Gaji dokter negeri di Indonesia

To The Point saja
Berapa gaji dokter negeri (PNS) di Indonesia ?
Alhamdulillah, sekarang cukup banyak. Mungkin ada yang menyebut sedikit, semua bergantung pada sudut pandang masing-masing.
Penulis sebenarnya tidak paham betul tentang sistem penggajian dan rincian nya yang rumit itu, gak pernah ikut ngitung juga. Karenanya angka-angka yang ditampilkan adalah total penerimaan gaji berdasarkan arsip slip gaji.
Berapa sih ?
Sabar dong, nggak usah buru-buru.
Baiklah, mari kita simak “gaji dokter negeri di Indonesia” dalam kurun waktu 1987 hingga Desember 2006.

Sebagai sampel adalah riwayat penggajian penulis dan istri yang juga PNS (2001 beliau berhenti) berdasarkan arsip slip gaji. Pada dasarnya, pengaturan besaran gaji dokter negeri (pns) sama dengan gaji pegawai PNS lainnya. Jumlahnya bergantung pada pangkat, jabatan dan masa kerja ditambah tunjangan, potongan dan rincian lain.
Misalnya seorang dokter golongan III.a III.b masa kerja 3 tahun, tentu lebih sedikit dibanding gaji paramedis golongan II.d masa kerja 12 tahun, walaupun paramedis tersebut adalah anak buahnya yang hanya melaksanakan 2 atau 3 jenis pekerjaan.
Sedikit gambaran diatas sudah bisa dipahami kan.

RIWAYAT GAJI DOKTER

Ketika penulis pertama kali menerima gaji sebagi calon pegawai negeri sipil (cpns) Republik Indonesia tercinta golongan III.a III.b pada akhir 1986, gaji pokok 80% sebesar Rp80.000,- (delapan puluh ribu rupiah) ditambah tunjangan dan potongan akhirnya diterima sekitar seratus sepuluh ribu rupiah.
Setelah penjadi PNS 100%, kala itu gaji naik dan totalnya sekitar seratus lima puluh ribu rupiah.

Seiring dengan waktu, kenaikan golongan dan pangkat, gaji dokter negeri naik pesat, hingga pada Desember 1995, total gaji Rp390.300,- (tiga ratus sembilan puluh ribu tiga ratus rupiah)

Perinciannya sebagai berikut:

Nama: cakmoki
Gaji bulan: Desember 1995
Gaji bersih: Rp423.700,-

Potongan:
Korpri: Rp1.500,-
Dharma Wanita: Rp100,-
Simpanan wajib koperasi: Rp6.000,-
Asuransi: Rp2.000,-
Ongkos Angkut Beras: 500,-
IDI:3.000,-
HUT IDI: Rp20.000,-
Jumlah potongan: Rp33.400,-
Sisa yang dibayarkan: Rp390.300,- ( inilah yang diterima)

Tahun berikutnya, Desember 1996, jumlah gaji naik lagi dengan pesatnya menjadi: Rp399.300,-
Dan pada bulan Desember 1997, naik lagi menjadi Rp430.900,-

Tahun demi tahun berlalu dengan grafik naik turun sesuai potongannya. Pada saat Gus Dur jadi presiden, ketika itulah gaji pns mengalami lonjakan kenaikan sejalan dengan kebijakan otonomi daerah.
Akhirnya pada Desember 2006, gaji dokter negeri golongan IV.a, masa kerja 19 tahun, ditambah tunjangan jabatan dan tunjangan lainnya berjumlah sangat besar, yakni Rp2.748.000,- (dua juta tujuh ratus empatpuluh delapan ribu rupiah).
Jumlah potongan hanya Rp2.000,- oleh asuransi.
Mungkin tidak sama persis, tapi gambarannya tak jauh berbeda, tergantung kebijakan daerah di era otonomi, biasanya berbeda dalam hal tunjangan.
Oya saat tahun 2006, jumlah THR di kota kami sama rata, yakni sebesar Rp500.000,-

Bagaimana gaji dokter PTT ?
Duh teman sejawat angkatan PTT ini sungguh generasi doker yang ditelantarkan induknya. Penulis paling tidak setuju dengan kebijakan PTT bagi dokter , karena sejatinya masih banyak tempat di pelosok negeri yang memerlukan kehadiran dokter.

Untuk dokter spesialis negeri yang tambahan waktu pendidikannya mencapai lebih 4 tahun, disetarakan dengan S2 yang pendidikannya 2 tahun. Spesialis banyak lho. Jika selama ini pembaca mungkin melihat dokter spesialis bedah, kandungan, anak, penyakit dalam, mata, syaraf THT dan sejenisnya, dan prakterk sesuai spesialisasinya, ada juga dokter spesialis kedokteran forensik (kedokteran kehakiman), itu lho dokter yang ahli bedah mayat. Nah dokter spesialis tersebut tidak mungkin praktek sesuai spesialisasinya, pasiennya siapa hayo.

Penulis ingin memandang dari sisi yang seimbang.
Ketika pembaca mendengar dokter spesialis bedah maka yang terbayang adalah gelimang uang berpuluh juta tiap bulan sesuai bidang keahliannya, begitu pula saat membayangkan spesialis kandungan, anak atau sejenisnya yang sudah tak asing bagi pembaca.
Tapi tidak demikian ketika mendengar dokter spesialis kedokteran forensik, mau praktek di mana dan siapa pasienya.
Para dokter dengan berbagai tambahan keahlian non klinis semisal kedokteran masyarakat, anatomi, mikrobiologi, fisiologi TIDAK seperti bayangan pembaca kendati gelarnya jejer-jejer sampai kertasnya gak cukup saking panjangnya gelar. Beliau-beliau mungkin lebih banyak mengabdikan diri di bidang keilmuan yang diminatinya.
Memang ada tambahan tunjangan dan pengaturan gaji pokok sesuai rumpun sistem penggajian, tapi jumlahnya tidak sampai selisih berjut-jut.

GAJI DAN PRAKTEK

Seorang dokter diijinkan untuk membuka praktek di luar jam kerja. Dapat juga merawat penderita di RS Swasta. Semua itu ada aturan mainnya yang diatur oleh kode etik dan UU tentang Praktek Kedokteran.

Melihat besaran contoh gaji di atas yang mungkin dianggap tidak mencukupi, tidak lantas dijadikan pembenaran untuk berperilaku keliru, misalnya demi mengejar tambahan lalu tega meninggalkan tempat tugas pada jam kerja untuk mengejar tambahan. Tentu ini salah, lantaran sudah ada waktu di luar jam kerja, misalnya praktek malam atau merawat penderita sore atau malam hari.

Apakah ada dokter nakal ?
Jangan khawatir, dijamin ada, misalnya memeras penderita, atau operasi kategori sedang dikatakan (ditulis) kategori besar. Penderita tidak tahu dan tidak mencari tahu karena mungkin sudah “merasa ditolong”, padahal kantong dan simpanannya “bobol”.
Hanya itu ? Tidak, masih beragam tips dan trik kotor berkedok “demi” ini dan “demi” itu.
Apakah semua dokter sekarang seperti itu ?
Tidak, dijamin tidak, sekali lagi tidak semua.

Setelah membaca garis besar ilustrasi di atas, menurut penulis sungguh keliru jika orang tua menyekolahkan anaknya di kedokteran dengan harapan kaya raya. Kalau ingin kaya suruh jadi pedagang, atau jadi koruptor sekalian asal nggak ketangkap.

P E S A N
Apabila ada diantara anak atau kerabat pembaca “ngotot” ingin jadi dokter, mohon ditanya ulang apa motivasinya. Jika ingin kaya, segera saja dilarang agar dunia kedokteran tidak bertambah keruh ketambahan calon dokter sekaligus calon pemeras.
Namun apabila memang ingin memanfaatkan ilmunya kelak untuk kemaslahatan, maka dorong dan support amat diperlukan untuk memperbaiki dunia kedokteran negeri ini. Mohon jangan lupa untuk memberi nasehat terus menerus dan mengingatkannya bahwa tujuan jadi dokter adalah untuk memberi manfaat bagi sesama.

Praktek atau merawat di RS Swasta untuk tambahan penghasilan tentu tidak dilarang, tapi sekali lagi mohon selalu diingatkan agar biaya pengobatan murah, ramah, bersahabat, membagi pengetahuan, mau berbaur dengan warga sekitar dan beramal bila ada rejeki.

Di sisi lain perlu juga diingat bahwa dokter tidak selalu identik dengan kota besar dan kemewahan. Seyogyanya ada yang merelakan diri di pedesaan, agar mayoritas penduduk negeri di desa ada yang ngopeni. Tak usah terlalu risau dengan penghasilan, asal mau jujur dan usaha keras niscaya ada saja tambahan.

Usaha keras, caranya ?
Gampang, sekali lagi simak resepnya: biaya pengobatan murah, ramah, bersahabat, membagi pengetahuan, mau berbaur dengan warga sekitar dan beramal bila ada rejeki.
( kalau sempat, ngeblog ya)
Akhirnya, selalu memandang ke bawah agar tidak kesandung.

Semoga menjadi bahan renungan

About these ads

218 Responses to “Gaji dokter negeri di Indonesia”


  1. 1 sinung Februari 23, 2007 pukul 9:31 am

    salam kenal cak moki :)

    sepertinya saya pernah membaca di http://www.h2-indonesia.com bahwa ada rencana departemen kesehatan menggaji dokter di kisaran 7-juta-an, cmiiw.

    sekalian nanya :)

    untuk setiap layanan di lembaga kesehatan (puskesmas/rs);
    tenaga kesehatan akan mendapatkan jasa_pelayanan (JP);
    dengan rasio tertentu dari tarif atas suatu layanan;
    apakah ‘jasa layanan’ ini merupakan kompensasi tambahan atas gaji yang selama ini diterima oleh tenaga kesehatan ?

    terima kasih
    sinung

  2. 2 Helgeduelbek Februari 23, 2007 pukul 10:48 am

    Kalau gaji guru lebih parah tapi mungkin disesuaikan dengan lamanya pendidikan yang harus di tempuh kali yah. Terus kalau dokter itu untuk spesialisasi tertentu apakah dilakukan pembedaan dalam sistem penggajiannya cak? apa podo kabeh?

    Kalo guru khan gak dibedain semua sama, guru bahasa indonesia, PPKn (dulu PMP) dan guru fisika/kimia/biologi sama saja. PAdahal proporsi kerja berbeda. Bukannya meminta dibedakan sih, cuman mbok sedikit proporsional.

    Hehehe malah curhat dewe iki.

  3. 3 ndarualqaz Februari 23, 2007 pukul 11:41 am

    iya, bener tuh kata pak Urip, kalo gaji guru lebih ngenes. kebetulan bapak-ibu saya guru sd di Ponorogo, Jatim, setiap bulan gaji yang diterima kena potongan kurang ebih 300 ribu, gak taulah buat apa.

    itu masih mending, malah teman ibu saya yang juga guru sd di tempat yang sama sempet menerima gaji hanya 16 ribu dengan rician [potongan yang sangat sangat dan sangat tidak masuk akal. (kebetulan saya sempat ngintip rekapan gaji yang dibawa sama ibu saya)

  4. 4 Evy Februari 23, 2007 pukul 12:24 pm

    hehehe…ngomong soal gaji mayan ngenes, dulu gaji pertamaku cuman habis buat ngontrak rumah tiap bulan, tapi ya lumayan rejeki ada aja dr praktek sore, klo kerja pagi sih emang harus niat buat charity,tapi capek-nya audzubillah pulang sampe rumah udah jam 10 malem, berangkat jam 6 pagi, ga pernah ketemu anak2…week end juga emergency… ya gitu udah udah diniatin jd dokter..

    Pak Urip :
    Dr. Spesialis ga nambah kok tgtg ama pangkat PNS-nya aja…sama jabatannya, cuman ya Alhamdulillah rejeki sudah di atur sama GustiAllah..

  5. 5 grandiosa12 Februari 23, 2007 pukul 2:37 pm

    artikelnya menarik sekali.. saya setuju sekali dokter harus merakyat tapi harus lebih dihargai keringatnya. Mestinya tidak hanya dokter, semua profesi pengabdi negeri harus ditingkatkan kesejahteraannya dengan syarat semakin proffesional dalam bidangnya. Mudah2an ilmu yang dimiliki berguna bagi masyarakat luas.

  6. 6 laras Februari 23, 2007 pukul 3:49 pm

    Kayaknya profesi dokter emang di set untuk praktek ya cak…
    kalo prakteknya enggak laris manis ya rugi…uUpst!
    Btw kalau dokter forensik kedatangan pasien mbalah medeni….

    Mengingat dokter nakal yg hobi membobol kantong pasien (sembuh nomer seket)dijamin ada, maka tiap kali berurusan dengan rumah sakit saya cuma bisa berdoa mudah2an dipertemukan dengan dokter yg jujur dalam segalanya.

  7. 7 cakmoki Februari 23, 2007 pukul 4:10 pm

    @ sinung,
    Salam kenal juga Pak.
    Wah, gabar gembira untuk sejawat dokter, mudah-mudahan bukan isu.
    Maaf, saya sudah keluar sistem (boleh tidak boleh tetap keluar), karena di kota kami bidang kesehatan sudah terlalu jauh dipolitisir sehingga tujuan utama untuk memberikan layanan berkualitas hanya sebatas jargon belaka :D

    Jawaban untuk pertanyaannya:
    Selama ini, jasa medis (atau nama lain) ada, di luar komponen gaji. Saya dulu pernah mengusulkan ini. Besarannya tidak sama setiap daerah seiring kebijakan otonomi daerah. Bisa dimasukkan ke item Daftar Anggaran Satuan Kerja (DASK), jumlah totalnya sekitar 600 ribu per tahun. Resikonya mengurangi anggaran rutin.
    Akar masalah menurut saya tidak mutlak di komponen tambahan, tapi lebih ke arah kinerja.
    Kelemahannya, males atau rajin dapatnya sama dan ini akan menimbulakn dampak: yang males tambah males sedang yang rajin bisa ikut males.
    Kecuali dihitung berdasarkan beban kerja, inipun tidak mudah karena tolok ukurnya banyak variabel.
    Kalau saya cenderung swakelola, artinya pemilihan petugas berdasarkan kinerja, resikonya yang males harus rela out dari institusi pelayanan, mungkin bisa dipindah ke kantor yang tidak memberi layanan. Apa pemerintah berani ? :(
    Saya pernah melihat seorang dokter setelah meriksa 5 pasien, pergi terus sembunyi tidur. Lha yang beginian ini apa pantas menerima jasa kompensasi ?

    @ helgeduelbek,
    Sama pak, nggak ada beda umum maupun spesialis, termasuk antara spesialis satu dan lainnya. Yang membedakan hanya jenjang pendidikan, artinya spesialis apapun sama sepanjang jenjangnya setara.
    Reality: dokter yang senang keluyuran dengan yang serius dan rajin juga sama gajinya.

    Pendidikan gitu juga kan ? Saya juga prihatin nasib Guru, disuruh berkualitas tapi gajinya ngepress. Mestinya yang rajin dan punya tugas tambahan jangan dikasih piagam doang, ya minimal diberi rumah biar mengajar tenang :D
    Bedanya, dokter bisa praktek, dan kalo baik dianteri shodaqoh oleh pasien. Bilang teman saya, sudah didatangi masih diberi duit. Hahaha

    @ ndarualqaz,
    hehehe, sama-sama anak guru mas. Untunge spp saya di kedokteran hanya 45 ribu per tahun, jadi masih bisa bayar.
    Ponorogo mana ? Saya banyak kerabat di Kota Warok. Waktu tugas lapangan di Pulung, desa Patik sebelum Singgahan. Sudah ada listriknya belum ya. Gak ngenyek lho :D

    @ evy,
    Mending saya, gak ngontrak Mbak. Dapet rumah dinas panggung dari kayu beratap sirap, jadi kalo ada tikus seru, kayak pilm detektif.
    Ga pernah ketemu anak2 ? Kalo ketemu “anak mertua” tiap malam kan? :D

    @ grandiosa12,
    Ayo Mas, giliran dosen nulis gaji. hehehe
    Setuju, yang profesional mestinya dapat kompensasi setara.
    Kenyataannya yang rajin malah sering telat ngurus pangkat. Memble maupun profesional gajinya tetap sama :(
    Saya punya sepupu dosen sekolah s3 di Inggris, rajin, pinter tapi masih ngontrak nyelempit di gang. Uhhhh

  8. 8 cakmoki Februari 23, 2007 pukul 4:53 pm

    @ laras,
    Mungkin juga Bu. Tapi yang jelas sih diberi kesempatan praktek. Ada juga koq yang gak praktek, sebagian kecil para dokter yang di struktural adakalanya gak praktek. Mungkin gak kober.
    Kalo dokter menghitung untung rugi saat praktek, menurut saya dokter tersebut mungkin keliru. Gak perlu ngoyo, yang penting usaha pakai resep di atas dan harus telaten.

    Mudah-mudahan gak ketemu dokter nakal tukang bobol dompet Bu :D

  9. 9 Tri Achmadi Februari 23, 2007 pukul 5:04 pm

    Yang namanya PNS dimana-mana gajinya sama, baik itu guru, dokter, atau pegawai Pemda. Yang membedakan adalah penghasilan di luar gaji. Saat ini guru mempunyai tunjangan fungsional yang besarnya tergantung golongan, besarnya kira2 350rb/bln. Di daerah-daerah tertentu besarnya tunjangan ini bisa 2,5 juta lebih. (contoh DKI Jakarta) Selain itu guru yang menjadi wali kelas juga mendapat peghasilan tambahan.

    Kalau sertifikasi guru dah jalan (akan dimulai tahun ini), guru akan mendapat tunjangan profesi sebesar 1 X gaji pokok. Misal seorang sarjana menjadi guru PNS dengan golongan III/a dengan gaji pokok kira-kira 1,2 juta + tunjangan profesi 1,2 juta. Total 2,4 juta.

    Sementara untuk dokter yang baru jadi PNS, golongannya III/b (bukan III/a). Gaji pokok sekitar 1,4 juta. Pendapatan lainnya saya kurang tahu persis. Berdasarkan pengalaman istri saya yang pernah jadi dokter PTT di RSUD, selain dapat gaji setingkat PNS baru gol III/a, juga dapat penghasilan tambahan resmi kira-kira 1,5 X gajinya. Jadi dokter PNS baru penghasilannya bisa diatas 3,5 juta. Kalau ditambah praktik sendiri penghasilannya bisa menjadi sangat luar biasa. Yang menjadi masalah kalau ada dokter yang bukan PNS, tapi pasien dari praktik sendiri sepi!!!!

  10. 10 cakmoki Februari 23, 2007 pukul 5:35 pm

    @ Tri Achmadi,
    Selamat untuk Guru, moga cepat terealisasi. Ada salah satu Kota di provinsi kami (kaltim) yang sudah memberi tunjangan Guru memadai. Tiap kota nggak sama, tergantung kebijakan Kepala Daerah nya.

    III.b ya, hehehe dah lupa, trims sudah saya update.
    Hebat tuh istrinya bisa lebih 3,5 juta per bulan. Itu sih tergantung kebijakan masing-masing RSUD dan Pemda/Pemkot/Pemprov setempat.
    Saya yang 20 tahun dan merasakan nikmatnya satu-satunya transport goyangan perahu di Mahakam, seperti di atas itu (2,7 jt). Untuk saya gak masalah, wong dulu 110 ribu (itupun diterima 8 bulan kemudian) juga tetep enjoy :D

    Pernah tahu dokter PTT di pedalaman ? Hiyyy, gajinya harus ambil di kota lewat sungai. Untuk ambil gaji aja mereka harus keluar uang tidak sedikit. Tunjangan mereka tidak sebesar istri bapak. Setelah PTT pun sulit mendapat tempat, akhirnya seperti yang bapak gambarkan itu. Lontang lantung, praktek sepi. Itulah keluhan temen-temen pasca PTT dari pedalaman :(

    Trims kunjungannya. Semoga sukses

  11. 11 anis Februari 23, 2007 pukul 7:14 pm

    di puskesmas istri saya, gaji tertinggi sekitar 2,7 juta, seorang dokter gigi golongan IVA (yah..berarti memang udah lama banget kerja pokoknya). Kepala puskesmasnya, juga dokter, meskipun sama-sama IV A gajinya hanya 2,2 jutaan karena tunjangan struktural sebagai kepala puskesmas hanya sekitar 300ribuan. Istri saya, dokter, IIIB, masa kerja baru 4 tahun ya sekitar 1,5 jutaan. Itupun sudah termasuk tunjangan suami (yang non PNS) dan anak. Alhamdulillah, saya tiap bulan mendapat tunjangan dari istri….

  12. 12 Dani Iswara Februari 23, 2007 pukul 7:29 pm

    semoga mjd lbh baik lg..shg subsidi saya jg ikut lancar :D..maklum..mahasiswa..

    kl PTT-nya dipenuhi oleh daerah (gemana dg daerah yg krg mampu ya..) dgn imbalan yg sesuai (ah lg2 ‘pengabdian’..), semoga jg para dokter tetap mengedepankan kemanusiaan..

    ‘tabungan’ kan gak cuman di dunia nyata..

  13. 13 Ady Februari 23, 2007 pukul 8:08 pm

    Sepertinya saya pernah dengar di berita di TV kalo gaji PTT sekarang tinggi terutama yang di daerah terpencil dan sangat terpencil.. Kalo ga salah untuk daerah terpencil dapat gaji perbulan 1,750 juta dan sangat terpencil 2,1 juta + 7 juta (tunjangan PTT daerah terpencil dan sangat terpencil) cuma kontraknya 1 tahun saja.. Mohon kalo ada yang punya info tentang ini dibagi apa masih issue atau sudah berlaku.

  14. 14 fertobhades Februari 23, 2007 pukul 10:23 pm

    Kalau gaji dokter yang “bukan PNS” kira-kira berapa ya Pak ?

    Saya pernah ngantar ortu ke RS Jantung Harapan Kita, dan kliniknya dibedakan jadi 2 : Klinik Umum dan Eksekutif. Dan yg saya lihat di daftar dokter praktek, ada dokter2 yg praktek di Eksekutif (atau apalah namanya) yg nggak ada di Klinik Umum. Emang sih rata-rata udah Profesor atau sederet gelarnya :-) Kira-kira berapa ya gaji mereka ?

    *katanya PNS kan mengabdi, Pak ?* :-)

  15. 15 cakmoki Februari 24, 2007 pukul 1:27 am

    @ anis,
    Struktural dan fungsional, nggak pernah selesai ya. Saya dulu milih fungsional nggak boleh, jadinya tunjangan kalah tinggi, mana naik pangkatnya 5 tahun sekali belum termasuk telatnya.
    Hahaha, 1,5 juta ? Nunjang suami ? Koq yo melas tho. Pengabdian !!!
    Makanya saya nggak rela kalo kesehatan dipolitisir apalagi oleh petinggi kesehatan sendiri.
    Berarti tulisan saya perlu ditambah kadar kepedasannya ya :D

    @ Dani Iswara,
    semoga mjd lbh baik lg… Saya trenyuh mendengarnya.
    Subsidi kayaknya tergantung daerahnya. Saya pernah dimintai tolong membuat rincian biaya untuk S2 karena bilang temen-temen sebelumnya pas-pasan. Halah pengabdian lagi, sampai pensiun ? :( Itu jawaban ts kalo saya bilang pengabdian.
    Saya hanya bisa mendo’akan dari jauh:
    Semoga sukses dan banyak tabungan di dunia nyata dan “nanti”

    @ Ady,
    Maaf mas Ady, saya nggak punya info seindah itu, moga aja benar.
    Kapan sih, sekarang ? Nanti-nanti ? Atau mudah-mudahan ?
    Hehehe, sekedar info: kemarin saya nguruskan slip gaji mantan staf yang baru lulus SpA di sebrang kaltim untuk mbayar pajak. Gaji per bulan adalah: 900 Ribu :(
    Tentang 7 juta, ntar saya cari info ya

    @ fertob,
    Gaji dokter yang bukan PNS saya tidak tahu Pak, temen-temen gak pernah ngasih info. Rahasia kali. Biasanya tergantung di institusi mana dia bekerja. Tiap RS beda-beda.
    Kalo RS elit sekelas Harapan Kita mungkin gajinya lumayan segaaar.
    Apalagi profesor, nggak berani nanya dong :D
    Teman-teman yang spesialis di RS elit nggak pernah ngaku soal gaji, mungkin sekali waktu akan saya tanya.

