilasi elektris.
Pasien: Hmm, gitu ya dok? Terus, ganas nggak tumor taki itu?
Dst., dst.
Akhirnya pasien memberanikan diri dan bertanya lagi:
Wah, maaf ya dok, saya nggak ngerti nih. Bisa nggak dijelaskan lagi?
Dokter: Ah, nggak usah lah, pokoknya minum saja obatnya, toh nanti nggak ngerti juga kalau dijelaskan lagi.
@ deKing,
Benar, setiap dokter sudah ditanamkan pengertian semacam itu saat masih kuliah. Support bisa berbentuk sikap bersahabat, menenangkan pasien dll, bukan sekedar obat mahal atau malah nakut-nakuti. Misalnya ketika meriksa pasien dengan tensi 200, lalu si pasien bertanya tensinya, alangkah bijaknya jika si dokter mengatakan: agak naik, hanya 200, insya Allah bisa diturunkan, nanti kita turunkan pelan-pelan, kita usahakan sampai normal. Bandingkan dengan ungkapan dokter: lho koq tinggi sekali, ini bisa komplikasi stroke, bisa jantung koroner dan bla bla bla.
@ rajaiblis,
hahaha, dialog itu memang terjadi.Pasien periksa lab 2 kali, mbayar dokter 2 kali plus ancaman “nyawa melayang”.
Mestinya dokter kedua cukup memotivasi dan memberi pengertian bahwa apendix akut seyogyanya segera operasi disertai pesan bahwa operasi tersebut termasuk operasi kecil, jika dokter kedua tersebut hanya sebatas memotivasi, tidak harus menarik bayaran alias gratis.
@ tukangkomentar,
Hahaha, dapat kiriman rutin kopi jahe ya pak.
Dokter: tachyarrhythmia absoluta, tachypathy, digitalis, betabloker, antikoagulasi, emboli, defibrilasi elektris.
Pasien: (omongan dokter)=tumor taki=tumor digit=tumor beta=tumor embol=tumor defi=?%!~werder bremen~bayern munchen~schalke04=tambah bingung=???%^&=$$$
Dokter: Pokoknya™ …
Itu di Jerman ? Indonesia ? atau global seluruh dunia ? Hiks
wah ternyata pasen2 pada complain ya klo dibilangin keluarganya bakal meninggal :(, padahal yg ngasih tahu nangis dulu jeee, niatnya ngasih tahu sudah stadium 4 biar di seneng2in aja TLO dan ga perlu buang uang untuk perawatan yg ga sia2 tapi malahan pada ke paranormal
Mas Cakmoki,
saya kira kok masalah ini global, ya. Cuma mungkin agak berbeda dikit.
Kalau menurut pengamatan saya, masalahnya juga terletak di kekurang-mampuan kita untuk menggunakan dan mengerti “bahasa” yang dipergunakan si pasien. Baik dalam arti harafiah maupun dalam arti kaiasan.
Seperti sudah dipaparkan oleh anda dan beberapa rekan di atas, kita sering mempergunakan “bahasa” yang tidak dimengerti oleh pasien.
Contohnya: seorang pasien yang sedang kesusahan, karena anggota keluarganya sakit berat dan “tidak mempunyai harapan lagi” akan membutuhkan komunikasi yang “momong” dan “psikoterapistis”.
Memang sebaiknya kita menjelaskan sejelas-jelasnya situasinya, tetapi mbok ya jangan seenak udelnya (dengan alasan apapun) seperti: “Wah, sudah nggak ada harapan lagi ni Pak. Saya beri waktu tiga bulan lagi… dst., dst.”
Lha memang si pasien dan anggota keluarganya itu kayu atau batu yang nggak punya perasaan? Dan apakah si dokter itu Yang Maha Tahu dan Yang Maha Berkuasa, kok bisa tahu, bahwa pasien itu hidupnya tinggal 3 bulan lagi? Dan siapa dia, kok “memberi” waktu 3 bulan itu?
Juga saya rasa perlu kita mempelajari persepsi pasien tentang penyakit itu (untuk menghindarkan penyalah gunaan persepsi tersebut oleh oknum-oknum yang ….).
