Di sebagian besar kalangan masyarakat di Indonesia, entah di lingkungan perkampungan, pedesaan, perkotaan, perkantoran, atau dimanapun masyarakat atau sekelompok orang berkumpul, masalah kesehatan adalah salah satu masalah yang menjadi persoalan bersama. Kondisi ini di satu sisi menguntungkan, nun di sisi lain seringkali merugikan, bahkan tak jarang hal yang salah justru menjadi keyakinan yang benar bagi banyak orang.
Yang menguntungkan, contohnya bila ada salah satu yang mengerang kesakitan karena mau melahirkan, maka walau di tengah malam orang di sekitarnya akan turut membantunya. Di desa atau di kota sama saja, walau gaya dan caranya berbeda.
Yang merugikan, contohnya bila ada yang mengeluh sakit, maka tak pelak siapapun yang mendengarnya di sekitar si sakit tersebut, sontak akan ikutan men-diagnosa dan memberi saran obatnya berdasarkan “pengalaman pribadi” masing-masing yang niscaya tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Tapi anehnya , si sakit justru lebih mempercayainya daripada penjelasan seorang dokter.
Sering kali penulis menyebut nya sebagai “dokter dadakan”.
Apa sih ruginya? yang jelas, pertama diagnosa tetangga atau teman yang bukan dokter tentu tidak dapat dibenarkan. Kedua, bila seseorang mengeluh sakit, maka tidak perlu heran bila tetangga depan rumah mengatakan penyakit A, sebelah kiri rumah menyebut penyakit B, tetangga kanan rumah mengatakan penyakit C, belakang rumah ikutan ngomong penyakit D.
Bayangkan, gara-gara dengerin omongan tetangga, 1 orang bisa menderita 4 penyakit. Saking percaya dan takutnya, akhirnya penyakitnya menjadi 5 karena ditambah stress, ngga mau makan, ngga bisa tidur dll. Hal ini ternyata menurut pengamatan sementara penulis (hanya diskriptif aja) tidak banyak dipengaruhi oleh pendidikan sebagaimana banyak diduga orang selama ini. Contoh nyata, banyak tuh para wanita yang lulusan SLTA ke atas masih sangat percaya kala dipijat perut lalu dikatakan kandungan or peranakan turun … tul nggak .. turun kemana sih non … bahkan adakalanya ngotot lho, sumprit kandungan turun … hehehe …
Contoh lain, bila ada seseorang yang mengeluh linu, pegal, nyeri urat, nyeri sendi, nyeri tulang, kram atau sejenisnya … niscaya deh hampir semua orang disekitarnya akan kompak mengatakan “Penyakit Asam Urat” … tul nggak? Apa di sekitar anda juga demikian? Atau sudah me-nasional?
Tantangan untuk jajaran kesehatan nih, penyuluhannya yang gencar dong … dan juga harus benar … jangan ngandalin proyek melulu ah …
Artinya para sejawat di jajaran kesehatan wajib belajar dan up date ilmu agar informasi yang diberikan tidak salah atau malah menjerumuskan. So jangan lagi ada item hambatan dan kendala: “kurangnya kesadaran masyarakat” … yang bener ah, gimana bisa sadar kalo petugas kesehatan nggak pernah belajar kecuali kalo ada pelatihan or nunggu seminar …
Kalo perlu nulis brosur untuk info kesehatan bagi masyarakat … tapi ada syaratnya nich, kalo mau nulis brosur harus baca-baca dulu, padahal penyakit kronis kita adalah malas baca. Malas baca tapi biasanya pintar omong doang and cita-citanya jadi orang pintar … hahaha … siapa yangg ngga ketawa, malas baca kepingin pintar … ngga ada rumusnya.
Sekali lagi, mari gencarkan info kesehatan yang benar dan up-to-date melalui berbagai media.
update, tulisan pada Rabo, 27 September 2006




















![[Valid RSS]](http://i169.photobucket.com/albums/u238/cakmoki86/button/rss_valid.gif)





…..mari gencarkan info kesehatan yang benar dan up-to-date melalui berbagai media.
Termasuk melalui blog-kan… memang kekuatan blog sangat dahsyat kalau kita blogger bisa memanfaatkannya.
Ok, terimakasih supportnya pak …
Saya sependapat, sayangnya “woro-woro” dan ajakan saya masih belum mempan menggugah teman-teman.
Sudah ada yang memulai sebelum saya, tapi jumlahnya sedikit, itupun ada yang mati suri (berbulan-bulan tidak di update). Maklum, … mungkin faktor kesibukan.
Benar, blog sangat bermanfaat bila mau mengoptimalkan.
Untuk kalangan kami, mungkin seminggu sekali posting sudah cukup, syukur kalau sempat 2 atau 3 posting per minggu.
Terimakasih kunjungannya.
Selamat siang cak mampir sebentar nih. Kira -kira cak moki masih suka liatin gak ya arsip yang lama ( aku bertanya dalam hati )
Betul nih bos ane juga prihatin dengan dunia kita, kalau dunia kesehatan itu jagonya buat SPJ. kalau disuruh untuk kreatif semua pada TELMI.
wah… berarti saya termasuk dokter dadakan nih???
kalo saya mah, jadi dokter dadakan karena hambatan “kurangnya kesadaran dokter” untuk mau berperan sebagai dokter di blog saya