    Ya betul, PNS harus mengutamakan pengabdian. Sayapun selalu mengucapkan kata itu jika teman-teman yang dari pinggiran hutan berkeluh kesah.
    Tapi ketika mereka mengatakan bahwa di pelosok tempat bertugas gak ada TK untuk anaknya, SD yang amat sangat minim, rasanya hati teriris juga :(
    Tapi kita boleh sedikit berbangga Pak, diantara dokter-dokter yang jauh dari hiruk pikuknya kendaraan dan terang benderangnya lampu, masih ada koq yang berjiwa pengabdian walaupun kehidupan mereka tak jauh beda dengan warga sekitarnya.
    Di kota, di pinggir kota atau di manapun juga sama, ada yang pengabdian. hehehe *membela diri*

  16. 16 anis Februari 24, 2007 pukul 3:51 am

    kalo gak salah nih…survei prof Laksono Trisnantoro dan dr Andreasta Meliala tentang pendapatan dokter di Jogja menemukan: rentang gaji dokter (baik umum dan spesialis) antara 3-30an juta. Bagi yang PNS, gajinya saya kira sama. Selebihnya tergantung entrepreunership masing-masing. Yang tertinggi jelas spesialis. Tetapi tidak semua spesialis akan makmur. Spesialis kulit yg bertugas di RSUD jarang memiliki pasien rawat inap, jadi pendapatannya sebagian besar (atau hanya?) dari rawat jalan. Ini akan sangat berbeda dengan spesialis lain, apalagi yang 4 besar.

  17. 17 prayogo Februari 24, 2007 pukul 7:08 am

    Mungkin memamng semuanya nggak akan pernah cukup, tetapi satu hal yang harus kita tanamkan pada diri kita, yakni bersukur. Bersukur dengan semua karunia yang telah Allah berikan kepada kita.

    Gaji seratus di sukurin, gaji sejuta di sukurin, gaji satu miliar di sukurin, dan nggak gajianpun di sukurin.

  18. 18 Kang Kombor Februari 24, 2007 pukul 7:20 am

    Itu kan kalau gaji PNS-nya, Dok. Di RSUD kan juga ada biaya konsultasi (biaya dokter), itu lari ke mana ya? Mosok nggak ada yang nyangkut di saku dokter?

    Kalau gaji dokter seperti yang digambarkan Cakmoki, saya jadi maklum kalau banyak dokter yang ngobyek praktek di mana-mana. Bukan untuk melayani masyarakat tapi buat tambah beli segenggam berlian. Gaji cuma cukup buat nempus berar thok jeee…

  19. 19 ndarualqaz Februari 24, 2007 pukul 9:43 am

    cak moki ternyata juga pernah nyanthol di ponorogo tho? saya sumoroto cak. kalo pulung itu timur, saya barat (di peta jawa ada lho nama kecamatan saya, malah di google earth juga kelihatan.

    pak sekarang pulung sudah jadi wilayah maju pak. listrik sudah masuk sejak lama, sudah ada pabrik kelas menengah, sekolahnya lumayan maju, pokoknya beda sama dulu (bapak saya pas dinas ngajar pertama juga di pulung. bahkan saya juga hampir lahir di sana).

    pernah main lagi ke pulung gak cak. orang pulung itu tipe orang yang suka nginget orang, apalagi orang yang membantu masyarakat, dan dokter yang pernah praktek di sana pastidi ingat sama warga dan disambut. (bapak juga masih sering main ke sana dan selalu disambut, padahal sudah 12 tahun lalu)

  20. 20 Saiful Adi Februari 24, 2007 pukul 10:06 am

    Nasip guru, dosen n dokter hampir sama: kalo hanya mengandalkan gaji dan tunjangan lainya di kantor orang luar indonesia (seperti malaysia) akan kaget kok bisa hidup ya. Tapi kita yakin aja dah, Yang Maha kuasa akan cukupi kita.kalao ga ngingat kesana bisa stress trus bisa deh kita. ya ga..?

  21. 21 cakmoki Februari 24, 2007 pukul 10:07 am

    @ anis,
    pendapatan dokter di Jogja 3-30an juta. Ini gaji apa total pendapatan termasuk gaji ? Kalau pendapatan, yang kisaran 3-5 juta sama dengan gaji karyawan Perusahaan Aspal Curah dan sama dengan tukang cukur tetangga saya. Iya, menurut ts spesialis kecil tanpa visite, bilangnya agak ngenes. Malah yang di Surabaya temen-temen praktek ke luar Kota.
    Walupun begitu kan tetap “dianggap” kaya tho ? Hahaha

    @ prayogo,
    Iya Pak, kami tak lupa bersyukur dan mudah-mudahan tambah bersyukur :D

    @ Kang Kombor,
    Betul Kang, jasa di RSUD lari kemana ? Ah Kang Kombor ini bisa aja, sengaja mancing-mancing supaya saya nulis “area sensitif” ya :D
    Pertengahan tahun lalu saya diminta Sekda membuat draft Sistem Pengelolaan RSUD secara transparan dan akuntabel, sudah selesai. Kulitnya sudah saya posting. Dengan dorongan ini saya pertimbangkan untuk lebih terbuka, supaya khalayak juga tahu.
    Uang konsul konon tergantung “pihak manajemen”. Beberapa spesialis yang saya tanya di RSUD Samarinda, Jember, Surabaya dan Magelang ternyata jasa visite dipotong. Untuk klas III si dokter dapat 3.000 (tiga ribu) sekali visite. Yang lain belum tahu.
    Sebenarnya semua diatur perda, tapi kebanyakan biaya melambung. Postingan lama ada menyinggung soal ini
    Kalau saya dulu dapat Rp5.000,- untuk sekali konsul mendatangi pasien yang perlu di cek atau gawat, misalnya malam hari. Kalo 2 kali konsul pasien yang sama dalam sehari tetap 5000 (ada perda dan kuitansinya). Kalo jam kerja ya gak ada dong. Jadi kalo ada 20 konsul malam, dapat Rp100.000,-. Namanya enjoy, uang gak begitu masalah, yang penting bisa nolong dan pasiennya disembuhkan Tuhan YME.

    Terlepas dari masalah besaran rupiah, saya tetap tidak setuju jika dokter ngobyek di saat jam kerja, lalu meninggalkan tugas utama. Apalagi nambah koleksi berlian untuk pameran. Apalagi nggak ngurusi masyarakatnya. Menjadi dokter ya harus mengutamakan layanan.
    Tapi ini pendapat saya lho, dokter yang di Blog sepertinya sama.
    Paling tidak, diskusi di postingan ini bisa diketahui pembaca, seperti itulah kira-kira gambaran dokter. Dan bagi dokter yang sempat membaca, moga jadi bahan renungan, yang suka bersyukur mudah-mudahan tetap bekerja serius dan menikmati berapapun rejekinya, sedangkan yang suka ngumpulin uang melulu mudah-mudahan cepat kaya. Eh, satu lagi, tetap ngeblog ding. Hahaha

  22. 22 cakmoki Februari 24, 2007 pukul 10:27 am

    @ ndarualqaz,
    Wah hebat, syukur sudah maju, berarti telaga Ngebel tambah ramai. Kalo Ponorogo agak hapal dong, apalagi Sumoroto, Jenangan, Slahung dll. Kami ke sana (semacam KKN, dulu namanya CM: community medicine) dari tingkat III sampai tingkat V sewaktu belum jadi dokter muda (ko-as), setiap 6 bulan sekali selama 2 minggu. Tahun 1982-1983. Iya saya salut warga Ponorogo, mantan carik Singgahan ketemu di Kaltim masih ingat, malah saya agak lupa (malu). Terakhir ke Ponorogo tahun 2002, sayang gak sempat ke Pulung. Jadi inget “sate ayam” :D

    @ Saiful Adi,
    Iya Pak betul, orang tua saya juga guru, apalagi dokter kan masih bisa praktek. Dan yang penting, masih bisa ngeblog. Hehehe

  23. 23 senyumsehat Februari 24, 2007 pukul 12:42 pm

    Buat yang ingin tahu penghasilan spesialis
    Pengalamanku waktu kerja di RSUD, gaji sih sama aja spt golongan 3C lainnya. Jasa medis tgtg pasien2 yg di operasi. Nah pasien ini rata2 kelas 3, biayanya tgtg kasus, kasusnya di golongkan operasi ringan, sedang, besar atau khusus.

    Contoh operasi khusus rahang atas dan bawah patah dan harus dibuka (open reduksi)lalu dipasang plat dan screw, itu aku cuman di bayar 900 ribu, pasien pernah minta keringanan, aku ga ngerti tadinya kalau RS nge-charge sampai 42 jt…so sad, pasien tahunya itu buat dokternya padahal itu biaya perawatan, obat2an dsb.

    Klo pasien sumbing, malah aku terpaksa ngemis2 ke yayasan karena tetep kudu bayar RS,aku ga tega nolak pasien lagian aku happy ngelihat hasilnya stlh satu jam, ngalahin bayaran seberapun. Nah tapi dulu waktu aku kerja di jkt kita boleh kerja di beberapa RS, aku jd konsultan di 2 RS Swasta dan di beberapa tempat praktek. Di RS swasta colek2 dikit ambil M3 bayaranya bisa dua kali lipat operasi besar di RSUD, kenapa aku tetep kerja di RSUD, ya aku pikir hidup kudu seimbang bergaul dan berbagi ke org susah penting untuk membuat hati tetap sehat.

    But anyway kalau di bandingkan suamiku yg sekolah tehnik di universitas cap gajah cuman 4 th lulus, kerja di perusahaan asing, aku kuliah 12 th ditambah ke Jerman bolak balik total 15 th, penghasilanku masih ga ada apa2nya…, jd sekali lagi seperti cak Moki bilang dokter bukan pilihan untuk cari uang, kalau ga seneng dan menikmati jangan jd dokter. kalau di US lain lagi, tp ntar kepanjangan critanya…

  24. 24 cakmoki Februari 24, 2007 pukul 3:30 pm

    Operasi khusus, dokternya 900 ribu, habisnya pasien 42 juta ?
    Perawatannya obat dll, 41 juta yo. Wah itu pihak manajemen RSUD perlu ditanya Mbak. Perawatan opo tho ?
    Mungkin termasuk Mijet, Spa, Keriting, mandi lulur, mandi susu, bilas wajah (opo sih namanya), antar jemput helikopter. Hiyyy bisa jebol dompet pasien. Yang tertuduh operatornya. Hehehe, nasib :D

  25. 25 tukangkomentar Februari 24, 2007 pukul 8:20 pm

    Servis all in? Ooops, maaf, pikiran saya nggak kotor lho! Cuma kecewa, jengkel dan apa aja dah. :)

  26. 26 cakmoki Februari 25, 2007 pukul 12:17 am

    @ tukangkomentar,
    Hehehe, sekali-sekali mbahas gaji dokter pns Pak. Konon urusan di depkes paling ruwet dan gaji paling kecil se Asia Tenggara.
    Mau nulis RSUD belum tega terkait servisnya yang super slow :)

  27. 27 tukangkomentar Februari 25, 2007 pukul 1:20 am

    Cakmoki:
    dua hal yang termasuk paling penting untuk negara dan bangsa diabaikan dan disia-siakan, ini yang bikin jengkel saya. Yaitu: Kesehatan masyarakat dan pendidikan.
    Quo vadis?
    Sesudah adaptasi (tahun 86-an) saya pernah kerja jadi dokter umum di sebuah RS Swasta. Gajinya? Minta ampun juga. Saya waktu itu cuma mampu nyewa rumah yang belum jadi (tembok belum dilabur dsb.) dan itupun bersama dengan 2 mahasiswa yang lebih miskin dikit dari saya. Seneng kalau saya beberapa bulan sekali dapat tunjangan beras (yang saya berikan ke pak Satpam yang punya anak banyak, yang kadang nganter saya pulang naik sepedamotornya yang sudah tua).
    Untung ada yang mbantu sedikit, jadi lumayan.

  28. 28 Evy Februari 25, 2007 pukul 1:37 am

    41 juta seratus ribunya, buat bayar kamar operasi, bayar rawat inap klas 3 lho katanya ucman 5 ribu sehari, tapi bayar plat dan screw, obat2an, kabeh wis markab, embuhlah pak, aku ga mudeng ndelok bill pasien, operator ming sak cuplik, lha kok tenagane diperes temen…hiks

  29. 29 cakmoki Februari 25, 2007 pukul 2:32 am

    @ tukangkomentar,
    Jadi dulu sempat ngontrak “rumah sangat sederhana, sempit, setengah jadi” ya, hehehe. Koq ya melas tho Pak :(
    Berarti saya mendingan, dapat rumah dinas kayu, persis kotak sabun, gak ngontrak selama 8 tahun. Air sumur agak butek, jalan tanah, jauh tetangga, banyak ular. Pokoke siiiip.
    Dulu bisa memaklumi, tapi sekarang era otonomi yang konon lebih maju, ternyata sejawat yang baru masih mirip saya dulu.
    Sarana Kesehatan dan Pendidikan memang lumayan di Kota, tapi di pinggiran bisa menitikkan air mata ketika melihatnya. Mana mungkin mau memperhatikan pelaksana lapangan, nuwun sewu, kami sudah kenyang diberi setumpuk penghargaan berupa kalimat: “pengabdian” *halah*
    Kenangan tersebut mendorong kita untuk ikut memperjuangkan nasib teman-teman generasi berikutnya agar tidak mengalami seperti kita-kita. Hanya diperintah kerja optimal tanpa sarana memadai, sama saja disuruh ngapusi pasien.
    Tulisan di sini dibaca pejabat kesehatan kota kami koq Pak.
    Jadi saya tulis pedas dan apa adanya biar kroso. Hahaha

    @ Evy,
    Ternyata kebanyakan kita-kita ini kerja bakti ya.
    Yo yo, mugo-mugo akeh pahalane Mbak. Amiiinnnnn :D

  30. 30 tukangkomentar Februari 25, 2007 pukul 3:37 am

    Mas Cakmoki,
    ini saya tambahi biar kerasa pedasnya:
    Cari pejabat yang sholat susah, tapi cari pejabat yang (rajin) bekerja (untuk rakyat) mungkinkah itu???? :)

  31. 31 anis Februari 25, 2007 pukul 6:16 am

    cakmoki:
    Ini gaji apa total pendapatan termasuk gaji ? Nampaknya pendapatan. Nanti saya tanya kepada beliau2nya deh. Soalnya, yang disurvei pun bervariasi. Mulai dari yang baru lulus (yang praktek sambil neploki nyamuk) sampai dengan yg udah karatan praktek dokter.
    evy:
    …seperti cak Moki bilang dokter bukan pilihan untuk cari uang, kalau ga seneng dan menikmati jangan jd dokter Artinya, kalo sudah jadi dokter, merasa miskin terus dan tidak menikmati lebih baik pindah profesi lain? Jangan-jangan pernyataan tersebut jadi alasan bagi mereka yang mempekerjakan dokter untuk memberikan gaji di bawah kepantasan tanggung jawab profesi. Btw, kalau dokter di RS pemerintah dituntut pasien dan kebetulan disuruh ngganti rugi, yang ngganti pemerintah atau dari duitnya sendiri?

  32. 32 mina Februari 25, 2007 pukul 7:16 am

    wah, cakmoki ngomongin masalah sensitif. gaji PNS di Indonesia memang menyedihkan. dulu saya suka cari tambahan dengan praktek di mana-mana, sampe capek sendiri, cuma kan ya waktu itu masih imut2 :D sekarang? secukupnya aja lah, sudah capek, asal bisa ke jogja beberapa bulan sekali *hehehe* btw nis, aku ke jogja bulan depan, dititipi ambil formulir SIMKES (bukannya ada di situsnya ya) -lah kok bilangnya di blognya cakmoki ya?
    nis, jadi kamu tu bukan PNS ya? lalu yang di UGM itu? dosen “luar biasa”? :D

    pertama2 mau bilang: cak, itu slip gaji jaman jebot masih disimpan???

    tentang PNS:
    gak sukanya PNS, aturan naik pangkatnya ribet sekali, terlalu administratif. harus ngopi SK banyak2, lalu minta ttd dekan di tiap kopian SK, belum dibolak-balik oleh tim penilai jumlah angka kredit, belum lirik2 menyeramkan dari bagian kepegawaian yang belum lagi kita anik pangkat sudah minta dikasi duit, belum bagian kepegawaian rektorat yang sama sadisnya (kami ngurusin ke lain kota lo bu, SK ini -lah kalo males ngurusnya, ya sini saya saja), kalo dikasi duit dikit, ntar naik pangkat berikutnya dibiarin tu berkas2 berbulan2 di meja gak dianggep. saya jadi malas naik pangkat. sudah gitu naiknya tunjangan fungsional gak sesuai dengan usaha dan duit yang diminta bagian yang ngurus.

    @drg evy, menurut saya, di antara seluruh dokter, yang penghasilan terbesar setelah praktek tu dokter gigi hehehehe…. kan selalu ada tindakan tuh. minimal bersih2… :D

  33. 33 cakmoki Februari 25, 2007 pukul 9:33 am

    @ tukangkomentar,
    Jan pedas tenan Pak :D
    Mungkin saja, siapa sih yang tahu seseorang sholat apa enggak?
    Rakyat pun sudah bosen dicekoki kata-kata indah, mereka (termasuk saya rakyat juga) menghendaki pimpinan yang rajin bekerja untuk rakyat.
    Tapi mungkin saja ada yang senang diceritani mimpi-mimpi (???) :(

    @ anis,
    Yuk survey, dijadikan makalah atau surat terbuka. Ramai deh, ntar kita malah dikira nuntut, nggak pengabdian.
    Praktek di Jogja kalo pendapatan misalnya 4 juta opo yo cukup Pak.
    Belum bayar kontrak tempat praktek, bayar yang bantu-bantu. Lima tahun lagi anak dokter ada yang di bawah garis merah :(

    yang praktek sambil neploki nyamuk, hehehe saya pernah ngalami itu ditambah suara kodok ngorek. Syukur, sekarang diteploki duit mambu lengo klentik *nggaya*

    @ mina,
    Sudah terlanjur buka dapur. Maksudnya bukan menghiba, khalayak kan perlu tahu juga, mau nanya segan, dibukak pisan saja.

    pertama2 mau bilang: cak, itu slip gaji jaman jebot masih disimpan???.
    Yang nyimpan bendahara Mbak, itu lho yang amplopnya kertas buram dan kertas coklat untuk layangan, masih rapi dibundeli pertahun. Saya sebetulnya kudu ngguyu :D

    Urusan naik pangkat sama, disolap salip, akhirnya males ngurus. harus ke Jkt-lah, mending ngeblog.

  34. 34 arifkurniawan Februari 25, 2007 pukul 5:01 pm

    Waduh, dokter dengan pengalaman bertahun-tahun seperti itu? Ya Ampun… Gimana kalau hidup di JKT yaaa Pak?

  35. 35 marta Februari 25, 2007 pukul 7:42 pm

    dok, kalo yang pernah saya wawancarai, dokter forensik memang tidak dapat praktik sesuai spesialisasinya. Tapi narasumber saya itu praktik sebagai dokter umum. Dan saya pikir kalo tidak dari sana, dia mungkin juga mengalami kesulitan atur kebutuhan hidup bulanannya.

    Kan forensik itu bukan lahan ‘basah’ bagi dokter. tidak mendapatkan duit. di RSU Dr Soetomo saja, dari tahun 1997-sekarang hanya ada delapan dokter PPDS.

  36. 36 cakmoki Februari 26, 2007 pukul 6:25 am

    @ Arif Kurniawan,
    Tidak seperti yang digambarkan kebanyakan orang ya ?
    Di Jakarta kata teman saya tunjangannya lebih tinggi Pak, mungkin disesuaikan dengan biaya hidup setempat. Itupun harus nambah waktu ekstra, di luar jam dinas kerja di klinik-klinik untuk tambahan.
    Kalo saya nikmat di ndeso. Hahaha

    @ marta,
    Betul Mbak, hal itu bisa dimaklumi. Sama halnya yang ahli anatomy dan sejenisnya, walau Profesor tetap praktek umum.

    Wah menyedihkan, sepuluh tahun hanya 8 PPDS. Kebalik dengan Pediatri, yang daftar tiap tahun belasan ya :D

  37. 37 rajaiblis Februari 27, 2007 pukul 1:18 am

    hiks …
    kalo dah bicara soal standar mutu selalu dikaitkan dengan keprofesionalitasan … ala modern … ala amerika … ala eropa … dan ala-san lainnya …
    namun kalo dah bicara soal honor … masih suka berkelit dengan ngebilang ala kadarnya …

    wakkkkakaaaa …

  38. 38 cakmoki Februari 27, 2007 pukul 1:36 am

    @ rajaiblis,
    hiks, standar mutu berubah-ubah sesuai selera yang bikin.
    hiks, honor suka-suka yang pegang palu.
    Honor gak honor yang penting, enjoy dan ngeblog. hahaha

  39. 39 juliach Februari 27, 2007 pukul 2:39 am

    Percaya deh, soalnya adik-adik mami + banyak saudara-saudara yg jadi dokter dibuangnya di ujung dunia : Ambon, Irja, Way Kanan. Waduh kalo mau berkujung, perjalanannya aja bisa lebih dari sehari.
    Belum kalo buka praktek sendiri, sering dibayar pakai hasil bumi.

    Sungguh salut & selamat berjuang!

  40. 40 rajaiblis Februari 27, 2007 pukul 3:22 am

    pernah kebayang gak …
    iblis juga capek dan bosen ngegoda manusia …
    cuma karena itu perintah dari tuhannya …
    mana sanggup iblis nolak …

    apalagi dokter … nafsunya gede …

    wakkakakaaa …

  41. 41 cakmoki Februari 27, 2007 pukul 4:14 am

    @ juliach,
    Terimakasih supportnya Bu.
    Saya krasan di ndeso, uenaak tenaannn :D

    @ rajaiblis,
    Gimana nih kalo rajanya iblis capek nggoda, padahal itu kan kerjaan wajib. Banyak honornya nggak ?

    Yang gede-gede itu keberhasilan rajiblis. Selamat ya :(

  42. 42 juliach Februari 27, 2007 pukul 5:31 pm

    Ajak semua dokter seluruh Indonesia Raya unjuk rasa, misalnya dengan menempel di punggung/dada/dinding tulisan “DOKTER/PARAMEDIS PNS MINTA KENAIKAN GAJI + KESEJAHTERAAN” dan tetap bekerja spt biasa jadi tdk meninggalkan servis.

    Kalau bisa plus petisi dr masyarakat.

  43. 43 rajaiblis Februari 27, 2007 pukul 8:48 pm

    @cakmoki
    biarlah itu menjadi “deal” khusus antara raja iblis dan penguasa jagad !

  44. 44 Ine.. rahmawati Februari 27, 2007 pukul 10:36 pm

    ass.
    begini nih, sy baru kelas 3 SMA jurusan IPA.. dan sebentar lagi mo lulus..
    pengennya masuk jurusan kedokteran…tapi takut nggak menguasai materi yang di ajarkan,, karena nilai kimia saya nggak bagus2 amat nih! kira2 bisa ngga ya masuk kedokteran ? n menguasai materi.. karena di desa saya belum ada Dokter yang tinggal disana!
    wass.

  45. 45 cakmoki Februari 28, 2007 pukul 2:35 am

    @ juliach,
    Untuk paramedis mungkin cocok, kalo dokter ntar diketawain orang Bu.
    Lagian sepertinya gak sempat. Pernah ada demo paramedis RS swasta di kota kami karena gajinya 750 ribu perbulan. Itupun dikecam. Uang segitu tiap hari bisa makan sayur kangkung, hik

    @ rajaiblis,
    Tumben nih rajaiblis gak mau buka rahasia. Iya deh, dah maklum, jangan godain saya ya, hiiiyyyyy.