Mengenai bahasa secara harafiah, ya itu, kan sering kita nggak menguasai bahasa daerah setempat dengan baik. Ya memang kan dokter sering merupakan seorang pendatang. Jadi sebaiknya kita harus berusaha mempelajari bahasa setempat sebaik mungkin dan tidak boleh gentar/malu bertanya (kalau perlu sampai beberapa kali), kalau nggak ngerti betul maksud si pasien dan anggauta keluarganya. Ada kan pepatah: Malu bertanya sesat di jalan?! Memang (syukurlah) di Indonesia kita mempunyai bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (untung belum diganti dengan bahasa tertentu!
)
Bayangkan seorang yang datang dari Jawa Timur dan harus bekerja di Pandeglang atau Banten (di desa sekali). Kan pasti nggak ngerti sepenuhnya dialeknya, kan?
Tapi ya itu: banyak kolega kita yang merasa lebih “di atas” dan merasa, bahwa pasienlah yang harus mengerti dia, bukan sebaliknya atau bukan saling mengerti.
@ senyumsehat,
Yang dikeluhkan lebih ke arah “cara penyampaiannya” Mbak.
Memang berat ketika kita berhadapan dengan fase terminal, podo nelongsone. Saya beberapa kali merawat pasien yang sudah tidak diterima dimana-mana, mendatangi ke rumahnya tiap hari ketemu orang nangis, duhhh melas.
@ tukangkomentar,
Barusan saya menemani mahasiswa kedokteran di rawat inap. Setelah demo teknis medis, saya menceritakan masalah ini. Selanjutnya praktek visite, satu persatu meriksa pasien sambil dialog. Kebetulan ada seorang pasien asma, barulah mereka tahu yang namanya wheezing setelah mendengarkan sendiri.
Setelah selesai, saya minta masing-masing mengungkapkan kesan. Para mhs tersebut mengatakan:
1. Dialog dengan pasien, menanyakan keluhan, makanan dll dapat menciptakan suasana akrab.
2. Pamit setelah selesai periksa disertai ucapan semoga cepat sembuh, membuat pasien berterimakasih.
3. Sebagian mahasiswa tidak begitu mengerti bahasa daerah.
Dari kesan di atas, cocok dengan anjuran penjenengan, yaitu: support, berusaha memahami bahasa pasien dan ramah.
Tadinya mereka takut-takut mau visite, setelah saya jelaskan bahwa akan didampingi, mereka menjadi berani. Ternyata bisa.
Dan setelah mencicipi visite, mereka senang. Saya ikut senang, dan berpesan agar mempelajari bahasa daerah walaupun sedikit, untuk menyamakan persepsi keluhan pasien.
Semoga adik-adik itu nantinya menjadi dokter yang baik, asal terus dibimbing. Apalagi mereka melihat sendiri saat saya ngobrol dengan pasien seperti ngobrol dengan teman.
wah kalo saya lucu pak, saya kan pernah patak tulang sampe 3 kali, eh pas operasi yang terakhir (patah ketiga) saya sama si dokter (yang sangat ramah, betul, dan sopan dan nggak nakut-nakutin saya) bilang ke saya utuk nggak naik motor lagi, karena saya ada kecenderungan jatuh katanya (sambil becanda tapi). langsung aja saya ngakak, soalnya si dokter nggak tau kalo ternyata saya patah sampe 3 kali bukan gara2 kecelakanan motor, tapi pas naik gunung, naik tangga, sama jatuh dari wall climbing, heheheh (seharusnya saya ini memang gak boleh naik-naik yaaa??)
untuk sampe saat ini saya belum nemui dokter yang ungkapananya nakutin saya, soalnya kalo saya sakit dokternya bibi saya sendiri hehehe…..
Dulu pernah cek up ke salah satu dokter kulit
yang lumayan punya namadi bogor ..tapi yang saya ga ngerti koq banyak orang yang menganjurkan saya supaya dateng ke dokter itu ya..secara ya..dokternya manyunnnn mulu..diajakin ngomongnya susah…dia mugnkin menerapkan sistem ‘pokonya klo mo sembuh nurut aj ama saya’..sedangkan saya kan orangnya pengen tauu aja..klo ga ngerti selalu nanya..jadi males deh ke dokter itu lagi..ekzimnya jadi ga keurus deh..hikssjadi saya ini ..mencari dokter yang enak di tanya2 dan menyenangkan..klo ga menyenangkan ga bakalan deh mau berobat lagi..hu3..untungnya dah ada dokter umum langganan keluarga heheh..
dan saya baru tau klo flex itu TBC??wah benarkah itu dok?saya waktu kecil pernah kena flex..
*lahhh gondrong…maaap pak dokter*
@ chielicious,
Menurut cerita pasien-pasien, cari dokter yang mau menjelaskan dan mau ditanya-tanya sulitnya minta ampun. Sebaiknya pasien aktif bertanya jika ada yang kurang jelas, supaya untuk selanjutnya bisa nyambung.
Di daerah kami, pasien bebas bertanya, protes boleh, cemberut juga boleh. kalau ada yag cemberut biasanya saya godain: jangan cemberut dong, saya kan jadi takut … hehehe
Saya yakin di setiap kota ada dokter yang baik.
Ya flex itu sama dengan TBC. Saat ini pengobatannya mudah, hanya saja waktunya agak lama, 6 bulan.
Setelah diobati rata-rata sembuh total.
Saya pernah menghitung pasien TBC selama setahun. Yang minum obat teratur angka kesembuhannya 100 %.
@ ndarualqaz,
Halah sampai kelewatan njawab komen, maaf mas Ndaru.
Ada koq, naik-naik yang nggak bikin patah tulang. Contoh: naik pelaminan, kalau nggak percaya, silahkan dibuktikan. hahaha
Hi, enak dong kalo dokternya bibi sendiri, selain gak diomeli, gak mbayar, juga bisa minta sangu.
naik pelaminan pak, ha yang betul. hgara2 njenengan ni saya jadi pengen cepet2 cari calon nih pak. hehehe
@ ndarualqaz,
betuuulll.
Sulit diceritakan, kalo ditulis bisa postingan bersambung.
Wis tho, uenaaakkk tenaaannn
Cak Moki …
Coba mampir nih, ijin juga alamat web nya ta pejeng di blog saya ya .. biar kliatan rame
Nyambung soal komunikasi dokter-pasien, biar berasa hangat menurut saya jumlah pasien yang konsul harus dibatasi dan kasih no telp atau alamat email tiapkali selese konsultasi.
Jadi kalo ada yang kurang jelas / kurang berkenan biasanya si pasien nanya lagi lewat telfon atau email.
Buat dokter yang mungkin ga sengaja pada saat pasien konsul , ngomongnya rada jutek, pas pasiennya telfon kesempetan bagi si dokter menjelaskan sekali lagi dengan bahasa yang sangat manis.
salam,
lakshmi
@ lakshmi,
Duhhh, sibuk di OK ya.
Saya malah duluan majang Bu, hehehe maaf.
Ah iya benar, … telfon, hp, email supaya lebih leluasa.
Di tempat kami pakai sms atau telfon, belum biasa email, soale agak ndeso, maksud saya ndeso betulan.
Moga Bu Lakshmi masih sempat berbagi lewat blog, saya maklum dokter bedah kan super sibuk.
Kalau ada yang nanya seputar kasus bedah ntar saya lempar ke sana ya
Saya punya pengalaman, dok…
tahun lalu saya dirawat di salah satu RS terkenal di Jakarta, gejalanya cuma panas tinggi sampai 39 derajat. Pertama divonis DBD, kemudian chikungunya, kemudian diralat lagi, tapi kali ini dokternya bingung. Dirawat 10 hari, seluruh tes darah, urine, dahak, radiologi, pokoknya segala macam alat pemindai sudah menyoroti badan dan kepala saya, tanpa hasil. Ketika si internis bingung, saya direfer ke kolega-nya, spesialis THT dan langsung vonis radang sinusitis dan perlu langsung endoskopi pagi itu juga. Saya kaget, kok tanpa tanya persetujuan saya, tiba-tiba si ahli THT mau mengendoskopi hidung saya. Saya menolak dan minta pulang, sepuluh hari tidur karena demam kena fee 10 juta dari RS yang bersangkutan tanpa bisa diketahui sebabnya.
Penasaran dengan vonis radang sinusitis, saya ke datang ke salah satu Gurubesar FKUI yang juyga spesialis THT. Beliau justru marah sama si dokter THT sebelumnya dan bilang ke saya “dari tampangmu aja gak keliatan ada radang sinus, aku lihat hasil X-Ray sama sekali bersih. Hati-hati kau, baynak dokter muda yang ngawur dan cuma cari duit.” Saya gak diberi obat apapun, bahkan vitaminpun tidak, karena menurut sang profesor saya sehat. Sampai sekarang, sakit saya misterius, dan saya pribadi menjulukinya UVA = unidentified virus attack, he he he
BTT, seringkali dokter meminta pasien melakukan banyak hal dan ketika sedikit di-argue langsung marah dan merasa dia adalah dopkter setengah Tuhan yang bisa memvonis seenaknya dan melakukan tindakan medis semaunya.