    @ Ine..rahmawati,
    jika ingin masuk kedokteran, jangan lupa niatnya memberikan pelayanan.
    Syarat pertama tentu harus lulus test. Berikutnya, rajin dan belajar setiap hari (jangan nunggu ujian).
    Nah mulai sekarang belajar, belajar, belajar, selanjutnya ikut test.
    Tentang materi kedokteran sama dengan ilmu yang lain, tidak ada yang istimewa. Asalkan punya minat dan rajin tentu bisa menguasai.
    Selamat belajar ya, semoga sukses

  46. 46 Paijo Maret 1, 2007 pukul 11:07 am

    Bicara gaji, saya bersyukur hari kemarin barusan naik gaji dan terima bonus juga tapi belum sempat ambil slipnya. Biar gaji kecil, yang penting saya bersyukur dulu karena banyak orang lain yang tidak punya pekerjaan. Terimakasih dan salam eksperimen.

  47. 47 andre Maret 6, 2007 pukul 4:33 pm

    Cak Moki,
    dokter yang bergaji kecil belum tentu take home pay-nya rendah, apalagi dokter yang bekerja di Pulau Jawa (pada area tertentu)dan daerah spesifik lain.
    Kalo ada dokter gajinya kecil dan THP-nya kecil, saya bisa langsung prediksi, bahwa dokter tersebut salah pilih mertua…ha..ha..ha..Karena pasti karakteristiknya sbb: dokter umum, umurnya mid ages, tinggal di daerah remote, PNS (too long..).
    Atau dokter ini karakteristiknya unik: cinta tanah air, jiwa sosial kuat, berani membela rakyat kecil dan sangat perduli dengan surga.
    Tapi jangan kuatir, gaji dokter kecil juga terjadi di Vietnam, Kuba, dan beberapa negara lain. Eehh..jangan salah lho, besarnya pendapatan dokter tidak ada hubungannya dengan status kesehatan masyarakat. Belum tentu daerah yang memberikan pendapatan tinggi untuk dokter, status kesehatannya tinggi juga. Gak percaya? Coba dicek….

    Salam,

    Andre

  48. 48 rajaiblis Maret 6, 2007 pukul 9:53 pm

    saat para dokter “berdoa” …
    ya tuhan … berilah kami rezeki yg berlimpah …
    maka pada saat itu pulalah … manusia yg laen jatuh sakit …

    wakkkakkaaa …

  49. 49 cakmoki Maret 7, 2007 pukul 12:16 am

    @ paijo,
    Ya Pak, yang penting bersyukur
    Gaji besar tanpa rasa syukur bisa-bisa malah menguap.
    Salam ber-eksperimen

    @ andre,
    Soal gaji emang sangat relatif ya.
    Eehh..jangan salah lho, besarnya pendapatan dokter tidak ada hubungannya dengan status kesehatan masyarakat
    Gak mau membuktikan ah, ntar malah ketahuan hasilnya, digaji gede kesehatan masyarakatnya memble, hahaha.

    @ rajaiblis,
    Hahaha, do’anya salah tuh, gimana kalo diganti:
    Ya Tuhan, berilah kami rejeki yg bermanfaat di dunia dan akhirat …
    Berilah kami, keluarga kami, anak cucu kami dan bangsa kami, kesehatan dan keselamatan.
    Gimana, setuju ?

  50. 50 rajaiblis Maret 7, 2007 pukul 9:14 am

    mmmhhhh …
    kalo semua manusia pada sehat …
    kira2 dokter masih diperlukan lagi gak ya ?

    wakakkakkakaa …

  51. 51 cakmoki Maret 7, 2007 pukul 3:49 pm

    @ rajaiblis,
    Kalo memang sehat semua, bukan dokter gak laku, tapi lebih tepat gak perlu dokter. Lha yang terlanjur jadi dokter, banting stir ganti jualan sembako. Hahaha

  52. 52 klikharry Maret 11, 2007 pukul 6:47 pm

    gaji dokter pns di indonesia memang masih sangat rendah, hal ini justru mengakibatkan dokter tidak dapat sepenuhnya mengabdi, akibatny ya mencari sampingan di tempat praktek
    terutama dokter yang juga berprofesi sebagai pendidik dan periset, yang tidak dapat menjadi seorang pendidik profesional karena terbatasnya gaji dan tunjangan yang diberikan

  53. 53 cakmoki Maret 11, 2007 pukul 8:02 pm

    @ klikharry,
    Pilihan yang sulit ya
    Walaupun demikian, keduanya bisa dilakukan sepenuh hati.
    Sebagai pns tetap sepenuh hati, praktek juga sepenuh hati.
    Menurut sejawat yang jadi pendidik dan periset, bilangnya memang agak berat, seperti yang Mas Harry tulis itu, konon seperti di persimpangan.
    Semoga di masa mendatang ada perbaikan.

  54. 54 dobleh Maret 12, 2007 pukul 7:14 pm

    kalo menurut saya sih besaran gaji tergantung kita, kalo dokter mesti mengejar prestige penampilan tinggi, emang jatuh2nya nanti hutang sana-sini, tunggakan kartu kredit,etc. wong saya sudah PNS IV B dokter umum masih suka pake angkot/ bis kemana2 walau udah punya kereta roda 4 dan roda 2 di rumah,lha yang penting kita cari harta halal jangan korupsi tapi ditabung buat biaya sekolah lagi yang notabene investasi buat anak2 kita,anakku wis 2 orang, istri saya juga PNS, dan kami sama2 dari keluarga tak berpunya alias kaum miskin kota, masuk PNS gak pake duwit, cuma modal semangat, prestasi, yang bikin pejabat simpati dan luluh hatinya liat ketabahan kita, trus mbantu kita jadi PNS (he2 ada KKN nya juga), lha wong gimana gak luluh, aku kuliah di universitas top
    Indonesia tapi masih nyempet2in cari duit najar privat, jadi porter hotel, etc2, lha wong kuliah kedokteran itu cuapeknya minta ampun mas…..

  55. 55 cakmoki Maret 13, 2007 pukul 12:17 am

    @ dobleh,
    udah punya kereta roda 4 dan roda 2 di rumah = keluarga tak berpunya alias kaum miskin kota ?. Hehehe, nanti dikira gak bersyukur lho.
    Apa ada dokter masuk PNS harus bayar ? Seingat saya, dulu malah dibayari. Sebelum inpres dipanggil ke Jakarta, prajabatan, terus dikirim ke daerah diberi uang saku. Apalagi kalo IV.B, berarti kan di atas saya, atau sayanya yang langganan telat ngurus pangkat.
    Setujuuu, selalu bersyukur dan cari yang halal.
    Selamat berjuang.

  56. 56 Tyles Maret 15, 2007 pukul 12:14 pm

    Saya cuma membandingkan aja pns di Indonesia dan di luar negeri. Teman saya pns kontrak di kuwait yang hanya seorang paramedis aja dalam jangka waktu sebulan bisa beli mobil honda seri S1000. Kita aja motor kredit lewat pemotongan gaji…
    Tapi ga papa emang rejeki sudah ada yang mengatur

  57. 57 cakmoki Maret 15, 2007 pukul 2:43 pm

    @ Tyles,
    dalam jangka waktu sebulan bisa beli mobil honda seri S1000. Kita aja motor kredit lewat pemotongan gaji…
    Memprihatinkan.
    Setuju, rejeki dah ada yang ngatur dan kita tetap berusaha. Ya kan?

  58. 58 raja iblis Maret 22, 2007 pukul 12:33 pm

    @ Tyles,
    dalam jangka waktu sebulan bisa beli mobil honda seri S1000. Kita aja motor kredit lewat pemotongan gaji…

    ya sudah … mari ramai2 ke kuwait !
    atu bila perlu suruh amerika ngebom kuwait lg …
    biar dokter di indo bisa ‘ngobyek’ ke sono …

    wakkkkakkaa …

  59. 59 siNung Maret 24, 2007 pukul 3:49 am

    berita gembira :)
    http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=134466
    Rabu, 14 Maret 2007
    Pemerintah Tambah Insentif Dokter Spesialis

  60. 60 cakmoki Maret 24, 2007 pukul 4:49 am

    @ siNung,
    Hehehe, semoga para ts spesialis terpacu untuk ke daerah (sesuai alasan ditambahnya insentif).
    Apa mau ? Kebanyakan ke daerah sebentar sebagai batu loncatan, trus mintah pindah ke kota, menumpuk di kota, akhirnya harapan layanan spesialis di daerah tinggal kenangan.
    Maaf, hanya kekhawatiran saja.
    Bagaimanapun tetap berita gembira, setidaknya ada perhatian pemerintah.
    Trims infonya.
    Rajin blogwalking ya :D

  61. 61 Ma Maret 24, 2007 pukul 8:51 am

    Kalo gitu cita cita mau jadi dokter biar cepet kaya ga ngaruh lagi ya,, :)

  62. 62 siNung Maret 29, 2007 pukul 3:20 pm

    ke daerah cuma menjadi batu loncatan ya … :)
    boleh saja, dengan asumsi, tiap tahun ada lulusan_baru yang mau menggantikan yg pindah/pensiun,

    sekali-kali jalan-jalan,
    kalau ketemu yg menarik dan cocok
    bisa jadi bahan numpang nampang di blog sampean :))

    tanya : sudah ada belum tulisan/penelitian
    perbandingan takehomepay pns dokter/medis_lainnya
    di penyelenggaralayanankesehatan (rs/pkm)
    dengan adanya pola remunerasi badan.layanan.umum (blu)
    dibandingkan dg rs/pkm tanpa pola blu ?

    maturnuwun pak :)

  63. 63 cakmoki April 3, 2007 pukul 4:26 am

    @ Ma,
    Menurut saya, tujuan utama jadi dokter adalah agar dapat memberi manfaat kepada sesama. Jika karena keseriusannya lalu mendapat karunia rejeki berlebih, itu namanya barokah. hehehe
    Seperti pesan di atas, sungguh-sungguh, ikhlas dan ikhtiar, niscaya rejeki datang sendiri. Tul nggak :D

    @ siNung,
    saya tidak termasuk batu loncatan lho :)

    Saya belum menemukan penelitian soal perbandingan remunerasi BLU dan tanpa BLU. Saya lebih cenderung BLU. Perundangan Menkeu (edisi revisi) tidak secara tegas mencantumkan nominal, yang ada adalah persentase.
    Justru saya mau nanyakan ini :D

  64. 64 Monic April 9, 2007 pukul 4:00 pm

    Halo….
    Gaji dokter pns kecil ? iya sih..klo dibanding dengan pengorbanan yang telah ia lakukan…yang lbh menyedihkan klo dokter spesialis gajinya keccciiiiiiiiiiil sekali…

    Tapi itu gaji…pendapatan bisa lain. Biar dokter spesialis dengan gaji 1 jt, menjadi ndak masalah karena dokter bukan profesi untuk menambang uang, kan bisa bikin pom bensin, bisa bikin usaha lain…(klo tepat milih mertuanya ha ha ha)

    Karena klo di pikir didiskusikan tambah sakit hati, tambah hopeless…ya udah mending energynya buat hunting mertua yang tepat, buat mikir bikin business plan dll

    Biarlah para pembesar dan pemikir kita menilai, mempertimbangkan sistem penggajian dokter agar lebih proporsional…

    Bye
    Monic

  65. 65 cakmoki April 9, 2007 pukul 4:46 pm

    @ monic,
    hehehe, dapat kecil ya. Setuju, yang penting tetap memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Rejeki bisa datang dari mana saja tanpa diduga.
    Selamat hunting mertua, moga punya POM bensin :D

  66. 66 siNung Mei 20, 2007 pukul 10:43 pm

    update mengenai blu cak :)
    (ma’af dari koran ke koran dulu)

    Sabtu, 19 Mei 2007,
    Mesti Ajukan Prognosa Keuangan Lima Tahun
    http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=285880

    Sabtu, 19 Mei 2007,
    Lima RS Akan ”Diswastakan”
    Dokter Spesialis Tak Boleh Nyambi
    http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=285844

  67. 67 cakmoki Mei 20, 2007 pukul 11:46 pm

    @ siNung,
    Trims.
    Kalo baca sekilas di koran tsb, kayaknya RSUD type c plus dengan TT lebih 100 dan tingkat hunian lebih 60 persen (yg bayar), sangat mungkin bisa BLU. Saya pernah ngelola Pusk Rawat Inat swakelola (obat dan cairan, infus set, dll beli sendiri) bisa setor hampir 100 jt, padahal hanya 12 TT. Syarat minimal 300 jt kan?

  68. 68 Nur Martono Mei 25, 2007 pukul 9:55 am

    Wah Cak Moki lebih enak, dokter kan sabetannya lebih banyakkan Cak.
    Coba perawat ndak ada yang bisa disabet. Gimana ke Kuwait saja Cak, Belum ada dokter Indonesia disini (Biar banyak teman). Di Aab Saudi sudah ada beberapa dokter Indonesia.

    Sebagai Info tambahan dokter expatriat di Kuwait Gajinya Naik Turun setiap Bulan (Tergantung Kurs U$ Harian). Cuma jangan tanya Jauh dari Bojo Cak,,,,,Ngak Kuku juga

    Dokter Expat Bergaji min (700 – 1000 Kuwait Dinnar)
    1 KD Bulan lalu = Rp. 31.000
    Bulan ini turun sejalan penguatan rupiah Rp. 30.000 an
    Seru juga cak Blognya
    Tukar tukar Info bacaan

  69. 69 cakmoki Mei 25, 2007 pukul 11:24 am

    @ Nur Martono,
    iya, banyak sabetan. temen yg di pedalaman sabetannya buanyak, nyabet bebek. hahaha.

    Saya dah mukim di ndeso™ dulu mau sih, trus gak jadi, soalnya dipanggil depkes, inpres ke Kaltim, TKI dalam negeri. hahaha

    ok bisa, saya dah sering baca koq :D

  70. 70 chielicious Mei 25, 2007 pukul 5:27 pm

    Hmm aku kira jadi dokter itu kehidupannya wah..ternyata gak selalu.. sama aja kayak guru donk yah..klo gak diniatin buat bantu orang lain kayaknya ‘males’ bertahan..

    jadi inget temen yang guru tk dan akhirnya ganti kerjaan gara2 gajinya kecil..

    salut wat cak moki ^ ^

  71. 71 cakmoki Mei 25, 2007 pukul 5:45 pm

    @ chielicious,
    Itulah gambaran temen-temen di pedalaman. Alhamdulillah saya tetep betah di desa.
    Trims tambahan semangatnya ;)

  72. 72 riga Juli 7, 2007 pukul 1:57 pm

    gw cuma percaya okter lulusan ptn pulau jawa (UI, Unpad, UGM, Unair, Unbraw, UNDIP). dokter lulusan univ swasta?? banyak bertobatlah kau, kau tipu pasien2mu dengan otak pas2anmu

  73. 73 cakmoki Juli 7, 2007 pukul 9:49 pm

    @ riga,
    hehehe, masa sih ?
    walau sy lulusan unair bukan berarti lebih baik dari swasta, sy tetap hormat kepada sesama sejawat lulusan manapun. Ketrampilan tidak selalu berbanding lurus dengan tempat menimba ilmu, asalkan mau terus belajar tanpa henti niscaya bertambah ilmunya darimanapun alumninya. Sebaliknya, dokter lulusan pt yg dianggap terkenalpun tidak bertambah ilmunya jika tidak belajar.
    Kalo soal perilaku, darimanapun seorang dokter berasal, punya peluang yg sama untuk menjadi baik dan tidak baik bukan? :D

    Trims udah mampir :)

  74. 74 mella Juli 16, 2007 pukul 1:56 pm

    biarkata si riga ngomong pedas, tapi terkadang gw juga ngerasa gitu, banyak dokter2 yang memiliki kemampuan intelektual yang “agak kurang”, dan memang yang dari ptn pulau jawa boleh dibilang top student, jadi dapat di andalkan.. (pendapatku pribadi aja lhoo…)

  75. 75 cakmoki Juli 16, 2007 pukul 2:11 pm

    @ mella,
    eh, gitu ya … ;)
    Kalo memang demikian perlu kajian kompetensi dari direktorat pendidikan tinggi untuk evaluasi. Jika memang dipandang tidak merata kayaknya perlu perbaikan sistem agar bisa lebih merata ya …
    Trims pendapatnya, kita boleh dan bebas berpendapat koq, hehehe

  76. 76 kuda lumping Juli 19, 2007 pukul 4:21 pm

    ato jangan2 itu ya penyebab seringnya kasus malpraktik di indonesia?? krena yang jd dokter kurang kompeten?? salah diagnosis, salah kasih resep dsb?? oh tidaaaaaaak, aku takut ke dokter ;)]

  77. 77 cakmoki Juli 20, 2007 pukul 12:34 am

    @ kuda lumping,
    Malpraktek? … beda om, malpraktek lebih kepada prosedur teknis medis.
    hehehe, syukurlah gak perlu ke dokter, berarti sehat kan … :)

  78. 78 sibermedik Juli 21, 2007 pukul 10:10 am

    cak niy ada pesan dr Prof. di Jakarta..
    Terpampang didepan salah satu lab Fak.Kedokteran..

  79. 79 sibermedik Juli 21, 2007 pukul 10:14 am

    Rumus Farmasi Cak!
    Obat Murah + Ampuh = biasanya g aman.
    Obat Murah + Aman = biasanya g ampuh.
    Obat Ampuh + Aman = biasanya g murah.

    Jadi….
    1. Jadi dokter itu baik.
    2. Jadi pedagang itu baik.
    3. Jadi dokter kayak pedagang??? Itu g baik!!!!!!

  80. 80 sibermedik Juli 21, 2007 pukul 10:40 am

    coment postinganku po’o??

  81. 81 cakmoki Juli 21, 2007 pukul 12:42 pm

    @ sibermedik,
    Prof siapa? Prof Iwan ya
    Obat murah+aman= bisa ampuh
    Obat ampuh+aman= bisa murah, hehehe
    aq bisa !!!
    ok, udah gitu, ada yg baru po ?

  82. 82 dr.Dimas prasetyio Skp. Juli 24, 2007 pukul 3:42 pm

    aduh pusing mikirin gaji………………kenapa harus pusing pusing kerja di indonesia dengan tingkat pengangguran nya yang saya rasa pemerintah kurang memperhatikan nasib warganya untuk hidup layak dan sejahtera lebih baik kalian kerja diluar negeri jadi perawat saja gajinya berkisar 10 jt – 60 jt di luar negeri gak usah biongung bingung ayo kita jadi perawat saja berbondong bondong keluar negeri

  83. 83 johan Juli 24, 2007 pukul 4:52 pm

    dimas ktua osis?

  84. 84 cakmoki Juli 24, 2007 pukul 11:55 pm

    @ dr.Dimas prasetyio Skp.,
    benar, sy sependapat, …dah cukup banyak tenaga kesehatan yg ke luar negeri karena di negeri sendiri mungkin diabaikan.

    menurut sy, ada yg keluar negeri dan harus ada pula yg di dalam negeri sebagai penjaga gawang.
    Ini untuk keseimbangan, agar warga kita ada yg ngurusi. Dan menjadi kewajiban temen-temen yg di dalam negeri untuk terus memperjuangkan nasib sejawat terutama yg di pelosok-pelosok. Mereka bekerja tanpa kenal waktu namun cenderung diabaikan.

    @ johan, :) ketemu kokega ya

  85. 85 nasa tulakbar Juli 26, 2007 pukul 12:46 pm

    assalamualaikum

    pertama saya ingin mengucapkan selamat buat kalian yang di terima di PTN favourit. disini saya hanya ingin meminta doa dari rekan semua supaya mendoakan saya agar bisa di terima di Fakultas Kedokteran UNPAD lewat jalur SPMB walaupun memang gaji dokter kecil tapi disini saya tidak mempermasalahkan gajitapi saya ingin mengabdi kepada masyarakat fdan memajukan sistem kesehatan yang ada di indonesia tapi kalaupun saya gak lulus kedokteran saya berencana untuk kuliah di keperawatan dan insya Allah berencana bekerja di luar negeri soalnya saya dapat informasi bahwa gaji perawat di luar negeri melebihi gaji dokter di Indonesia bayangkan di Amerika saja gaji perawat bisa mencapai rata rata per bulan 10.000.000 – 60.000.000.- jt waw…sungguh sangat pantastis bukan sebaliknya gaji mahasiswa yang baru lulus kedokteran gajinya hanya 1.400.000.- sama dengan gaji PNS tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan semasa kuliah ……….. dari itu kepada rekan rekan seangkatan saya yang bingung mencari perkuliahan yang menjamin kehidupan masa depan jangan tanggung tanggung untuk memilih fakultas yang diminati dan sesuai kemampuan anda . semoga informasi ini menjadi inspirasi kalian untuk mentap masa depan yang gemilang.

    terima kasih

    nasa tulakbar

  86. 86 cakmoki Juli 26, 2007 pukul 4:06 pm

    @ nasa tulakbar,
    Pertama:
    Sy ucapkan selamat berjuang dan moga berhasil di FK Unpad :)

    Kedua:
    jadi sedikit heran, … pernyataan di atas “siap mengabdi” untuk warga masyarakat biarpun gaji kecil, sedang pernyataan di bawah mengejar gaji fantastis …. jadi gimana nih.

    Btw, apapun pilihannya saya ucakan semoga sukses :D

  87. 87 ginna Agustus 21, 2007 pukul 10:57 am

    Hi cakmoki!

    Duh, waktu lulus jadi dokter, sumpah aku nyesel buaangeeet.. kenapa gak manut aja ama bapak jadi arsitek.
    setelah sekolah 4 tahun S.Ked dan 2 tahun program profesi yang “amit-amit” (lebih parah daripada dijajah Jepang!) jadi babu seribu umat, lebih hina dari debu dibawah keset! (beneran lho di almamaterku kayak gitu,, ndak tau ditempat laen).. buat adek yang mau masuk FK UNPAD, he.he.. tanya-tanya yang jelas dech gimana rasanya jadi Ko-ass di sono..kalee aja sekarang mah sudah berubah.

    Setelah sekolah yang luaama itu, (temen2ku yang SE or SH dah kerja 2 taunan) mulai kerja dong, jaga klinik 24 jam cuma dibayar 50 rebu doang huukk.. mamah ngapain aku jadi dokter..
    Belum lagi waktu lulus di media digembar-gemborkan sekali tuduhan malpraktik, pemberitaannya gak seimbang, menyudutkan, koq kayanya mereka sirik banget sich ama dokter, pedahal cobaiin aja sendiri gak enaknya jadi dokter. Kerja di rumah sakit juga sama aja, dibangunin malem-malem, dibentak-bentak keluarga pasien,orang libur lebaran kita cengo nungguin pasien, lagi huamil gede masih harus lari-lari resusitasi pasien, pokonya gak ada enaknya jadi dech jadi dokter, palagi cuma dibayar 6 rebu doang perpasien, tapi kalau ada tuntutan buntutnya penjara dan ganti rugi yang gak tau kapan bisa dibayarnya. aku benci banget ama media kita yang menurut pandanganku kurang ajar dan gak seimbang (he.he. emosional bo!)makanya aku bikin media sendiri, berusaha ngasih sudut pandang laen

    lalu menkes juga sama aja, ribut bilang gaji dokter ampe 7 juta? kesannya oke banget kalau buat awam, pedahal Mas ku yang lagi “dipaksa” PTT ditempat sangat terpencil yang bahkan sinyal pun tak ada, jauh dari anak istri, gak dapet ampe 5 juta. gak bisa praktek karena masyarakatnya muiskin buanget, dipotong pajak, mobil ambulans rusak diperbaiki atas biaya sendiri, ngerujuk pasien pun atas biaya sendiri, obat kurang ditombokin juga, ah kalau diterusin kayanya muna ya? tapi yang pasti, janji pemerintah tidak pernah seindah yang dikatakan..

    walau gimana, aku sich pasrah mungkin ini memang tugas dari Allah SWT kali ya buat aku didunia ini, dibalik “ketidakadilan” terhadp profesi ini, banyak koq yang bisa disyukuri, senyum tulus pasien waktu sembuh, ucapan terima kasih tulus atas apa yang kita lakukan (walau sebenarnya gak hebat-hebat amat..(gak ada yang hebat kan yang bisa kita lakukan)).. tidak ternilai,tidak terbayar.. Namun, kasian anakku, ia masih perlu susu yang harus dibayar, pendidikan yang harus dibayar, dan waktu yang hilang karena emak-bapanya kerja kaya orang gila untuk membayar itu semua.. he,he,,

    Pokoknya.. jangan muauu jadi dokter! kecuali dah kaya sebelumnya..