Pasien memang punya keterbatasan pengetahuan tentang dunia medis, tapi pasien punya logika yang bisa diajak berpikir dan diskusi, betul kan Dokter?
kalo soal obat..
kenapa gak kasih kesempatan buat apoteker buat menjelaskan
kan apoteker lebih faham tenang obat
daripada dokter….
trus apotekernya maw dikemanain?
tukang bikin obat, gitu?
enak aja!!!!
peran apoteker ga cuman itu…
teman sejawat?
apotekernya mana?
kenapa dokter selalu menomor sekiankan apoteker
tidak adakah dalam pikiran Anda seorang apoteker yang juga teman sejawat Anda?
benar2 tidak adil!!!!
maaf jika tulisan saya terlalu keras
sangat sebel juga kenapa apoteker ga masuk dalam kamus dokter
kenapa juga apoteker ga bole visite kayak dokter…
SEBELLL
@ n0vri,
UVA = unidentified virus attack, hahaha, istilah baru untuk otokritik. Jangan-jangan guyonan itu ada betulnya pak, mengingat sebagian viral diseases tak terdeteksi. Lab kita belum cukup mumpuni untuk mendeteksi melalui biakan, yang ada hingga kini memerlukan waktu sekitar 1 minggu, sementara negara lain mampu mendeteksi melalui biakan 2 hari. Bukannya gak mampu beli peralatannya. Tentu kita mampu asalkan tidak mark up. Kalo penyakit anak dikenal FUO (Fever of Unknown Origin), bukan UFO lho
10 hari 10 juta dan akhirnya sembuh sendiri tanpa obat ya.
Saya hanya bisa berguman: wooowww !!!
Itulah potret dunia medis negeri ini, sebagian (besar?) berorientasi duit. Di RSUD yang notabene milik pemerintahpun ada yang begitu, mahal.
Selain itu, suka atau tidak suka perlu saya informasikan bahwa mahalnya obat tak lepas dari konspirasi antara dokter, RS, produsen, instansi terkait. Sangat jelas namun sulit dilacak. Korbannya ya pasien, siapa lagi.
Dokter suka marah, mau bener sendiri, tidak mau mendengar pasien adalah episode lain dalam layanan kesehatan kita yang mestinya mudah diubah. Apa bisa ? Bisa !!! Dan mudah, asal mau saja.
Menurut saya, komunikasi bersahabat mutlak diperlukan (kecuali pasiennya koma). Pasien boleh dan berhak bertanya keluhan dan penyakitnya, kalau perlu diberi brosur.
Jika dokter-pasien mau diskusi, wah itu baru ideal
@ super kecil,
Jawabannya saya rangkap nggak keberatan kan ?
Apoteker dan unsur kesehatan lainnya rasanya sudah saya tulis pelaku kesehatan, atau belum merasa sebagai pelaku kesehatan?
Ini otokritik lho, konsekwensinya memperbaiki, bukan pasrah atau terserah atasan. Saya senang jika ada yang mau ikutan berpartisipasi nyata. Apoteker dan semua pelaku kesehatan gak dikemanain, wong sudah ada tempat dan tugasnya.
Saya tidak sependapat jika apoteker merasa lebih mengerti soal obat, mengingat bicara aplikasi berarti bicara layanan kesehatan secara komprehensif. Tentu tidak dilarang jika merasa lebih mampu penerapan klinisnya. Siapapun boleh punya perasaan demikian. Terus pasien dan pengguna pelayanan kesehatan dianggap apa ? Obyek yang hanya menelan obat tanpa boleh bicara dan berpendapat ?
Hahaha, ego sektor di berbagai lini kesehatan seperti ini yang sedang saya tentang, dan saya berserta beberapa teman tidak akan pernah berhenti memperbaikinya. Siapapun penghalangnya, tentu saya hadapi, termasuk para senior saya sekalipun.