    Salam

    (muaaf ya curhat.. gak punya temen curhat seech. lagi ditinggalin PTT huk)

  88. 88 cakmoki Agustus 21, 2007 pukul 1:24 pm

    @ ginna,
    huahahaha hahaha hahaha …
    Maaf mbak Ginna, bukan menertawakan, … ungkapan ini nyaris seragam disampaikan teman-teman nun di pinggiran …
    gelar sih dokter, penghasilan kalah ama tukang cukur … eh, mak, tukang cukur di dekat rumah ongkosnya 6.500,- … pasiennya perhari bisa 60 orang lho :D

    Saat ditanya sekolah anaknya di mana?
    weleh … saya langsung grogi mode ON, … lha piye, sekolah di kelurahan ini, kecamatan ini nun jauh di sana dan tidak dikenal, … hehehe asyik

    Akhirnya, apapun itu … saya sangat sependapat bahwa profesi ini (dokter), dipuji ataupun dicela, … tetaplah sebuah profesi yang patut dipertanggung jawabkan dan berharap memberi manfaat bagi sesama.

    Biarlah para penggede sibuk dengan janji dan jargon, yg penting kita bekerja walaupun gak kenal hari raya …
    Merdeka !!! :D

  89. 89 pencari berkah Agustus 21, 2007 pukul 9:00 pm

    salut buat pengabdian para dokter yang mau membantu masyarakat miskin.. saya bukan dokter, tapi saya juga setuju, kalau pemberitaan terhadap dokter2 di indonesia tidak berimbang, selalu terlihat image buruknya, padahal mereka tuh nggak ngerasain yang pahitnya menjadi seorang dokter.. yah moga moga Allah SWT membalas segala kebaikan para dokter di indonesia, amien

  90. 90 cakmoki Agustus 21, 2007 pukul 10:31 pm

    @ pencari berkah,
    thank you, Bos …
    bagi kami, image jelek gak papa, sebagai feedback untuk perbaikan pelayanan … kritik konstruktif tentu kami terima dengan lapang dada.
    mungkin benar, andai media mau hidup bersama dokter di pedalaman selama seminggu saja (kalo mau) mungkin penilaian sedikit berbeda.

    Terimakasih atas do’a dan supportnya. Amin

  91. 91 widyaswara September 16, 2007 pukul 8:03 am

    menurut sy taking this major is a hard work, time consuming, jd ya wajar klo bny calon dokter yang orientasinya lb k finansial..tp klw gajinya cm segitu mnurutq g sebanding sm all the hard work a doctor do, napa nggak jadi lecturer d malaysia aja..btw klw diitung2 gaji dokter d indo sm d luar negri koq bda jauh y..pdhal medical school d Indo juga ok, kedok UGM aja ud bs msk 100 bsr dunia..tapi emg kuliah di kedok UGM kayaknya intense bgt

  92. 92 cakmoki September 16, 2007 pukul 3:33 pm

    @ widyaswara,
    Andai finansial menjadi tujuan utama, kali banyak dokter eksodus ke LN, … org kita yg bekerja di semenanjung eropa, cuman 3 minggu dlm sebulan, dapet biaya transport pp enam bulan sekali. Gaji sebulan setara dg gaji 3 tahun di Indo …. lha kalo di sana 3 tahun sama dengan di Indo berapa tahun tuh, …hahaha

  93. 93 vicar November 13, 2007 pukul 2:11 pm

    eh….ada usulan? untuk pembagian JP/JS yang adil ?….ada rumah sakit mau bikin sistem remunerasi baru (RSUD) buat adilnya……?

  94. 94 Melly Anggania November 28, 2007 pukul 9:39 am

    Ass Wr Wb
    Pak Cakmoki.Saya dulu angkatan pertama PTT tahun 1992…..dapat daerah biasa gaji 350 ribu lalu berubah 500 ribu.Dapat daerah yang pas dengan tempat kerja suami diperkebunan walau harus sejam perjalanan ke PKm di kab Bandung..jarak pendek tapi medan jalan penuh batu2 besar jadi merayap jalannya kendaraan. Saya nikmati,…..3 tahun .Setuju dengan Bapa dimana pun apapun profesi kita yakin dengan ketentuan dari Alloh akan diturunkan pertolongan dariNya dari arah yang tidak terduga duga…… niatkan lurus saja kita jadi dokter untuk menolong sesama…Saya jadi tergugah dengan tulisan2 Bapa bahwa menjadi dokter memang beginilah penuh suka dan duka…tergugah jua karena anak ke 2 saya berminat menekuni profesi ini….Doakan saja baru akan menjalani ujian SMUN tahun depan ini….Para Dokter dokter sekalian…..teteup….semangat…..terus…….wass

  95. 95 cakmoki November 28, 2007 pukul 11:45 am

    @ vicar,
    Ada, salah satu RSD type C plus di kota kami moga memulai hal tersebut. Kebetulan saya dapet tugas bikin sistem pengelolaan dan draft Perda. Udah selesai tahun lalu dan moga dapat diaplikasikan oleh pihak manajemen RS.

    @ Melly Anggania,
    Saluut !!!
    Moga teman sejawat yang lain dimanapun berada juga membaca tanggapan mbak Melly.
    Moga ananda tercinta dapat meneruskan profesi ibunya, dan semoga dapat memebri manfaat bagi sesama.
    Amin

  96. 96 Juliach Januari 8, 2008 pukul 11:36 pm

    Wah ketemu juga artikelnya yg lama sudah nylempit.

    Sejak malam natal hingga saat ini dokter2 UGD, para medis UGD, dokter anestesi dan re-animateurnya di seluruh Perancis pada unjuk rasa, nih. Mereka minta gaji 23jt Euros yg belum terbayar gara-gara kelebihan jam kerja.

    Hari ini saya dengar sindikat dokter sedang negosiasi dengan menteri kesehatan.

    Ini ada artikelnya dari TV france3 : http://aquitaine.france3.fr/info/37929849-fr.php

    Sayang artikel yang sama tidak saya ketemukan di koran Indonesia.

    Saya pikir dokter-dokter dan paramedis di Indonesia berhak unjuk rasa untuk memperjuangkan soal gaji.

    Kita bisa tekan Menteri Kesehatan untuk memberi gaji yg layak. Paling enggak kita harus menghargai kerja mereka dan memanusiakan dan mensejahterakan manusia di Indonesia yang hidup di pedalaman, baik dokter/paramedis dan masyarakat.

  97. 97 cakmoki Januari 9, 2008 pukul 3:26 am

    @ Juliach:
    di Indonesia, kalo dokter dan paramedis nuntut kenaikan gaji dianggap aneh bin ajaib karena dianggap bisa praktek untuk cari tambahan penghasilan … hehehe. Jangankan nuntut, lha tulisan ini saja sudah dicibir, dianggap gak bersyukur … belum lagi masih dituntut kalimat sakti yg berjudul “pengabdian”, layanan optimal … dan bla bla bla

    Ada beberapa teman yg memilih keluar dari PNS dengan beribu alasan. intinya sih saatnya ngurusi diri sendiri dengan mencari penghasilan yg layak setelah dirasa cukup “mengabdi” kepada negara *halah, ngabdi lagi* … Masalah lainnya, pola pikir petinggi negeri ini gak sama dengan di sono, di sini kan sibuk cari “sabetan” dibanding benar-benar ngurus rakyat *maksudnya oknum, biar gak ada yg tersungging* :roll:

  98. 98 cakmoki Januari 9, 2008 pukul 3:28 am

    @ Juliach:
    huaaaaa, link-nya bhs perancis … ampun deh :D

  99. 99 tata Januari 9, 2008 pukul 6:18 pm

    yang aku tahu dari crita kakakku yang kerja di salah satu perusahaan farmasi, ngeri banget.. “sebagian besar” dokter cari uang dengan cara yang kurang baik. membuat perusahaan farmasi terpaksa menyesuaikan harga obat untuk “marketing cost”

    masyarakat ingin anaknya jadi dokter bukan hal yang aneh. karena masyarakat melihat kbanyakan dokter hidup dalam ekonomi yang baik. ini tak terbantahkan kan?? tapi kalau lihat tulisan-tulisan yang cerita gaji dokter ga seberapa, aku jadi bingung.. kesejahteraan yang baik itu selisihnya didapat dari mana. dari situ sepertinya aku mulai meng-iya-kan cerita kakakku.

    entahlah.. biaya masuk untuk kuliah kedokteran juga konon besar sekali. tentu “pikiran dasar” manusia adalah ogah rugi.. kemana biaya itu musti dicari gantinya.

    entahlah.. entahlah

    semoga kita semua ga menilai orang dari materi yang dimiliki.setiap orang ingin dinilai bagus. kalau bagus adalah tingkat kepemilikan materi ukurannya, orang akan berusaha ngejar materi. dan itu memancing orang di profesi apapun untuk ngejar materi.. akhirnya cara-cara yang tidak sebaiknya pun ditempuh.

  100. 100 cakmoki Januari 9, 2008 pukul 11:29 pm

    @ tata:
    ya, saya paham kebingunan yang dialami setelah melihat antara gaji dan kenyataan.
    Namun percayalah bahwa menempuh jalan yang benar dan diridhoi jauh lebih mulia dibanding cara-cara yang tidak terpuji :)

    Kesejahteraan atau tambahan penghasilan bisa didapat dari praktek atau kerja tambahan di luar jam dinas. Kesempatan menjalani hidup jujur selalu terbentang di depan mata.
    Lagipula, Tuhan Maha Adil lagi Maha Bijaksana.

  101. 101 tata Januari 13, 2008 pukul 2:09 pm

    hmm… fenomena dokter nyari duit dengan ngejar bonus penjualan dari perusahaan farmasi sebenernya sudah jadi rahasia umum. (ga usah ditutup-tutupi atau dicari2 dalih untuk membenarkannya banyak orang dah ) namun sepertinya pihak “umum” tidak punya kekuatan apa2 untuk menghadapinya. yang ada kalau sudah sakit cmn nggerundel dan ga bisa apa2..

    orang dalam keadaan sakit itu seperti ga punya pilihan lain, bahkan segala cara dilakukan.

    semoga keterpaksaan orang sakit tidak dimanfaatkan untuk aji mumpung mencari penghasilan.

    mengerikan sekali kalau hal-hal seperti itu terus berjalan. orang yang melihat dan berharap malaikat yang akan menolong sakitnya, ternyata dibalik kemalaikatannya ada sosok yang…………………

    semoga kedepan dokter2 kita makin baik. pihak-pihak pembuat regulasi mestinya lebih tegas.. atau ketidak tegasannya selama ini juga karena dapat bagian??? aku juga kurang tahu… waaupun kakakku yang kerja di farmasi, kenalanku yang di farmasi dll sering cerita begitu…

  102. 102 cakmoki Januari 13, 2008 pukul 8:22 pm

    @ tata:
    iya bener, rahasia umum, tapi tidak bisa dibenarkan dari sudut manapun :) … silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang: Sponsorship Bagian 1.
    kalo sudah begitu, dokter ibarat sosok yang sangat mengerikan.
    Saya sendiri tidak berharap banyak pada para pembuat regulasi, karena sebagian mereka juga terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam “hajatan” mengerikan itu.

    So, tulisan ini mengajak para teman sejawat agar tidak memanfaatkan orang sakit untuk kepentingannya sendiri dengan dalih apapun, apalagi smapi menipu, … contohnya Bantuan untuk Pasien Miskin yang melalui Askes … itu bohong !!!

    Dan tidak perlu terlalu cemas, karena selalu ada para dokter yang masih menjunjung tinggi harkat dan integritas keilmuannya ;)

  103. 103 tata Januari 18, 2008 pukul 10:47 am

    @cakmoki

    Dan tidak perlu terlalu cemas, karena selalu ada para dokter yang masih menjunjung tinggi harkat dan integritas keilmuannya

    hehe.. mudah-mudahan ga “selalu ada” dalam jumlah sedikit.

    usaha realnya para dokter yang baik seperti apa cakmoki? ada ga sih kelompok dokter yang berani menyatakan sikap. kalo perlu IDI bubarin aja.. bikin asosiasi baru dokter-dokter bersih.

    aku pernah nonton film patch adams.. kapan kita punya orang2 seperti itu.

    beberapa dokter kenalanku aja juga banyak yang ga bener. sempet dia marah2 sama orangfarmasi karena uangnya blum ditransfer.. pas ketemu ama orang farmasi tersebut baru crita kalo si dokter minta ini itu.. kalo ditraktir ama dia ihh… kebawa makannya ga enak. jijik banget. anggap ditraktir soto ayam, ngebayanginnya orang2 yang sakit sakitan ditipu pula. mana enak makannya..ehhgrh.. soto daging ayam.. nglihatnya kaya soto daging manusia gitu..

    kasian banget anaknya dikasi makan pake uang gituan.. hmm.. ga tega aku nglihatnya.

    ada juga kenalan dokter yang kulihat cukup bersih. aku lihat sendiri kalo mahasiswa rantau dateng ke tempat dia, atau orang ga mampu.. dia kasi gratis.. kehidupannya juga biasa-biasa aja. dia ngasih solusi sehat.. bukan obat2an macem2.. kadang ngasi tau yang baek2.

    tapi koq aku jarang banget melihat yang seperti ini.

  104. 104 cakmoki Januari 19, 2008 pukul 12:18 am

    @ tata:
    “selalu ada” menurut rilis majalah Tempo September 1999, konon lebih 50% dokter kehilangan idealismenya, sekarang gak tahu tinggal berapa, hehehe

    usaha realnya mudah koq: gak korupsi, gak nerima angpao dari manapun (farmasi dll), gak meras pasien, murah meriah, bersahabat and ramah dan merakyat, dijamin hidup tentram dan damai, bahagia … hehehe

    Tentu ada kelompok dokter yang berani menyatakan sikap, cuman gak pernah dibuka untuk umum, kali takut dianggap mencemari dunia medis *tolah-toleh* .. dan solusinya menurut saya bukan membubarkan IDI tapi mengubah IDI menjadi institusi profesi yang memberi manfaat bagi sesama. IDI di tempat kami pernah membantu puluhan rumah warga miskin yang berlantai tanah menjadi berlantai semen sehingga mereka bisa menikmati tinggal di rumahnya tanpa khawatir becek saat musim hujan dan berdebu saat kemarau. Itu bergantung kepada nakhodanya kan? Dan itu bisa !!! ini bukan cita-cita lho tapi udah berjalan, hehehe *gak pamer lho ya* … jujur saja, teman yang ndableg poll juga ada :P

    kasian banget anaknya dikasi makan pake uang gituan.. hmm.. ga tega aku nglihatnya.

    hmmm moga blockquote ini dibaca para sejawat.
    Blog ini dibaca teman-teman dokter koq, so monggo sampaikan uneg-uneg di sini tanpa perlu khawatir, paling ntar yang diomeli saya dan omelan tersebut gak mempan deh … soale akan tetap nulis sesuai kenyataan, yang buruk maupun yang baik.

    sekali lagi, masih ada (moga masih banyak) dokter yang baik seperti gambaran di atas. Thanks atas share nya :)

  105. 105 daniel Juli 21, 2008 pukul 10:31 am

    Kalau dokter digaji layak sebagai tenaga ahli (dokter umum saja seperti nya sebagai tenaga ahli; sekolahnya paling cepat 6 tahun), dan masyarakat sakit ditanggung asuransi kesehatan oleh pemerintah. maka tidak akan atau mungkin kecil kejadian dokter nyambi2 dibanyak tempat, bahkan lalai terhadap pasien2nya. Tetapi dijamin dokter tidak akan mengabaikan pasiennya apalagi menyangkut nyawa dan reputasinya yang tidak bisa disembunyikan/rekayasa. Pemerintah sangat kurang perhatian pada tenaga ahlinya. Bandingkan juga jumlah lapangan kerja dengan adanya fakultas hukum, fakultas sospol, dan ekonomi yang sangat banyak dan ada pada hampir seluruh universitas ternama/abal. setiap fakultas tersebut di atas 3-4 tahun lulus, calon mahasiswanya rata2 150-200 orang. Padahal tidak semua universitas ada fakultas kedokterannya. Kenyataannya yang teriak2 dan keadaan dokter yang ditangani oleh pemerintah dikuasai oleh politisian, bukan oleh negarawan. Apalagi departemen keuangan (si pencetak uang/perintah pencetakan uang kertas) merasa kerjanya menggaji semua jenis PNS/aparatur negara sebagai anak buah, bukan sebagai pengelola keuangan sehingga merasa yang diprioritaskan adalah pegawai keuangan dengan gaji/tunjangan yang lebih tinggi, demikian cakmoki sharing dari saya

  106. 106 cakmoki Juli 22, 2008 pukul 1:33 am

    @ daniel:
    hehehe, sangat berani … salut :)

    …pemerintah dikuasai oleh politisian, bukan oleh negarawan

    seorang profesor dalam kajiannya menyebutkan bahwa sebagian besar daerah tingakt I dan II bukan dikelola oleh negarawan (teknokrat) melainkan oleh aktor politik … itukah yg dimaksud dengan politisian.. kalo iya, cocok banget yaaa…
    Thanks sharenya, moga para petinggi ikut membacanya (kalo sempet) :D

  107. 107 daniel Juli 24, 2008 pukul 10:07 am

    Jadi politisian tersebut berasal dari anggota-angota partai yang awalnya tidak mempunyai pekerjaan tetap, dan biasanya baru taraf membela perut sendiri melalui partai-partai dan umumnya mereka sarjana-sarjana yang ‘menganggur’ yang diakomodasi oleh para orangkaya yang berpolitik melalui perpanjangan tangan para sarjana yang menganggur yang pimtar ngomong sewaktu mahasiswanya, serta ada juga dari para preman intelek yang mampu mengerahkan massanya. Begitu mereka masuk jadi anggota legislatif atau bahkan departemen2 melalui para menteri2 non karier, maka mulailah kelihatan ilmu aji mumpungnya. Minta tunjangan2 yang nggak masuk diakal dan semuanya untuk; kepentingan diri, profesi2 yang gak jelas kerjanya, partai2 dan baru saudara2nya sekampung/KKN yang pernah berjasa pada kampanye mereka. Semua kekayaan negeri ini dikuras habis mulai dari sumber kekayaan alam seperti migas/mineral ‘djualin’ dan ‘dicaloin’ (dicilok boleh juga, bahasa padangnya dimalingin), telekomunikasi ‘dikartelkan’ agar dapat selisih tarif untuk mereka tersebut. sehingga pendidikan dan kesehatan sangat mahal sementara dokter dan guru dibayar semurah-murahnya. Semua rakyat kena pajak berganda. Kata slogannya: “Bayar pajaknya, awasi penggunaannya”? Bagaimana mengawasi penggunaannya, wong laporan keuangannya aja nggak pernah dipublikasikan, gimana direktorat jendeal ‘penjajah’?

  108. 108 daniel Juli 24, 2008 pukul 10:45 am

    Pendidikan dan kesehatan sangat mahal di Indonesia “tercinta”, termasuk harga obat (obat: pajak bahan baku obat tinggi, promosi obat dipajakin lagi, belum lagi ada dokter praktek laris yang disanguin perusahaan obat) Dokter dan guru digaji semurah-murahnya. Dokter/guru ingin mencari penghasilan tambahan dari murid2/pasien2nya. jadi dokter yang kaya di Indonesia adalah kekayaannya dari orang sakit bukan dari program pemerintah untuk mengentas kebodohan dan kepenyakitan. Dokter dan guru sangat dipersulit untuk dapat bekerja di luar negeri, sementara sarjana WNI non dokter/guru banyak bekerja untuk negeri lain seperti di Singapore, Malaysia, Arab, dll. Di negara lain banyak guru/dokter dapat bekerja di luar negaranya. Diknas sudah harus menjaga keseimbangan fakultas-fakultas yang mencetak terlalu banyak sarjana yang menganggur, kalau perlu tutup sementara. Daerah otonom/Depdagri harus menggaji yang layak untuk para dokter/gurunya, dan rakyatnya dibebaskan biaya pengobatan, depkes harus membuka seluas-luasnya pendidikan tambahan untuk para dokter di luar depkes seperti yang dilakukan pada diknas. DepKeu: Pajak harus jelas dan sederhana jangan terlalu banyak fitur seperti perpajakan menurut ukuran tingkat kekayaan, kemewahan barang, contoh lain: 1 porsi mi ayam yang kita makan saja kira-kira ada lebih dari 10 item yang kena pajak, dll. Sampai saat ini tol jagorawi masih berbayar, seharusnya gratis, padahal untungnya dan dana obligasi yang didapat sudah bisa membuat jalan tol lainnya

  109. 109 cakmoki Juli 24, 2008 pukul 11:27 am

    @ daniel:
    Hmmm, ahli banget mengurai sebagian masalah di negeri ini…
    Lengkap nih … sebegitu parah yaaa?
    Tengkyu infonya … moga bermanfaat untuk perbaikan :)

  110. 110 vampire_surfer Agustus 21, 2008 pukul 5:47 pm

    sebenarnya hal seperti ini mirip sebuah lingkaran siklus dimana satu hal ke hal yang lain saling berhubungan. Kalo yang saya perhatikan dari tulisan bung cakmoki, menurut aku kemungkinan faktor yang berpengaruh adalah : 1. biaya sekolah sampai menjadi dokter , 2. di indonesia gak ada standar salary untuk dokter ( self employee toh ), 3. umumnya instansi2 baik pemerintah dan swasta juga gak memiliki standar yang relevant mengenai profesi yang satu ini. Jadi kurang lebih kemungkinan beberapa praktisi berpikiran ” gmn nutup biaya sekolah dan biaya yang akan datang” ( ini bagi yang berpikir secara ekonomi loh. Karena layaknya sebuah rumah sakit yang memiliki norma dan segala aspek sosialnya, namun di dalamnya juga terkait yang namanya Ekonomi kesehatan.

    Makanya kadang pasien kurang mampu kadang di tolak oleh rumah sakit, bukan karena rumah sakit gak mau nampung, tapi mereka memikirkan bagaimana menutup cost ini itunya dan siapa yang akan membayarnya ? pemerintah ? kalo dari berita baru baru ini sih kalo gak salah instansi pemerintah dan berbagai asuransi kesehatan banyak memiliki tunggakan pembayaran kesehatan yang belum terbayarkan.

    Saya rasa begitu juga dengan dokter ( bukan membela hanya melihat beberapa fakta yang kebetulan terlihat ), dokter memang memiliki aspek suatu profesi yang syarat dengan aspek sosial. Tapi jangan lupa loh mereka juga manusia yang butuh biaya hidup untuk anak dan keluarganya.

    Jadi anggapan selama ini kalo dokter itu kan banyak uangnya makanya sekolahnya mahal, mestinya sosial dikit donk. Yang pasti jiwa sosial itu pasti ada pada semua dokter , cuma beda takarannya alias proporsinya aja, karena kembali ke sifat-karakter dan kebutuhannya sebagai manusia.