Mengapa ? Karena layanan kesehatan masih sangat jelek, tidak memuaskan dan tidak berpihak kepada masyarakat terlebih rakyat miskin. Kebanyakan sibuk dengan mengunggulkan perannya masing-masing, bahkan tak jarang tega mempermainkan pengguna jasa pelayanan kesehatan demi dirinya sendiri.
Saya sok idealis ya ? Iya !!! Tidak salah. Dan saya tidak asal bicara, sudah melakukan, sudah berbuat, tidak menunggu instruksi.
Soal teman sejawat, sudah saya sebut dll, habis banyak sih. Ini dia daftar para sejawat: Dokter gigi, apoteker, SKM, PMI, lab, bidan, perawat, AA, pekarya kesehatan, TU, sanitarian, penjenang kesehatan, jurim, petugas gizi, satpam, cleaning servis, operator SIK, laundry, penata saji, kader posyandu, jumantik, pasien, keluarga pasien, wuihhh masih banyak nih, … wa ala alihi wa shohbihi ajma’in. hehehe, kena semua dah. Piye ?
Maaf kawan, pokok bahasannya bukan itu. Postingan ini ditujukan untuk dialog terbuka seputar layanan kesehatan komprehensif dari sudut pembaca. Para apoteker atau siapapun boleh berpartisipasi, artinya mau dan bersedia berbagi untuk memperbaiki sistem dari masukan para pembaca. Misalnya, apotik terbuka dalam hal harga obat, tidak berkonspirasi dengan dokter. Serius dalam hal public warning, penyuluhan ke masyarakat dll, banyak koq peran apoteker, gak ada tuh yang mengatakan tukang obat doang. Monggo dikembangkan sendiri untuk kemaslahatan.
Soal tulisan atau apapun dalam blog ini, saya terbuka untuk dikritik. Konstruktif ataupun tidak konstruktif tetap tidak dilarang. Rasanya sih, tidak ada yang keras koq tulisan superkecil, biasa aja tuh.
kenapa juga apoteker ga bole visite kayak dokter…
Hehehe, maaf, yang ini biar dibahas pemabaca aja ya
Selamat berjuang, moga sukses
nyambung dialog yg diposting beberapa waktu lalu …
dokter pertama kasih obat seharga 300rb lebih …
masih terasa sakitnya hingga harus berpindah dokter …
dokter kedua, meski terkesan sadis dan sangar, memberi resep namun setelah ditebus harganya gak lebih dari 15rb …
dan … “adakabra” … sembuh !
oke pak…
tapi pada kenyataannya apakah dokter melibatkan apoteker juga pada saat menentukan obat untuk pasien?
saya kira di Indonesia hal seperti ini belum marak
pinginnya c…
mewujudkan yang jadi impian kami
sperti di luar negeri…
dokter yang menentukan diagnosis penyakit
dan apoteker yang melakukan dispensing obat
tapi kapan ya terwujud?
apoteker bukan ingin mengunggulkan peran
pada akhirnya kami juga menginginkan yang terbaik untuk pasien
tidak jarang terjadi kasus
pemberian obat yang berbeda untuk suatu penyakit
misalnya seorang pasien flu
ada dua jenis obat yang khasiatnya sama
walaupun target aksinya berbeda tapi tetap di saluran pernafasan
buat apa c pak pake obat double segala?
bukankah itu pemborosan?
kasus seperti ini sering terjadi
kadang2 efek penyakit pun diobati
misalnya : sakit kepala karena flu
‘kan sakit kepalanya gak perlu diobati…
rugi kalo ngobatin sakit kepala, padahal sumber sakitnya ada di flu
jadi yang diberikan obat flu saja tidak usah pake obat sakit kepala
inilah pa’ sebenernya yang merugikan pasien
karena obatnya mahal
lha wong double tapi indikasinya sama
kalo mahal kenapa gak pake obat generik aja?
@ rajaiblis,
Lebih afdhol lagi jika dokter kedua berwajah ramah, bersahabat, saat meriksa tak lupa mengucapkan permisi dan saat menulis resep mengucapkan Basmallah, dan saat memberikan resep tak lupa ikut berdo’a: ” semoga disembuhkan oleh Allah SWT”. Harga resep 15 ribu dan sembuh. Piye ?
Kenyataanya betul blis, seperti sampeyan tulis itu. Saudara kita yang sakit sering dihadapkan 2 pilihan tersebut. Sampeyan pilih mana? Atau mau pilih yang ke 3 seperti harapan saya ?