  111. 111 cakmoki Agustus 22, 2008 pukul 11:20 am

    @ vampire_surfer:
    thanks atas share pemikiran dan pandangannya :)

  112. 112 bayu Oktober 10, 2008 pukul 10:49 pm

    di negeri yang sudah kapital ini tidak ada yang namanya pengabdian.. liat aja berapa besar biaya yang harus di keluarkan untuk bisa sekolah di kedokteran. prinsip dagang modal yang besar dengan faktor resiko yang besar harus mendatangkan keuntungan yanng besar juga. kalau kita mau jujur pendidikan adalah investasi termasuk juga didalamnya pendidikan dokter. Dengan investasi yang sedemikian besar, tingkat kesulitan dan faktor resiko yang tinggi masih pantaskah profesi dokter di nilai dengan murah.jaman duku sebelum ada otonomi kampus biaya kuliah kedokteran di univ negeri masih murah. berkisar antara 200-300rb persemestar untuk mahasiswa angkatan 90an awal. Prinsip pengabdian kewajiban ptt dan sumpah hipokrates masih bisa di tolelir. tapi untuk sekarang berapa biaya yang harus di tanggung orang tua buat anaknya yang ingin sekolah di kedokteran minimal 100jt untuk sekedar buka pintu aja masih ketir2. setelah lulus masih harus di hadang dengan kewajiban pengabdian, tanggung jawab sosial, sumpah hipokrates… apa masih layak semuanya. PENDIDIKAN KAPITALIS AKAN MENGHASILKAN PARA KAPITALIS JUGA. Saya ingin bicara real gaji dokter pns yang baru diangkat dengan anak 2 sebesar RP.2060000. dengan beban kerja perhari minimal 60 pasien yang di tangani. 25 hari dalam satu bulan. berarti perpasien yang di hargai pemerintah kepada kita Rp.1373, lebih murah dari tarif parkir mobil. sebenarnya ini sebuah pelecehan terhadap sebuah profesi yang orang bilang mulia. Saya punya sedikit cerita. Kepala puskesmas saya dokter bersuamikan dokter jg anaknya ingin sekali kuliah di kedokteran karena dia melihat ke dua orang tuanya berprofesi sebagai dokter. dia bercerita sambil menangis karena tidak mampu menyekolahkan anaknya di kedokteran. Mau di bawa kemana negeri ini jika Pendidikan dan Pemerintah sudah berwatak kapitalis. Untuk yang baru lulus smu BERFIKIRLAH SEJUTA KALI BUAT KULIAH DI KEDOKTERAN, KARENA PILIHANMU BUKANLAH INVESTASI YANG MENGUNTUNGKAN

  113. 113 cakmoki Oktober 11, 2008 pukul 1:43 am

    @ bayu:
    tergantung dari sudut mana memandangnya :)
    Saya masih menemui teman sejawat yang menjunjung tinggi idealisme dan rela hidup di pedalaman.
    Tak dapat dipungkiri bahwa kita semua perlu uang, tapi uang bukan segalanya.
    Jadi dokter tidak melulu berhitung untung rugi antara biaya sekolah dan gaji, … ada sesuatu yang lain, yakni kepuasan dapat membantu sesama.
    Sedangkan tambahan penghasilan, selalu ada jalan untuk berusaha mendapatkannya :)
    Di sisi lain, kita tetap berharap agar ada perhatian sungguh-2 dari pemerintah agar para teman sejawat yang terutama bekerja di pinggiran dapat menunaikan tugasnya dengan tenang.
    Trims share-nya :D

  114. 114 boy Oktober 21, 2008 pukul 9:00 pm

    oke2… sprtinya jaman sekarang emang susah kalo jadi dokter… mungkin bukan investasi yang menguntungkan, tp profesi sebagai dokter punya tanggung jawab yang besar.. dan saya rasa lebih terhormat.. dan lebih dipandang oleh masyarakat.. dan kadang2 rasa bahagia bila pasien yang kita rawat dapat sembuh.. itu lebih dari sekedar uang menurut saya.. jadi, tidak semata2 dipandang dari gaji saja.. ins4JJ akan dapet rezki dari allah dari tempat lain..

  115. 115 cakmoki Oktober 23, 2008 pukul 12:39 pm

    @ boy:
    Makasih support dan do’anya, moga demikian pula sebaliknya. Ini pelajaran berharga khususnya bagi saya.

  116. 116 diandra November 1, 2008 pukul 8:09 am

    mau tanya aj, sebenernya gaji di tiap departemen sma ga sih?
    apa beda, gaji yang diterima dokter yang kerja di diknas sama yang kerja di depkes, karena kan ga semua dokter larinya ke depkes…klo menurut saya, yang bikin kaya dari seorang dokter itu praktek pribadinya, walaupun dia pns ga akn menutup kemungkinan untuk menambah pundi2 uang…tetangga saya aja dokter spesialis, pns diknas…tapi rumah sakitnya dimana2…..

  117. 117 cakmoki November 2, 2008 pukul 12:51 am

    @ diandra:
    Gaji pns di departemen manapun sama, termasuk dokter. So, gaji dokter di diknas, depkes, dan departemen lain sama aj, mengacu pada golongan kepangkatan dan masa kerja.
    Nah, soal praktek adalah kesempatan menambah penghasilan di luar jam kerja sesuai keahlian masing-masing. Sama halnya dengan profesi lain yang dapat menambah penghasilan di luar jam kerja :) … yang beginian adalah hak masing-masing PNS, ada yang bisa mendapatkan tambahan dalam jumlah banyak, ada yang sedikit adapula yang gak punya kesempatan atau waktu untuk menambah penghasilan.
    Trims

  118. 118 ayahrafi November 25, 2008 pukul 6:03 am

    ha..ha..riwayat yang pantas diceritakan anak cucu cak.
    Yah, mudah2an ada kebijakan yang menyeluruh dari pemerintah untuk hal ini. Di satuu sisi untuk pemerataan dokter didaerah2 terpencil tetapi disisi lain tidak menimbulkan konflik diantara sesama kita.

    Salam untuk TS semua

  119. 119 cakmoki November 25, 2008 pukul 11:09 am

    @ ayahrafi:
    ha..ha..ha, iya mas :)
    Kebijakan pemerintah berubah-ubah terus nih, tambah ruwet. Sistem inpres kayaknya lebih bagus daripada PTT.
    Salam

  120. 120 yunior Januari 31, 2009 pukul 4:11 pm

    cak bisa tolong saya ndak ? cara itung angka kredit jabatan fungsional dokter? susash nih. kalo bisa kirim ke keziabyan@yahoo.co.id. Matur nuwun sekali sebelumnya

  121. 121 cakmoki Februari 1, 2009 pukul 6:43 pm

    @ yunior:
    Nanti saya kirim via emal ya

  122. 122 nadia Februari 15, 2009 pukul 11:56 am

    hmmmmmmm masalah gaji dokter.bukanya mau main iri – irian tapi kadanag kita ( para dokter ) dianggap kaya raya dan berduit.. padahal kenyataanya 180 derajat ga sama. mau masuk kedokteran harus ikut UMPTN ( kebetulan lulusan univ negeri )trus kuliah lulus jadi sarjana masuk kepaniteraan klinik total 6 tahun bisa lebih mungkin. setelah lulus kerja di RSUD paling ujung pulau jawa timur dapet bonus 1 jeti…. mayan dari pada minta ama amang di sebrang. jangankan mengharapkan gaji tambahan dari pemerintah… tensimenter dedel duel ga ada yg ganti, stetoskop yg membranenya dah bredel tetep aja di pajang, dopler yg bunyinya dah kacau tetep di pakai… untung hebat para dokter di daerahku ini bisa meriksa pakai alat ancur…. untung jadi dokter disni klo siang ga sah keluar beli nasi bungku.. diem di meja diaterin ama keluarga pasien makanan kaya sesaji ( maklum dokter desa kaya dewa ) silahkan bu dokter di makan—-teriamakasih telah merawat keluarga kami ( itu bagi yg pulang dengan sehat ) huuufffff….. berdosakan jika aku yg seoarg dokter berkeluh kesah ( maapin dirku tuhan … saat lewat kantor pajak ( ets .. di kantor nih banyak lulusan stan ) kantor di bawah naungan depkeu wow tenyata gajinya = 4 x gaji dokter… buset…. aku kul 6 tahun ternyata gajinya tingian mereka…. huuaaaa nasib seoarg dokter…. negara yang suoper aneh….. apa ini di sebut pengabdian ?????? apa masih kurang celaan org terhadap para dokter???? apa kurang pelayanan dokter ???? mari kita renungkan

  123. 123 cakmoki Februari 15, 2009 pukul 9:25 pm

    @ nadia:
    Berkeluh kesah gak dilarang koq, setidaknya khalayak tahu realitanya, syukur kalo penguasa negeri ini juga tahu bahwa penghargaan terhadap profesi layanan medis tidak cukup dengan Piagam atau predikat teladan … hehehe
    Kalo digaji 7,5-10 juta sebulan bisa agak tersenyum kali yaaa
    Thanks share-nya

  124. 124 AnGie Februari 25, 2009 pukul 10:32 pm

    Dear TS… mohon bantuannya
    Sekarang saya sementara PTT di Kabupaten Minahasa Sulut TMT 1 September 2008, rencananya mau mengikuti tes PPDS 1 bulan April, salah satu kelengkapan berkasnya adalah persetujuan dari Dinkes.. Nah mereka tidak mau mengeluarkannya dengan alasan harus selesai masa PTT dulu… padahal rencana masuk spesialisasinya nanti Januari 2010 (selesai PTT Agustus 2009)… Seingatku ada permenkes or SK dari Menkes kalau dokter PTT setelah 6 bulan masa kerja bisa mendapatkan surat keterangan dari dinas untuk keperluan melanjutkan studi… Saya butuh bukti tertulisnya untuk ditunjukkan ke Dinas, kalau ada buktinya baru mereka mau memproses berkas saya…

    kalau ada yang tau bisa informasikan ke medi4christ@yahoo.com
    thanks atas bantuannya

  125. 125 cakmoki Februari 26, 2009 pukul 1:00 am

    @ AnGie:
    Saya teruskan ke semua TS yaaa …

    Dear TS …
    Ada yg perlu bantuan info nih
    Silahkan langsung hubungi email di atas…
    Thanks

    NB:
    ini akan saya tanyakan di milis para TS…
    Moga ada yang bisa bantu

  126. 126 andy Februari 27, 2009 pukul 12:06 am

    wah…kalo dokter gajinya antara 1.5jt-3jt…. salah dong!!!!kalo mau kaya jadi dokter…..

    Kalo mau kaya …YA jadi PENGUSAHA…….

  127. 127 cakmoki Februari 27, 2009 pukul 5:06 pm

    @ andy:
    hahaha… ketahuan gak baca lengkap nih :D

  128. 128 black Maret 12, 2009 pukul 10:55 am

    Pancene negoro iki saiki lagi edaaaan cak…. duwe presiden matane gak nyawang tenaga kesehatan, guru gajine dobel, pulisi ambek tentara tunjangane mundhak, wong guru sekolahe mung awu-awu wae…. bayar sakmene ijazah dadi…. nek dokter ijik mending bayarane… nek paramedis nggo tuku beras wae abooooot cak…. [edited]

  129. 129 Deni April 10, 2009 pukul 2:15 am

    Saat ini pemerintah/Depkes/Pemda sibuk dgn BLU di RS. nya. dengan istilah Remunersi yang katanya baik. Namun sangat disayangkan bahwa dokter berhak mendapatkan imbal jasa dari SETIAP pasiennya, tidak ada kejelasannya/transparansi dalam remunerasi. Yang ada sbb : Seluruh penghasilan RS dari poliklinik, visite, farmasi, lab, Radiologi, dlsbnya disatukan yg kemudian di bagi kesemua karyawan medis,paramedis n non medis termsk honorer BERDASARKAN Kinerja masing2. Tentunya dengan faktor pembagi yg banyak ( > 300 org ) akhirnya kl direratakan jasa visite/konsul dr.spesialis Rp.2000-Rp3.000.perpasien. Apa wajar ? Layak ? Hanya isapan jempol BLU, REMUNERASI utk meningkatkan mutu RS. Dokter adalah Captain of the Ship nya RS. Jangan lagi bicara “pengabdian” utk dokter, tapi hak dan kewajiban, dan lagi bukan aneh/mengada2 kalau dokter diberi jasa medis yg berdasarkan kebiasaan, dan kewajaran ( USUAL, CUSTOMERY, REASONABLE )

  130. 130 cakmoki April 10, 2009 pukul 2:40 am

    @ Deni:
    walah, kalo sy gak perlu remunerasi, yang penting hasil akhir jasa, sesuai dengan kelayakan daerah setempat dan tidak memberatkan pasien.
    Caranya?
    1) Tidak hanya berkeluh kesah, tapi membangun “komunikasi” dengan pihak terkait agar dokter tidak dikasih dana visit senilai ongkos parkir.
    2) Bikin draft perda. Perlu dipahami bahwa perda yg nyusun kita.
    3) Hearing dengan DPRD komisi kesra (dulu komisi E, sekarang komisi 4). Pertanyaannya, apa bisa ??? Jawab: BISA !!!, soale dah pernah dan gak dicoret satupun.
    Kenapa para TS di RSUD gagal dalam “adu argumen” di DPRD? Karena, menurut saya, kebanyakan teori mbulet (maaf), kebanyakan itungan, dll, sehingga 1 jam presentasi gak selesai, wa akhirul kalamun, anggota DPRD ngantuk dan dicoret…
    Oya, sy pernah menyusunkan Perda RSUD type C plus. Jasa visit dokter umum Rp20.000,- bersih tanpa potongan.
    Lantas siapa yang ribut? ternyata bukan pihak eksternal tapi internal dokter…aneh kan? … hahaha.

    Tentang pengabdian.
    Maaf, kita nampaknya beda pendapat. Menurut saya, pengabdian adalh kewajiban melayani sesuai kompetensi, sedangkan jasa adalah reward dalam bentuk uang yang layak, bukan piagam.
    Hari gini masih 3000 per pasien ???? hahahaha… tentu ada yang salah. Bisa jadi pihak internal gak niat ngopeni dokter.
    Di era pelayanan medis tahun 2000 hingga sekarang, hanya RS yang mampu memberikan jasa dokter yang memadailah yang akan maju.
    Jadi, pengabdian tetap pengabdian, sedangkan jasa tepat jasa. Dua hal yang berbeda.

    Nah, karenanya… silahkan diperjuangkan teriring do’a semoga berhasil… :)
    Artikel lain tentang kelayakan jasa visite dokter, silahkan baca dokter menjajah dokter.
    Trims share-nya :)

  131. 131 Andi April 27, 2009 pukul 9:56 am

    maap sya mau bertanya..kalau tahun 2009 rata-rata gaji dokter dari terendah hingga tertinggi berapa???

  132. 132 cakmoki April 28, 2009 pukul 12:37 pm

    @ Andi:
    Gaji dokter PNS, sama persis dengan PNS lainnya.
    Jika dokter sebagai PNS baru dengan golongan III.B masa kerja 0-5 tahun, maka gajinya sama dengan PNS lain dengan golongan dan masa kerha yang sama. Demikian pula dokter Golongan IV.E, sama dengan PNS golongan IV.E lain dengan masa kerja yg sama.

  133. 133 Zai Mei 5, 2009 pukul 8:38 pm

    Iya pak setuju, temen2 alumni 2008 di SMA saya banyak banget yang masuk kedokteran, mungkin sebagian besar tujuannya karena ingin dapat penghasilan yang cukup besar jika jadi dokter apalagi spesialis. Mungkin orang tua mereka yang menyuruh untuk masuk kedokteran padahal sebenarnya minat mereka bukan disitu. Memang sih klo menurut saya kuliah kedokteran saat ini yang paling aman dan semua lulusannya pasti langsung kerja, tidak ada yang pengangguran. Tapi tetap saja minat dan bakat harus jadi prioritas utama untuk memilih profesi.

    Btw, saya baru tahu ternyata ada dokter yang nakal seperti itu, jadi takut nih ke Dokter Praktik. :( Langsung ke Rumah Sakit aja ya.

  134. 134 cakmoki Mei 6, 2009 pukul 6:07 pm

    @ Zai:
    iya, saya sependapat, bagaimanapun minat menjadi pertimbangan utama di sekolah manapun, apalagi di kedokteran yg bersinggungan langsung dengan keselamatan manusia.
    Hahaha, kalo yang nakal mah di mana-mana ada, di Rumah Sakit juga ada :)
    Makasih kunjungannya ya

  135. 135 Hart Juli 2, 2009 pukul 11:54 am

    salam kenal @cak…

    izin buat ngepublish di blog saya yaaa???
    ato di notes si buku wajah..

    Biar ade-ade yang masuk ke FK/FKG berfikir dengan baek dan gak cuma mikirin uang..

    Saya sendiri jadi drg. cuma karena yakin ini takdir yang musti dijalanin..baru lulus kemaren sore..sempet nulis curhatan di blog sendiri..(http://hartmind.blogspot.com/2009/06/curhat-dokter-gigi-freshgrade.html) terus tertarik liat gaji-gaji dr./drg.

    nemu deeeh disini…boleh yaa buat disebarin??? =)

    tadii sediiih banget baca keluarga yang suami istrinya dokter tapi gak mampu untuk nyekolahin anaknya di kedokteran..
    saya yakin keluarga itu salah satunya dalam kondisi ini :
    1. keluarga yang tadinya keluarga non dokter, ato dari keluarga biasa.
    2. pasti jujur dan berdedikasi ditambah ikhlas yang gedenya seluas samudera..
    3. gak mau tertipu dan terpedaya dengan setan-setan farmasi..
    4. mirip-mirip ama nasib Lintang di tetralogi laskar pekangi, cerdas tak terkira, tapi tak punya dana..
    5. kondisi nahas lainnya…he.he..

    Poor them..

    semoga ada jalan keluarnya untuk mereka..dan juga untuk sayah (kemungkinan bernasib sama..)

    tapi musti teuteup Optimis…

    saran saya : Bentuk organisasi dr./drg. yang isinya kalangan biasa, bukan yang super tajir, jadi biar ada kekuatan yang mikirin dr./drg. seantero indonesia ini…

    ditunggu yaaa izinnya???

  136. 136 cakmoki Juli 2, 2009 pukul 12:53 pm

    @ Hart:
    Salam kenal :)
    Monggo, silahkan publish kalo dianggap layak.
    Hahaha…saya sependapat dengan 5 item tersebut, memang dmikianlah kenyataannya.
    Dan setju juga: yang penting teuteup optimis :D
    Makasih atas pandangan dan kunjungannya.

  137. 137 wahyudi kuncoro Agustus 20, 2009 pukul 10:23 pm

    Weleh…Masih Ribut gaji kecil lagi ya, saya garis bawahi pernyataan Cak Moki..kalo mo kaya ya jangan jadi dokter, jadi pedagang saja…
    Kembalikan ke Motivasi mjd dokter..ingat sumpah Hypocrates..ternyata banyak dokter yang pingin cepet kaya…tobaaaatttt,,

  138. 138 cakmoki Agustus 20, 2009 pukul 11:05 pm

    @ wahyudi kuncoro:
    wah !!! … kenapa gak baca lebih dulu ???
    silahkan baca lagi yaaaa …. ato saya kutip salah satu item penting dari inti artikel di atas.

    P E S A N
    Apabila ada diantara anak atau kerabat pembaca “ngotot” ingin jadi dokter, mohon ditanya ulang apa motivasinya. Jika ingin kaya, segera saja dilarang agar dunia kedokteran tidak bertambah keruh ketambahan calon dokter sekaligus calon pemeras.
    Namun apabila memang ingin memanfaatkan ilmunya kelak untuk kemaslahatan, maka dorong dan support amat diperlukan untuk memperbaiki dunia kedokteran negeri ini. Mohon jangan lupa untuk memberi nasehat terus menerus dan mengingatkannya bahwa tujuan jadi dokter adalah untuk memberi manfaat bagi sesama.

    Di sisi lain perlu juga diingat bahwa dokter tidak selalu identik dengan kota besar dan kemewahan. Seyogyanya ada yang merelakan diri di pedesaan, agar mayoritas penduduk negeri di desa ada yang ngopeni. Tak usah terlalu risau dengan penghasilan, asal mau jujur dan usaha keras niscaya ada saja tambahan.

    Trims :D

  139. 139 yan September 15, 2009 pukul 8:38 am

    Nurut gue paling kecil itu gaji guru di kalimantan,
    gaji kotor aja untuk golongan IIIb aja sekitar Rp 2,2 juta. Mau sertifikasi susahnya minta ampun dan banyak lho belum sertifikasi walau dah lama kerja, yang lebih naas itu nasib guru honor sekolah gak bisa masuk database dgn gaji cuma Rp 300 ribuan (bahkan ada yang lebih kecil dari itu) bila ada lebih besar dari itu syukur banget dech. Bila boleh usul moga yang honor lama diatas 7 tahun diperhatiin dech oleh pihak berwenang, kasian dech mereka khan udah pada tua semua dengan penghasilan minimalis.

  140. 140 cakmoki September 15, 2009 pukul 11:24 pm

    @ yan:
    sama …. gaji dokter gol 3 sekitar itu juga…yg golongan IV sekitar 3 juta.
    Tapi rasanya insentif guru di Kaltim udah dinaikkan. Tentu bisa diusulkan lagi supaya lebih tinggisesuai dengan letak geografis dan harga-harga yg relatif mahal. Demikian pula yg honorer, mestinya diusulkan oleh Diknas setempat untuk dinaikkan. Gak lucu kan kalo gaji guru kecil sementara itu dituntut untuk mencerdaskan bangsa…. hehehe.
    Met berjuang :)

  141. 141 djo November 8, 2009 pukul 3:01 pm

    sepanjang yg saya baca kok rasanya ada yg protes gaji guru??? saya sich setuju2 saja gaji guru naik dan emang udah naik… bahkan melebihi bayaran saya sebagai dokter (1,5jt telat 3bln utang numpuk ga karuan karena pasien juga pada ga mampu di daerah terpencil)
    Dengan melihat gaji 1,5jt klo gw pake buat makan, sehari aja uda berapa???.. di daerah bukan berarti makanan murah, bahkan mahal jeeee
    Kenapa bayaran dokter PTT daerah terpencil saya bilang tidak sesuai, coba kita liat,
    1.tugas dokter nangani manusia sakit, berarti resiko tertular penyakit juga besar… gajinya sendiri ga cukup buat beli obat
    2.kalo kita kena penyakit menular truz gimana, apalagi yg mematikan…. terakhir temen gw tewas kena TBC, ada juga yg baru nikah mau hamil kena TBC, banyak juga yg tewas bahkan sampe masuk berita
    3.waktu pasien mati, kadang keluarganya ngamuk2 sampe2 dokternya mau dicekik sampe mati (nyawa dokter terancam), alasannya dokternya terlambat menangani (dokter juga manusia, kalo lagi berak, lagi sakit, ato lagi ditelp ama keluarga disuruh pulang karena embahnya mati BAGAIMANA)
    4.ketika semua orang menuntut haknya “nyawa saya, nyawa saya, saya sakit, keluarga saya hampir mati, dll”… hak dokter ga pernah dipikirin, semua pada mikir perut masing2, nyawa masing2, EGOIS…

    kadang gue pengen banget tetep bisa bantu orang2 but WE ONLY HUMAN… tidak semua sesuatu harus kita buat senang.