@ super kecil,
ya, itulah yang perlu kita perjuangkan. Berat memang, karena hambatan terbesar ada di “inner cycle”. Seyogyanya dalam hal obat, pihak praktisi medis konsultasi atau duduk bersama dengan apoteker, menyangkut pilihan, pengadaan, distribusi dan penetapan harga, terutama di institusi layanan kesehatan. Seorang teman apoteker (kepala gudang Farmasi) pernah mengeluh bahwa beliau sama sekali tidak diajak diskusi, hanya diminta membuat perencanaan, lalu ditinggal. Ibaratnya habis manis sepah dibuang. Pernah sih sampai saya minta dibahas di forum hearing DPRD, sayangnya teman apoteker tersebut tidak mau mengungkap kejadian sebenarnya, mungkin khawatir dimusuhi.
Menurut saya seorang apoteker wajib mempertanyakan alasan pemberian obat kepada pasien, terlebih jika menyangkut polifarmasi.
Bukankah sudah ada formatnya ? Mungkin belum merata di setiap kota ya. Bahkan sudah ada evaluasi oleh apoteker minimal setiap 3 bulan untuk kontrol rasionalisasi obat di institusi layanan kesehatan mulai layanan primer di Puskesmas hingga RS.
Persoalannya, belum semua apoteker berani malakukan itu.
Sekedar tambahan informasi, di tingkat publik semisal Daerah Tingkat II (kota/kabupaten), penentuan obat untuk skala besar di tingkat layanan dasar, pengadaan obatnya ditentukan oleh orang di luar kesehatan, bukan apoteker bukan dokter. Atau hanya kepala dinas kesehatan dan personil pemerintah daerah. Ini kenyataan lho. Menyedihkan kan? Yang beginian harus kita perbaiki, dengan semangat mengutamakan kualitas pelayanan. Berani ? Bantuin dong, biar ada temennya. hehehe
Setahun lalu, saya kebetulan diminta membuat setting sistem pelayanan di RSUD type C plus. Salah satunya adalah manajemen obat yang kompetensi tertingginya ada di tangan apoteker. Begitu mulai jalan, ternyata tidak melibatkan apoteker. Malah nunjuk konsultan yang tidak ada latar belakang farmasi. Berhubung tugas saya hanya bikin setting dan tidak ikut di di institusi tersebut, bisanya ngomelin temen-temen. Katanya sih mau diubah sesuai setting, rencananya minggu depan kami ketemu. Ruwet ya ? Kalo mau baik harus ditambah sedikit keberanian.
Dobel pengobatan, bahkan polifarmasi sudah mewabah pada tingkat yang amat menyedihkan. Inipun sering saya kritik. Oleh beberapa teman dianggap terlalu keras, lantaran saya tulis “ingin dianggap sakti”.
Beberapa kasus masih dibenarkan pemberian obat simptomatis, tapi kecenderungan dobel atau triple malah menjamur untuk satu keluhan.
ssst, ada lho yang dalam satu puyer berisi 3 jenis antibiotika hanya untuk stomatitis. Hiyyyyy
Omong-omong, mau nggak para apoteker ditugaskan di Puskesmas?
Banyak lho persoalan farmasi yang perlu dibenahi. Jika di setiap puskesmas ada apoteker, saya salut deh
Dengan segala hormat, saya tidak setuju kalau apoteker bisa ‘visite’ seperti dokter (ini kalau pengertian saya benar lho, ya: berkunjung, mendiagnosa, dan merawat. kalau salah, tidak usah dilanjut bacanya, langsung lurusken saja).
Berhubung saya awam soal hubungan antar para pekerja medis, saya melihatnya dengan pengandaian saja.
Apakah tidak seperti: penulis buku yang ingin diberikan hak seperti guru, atau pembuat mainan yang ingin diberikan hak seperti tutor atau orangtua?
Bukan buku yang menjadikan seseorang berilmu. Tapi guru yang mengajarkan cara mengolah ilmu dari buku, memanfaatkannya, dan menggunakannya untuk berlatih mengasah kemampuan. Guru yang membimbing murid untuk ‘menerjemahkan’ isi buku agar tujuan pendidikan tercapai.
Guru semacam ini tidak banyak. Kebanyakan guru sekadar membacakan isi buku, dan menyuruh murid mengerjakan latihan soal. Mirip pembaca teks saja. Yang seperti ini, guru ada atau tidak ada nyaris tak ada bedanya.