    Mengenai penampilan parlente dokter yang sempat dikatakan memakan banyak biaya… menurutku ga salah, karena pasien dateng juga pingin merasa nyaman… kalo dokternya pake baju robek2 ga aturan kira2 menurut lu gimana???

    semoga segala sesuatunya bisa berubah lebih baik.
    Maaf apabila unek2 saya menyinggung pihak2 tertentu

  142. 142 cakmoki November 8, 2009 pukul 9:33 pm

    @ djo:
    Bukan protes, hanya membandingkan aja… ga papa kalo ada yg beda pendapat soal itu, lha wong beda pendapatan aja gak papa koq… :)

    Silahkan sejawat beruneg-uneg … sy merasa tidak perlu berkomentar.
    Saya hanya mengajak untuk tetap optimis dan tetap melayani pasien dengan sebaik-baiknya.
    Trims

  143. 143 tina Desember 7, 2009 pukul 4:32 am

    @djo: haha…i know what u’re talking about bro…
    aku bener2 gak ada masalah sama guru, n aku juga ikut seneng saat mrk dperhatikan dari kesejahteraan
    bahkan mnrutku ga berlebihan klo aku bilang mrk lagi ‘dianak emaskan’. he2 but again,i hav no problem with that,aku ikut seneng!

    cuma ya sumtimes juga suka bethe deeh,,weeeew….kok dokter nih jadi semacam ‘invisible’ gini yah. ok lah guru emang mencerdaskan bangsa,,,tapi dokter kan juga menyehatkan bangsa..ya gak??
    Dan maaf saja, tapi emang bener bahwa dokter jelaaas lah JUAAAAUUUUH lebih byk bkorban dbnding guru,,kyk yg udah dsebutin djo juga,,,mulai dari sekolah kedokteran yg amit2 mahalnyaaa,risiko tertular, under paid, over work, risiko disumpah serapah, dibunuh, risiko dituntut yg pliiiis deeeh gila2an dendanya (praktek seumur hidup gak bakalan lunas tuh..)….jelas2 dokter itu UNDERPAID BANGEET dgn segudang beban n risiko yg dihadapinya.sama sekali gak bisa dibandingin sama guru dong….. (yg maaf ya tapi dari dasar pendidikan aja jelas jauh banget lah sama S1 kedokteran(4thn) + Profesi(2thn),,,,)

    ya maaf saja,,bukan sama sekali meremehkan guru,,bukan!
    jadi jujur ini bukan untuk menyerang guru,,pliis deeeh tanpa mereka toh aku juga gak bakalan mampu jadi dokter!

    bukan bertujuan untuk meremehkan,,tapi aku kadang suka MIRIS BANGET KLO LIAT TEMAN SEJAWAT DOKTER YANG MATI2AN BEBAN KERJANYA DAN RISIKONYA (bertanggung jawab terhadap nyawa manusia dan di saat yg sama juga harus selalu bersikap baik buat menghindari yg namanya tuntutan yg nominalnya mmbunuh)tapi GAJINYA MALAH LEBIH KECIL DIBANDINGKAN GURU!!!!
    (belum pernah denger kan ada murid sekolah yang menuntut ratusan juta dari gurunya karena gurunya kurang jelas dalam memberikan informasi???)
    apaaan iniii???????
    ckckckck…….
    niat mulia di sia-sia……kasihan kasihan kasihaaaan……

    tapi again itulah nasiiib jadi dokter….
    gak bisalah protess…mau protes dikit aja langsung dihujat habis2an,,dibilang “dokter kok menolong orang ngitung2..”, “menolong kok pamrih..” dan banyak lah bull shit2 lainnnya *ups..sorry sedikit emosi ;p*
    emangnya dokter klo beli beras pake apa??klo nyekolahin anak pake apa???kalo beli bensin pake apa????
    bolehlah org2 menghujat begitu kalo semisal dokter bisa menukar beras dgn jasa medis,,semisal dokter bisa nyekolahin anaknya dgn ditukar voucher berobat gratis, klo dokter dapat jatah bulanan bensin utk transport dalam menolong pasien….
    boleh lah menghujat seandainya begitu!! tapi nyatanya NGGAK kaaan??? beban hidup seorang dokter dalam keseharian itu NGGAK ADA BEDANYA dgn org laiin!!entah bagaimana tapi kami itu sama sekali nggak punya HAK ISTIMEWA karena berusaha MENOLONG DAN MENYELAMATKAN HDP PASIEN!!!
    tapi malah jauuh lebih banyak dibebani segala sesuatu aturan dan ancaman yang menambah beban hidup kami,,,,
    kami lhoo!! kamii!! orang2 yg kalian sebut sebagai penolong!!!

    dan nothing! terkadang seperti nggak ada harganya!
    guru gak lulus SMA aja dgn sertifikasi dan beban kerja & risiko yang ‘nothing’lah klo dbandingin dgn dokter,,,,gajinya bisa jauh berkali2 lipat dibanding dokter!!
    Yet,,doctor always gets to be the bad guy! always gets to be ‘seen’ as the richest,,padahal kenyataannya…. T-T pathetic!!

    nggak etis,,
    begitu mereka selalu bilang jika ada dokter yang menanyakan/meminta haknya…

    memangnya menurut kalian etis ya,,jika seorang ‘penolong’ yg ditempatkan di daerah terpencil,tidak mengenal jam kerja,risiko tinggi tertular berbagai penyakit,risiko dituntut- dibayar hanya dengan Rp.1.500.000,- ????
    memangnya ‘penolong’ itu bukan manusia apa,??,yg jg harus mnafkahi anak istri, yg harus pnya tempat bernaung

    oh,,well….
    gimana lgi,,emang nasib jd dokter kbanyakan kyk gini,,
    ini aku curhat banyak gini,,liyat aja bentar lagi bakalan dihujani caci maki ttg bagaimana dokter jaman sekarang tuh tujuannya bukan nolong, tapi cari duit!!
    owalaaah owalaah…..
    Duuh Gusti…….*lebay mode on*

    ;p

  144. 144 cakmoki Desember 7, 2009 pukul 11:26 pm

    @ tina:
    Terimakasih telah berbagi dan menjelaskan panjang lebar tentang profesi dokter.
    Ga perlu khawatir dihujat… biasalah.
    Sebaliknya, gak perlu segan untuk menyampaikan hal-hal beginian agar para pemimpin kita mengerti bahwa ada perbedaan tanggung jawab yang patut mendapatkan penghargaan bagi dokter, terutama yang telah merelakan dirinya betugas di daerah-daerah, yakni gaji yang layak, bukan piagam penghargaan…hahaha.

  145. 145 Andrean Desember 9, 2009 pukul 9:31 am

    Ketika pertama kali kuliah di FK Unibraw, kita pernah diberi tahu oleh Pak Dekan, kalau jadi dokter itu ga akan bisa kaya, tapi hidupnya ga bakal kekurangan, di dunia maupun di akhirat (Amin!)

    Cuman masalahnya, setelah kuliah 6 tahun, dengan 2tahun co ass, dan mulai bekerja sebagai dr umum,dengan resiko segunung, kok rasanya miris sekali profesi dokter dihargai sangat rendah.

    Masalah penghargaan akan sangat berhubungan dengan kinerja dokter. Mana bisa bekerja dengan tenang dan memberikan assesment dan terapi yang tepat, kalau hati tidak tenang dan pikiran tidak fokus, sibuk memikirkan dapur rumah dan anak2. Kapan profesi kedokteran di Indonesia akan dihargai?

  146. 146 cakmoki Desember 9, 2009 pukul 5:29 pm

    @ Andrean:
    Karena itulah perlunya kita perjuangkan terus menerus agar pihak yang berkompeten dapat melihatnya dengan obyektif.
    Tapi kadang agak jengkel juga manakala pajak dokter dinaikkan kayak dokter di Inggris. Tempo hari Menkeu mengatakan di koran bahwa kita patut dikenakan pajak enghasilan yg tinggi… andai beliau di depan saya, tak jak gelut … hahahaha

  147. 147 andra Desember 21, 2009 pukul 3:54 pm

    hayoooo

    yg mau cari calon mantu…makanyaaa jangan kalap kesenangan kalo ngeliat anak pacaran sama mahasiswa FK.

    hahahhahahahaa

  148. 148 cakmoki Desember 22, 2009 pukul 2:54 am

    @ andra:
    hahaha… iya. Tapi kayaknya masih laris manis

  149. 149 ayahrafi Desember 28, 2009 pukul 12:32 am

    Assalam Cak,

    Wah, tulisan sampeyan ini udah hampir 3 tahun masih tetep laris manis cak (cuit cuit). Ini membuktikan bahwa keingintahuan publik (termasuk juga para TS) untuk melihat dapur para dokter indonesia cukup besar. Lha terus piye cak? kira-kira dari diskusi diatas pencerahannya apa cak? **plingak-plinguk** mode:ON
    Oia, met liburan akhir tahun ya cak..:p

    Cheers,

  150. 150 cakmoki Desember 28, 2009 pukul 2:19 am

    @ ayahrafi:
    Assalamu’alaikum…
    Sejalan dengan UU Otda dan Desentralisasi, termasuk desentralisasi kesehatan, tambahan pendapatan dokter PNS dapat ditanggulangi oleh masing-masing daerah. Besrannya bergantung pada kemampuan daerah. Berhasil tidaknya bergantung pada para TS di setiap daerah. Kalo gak diperjuangkan, gak bakalan turun dari langit. Caranya gampang, hanya perlu menemui kepala daerah (Pemprov/Pemkot/Pmekab). Gaji untuk semua PNS sama, tapi insentif atau jasa medis atau apapun namamnya (disesuaikan dengan istilah masing-2 kepala daerah) dapat diperjuangkan sesuai dengan standar kinerja. sedangkan untuk TS yg bekerja di RSUD, dapat menggunakan UU tentang BLU tahun 2005.
    Met liburan juga … :)

  151. 151 anonymous Maret 9, 2010 pukul 12:21 am

    kapan ya IDI bisa membuat aturan berapa minimal gaji dokter di instansi Swasta agar anggotanya (yang bayar iuran) ini tidak di’perkosa’ secara ketenaga kerjaan.

  152. 152 cakmoki Maret 9, 2010 pukul 1:31 pm

    @ anonymous:
    saya juga sering bertanya-tanya seperti itu. Bahkan menyampaikan secara terbuka di berbagai forum IDI, baik cabang, wilayah maupun pusat. Tapi benar, hingga kini IDI lebih suka narik iuran ketimbang ngopeni anggotanya. Lebih celaka lagi, IDI masih suka mempersulit anggotanya… contohnya tentang ijin praktek,dll.
    Moga dibaca oleh pengurus IDI di tingat manapun.
    Jaln keluar yg selam ini saya tahu dan sedikit ikut terlibat, yakni dengan membuat draft gaji minimal bagi dokter di setiap daaerah tingkat I (provinsi) dan tingkat II (kabupaten/kota). Cara ini cukup berhasil. Tapi semua itu tergantung kita. Kalo kita diam, maka kita akan tetap jadi hamba sahaya bertitel dokter… hahaha
    Makasih uneg-unegnya … ntar akan sy sampaikan jika ada kesempatan bertemu pengurus PB IDI.

  153. 153 neng Maret 19, 2010 pukul 4:52 pm

    Saat sy lg dilema dg ketimpangan penghasilan, sy temukan blog ini…setidak-tidaknya jg melemaskan kembali syaraf pesimisti. Well…kt memang dokter just for sosial, klo kt mo kaya mestinya seperti yg lain kt bergelut dlm bisnis, tokh tak ada larangan u dokter berbisnis kan? Jd jauhkan fikiran tugas dokter u get a lot of money. Tugas kita ya kaya pak ustadz aja tdk brharap banyak pd imbalan, tp pahala dan kebajikan.
    Yah bukannya tidak menghargai…tp apa daya pemerintah kt memang blum open dg hal beginian, so biar kita gk trpuruk kesal,kecele dll, mending kita olah energi itu dg bisnis yah siapa tau kt beruntung…jd pengusaha sukses.Amin

  154. 154 cakmoki Maret 19, 2010 pukul 5:37 pm

    @ neng:
    Moga terkabul cita-citanya…. :)
    Amiiin

  155. 155 mbokratu April 9, 2010 pukul 10:08 pm

    Aku tak melu urun rembuk yo cak? Aku sampe terbengong-bengong lho mbaca semua komentar diatas. Tadinya aku iseng aja, tapi ternyata kok menarik untuk dibaca. Semua komentar diatas udah tak boco sampe sbisss.
    Aku sampe mlongo cak…tak kiro semua dokter itu kaya-kaya lho..Ora nyangka kalau demikian menyedihkan hik..hik *mataku ndrewes cak saking sedihe*.

    Gini cak tak critani. Di tempatku ada dokter umum.Sekali berobat itu ongkos konsultasinya Rp 50.000. Lha kalau sehari ada 10 pasien udah berapa coba penghasilane? Itu gak termasuk obat lho! Karena obat itu pasien beli sendiri di apotik. Kadang-kadang aku ngobatne anakku, ongkos dokternya RP 50.000, nebus obatnya cuma RP 40.000. Opo ra sugih cak? Dokter itu pensiunan lo!Rumahnya guede buanget, mobile yo apik buanget.Padahal cak, dokter sombongnya minta ampun!!! Kalau berobat ke dokter itu, dia gak pernah ngguyu, trus kalau ditanya jawabnya sepotong-sepotong. Rasane pengen tak tinju tuh dokter, kalau gak inget anakku pengen sembuh. Sialnya, anakku cocok sama dokter itu. Biasanya kalau tak obati sendiri gak sembuh, trus ku bawa ke dokter itu langsung tokcerr.

    Aku kaget juga kalau ternyata para dokter malah pada iri sama guru. Masalahnya aku ini guru, suamiku juga guru. Dan aku pingin anakku nanti jadi dokter. Karena aku ini kan keluarga guru, jadi kalau anakku jadi dokter enak dong bisa ngobati keluarga. Tapi anakku gak mau, cak. Katanya takut lihat darah. Maklum, anakku masih kelas 3 SMP, masih belum seberapa mudeng sama cita-cita.

    Oh ya, aku mau buka-bukaan masalah gajiku supaya valid perdebatan kalian masalah gaji antara guru dan dokter. Aku jadi PNS tahun 1997 dengan pangkat III/a gaji pokok pertama (cpns) Rp 120.160,- ditambah tunjangan fungsional Rp 45.000. Sekarang, dengan masa kerja 13 tahun, gaji pokok Rp 2.260.400, setelah ditambah tunjangan fungsional dll total diterima Rp 2.455.700′- di tambah tunjangan sertifikasi bersih (setelah dipotong pajak) Rp 1.875.000. Tapi jangan tanya, dengan adanya tambahan sertifikasi, bukan berarti kita kipas-kipas sendiri. Ada saja acara iuran yang beralaskan untuk ngantar berkas lah, berkas gak bisa jalan sendiri lah, dsbnya..dsbnya…. Belum lagi, dengan gaji segitu ada yang sudah numpuk bon di bank-bank yang sekarang ini menawarkan kemudahan yang amat sangat sekali (mudah-mudahan saya nggak termasuk he he he).

    Alhasil saudara-saudara, seberapa besar pun yang kita peroleh, kalau kita tidak bersyukur, dan menahan diri, akan selalu kurang.Itulah mengapa kita disarankan sering menoleh ke kiri dan ke kanan, memandang ke bawah supaya kita tahu banyak sekali orang yang lebih susah dari kita. Sehingga, manakala kita punya rejeki sedikit, kita tidak pernah berputus asa dan ikhlas menerimanya. tetapi, disaat kita berlebih, kita ingat bahwa diantara rejeki yang kita terima itu ada hak orang lain, yang harus kita salurkan dengan zakat dan sodaqoh. Welehhh malah ceramah.

    Jadi kesimpulannya, Mari kita berdo’a supaya seberapa pun rejeki yang kita terima akan membawa berkah bagi kita dan keluarga.

    Untuk cakmoki, aku sangat salut sama sampeyan cak. Disaat dokter-dokter banyak yang sangat pelit informasi, sampeyan malah obral informasi, malah ada konsultasi gratis lagi. Aku selalu berdo’a cak, dari hatiku yang sangat tulus, mudah-mudahan sampeyan dan kawan-kawan akan diberi rejeki yang melimpah, selalu sehat, dan tetap istiqomah. Semoga Allah selalu melapangkan segala urusan. amiiin.

  156. 156 cakmoki April 10, 2010 pukul 2:26 am

    @ mbokratu:
    Maturmnuwun… taushiyah dan do’anya, semoga demikian juga sebaliknya… Saya juga dari keluarga guru…dan masih saya sempatkan waktu untuk jadi guru… :D
    Adapun tentang syukur, tentu saya sependapat dengan penjenengan… namun di sisi lain kita tidak dibenarkan berdiam diri tanpa perjuangan kan ? Kalau penjenengan baca tulisan akhir artikel ini pada bab “PESAN”, saya yakin akan memahami maksud tulisan ini.
    Sedangkan jika ada dokter yg membandingkan dengan gaji guru, itu buken berari “para dokter” dan bukan berarti iri, namun untuk membuat melek para petinggi negeri ini…hehehe

    Sekali lagi, maturnuwun, … teriring do’a, semoga penjenengan sekeluarga senantisa mendapatkan limpahan rahmat dari Allah SWT. Amiiin

  157. 157 andre April 20, 2010 pukul 11:27 am

    boleh juga di bilang iri,tp bukan berarti sirik thdp guru,PGRI, kl saya pribadi mengartikanya saya salut dg PGRI,kita iri dalam rangka untuk mencontoh apa yg baik dari Para guru,PGRI,dalam hal memperjuangkan nasib anggotanya,krn memang itulah salah satu hal utama mengapa manusia membentuk pekumpulan,untuk meningkatkatkan harkat dan martabat anggotanya,
    saya justru merasa aneh kl IDI tidak iri dg PGRI,yg sudah jelas sbg organisasi lebih solid,lbh modern,dan cerdas di banding IDI,bahkan rasa2nya di mata pemerintah kita IDI di pandang jauh sekali di bawah serikat buruh….jgn2 ada yg salah dalam cara kita berorganisasi?jgn2 segelintir petinggi2 dokter,senior dokter kita di suap sehingga IDI jd melempem?mengapa selalu nurut aj sama menkes?atau prasngka2 yg lain?atau jgn2 dst………..

  158. 158 cakmoki April 20, 2010 pukul 3:54 pm

    @ andre:
    Bilang temen-2 … termasuk saya, hehehe…. sebagian petinggi IDI masih suka berkutat dengan berbagai macam aturan yg justru mempersulit TS sendiri..contohnya STR. Aneh, mau praktek aja harus ngisi form ersis seperti kenaikan pangkat PNS setiap hari… repot amat. Padahal masyarakat memerlukan kehadiran dokter agar dapat melayani mereka.
    Katanya, sebagian pengurus IDI hanya rajin narik iuran ketimbang memperjuangkan anggotanya… hahaha…
    Ayo berjuang
    maksih

  159. 159 Wong Meduro April 28, 2010 pukul 2:34 pm

    Setuju pendapat Cak Moki tentang STR……Lha wong mau nolong orang sakit aja kok repot alias dipersulit ( ngutip pendapat Alm Gusdur )… suruh ngisi Borang tiap hari…BTW..minta tolong dikirim format anka kredit jabatan fungsional dokter maklum disini sulit ( lwt nanang_suyanto@yahoo.co.id )…..Suwun

  160. 160 cakmoki April 28, 2010 pukul 3:06 pm

    @ Wong Meduro:
    Format anka kredit jabatan fungsional dokter ada di setiap Dinkes, tinggal minta :D … kalo Dinkes-nya bilang gak ada, berarti gak bondo…hehehe.
    Ok, ntar tak carikan di file saya
    Suwun

  161. 161 desy Mei 1, 2010 pukul 5:48 pm

    salam kenal pak cakmoki
    saya baru membaca artikel bapak, dan saya cukup tertegun dengan segala pemikiran dan pendapat yang dipaparkan dari teman-teman yg lain.
    saya sekarang berstatus CPNS Depkes UPT di Batam. pertama membaca SK CPNS, saya lihat angka yang tertera gol IIB gaji 1.6…juta, ehmm..klo 80% nya berarti 1,3..juta. UMR di batam 1,1 jt, artinya gaji saya beda 200 rb dengan para buruh pabrik yang hanyak tamatan SMP dan SMA. alamaaak… bukan tidak bersyukur tp miris, apalagi saya staf dikantor, tidak ada tunjangan jabatan fungsional dari rumah sakit. di batam semua mahaaallll…

  162. 162 cakmoki Mei 2, 2010 pukul 10:26 pm

    @ desy:
    Salam kenal mbak :)
    Tidak perlu takut dianggap tidak bersyukur untuk menceritakan apa adanya, agar masalah tersebut menjadi perhatian Pemerintah Daerah setempat.
    Hak, kebutuhan, tuntutan tugas adalah hal yang berbeda dengan rasa syukur.
    Sepengetahuan saya, setiap daerah menyediakan insentif atau tunjangan fungsional yang besarnya berbeda-beda. Tunjangan fungsional berlaku untuk semua, bukan hanya yang punya jabatan.
    Tapi, itu semua sangat bergantung kepada Dinkes setempat untuk memperjuangkan anak buahnya.
    Terlebih di daerah-2 yang biaya hidupnya mahal …. tapi, kalo Dinkes nya melempem, berattt deh :)
    makasih telah berbagi…
    Moga suses selalu

  163. 163 emir Juni 12, 2010 pukul 8:37 pm

    Lagi sedih merenungi nasib sbg dokter, ktemu blog yg sedikit mengurangi kesedihanku..,ternyata banyak yg senasib..

    Yg membuat tambah miris saat ini kita para dokter di bebani untuk selalu mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah semisal seminar/simp sebagai persyaratan registrasi ulang, yg biayax tdk sedkit..
    Untuk dokter yang berugas di kota-kota besar mungkin lebih sedikit terbebani dgn aturan tst, tapi gimana dengan nasib dokter2 yg mengabdi di daerah.., blum lagi biaya pendaftaran, transportasi dll, mengharapkan subsidi dari pemerintah daerah seringkali percuma..,mungkin ini yg mengjadi alasan uk sbgn dokter melakukan KJS dgn pihak farmasi, ya mau gmn lg krn dokter jg butuh mempertahankan mata pencaharian mereka, trus sapa yg musti di salahkan…

    Sayangnya yg menjadi pejabat IDI di provinsi yg saya tempati itu kebanyakan dokter yg tidak pernah merasakan tugas di daerah…,karena kebetulan ORTU/MERTUA mereka adalah orang yg berpengaruh di jamannya sehingga mereka dengan mudah mendapatkan posisi yg baik di kota, yg jadi masalah apakah mereka bisa memperjuangkan nasib anggotax yg bertugas di daerah.., belum lagi organisasi profesi spesialis yg rata2 Sp*K yg pejabatnya rata2 jg berdiam di kota besar seperti jakarta dengan tarif konsultasi setiap mereka praktek berkali lipat dari sy tgas di daerah, membebani iuran yg menurut mereka kecil tp sgt membebani rekan profesinya yg tgs di daerah..

    Sebagai gambaran pengalaman sy sendiri skrg, sy sangat sulit memberikan tarif konsultasi yg standar dok spesialis bagi masyarakat kabupaten tempat sy bertugas, karena masyarakat di sini rata2 masih awam & baru bersentuhan dgn pelayanan dok spesialis di bidang yg sy tekuni ini, apa lg sy termasuk dokter yg tdk melakukan dispensing obat ke pasien seperti rata2 dokter praktek di sini, cm memberikan resep uk ditebus di apotik, alhasil banyak jg pasien yg membayar dgn ucapan trimakasih sj dan sy pun tidak kuasa menagihnya lagi…

    Ikhlaskah sy…??, masih berusaha untuk itu…

    Dengan Insentif, jasa medik yg tidak terbayarkan oleh PEMDA sampe berbulan2, dengan alasan sdh terangakat sbagai CPNS (sebelumnya PTT spesialis), rasanya sulit untuk ikhlas …

    O ya Sekalian mau menanyakan di forum ini, apakah seorang CPNS/PNS daerah yg mengundurkan diri di daerah pengangkatannya, apakah nanti bisa lagi mendaftar di daerah lain ??, mohon bantuan yg punya pengalaman..

  164. 164 cakmoki Juni 13, 2010 pukul 4:45 am

    @ emir:
    weehhh, koq ngenes gitu … mestinya Depkes dan Pemda serta IDI memperhatikan hal-hal semacam ini.

    Sejujurnya, saya sangat tidak setuju dengan tetek-bengek STR dan SKP bagi dokter untuk praktek. Aneh bin ajaib, lha untuk praktek pake SKP kayak kenaikan pangkat.
    Demikian pula tentang biaya untuk mencari SKP (bahasa kerennya: up date pengetahuan, benertah?)nan makin mahal dan ada kesan dibisniskan. Saya sependapat. Pada akhirnya akan balapan mencari Sertifikat. Boleh jadi kelak dokter-2 memilki setunpuk sertifgikat tapi ngobati pasien gak sembuh-sembuh…hahaha… dah banyak buktinya.

    Mungkin kita perlu mempertimbangkan untuk mengajukan judicial review, agar ijin parktek untuk dokter tidak mbuletisasi. Gimana ? Gak perlu banyak-banyak, cukup belasan dokter di daerah-2 yang ntgajukan udah cukup.

    Maaf, saya tidak tahu persis aturan sekarang untuk CPNS/PNS daerah yg mengundurkan diri kemudian mendaftar ke daerah lain.

  165. 165 Yusuf Ardian Juli 26, 2010 pukul 12:17 pm

    Salam kenal saya dokter umum cpns didaerah luwu timur sulsel, gaji pokok 1,7 juta, tunjangan pemda 1,7 juta perbulan, adalagi uang-uang jasa medis tapi banyak dipotong kepala puskesmas, pendapatan dari praktek sore per bulan diatas 15 juta, jadi menurut saya harus cari tempat praktek yang bagus untuk seorang dokter, karena tidak bisa dipungkiri pendapatan dokter terbesar adalah dari praktek

  166. 166 cakmoki Juli 26, 2010 pukul 4:47 pm

    @ Yusuf Ardian:
    Salam kenal….
    Alhamdulillah, saya ikut senang mengetahui pendapatan praktek sudah melebihi 15 juta per bulan, sementara banyak TS yang udah praktek lebih dari 20 tahun tidak seberuntung itu… alhamdulillah…

    Menurut saya, dokter dicari pasien bukan karena tempatnya tapi karena pelayanannya, keramahannya, dan yang pasti banyak sembuhnya ketimbang tdak sembuhnya. Dan itu terbukti dari survey terhadap dokter-dokter laris dengan kunjungan lebih 30-40 pasien per hari… mereka tidak selalu di tengah kota..bahkan sebagian besar bukan di tempat keramaian.

    Di satu sisi, saya sangat prihatin dan mengutuk keras para dokter yang kebetulan jadi Pimpus atau Direktur RSUD yang suka motong jasa medis para sejawatnya… tolong sampaikan ini kepada pimpus.

    Makasih telah berbagi :)

  167. 167 Yusuf Ardian Juli 27, 2010 pukul 11:03 am

    Betul sekali itu cak moki dan kalau di daerah saya faktor tambahan yang bikin praktek rame dikunjungi pasien adalah mau dipanggil ke rumah kalau pasien membutuhkan ( home visite ), di daerah tempat saya bertugas, ada dokter yang cukup melegenda namanya dr nasrum mahmud, dia bertugas sekitar 5 tahun di daerah ini, sekitar setahun yang lalu ketika saya baru bertugas disini dia pergi sekolah ambil penyakit dalam, dia sangat melegenda, namanya harum dimana-mana dan kebanjiran pasien karena walaupun tengah malam mau dibangunkan dan dijemput untuk mengunjungi pasien walaupun jauh jaraknya…

  168. 168 Yusuf Ardian Juli 27, 2010 pukul 11:24 am

    @ Emir :
    Setahu saya kalau mengundurkan diri dari cpns atau pns kayaknya ndak bisa daftar pns lagi, karena biasanya kalau mau daftar pns lagi, ada syarat tidak pernah mengundurkan diri atau dipecat dari pns.Tapi kalau pindah daerah tugas asal bisa diurus, ada daerah baru yang mau menerima dan daerah lama mau melepas maka itu bisa dilakukan, mugkin ini alternatif yang bisa diambil.Itu setahu saya sih Wallahu A’lam. Kalau menurut saya pribadi sih kalau sudah spesialis ndak harus jadi pns, malah beberapa dokter spesialis yang saya kenal keluar dari pns karena dia anggap terlalu ribet,cari yang lebih menguntungkan atau biasanya ada ketidakcocokan dengan pejabat daerah tersebut yang terkesan mempersulit, tapi lain halnya dengan yang masih ada ikatan dinas, seperti ppds bk misalnya..

  169. 169 cakmoki Juli 28, 2010 pukul 12:59 am

    @ Yusuf Ardian:
    Di sini juga …. home visit sangat dihargai oleh masyarakat.. mungkin dimana-mana sama … pada umumnya dokter yang bersedia di panggil ke rumah pasien, akan disenangi oleh masyarakat walaupun si dokter tidak mengarapkan itu.. :)

  170. 170 dr.CE Agustus 3, 2010 pukul 11:55 pm

    Wahh baru baca juga ni blog..sesuai judulnya..mau ngasih gambaran gaji saya..
    1. Pada tahun 2009-2010 saya PTT terpencil di daerah sumsel..gaji pokok 1.530.000,daerah ptt terpencil,belum ada listrik ama sinyal,tingkat pembunuhan dan kriminalitas tinggi..tp warga sekitar sangat peduli..alhamdullilah..saya buka praktek d rumah dinas..alhamdulillah ada pasien..tiap bulan bisa dpt bersih 2 jtan..
    2.Sekarang saya kerja di Jogya sebagai dr swasta..gaji nya palingan menthok 2 jutaan perbulan..hahaha..kadang mikir aja..sekolah lama..gaji memperihatinkan..orang tua berharap banyak..yaahh..cuma bisa ngelus dada aja…moga ada harapan baru buat dokter2 di indonesia..

  171. 171 cakmoki Agustus 4, 2010 pukul 12:19 am

    @ dr.CE:
    Alhamdulillah … makin banyak sejawat yang bersedia berbagi cerita … :D …. saya ikut bangga kepada para sejawat atas semangatnya untuk mengamalkan ilmu melalui praktek sekaligus upaya menambah penghasilan tambahan yang halal.
    Makasih telah berbagi … selamat praktek.

  172. 172 _dhed2 Agustus 11, 2010 pukul 1:21 pm

    ciaelah,…
    aziknya bsah masala gaji ea,…smua tu tergntung cra m’syukurinya X????
    humz,…

    klo gaji BUMN (pabrik setrum) brapa yaupz,…????
    da yang tao g???
    tolong infonya,.
    thx

  173. 173 cakmoki Agustus 11, 2010 pukul 2:15 pm

    @ _dhed2:
    bener, tergantung cara mensyukurinya :) .. namun bicara gaji bukan dosa.
    seandainya sampeyan digaji 1,5 sebulan tanpa tambahan apapun… kira-kira bagaimana mensyukurinya ? … saya gak yakin sampeyan gak mengeluh, kecuali sampeyan masih bujangan atau masih ikut orang tua….pisss :D
    Gaji BUMN (pabrik strum) gak tahu, soale gak ada yg mau cerita.
    Thx

  174. 174 Jabon Agustus 17, 2010 pukul 12:05 pm

    sebenarnya saya sangat ingin menjadi dokter

  175. 175 cakmoki Agustus 17, 2010 pukul 1:32 pm

    @ Jabon:
    gak papa…asalkan niatnya untuk membantu orang lain dalam masalah kesehatan… kalo untuk cari duit, ntar akan nyesel :D … kalo dokter jadi PNS, gajinya sama dengan gaji PNS sekelas sarjana yang lain dengan masa kerja yg sama.. Tambahan penghasilan dapat diperoleh dari praktek …. atau jaga di RS di luar jam dinas… kayak kerja rodi… kalah ama anak-2 yg kerja di Bank .. :D

  176. 176 jihannuraliya Agustus 18, 2010 pukul 1:14 pm

    makasih cakmoki, kebetulan saya adalah internis yang lagi bingung. sempat mundur dari CPNS, krn dihargai hanya Rp 4500,-/pasien. Padahal RS itu ada di Ibukota propinsi. Lalu pindah RS swasta yang 60.000,-/pasien, tapi pasiennya cuma <5/hari bahkan kadang ngga ada pasien. (per bulan dapat sekitar 14 jt) Sekarang mau daftar lagi PNS di RSUD terpencil, sudah tanya-tanya ternyata ngga ada fasilitas apa pun. Padahal se-RSUD cuma saya internisnya. Saya Cuma disuruh merintis praktek pribadi. Wah, apa ngga cepat stroke saya? udah kecapean di RSUD, lalu praktek sampai malem. Setelah membaca saran dan taushiah teman-teman, saya siapkan diri deh nerimo apapun yg saya dapat di RSUD tsb. Ada saran??

  177. 177 cakmoki Agustus 18, 2010 pukul 11:02 pm

    @ jihannuraliya:
    wehhhh… ngenes :)
    Saya punya teman, seorang direktur RSUD. Beliau mengusulkan ke Walikota, insentif 7-15 juta perbulan sebagai tambahan gaji bagi spesialis…belum termasuk visite. Usulan tersebut disetujui tanpa babibu…
    Kebetulan saya pernah dimintai tolong oleh Walikota untuk menyusun Draft Perda Pola Tarif… visite untuk spesialis 40-60 ribu/pasien (mulai klas 3 sampai kelas 1), dan itu disetujui.
    Masalahnya, tidak semua direktur RSU memperhatikan para dokter di tempatnya bekerja.. malah adakalanya (mungkin kebanyakan) motongi pendapatan atau hak dokter untuk alasan yang tidak jelas.

    Kalau praktek pribadi, jelas kita emang merintisnya…gak perlu disuruh-suruh… yang nyuruh lucu juga ya … hahaha.
    Ikhlas adalah bawaan setiap orang dalam menunaikan tugasnya, termasuk dokter, tapi pendapatan yang layak atas kinerja kita adalah tanggung jawab pemerintah daerah … bukankah begitu ?
    Kalo perlu pendapat saya dan tulisan di atas dikasihkan direktur tempat penjenengan bekerja dan kepala daerah agar dijadikan bahan pertimbangan.

    Di sisi lain, saya percaya penjenengan bakalan jadi raja kecil di daerah terpencil tersebut … paling hanya perlu waktu 6 bulan – 1 tahun untuk sosialisasi … Selamat menunaikan tugas, teriring do’a semoga sukses selalu ….

    Makasih

  178. 178 amar Agustus 20, 2010 pukul 11:05 pm

    Sistem penggajian di Indonesia memang amburadul, gaji jenderal polisi (susno duaji) sekitar 12,5 juta. Gaji pegawai pajak (gayus IIIa) 12,5 juta.Opo tumon…? Masak gaji Pesiden lebih rendah dari Gubernur BI. Kalo seperti ini kita masih berharap tidak ada korupsi?…Seharusnya gaji berbanding lurus dengan tugas dan tanggungjawab.

  179. 179 cakmoki Agustus 21, 2010 pukul 12:48 am

    @ amar:
    Setuju !!! Seharusnya gaji berbanding lurus dengan tugas dan tanggungjawab … itulah Indonesia … hahaha :D

  180. 180 jabon Agustus 24, 2010 pukul 11:52 am

    harusnya ada perbaikan perundang-undangan tuh ya… baik soal gaji atau yang lainnya.

  181. 181 cakmoki Agustus 24, 2010 pukul 9:11 pm

    @ jabon:
    mestinya begitu…atau setidaknya ada peraturan khusus sebagai Lembaran Tambahan pada undang-2 penggajian yang sudah ada.

  182. 182 dr.indoausie Agustus 31, 2010 pukul 11:31 am

    jujur aj, aq rasa memang banyak dokter lulusan swasta yang kemampuannya bikin aku pusing sendiri. “koq bisa ni orang udah lama jadi dokter, lebih bego dari kami yang koas?”
    dia ngasih pasien obat tanpa tau alasan knp pasien dikasih obat ntu, just ikutan kebiasaan senior2ny aja….
    trus, barusan ini ada kenalan q yang berhasil diterima di univ swasta di pulau jawa. sebelumny dia udah tes kemana2, ga diterima. terakhir dia tes di univ swasta ini, nilainya jauh banget dibawah standar. tapi akhirnya ortunya mohon2, n pihak univ nawarin dia bayar sejumlah ratus jut uang. dia akhirnya diterima…
    sekarang aq tau alasanya bisa ketemu dokter yang amit2 jabang bayi di atas…

  183. 183 cakmoki Agustus 31, 2010 pukul 5:00 pm

    @ dr.indoausie: :) … repotnya lagi, kelak yang rajin ngejar SKP yang bisa praktek dan punya nilai SKP tinggi, bukan yang benar-benar punya kemampuan medis mumpuni. Padahal yg SKP nya berjibun belum tentu prakteknya didatengi pasien… tapi judulnya untuk kompetensi praktek … aneh. Kondisi ini juga memperparah “dokter ngasih obat gak tahu alasannya”.

  184. 184 Wilma September 1, 2010 pukul 12:18 pm

    berarti kalo masuk ruangan dokter, pertanyaan pertama pasiennya ” Dokter alumnus mana? PTN atau PTS?” Kalo jawabnya PTN.. lanjutt, kalo PTS..maaf ya dok, nggak jadi berobat .. :)

    Gak segitunya kali ya cak… :)

  185. 185 cakmoki September 2, 2010 pukul 12:35 am

    @ Wilma:
    iya, nggak segitunya… makanya tanggapan saya lebih kepada peningkatan kompetensi alias kempampuan medis yang harus selalu diasah :D

  186. 186 prihatin dokter dihujat September 13, 2010 pukul 3:03 pm

    sampai skrg pun sy kira masih lebih banyak yg kekurangan dr yg materialistis
    (kecuali kalo di kasi kekkayaan ortunya ya …)
    liat tuh prof padmo sp.BS.sederhana orangnya

  187. 187 cakmoki September 13, 2010 pukul 4:12 pm

    @ prihatin dokter dihujat:
    insan medis menyadari bahwa profesi dokter selain dibutuhkan juga rawan hujatan, dengan berbagai alasan… gak masalah sih, yang penting kita selalu berupaya memberikan segala kemampuan terbaik untuk masyarakat.
    Tentang finansial, setiap profesi selalu ada kelompok yg suka kemewahan dan ada kelompok yang suka low profile bahkan berpenampilan sederhana.
    Lha kalo masalah reward, wajib kita perjuangkan … gagal gak apa, yang penting berjuang ketimbang hanya berkeluh kesah… hehehe
    Makasih

  188. 188 pasien dokter2 Januari 14, 2011 pukul 1:19 am

    oh ternyata gitu.gaji dokter kecil.gak tau sih.mungkin emang rejekinya segitu (hehe..pisss) dan kalian berhak kok protes.tp kalian pasti msk surga.kan ilmu kalian bermanfaat bg org lain.sdkt saran aja.ada temanku yg dokter (bkn pns) dia cm praktek pagi n sore aja.selebihnya dia pake usaha dirmh sambil ngopeni anak2nya.buka toko,londry.warnet,kost2an,ngingu ikan.ada jg yg jd petani(yg py sawah).jd kupikir kalo jd dokter adalah urusan akhirat utk urusan dunia bs dicari dr bisnis sendiri dirmh..salut buat kalian smoga jd dokter yg amanah sekaligus bisa kaya hati dan uang

  189. 189 cakmoki Januari 14, 2011 pukul 2:19 pm

    @ pasien dokter2: :) amiiin

  190. 190 sidabutar Januari 22, 2011 pukul 1:31 pm

    mudah2an bisa disamakan juga renumerasi nya kaya TNI/ POLRI
    di negeri ini yang bermasalah baru dinaikin gaji nya
    makanya kalo mau naik gaji bikin masalah dulu,

  191. 191 cakmoki Januari 23, 2011 pukul 2:00 am

    @ sidabutar:
    ya, semoga begitu :D

  192. 192 TS yg baik Februari 2, 2011 pukul 9:23 pm

    Lg nunggu sk cpnsd, sblm test udah tau jg kalo jd dokter pns dsini, bakalan hidup susah.. Tapi niat sy buat jadiin batu loncatan dapatin tubel buat PPDS, soalnya biaya sekolah skrg mahal,. Apa jalan sy masih lurus? :(

  193. 193 cakmoki Februari 3, 2011 pukul 10:44 pm

    @ TS yang baik:
    Lurus dong… :)
    Moga sukses selalu … jangan lupa praktek yaaaa :D

  194. 194 ria Februari 4, 2011 pukul 7:26 am

    hum.. paling seneng lihat bagian:

    P E S A N
    Apabila ada diantara anak atau kerabat pembaca “ngotot” ingin jadi dokter, mohon ditanya ulang apa motivasinya. Jika ingin kaya, segera saja dilarang agar dunia kedokteran tidak bertambah keruh ketambahan calon dokter sekaligus calon pemeras.

    sebagai anak yang terlahir dari keluarga dokter..
    saya juga (dulunya) mangkel setengah mati waktu pak’e maksa2 aku tuk jadi dokter.. sampe mbela2in ngusir waktu aku nekat milih jurusanku sendiri..
    pikirku waktu itu..
    ‘apa sih pentingnya jadi dokter? kalo sekedar kaya aja kan gak usah jadi dokter juga gpp?emang profesi pilihanku gak bisa kaya? orang kok pikirannya duit aja..’

    namun sekarang aku bisa mengerti,
    seorang ayah pasti tak ingin anaknya kelak ‘menderita’ dengan hidup di bawah taraf kehidupan yang dulu diberikannya..
    sepanjang hayat hidup pakku..
    yang dimengerti hanyalah profesi dokter.

    walaupun untuk mencapai itu semua tidaklah mudah..
    ayah saya juga menempuh PTT di desa terpencil.. dengan kondisi rumah yang sama diceritakan oleh cak moki hingga akhirnya memutuskan ‘pulang’ ke kota tempat dia menempuh pendidikan kedokterannya dengan alasan kuliah lagi..pada waktu kelahiran anak ke2nya dia bahkan terpaksa menjebol bendungan tengah malam agar bisa mendapatkan air.. (besoknya ya diamukin sama pejabat setempat :D)
    dengan mengorbankan idealisme dan kemampuannya, dia mengambil jurusan yang nggak beken sama sekali (setara forensik lah ;P) hanya agar bisa secepatnya kembali ke kota besar dan memberikan pendidikan yang layak untuk anak pertamanya yang step saat balita dan mengalami kerusakan pada otak hingga lambat belajar..
    sampai di kota besar.. sebagai PPDS dengan gaji minimal (yang hanya cukup untuk bayar cicilan rumah) dengan anak lebih dari 2.. dia juga harus menghadapi kenyataan bahwa dia takkan mampu membayar sekolah untuk anak kebutuhan khusus..
    akhirnya ditempuhlah jalan untuk praktek umum di perumahan yang penghuninya hanya 2 glintir (ujung kota soalnya.. perumahan termurah saat itu).. sekaligus praktek di sudut kota terpencil lainnya dengan vespa bututnya yang bensinnya selalu di garis merah dan bikin jebol sepatu kalo pas nye tarter.. di sela kesibukannya.. dilatihlah sendiri anak pertamanya agar bisa mengikuti pelajaran di sekolah dasar negeri biasa yang terdekat dari rumah..
    setiap uang pertama yang diterimanya pada praktek yang dijalaninya.. dibelikannya susu sachetan (gak sanggup kalo beli kalengan) untuk anak2nya..
    bagi dia, anak no1.. susu untuk perkembangan otak yang terpenting, gak peduli apa kemasannya pokoknya yang diketahui isinya yang terbaik kalau dibandingkan susu2 yang lain.. uang untuk makan dia dan istrinya adalah nomor sekian.. karena tokh senyatanya beras jatah juga dia kirimkan sepenuhnya ke desa asal istrinya (yang dianggapnya kondisinya lebih mengenaskan dari dirinya)
    kondisi lambat belajar pada anak pertamanya ditunjang dengan perasaan tidak mampu untuk memberikan pendidikan yang layak (sekolah kebutuhan khusus yang negeri sekalipun muahaaalll) memicunya untuk lebih keras berusaha..

    hingga kini setelah 32 tahun.. dia dinyatakan sebagai seorang ‘sukses’ yang baginya dikarenakan profesi kedokterannya..
    1. tanpa ‘sentuhan’ sekolah khusus.. sang anak yang lambat belajar telah menyelesaikan S.Kom nya (khusus yang ini, keluarga ‘menyerah’ sejak awal untuk ‘menjadikan’ dia dokter dan tak pernah berpikir akan menjadi seorang sarjana, bahkan..) pada salah satu univ swasta bergengsi di kota kami dan bekerja pada instansi pemerintahan (baginya, sudah lebih dari cukup.. yang terpenting jangan sampai anak ini menjadi ‘beban’ bagi orang lain)
    2. menyekolahkan aku dan kakak-kakakku yang lain pada universitas bergengsi juga (sesuai penjurusannya dimana yang terbaik apa, karena aku.. non kedokteran dan menolak sekolah di PTN di kota kami yang bagiku standart pendidikannya lebih rendah dari PTS pilihanku :P)
    3. dapat memberikan taraf kehidupan yang meski tak semewah teman-temanku di kampus, namun sudah di atas rata-rata..
    istri dan anaknya-anaknya tinggal milih.. tiap malam mau tidur di kamar yang mana dengan ac dan tv terpasang pada tiap kamar, mau naik kendaraan entah roda 2 ataupun roda 4 pun sudah siap sedia semua di rumah.. tanpa perlu royokan.. termasuk juga rumah bagi setiap anaknya bila kelak memutuskan untuk menikah..
    4. bisa menyekolahkan hampir separuh desa di desa asal istrinya hingga ke jenjang SMK dan ada beberapa yang memang berprestasi hingga ke jenjang universitas.

    itupun tanpa mengorbankan nilai-nilai yang dia miliki..
    percaya atau tidak, pada tahun 2011 ini.. ayah saya yang seorang spesialis (kalo kata temen2nya bukannya gak mampu, dia ogah kuliah tinggi2.. yang penting cukup anaknya bisa sekolah tinggi setinggi yang diinginkan sang anak)dan hidup di kota besar.. HANYA menerima bayaran 25rb untuk setiap pasien yang ditanganinya (bisa malah gratis kalo emang diliat pasiennya gak mampu) dan itupun terpotong obat yang juga selalu turut diterimakannya kepada pasien (karena dia memilih dispensing untuk semakin meringankan beban pasien.. sejak awal sudah menghitung ‘cost based activity’.. baginya percuma dia narik murah ke pasien kalo pasiennya harus keluar dana lagi untuk ke apotik, meski apotik itu dekat sekalipun.. karena pasiennya rata2 naek angkot kalo gak becak yang tarifnya cuma sekali jalan.. ke apotik berarti ada dana tambahan).
    sejak dulu hingga sekarang, dia hanya praktek umum yang model begitu itu.. yang tarifnya gak naek sejak krismon 1997 kemaren.. itupun naeknya dengan diomeli istrinya dan anak2nya dengan alasan dia tidak menghargai profesinya..

    baginya, dia bisa mencapai semua itu (tingkat penghidupan dan pendidikan yang layak bagi keluarganya serta amalan untuk bekal akhirat) ya karena profesi dokternya..
    oleh karena itu dia berharap anaknya dapat mencapai semua itu dengan jalan yang diketahuinya.. yaitu jalan menjadi dokter.. terlebih setelah sekarang dia berhasil mendirikan BKIA (dengan pengampu sebuah yayasan berbasis agama, soalnya dia bukan Sp.Obg).. dia berharap akan ada anaknya yang meneruskan praktek umumnya (minimal) ataupun pengelolaan BKIA (berharap banget ada yang jadi Sp.Obg) agar sang anak bisa tetap mendapatkan semua fasilitas yang dia berikan sekarang.. :)

  195. 195 cakmoki Februari 4, 2011 pukul 3:33 pm

    @ ria:
    weh…. itu sebabnya beliau menginginkan salah satu anaknya menjadi dokter… masudnya dokter seperti beliau yg tidak semata mengejar materi.. tarif dan model pelayannnya koq sama dg saya ya … hahaha
    25 ribu… persis seperti artikel:
    http://cakmoki86.wordpress.com/2007/10/04/ongkos-dokter/
    Siip siip … salut untuk beliau… moga kliniknya tambah maju :D