Mainan edukatif -IMHO- juga sebetulnya tidak ada. Yang ada adalah interaksi antara anak dengan orangtua (atau orang lain yang mengasuhnya). Interaksi inilah yang memberi stimulasi pada anak, mengasah kemampuannya dalam berpikir, menganalisa dan memecahkan masalah. Bukan mainannya.
Tak guna building blocks -yang katanya edukatif- jika anak tidak tahu apa yang bisa diperbuatnya dengan balok-balok itu. Siapa yang memberi tahu? Tentunya orang dewasa yang membimbingnya. Bukan lembaran ‘howto’ dari produsen. Itu hanya mencontoh, bukan memberi rangsangan.
Karenanya, orangtua atau tutor sejati tidak bergantung pada mainan dengan label ‘edukatif’. Karena anak sendiri tidak peduli dengan label itu. Yang dibutuhkannya adalah main, alat permainan, dan teman bermain. Kardus dan kertas bekas bisa jauh lebih menyenangkan dan memberi lebih banyak ‘pelajaran’ daripada L*go seri berharga jutaan rupiah. Itu baru edukatif.
Kembali ke soal dokter dan apoteker. Bukankah keduanya memiliki peran yang berbeda namun sinergi? Yang satu dibekali ilmu untuk mendiagnosa, yang lain dibekali ilmu untuk meramu obat dalam rangka memberi terapi terhadap diagnosa yang ditegakkan oleh dokter. Dua-duanya penting, tapi tidak bisa saling menggantikan, karena dasar ilmunya pun beda.
Pasien datang ke dokter pun seharusnya bukan dengan tujuan minta obat. Minta obat (eh, beli dong ya) ya ke apotek. Dokter kan bukan tukang obat. Atau sekarang anggapannya; dokter adalah tukang resep? Didatangi untuk diminta resepnya? Salah kaprah peran, ya.
Dokter kan fungsinya sebagai partner konsultasi. Urusan obat adalah nomer dua. Yang penting pasien tahu kondisinya saat ini. Selengkap yang dapat dijelaskan dokter. Apakah apoteker dapat melakukan hal ini?
Apoteker (farmasis) juga tentu lebih tahu urusan obat. Salah kaprah kalau dokter bikin sendiri ramuannya. Lha farmasis kan belajar teknik pengemasan obat, maksudnya bentuk bagaimana yang paling efisien untuk suatu terapi.
Jadi kalau farmasis sudah susah-susah membuat kapsul, tablet, kaplet, dengan bentuk, ukuran, dan isian tertentu lalu kesemuanya diminta dokter untuk digerus jadi satu dalam satu puyer, lak kan jadi ‘mubazir’ ilmu sang farmasis itu toh? Di sini dokter ndak bisa mengambil alih peran farmasis.
Maaf jika puanjang, apalagi kalau tidak berkenan
Mohon dilurusken bengkok-bengkoknya. Pasti banyak. Supaya saya belajar mengendalikan ke-soktahu-an sayah.
Monggo…
@ Lita,
Saya mbacanya sampai 3 kali lho
Maturnuwun pencerahannya Bu, sudah lurus je
Kebetulan membaca tulisan mengenai saya dan ingin mengoreksi bahwa saya tidak atau belum menjadi kaya dan tidak lagi terjun langsung membela hak pasien teteapi hanya menulis buku.
Saya juga baru membuka blog yang saya namakan Cyber Health Consultant untuk konsultasi gratis segala macam masalah ksehatan termasuk malapraktik.
Sekadar renungan dari Muhammad saw.., yang membagi malapraktik atau ganti rugu dalam tiga kelompok yaitu, tidak ada ganti rugi, ganti rugi dibayar oleh dokter dan ganti rugi dibayar oleh baitul maal. Tidak ada ganti rugi pada: (1) Kesalahan yang dilakukan atas izin pasien, oleh dokter yang berhak; (2) Kesalahan yang dilakukan atas izin pasien, oleh dokter yang tidak ahli dan ketidakahlian itu diketahui oleh pasien; dan (3) Dokter ahli yang melakukan operasi tanpa izin pasien namun dengan niat baik. Ganti rugi dibayar sendiri oleh dokter pada: Kesalahan yang dilakukan atas izin pasien, oleh dokter yang tidak berhak, namun tidak diketahui oleh pasien. Ada pertentangan pendapat tentang pembayar ganti rugi, apakah dibayar oleh baitul maal atau dokter itu sendiri pada: Musibah atau bahaya pada anggota tubuh yang tidak sakit, yang dilakukan atas izin pasien oleh dokter yang berhak.
Islam memudahkan proses ganti rugi dengan membebankan tanggung jawab ganti rugi pada negara, yang memberikan izin praktik dan menetapkan standar pengobatan.
Dengan cara Muhammad saw.., hal yang sulit, mahal dan melelahkan dalam pembuktian malapraktik, dapat terselesaikan tanpa merugikan, baik pasien yang ataupun dokter yang hak.
@ baharazwar,
…
…
Ada juga lho Cak, dokter yang lagi sakit gigi,… tapi masih juga maksa buka praktek. Waktu pasien ngajak konsultasi, dianya cuma “heemm.. heemmm..” aja. Ketika pasien tambah ceriwis, dianya ngeluarin resep dan resit (kwitansi)… ngusir nech??… Yang galak begini, mottonya pasti “Biar Galak tapi Keren (maksutnya, selalu geli kalo dikilikitik..)” hehehe
Mengenai istilah FLEX, sepertinya itu istilah halus dokter-dokter kita aja. Soalnya waktu saya katakan istilah itu pada dr di Johor sini, dianya tak faham. Tapi kalau TB atau TB paru, dia faham. Berarti masih banyak dokter sopan di negara kita, dibanding dengan dokter yang sakit gigi & galak……
BTW, bukan hanya dokter saja…,dosen aja masih ada yang galak & kiler…
@ Pasien Ceriwis,
Wah pengalaman yg tidak mengenakkan ya. Istilah “sakit gigi” kadang saya dengar dari pasien untuk menggambarkan dokter galak.
Ngeluarin resep … pasien pulang, lohhh gratis dong
Nah istilah flek ini diperdebatkan oleh para ahli anak karena selain mengaburkan diagnosa, disinyalir ada unsur “memaksa” agar kontrol terus. Di balik itu, tersirat himbauan agar dokter tidak mudah mendakwa TB Paru hanya karena anak batuk lama
Saya kebetulan mahasiswa baru di kedokteran Unmul, dan di skill’s lab juga baru digilir materinya, salah satunya komunikasi antara dokter dengan pasien. Pas saya baca2 tanggapan dari pasien yang pernah dapat ‘dokter garang’, saya langsung dalam hati nyeletuk “Berarti daku harus bener2 belajar mendalami ilkom…gak boleh jadi ‘dokter garang’” Makasih ya, artikel dan tanggapan2nya, betul2 bisa buat bahan pelajaran ^_^v
@ Dewi Paramita,
Ok ntar semester VI ketemu saya di Rawat Inap saat praktek ketrampilan medis, non kurikuler … langsung berhadapan dengan pasien dan keluarganya. Tenang aja deh, kita bisa memberikan yg terbaik bagi sesama, ilmu, sikap dan senyuman … hehehe
Trims kunjungannya.
Waktu kuliah Pengantar Doctor Future, udah saya singgung kan ?
Trims kunjungannya dan moga sukses ya
Ada yang keliru Dewi, masa itu termasuk kurikulum dan bukannya extra. Supaya tidak salah kaprah selalulah bertanya pada dosen atau senior yang membimbing. Di beberapa univ, dimasa pendidikan itu Anda tidak dapat langsung bicara pada pasien kecuali pasien yang ditunjuk. Anda baru bebas bila sudah menjadi dokter. Untuk berhasil Anda haru mempelajari sendiri ilmu komunikasi karena biasanya tidak diajarkan di Fakultas. Untunglah saat ini buku komunikasi pasien dan dokter itu sedang digarap di KKI.
pro : Lita
sebenarnya yang dmaksud apoteker visite itu tetap dalam kompetensinya, bukan dalam ranah diagnosa tapi dalam ranah perencanaan dan evaluasi terapi obat. Apoteker dan dokter memang berbeda. Dalam visite, apoteker bisa memberi masukan atau second opinion tentang terapi obat yang diberikan. Dan praktek ini sudah berjalan di beberapa rumah sakit. Sebut saja rs hasan sadikin di bandung.
cmiiw. feel free to comment
@ fajar,
ya … dont worry … free to comment