  196. 196 ria Februari 5, 2011 pukul 8:05 am

    lanjut akhh.. komennya.. (kemarin keputus gara2 mo brangkat ngantor.. di kantor dinas luar, lanjut ujian di kampus, lanjut balik kantor mberesin berkas, lanjut ke kampus lagi.. sampe rumah j12, nyari jurnal.. lupa deh. hahahah :D)

    humm.. setelah saya bercerita bahwa jadi dokter itu tak mudah,
    namun kalau dijalankan dengan penuh keikhlasan seperti yang ayah saya lakukan.. Insya Allah.. rejeki itu ada yang mengatur.
    ayah saya memang bukan dokter yang terkenal (terkenal sih,, dikalangan para tukang -entah tukang becak, tukang bangunan, tukang sayur :P – , supir bemo, buruh pabrik, pembantu.. sekitar rumah), bukan dokter yang kuaya soro (rumahnya gak mewah banget sampe menimbulkan kesenjangan sosial gitu nggak.. rumah pensiunan bank depan rumah masih lebih mewah :)), nggak punya jabatan juga di pemerintahan.. (lah wong jadi dicalonin jadi direktur aja ogah.. katanya.. ‘kalo aku tinggal rapat, kasihan pasienku’ sekarang jabatannya juga jabatan ‘pengabdian’ non struktural, yang model penting nggak penting nggak ada tunjangannya sampe gak ada yang mau njabat tapi ya RS butuh.. misal. Ka. SMF, Ka. SPI, Ka. Audit Internal, Ka. Remunerasi, Ka.Koperasi)..
    tapi yah nggak kekurangan suatu apapun..
    dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya..

    lanjut soal gaji dokter..
    gaji dokter PNS mah masih mendingan..
    ada yang tau gaji PNS honorer? *clingak clinguk*
    ni yang bkin aku ngenes setengah mati kemaren, berhubung saya kerja di instansi..
    awal masuk saya *sumpah* setengah mati kaget..
    ceritanya gak sengaja saya baca surat kontrak..
    masa’ bayaran dokter honorer sama dengan bayaran CS? masih gedean bayaran baby sitter yang terlatih *konon sampe jutaan katanya*
    nominal yang tertera di situ per tahun 2010 adalah 600rb/bulan bagi semua tenaga honorer dengan jenjang pendidikan apapun dan posisi apapun.. (singkat kata.. mau lu admin kek, PRS kek, perawat kek, dokter umum kek, dokter spesialis kek.. mau gak mau yo emplok’en bayaran sakmono)
    wewww.. SHOCK saya..
    ini mah sudah penghinaan.. pelanggaran hukum pula..
    sempet sebel..
    pemerintah netapin UMR.. tapi dilanggar-langgar dewe..
    gaji segitu juaaauuuhhh dibawah UMR (UMR di kota ini 1juta sekian..)
    dan tidak manusiawi..
    gimana mo idup kalo gaji cuma segitu?
    iya sih ada uang makan (5rb/hari) dan remunerasi (yang bervariatif, kalo kamu di ‘lahan basah’ macam UGD sih ya bisa 2x lipat bayaranmu, tapi kalo ‘lahan kering’ macam paliatif sih ya.. kusarankan bunuh diri aja :D)
    gak bisa bayangin, iya kalo disini masih idup nebeng ortu..
    lah kalo yang dibelain nge kos? bagi yang punya keluarga? iya sih selepas dari jam kerja di instansi ini bisa punya ‘ceperan’ di tempat laen.. tapi kan yah itu tadi.. tetep gak manusiawi..
    dan (maaf) begonya, gak ada tuh aku denger satupun yang protes.. termasuk para dokter bahkan yang spesialis sekalipun.
    bukannya mata duiten, tapi kan kalo hak.. aku pikir kenapa gak diperjuangin? kok seneng sih hak diinjek-injek.. sudah jelas juga nih ada dasar hukumnya..

    setelah banyak berdiskusi dengan banyak orang..
    *untung ka. kepegawaiannya baek mau bolak balik ke BKD.. RS ini juga manajerialnya bersahabat* akhirnya per november 2010 dapat diterimakan bahwa gaji honorer sebesar 80% dari gaji pokok CPNS disesuaikan dengan tingkat pendidikan.. jadi kalo dokter umum yang tadinya 600rb, jadi 1,5 sekian.. kalo ditempatkan di ‘lahan basah’ take home pay nya bisa jadi 2,5 minimal.

    melalui tulisan ini cuma mo bilang..
    buat para dokter umum ataupun dokter spesialis..
    apapun yang orang bilang, kalo emang hak.. ya perjuangkan.
    jangan mau dibodohin..

    akh ya..
    dan satu yang terkadang kusesalkan dari para dokter..
    enggan mengurus berkas ataupun administrasi!!
    padahal dari berkas inilah (potensial) pembodohan dapat bermula..
    yah.. saya paham kalian udah pada sibuk ‘life saving’..
    tapi kalau mengutip kata dosen saya..
    “sebaik-baiknya kalian bisa menangani klien hingga hidupnya berubah 360derajat sekalipun.. kalau kalian tak bisa menulis laporan (minimal) ataupun menangani pengadministrasian (apapun) dengan baik.. maka kalian tak ada bedanya dengan profesi tukang.. bukan profesi yang kalian tempuh sekarang”

    *maaf ya komen kepanjangan.. semoga bisa menginspirasi :)

  197. 197 ria Februari 5, 2011 pukul 9:39 am

    hoo.. satu lagi..
    saya heran sama wajah pendidikan kedokteran di Indonesia..
    apa kalian nih gak ada sistim DO ya??
    ada teman yang ninggalin pendidikannya saat DM 2 pada 10tahun lalu dan sampe saat ini mengaku belum di DO
    shocknya lagi, di kantor saya masih ada beberapa DM angkatan 86!!!

    weee… kemana ajaaaaaa?????
    *kagum plus kesel, life event macam apa ya yang bikin tuh orang masih inget kuliahnya??*

  198. 198 cakmoki Februari 6, 2011 pukul 12:29 am

    @ ria:
    hahaha… tentu ada sistem DO dong .. selebihnya biarkan dibaca oleh semua orang, termasuk para petinggi negeri ini (kalo berkenan)

  199. 199 ria Februari 9, 2011 pukul 1:00 am

    *suseh ya nyari ni artikel..
    gak pengen bikin ‘search engine’ ta di blognya? :)

    huumm.. tapi cak..
    DOnya kalo dah berapa tahun ya?
    soalnya temenku yang ‘ninggalin’ DM2nya ini dari salah satu PTN..
    malahan.. setelah beberapa tahun kmudian.. dia sempet ambil farmasi di kampus yang sama.. *tapi kelihatannya anaknya yang bermasalah.. soalnya yang ini pun gak diselesein*

    nah.. kalo yang angkatan 86 ini..
    dia dari PTS.. tapi kan yo tetep ae..
    bikin mikir kalo tau ada yang beginian -.-”

  200. 200 cakmoki Februari 10, 2011 pukul 12:23 pm

    @ ria:
    ada tuh, di sidebar kanan pada kolom “cari”.
    Saya malah baru denger jaman sekarang masih ada yg ga DO ..padahal pada tahun 1986 sudah berlaku DO… tapi entahlah kalo ada PTS yg menerapkan aturan ga ada DO pada masa co-as :D

  201. 201 ria Februari 11, 2011 pukul 12:08 am

    wee… saya yang ndeso berarti..
    wakwakwakwakwak..
    yang mana sih sidebarnya?
    *clingak clinguk*

    humm.. ada cak..
    sumpeh.. ini tadi nih..
    ada yang bikin kesel..
    udah angkatan tua (95).. eh.. mana nilai terendah pula di kelompoknya.. weleh weleh.. pening nih kepala..
    itu satu hal, laen hal..
    ada seorang dokter lulusan salah satu PTS (beda PTS nya sama PTS yang angkatan 95 itu)..
    tadi ketemu di salah satu apotik sudut kota..
    percaya atau nggak, dia flu.. dan dia tanya ke apoteker obat flu enaknya apa ya.. *glodak*
    lah kalo diri sndir gak yakin, gimana mo ngobatin orang?

    ini nih.. yang bikin cemas..

    eh cak.. tapi serius.. anak yang masuk farmasi itu S.Ked dan DM nya dari PTN loh.. dan dia belum DO.. dari pendidikan profesi kedokterannya (yang farmasi sih udah)..
    lah wong dia ditawarin untuk meneruskan DM nya yang terlantar pasca DO dari farmasi.. *hedehh..*

  202. 202 cakmoki Februari 11, 2011 pukul 11:49 pm

    @ ria:
    ok ok, ntar sy kasih judul ” Search ” :D

    Percaya koq, lha wong sy juga suka nemui yang seperti itu.. tak kira hanya di sini … mungkin para dewa pendidikan di pusat pemerintahan perlu evaluasi sistem pendidikan kedokteran kita.
    Ini diperkuat dengan kenyataan yg disampaikan oleh para TS yg kini menjadi pembimbing PPDS di salah satu RS Pendidikan. Menurut temen-2 tsb, ketrampilan klinis beberapa PPDS malah masih di bawah Co-as tahun 90-an ke bawah. Kita emang ga bisa men-generalisir, namun apa yg dikatakan beberapa TS pembina PPDS tersebut patut didengar oleh pihak yg berkompeten.. terlebih penjenengan ketemu sendiri kejadian di apotik … hehehe.. repot juga ya

  203. 203 ria Februari 13, 2011 pukul 1:37 am

    gak repot.. cuma miris :(
    memang bener kalo ada yang bilang..
    “masuk kedokteran itu sulit, keluarnya lebih sulit”
    sarkatisnya: keluar kan gak mesti lulus..
    tapi kalo gak ada sistim DO gini gimana mo keluar?
    mungkin cak moki perlu menulis tentang ‘mafia RS’ atopun ‘mafia FK’ hehehhe :D

    sudah ketemu search enginenya.. weee
    saia mah ndeso amir begonoan aja gak ketemu :P

    terkait dengan tu DM yang ketemu di apotik..
    ironisnya, adiknya juga DM.. tapi di PTS yang laen..
    nah si adik ini beberapa hari sebelumnya sms nanya saya obat batuk pilek apa..
    lah ya.. sejak kapan saya kuliah FK atopun farmasi?? :D

  204. 204 cakmoki Februari 13, 2011 pukul 2:28 pm

    @ ria:
    wah, kalo nulis yg begituan harus ditunjang data primer akurat, sementara hal-2 semacam itu sangat tertutup rapat :D

    Syukur kalo dah ketemu..emang salah saya gak memberi judul “search”

  205. 205 xpatriat3 Februari 27, 2011 pukul 12:15 pm

    Kalo saya dahulu (2010) pernah liat daftar jasa medis bulanan dokter spesialis di RS negeri X di kota Y..
    dokter anastesi 32 juta sendiri
    dokter obsgyn 56 juta dibagi 2 jadi 28 jutaan per dokter
    dokter bedah 44 juta dibagi 2 jadi 22 jutaan per dokter
    dokter ortopedi 29 juta sendiri
    dokter anak yg satu 20 juta yg satunya lagi 10 juta..
    dokter penyakit dalam ada yg 10 jt, ada jg yg 22 juta..

    kalo yang lain ga terlalu saya perhatikan..cos cuma liat sebentar waktu dktr ybs menandatangani penerimaan JM..

  206. 206 tommy Februari 27, 2011 pukul 12:40 pm

    wew..blak-blakan nih pake nominal..ga nyangka gede juga tu jasa medisnya, berapa puluh pasien tu per hari?
    kalo aq dikasih tau info dari dr. X SpOG, di RS swasta yg terkenal di jkt, ada yang jual “tanggal cantik” untuk operasi caesar..misalnya tanggal 1 januari atau 17 agustus atau sm kaya ortunya itu minta harga 300-500 juta cuma untuk biaya operasinya ajah..
    dan itu ada aja yang request loh..
    konon katanya, gaji 2 Milyar perbulan tu gampang bgt didapet..
    gila bener..ngalahin PM Singapura yg cuma 1,8 Milyar/ bulan (padahal gaji kepala negara tertinggi di dunia tu PM singapura)..
    wah, pada kebanyakan uang tuh yg pesen2 tanggal cantik..mending bagi2 buat ibu2 yg tidak mampu byr persalinan..bisa 1000 persalinan..

  207. 207 cakmoki Februari 27, 2011 pukul 6:27 pm

    @ xpatriat3:
    wah, berarti udah sip :D

    @ tommy:
    weh… segitunya ya … hahaha..
    iya , saya sependapat, mending pake membantu orang lain yang membutuhkan. Tapi repotnya ya itu tadi, ada demand and need…sehingga kadang lupa aspek sosial yang juga menjadi tanggung jawab kita.
    makasih

  208. 208 xpatriat3 Februari 28, 2011 pukul 12:44 am

    Kalo saya dahulu (2010) pernah juga liat daftar gaji bulanan dokter umum dan perawat IGD di RS negeri X di kota Y..

    4 dokter umum IGD rata2 5,2 juta ampe 5,4 juta..
    perawat IGD rata2 3 juta ampe 3,2 juta..

    dokter forensik kalo ada ekshumasi (otopsi penggalian kubur mayat) dibayar 365 ribu (sangat amat jarang..paling setahun 1-3 kali)..kalo pemeriksaan luar mayat 15 ribu (sebulan bisa 5-20x)..pemeriksaan organ dalam mayat 45 ribu (sebulan bisa 5-10x)..dan dibagi 3-4 dokter forensik..
    padahal capeknya menulis laporan forensik, bisa ampe 9 lembar (kalo pemeriksaan luar mayat doank) bahkan lebih dan harus di tulis tangan..ga boleh diketik sampe sekarang (jadi punya komputer ga bakal berguna di forensik)..
    udah gitu jadwal kedatangan mayat bisa di telp jam 10 malem tapi baru di otopsi jam 1 malem, nunggu penyidiknya bangun tidur..sial..
    dan kalo ikut sidang, bisa dikasih bogem mentah ama keluarga terdakwa..kalo memperberat dakwaan..tapi kalo memperingan dakwaan, bisa dikasih bogem mentah/ teror sm keluarga korban..
    kayaknya 2 tahun ini ga ada yg ambil PPDS forensik deh di RSUP kota X..

  209. 209 xpatriat3 Februari 28, 2011 pukul 12:59 am

    So, lebih mending dokter umum kan..cuma nulis 1 lembar kertas kecil buat resep n coret2 dikit di rekam medis..sama aja jasa medisnya kaya dokter forensik yang menulis ampe 9 lembar..sama2 15 rebu..
    pemeriksaan dokter umum paling cuma tensi, suhu, stetoskop (biasanya cuma itu) nadi, respirasi, palpasi, perkusi (jarang2) cuma 5 menit bisa kelar..
    tapi kalo dr forensik, minimal 1 jam baru kelar buat pemeriksaan luar (kalo lukanya ga banyak)..mulai dari pembungkus mayat, merk baju, warna baju, bentuk2 luka, ukuran luka, kedalaman luka, bentuk luka, gambar luka depan n belakang tubuh, gambar darah n lebam harus dibedain warnanya, ambil sampel darah yg udah beku (susah buanget), nyatet semua kronologis dari keluarga, dari penyidik, dari saksi, dari tersangka semua jga kudu ditulis..

    so, mending jadi dokter umum or dokter spesialis forensik? saya kira sudah bisa ditebak hehehe..

    jadi kesimpulannya, bagi pasien yang merasa kurang puas diperiksa dokter umum, karena terlalu cepat memeriksanya, harap ke dokter forensik aja..pemeriksaannya lebih mendetail dan lama loh..dengan bayaran yang sama kaya dokter umum (15 ribu)..

  210. 210 xpatriat3 Februari 28, 2011 pukul 1:09 am

    oiya nambahin, dokter spesialis forensik di kota X yang sudah jadi spesialis forensik kurang lbh 30 tahunan, cuma punya mobil suzuki carry tahun 92 or 93an loh (sama kaya angkotan pedesaan, bukan angkotan perkotaan)..malah dokter mudanya yang pada bawa mobil2 bagus..keluaran 2005 keatas..
    mana yg kerja, mana yg sekolah..jadi kebalik gitu rasanya..

  211. 211 cakmoki Februari 28, 2011 pukul 4:14 am

    @ xpatriat3:
    hehehe… saya baca semuanya sambil ketawa … terlebih ketika baca yg ini:
    jadi kesimpulannya, bagi pasien yang merasa kurang puas diperiksa dokter umum, karena terlalu cepat memeriksanya, harap ke dokter forensik aja..pemeriksaannya lebih mendetail dan lama loh..dengan bayaran yang sama kaya dokter umum (15 ribu)..

    Makasih telah berbagi cerita :D

  212. 212 dokterpedesaan Maret 23, 2011 pukul 7:34 pm

    hehe… ikut nimbrung,, wowo ini comment udah bertaun2 amape sekarang masih ada yg mencari keyword ‘gaji dokter umum’..
    weew saya dr PNS gaji 2,4 juta/bulan ditambah penghasilan prakte sore Gross +/- 15 juta per bulan,,,, lokasi di pedesaan… baru lulus 3 tahun yg lalu… praktek baru 1,5 tahun yang lalu… soo.. buat sejawat.. jangan patah semangat… kuncinya harus mau dibayar seadanya untuk merintis usaha praktek, ambil daerah agak pinggiran soalnye di kota orientasi pasen dah ke dr spesialis/dr umum senior… baru kalo dah ada pasen tetep bisa dinaikan … sampe sekarang kedatangan pasen naik grafiknya……

  213. 213 cakmoki Maret 24, 2011 pukul 12:07 pm

    @ dokterpedesaan:
    Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya
    Pada umumnya TS gak berani buka “lahan baru” dan cenderung praktek di kota … Semangat !

  214. 214 putrinya Mei 4, 2011 pukul 10:51 pm

    duhhh…saya baru lulus yudisium..tadinya minat jd dosen jd mundur n lebih pengen jd dokter swasta buka praktek sendiri,kerja di RS swasta/perusahaan sambil merintis buka klinik aja hahaha

  215. 215 cakmoki Mei 5, 2011 pukul 3:27 pm

    @ putrinya:
    betulll…dukung 100 % :D
    persiapannya silahkan baca-baca pada ling berikut:
    http://cakmoki86.wordpress.com/2011/02/01/praktek-dokter-mandiri/
    met praktek…moga sukses

  216. 216 harrygombong Mei 7, 2011 pukul 12:22 pm

    selagi pelayanan ke masyarakat nggak sengenes gaji pns… biar tinkat kesehatan masyarakat juga ga ngenes terus .. apa lagi yang di pelosok… sukses terus Cak..

  217. 217 cakmoki Mei 7, 2011 pukul 5:15 pm

    @ harrygombong:
    ya, bener … yang penting tetep semangat bekerja :D … maturnuwun aupportnya


  1. 1 » Ogah jadi dokter Ndeso ?-My 1983 Lacak balik pada Agustus 1, 2007 pukul 11:19 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Wong ndeso ™

cakmoki

Wordpress Indonesia

Silahkan baca

DISCLAIMER

web tracker

9 Desember 2009

SEMENTARA TUTUP

Maaf, sementara Blog istirahat hingga ada pemberitahuan

Harap maklum


MARI HENTIKAN KORUPSI

Jangan Korupsi Ah

No Korupsi

Internet Sehat

Warga Bicara

» Makasih PLN, listrik Samarinda dah membaik, moga gak byar-pet

» Waspada Demam Berdarah

» Jangan Gunduli Palaran

» Banjir...banjir. Kapan masalah ini teratasi ?

INGA INGA INGA

» Nyeri Urat or Tulang BUKAN berarti Penyakit Asam Urat.

» Sekali lagi: Pegal, Linu Tidak Identik dengan Penyakit Asam Urat

TEMANs

9racehime | A. Fatih Syuhud | Aditiawan Chandra | A.Tajib | Agung UD | aLe | alief | alle | almascatie | Amd | Anak Peri | Anak Sultan | Anang | Anang YP | Anas | Andalas | Anggara | Anjaz | Anti Pungli | Antobilang | Anung87 | Aribowo | Arif Kurniawan | Arul | Astikirna | awan965 | axireaxi | Bambang alias HR | BatakNews | Blog Pokoke? | Biho | CalonOrangTenar | Cay | Chandra | Chielicious | chiw imudz | cK-chika | Dalamhati | Deden Nugraha | deedhoet | deKing | Desti Utami | Didats | doeytea | dnial | Edy C | Eep | Elpalimbani | erander | Evi | Fa | Fa wp | Faiq | Fertobhades | Fetro | Fortynine | Freddy | Gadis | Gaussac | Gitablu | Grandiosa | GuhPraset | GuM | Helgeduelbek | Herdy | Indonesia Kita | Indra KH | ItikKecil | iway | Jejakpena | Jennie S. Bev | Joesath | Joko Taroeb | Julee | Juli | Juliach | Junthit | Jurig | Kakilangit | Kang Adhi | Kang Kombor | Kangguru | kawaichu | Kenji | Kenzt | kikie | koecing | Kumala | Kurtubi | Kw | Laras | liezmaya | Lilik Suryanto | Lily | Linker | Lintang | Lita | Lita wp | Luthfi | MaIDeN | Majalah Dewa Dewi | Manusiasuper | Master Li | Mathematicse | macanang | mbojo | Mei | Micokelana | Mr. Geddoe | Mufti | mybenjeng | My-za | Nayla Zahra | Nayz | Ndarualqaz | Neeya | Neo Forty-Nine | Neri | Ninoy | Nieke | Nomercy | n0vri | NuDe | Om Sulis | omaigat | Ooyi | Paijo | Panca | Pandu | Panduan WP | Papabonbon | Passya | Peyek | Pinkina | Pitik | Pralangga | Prayogo | Priyadi | Qee | Raja iblis | RenjanaBiru | rivafauziah | Rivermaya | Roffi | roisZ | Rujak | Sagung | Sahrudin | Saiful Adi | SaRa | Siu | Sofi | Sora9n | Suandana | Suluh | Susiloharjo | Telmark | Thamrin | tiesmin | Triesti | Tukang Sate | Venus | Wadehel | Wahyuansyah | Wandira | Wiku | WongMangli | Wulan | Yati | Yudhipras |

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kesehatan

:: Ady Wirawan :: Agus Mutamakin :: Anis Fuad :: Anis Fuad wp :: Asri Tadda :: Astri Pramarini :: Astri Pramarini (awal) :: Astri Pramarini wp :: Blog Mahasiswa FKU 2003 :: Blog Rumah Kanker :: Dani Iswara :: Dani Iswara weblog :: Dokter arek cilik :: drAnak :: drarifianto :: Dwi wp :: Elyas :: Erik Tapan :: Evy HealhtySmile :: FK Unsri :: Gies :: Gies wp :: Ginna :: Grapz :: Hendar Sunandar :: HIV News :: Huda Thoriq :: IDI Samarinda :: imcw :: Imran Nito :: Iwan Handoko :: Jhonrido :: klikharry :: Kobal :: Laksmi Nawasasi :: Mashuri :: Mave Mina :: Mbah Dipo :: Mina :: My Blogspot :: Nur Martono :: PKM Palaran :: Rara :: Rizma Adlia :: Rudy Kwang :: SenyumSehat :: Sibermedik :: SimkesUGM :: SuperKecil :: Titah :: Tito :: Tonang Ardyanto :: Tukangkomentar :: Wi :: Vina Revi :: Vina Multiply :: Yusuf Alam R :: zulharman79 ::

:: :: :: :: :: :: :: :: :: :: ::

Institusi Kesehatan

:: Depkes RI :: WHO :: WHO Indonesia :: … nyusul

:: :: :: :: :: :: :: :: ::

Kolaborasi

:: Emedicine :: ICD 10 Wikipedia :: ICD 10 Wiki Indonesia :: OSWD :: OpenWebDesign :: Pakistan Times :: Rubab :: ntar ::

Kategori

BlogTour

Arsip

Komunitas Blog

blog-indonesia.com

PAGE RANK

Powered by  MyPagerank.Net

Add to Technorati Favorites

[Valid RSS]

Health Blogs - Blog Top Sites

Health

Blogs Topsites - TOP.ORG

Health Blogs - Blog Rankings

Blog directory

TopOfBlogs

Top 10 Award

Feed Burner

cakmoki Blog

Bloggerian Top Hits

My BlogCatalog BlogRank

Site Meter

Since 30 Nov 07

PENGUNJUNG

  • 4,628,038 pengintip

Asal Usul

Pebruari 2011

free counters


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 550 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: